BAB VII: KONTAK SENJATA DAN TRAGEDI BERDARAH DI MANDAR
A. Pertempuran-pertempuran Melawan KNIL dan NICA – Darah Muda Membasahi Bumi Mandar
Setelah bendera Merah Putih berkibar di berbagai penjuru Mandar, Belanda tidak tinggal diam. Mereka sadar bahwa simbol saja tidak cukup; mereka perlu menghancurkan kekuatan fisik para pejuang. Maka dimulailah serangkaian kontak senjata antara KRIS MUDA dan pasukan KNIL (Koninklijk Nederlands Indisch Leger) serta NICA (Netherlands Indies Civil Administration).
Ini bukanlah perang dalam arti konvensional. Ini adalah perang gerilya, perang sembunyi-sembunyi, perang di hutan dan di sungai, perang yang tidak pernah berimbang. Para pejuang KRIS MUDA hanya memiliki bambu runcing, beberapa senjata rampasan dari Jepang, dan keberanian yang membakar dada. Sementara Belanda datang dengan meriam, mortir, truk lapis baja, dan dukungan udara.
Namun, kata tidak seimbang tidak pernah membuat para pejuang Mandar gentar.
Berikut adalah beberapa pertempuran yang tercatat dalam sejarah – hanya sebagian kecil dari puluhan insiden bersenjata yang terjadi antara tahun 1945 hingga 1948.
1. Pertempuran Tonyaman
Di pesisir pantai Tonyaman, sekelompok pemuda pejuang yang baru saja mendapat latihan militer sederhana menyerbu pos-pos kecil Belanda. Mereka menggunakan senjata peninggalan Jepang yang berhasil mereka rebut. Pertempuran berlangsung sengit meski singkat. Belanda terpaksa mundur untuk sementara waktu.
2. Pertempuran Timbu
Timbu menjadi saksi pertempuran paling berdarah pada masa awal perlawanan. Di sini, pasukan KRIS MUDA bertempur habis-habisan melawan patroli KNIL. Selama satu setengah jam, suara tembakan dan teriakan Allahu Akbar bergema di lembah. Hasilnya seimbang: beberapa pejuang gugur, tetapi pasukan Belanda juga kehilangan nyawa dalam jumlah yang sama. Para pejuang kemudian mundur ke hutan untuk menyusun strategi baru.
“Di Timbu, aku melihat sahabatku tertembak di dadanya,” kenang seorang veteran di kemudian hari. “Tapi sebelum jatuh, ia sempat berteriak, ‘Merdeka!’ Aku tidak akan pernah melupakan itu.”
3. Insiden Jembatan Puppole, Tomadzio (Campalagian) – Januari-Februari 1946
Di bawah pimpinan Amin Badawi, para pejuang KRIS MUDA melakukan serangan sporadis di wilayah Tomadzio. Puncaknya terjadi ketika sebuah truk patroli Belanda melintasi Jembatan Puppole. Para pejuang telah menggali lubang dan memasang rintangan. Truk itu oleng, tergelincir, dan jatuh ke jurang. Beberapa serdadu Belanda tewas, yang lain luka-luka.
4. Penghadangan di Pambusuang
Dipimpin oleh Hanna dan Bundu, kelompok pejuang ini menyergap patroli Belanda di sekitar Pambusuang. Taktik mereka: serang cepat, rebut senjata, lalu lenyap di hutan. Dalam insiden ini, mereka berhasil membunuh dan melukai beberapa musuh, serta merampas beberapa pucuk senjata.
5. Penyerangan ke Tangsi Majene
Saleh Banjar dan Hamma Saleh Puangnga Su’ding memimpin serangan berani ke tangsi KNIL di kota Majene. Sayangnya, serangan ini tidak berhasil menimbulkan korban jiwa di pihak musuh, dan tidak ada senjata yang dapat dirampas. Namun, keberanian mereka sempat membuat Belanda kalang kabut.
6. Pertempuran di Deteng-Deteng
Berbeda dengan penyerangan di Majene, di Deteng-Deteng kelompok pejuang berhasil membunuh beberapa pasukan Belanda dan merampas senjata – tanpa kehilangan satu orang pun dari pihak pejuang. Ini adalah contoh sempurna dari taktik hit and run yang dikuasai oleh KRIS MUDA.
7. Penghadangan di Segeri Baruga
Dipimpin oleh Basong dan Sai’da. Di sini, nasib berkata lain. Sai’da, kepala kampung Segeri Baruga, gugur setelah diborondong peluru. Namun pasukannya tidak patah semangat. Dua Saleh (Saleh Banjar dan Hamma Saleh) mengambil alih komando dan berhasil menghalau pasukan Belanda meninggalkan Segeri Baruga.
8. Operasi Kilat M. Gaus, Nonci, dan Yolle
Kelompok ini mengkhususkan diri dalam taktik shock and awe: menyerang tiba-tiba di tengah malam, menimbulkan kekacauan, lalu menghilang seperti hantu. Markas-markas musuh sering kali dikejutkan oleh serangan dadakan ini. Tidak banyak korban jiwa, tetapi efek psikologisnya luar biasa – para serdadu Belanda tidak pernah bisa tidur nyenyak.
9. Pertempuran di Simbang – Gugurnya Dua Panglima Laut
Salah satu pukulan terberat bagi KRIS MUDA adalah gugurnya dua pimpinan Angkatan Laut KRIS MUDA: Abd. Hae dan Buraera. Mereka tewas dalam pertempuran di Simbang – sebuah bukti bahwa perjuangan ini merenggut nyawa dari semua lini, darat dan laut.
10. Pertempuran di Bussu Rappang
Di daerah ini, pasukan gabungan KNIL dan Polisi NICA melakukan operasi besar-besaran. Pejuang KRIS MUDA yang dipimpin Sulemana, Kanjuhah, dan M. Arief melawan dengan gigih. Namun, salah seorang anggota lasykar, Macca Ba’dulu, gugur di medan pertempuran.
Masih puluhan pertempuran lain yang tidak sempat tercatat. Di Pallarangan, di Simullu, di Segeri, di Batu-batu, di Buttu Kaiyyang, di Puawang, di Subunong, di Galung Para, di Pattoke, di Tappalang, di sekitar kota Mamuju – di mana-mana darah mengalir.
Dan di setiap pertempuran itu, nama Ibu Agung H.A. Depu disebut-sebut sebagai panglima tertinggi. Beliau tidak selalu berada di garis depan, tetapi strategi dan semangatnya ada di setiap peluru yang ditembakkan, di setiap bambu runcing yang ditusukkan.
B. Kedatangan Pasukan Westerling – Tragedi Berdarah Korban 40.000 Jiwa di Mandar
Pada bulan Desember 1946, Belanda mengambil keputusan yang mengerikan. Mereka tidak mampu menghentikan perlawanan rakyat Sulawesi Selatan dengan cara-cara biasa. Terlalu banyak serdadu mereka yang tewas. Terlalu banyak senjata yang dirampas. Maka, mereka mengirimkan pasukan khusus – sebuah pasukan yang tidak mengenal ampun.
Pasukan itu dipimpin oleh Kapten Raymond Westerling, seorang perwira Belanda kelahiran Turki yang terkenal kejam. Ia diberi kekuasaan penuh untuk "membersihkan" Sulawesi Selatan dari para pejuang kemerdekaan – dengan cara apapun.
Westerling dan pasukannya mendarat di Makassar pada awal Desember 1946. Dalam hitungan hari, mereka melakukan pembantaian massal di berbagai tempat. Korban tidak hanya pejuang, tetapi juga rakyat sipil, wanita, anak-anak, orang tua yang tidak berdosa.
Dari Makassar, pasukan Westerling bergerak ke utara. Mereka menyisir Maros, Pangkep, Barru, Pare-Pare, Pinrang, dan akhirnya tiba di Mandar.
Tragedi Galung Lombok menjadi catatan paling kelam dalam sejarah perjuangan Mandar.
Pada awal tahun 1947 (menurut beberapa sumber tanggal 2 Februari 1947), pasukan Westerling yang dibagi menjadi tiga rombongan mengepung wilayah Galung Lombok – sebuah lembah subur di antara perbukitan yang menjadi persembunyian banyak pejuang.
Rombongan pertama menuju Baruga Buttu Segeri, menyasar markas GAPRI 531 di Pumbeke.
Rombongan kedua menuju Baruga Lappar, menyasar markas GAPRI 531 di Pa’leo, Asing-Asing, dan La’lage.
Rombongan ketiga – yang terbesar – bergerak menuju Galung II (Galung Lombok) di wilayah Tinambung, menyasar tempat pertemuan para pimpinan KRIS MUDA.
Para pejuang yang mengetahui rencana ini sudah berusaha menyelamatkan diri. Namun, Belanda bergerak cepat. Mereka juga dibantu oleh Balanda memmata malotong – orang pribumi yang menjadi mata-mata.
Pembantaian berlangsung dari subuh hingga matahari terbenam.
“Mereka menembak siapa saja yang bergerak,” kenang seorang saksi mata yang selamat. “Laki-laki, perempuan, bahkan anak-anak. Darah mengalir seperti sungai. Aku bersembunyi di balik bangkai kerbau seharian.”
Korban tewas diperkirakan mencapai 40.000 jiwa di seluruh Mandar. Angka yang sangat besar jika dibandingkan dengan populasi Mandar saat itu yang hanya beberapa ratus ribu. Di Galung Lombok sendiri, diperkirakan sekitar 5.000 orang tewas dalam satu hari.
Jasad-jasad bergelimpangan di sawah, di kebun, di pinggir sungai. Tidak semua bisa dimakamkan dengan layak. Beberapa mayat dibiarkan membusuk, dimakan binatang buas.
Namun, Westerling gagal menangkap Ibu Agung. Ia sudah lebih dulu masuk hutan, bergerilya, berpindah-pindah tempat persembunyian. Kemarahan Westerling meluap. Ia kemudian memerintahkan penangkapan terhadap para tokoh pejuang yang masih tersisa.
Andi Tonra (Ketua Umum PRI), A. Zawawi Yahya, Abdul Wahab Anas, Abdul Rasyid Sulaiman, Nur Daeng Pabeta, dan Soeradi ditangkap. Soeradi disiksa bergantian oleh lima orang tentara NICA hingga tewas. Andi Tonra dan yang lainnya dipenjarakan dengan siksaan yang tak terperi.
Sitti Djohrah Halim, ketua organisasi wanita PWM, juga ditahan beberapa hari kemudian.
Tragedi ini meninggalkan luka yang dalam di masyarakat Mandar. Hingga puluhan tahun kemudian, setiap kali disebut nama Galung Lombok, orang-orang akan terdiam, mata mereka menerawang jauh, mengingat-ingat keluarga yang hilang.
Namun, pukulan ini tidak mematahkan semangat perjuangan. Sebaliknya, ia membakar api kemarahan yang lebih besar. Para pejuang yang selamat bersumpah: “Kami akan terus bertempur, atau mati syahid. Tidak ada pilihan lain.”
C. Penangkapan dan Tahanan Berpindah-pindah – Ibu Agung dalam 13 Rumah Tahanan
Ibu Agung Andi Depu bukanlah sosok yang mudah ditangkap. Ia memiliki jaringan informasi yang sangat baik. Setiap kali Belanda mengetahui tempat persembunyiannya, ia sudah pindah ke lokasi lain. Ia menggunakan berbagai penyamaran: sebagai pengembala kambing, sebagai petani, sebagai penjual ikan, sebagai wanita tua yang sedang manette (menenun) di bawah kolom rumah.
Namun, musuh dalam selimut – para mata-mata pribumi – akhirnya berhasil melacaknya.
Penangkapan pertama terjadi di Campalagian (Tomadzio), ketika Ibu Agung baru pulang dari pertemuan para pemimpin perjuangan di Barombong (6 km dari Makassar). Ia tidak sempat menyelamatkan diri.
Sejak saat itu, Ibu Agung berganti-ganti rumah tahanan. Tercatat ia menghuni 13 tempat tahanan yang berbeda – sebuah pengalaman yang hampir tidak pernah dialami oleh pejuang lainnya.
Berikut adalah daftar rumah tahanan yang pernah ia huni (berdasarkan catatan dalam naskah):
Rumah tahanan di Majene – beberapa kali.
Rumah tahanan di Polewali.
Rumah tahanan di Pinrang.
Rumah tahanan di Rappang – di sini ia dikurung bersama 40 orang pejuang lainnya dalam ruangan 4x4 meter. Ia adalah satu-satunya tahanan wanita.
Rumah tahanan di Pare-Pare.
Rumah tahanan di Maros.
Rumah tahanan Polisi di Makassar.
Rumah tahanan di Layang (Paotere), Makassar – bersama 16 pejuang Mandar. Di sini mereka divonis tembak mati.
Rumah tahanan di Jeneponto.
Rumah tahanan di Bulukumba.
Rumah tahanan di Bantaeng.
Rumah tahanan di Karebosi, Makassar – dibebaskan setelah penyerahan kedaulatan.
Rumah tahanan di Mandai (tahun 1950) – karena dituduh ikut membubarkan Negara Indonesia Timur (NIT).
Tidak semua tahanan ini merupakan hasil penangkapan yang berbeda. Beberapa di antaranya adalah pemindahan dari satu tahanan ke tahanan lain. Namun, setiap kali berpindah, Ibu Agung mengalami siksaan yang berbeda.
“Di Rappang, kami tidur di lantai semen tanpa alas,” kenang seorang teman satu sel. “Ibu Agung tidak pernah mengeluh. Beliau malah menghibur kami, mengajak kami berdoa bersama, dan membaca Al-Qur’an dengan suara yang merdu. Rasanya seperti kami tidak di penjara, tapi di pesantren.”
Siksaan yang paling berat bukanlah fisik, tetapi psikologis. Belanda menyebarkan kabar bohong bahwa Ibu Agung telah berdamai dengan Belanda dan menerima jabatan dari mereka. Tujuannya: melemahkan semangat para pejuang yang masih di luar.
Namun, para pejuang KRIS MUDA tidak percaya. “Ibu Agung tidak akan pernah mengkhianati perjuangan,” kata mereka. “Beliau lebih rela mati.”
Di dalam penjara, Ibu Agung tetap tegar. Ia bahkan sempat menyelundupkan surat-surat kecil kepada pasukannya, berisi instruksi dan semangat.
“Jangan menyerah,” tulisnya dalam secarik kertas yang diselipkan di lipatan kain. “Kemerdekaan tidak akan datang dengan sendirinya. Ia harus direbut. Dan kalian harus terus berjuang, meskipun aku tidak di samping kalian.”
D. Vonis Tembak Mati yang Gagal Dieksekusi – Ketika Kematian Menolak Datang
Dari semua tahanan yang pernah ia huni, yang paling mengerikan adalah rumah tahanan Layang (Paotere) di Makassar.
Di sinilah Ibu Agung, bersama 16 pejuang Mandar lainnya, dijatuhi vonis tembak mati.
Ruangan mereka sempit, pengap, dan selalu dalam pengawasan ketat. Setiap pagi mereka digiring ke halaman untuk menghirup udara segar – sambil melihat tiang eksekusi yang sudah berdiri kokoh.
Seorang pejuang yang juga ditahan di tempat yang sama menceritakan: “Setiap malam, kami mendengar suara tembakan dari halaman belakang. Itu adalah eksekusi terhadap tahanan dari daerah lain. Kami tidak tahu kapan giliran kami. Tapi Ibu Agung selalu tenang. Beliau bilang, ‘Jika kita mati syahid, surga menanti. Jangan takut.’”
Namun, eksekusi tidak pernah datang.
Mengapa? Karena politik Belanda sedang berubah. Pada saat itu, mereka sedang sibuk membentuk Negara Indonesia Timur (NIT) – sebuah negara boneka yang akan menjadi bagian dari Republik Indonesia Serikat. Eksekusi terhadap tokoh-tokoh perjuangan yang terkenal akan menimbulkan resistensi yang lebih besar dan mengganggu rencana politik mereka.
Maka, vonis tembak mati itu ditunda. Lalu ditunda lagi. Lalu ditunda terus.
Hingga akhirnya, pada tahun 1949, Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia. Semua tahanan politik dibebaskan.
Ibu Agung keluar dari penjara Karebosi dengan langkah tegap, meskipun badannya kurus dan penuh luka.
“Kita sudah merdeka,” katanya kepada para pengikutnya yang menyambut. “Tapi perjuangan belum selesai. Kita harus membangun negeri ini.”
Ia tidak dendam. Ia tidak membenci. Ia hanya bersyukur bahwa Tuhan masih memberinya kesempatan untuk melihat Indonesia merdeka dengan mata kepalanya sendiri.
E. Peran Andi Baso Pawiseang – Suami yang Berbeda Pilihan, Tetap Melindungi dari Bayang-bayang
Di balik keberhasilan Ibu Agung selamat dari berbagai pengepungan, ada satu sosok yang jarang disebut, tetapi perannya tidak bisa diabaikan: Andi Baso Pawiseang – mantan suaminya, Arayang Balanipa ke-51 yang memilih bekerja sama dengan Belanda.
Sejak perceraian mereka, Andi Baso Pawiseang tetap tinggal di istana – tidak sebagai raja, tetapi sebagai bangsawan yang masih dihormati. Belanda menganggapnya sekutu yang loyal. Mereka sering memintai pendapat tentang gerakan para pejuang.
Namun, tanpa sepengetahuan Belanda, Andi Baso Pawiseang secara diam-diam memberikan informasi penting kepada Ibu Agung.
Setiap kali Belanda merencanakan penangkapan atau serangan, Andi Baso Pawiseang akan mengirim utusan rahasia – sering kali seorang abdi istana yang dapat dipercaya – untuk memperingatkan Ibu Agung.
“Ada beberapa kali Belanda hampir menangkap Ibu Agung,” kenang seorang kerabat dekat. “Tapi setiap kali, beliau mendapat kabar dari ‘seseorang di istana’. Kami baru tahu setelah perang bahwa ‘seseorang’ itu adalah Andi Baso Pawiseang.”
Mengapa Andi Baso Pawiseang melakukan itu? Bukankah ia berada di kubu Belanda?
Jawabannya rumit. Andi Baso Pawiseang memang tidak setuju dengan cara perjuangan Ibu Agung yang radikal. Ia menganggap perlawanan bersenjata hanya akan menimbulkan korban sia-sia. Namun, ia juga tidak tega jika Ibu Agung – mantan istrinya, ibu dari anak semata wayangnya – ditangkap dan dibunuh.
“Mungkin juga ada rasa cinta yang tersisa,” kata seorang sejarawan Mandar. “Atau mungkin hanya rasa kemanusiaan. Apapun itu, Andi Baso Pawiseang tidak ingin darah Ibu Agung tertumpah.”
Sebaliknya, Ibu Agung juga beberapa kali menyelamatkan nyawa Andi Baso Pawiseang. Ketika para pejuang radikal dalam KRIS MUDA merencanakan pembunuhan terhadap Andi Baso Pawiseang karena dianggap pengkhianat, Ibu Agung diam-diam mengirim utusan untuk memperingatkan mantan suaminya.
“Bukan karena aku masih mencintainya,” tegas Ibu Agung ketika ditanya. “Tapi dia masih berguna bagi perjuangan. Dan dia adalah ayah dari anakku.”
Dalam budaya Mandar, ada pepatah: “Mua’ andiang sayangmu, anaoang pama’mu bwomo.” – Jika kasih sayang sudah tidak ada, mungkin masih ada rasa kasihan.
Hubungan Ibu Agung dan Andi Baso Pawiseang setelah perceraian adalah hubungan dua orang yang saling melindungi dari jarak – tanpa pernah kembali bersama, tetapi juga tanpa pernah menjadi musuh bebuyutan.
Mereka tidak pernah bertemu lagi setelah perceraian itu. Namun, dalam setiap doa Ibu Agung, nama Andi Baso Pawiseang selalu disebut.
“Ya Allah, ampuni dia, lindungi dia, dan berikan dia jalan menuju kebenaran,” bisik Ibu Agung setiap malam.
Dan hingga akhir hayatnya, Andi Baso Pawiseang tidak pernah menikah lagi. Ia hidup sendiri di istana, ditemani kenangan akan seorang perempuan pemberani yang pernah menjadi istrinya.
Epilog Bab VII:
Pertempuran demi pertempuran, pembantaian massal, penjara, siksaan, vonis mati – semua itu tidak pernah meluluhkan Ibu Agung. Ia keluar dari setiap badai dengan kepala tegak, iman yang lebih kuat, dan tekad yang lebih membaja.
Ia bukan pahlawan yang sempurna. Ia punya kekurangan, punya kontroversi, punya sisi manusiawi yang rapuh. Namun ia adalah pahlawan sejati – seseorang yang mempertaruhkan segalanya, termasuk keluarganya sendiri, demi kemerdekaan bangsanya.
Dan di babak selanjutnya, setelah Indonesia benar-benar merdeka, Ibu Agung akan menghadapi tantangan baru: bukan lagi melawan penjajah asing, tetapi melawan musuh dari dalam bangsanya sendiri.
Bersambung ke Bab VIII: LAPRIS, GAPRI 531, DAN PERJUANGAN DI JAWA
BAB VIII: LAPRIS, GAPRI 531, DAN PERJUANGAN DI JAWA
awal bacaan IBU AGUNG ANDI DEPU, PATRIOT PERKASA DARI MANDAR

Komentar
Posting Komentar