TODILALING Kisah Imanyambungi, Pengasingan yang Menjadi Takhta

 


Kata Pengantar

Buku ini bukan sekadar biografi seorang raja. Ini adalah kisah tentang seorang bocah yang diusir dari kampungnya, lalu kembali sebagai pemersatu tanah kelahirannya. Ini tentang laut yang mengajar keberanian, tentang pengasingan yang mengubah nasib, dan tentang sebuah takhta yang tidak diwariskan, melainkan diraih dengan perahu, pedang, dan hati yang tidak pernah padam.

Mengapa kisah Imanyambungi – yang kelak bergelar Todilaling – penting untuk kita baca hari ini? Karena di tengah zaman yang gemar menghakimi cepat, kisah ini mengajarkan bahwa pengasingan bisa menjadi ruang belajar, bahwa kekalahan bisa menjadi peta menuju kemenangan, dan bahwa seorang pemimpin sejati tidak lahir dari istana, tetapi dari gelombang dan badai yang pernah hampir menenggelamkannya.

Buku ini disusun dari berbagai sumber lontarak, memoar kolonial, penelitian akademik, serta tradisi lisan yang masih hidup di tanah Mandar. Saya menulisnya tidak sebagai laporan dingin sejarah, tetapi sebagai undangan untuk menyelami semangat bahari dan keberanian seorang anak negeri yang memilih pulang, ketika pulang adalah hal paling berbahaya sekaligus paling mulia.

Selamat membaca. Dan biarkan laut Mandar berbicara.

Penyusun,

Mamuju, Mei 2026


farid asyhadi


Prolog

Napo, sekitar tahun 1550-an (perkiraan penulis)

Matahari sore menyemburkan warna jingga ke permukaan Selat Makassar. Seorang anak laki-laki berdiri di tepi pantai Napo, rambutnya dikibas angin barat yang mulai bertiup kencang.

Di hadapannya, berpuluh-puhu perahu bertambat. Ada sandeq ramping yang seperti keris melayang di air. Ada palari dengan layar lebar yang menangkap angin seperti sayap elang. Jauh di ujung horizon, tampak sebuah perahu besar dari Gowa merapat, membawa kain dan rempah.

Anak itu bernama Imanyambungi.

Ia baru berusia belasan tahun. Tapi matanya sudah menyimpan api yang tidak biasa. Ia bukan anak bangsawan yang manja. Ia adalah cucu dari Tomakaka Napo, tapi darahnya berdesir lebih keras memanggil laut daripada memanggil tahta.

Sore itu, saudara sepupunya mengejek dia di depan umum seusai sabung ayam.

“Kau hanya anak buangan sebelum lahir!”

Imanyambungi tidak menjawab. Diam-diam tangannya mengepal. Tapi bukan main-main. Beberapa saat kemudian, sebuah peristiwa terjadi. Sepupunya terkapar. Entah karena dorongan atau karena tombak kecil yang melesat dari tangannya – lontarak menuliskan peristiwa itu berbeda-beda.

Yang pasti, malam itu juga para tetua adat berkumpul. Suara gendang perang tidak dibunyikan. Tapi suara vonis lebih mengerikan dari gendang.

“Imanyambungi harus diasingkan.”

Dia tidak menangis. Kalaupun ada air mata, itu tertelan bersama debu pantai yang dia pijak untuk terakhir kalinya.

Sebuah perahu asing dari Gowa sedang bersiap berlayar. Sang nakhoda ragu-ragu menerima bocah buangan ini. Tapi ketika Imanyambungi memandang lurus ke arahnya, lelaki tua itu melihat sesuatu yang membuatnya bergidik.

“Naiklah, anak muda. Laut tidak akan menghakimimu.”

Perahu itu bergerak perlahan meninggalkan dermaga. Imanyambungi tidak menoleh ke belakang. Ia hanya memejamkan mata.

Di dalam hatinya, satu sumpah lahir:

“Aku akan kembali. Bukan sebagai anak buangan. Tapi sebagai pemilik tanah ini.”


Bagian 1

Latar Zaman dan Tanah Mandar


Gambaran Singkat tentang Tanah Mandar sebelum Imanyambungi

Sebelum nama Mandar dikenal sebagai provinsi, sebelum ada kabupaten Polewali atau Majene, tanah ini adalah kumpulan negeri-negeri kecil yang kadang bersatu, lebih sering bertikai.

Mandar bukanlah kerajaan tunggal seperti Gowa atau Bone. Mandar adalah hamparan pesisir barat Sulawesi yang membentang dari ujung Mamuju hingga ke Campalagian. Di sini, sungai-sungai berliku seperti urat nadi, menghubungkan pedalaman yang bergunung dengan pantai yang berombak besar.

Setiap muara sungai biasanya menjadi pusat sebuah banua – sebutan untuk negeri kecil yang dipimpin oleh seorang Tomakaka. Tomakaka artinya “yang dituakan”. Tapi persoalannya, tidak semua Tomakaka dituakan karena bijak. Banyak di antara mereka yang menjadi sombong setelah memiliki pengaruh. Maka lahirlah persaingan, perang kecil-kecilan, perampasan hasil laut, dan dendam yang diwariskan turun-temurun.

Bayangkan: di satu sisi, Mandar adalah negeri yang subur. Padi tumbuh di lembah-lembah. Ikan melimpah di selat. Hutan menyediakan rotan dan damar untuk diperdagangkan. Namun di sisi lain, tidak ada pemersatu. Konflik antar banua seperti api dalam sekam. Kapan saja bisa meledak.

Dalam kekacauan itulah Imanyambungi dilahirkan. Bukan di istana yang megah, melainkan di sebuah kampung nelayan bernama Napo, yang kelak akan menjadi pusat Kerajaan Balanipa.


wanita mandar dari kalangan ningrat (wikipedia)


Fragmen Awal: Bocah yang Bermimpi Menjadi Nakhoda di Tengah Kericuhan Antar Banua

Imanyambungi kecil tumbuh dengan dua guru utama: ombak dan kata-kata makian.

Saat banua tetangga menyerang, dia belajar bersembunyi di balik perahu yang terbalik. Saat Tomakaka yang satu menghina Tomakaka yang lain, dia belajar bahwa lidah bisa lebih tajam daripada keris.

Tapi dia tidak membenci kekacauan. Sebaliknya, dia melihat peta di balik setiap pertengkaran.

“Mengapa mereka tidak bersatu?” tanyanya suatu hari kepada neneknya.

Sang nenek, perempuan tua yang bijak, menjawab sambil menunjuk ke arah laut: “Karena setiap banua merasa ombaknya sendiri yang paling besar.”

Sejak itu, Imanyambungi sering duduk berjam-jam di dermaga. Ia mengamati cara nakhoda mengarahkan perahunya. Bagaimana mereka membaca angin. Bagaimana mereka memberi perintah tanpa berteriak.

“Suatu hari,” bisiknya dalam hati, “aku akan menjadi nakhoda. Tapi bukan untuk perahu. Untuk seluruh negeri.”


Bab 1

Wajah Mandar Sebelum Todilaling


Geografi Pesisir Barat Sulawesi: Antara Gunung, Sungai, dan Selat Makassar

Jika Anda membuka peta Sulawesi, perhatikanlah jalur pantai barat dari ujung utara hingga ke selatan. Di sanalah Mandar berada.

Dari Mamuju hingga ke Polewali, pantai ini tidak selalu ramah. Ombak Selat Makassar terkenal ganas, terutama saat angin barat melanda. Tapi justru di situlah letak kekayaannya. Laut ini menghubungkan Mandar dengan Kalimantan, Jawa, bahkan hingga ke Malaka dan Filipina.

Peta dari tahun 1910: Sulawesi (Indies Gallery)

Di pedalaman, gunung-gunung seperti Buttu Allo dan Buttu Bulu berdiri gagah. Dari lerengnya mengalir sungai-sungai besar, seperti Sungai Mandar dan Sungai Karama. Sungai-sungai ini bukan hanya sumber air, tetapi juga jalan perdagangan. Hasil hutan seperti rotan, madu, dan damar diangkut dengan rakit menyusuri sungai menuju ke bandar-bandar di muara.

Di muara-muara itulah peradaban Mandar tumbuh. Sebab di situlah para pedagang dari luar berlabuh. Di situlah berita dari Gowa, Bone, bahkan dari Malaka dan Goa (India) terdengar.

Sayangnya, geografi yang kaya ini tidak serta-merta melahirkan persatuan. Sebaliknya, setiap muara menjadi milik satu banua. Setiap banua berusaha menguasai jalur perdagangannya sendiri. Persaingan pun tak terelakkan.


Kehidupan Sosial-Politik: Tomakaka, Negeri-Negeri Kecil, dan Konflik Berkepanjangan

Siapa itu Tomakaka?

Dalam bahasa Mandar, kaka artinya kakak atau orang yang lebih tua. Awalan *ma-* memberi arti “yang dituakan”. Jadi Tomakaka adalah seseorang yang memiliki kelebihan – baik dalam keberanian, kebijaksanaan, atau kekayaan – sehingga ia diangkat sebagai pemimpin.

Tapi kekuasaan tanpa pengawasan sering berubah menjadi tirani kecil.

Di Mandar, ada puluhan Tomakaka yang tersebar. Masing-masing menguasai beberapa banua. Mereka memiliki pasukan sendiri, aturan sendiri, dan kadang-kadang, hukum sendiri. Yang lebih parah, status Tomakaka bisa diwariskan. Maka lahirlah dinasti-dinasti kecil yang tidak mau tunduk satu sama lain.

Konflik biasa terjadi karena tiga hal:

  1. Perbatasan – Sungai atau hutan yang tidak jelas kepemilikannya.

  2. Perdagangan – Siapa yang berhak memungut pajak dari perahu asing.

  3. Harga diri – Sebuah kata kasar atau penghinaan bisa memicu perang.

Dalam suasana seperti ini, hampir tidak ada hari tanpa bentrokan. Tapi ironisnya, masyarakat Mandar juga punya prinsip luhur yang disebut Sibaliparriq – tolong-menolong. Prinsip ini membuat mereka tetap bisa bekerja sama saat panen atau membangun rumah.

Sayangnya, dalam politik, sibaliparriq sering dikalahkan oleh ambisi pribadi.

Imanyambungi tumbuh menyaksikan semua itu. Dan di dalam dadanya, ia menyimpan pertanyaan yang sama: “Sampai kapan tanah ini berdarah-darah karena ulah orang-orang yang mengaku pemimpin?”

Sibaliparriq, Falsafah Hidup Suku Mandar tentang Gotong Royong dan Solidaritas (www.goodnewsfromindonesia.id)


Perdagangan Maritim dan Pengaruh Luar (Gowa, Kesultanan Lain)

Di tengah kekacauan politik, satu hal yang tetap berdenyut: perdagangan laut.

Kapal-kapal dari Gowa, Bone, Jawa, bahkan dari Malaka dan Campa (Vietnam selatan) sering singgah di pelabuhan-pelabuhan Mandar. Mereka mencari lada, rotan, sarung tenun, dan hasil hutan lainnya. Sebaliknya, mereka membawa porselen, kain sutra, senjata, dan tentu saja – pengaruh.

Pengaruh terbesar datang dari Kerajaan Gowa.

Pada abad ke-16, Gowa sedang naik daun di bawah kepemimpinan Raja Tunipalangga dan Karaeng Tunijallo’ ri Tallo. Armada Gowa menguasai Selat Makassar. Mereka tidak hanya berdagang, tetapi juga menancapkan pengaruh politik. Beberapa Tomakaka di Mandar menjadi “bawahan” Gowa secara sukarela atau terpaksa.

Dari Gowa-lah Imanyambungi kemudian belajar banyak. Bukan hanya tentang perang, tetapi juga tentang administrasi kerajaan, sistem pajak, dan cara menundukkan musuh tanpa harus membunuh mereka semua.

Namun, pengaruh Gowa juga punya sisi gelap. Mereka kadang memicu persaingan antar Tomakaka di Mandar untuk mempermudah kontrol. Taktik divide et impera sudah dikenal jauh sebelum Beldatang.

Imanyambungi menyadari hal ini. Ketika kelak ia kembali, ia tidak hanya membawa ilmu, tetapi juga kewaspadaan. Ia tahu bahwa persatuan Mandar harus lahir dari orang Mandar sendiri, bukan dari kekuatan luar.


ILUSTRASI. Benteng Somba Opu (fajar.co.id)



Akhir Bagian 1: Jeda Sejenak Sebelum Badai

Cerita tentang Imanyambungi baru saja bermula. Pengasingannya ke Gowa belum kita ikuti. Tapi sebelum itu, kita perlu memahami satu hal:

Tanah Mandar pada masa itu adalah kanvas kosong yang penuh dengan coretan kacau. Imanyambungi akan menjadi pelukis yang datang kemudian, bukan dengan kuas, tetapi dengan perahu dan pedang.

Di bagian berikutnya, kita akan menyelami kisah pengasingannya, gurunya di Gowa, malam-malam sunyi di atas geladak kapal, dan momen ketika ia memutuskan untuk pulang – bukan untuk dendam, tetapi untuk menyatukan.

Bab 2 Silsilah dan Mitos Tomanurung

Komentar