BAB 4: TEORI ORGANISASI
4.1 Pengertian dan Ciri-ciri Organisasi
4.1.1 Memahami Hakikat Organisasi
Setiap hari, tanpa disadari, kita terlibat dalam berbagai organisasi—keluarga, sekolah, tempat kerja, komunitas keagamaan, hingga negara. Namun, apakah yang dimaksud dengan organisasi secara teoretis? Memahami hakikat organisasi merupakan langkah awal yang krusial sebelum kita membahas teori-teori yang lebih kompleks.
Secara etimologis, kata organisasi berasal dari bahasa Yunani organon yang berarti "alat" atau "instrumen". Dalam perkembangannya, istilah ini merujuk pada suatu entitas yang terstruktur dan berfungsi sebagai wadah bagi sekelompok orang untuk bekerja sama mencapai tujuan bersama.
James D. Thompson (1967), salah satu tokoh penting dalam teori organisasi modern, mendefinisikan organisasi sebagai "sistem terbuka yang saling terkait dengan lingkungannya, di mana kegiatan-kegiatan yang terkoordinasi dilakukan oleh sekelompok orang untuk mencapai tujuan tertentu". Definisi ini menekankan dua hal penting: pertama, organisasi bukanlah entitas tertutup melainkan terus berinteraksi dengan lingkungan; kedua, koordinasi menjadi kunci dalam menyatukan aktivitas individu.
Sementara itu, Chester I. Barnard (1938) dalam karyanya yang monumental The Functions of the Executive memberikan definisi yang lebih sederhana namun mendalam: organisasi adalah sistem kerjasama antara dua orang atau lebih yang dikoordinasikan secara sadar. Barnard menekankan bahwa organisasi tidak terbentuk secara kebetulan, melainkan melalui kesadaran dan kesengajaan untuk bekerja sama.
Stephen P. Robbins (1990), seorang pakar perilaku organisasi, merumuskan organisasi sebagai "entitas sosial yang terkoordinasi secara sadar, dengan batasan yang relatif dapat diidentifikasi, berfungsi secara relatif terus-menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekumpulan tujuan". Definisi Robbins ini mencakup tiga elemen penting: (1) entitas sosial—artinya terdiri dari manusia, bukan benda mati; (2) koordinasi sadar—adanya struktur dan aturan yang disepakati; (3) tujuan bersama—arah yang ingin dicapai.
Dari berbagai definisi di atas, dapat ditarik benang merah bahwa organisasi memiliki lima karakteristik fundamental:
Teridiri dari dua orang atau lebih—tidak mungkin ada organisasi dengan satu orang.
Adanya kerjasama—bukan sekadar kumpulan individu yang bekerja sendiri-sendiri.
Adanya tujuan bersama—yang menjadi orientasi seluruh aktivitas.
Adanya struktur dan koordinasi—pembagian tugas, wewenang, dan tanggung jawab.
Bersifat dinamis dan berkelanjutan—bukan kegiatan sesaat.
4.1.2 Ciri-ciri Organisasi
Untuk membedakan organisasi dari sekadar kumpulan orang biasa, para ahli mengidentifikasi sejumlah ciri khas. Max Weber (1947), sosiolog Jerman yang terkenal dengan teorinya tentang birokrasi, menyatakan bahwa organisasi modern memiliki ciri-ciri spesifik seperti hierarki wewenang, pembagian kerja yang jelas, aturan tertulis, dan impersonalitas.
Secara lebih sistematis, ciri-ciri organisasi dapat dirangkum sebagai berikut:
Pertama, memiliki struktur yang formal. Setiap organisasi memiliki bagan struktur yang menggambarkan hierarki, pembagian departemen, rantai komando, dan jalur komunikasi formal. Struktur ini biasanya dituangkan dalam dokumen tertulis seperti anggaran dasar/anggaran rumah tangga (AD/ART) atau peraturan perusahaan.
Kedua, adanya pembagian kerja (division of labor). Tugas-tugas besar dipecah menjadi pekerjaan-pekerjaan yang lebih kecil dan spesifik, kemudian dialokasikan kepada individu atau unit tertentu berdasarkan keahlian. Pembagian kerja ini memungkinkan peningkatan efisiensi dan produktivitas.
Ketiga, memiliki sistem wewenang dan tanggung jawab. Setiap posisi dalam organisasi memiliki wewenang tertentu untuk mengambil keputusan dan tanggung jawab atas hasil dari keputusan tersebut. Wewenang dan tanggung jawab ini bersifat hierarkis—semakin tinggi posisi, semakin besar wewenang dan tanggung jawabnya.
Keempat, adanya sistem komunikasi dan koordinasi. Organisasi memiliki mekanisme komunikasi—baik formal (rapat, memo, laporan) maupun informal (obrolan antar rekan kerja)—yang memungkinkan koordinasi antar bagian.
Kelima, memiliki tujuan yang spesifik. Organisasi didirikan untuk mencapai sesuatu yang tidak dapat dicapai oleh individu secara sendirian. Tujuan ini bisa bersifat profit (perusahaan), pelayanan (rumah sakit), pendidikan (sekolah), atau sosial (LSM).
Keenam, bersifat kontinu (berkelanjutan). Organisasi dirancang untuk bertahan melampaui masa hidup anggotanya. Ketika seorang karyawan mengundurkan diri atau pensiun, organisasi tetap berjalan dengan merekrut penggantinya.
Ketujuh, berinteraksi dengan lingkungan. Tidak ada organisasi yang hidup dalam ruang hampa. Organisasi senantiasa berinteraksi dengan lingkungan eksternal: pelanggan, pemasok, pemerintah, pesaing, masyarakat sekitar. Interaksi ini membawa input (sumber daya, informasi) dan menghasilkan output (produk, layanan, limbah).
4.1.3 Jenis-jenis Organisasi
Berdasarkan berbagai kriteria, organisasi dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa jenis (Siagian, 2004; Robbins, 1990):
| Kriteria | Jenis Organisasi | Contoh |
|---|---|---|
| Tujuan | Organisasi Bisnis (Profit) | PT, CV, Firma |
| Organisasi Sosial/Nirlaba | Yayasan, LSM, Masjid | |
| Organisasi Pemerintah | Kementerian, Dinas, BUMN | |
| Bentuk Hukum | Organisasi Formal (berbadan hukum) | Perseroan Terbatas, Koperasi |
| Organisasi Informal (tidak berbadan hukum) | Arisan RT, Klub hobi | |
| Sifat Hubungan | Organisasi Pribadi (Primer) | Keluarga, Teman dekat |
| Organisasi Sekunder | Perusahaan, Sekolah | |
| Cara Pembentukan | Organisasi Paksa (seperti wajib militer) | TNI, Polri |
| Organisasi Sukarela | Partai politik, Organisasi profesi |
Dalam konteks buku ini, fokus utama adalah pada organisasi formal—baik bisnis maupun publik—karena di sinilah teori administrasi, manajemen, dan organisasi paling banyak diterapkan dan dikembangkan.
4.2 Teori Organisasi Klasik, Neoklasik, dan Modern
Perkembangan teori organisasi tidak terjadi secara linear, melainkan melalui dialektika antar berbagai aliran pemikiran. Secara umum, para ahli sepakat untuk membagi evolusi teori organisasi ke dalam tiga arus besar: teori klasik, teori neoklasik, dan teori modern (Scott & Davis, 2007; Shafritz & Ott, 2001). Masing-masing aliran memiliki asumsi dasar, fokus perhatian, dan kontribusi yang berbeda terhadap pemahaman kita tentang organisasi.
4.2.1 Teori Organisasi Klasik
Teori organisasi klasik berkembang pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, seiring dengan Revolusi Industri yang melahirkan pabrik-pabrik besar dan perusahaan skala massal. Para pemikir klasik berusaha mencari prinsip-prinsip universal tentang bagaimana organisasi seharusnya dirancang dan dijalankan untuk mencapai efisiensi maksimal. Asumsi dasar mereka adalah: manusia pada dasarnya rasional dan termotivasi oleh insentif ekonomi.
Teori klasik terbagi ke dalam tiga cabang utama:
a. Manajemen Ilmiah (Scientific Management) – dipelopori oleh Frederick Winslow Taylor (1911). Taylor berargumen bahwa pekerjaan dapat dianalisis secara ilmiah untuk menemukan "satu cara terbaik" (the one best way) dalam melakukan setiap tugas. Melalui time and motion study, ia mengidentifikasi gerakan-gerakan yang tidak perlu dan menghilangkannya. Prinsip-prinsip Taylor antara lain: (1) mengembangkan ilmu untuk setiap elemen pekerjaan; (2) seleksi ilmiah dan pelatihan pekerja; (3) kerjasama yang harmonis antara manajemen dan pekerja; (4) pembagian kerja dan tanggung jawab yang hampir sama antara manajemen dan pekerja.
Kritik terhadap Taylor adalah bahwa ia memandang manusia sebagai "robot ekonomi" dan mengabaikan aspek psikologis serta sosial pekerja. Namun, kontribusinya dalam meningkatkan produktivitas tidak dapat disangkal.
b. Teori Administrasi (Administrative Management) – dipelopori oleh Henri Fayol (1916) dan Luther Gulick (1937). Berbeda dengan Taylor yang fokus pada level lini (pekerja), Fayol fokus pada level manajerial. Ia merumuskan 14 prinsip manajemen (sebagaimana telah diuraikan dalam Bab 2) dan lima fungsi utama manajemen. Gulick kemudian mengembangkan POSDCORB sebagai kerangka operasional. Teori administrasi berusaha menjawab pertanyaan: "Bagaimana seharusnya organisasi dirancang dari atas ke bawah?"
c. Teori Birokrasi (Bureaucratic Theory) – dipelopori oleh Max Weber (1947). Weber, seorang sosiolog Jerman, menggambarkan birokrasi sebagai bentuk organisasi yang ideal—bukan dalam arti "sempurna", tetapi dalam arti "tipe murni" yang rasional. Ciri-ciri birokrasi menurut Weber meliputi: (1) pembagian kerja yang jelas dan tetap; (2) hierarki wewenang yang tegas; (3) aturan dan prosedur tertulis; (4) impersonalitas dalam hubungan kerja; (5) rekrutmen berdasarkan kualifikasi teknis; (6) karier berdasarkan prestasi.
Weber percaya bahwa birokrasi adalah bentuk organisasi yang paling efisien karena menghilangkan ketidakpastian dan nepotisme. Namun, ia juga menyadari potensi "birokrasi patologis" di mana aturan menjadi tujuan itu sendiri, yang kemudian dikenal sebagai iron cage (kandang besi) atau red tape.
4.2.2 Teori Organisasi Neoklasik
Teori neoklasik muncul sebagai reaksi terhadap kekakuan teori klasik yang terlalu mekanistik. Aliran ini berkembang pada tahun 1930-an hingga 1950-an, terutama dipicu oleh Studi Hawthorne yang dilakukan oleh Elton Mayo dan rekannya di pabrik Hawthorne milik Western Electric Company (1924–1932).
Apa yang ditemukan dalam Studi Hawthorne? Awalnya, para peneliti ingin mengetahui pengaruh pencahayaan terhadap produktivitas. Hasilnya mengejutkan: produktivitas meningkat baik ketika pencahayaan ditambah maupun dikurangi. Kesimpulannya, faktor fisik bukanlah penentu utama; yang lebih berpengaruh adalah faktor psikologis dan sosial—para pekerja merasa diperhatikan (Hawthorne effect), mereka membentuk kelompok informal, dan hubungan antar reja kerja mempengaruhi semangat kerja.
Prinsip-prinsip utama teori neoklasik (Roethlisberger & Dickson, 1939):
Organisasi sebagai sistem sosial, bukan sekadar sistem teknis. Manusia tidak hanya termotivasi oleh uang, tetapi juga oleh kebutuhan akan pengakuan, rasa aman, dan rasa memiliki.
Adanya organisasi informal di samping organisasi formal. Kelompok informal memiliki norma sendiri, pemimpin sendiri, dan sanksi sosial sendiri yang seringkali lebih kuat pengaruhnya daripada aturan formal.
Pentingnya gaya kepemimpinan yang partisipatif, bukan otoriter. Manajer yang mendengarkan bawahan dan melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan cenderung lebih berhasil.
Komunikasi dua arah antara manajemen dan pekerja sangat penting untuk menciptakan iklim kerja yang harmonis.
Teori neoklasik sering disebut sebagai "aliran hubungan manusiawi" (human relations movement). Tokoh-tokoh penting lainnya dalam aliran ini adalah Mary Parker Follett (dengan konsep power-with dan law of the situation), Douglas McGregor (dengan Teori X dan Teori Y), serta Abraham Maslow (dengan hierarki kebutuhan).
Meskipun membawa angin segar, teori neoklasik juga mendapat kritik. Beberapa peneliti (seperti Landesberger, 1958) berargumen bahwa studi Hawthorne memiliki kelemahan metodologis. Yang lain (seperti Braverman, 1974) mengkritik bahwa pendekatan hubungan manusiawi hanya merupakan "senjata lunak" manajemen untuk memanipulasi pekerja agar lebih produktif tanpa benar-benar mengubah struktur kekuasaan.
4.2.3 Teori Organisasi Modern
Mulai tahun 1960-an, para ahli organisasi menyadari bahwa baik teori klasik maupun neoklasik memiliki keterbatasan. Teori klasik terlalu sederhana dan mengabaikan kompleksitas lingkungan. Teori neoklasik, meskipun memasukkan faktor manusia, tetap belum mampu menjelaskan mengapa organisasi yang berbeda memerlukan struktur yang berbeda. Muncullah teori organisasi modern yang bersifat integratif dan kontekstual.
Teori modern memiliki beberapa karakteristik utama (Scott & Davis, 2007; Kast & Rosenzweig, 1979):
a. Pandangan Sistem Terbuka (Open System View). Tidak seperti teori klasik yang melihat organisasi sebagai sistem tertutup, teori modern menekankan bahwa organisasi adalah sistem terbuka yang terus-menerus bertransaksi dengan lingkungannya. Organisasi menerima input (tenaga kerja, bahan baku, informasi) dari lingkungan, melakukan proses transformasi, dan menghasilkan output (produk, jasa, limbah) ke lingkungan. Umpan balik dari lingkungan digunakan untuk menyesuaikan diri.
b. Pendekatan Kontingensi (Contingency Approach). Prinsip sentral pendekatan kontingensi adalah: "Tidak ada satu cara terbaik" (No one best way) untuk mengelola organisasi. Struktur dan gaya manajemen yang efektif bergantung pada situasi atau kontingensi yang dihadapi—seperti ukuran organisasi, teknologi yang digunakan, ketidakpastian lingkungan, dan budaya nasional. Pelopor pendekatan ini antara lain Paul Lawrence dan Jay Lorsch (1967), Joan Woodward (1965), serta Tom Burns dan G.M. Stalker (1961).
Burns dan Stalker, misalnya, membedakan dua tipe organisasi: mekanistik (cocok untuk lingkungan yang stabil, dengan struktur hierarkis kaku, aturan baku, komunikasi vertikal) dan organik (cocok untuk lingkungan yang bergejolak, dengan struktur fleksibel, komunikasi horizontal, pengambilan keputusan terdesentralisasi).
**c. Pendekatan Sosiologi. ** Teori modern juga banyak dipengaruhi oleh sosiologi, terutama karya James D. Thompson (1967) tentang organizations in action, serta Charles Perrow (1986) tentang kompleksitas teknologi. Mereka menunjukkan bahwa organisasi tidak hanya dipengaruhi oleh lingkungan eksternal, tetapi juga oleh pilihan-pilihan strategis para aktor di dalamnya.
d. Teori Kelembagaan (Institutional Theory). Dipelopori oleh Paul DiMaggio dan Walter Powell (1983), teori ini menjelaskan mengapa banyak organisasi dalam satu bidang menjadi mirip satu sama lain (isomorphism)—bukan karena alasan efisiensi teknis, tetapi karena tekanan normatif, mimikri, dan kepatuhan terhadap aturan-aturan kelembagaan.
e. Teori Jaringan Organisasi (Organizational Network Theory). Perkembangan terkini melihat organisasi sebagai jaringan hubungan antara aktor-aktor (individu, tim, unit, atau bahkan organisasi). Pendekatan ini menggunakan analisis jaringan untuk memahami aliran informasi, kekuasaan, dan sumber daya.
4.2.4 Perbandingan Ketiga Teori
Untuk memudahkan pemahaman, ketiga arus teori organisasi ini dapat dibandingkan sebagai berikut:
| Aspek | Teori Klasik | Teori Neoklasik | Teori Modern |
|---|---|---|---|
| Periode | Akhir 1800-an – 1920-an | 1930-an – 1950-an | 1960-an – sekarang |
| Asumsi tentang manusia | Homo economicus (rasional, termotivasi uang) | Makhluk sosial (butuh pengakuan, hubungan) | Kompleks & multidimensi |
| Fokus utama | Efisiensi, struktur, prinsip universal | Hubungan antarmanusia, kelompok informal | Adaptasi, ketergantungan pada konteks |
| Pandangan organisasi | Sistem tertutup, mekanistik | Sistem sosial dengan dimensi informal | Sistem terbuka, organik, kontingen |
| Kontribusi utama | Pembagian kerja, hierarki, prosedur baku | Studi Hawthorne, motivasi, kepemimpinan partisipatif | Teori kontingensi, sistem terbuka, isomorphism |
| Kritik | Mengabaikan aspek manusia | Manipulatif, lemah metodologis | Bisa terlalu kompleks, sulit dioperasionalkan |
4.3 Prinsip-prinsip Organisasi
Prinsip-prinsip organisasi merupakan pedoman yang telah teruji secara empiris dan teoretis tentang bagaimana struktur organisasi seharusnya dirancang agar berfungsi secara efektif. Meskipun pendekatan kontingensi mengajarkan bahwa tidak ada prinsip yang bersifat mutlak untuk semua situasi, prinsip-prinsip berikut ini tetap menjadi fondasi penting dalam ilmu organisasi.
4.3.1 Rentang Kendali (Span of Control)
Rentang kendali (atau span of control, span of management) adalah jumlah bawahan yang dapat dikelola secara efektif oleh seorang atasan. Prinsip ini pertama kali dirumuskan secara sistematis oleh Sir Ian Hamilton, seorang jenderal Inggris, dan kemudian dipopulerkan oleh Lyndall Urwick (1956) serta V.A. Graicunas (1933).
Graicunas, seorang konsultan manajemen asal Prancis, mengembangkan rumus matematis tentang kompleksitas hubungan dalam rentang kendali. Ia membedakan tiga jenis hubungan atasan-bawahan: (1) hubungan langsung (atasan dengan setiap bawahan), (2) hubungan silang (antar bawahan), dan (3) hubungan kelompok (atasan dengan kelompok bawahan). Menurut Graicunas, jumlah total interaksi yang harus dikelola atasan meningkat secara eksponensial dengan bertambahnya jumlah bawahan.
Rumus Graicunas: Jumlah hubungan = n (2ⁿ⁻¹ + n – 1), di mana n adalah jumlah bawahan. Jika n=3, jumlah hubungan = 9; jika n=4, jumlah hubungan = 28; jika n=5, jumlah hubungan = 75; jika n=6, jumlah hubungan = 186; jika n=7, jumlah hubungan = 490. Artinya, menambah satu bawahan saja dari 5 menjadi 6 meningkatkan kompleksitas dari 75 menjadi 186 — lebih dari dua kali lipat!
Berapa rentang kendali yang ideal? Tidak ada angka tunggal, karena tergantung pada beberapa faktor (Robbins & Coulter, 2012; Koontz & Weihrich, 2010):
| Faktor | Rentang kendali lebar (lebih banyak bawahan) cocok jika: | Rentang kendali sempit (lebih sedikit bawahan) cocok jika: |
|---|---|---|
| Kompetensi bawahan | Bawahan sangat terlatih dan berpengalaman | Bawahan masih baru atau kurang terampil |
| Sifat tugas | Tugas rutin, standar, berulang | Tugas kompleks, variatif, non-rutin |
| Kesamaan tugas | Tugas bawahan identik atau mirip | Tugas bawahan sangat berbeda satu sama lain |
| Standar prosedur | Ada prosedur baku yang jelas | Tidak ada prosedur baku, perlu judgement |
| Sistem informasi | Sistem pelaporan dan kontrol modern yang andal | Sistem manual atau tidak andal |
| Gaya manajemen | Manajer sangat kompeten, suka mendelegasi | Manajer suka mengontrol secara langsung |
Dalam praktiknya, rentang kendali tradisional pada manajemen puncak adalah 4–6 bawahan, pada manajemen menengah 8–12 bawahan, dan pada manajemen lini bawah bisa 15–30 bawahan (misalnya supervisor bagian produksi). Namun, dengan kemajuan teknologi informasi, rentang kendali cenderung melebar karena sistem komputerisasi mengambil alih fungsi koordinasi dan pelaporan rutin.
4.3.2 Pembagian Kerja (Division of Work / Specialization)
Pembagian kerja adalah prinsip bahwa pekerjaan organisasi harus dipecah menjadi tugas-tugas yang lebih kecil dan spesifik, kemudian setiap tugas diberikan kepada individu atau unit tertentu berdasarkan keahlian mereka. Prinsip ini diperkenalkan oleh Adam Smith (1776) dalam The Wealth of Nations melalui contoh terkenal tentang pabrik peniti:
"Seorang pekerja yang tidak terlatih mungkin hanya membuat satu peniti per hari. Namun, jika proses pembuatan peniti dipecah menjadi 18 langkah terpisah (memotong kawat, meruncingkan ujung, membuat kepala, dll.) dan setiap langkah dikerjakan oleh pekerja yang berbeda, sepuluh pekerja dapat menghasilkan 48.000 peniti per hari — 4.800 per pekerja, atau ribuan kali lebih produktif."
Keuntungan pembagian kerja (Robbins, 1990; Jones, 2010):
Efisiensi waktu karena tidak ada peralihan antar tugas.
Peningkatan keahlian (learning curve) karena pekerja melakukan tugas yang sama berulang-ulang.
Pengurangan biaya pelatihan karena setiap pekerja hanya perlu mempelajari satu keterampilan spesifik.
Memudahkan penggantian jika seorang pekerja tidak masuk, karena tugasnya terstandar.
Memungkinkan otomatisasi karena tugas yang sederhana lebih mudah diotomatisasi.
Kerugian dan keterbatasan pembagian kerja:
Kebosanan dan kejenuhan (boredom) karena pekerjaan monoton.
Alienasi—pekerja kehilangan makna dari produk akhir karena hanya melihat sebagian kecil proses.
Koordinasi yang sulit karena semakin banyak spesialisasi, semakin kompleks koordinasi antar bagian.
Kehilangan fleksibilitas—pekerja terspesialisasi sulit dipindahkan ke tugas lain.
Biaya koordinasi dan kontrol yang tinggi.
Sebagai respons terhadap kelemahan pembagian kerja yang berlebihan, muncul konsep enlargement (memperluas tugas secara horizontal), enrichment (memperdalam tugas secara vertikal dengan memberi wewenang), dan rotasi pekerjaan (memindahkan pekerja antar tugas). Dalam organisasi modern, pembagian kerja tidak dihilangkan tetapi diimbangi dengan pemberian otonomi dan variasi.
4.3.3 Kesatuan Komando (Unity of Command)
Kesatuan komando adalah prinsip bahwa setiap bawahan harus menerima perintah dari satu atasan saja, dan bertanggung jawab hanya kepada atasan tersebut. Prinsip ini pertama kali dinyatakan secara eksplisit oleh Henri Fayol (1916) sebagai salah satu dari 14 prinsip manajemennya.
Mengapa kesatuan komando penting? Fayol berargumen bahwa jika seorang bawahan menerima perintah dari dua atasan yang berbeda, akan terjadi: (1) kebingungan karena perintah mungkin bertentangan, (2) melemahnya disiplin karena bawahan bisa "memilih" perintah mana yang ditaati, (3) konflik antar atasan, dan (4) duplikasi atau tumpang tindih pekerjaan.
Dalam struktur organisasi yang murni (misalnya struktur fungsional atau lini), prinsip kesatuan komando mudah dijalankan karena setiap posisi hanya memiliki satu garis atasan. Namun, dalam praktik organisasi modern, prinsip ini sering dilanggar — terutama dalam struktur matriks atau proyek, di mana seorang karyawan dapat memiliki dua atasan sekaligus (misalnya atasan fungsional dan atasan proyek).
Dalam struktur matriks, pelanggaran terhadap kesatuan komando memang disengaja untuk mendapatkan manfaat dari spesialisasi fungsional sekaligus responsivitas proyek. Namun, pelanggaran ini membawa konsekuensi berupa potensi konflik peran. Oleh karena itu, organisasi yang menggunakan struktur matriks harus memiliki mekanisme resolusi konflik yang jelas, seperti:
Menetapkan dengan tegas mana atasan yang memiliki wewenang lebih besar untuk keputusan tertentu,
Menggunakan dotted-line vs solid-line reporting dalam bagan organisasi,
Melatih manajer dan karyawan untuk berkomunikasi secara terbuka,
Membangun budaya kolaborasi daripada kompetisi antar atasan.
Pengecualian prinsip kesatuan komando diterima dalam situasi tertentu, misalnya dalam manajemen krisis (di mana rantai komando tunggal justru menghambat respons cepat) atau dalam organisasi profesional seperti rumah sakit (dokter dapat menerima instruksi dari kepala bagian medis dan juga dari direktur rumah sakit tergantung konteks).
4.4 Organisasi Formal dan Informal
Salah satu kontribusi paling penting dari teori neoklasik (aliran hubungan manusiawi) adalah pengakuan bahwa di samping struktur organisasi formal yang dirancang secara sadar, selalu ada organisasi informal yang tumbuh secara alami dari interaksi antar anggota. Kedua jenis organisasi ini—formal dan informal—hidup berdampingan dan saling mempengaruhi.
4.4.1 Organisasi Formal
Organisasi formal adalah struktur hubungan, wewenang, tanggung jawab, dan tugas yang dirancang secara sadar oleh manajemen untuk mencapai tujuan organisasi. Organisasi formal biasanya digambarkan dalam bagan organisasi (organizational chart) yang menunjukkan hierarki, departemen, dan jalur komunikasi resmi.
Karakteristik organisasi formal (Barnard, 1938; Scott & Davis, 2007):
Dibuat secara sadar dan disengaja berdasarkan perencanaan. Organisasi formal tidak terjadi secara kebetulan.
Memiliki aturan tertulis (sistem, prosedur, kebijakan) yang mengikat semua anggota.
Struktur wewenang yang hierarkis—setiap posisi memiliki wewenang formal yang didelegasikan dari atas.
Pembagian kerja dan spesialisasi yang jelas dituangkan dalam uraian jabatan (job description).
Hubungan impersonal—individu diperlakukan berdasarkan peran dan fungsi, bukan berdasarkan karakteristik pribadi.
Evaluasi kinerja berdasarkan standar objektif yang telah ditetapkan.
Sistem komunikasi formal (rapat, memo, laporan, surat edaran).
Kelebihan organisasi formal adalah kepastian, stabilitas, prediktabilitas, dan akuntabilitas yang jelas. Kelemahannya adalah cenderung kaku, lambat dalam merespon perubahan, dan sering mengabaikan dimensi manusiawi.
4.4.2 Organisasi Informal
Organisasi informal adalah jaringan hubungan interpersonal dan sosial yang muncul secara spontan di antara anggota organisasi di luar struktur formal yang ditetapkan. Organisasi informal tidak tercantum dalam bagan organisasi, tidak memiliki aturan tertulis, dan tidak memiliki wewenang formal — namun pengaruhnya terhadap perilaku dan kinerja anggota seringkali lebih kuat daripada struktur formal.
Konsep organisasi informal pertama kali diperkenalkan oleh Elton Mayo dan rekannya melalui Studi Hawthorne (Roethlisberger & Dickson, 1939). Mereka menemukan bahwa para pekerja di pabrik Hawthorne membentuk kelompok-kelompok informal dengan norma sendiri, seperti "jangan terlalu produktif" atau "jangan menjadi rate-buster" (pekerja yang melebihi target karena akan membuat target naik untuk semua orang).
Karakteristik organisasi informal:
Tumbuh secara alami dan spontan, tidak direncanakan oleh manajemen.
Tidak memiliki struktur wewenang yang formal — pemimpin informal muncul karena pengaruh, kharisma, atau keahlian, bukan karena jabatan.
Norma dan aturan tidak tertulis tetapi sangat mengikat secara sosial.
Hubungan bersifat personal dan emosional, bukan impersonal seperti organisasi formal.
Komunikasi informal (gosip, grapevine) sering lebih cepat dan lebih dipercaya daripada komunikasi formal.
Solidaritas kelompok yang tinggi, kadang melampaui loyalitas terhadap organisasi formal.
Fungsi dan peran organisasi informal (Davis, 1962; Robbins, 1990):
| Fungsi Positif | Potensi Negatif |
|---|---|
| Mempercepat penyebaran informasi melalui grapevine | Menyebarkan rumor dan informasi tidak akurat |
| Memenuhi kebutuhan sosial dan psikologis anggota (rasa memiliki, pengakuan) | Menciptakan resistensi terhadap perubahan yang dikehendaki manajemen |
| Memberikan umpan balik informal tentang kebijakan manajemen | Memunculkan konflik antar kelompok informal (in-group vs out-group) |
| Membantu anggota baru beradaptasi (sosialisasi informal) | Menerapkan norma yang bertentangan dengan tujuan formal (misalnya membatasi produksi) |
| Menjadi "katup pelepas" tekanan kerja | Memperkuat perilaku menyimpang (absenteeisme, turn over) |
4.4.3 Hubungan Antara Organisasi Formal dan Informal
Barnard (1938) dalam The Functions of the Executive menekankan bahwa organisasi formal dan informal tidak dapat dipisahkan. Organisasi informal adalah "lumpur" yang mengisi rongga-rongga struktur formal; tanpanya, organisasi formal akan menjadi kerangka mati. Sebaliknya, organisasi informal tanpa struktur formal akan kacau dan tidak terarah.
Tugas manajer dalam mengelola hubungan formal-informal:
Menyadari keberadaan organisasi informal, tidak mengabaikannya atau berusaha menghapuskannya (karena upaya penghapusan biasanya sia-sia).
Memahami pemimpin informal dan menjalin komunikasi dengan mereka. Pemimpin informal dapat menjadi sekutu yang efektif jika dilibatkan.
Memanfaatkan arus informasi informal (grapevine) untuk mendeteksi masalah lebih awal. Sebaliknya, manajemen dapat "mengisi" grapevine dengan informasi yang benar untuk mengurangi rumor.
Mengintegrasikan norma informal dengan tujuan formal—misalnya dengan menciptakan budaya di mana produktivitas tinggi dihargai secara sosial, bukan disanksi.
Menggunakan kelompok informal sebagai saluran komunikasi untuk menjelaskan kebijakan baru sebelum diimplementasikan secara formal.
4.4.4 Studi Kasus Singkat: "The Bank Wiring Observation Room"
Salah satu studi paling terkenal tentang organisasi informal adalah pengamatan di ruang pemasangan kawat bank (Bank Wiring Observation Room) dalam proyek Hawthorne (Roethlisberger & Dickson, 1939). Dalam ruangan yang dipelajari, terdapat 14 pekerja pria yang tugasnya memasang kawat untuk peralatan telepon.
Para peneliti menemukan bahwa meskipun sistem insentif formal dirancang untuk mendorong produktivitas individu, kelompok informal mengembangkan norma yang justru membatasi output. Seorang pekerja yang terlalu produktif disebut rate-buster (perusak tarif) dan diberi sanksi sosial — dijauhi, diejek, bahkan kadang dipukul secara simbolis dengan gulungan kawat. Sebaliknya, pekerja yang terlalu lamban disebut chiseler (pencuri) karena dianggap "memanfaatkan" upah tanpa kerja keras. Akibatnya, sebagian besar pekerja menghasilkan output yang hampir sama — di sekitar level yang "wajar" menurut norma kelompok.
Kasus ini menunjukkan bahwa organisasi informal dapat menjadi "pengendali" yang lebih kuat daripada aturan formal dan insentif ekonomi. Untuk mengatasi ini, manajemen perlu memahami dinamika kelompok informal dan melibatkan mereka dalam penetapan target yang lebih realistis.
Kesimpulan Bab 4
Teori organisasi telah berkembang dari pandangan klasik yang mekanistik (Taylor, Fayol, Weber) menuju pengakuan terhadap dimensi manusiawi dan sosial (neoklasik), dan akhirnya ke perspektif modern yang melihat organisasi sebagai sistem terbuka yang adaptif terhadap konteksnya. Prinsip-prinsip organisasi seperti rentang kendali, pembagian kerja, dan kesatuan komando tetap relevan namun harus diterapkan secara bijak sesuai situasi. Yang tak kalah penting, setiap organisasi formal selalu diwarnai oleh organisasi informal — jaringan hubungan spontan yang membawa energi sekaligus tantangan. Manajer yang efektif adalah mereka yang mampu memanfaatkan sinergi antara kedua dunia ini.
Bersambung ke BAB 5: STRUKTUR DAN DESAIN ORGANISASI
Administrasi, Manajemen, dan Organisasi
BAB 2: LANDASAN TEORI ADMINISTRASI
BAB 5: STRUKTUR DAN DESAIN ORGANISASI
BAB 6: MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA (MSDM)
BAB 7: KEPEMIMPINAN DAN PERILAKU ORGANISASI
BAB 8: BUDAYA ORGANISASI DAN PERUBAHAN
BAB 9: ADMINISTRASI DAN MANAJEMEN DI ERA DIGITAL
BAB 10: PENGUKURAN KINERJA DAN PENGENDALIAN
BAB 11: STUDI KASUS DAN APLIKASI PRAKTIS
DAFTAR PUSTAKA BAB 4
Barnard, C. I. (1938). The Functions of the Executive. Cambridge, MA: Harvard University Press.
Burns, T., & Stalker, G. M. (1961). The Management of Innovation. London: Tavistock.
Davis, K. (1962). Human Relations at Work. New York: McGraw-Hill.
DiMaggio, P. J., & Powell, W. W. (1983). The iron cage revisited: Institutional isomorphism and collective rationality in organizational fields. American Sociological Review, 48(2), 147-160.
Fayol, H. (1916). Administration Industrielle et Générale. Paris: Dunod.
Graicunas, V. A. (1933). Relationship in organization. Dalam L. Gulick & L. Urwick (Eds.), Papers on the Science of Administration. New York: Institute of Public Administration.
Gulick, L. (1937). Notes on the theory of organization. Dalam L. Gulick & L. Urwick (Eds.), Papers on the Science of Administration. New York: Institute of Public Administration.
Jones, G. R. (2010). Organizational Theory, Design, and Change (6th ed.). Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall.
Kast, F. E., & Rosenzweig, J. E. (1979). Organization and Management: A Systems and Contingency Approach (3rd ed.). New York: McGraw-Hill.
Koontz, H., & Weihrich, H. (2010). Essentials of Management (8th ed.). New Delhi: Tata McGraw-Hill.
Lawrence, P. R., & Lorsch, J. W. (1967). Organization and Environment: Managing Differentiation and Integration. Boston: Harvard Business School Press.
Mayo, E. (1933). The Human Problems of an Industrial Civilization. New York: Macmillan.
Perrow, C. (1986). Complex Organizations: A Critical Essay (3rd ed.). New York: Random House.
Robbins, S. P. (1990). Organization Theory: Structure, Design, and Applications (3rd ed.). Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall.
Robbins, S. P., & Coulter, M. (2012). Management (11th ed.). Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall.
Roethlisberger, F. J., & Dickson, W. J. (1939). Management and the Worker. Cambridge, MA: Harvard University Press.
Scott, W. R., & Davis, G. F. (2007). Organizations and Organizing: Rational, Natural, and Open System Perspectives. Upper Saddle River, NJ: Pearson Prentice Hall.
Shafritz, J. M., & Ott, J. S. (Eds.). (2001). Classics of Organization Theory (5th ed.). Fort Worth, TX: Harcourt College Publishers.
Siagian, S. P. (2004). Teori Pengembangan Organisasi. Jakarta: Bumi Aksara.
Smith, A. (1776). An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations. London: W. Strahan and T. Cadell.
Taylor, F. W. (1911). The Principles of Scientific Management. New York: Harper & Brothers.
Thompson, J. D. (1967). Organizations in Action: Social Science Bases of Administrative Theory. New York: McGraw-Hill.
Urwick, L. F. (1956). The manager's span of control. Harvard Business Review, 34(3), 39-47.
Weber, M. (1947). The Theory of Social and Economic Organization (T. Parsons, Ed. & Trans.). New York: Free Press. (Karya asli diterbitkan 1921)
Woodward, J. (1965). Industrial Organization: Theory and Practice. London: Oxford University Press.

Komentar
Posting Komentar