BAB 10: PENGUKURAN KINERJA DAN PENGENDALIAN

 




10.1 Konsep Efektivitas, Efisiensi, dan Produktivitas

10.1.1 Memahami Tiga Konsep Dasar

Dalam manajemen dan administrasi, tiga konsep sering digunakan untuk menilai keberhasilan organisasi: efektivitas, efisiensi, dan produktivitas. Ketiganya saling terkait tetapi memiliki makna yang berbeda. Pemahaman yang tepat terhadap ketiga konsep ini menjadi fondasi bagi sistem pengukuran kinerja yang andal.

Peter Drucker (1974), salah satu pemikir manajemen paling berpengaruh, membedakan efektivitas dan efisiensi secara terkenal: "Efficiency is doing things right; effectiveness is doing the right things" (Efisiensi adalah melakukan sesuatu dengan cara yang benar; efektivitas adalah melakukan hal yang benar). Perbedaan ini fundamental: organisasi bisa sangat efisien dalam melakukan kegiatan yang salah—dan itu tetap merupakan kegagalan.

Efektivitas (effectiveness) mengacu pada sejauh mana organisasi mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Robbins & Coulter, 2012). Efektivitas menjawab pertanyaan: "Apakah kita mencapai apa yang ingin kita capai?" Ukuran efektivitas bersifat kualitatif maupun kuantitatif, tergantung pada sifat tujuan. Contoh: jika tujuan organisasi adalah "meningkatkan kepuasan pelanggan menjadi 90%", maka efektivitas diukur dari persentase kepuasan yang tercapai.

Efisiensi (efficiency) mengacu pada rasio antara output (hasil) dan input (sumber daya yang digunakan) (Robbins & Coulter, 2012). Efisiensi menjawab pertanyaan: "Apakah kita menggunakan sumber daya secara minimal untuk menghasilkan output tertentu?" Organisasi yang efisien menghasilkan output lebih besar dengan input yang sama, atau output yang sama dengan input lebih kecil. Input dapat berupa biaya, waktu, tenaga kerja, bahan baku, atau energi.

Produktivitas (productivity) adalah rasio output terhadap input dalam periode waktu tertentu, sering dianggap sebagai ukuran gabungan dari efektivitas dan efisiensi (Sink, 1985; Tangen, 2005). Secara matematis:

Produktivitas = Output / Input

Namun, dalam praktik, produktivitas sering dioperasionalkan secara sempit sebagai produktivitas tenaga kerja (output per pekerja atau per jam kerja). Para ahli modern menekankan bahwa produktivitas harus diukur secara multifaktor (multifactor productivity), mempertimbangkan modal, energi, material, dan jasa selain tenaga kerja (Tangen, 2005).

10.1.2 Hubungan Antara Efektivitas, Efisiensi, dan Produktivitas

Keempat kemungkinan kombinasi efektivitas dan efisiensi (Robbins & Coulter, 2012):

EfektivitasEfisiensiHasilContoh Organisasi
TinggiTinggiSuksesPerusahaan mencapai target pasar dengan biaya rendah, laba tinggi
TinggiRendahBertahan tetapi borosMencapai target tetapi menghabiskan terlalu banyak sumber daya; berisiko dalam jangka panjang karena tidak kompetitif
RendahTinggiBangkrut secara efektifMelakukan hal yang salah dengan sangat efisien; misalnya, memproduksi produk yang tidak laku dengan biaya sangat rendah—tetap rugi
RendahRendahGagalTidak mencapai target dan boros; segera gulung tikar

Produktivitas dapat meningkat jika: (a) output naik dengan input tetap, (b) output tetap dengan input turun, atau (c) output naik lebih besar daripada kenaikan input. Namun, peningkatan produktivitas tidak selalu berarti peningkatan efektivitas—organisasi bisa memproduksi lebih banyak barang yang tidak dibutuhkan pasar (Sink, 1985).

10.1.3 Pengukuran Efektivitas, Efisiensi, dan Produktivitas dalam Praktik

Pengukuran efektivitas seringkali lebih sulit daripada efisiensi karena tujuan organisasi bisa bersifat multidimensi dan kontradiktif (misalnya, memaksimalkan laba jangka pendek vs investasi jangka panjang). Campbell (1977) mengidentifikasi 30 kriteria efektivitas yang berbeda, termasuk produktivitas, profitabilitas, kualitas, kepuasan karyawan, dan tanggung jawab sosial. Pendekatan yang umum digunakan adalah stakeholder approach—efektivitas diukur dari sejauh mana organisasi memenuhi harapan para pemangku kepentingan kunci (pelanggan, karyawan, pemilik, masyarakat) (Freeman, 1984).

Pengukuran efisiensi relatif lebih mudah, terutama untuk organisasi manufaktur dengan output fisik yang jelas. Teknik yang umum: analisis rasio (biaya per unit, waktu siklus), perbandingan dengan benchmark (industri, pesaing, atau standar internal), dan analisis frontier (Data Envelopment Analysis – DEA) untuk organisasi jasa (Cooper et al., 2007).

Pengukuran produktivitas di tingkat nasional menggunakan GDP per jam kerja (OECD). Di tingkat perusahaan, total factor productivity (TFP) mengukur efisiensi penggunaan seluruh input (modal dan tenaga kerja) (Tangen, 2005). Namun, banyak organisasi menggunakan produktivitas parsial (misalnya, pendapatan per karyawan) karena kesederhanaannya.


10.2 Alat Ukur Kinerja: Balanced Scorecard, KPI, MBO

10.2.1 Key Performance Indicators (KPI)

Key Performance Indicators (KPI) adalah ukuran kuantitatif yang terukur, spesifik, dan relevan yang menunjukkan seberapa baik suatu organisasi, unit, atau individu mencapai tujuan strategis kunci (Parmenter, 2020; Kerzner, 2017). KPI berbeda dari sekadar "metrik" atau "indikator" biasa: KPI adalah indikator yang paling penting, yang menjadi fokus perhatian manajemen.

Karakteristik KPI yang baik (Parmenter, 2020; Eckerson, 2009):

KarakteristikPenjelasanContoh BurukContoh Baik
Spesifik (Specific)Jelas apa yang diukur, tidak ambigu"Tingkatkan layanan""Tingkatkan skor kepuasan pelanggan dari 85 menjadi 90 dalam 6 bulan"
Terukur (Measurable)Dapat dihitung atau dinilai secara objektif"Pelayanan lebih cepat""Waktu respons rata-rata < 2 jam"
Dapat dicapai (Achievable)Realistis dengan sumber daya yang ada"Tingkatkan laba 500% dalam sebulan""Tingkatkan laba 10% per kuartal"
Relevan (Relevant)Terkait langsung dengan strategi organisasiJumlah klip kertas terpakai untuk perusahaan softwareRetensi pelanggan (untuk perusahaan SaaS)
Berbatas waktu (Time-bound)Ada tenggat waktu pencapaian"Tingkatkan penjualan""Tingkatkan penjualan 15% pada akhir Q3"

Jenis-jenis KPI (Parmenter, 2020):

  • Result indicators (indikator hasil): menunjukkan apa yang telah dicapai (misal: laba bersih, kepuasan pelanggan). Bersifat lagging (keterlambatan).

  • Performance indicators (indikator kinerja): menunjukkan bagaimana proses berjalan (misal: waktu siklus produksi). Bisa lagging atau leading.

  • Key result indicators (KRI): hasil kunci yang ringkas (misal: ROI, customer retention rate).

  • Key performance indicators (KPI): yang paling kritis, sering non-keuangan (misal: persentase penerbangan tepat waktu maskapai, tingkat kesalahan pengiriman).

Prinsip penerapan KPI (Parmenter, 2020): Jangan terlalu banyak KPI (cukup 4-10 KPI untuk organisasi). KPI harus dikomunikasikan ke seluruh organisasi. Gunakan dashboard visual (hijau-kuning-merah). Tinjau dan evaluasi KPI secara berkala (bulanan/kuartalan).

10.2.2 Management by Objectives (MBO)

Management by Objectives (MBO) adalah sistem manajemen di mana manajer dan bawahan secara bersama-sama menetapkan tujuan yang spesifik, terukur, dan selaras dengan tujuan organisasi, kemudian secara periodik mengevaluasi pencapaian tujuan tersebut (Drucker, 1954; Odiorne, 1965). Peter Drucker memperkenalkan MBO dalam bukunya The Practice of Management (1954) sebagai kritik terhadap manajemen "by crisis" atau "by intuition".

Siklus MBO (Drucker, 1954; Odiorne, 1965; Robbins & Coulter, 2012):

  1. Penetapan tujuan organisasi (top-down): Manajemen puncak menetapkan tujuan strategis (misal: peningkatan pangsa pasar 5%).

  2. Penetapan tujuan departemen dan individu (partisipatif): Setiap manajer dan karyawan, dalam diskusi dengan atasan, menetapkan tujuan spesifik yang mendukung tujuan organisasi. Proses ini bottom-up dalam arti negosiasi.

  3. Perencanaan tindakan: Menentukan langkah-langkah konkret, sumber daya, dan tenggat waktu untuk mencapai tujuan.

  4. Evaluasi berkala: Review kemajuan secara rutin (bulanan/kuartalan), bukan hanya di akhir tahun.

  5. Penilaian kinerja akhir: Di akhir periode (tahunan), capaian dibandingkan dengan tujuan yang disepakati.

Kelebihan MBO (Odiorne, 1965; Rodgers & Hunter, 1991):

  • Memperjelas ekspektasi kinerja.

  • Meningkatkan komitmen karena karyawan terlibat dalam penetapan tujuan.

  • Memfasilitasi koordinasi lintas fungsi.

  • Objektifitas penilaian kinerja (berbasis hasil, bukan kepribadian).

Kelemahan MBO (Robbins & Coulter, 2012):

  • Cenderung fokus pada hasil jangka pendek yang mudah diukur, mengabaikan hal-hal kualitatif.

  • Jika tidak didukung budaya partisipatif, dapat menjadi sekadar top-down dengan kedok partisipasi.

  • Memakan waktu (banyak rapat penetapan tujuan dan evaluasi).

  • Berisiko menimbulkan konflik jika tujuan individu bertentangan (suboptimalisasi).

Meta-analisis oleh Rodgers & Hunter (1991) terhadap 70 studi menunjukkan bahwa MBO secara signifikan meningkatkan produktivitas (effect size rata-rata 0.45), terutama ketika ada komitmen manajemen puncak dan dukungan berkelanjutan.

10.2.3 Balanced Scorecard (BSC)

Balanced Scorecard (BSC) adalah kerangka manajemen kinerja strategis yang mengukur kinerja organisasi dari empat perspektif yang seimbang: keuangan, pelanggan, proses bisnis internal, serta pembelajaran dan pertumbuhan (Kaplan & Norton, 1992, 1996). Robert Kaplan dan David Norton memperkenalkan BSC sebagai respons terhadap kelemahan pengukuran kinerja tradisional yang hanya berfokus pada metrik keuangan (lagging indicators) dan mengabaikan pendorong kinerja jangka panjang (leading indicators).

Empat perspektif Balanced Scorecard (Kaplan & Norton, 1996, 2001):

PerspektifPertanyaan KunciContoh Indikator
Keuangan"Bagaimana kita dilihat oleh pemegang saham?" (lagging)ROI, laba bersih, arus kas, pertumbuhan pendapatan, biaya per unit
Pelanggan"Bagaimana pelanggan melihat kita?"Kepuasan pelanggan (survei), retensi pelanggan, akuisisi pelanggan baru, pangsa pasar
Proses Bisnis Internal"Apa yang harus kita ungguli untuk memuaskan pelanggan dan pemegang saham?"Waktu siklus produksi, tingkat cacat, waktu respons layanan, inovasi proses
Pembelajaran & Pertumbuhan"Bagaimana kita terus meningkatkan dan menciptakan nilai?"Kepuasan karyawan, retensi karyawan, jam pelatihan per karyawan, jumlah ide inovatif

Hubungan sebab-akibat dalam BSC (Kaplan & Norton, 1996, 2001):

Pembelajaran & Pertumbuhan (kompetensi karyawan, budaya) → Proses Internal (efisiensi, kualitas) → Pelanggan (kepuasan, loyalitas) → Keuangan (laba, ROI)

Contoh: Investasi dalam pelatihan (pembelajaran) meningkatkan keterampilan karyawan → mereka bekerja lebih efisien dan menghasilkan produk berkualitas lebih tinggi (proses internal) → pelanggan lebih puas dan loyal (pelanggan) → pembelian ulang meningkat, sehingga laba naik (keuangan). Rantai ini menunjukkan bahwa metrik non-keuangan adalah leading indicators untuk kinerja keuangan masa depan (Kaplan & Norton, 2001).

Implementasi BSC (Kaplan & Norton, 1996):

  1. Terjemahkan visi dan strategi ke dalam tujuan spesifik di setiap perspektif.

  2. Komunikasikan tujuan dan ukuran ke seluruh organisasi, tautkan dengan kompensasi.

  3. Rencanakan inisiatif untuk mencapai target.

  4. Umpan balik dan pembelajaran—gunakan BSC untuk menguji hipotesis strategis (strategic learning).

Kelebihan BSC (Niven, 2014; Kaplan & Norton, 2001):

  • Menyeimbangkan ukuran jangka pendek dan jangka panjang.

  • Mengubah strategi menjadi tindakan operasional.

  • Memperjelas hubungan sebab-akibat.

  • Memfasilitasi komunikasi strategi.

Kritik terhadap BSC: Implementasi memakan waktu dan mahal; terlalu kompleks untuk UKM; keempat perspektif mungkin tidak cocok untuk semua jenis organisasi (misal, nirlaba perlu menyesuaikan). Juga, hubungan sebab-akibat seringkali oversimplifikasi realitas (Nørreklit, 2000). Meskipun demikian, BSC tetap menjadi alat manajemen strategis yang paling banyak diadopsi di dunia (menurut survei Bain & Company, 2020, sekitar 40% perusahaan Fortune 500 menggunakan variasi BSC).


10.3 Audit Administrasi dan Manajemen

10.3.1 Definisi dan Ruang Lingkup Audit

Audit secara umum adalah pemeriksaan yang sistematis, independen, dan terdokumentasi untuk memperoleh bukti dan mengevaluasinya secara objektif, untuk menentukan tingkat kesesuaian dengan kriteria yang telah ditetapkan (ISO 19011:2018). Dalam konteks administrasi dan manajemen, audit dibagi menjadi beberapa jenis:

Jenis AuditFokusPelaksanaTujuan
Audit keuanganLaporan keuangan (neraca, laba rugi, arus kas)Akuntan publik eksternalMemberikan opini kewajaran laporan keuangan
Audit kepatuhanKepatuhan terhadap hukum, regulasi, kebijakan internalAuditor internal atau eksternalMenjamin tidak ada pelanggaran
Audit operasional (administrasi & manajemen)Efektivitas, efisiensi, dan ekonomi dari operasi dan fungsi manajemenAuditor internal (kadang eksternal)Mengidentifikasi area perbaikan
Audit kinerjaPencapaian tujuan dan outcomeAuditor eksternal (BPK untuk publik)Menilai value for money

Audit administrasi dan manajemen (sering disebut audit manajemen atau audit operasional) adalah pemeriksaan terhadap fungsi-fungsi manajemen (perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengendalian) dan proses administrasi untuk menilai apakah sumber daya digunakan secara ekonomis, efisien, dan efektif dalam mencapai tujuan (Sawyer et al., 2005; Institute of Internal Auditors - IIA, 2017).

10.3.2 Prinsip dan Standar Audit

Prinsip-prinsip audit menurut ISO 19011:2018 dan IIA (2017):

PrinsipPenjelasan
IntegritasAuditor harus jujur, bertanggung jawab, dan berpegang pada kode etik
ObjektivitasBebas dari bias, konflik kepentingan, dan pengaruh pihak lain
KerahasiaanTidak mengungkapkan informasi sensitif tanpa otorisasi
KompetensiAuditor harus memiliki pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang memadai
Pendekatan berbasis buktiKesimpulan dan rekomendasi harus didukung bukti yang cukup, relevan, dan andal

Standar internasional untuk audit internal dikeluarkan oleh IIA (International Professional Practices Framework - IPPF). Di Indonesia, auditor pemerintah berpedoman pada Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) yang dikeluarkan oleh BPK, serta Standar Audit Intern Pemerintah Indonesia (SAIPI) oleh APIP (Aparat Pengawasan Intern Pemerintah).

10.3.3 Proses Audit Administrasi dan Manajemen

Proses audit umumnya terdiri dari empat fase (Sawyer et al., 2005; IIA, 2017):

Fase 1: Perencanaan (Planning)

  • Memahami entitas yang diaudit (visi, misi, strategi, risiko, proses bisnis)

  • Melakukan penilaian risiko untuk menentukan area prioritas

  • Menyusun program audit (tujuan, ruang lingkup, metodologi, sumber daya, jadwal)

  • Mengirim surat pemberitahuan kepada auditee

Fase 2: Pelaksanaan (Fieldwork)

  • Mengumpulkan bukti melalui wawancara, observasi, analisis dokumen, dan pengujian sampel

  • Mendokumentasikan temuan (finding) dalam kertas kerja audit

  • Kondisi (apa yang ditemukan), kriteria (standar yang seharusnya), penyebab, dampak (konsekuensi), dan rekomendasi perbaikan. Ini dikenal sebagai "5C" (Criteria, Condition, Cause, Consequence, Corrective action) (Sawyer et al., 2005).

Fase 3: Pelaporan (Reporting)

  • Menyusun draf laporan audit yang berisi temuan, kesimpulan, rekomendasi

  • Diskusi dengan auditee untuk konfirmasi fakta

  • Menerbitkan laporan final dengan tindak lanjut yang diharapkan

Fase 4: Tindak Lanjut (Follow-up)

  • Memantau implementasi rekomendasi oleh auditee

  • Menilai apakah tindakan koreksi efektif

  • Melaporkan status tindak lanjut kepada manajemen dan dewan pengawas

10.3.4 Area yang Diaudit dalam Administrasi dan Manajemen

Dalam audit operasional/administrasi, area-area kunci yang diperiksa (Sawyer et al., 2005; Moeller, 2016):

Fungsi/AreaContoh Pertanyaan Audit
PerencanaanApakah organisasi memiliki rencana strategis yang formal? Apakah tujuan SMART? Apakah risiko diidentifikasi dan dimitigasi?
Struktur organisasiApakah struktur mendukung strategi? Apakah ada tumpang tindih tugas atau celah tanggung jawab? Apakah rentang kendali memadai?
SDMApakah rekrutmen dan seleksi sesuai prosedur? Apakah penilaian kinerja berbasis hasil? Apakah program pelatihan efektif?
Keuangan & pengadaanApakah pengeluaran sesuai anggaran? Apakah proses tender transparan? Apakah aset terlindungi dari pencurian?
Teknologi informasiApakah akses data sesuai peran? Apakah backup rutin? Apakah rencana pemulihan bencana ada?
KepatuhanApakah organisasi mematuhi UU Ketenagakerjaan, UU PDP, perpajakan, dll.?
KinerjaApakah KPI dan target tercapai? Apakah efektivitas dan efisiensi diukur?

Perbedaan audit internal vs eksternal: Audit internal (dilakukan oleh unit internal organisasi) lebih bersifat improvement-oriented dan terus-menerus, meliputi seluruh aspek manajemen. Audit eksternal (oleh kantor akuntan publik, BPK, atau lembaga independen) lebih bersifat compliance-oriented dan dilakukan periodik (tahunan). Audit internal sering disebut "mata dan telinga" manajemen (IIA, 2017).


10.4 Sistem Pengendalian Internal dan Eksternal

10.4.1 Pengendalian Internal: Definisi dan Komponen

Pengendalian internal (internal control) adalah proses yang dijalankan oleh dewan komisaris, manajemen, dan personel lainnya, yang dirancang untuk memberikan keyakinan memadai (reasonable assurance) mengenai pencapaian tiga tujuan: (1) efektivitas dan efisiensi operasi, (2) keandalan pelaporan keuangan, (3) kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku (COSO, 2013; IIA, 2017). COSO (Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission) adalah kerangka pengendalian internal yang paling banyak diadopsi di dunia.

Lima komponen pengendalian internal COSO (2013) (dikenal sebagai COSO Cube):

KomponenDefinisiContoh Aktivitas
Lingkungan Pengendalian (Control Environment)Fondasi seluruh pengendalian; mencakup integritas, nilai etika, kompetensi, gaya kepemimpinan, dan struktur organisasiKode etik yang ditegakkan, komitmen puncak terhadap pengendalian, wewenang & tanggung jawab jelas
Penilaian Risiko (Risk Assessment)Identifikasi dan analisis risiko internal dan eksternal yang menghambat pencapaian tujuanPemetaan risiko (risk register), analisis probabilitas-dampak, assessment tahunan
Aktivitas Pengendalian (Control Activities)Kebijakan dan prosedur yang memastikan arahan manajemen dilaksanakanPemisahan tugas (segregation of duties), otorisasi transaksi, rekonsiliasi, review kinerja
Informasi dan Komunikasi (Information & Communication)Sistem yang menangkap, memproses, dan menyebarkan informasi yang relevanPelaporan tepat waktu, saluran pelaporan pelanggaran (whistleblowing), komunikasi kebijakan
Pemantauan (Monitoring)Evaluasi berkelanjutan atau periodik terhadap kualitas pengendalian internalAudit internal, review manajemen, self-assessment, tindak lanjut temuan

Tujuh prinsip pengendalian internal COSO (dalam setiap komponen) memberikan panduan implementasi rinci (COSO, 2013). Organisasi publik di Indonesia (BUMN, perusahaan terbuka) diwajibkan memiliki sistem pengendalian internal yang memadai berdasarkan Peraturan Menteri BUMN dan OJK.

10.4.2 Jenis-jenis Aktivitas Pengendalian

Aktivitas pengendalian dapat bersifat preventif (mencegah kesalahan/ kecurangan terjadi) atau detektif (menemukan kesalahan setelah terjadi) (Hall, 2015; Romney & Steinbart, 2018):

JenisDefinisiPreventif/DetektifContoh
OtorisasiTransaksi hanya sah jika disetujui pihak berwenangPreventifPembelian > Rp 100 juta harus disetujui direktur
Pemisahan tugasTidak ada satu orang yang menguasai seluruh siklus transaksi (otorisasi, pencatatan, penyimpanan aset)PreventifOrang yang mencatat penerimaan kas tidak boleh memegang kas fisik
Dokumentasi yang memadaiSemua transaksi harus didokumentasikan dan terdokumentasi dengan baikPreventif & DetektifNomor invoice berurutan, tidak ada yang hilang
Pengendalian fisikAset (uang, persediaan, peralatan) dilindungi secara fisikPreventifBrankas, gembok, CCTV, security guard
RekonsiliasiMencocokkan dua catatan independen untuk mendeteksi perbedaanDetektifMencocokkan catatan bank dengan buku kas
Review kinerjaAnalisis varian antara aktual dan anggaran, atau data historisDetektifManajer membandingkan penjualan aktual dengan target

Contoh klasik kegagalan pengendalian internal: Kasus Enron (2001) yang mengakibatkan runtuhnya kantor akuntan Arthur Andersen. Penyebab utama: lemahnya pemisahan tugas, konflik kepentingan dewan komisaris, dan audit internal yang tidak independen. Kasus ini memicu lahirnya Sarbanes-Oxley Act (SOX, 2002) di AS yang mewajibkan perusahaan publik mendokumentasikan dan menguji pengendalian internal secara ekstensif (Hall, 2015).

10.4.3 Pengendalian Eksternal

Pengendalian eksternal adalah mekanisme di luar organisasi yang mempengaruhi atau mengendalikan perilaku organisasi. Berbeda dengan pengendalian internal yang dikelola sendiri, pengendalian eksternal bersifat imposed (dipaksakan) oleh pihak eksternal (Power, 1997).

Jenis Pengendalian EksternalPihak PelakuContoh Instrumen
Regulasi pemerintahKementerian, lembaga regulatorUU Ketenagakerjaan, UU Perlindungan Data, peraturan OJK untuk bank, peraturan BPOM untuk makanan
Audit eksternalKantor akuntan publik, BPKAudit laporan keuangan tahunan; opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP)
Rating dan pemeringkatanLembaga pemeringkat (Pefindo, Moody's, S&P)Peringkat kredit (AAA, BBB, dll) mempengaruhi biaya utang
Mekanisme pasarPelanggan, pemasok, pesaing, investorPelanggan beralih ke pesaing jika kualitas buruk; investor menjual saham jika kinerja jelek (corporate control)
Tekanan sosialMedia, LSM, masyarakat umumPublikasi pelanggaran etik, boikot konsumen, gerakan media sosial
Sertifikasi dan standarLembaga sertifikasi (ISO, SNI, Halal)ISO 9001 (mutu), ISO 27001 (keamanan informasi), sertifikasi halal

Hubungan antara pengendalian internal dan eksternal: Pengendalian internal yang kuat akan mengurangi risiko temuan negatif dalam audit eksternal, meningkatkan peringkat kredit, dan mengurangi kemungkinan sanksi regulator. Sebaliknya, tekanan eksternal (misal, ancaman denda dari regulator) dapat mendorong manajemen untuk memperbaiki pengendalian internal. Keduanya bersifat komplementer (Power, 1997).

10.4.4 Penerapan Sistem Pengendalian Internal di Indonesia

Di Indonesia, kerangka pengendalian internal diatur dalam berbagai regulasi:

  • Untuk BUMN: Peraturan Menteri BUMN No. PER-05/MBU/2021 tentang Sistem Pengendalian Intern (SPI) BUMN. Setiap BUMN wajib memiliki SPI yang mengacu COSO, dengan unit audit internal yang independen.

  • Untuk Perusahaan Terbuka: OJK melalui POJK No. 29/POJK.04/2016 tentang Laporan Tahunan Emiten, mewajibkan pengungkapan sistem pengendalian internal.

  • Untuk Pemerintah: PP No. 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) yang juga mengadopsi COSO. Setiap instansi pusat dan daerah wajib memiliki SPIP, diaudit oleh BPK dan APIP (Inspektorat Jenderal/Inspektorat Daerah).

  • Untuk Perbankan: BI/OJK mewajibkan penerapan risk-based internal control sesuai Basel dan COSO.

Tantangan implementasi di Indonesia (menurut survei BPK dan KPK): lemahnya komitmen pimpinan, kurangnya kompetensi SDM pengendalian, dan budaya "asal prosedur" daripada substansi. Kasus-kasus korupsi seringkali terjadi karena pengendalian internal yang longgar (misal: pungli di layanan publik, mark-up proyek, dual control yang tidak efektif).


Kesimpulan Bab 10

Pengukuran kinerja dan pengendalian adalah dua sisi mata uang yang sama dalam manajemen modern. Efektivitas, efisiensi, dan produktivitas memberikan kerangka konseptual untuk menilai kesehatan organisasi. Alat ukur kinerja—KPI, MBO, dan Balanced Scorecard—menerjemahkan konsep ke dalam metrik operasional yang dapat dikelola dan dikomunikasikan. Audit administrasi dan manajemen berfungsi sebagai mekanisme verifikasi independen yang memberikan jaminan bahwa sistem berjalan sebagaimana mestinya dan mengidentifikasi area perbaikan. Akhirnya, sistem pengendalian internal (berbasis COSO) dan pengendalian eksternal (regulasi, pasar, tekanan sosial) bekerja bersama untuk memastikan bahwa organisasi tidak hanya mencapai tujuannya, tetapi juga melakukannya dengan integritas, kepatuhan, dan kehati-hatian. Organisasi yang unggul adalah organisasi yang tidak hanya berkinerja tinggi, tetapi juga memiliki governance dan pengendalian yang kuat untuk mempertahankan kinerja tersebut dalam jangka panjang.


Bersambung ke  BAB 11: STUDI KASUS DAN APLIKASI PRAKTIS


Administrasi, Manajemen, dan Organisasi

BAB 2: LANDASAN TEORI ADMINISTRASI

BAB 3: KONSEP DASAR MANAJEMEN

BAB 4: TEORI ORGANISASI

BAB 5: STRUKTUR DAN DESAIN ORGANISASI

BAB 6: MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA (MSDM)

BAB 7: KEPEMIMPINAN DAN PERILAKU ORGANISASI

BAB 8: BUDAYA ORGANISASI DAN PERUBAHAN

BAB 9: ADMINISTRASI DAN MANAJEMEN DI ERA DIGITAL

BAB 10: PENGUKURAN KINERJA DAN PENGENDALIAN

BAB 11: STUDI KASUS DAN APLIKASI PRAKTIS

BAB 12: PENUTUP



DAFTAR PUSTAKA BAB 10

Bain & Company. (2020). Management Tools & Trends 2020. Boston: Bain & Company.

Campbell, J. P. (1977). On the nature of organizational effectiveness. Dalam P. S. Goodman & J. M. Pennings (Eds.), New Perspectives on Organizational Effectiveness (hlm. 13-55). San Francisco: Jossey-Bass.

Cooper, W. W., Seiford, L. M., & Tone, K. (2007). Data Envelopment Analysis: A Comprehensive Text with Models, Applications, References and DEA-Solver Software (2nd ed.). New York: Springer.

COSO (Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission). (2013). Internal Control — Integrated Framework. Durham, NC: COSO.

Drucker, P. F. (1954). The Practice of Management. New York: Harper & Row.

Drucker, P. F. (1974). Management: Tasks, Responsibilities, Practices. New York: Harper & Row.

Eckerson, W. W. (2009). Performance Dashboards: Measuring, Monitoring, and Managing Your Business (2nd ed.). Hoboken, NJ: John Wiley & Sons.

Freeman, R. E. (1984). Strategic Management: A Stakeholder Approach. Boston: Pitman.

Hall, J. A. (2015). Accounting Information Systems (9th ed.). Boston: Cengage Learning.

IIA (Institute of Internal Auditors). (2017). International Professional Practices Framework (IPPF). Altamonte Springs, FL: IIA.

ISO 19011:2018. Guidelines for Auditing Management Systems. Geneva: International Organization for Standardization.

Kaplan, R. S., & Norton, D. P. (1992). The balanced scorecard: Measures that drive performance. Harvard Business Review, 70(1), 71-79.

Kaplan, R. S., & Norton, D. P. (1996). The Balanced Scorecard: Translating Strategy into Action. Boston: Harvard Business School Press.

Kaplan, R. S., & Norton, D. P. (2001). The Strategy-Focused Organization. Boston: Harvard Business School Press.

Kerzner, H. (2017). Project Management Metrics, KPIs, and Dashboards (3rd ed.). Hoboken, NJ: John Wiley & Sons.

Moeller, R. R. (2016). Brink's Modern Internal Auditing (8th ed.). Hoboken, NJ: John Wiley & Sons.

Niven, P. R. (2014). Balanced Scorecard Evolution: A Dynamic Approach to Strategy Execution. Hoboken, NJ: John Wiley & Sons.

Nørreklit, H. (2000). The balance on the balanced scorecard: A critical analysis of some of its assumptions. Management Accounting Research, 11(1), 65-88.

Odiorne, G. S. (1965). Management by Objectives: A System of Managerial Leadership. New York: Pitman.

Parmenter, D. (2020). Key Performance Indicators: Developing, Implementing, and Using Winning KPIs (4th ed.). Hoboken, NJ: John Wiley & Sons.

Power, M. (1997). The Audit Society: Rituals of Verification. Oxford: Oxford University Press.

Robbins, S. P., & Coulter, M. (2012). Management (11th ed.). Upper Saddle River, NJ: Pearson.

Rodgers, R., & Hunter, J. E. (1991). Impact of management by objectives on organizational productivity. Journal of Applied Psychology, 76(3), 322-336.

Romney, M. B., & Steinbart, P. J. (2018). Accounting Information Systems (14th ed.). Boston: Pearson.

Sawyer, L. B., Dittenhofer, M. A., & Scheiner, J. H. (2005). Sawyer's Internal Auditing (5th ed.). Altamonte Springs, FL: IIA.

Sink, D. S. (1985). Productivity Management: Planning, Measurement and Evaluation, Control and Improvement. New York: John Wiley & Sons.

Tangen, S. (2005). Demystifying productivity and performance. International Journal of Productivity and Performance Management, 54(1), 34-46.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAMUJU MISTIK: 10 KISAH GAIB YANG MENGGENTARKAN MAMUJU

PEMERINTAH DAERAH DI ERA EFISIENSI

BAB 11: KERANGKA HUKUM DAN KEBIJAKAN PENDUKUNG