BAB X: SETELAH KEMERDEKAAN – HIJRAH DAN PENGHARGAAN

 


A. Kembali Menjadi Swapraja Balanipa – Mahkota di Tengah Badai

Indonesia merdeka. Bendera Merah Putih tidak lagi diburu. Namun, bagi Ibu Agung Andi Depu, kemerdekaan bukanlah akhir dari perjuangan. Ia adalah awal dari babak baru yang tidak kalah rumit.

Setelah Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia pada akhir tahun 1949, Ibu Agung keluar dari tahanan terakhirnya di Karebosi, Makassar. Badannya kurus, penuh luka, tetapi semangatnya tidak pernah padam. Ia segera kembali ke Mandar.

Di Tinambung, rakyat menyambutnya dengan tangis dan tawa. Mereka sudah lama tidak melihat pemimpin mereka. Beberapa di antaranya mengira Ibu Agung telah tewas di penjara.

“Ibu hidup! Ibu kembali!” teriak seorang wanita tua sambil memeluk Ibu Agung.

Ibu Agung hanya tersenyum. Matanya berkaca-kaca.

Pemerintah Republik Indonesia, yang saat itu sedang menyusun struktur pemerintahan di daerah, memutuskan untuk mengubah sistem kerajaan menjadi Swapraja. Swapraja adalah pemerintahan otonom di bawah Republik Indonesia, di mana raja atau kepala daerah tradisional tetap memegang kekuasaan administratif, tetapi berada di bawah koordinasi pemerintah pusat.

Ibu Agung dikukuhkan sebagai Ketua Swapraja Balanipa. Secara de facto, ia tetap menjadi Arayang ke-52 bagi masyarakat adat. Namun secara hukum, ia adalah kepala pemerintahan setingkat kawedanan (setara dengan camat sekarang, tetapi dengan otonomi lebih luas).

“Aku tidak pernah menginginkan kekuasaan,” kata Ibu Agung dalam pidato pelantikannya. “Tapi jika rakyat menghendaki, aku akan menjalankan amanah ini sebaik-baiknya.”

Ia mulai membenahi administrasi, mengangkat kepala-kepala distrik yang kompeten, dan berusaha memulihkan ekonomi yang hancur akibat perang. Namun, masa pemerintahannya tidak berlangsung lama. Karena pada tahun 1950-an, Mandar diguncang oleh kehadiran kekuatan baru yang lebih berbahaya dari Belanda.


B. Ketidakcocokan dengan Batalyon 710 – Ketika Sesama Bangsa Menjadi Lawan

Pada tahun 1950, sebuah batalyon tentara Republik Indonesia dikirim ke Mandar. Namanya Batalyon 710 Mappeso’nae. Komandannya adalah Kapten Andi Selle – seorang perwira yang karismatik tetapi keras kepala.

Tugas awal Batalyon 710 adalah menjaga keamanan dan menumpas sisa-sisa gerombolan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) pimpinan Kahar Muzakkar yang masih beroperasi di Sulawesi Selatan, termasuk di Mandar. Namun, dalam perjalanannya, Batalyon 710 bertindak sewenang-wenang.

Mereka tidak hanya menyerang DI/TII, tetapi juga menekan rakyat biasa. Pajak dipungut secara paksa. Rumah-rumah digeledah tanpa alasan. Para pemuda dicurigai sebagai simpatisan DI/TII lalu ditahan tanpa proses hukum.

Ibu Agung yang melihat ini merasa terganggu. Ia mengirim protes ke komandan Batalyon 710.

“Kami bukan musuh,” katanya dalam pertemuan dengan Andi Selle. “Kami adalah pejuang kemerdekaan. Kami bertempur melawan Belanda ketika kau mungkin masih di bangku sekolah. Jangan perlakukan rakyatku seperti musuh.”

Andi Selle mendengarkan dengan sabar, tetapi tidak mengubah kebijakannya. Ia menganggap Ibu Agung sebagai "pemimpin tradisional yang usang" – simbol feodalisme yang harus disingkirkan.

Ketegangan semakin memuncak. Ibu Agung yang tadinya mendukung pemerintah pusat, mulai dipojokkan. Para pejuang KRIS MUDA yang setia kepadanya juga menjadi sasaran intimidasi.

“Ibu, kita bisa melawan mereka,” kata salah seorang komandan lama.

Ibu Agung menggeleng. “Mereka adalah tentara Republik. Melawan mereka sama dengan melawan negara. Aku tidak akan melakukan itu. Tapi aku juga tidak akan tinggal diam melihat rakyatku tertindas.”

Pada tahun 1953, situasi menjadi tidak aman bagi Ibu Agung. Ia menerima ancaman pembunuhan – tidak dari Belanda, tetapi dari sesama bangsa Indonesia. Beberapa orang dekatnya menyarankan agar ia meninggalkan Mandar untuk sementara waktu.

“Pergilah, Ibu,” kata Sitti Ruwaedah. “Di sini terlalu berbahaya. Ibu bisa dibunuh kapan saja.”

Ibu Agung menatap istana tuanya – markas perjuangan yang telah menjadi saksi bisu ribuan kisah heroik. Ia tidak ingin pergi. Tapi ia juga tidak ingin mati sia-sia.

“Aku akan pergi,” katanya akhirnya. “Bukan karena takut. Tapi karena perjuanganku belum selesai. Aku tidak bisa mati sekarang.”


C. Hijrah ke Makassar – Istana Sawerigading

Pada tahun 1953, Ibu Agung meninggalkan Mandar. Ia tidak membawa banyak harta. Hanya beberapa pakaian, perhiasan warisan leluhur, dan bendera Merah Putih yang dulu pernah ia peluk erat-erat.

Tujuan pertamanya: Makassar.

Alasan resmi yang ia berikan kepada publik adalah untuk berobat. Kesehatannya memang menurun akibat siksaan selama masa perjuangan. Namun, semua orang tahu bahwa alasan sebenarnya adalah karena ia tidak lagi aman di Mandar.

Di Makassar, Ibu Agung tidak memiliki rumah sendiri. Ia dan keluarganya – termasuk menantu dan cucu-cucunya – harus tinggal menumpang.

“Di Mandar aku seorang Arayang. Di sini aku hanya seorang pengungsi,” katanya suatu hari kepada putranya, Yendeng.

Yendeng yang setia selalu mendampingi ibundanya, berusaha menghibur. “Ibu bukan pengungsi. Ibu adalah pahlawan. Makassar akan menerima Ibu dengan tangan terbuka.”

Benar saja. Di Makassar, Ibu Agung disambut oleh para veteran pejuang dan tokoh masyarakat. Namun, sambutan hangat tidak serta-merta menyediakan tempat tinggal.

Keluarga Ibu Agung pindah rumah sebanyak empat kali sebelum akhirnya menetap.

Rumah pertama: di jalan Arief Rate, rumah Husein Puang Limboro. Mereka hanya mendapat satu kamar dan garasi mobil yang dijadikan kamar tambahan.

Rumah kedua: di Maricaya, Jalan Sungai Walanae lorong 17. Rumah ini dibeli Ibu Agung saat ia berangkat haji, dikuasakan kepada H. Abdul Malik. Namun karena terlalu banyak keluarga yang ikut numpang, rumah itu terasa sempit.

Rumah ketiga: di Jalan Jambu – sebuah rumah bergaya Jepang berbentuk bundar seperti topi baja. Di sini pun, rakyat Mandar yang juga hijrah ke Makassar terus berdatangan.

Rumah keempat: di Jalan Mawas – rumah adiknya, H. Abdul Malik. Hanya sementara.

Akhirnya, pemerintah Republik Indonesia melalui Walikota Makassar saat itu, Aruppala, memberikan sebuah rumah di Jalan Sawerigading Nomor 2. Rumah itu sederhana, bukan istana. Namun Ibu Agung sangat bersyukur.

Ia kemudian menamai rumah itu "Istana Sawerigading" – diambil dari nama tokoh legendaris dalam epik Bugis-Mandar, Sawerigading, seorang pangeran yang berani dan pengembara.

Di "istana" sederhana ini, Ibu Agung tinggal bersama puluhan orang – bukan hanya keluarganya, tetapi juga para pejuang yang terlantar, anak-anak yatim, dan siapa saja yang membutuhkan perlindungan.

“Istana Sawerigading bukan istana dalam arti mewah,” kenang salah seorang cucu. “Tapi istana dalam arti hati. Siapa pun boleh datang, makan, dan tidur di sini. Nenek tidak pernah menolak tamu.”


D. Pensiun sebagai Kolonel TNI – Mengakhiri Masa Dinas dengan Kepala Tegak

Meskipun sudah hijrah ke Makassar, status Ibu Agung sebagai pejuang dan perwira TNI tidak serta-merta berakhir. Pemerintah Republik Indonesia, melalui surat keputusan, menetapkan Ibu Agung sebagai Purnawirawan TNI dengan pangkat terakhir Letnan Kolonel.

Namun, karena masa baktinya yang panjang dan pengorbanannya yang luar biasa, ia kemudian dinaikkan pangkatnya menjadi Kolonel – sebuah penghargaan yang jarang diberikan kepada pejuang wanita.

Surat-surat resmi yang dikeluarkan antara lain:

  • Surat Keterangan Kepala Staf Angkatan Darat No. 01/3/VI/3XDT/TNI.AD/74 tanggal 23 Juli 1974, yang menyatakan bahwa Ibu Agung pernah menjadi Tentara Nasional Indonesia.

  • Surat Keputusan Menteri Pertahanan Keamanan/Panglima Angkatan Bersenjata No. Skep 02537.D576/VIII/1974 tanggal 20 September 1974 tentang pemberian pensiun kepada purnawirawan TNI AD, dengan pangkat Kolonel.

Ketika menerima surat keputusan itu, Ibu Agung tidak menangis. Ia hanya memegang surat itu lama-lama, lalu berkata:

“Ini bukan pensiunku. Ini adalah pensiun untuk ribuan pejuang Mandar yang gugur dan tidak sempat menikmati kemerdekaan. Aku hanyalah wali yang menerima amanah.”

Ia juga dikukuhkan sebagai Veteran Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia Golongan A – golongan tertinggi bagi para veteran yang benar-benar terlibat langsung dalam pertempuran.

Namun, Ibu Agung tidak pernah memamerkan statusnya. Ia tetap hidup sederhana. Uang pensiunnya yang tidak seberapa, ia gunakan untuk membantu orang lain.

“Ibu Depu itu pelit untuk dirinya sendiri, tapi dermawan untuk orang lain,” kenang seorang tetangga di Sawerigading. “Bajunya itu-itu saja, tapi kalau ada anak yatim datang, ia pasti memberi uang.”


E. Bintang Mahaputra Pratama – Disematkan oleh Bung Karno (1962)

Pada tahun 1962, Ibu Agung menerima kabar yang membuat hatinya bergetar. Ia diminta hadir di upacara kenegaraan di Makassar. Presiden Republik Indonesia, Ir. Soekarno, akan datang ke Sulawesi Selatan.

“Aku akan bertemu Bung Karno?” tanya Ibu Agung dengan mata berbinar, seperti seorang gadis remaja yang akan bertemu idola.

Ya. Bung Karno – proklamator kemerdekaan, presiden pertama yang pidato-pidatonya membakar semangat perjuangan – akan menyematkan tanda jasa langsung di dadanya.

Upacara itu berlangsung di Stadion Mattoangin Makassar (sekarang Stadion Andi Mattalatta). Ribuan orang hadir. Ibu Agung berdiri di barisan kehormatan, mengenakan pakaian adat Mandar yang sederhana.

Bung Karno berjalan mendekat, menatap matanya, lalu menyematkan Bintang Mahaputra Pratama di dada kiri Ibu Agung.

“Ibu Depu,” kata Bung Karno dengan suaranya yang khas, “Engkau adalah pahlawan sejati. Perempuan Mandar yang berani mempertaruhkan segalanya untuk kemerdekaan. Aku bangga padamu.”

Ibu Agung tidak bisa berkata-kata. Air mata mengalir di pipinya yang mulai keriput.

“Terima kasih, Bung Karno,” jawabnya dengan suara bergetar. “Tapi aku hanyalah satu dari sekian banyak pejuang. Kemerdekaan ini adalah hasil kerja keras mereka semua.”

Bung Karno tersenyum. Ia lalu memeluk Ibu Agung – sebuah momen yang diabadikan oleh para wartawan dan menjadi berita utama di surat-surat kabar.

Bintang Mahaputra Pratama adalah tanda jasa kelas dua (setelah Bintang Mahaputra Utama). Namun bagi Ibu Agung, nilainya tidak terukur. Itu adalah pengakuan dari negara yang ia bela dengan darah dan air matanya.

Setelah upacara, Bung Karno berbicara empat mata dengan Ibu Agung. Ia bertanya tentang perjuangan di Mandar, tentang Westerling, tentang penjara, dan tentang pengorbanan pribadinya.

“Mengapa Ibu mau bercerai dengan suami demi perjuangan?” tanya Bung Karno.

Ibu Agung menjawab dengan kalimat yang kemudian menjadi terkenal:

“Karena kemerdekaan, Bung Karno, adalah pernikahanku dengan bangsa. Tidak ada suami yang boleh menghalangi.”

Bung Karno tertawa keras. “Wanita hebat! Indonesia butuh lebih banyak wanita seperti Ibu Depu!”


F. Bintang Mahaputra Utama – Anugerah Anumerta dari Presiden SBY (2010)

Ibu Agung meninggal dunia pada tahun 1985. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Panaikang, Makassar, dengan upacara kebesaran militer.

Namun, penghargaan tertinggi datang 25 tahun setelah kematiannya.

Pada tanggal 10 November 2010 – bertepatan dengan Hari Pahlawan – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 53/TK/Tahun 2010. Isinya: penganugerahan Bintang Mahaputra Utama kepada Ibu Agung H.A. Depu (Almarhumah).

Bintang Mahaputra Utama adalah tanda jasa tertinggi yang diberikan kepada seseorang yang telah berjasa luar biasa terhadap bangsa dan negara. Ibu Agung menjadi salah satu dari sedikit perempuan Indonesia yang menerima penghargaan ini.

Penghargaan diterima oleh ahli waris Ibu Agung dalam sebuah upacara kenegaraan di Istana Negara, Jakarta. Dalam sambutannya, Presiden SBY menyatakan:

“Ibu Agung H.A. Depu adalah contoh nyata bahwa perjuangan tidak mengenal gender. Ia adalah patriot sejati yang rela mengorbankan rumah tangganya, kebebasannya, bahkan nyawanya, demi mempertahankan bendera Merah Putih di tanah Mandar. Negara berutang budi padanya.”

Ketika kabar itu sampai di Makassar, para veteran yang masih hidup menangis. Mereka mengenang pemimpin mereka, yang meskipun telah tiada, tetap dihormati oleh bangsa.

“Ibu Depu pasti tersenyum di surga,” kata salah seorang veteran. “Beliau tidak pernah mencari penghargaan. Tapi beliau pantas mendapatkannya.”

Di Mandar, rakyat mengadakan kirab budaya dan doa bersama untuk merayakan anugerah ini. Nama Ibu Agung kembali disebut-sebut dengan penuh kebanggaan.

Sejak saat itu, Ibu Agung resmi menyandang gelar Pahlawan Nasional – meskipun secara formal gelar itu diberikan kemudian. (Hingga saat tulisan ini disusun, status Pahlawan Nasional masih dalam proses pengusulan, namun Bintang Mahaputra Utama adalah salah satu syarat utama untuk itu.)


G. Daftar Lengkap Tanda Jasa dan Penghargaan – Segudang Bintang di Dada Seorang Perempuan

Selama hidupnya dan secara anumerta, Ibu Agung H.A. Depu menerima puluhan tanda jasa dan penghargaan. Berikut adalah daftar lengkapnya berdasarkan naskah yang tersedia:

No.Nama Tanda Jasa / PenghargaanTahun
1Bintang Gerilya10 November 1958
2Bintang Satya Lencana Perang Kemerdekaan I17 Agustus 1958
3Bintang Satya Lencana Perang Kemerdekaan II17 Agustus 1958
4Bintang Satya Lencana Bakti17 Agustus 1958
5Surat Penghargaan Kepala Staf Angkatan Darat (KPTS.311/1958)5 Oktober 1958
6Bintang Satya Lencana Peringatan Perjuangan Kemerdekaan14 Agustus 1962
7Bintang Satya Lencana Gerakan Operasi Militer III29 Januari 1959
8Bintang Satya Lencana Gerakan Operasi Militer IV29 Januari 1959
9Bintang Satya Lencana Karya Dharma(tidak disebut tahun)
10Surat Penghargaan Kementerian Sosial4 Januari 1959
11Bintang Mahaputra Pratama (Keppres No. 261/1962)1 Januari 1962
12Piagam Penghargaan Panitia Hari Ibu/Sosial Makassar22 Desember 1964
13Tanda Anggota Pemakaian Tanda-tanda Jasa dari Panglima10 November 1965
14Piagam Penghargaan Kota Madya Ujung Pandang1 April 1974
15SK Menteri Pertahanan-Keamanan tentang Pensiun Purnawirawan (No. Skep 02537-D-57/VIII/1974)20 Agustus 1974
16Surat Penghargaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan12 Januari 1978
17Gelar Kehormatan Veteran Pejuang Kemerdekaan Golongan A (No. Skep/1218/1981)1981
18Sajak "Untuk Bundaku Ibu Depu" dari S.H. Ridwan (penghargaan non-material)(tidak disebut tahun)
19Bintang Mahaputra Utama (Keppres No. 53/TK/Tahun 2010)8 November 2010

Selain itu, Ibu Agung juga menerima berbagai jabatan kehormatan pasca-pensiun, antara lain:

  • Anggota Dewan Penasehat Legiun Veteran RI Provinsi Sulawesi Selatan & Tenggara

  • Anggota Dewan Kehormatan Corps Hasanuddin

  • Dewan Pleno/Dewan Penasehat Persatuan Istri Veteran Sulselra

  • Penasehat Khusus Walikota Madya Makassar (SK No. 186/A/IV/67, 30 November 1967)

  • Anggota Pembina Museum Provinsi Sulselra

  • Warga Terhormat Kota Madya Makassar (bersama Andi Pangeran Pettarani)

Dan yang paling membanggakan: pada tahun 1981, Presiden Soeharto memberikan bantuan khusus kepada Ibu Agung berupa dana pembangunan rumah di Tinambung. Rumah itu dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar dan diserahkan kepada Ibu Agung. Namun dengan kemurahan hatinya, Ibu Agung berwasiat agar rumah itu diwakafkan untuk kepentingan sosial – meskipun wasiat itu belum sepenuhnya terealisasi hingga wafatnya.


Epilog Bab X:

Dari seorang gadis kecil yang dipanggil Karepu (tidak cantik), hingga menjadi wanita yang dadanya dipenuhi bintang jasa – itulah perjalanan Ibu Agung Andi Depu. Ia tidak pernah mencari penghargaan. Ia hanya berjuang karena siri’ – karena harga diri. Namun penghargaan datang dengan sendirinya, karena bangsa yang besar selalu mengenali pahlawannya.

Di bab berikutnya (penutup), kita akan merenungkan apa yang dapat kita pelajari dari kehidupan perempuan hebat ini, dan bagaimana warisannya tetap hidup hingga kini.


Bersambung ke Bab XI: PENUTUP – WARISAN SEORANG SRIKANDI

BAB XI: AKHIR PERJALANAN – WAFAQ DAN WARISAN


awal bacaan IBU AGUNG ANDI DEPU, PATRIOT PERKASA DARI MANDAR

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAMUJU MISTIK: 10 KISAH GAIB YANG MENGGENTARKAN MAMUJU

PEMERINTAH DAERAH DI ERA EFISIENSI

BAB 11: KERANGKA HUKUM DAN KEBIJAKAN PENDUKUNG