BAB XII: KARAKTER DAN TELADAN IBU AGUNG

 


A. Karakter Religius – Shalehah, Hafizah 30 Juz

Di balik kegagahan Ibu Agung sebagai panglima perang, tersembunyi sosok seorang wanita yang sangat taat beragama. Baginya, Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, tetapi pedoman hidup yang ia pegang erat, bahkan di tengah desingan peluru.

Meskipun hanya sempat mengenyam pendidikan formal tiga tahun di Sekolah Rakyat (SR), Ibu Agung memiliki kecerdasan spiritual yang luar biasa. Sejak kecil, guru mengaji khusus dipanggil ke istana untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada putra-putri Arayang Laju Kanna Doro. Dan pada usia yang sangat muda – 12 tahun – Ibu Agung telah khatam 30 juz Al-Qur’an.

“Saya tidak sempat sekolah tinggi,” katanya suatu hari. “Tapi saya berusaha memahami kitab suci. Karena di situlah letak segala ilmu.”

Dalam setiap pidatonya, ia selalu menyelipkan ayat-ayat suci. Ketika ia memimpin pasukan, bibirnya tidak pernah berhenti berzikir. Ketika ia di penjara, ia membaca Al-Qur’an dengan suara merdu, membuat teman-temannya satu sel merasa seperti berada di pesantren, bukan di tahanan.

“Aneh memang,” kenang seorang teman satu sel. “Di luar tembok penjara, meriam bergemuruh. Di dalam, Ibu Agung membaca Al-Qur’an dengan tenang. Rasanya kami bukan di penjara, tapi di masjid.”

Ia juga sangat disiplin dalam menjalankan ibadah. Shalat lima waktu tidak pernah ia tinggalkan, bahkan ketika sedang bergerilya di hutan. Para pejuang lain kadang merasa kesulitan karena medan yang tidak bersih. Tapi Ibu Agung selalu mencari tempat yang layak, atau setidaknya menghadap kiblat dengan penuh kesungguhan.

“Ibu Agung itu sangat shalehah,” kata Sitti Ruwaedah. “Beliau tidak hanya hafal Al-Qur’an, tetapi juga mengamalkannya. Beliau pemarah kepada yang zalim, tetapi sangat lembut kepada yang lemah.”

Ketaatan Ibu Agung juga terlihat dalam kepatuhannya kepada orang tua. Ketika kedua orang tuanya menjodohkannya dengan Andi Baso Pawiseang – tanpa cinta, tanpa perkenalan – ia tidak membantah. Ia patuh. Bukan karena takut, tetapi karena ia percaya bahwa ridha orang tua adalah ridha Allah.

“Aku tidak pernah menyesali perjodohan itu,” katanya di kemudian hari. “Dari pernikahan itu, aku mendapatkan putraku, Yendeng. Dan dari pernikahan itu, aku belajar bahwa cinta tidak selalu berarti kebersamaan. Kadang, cinta adalah melepaskan.”

Di usia senja, ketika banyak orang sibuk dengan urusan dunia, Ibu Agung semakin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Rumahnya di Sawerigading sering terdengar lantunan ayat-ayat suci, terutama pada malam Jumat.

“Nenek tidak pernah berhenti mengaji,” kenang seorang cucu. “Sampai napasnya yang terakhir, bibirnya masih bergerak membaca doa.”


B. Keberanian – Rela Mati demi Merah Putih

Karakter yang paling menonjol dari Ibu Agung adalah keberaniannya. Bukan keberanian yang lahir dari emosi sesaat, tetapi keberanian yang matang, yang dihitung risikonya, dan tetap dijalani dengan kesadaran penuh.

Keberanian itu sudah tampak sejak masa kecil: ia memanjat pohon kelapa setinggi sepuluh meter, ia menunggang kuda liar, ia bergulat dengan anak laki-laki. Namun keberanian fisik itu hanyalah cikal bakal. Keberanian yang sesungguhnya muncul ketika ia berhadapan dengan penjajah.

“Saya tidak takut mati,” katanya. “Saya hanya takut jika bendera Merah Putih turun dari tiangnya.”

Puncak keberanian itu ia tunjukkan pada peristiwa memeluk tiang bendera di Tinambung (28 Oktober 1946). Di hadapan pasukan Belanda yang bersenjata lengkap, ia berteriak: “Nanti kalau tubuhku sudah terkapar bersimbah darah, barulah bendera ini boleh turun!”

Itu bukan sekadar kata-kata. Ia benar-benar siap mati. Tidak ada sandiwara. Tidak ada rekayasa. Ia telah mengikrarkan dalam hati bahwa nyawanya adalah taruhan untuk menjaga kehormatan bangsanya.

Keberanian Ibu Agung juga terlihat dalam keputusannya untuk bercerai dengan suami demi prinsip perjuangan. Ia rela meninggalkan istana, kemewahan, dan kehidupan yang nyaman, hanya karena tidak sejalan dengan pilihan suaminya yang bersikap lunak terhadap Belanda.

“Banyak orang bertanya, ‘Mengapa Ibu tidak tinggal diam saja di istana? Mengapa Ibu harus bersusah payah di hutan?’” kata Ibu Agung. “Karena diam di istana sementara rakyat menderita adalah pengkhianatan. Aku tidak akan pernah menjadi pengkhianat.”

Ia juga berani menghadapi siksaan di penjara. Tiga belas rumah tahanan, vonis tembak mati yang batal, berbagai macam penyiksaan – tidak ada yang meluluhkannya. Bahkan ketika Belanda menyebarkan kabar bohong bahwa ia telah berdamai dengan mereka, ia tidak goyah. Ia tetap tegar, tetap memimpin dari balik jeruji, tetap menjadi panutan bagi anak buahnya.

“Saya tidak pernah sekalipun melihat Ibu Agung menangis karena takut,” kenang seorang veteran. “Beliau hanya menangis ketika mendengar kabar bahwa anak buahnya gugur. Itu bukan tangisan pengecut. Itu tangisan seorang ibu yang kehilangan putranya.”


C. Kepemimpinan Merakyat – "Saya Besar Karena Kalian"

Ibu Agung adalah pemimpin yang merakyat. Frasa itu sering digunakan untuk menggambarkan tokoh-tokoh populis, tetapi dalam diri Ibu Agung, frasa itu hidup dalam tindakan sehari-hari, bukan sekadar retorika.

Setelah menjadi Arayang (raja), ia tidak pernah merasa dirinya lebih tinggi dari rakyatnya. Ia bahkan melarang rakyat untuk bersimpuh di depannya.

“Jangan panggil saya Daeng,” katanya dalam pidato bersejarah. “Jangan bersujud di depan saya. Kita semua sama di hadapan perjuangan. Panggil saya Ibu. Cukup Ibu.”

Dan itulah yang terjadi. Rakyat memanggilnya Ibu dengan penuh hormat, bukan karena takut, tetapi karena cinta.

Ungkapan favorit Ibu Agung yang sering ia ulang adalah:

“Iyya anna kaiyyanga apa’ diang mappakaiyyanga, iyya anna daenga apa’ napedzaenga tau.”

“Saya besar karena kalian yang membesarkan saya, dan saya mulia karena kalian yang memuliakan saya.”

Ia tidak pernah lupa dari mana ia berasal. Ia sadar bahwa tanpa rakyat, ia hanyalah seorang perempuan biasa. Karena itu, setiap kebijakannya selalu berpihak kepada rakyat kecil.

Suatu ketika, ada seorang petani miskin yang datang ke istana tua untuk mengadu. Tanahnya hendak diambil alih oleh Belanda dengan dalih "tanah terlantar". Ibu Agung tidak hanya mendengarkan, tetapi juga turun langsung ke lapangan. Ia mengumpulkan bukti-bukti, mengirim surat protes kepada pejabat Belanda, dan pada akhirnya tanah itu kembali ke petani.

“Ibu Depu tidak pernah pilih kasih,” kenang petani itu. “Saya hanya rakyat biasa. Tapi beliau memperlakukan saya seperti keluarga.”

Dalam acara-acara adat, Ibu Agung memiliki kebiasaan unik: jika diundang oleh orang yang tidak mampu, ia akan datang sendiri tanpa dijemput, dan pulang sendiri tanpa diantar. Ia tidak ingin membebani tuan rumah dengan biaya transportasi.

“Daopa muala, dato’o mupalainga mua’ andiang sawa, matinga malai topaiyau sisa’u,” katanya. “Jangan jemput saya. Insya Allah saya datang sendiri. Dan saya akan pulang sendiri.”

Namun jika yang mengundang adalah orang mampu, ia akan mengikuti protokol adat dengan lengkap. Ia tidak ingin merusak tatanan, tetapi juga tidak ingin memberatkan yang lemah.

Kepemimpinan merakyat inilah yang membuat Ibu Agung sangat dicintai. Bahkan setelah ia hijrah ke Makassar, rakyat Mandar tetap menganggapnya sebagai pemimpin mereka. Setiap kali ia berkunjung ke Tinambung, ribuan orang akan menyambutnya di pinggir jalan.

“Kami tidak punya apa-apa untuk Ibu,” kata seorang warga. “Yang bisa kami berikan hanya doa. Dan doa kami selalu menyertai Ibu.”


D. Kreatif dan Pelestari Budaya – Pattu’du, Lipa’ Sa’be, dan Tangan-Tangan yang Terampil

Siapa sangka bahwa di balik sosok panglima perang yang tegas, ada seorang seniman sejati? Ibu Agung adalah pelestari budaya Mandar yang gigih.

Ia sangat ahli dalam Pattu’du – tarian tradisional Mandar yang lemah gemulai. Ia tidak hanya menari, tetapi juga menciptakan gerakan-gerakan baru, menulis syair, dan melatih generasi muda.

“Pattu’du bukan sekadar tarian,” katanya. “Ia adalah doa, ia adalah sejarah, ia adalah identitas kita sebagai orang Mandar. Jika Pattu’du mati, maka matilah sebagian dari jiwa kita.”

Ia juga mahir menenun (manette). Kain tenun Mandar yang disebut Lipa’ Sa’be adalah kebanggaan tersendiri bagi Ibu Agung. Ia sering menghabiskan waktu berjam-jam di depan alat tenun, menyusun benang demi benang, menciptakan motif-motif yang rumit.

“Waktu kecil, Nenek lebih suka manette daripada berdandan,” kenang seorang cucu tertawa. “Bahkan ketika sudah tua, beliau masih bisa menenun dengan mata setengah tertutup.”

Namun, Ibu Agung juga prihatin dengan ancaman kepunahan budaya Mandar di masa modern. Ia sering mengeluhkan bahwa generasi muda lebih tertarik dengan budaya asing daripada budaya sendiri.

Ia menyebut beberapa keprihatinannya:

  • Pelantikan Arayang yang sudah tidak lagi berdasarkan aturan adat yang benar.

  • Kesenian Parrawana yang keasliannya terkikis dengan penambahan alat-alat modern.

  • Penggunaan Lipa’ Sa’be yang hanya terlihat di acara berkabung, sehingga terkesan sebagai "kain duka".

  • Budaya luar seperti ikat pinggang yang dipakai dalam pakaian adat – sesuatu yang tidak pernah ada dalam tradisi Mandar.

  • Lunturnya nilai-nilai luhur seperti sipakatau (saling menghargai), siammasei (saling mengasihi), dan sibaliparri (saling bekerja sama).

“Kita sedang membunuh budaya kita sendiri,” katanya dengan nada getir. “Jika tidak segera diselamatkan, anak cucu kita tidak akan tahu lagi apa itu Mandar.”

Untuk mengatasi hal ini, Ibu Agung aktif membina sanggar-sanggar tari, mengajarkan tenun, dan menjadi narasumber di berbagai acara kebudayaan. Ia juga mendokumentasikan berbagai lagu dan syair tradisional sebelum semuanya lenyap ditelan zaman.

“Suatu hari nanti, mungkin tidak ada lagi yang bisa menari Pattu’du,” katanya. “Tapi setidaknya, mereka bisa membaca tentang tarian itu dalam buku. Dan mereka bisa belajar dari apa yang saya tinggalkan.”


E. Wasiat untuk Generasi Muda – Pesan dari Seorang Ibu Bangsa

Di akhir hayatnya, Ibu Agung sering memberikan wejangan kepada generasi muda, terutama kepada cucu-cucunya dan para pejuang muda yang masih setia mendatanginya.

Berikut adalah beberapa wasiat dan pesan moral yang pernah ia sampaikan:

1. Tentang Jati Diri

“Jadilah orang yang tahu siapa dirimu. Jangan pernah malu menjadi orang Mandar. Budaya kita kaya, sejarah kita panjang, dan leluhur kita hebat. Jika kamu malu dengan asal-usulmu, kamu tidak akan pernah menjadi besar.”

2. Tentang Keberanian dan Ketakutan

“Keberanian bukan berarti tidak takut. Keberanian adalah tetap melangkah meskipun hatimu berdebar. Aku juga takut mati, seperti manusia lainnya. Tapi aku lebih takut jika bendera Merah Putih tidak lagi berkibar di tanah Mandar.”

3. Tentang Siri’ (Harga Diri)

“Orang Mandar memiliki siri’ yang sangat sedikit. Karena itu, kita harus menjaganya dengan baik. Jangan biarkan harga diri kita diinjak-injak oleh siapa pun, termasuk oleh bangsa sendiri.”

4. Tentang Pendidikan dan Agama

“Aku tidak sekolah tinggi, tapi aku belajar Al-Qur’an. Karena di dalam Al-Qur’an ada petunjuk untuk segala hal. Jangan tinggalkan agama, apa pun yang terjadi. Karena agama adalah tali yang menghubungkan kita dengan Tuhan.”

5. Tentang Pengorbanan

“Hidup ini adalah perjuangan. Dan perjuangan selalu membutuhkan pengorbanan. Tidak ada keberhasilan yang datang tanpa keringat, air mata, dan kadang-kadang darah. Jangan takut berkorban untuk hal yang benar.”

6. Tentang Kepemimpinan

“Jika suatu hari kau menjadi pemimpin, ingatlah bahwa kau besar karena rakyat. Jangan sombong. Jangan lupa dari mana kau berasal. Dan jangan pernah menggunakan kekuasaan untuk menindas yang lemah.”

7. Tentang Memaafkan

“Aku pernah disiksa, dipenjara, dihina. Tapi aku tidak menyimpan dendam. Memaafkan adalah ibadah. Tapi itu tidak berarti aku melupakan. Aku mengingat agar aku tidak mengulangi kesalahan yang sama.”

8. Tentang Kemerdekaan

“Kemerdekaan bukan hadiah. Ia adalah hasil perjuangan, keringat, dan darah. Jangan sia-siakan. Isi kemerdekaan dengan hal-hal yang bermanfaat. Jangan hanya menikmatinya tanpa tahu bagaimana ia diperoleh.”

Salah satu cucunya pernah bertanya: “Nenek, apa yang ingin Nenek lihat sebelum meninggal?”

Ibu Agung tersenyum. “Aku ingin melihat Mandar menjadi provinsi. Aku ingin melihat generasi muda Mandar bangga dengan budayanya. Aku ingin melihat bendera Merah Putih berkibar di mana-mana tanpa ada yang berani menurunkannya.”

Sayangnya, ia hanya sempat melihat mimpi pertama (Sulawesi Barat terbentuk 19 tahun setelah kematiannya). Dua mimpi lainnya masih terus diperjuangkan hingga kini.

Tapi wasiatnya tetap hidup. Dan setiap kali seorang anak Mandar menyanyikan lagu daerah, menari Pattu’du, atau mengenakan Lipa’ Sa’be dengan bangga, sebenarnya mereka sedang mewujudkan mimpi Ibu Agung.


PENUTUP

Refleksi: Bangsa yang Besar Menghargai Pahlawannya

Ada pepatah yang sering diucapkan oleh para pendiri bangsa: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.”

Pepatah itu sederhana, tetapi maknanya dalam. Menghargai bukan hanya dengan mengadakan upacara setiap tahun. Bukan hanya dengan menamai jalan dengan nama pahlawan. Menghargai adalah mengingat, mempelajari, dan meneladani.

Ibu Agung H.A. Depu adalah salah satu pahlawan yang nyaris terlupakan. Namanya tidak setenar Cut Nyak Dien, tidak sepopuler Martha Christina Tiahahu, tidak sesering disebut di buku-buku teks sejarah. Namun, jasanya tidak kalah besar.

Ia telah mempertaruhkan segalanya: istana, kemewahan, pernikahan, kebebasan, bahkan nyawanya – hanya untuk mempertahankan bendera Merah Putih di tanah Mandar. Ia memimpin pasukan, masuk penjara, disiksa, divonis mati, tetapi tidak pernah mengeluh.

“Mengapa kita baru membicarakan Ibu Agung sekarang?” tanya seorang sejarawan muda. “Mengapa ia tidak menjadi Pahlawan Nasional sejak lama?”

Jawabannya mungkin karena sejarah seringkali ditulis oleh mereka yang berkuasa, bukan oleh mereka yang benar-benar berjuang. Atau mungkin karena Mandar terlalu jauh dari pusat kekuasaan di Jawa. Atau mungkin karena Ibu Agung sendiri tidak pernah mencari popularitas.

Ia pernah berkata: “Aku tidak butuh patung. Aku tidak butuh jalan yang dinamai namaku. Yang aku butuhkan hanyalah agar anak cucuku hidup merdeka.”

Tapi justru karena kerendahan hatinya itulah ia layak dihormati. Karena pahlawan sejati tidak berjuang untuk ketenaran. Mereka berjuang untuk kebenaran.


Pesan tentang Kemerdekaan dan Pengorbanan

Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini bukanlah sesuatu yang murah. Ia dibeli dengan harga yang sangat mahal: darah, air mata, dan doa dari jutaan manusia yang tidak pernah kita kenal namanya.

Ibu Agung adalah salah satu dari mereka. Ia tidak sendirian. Ribuan pejuang Mandar gugur di Galung Lombok, di Timbu, di Simbang, di berbagai medan pertempuran. Nama mereka mungkin tidak tercatat. Kuburan mereka mungkin tidak terawat. Namun jasa mereka tetap abadi.

Setiap kali kita menaikkan bendera Merah Putih pada tanggal 17 Agustus, ingatlah bahwa ada seorang perempuan tua di Makassar yang pernah memeluk tiang bendera dan berteriak: “Nanti kalau tubuhku sudah terkapar, barulah kau boleh menurunkan bendera ini!”

Setiap kali kita menyanyikan lagu Indonesia Raya, ingatlah bahwa di Tapango, pada tanggal 10 Maret 1946, lagu itu berkumandang untuk pertama kalinya di Mandar – dipelopori oleh Ibu Agung.

Setiap kali kita merasa lelah dengan kehidupan, ingatlah bahwa Ibu Agung pernah tidur di lantai penjara yang keras, makan nasi jagung, dan disiksa oleh Belanda – tetapi tidak pernah mengeluh.

“Jika Ibu Agung bisa bertahan, mengapa kita tidak?”


Harapan agar Sejarah Tidak Terlupakan

Buku ini ditulis dengan satu harapan: bahwa sejarah Ibu Agung H.A. Depu tidak akan terlupakan.

Bukan karena ia ingin diingat. Bukan karena keluarganya ingin bermegah. Tetapi karena nilai-nilai perjuangannya relevan untuk setiap zaman.

  • Karakter religiusnya mengajarkan bahwa iman adalah fondasi dari segala tindakan mulia.

  • Keberaniannya mengajarkan bahwa takut bukan alasan untuk diam.

  • Kepemimpinannya yang merakyat mengajarkan bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan hak istimewa.

  • Kreativitasnya dalam melestarikan budaya mengajarkan bahwa kemajuan tidak harus menghapus tradisi.

  • Pengorbanan pribadinya mengajarkan bahwa cinta tanah air terkadang membutuhkan harga yang mahal.

Generasi muda Mandar, generasi muda Sulawesi Barat, generasi muda Indonesia – bacalah sejarah ini. Renungkanlah. Dan tanyakan pada diri masing-masing: “Apa yang bisa aku lakukan untuk bangsaku?”

Tidak perlu menjadi panglima perang. Tidak perlu masuk penjara. Cukup dengan menjadi pribadi yang berguna, yang tidak mudah menyerah, yang menjunjung tinggi kejujuran, dan yang mencintai tanah airnya dengan tulus.

Itulah warisan terbesar Ibu Agung. Bukan bintang jasa, bukan gelar kebangsawanan, bukan nama jalan. Tapi teladan – bahwa seorang manusia biasa, dengan iman dan keberanian, dapat melakukan hal-hal luar biasa.


Penutup dari Penulis:

Kisah Ibu Agung H.A. Depu adalah kisah tentang cinta – cinta kepada Tuhan, cinta kepada bangsa, dan cinta kepada kebenaran. Ia bukan pahlawan yang sempurna. Ia punya kekurangan, punya kontroversi, punya sisi manusiawi yang rapuh. Tapi justru karena ketidaksempurnaannya itulah ia nyata. Ia bukan legenda yang lahir dari dongeng. Ia adalah manusia sungguhan yang hidup, berjuang, dan mati untuk keyakinannya.

Semoga buku kecil ini dapat menjadi pengingat. Dan semoga, ketika generasi mendatang bertanya, “Siapa Ibu Agung H.A. Depu?” – kita semua dapat menjawab dengan bangga:

“Ia adalah pahlawan kita. Ia adalah ibu kita. Ia adalah patriot sejati dari tanah Mandar.”


bacaan berikutnya TODILALING Kisah Imanyambungi, Pengasingan yang Menjadi Takhta


DAFTAR PUSTAKA

Buku

Anwar, Sewag. (2018). Ibu Agung H.A. Depu: Patriot Pembela Tanah Air. Malang: Wineka Media.

Hamzah, Amin. (1991). Biografi H.A. Depu: Mara’dia Balanipa Mandar. Pemerintah Daerah Tingkat I Provinsi Sulawesi Selatan.

Hasdy, Ahmad, dkk. (2012). Pahlawan dan Pemimpin yang Merakyat: Ibu Agung H.A. Depu. Makassar: Yayasan Mahaputra Mandar.

Agung, Ide Agung Anak Gede. (1985). Dari Negara Indonesia Timur ke Republik Indonesia Serikat. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Amir, Muhammad. (2010). Kelaskaran di Mandar Sulawesi Barat: Kajian Sejarah Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan. Makassar: Dian Istana.

Bahtiar. (2014). *Trips dalam Perjuangan Mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan di Sulawesi Selatan 1945-1950*. Makassar: De La Macca.

Gottschalk, Louis. (1997). Paham Sejarah. Jakarta: Universitas Indonesia.

Malcolm, Caldwell. (2011). Sejarah Alternatif Indonesia. Yogyakarta: Djaman Baroe.

Suhartono, W. Pranoto. (2010). Teori dan Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Skripsi dan Jurnal

Darwis, Tahir. (2017). Perjuangan Andi Depu dan Asal Mula Andi Depu dalam Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. Skripsi. Makassar: UIN Alauddin, Fakultas Adab dan Humaniora.

Padilah, Nur; Wahyuni, Anny. (2021). Karakter Religius dan Keberanian dari Kepemimpinan Tokoh Andi Depu dalam Memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia. Jurnal JEJAK: Jurnal Sejarah & Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Jambi, Vol. 1 No. 1, Juli 2021, hlm. 85-94.

Dokumen dan Arsip

Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 261 Tahun 1962 tentang Penganugerahan Bintang Mahaputra Pratama kepada H.A. Depu.

Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 53/TK/Tahun 2010 tentang Penganugerahan Bintang Mahaputra Utama kepada H.A. Depu (Almarhumah).

Surat Keterangan Kepala Staf Angkatan Darat No. 01/3/VI/3XDT/TNI.AD/74 tanggal 23 Juli 1974.

Surat Keputusan Menteri Pertahanan Keamanan/Panglima Angkatan Bersenjata No. Skep 02537.D576/VIII/1974 tanggal 20 September 1974 tentang Pensiun Purnawirawan TNI AD.

Wawancara dan Tradisi Lisan

Wawancara dengan Hj. Sitti Ruwaedah (pewaris sejarah, ajudan Ibu Agung) – tahun 2010.

Wawancara dengan Dedi (pelaku sejarah yang terlibat langsung dalam peristiwa gagalnya penurunan bendera Merah Putih di Mandar).

Wawancara dengan beberapa veteran KRIS MUDA Mandar yang masih hidup pada tahun 1960-an-1970-an.

Catatan dan kesaksian dari A. Rahman Tamma (tahun 1958), Lappas Bali, Dunyali, Abd. Waris, H. Abd. Razak, Tapparang Puangnga Pasonai.

Naskah Lontar dan Catatan Keluarga

Naskah lontar silsilah Kerajaan Balanipa.

Catatan silsilah keluarga Ibu Agung H.A. Depu (dokumen pribadi keluarga).

Asdy, Ahmad Haji. (2000). Mandar dalam Kenangan tentang Arayang Balanipa (catatan pribadi).

Asdy, Ahmad Haji. (2004). Jelajah Budaya Mandar (catatan pribadi).

Asdy, Ahmad Haji. Tragedi Berdarah Korban 40.000 Jiwa di Mandar (naskah tidak diterbitkan).

Asdy, Ahmad Haji. Balanipa Mandar: Kemarin, Hari Ini, dan Esok (naskah tidak diterbitkan).


Selesai. Seluruh naskah buku dari Bab I hingga Penutup telah lengkap. Semoga kisah Ibu Agung H.A. Depu, patriot perkasa dari Mandar, dapat menginspirasi generasi sekarang dan mendatang.

bacaan lainnya TODILALING Kisah Imanyambungi, Pengasingan yang Menjadi Takhta


awal bacaan IBU AGUNG ANDI DEPU, PATRIOT PERKASA DARI MANDAR

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAMUJU MISTIK: 10 KISAH GAIB YANG MENGGENTARKAN MAMUJU

PEMERINTAH DAERAH DI ERA EFISIENSI

BAB 11: KERANGKA HUKUM DAN KEBIJAKAN PENDUKUNG