BAB VIII: LAPRIS, GAPRI 531, DAN PERJUANGAN DI JAWA

 


A. Konferensi Polongbangkeng dan Pembentukan LAPRIS – Menyatukan Lasykar di Bawah Satu Komando

Tahun 1946. Perlawanan terhadap Belanda di Sulawesi Selatan telah mencapai puncaknya. Namun, para pejuang menghadapi satu masalah besar: keterpecahan. Ada puluhan lasykar (kelaskaran) yang bergerak sendiri-sendiri. Masing-masing punya pimpinan, wilayah, dan strategi yang berbeda. Terkadang, mereka malah bersaing satu sama lain.

Belanda memanfaatkan situasi ini. Mereka dengan mudah memecah belah dan menghancurkan lasykar-lasykar yang tidak terkoordinasi.

Maka, seorang tokoh bernama Ranggong Daeng Romo mengambil inisiatif. Ia mengundang perwakilan dari semua lasykar yang ada di Sulawesi Selatan untuk datang ke Polongbangkeng – sebuah wilayah di selatan Makassar, sekitar 40 kilometer dari kota. Di sanalah, pada tanggal 16 Juli 1946, sebuah konferensi bersejarah digelar.

Ibu Agung H.A. Depu hadir mewakili KRIS MUDA Mandar. Duduk bersamanya adalah para pemimpin lasykar lainnya: dari PPNI (Pusat Pemuda Nasional Indonesia), AMRIS (Selayar), GAPPIS (Soppeng), dan LIPANG BAJENG (Polongbangkeng) sebagai tuan rumah. Total 16 organisasi perjuangan hadir.

Konferensi berlangsung selama beberapa hari. Suasana tegang tetapi penuh semangat. Perdebatan terjadi di mana-mana. Setiap lasykar ingin mempertahankan otonominya. Namun Ranggong Daeng Romo, dengan kharismanya, berhasil meyakinkan semua pihak.

“Kita tidak akan bisa mengusir Belanda jika terus berpecah,” katanya dalam pidato penutupan. “Mereka punya senjata modern, pasukan terlatih, dan dukungan logistik. Kita hanya punya keberanian dan semangat. Tapi jika keberanian dan semangat itu kita satukan, tidak ada yang tidak mungkin.”

Akhirnya, tercapailah kesepakatan bersejarah: pembentukan Lasykar Pemberontak Republik Indonesia Sulawesi, disingkat LAPRIS.

Susunan pimpinan LAPRIS:

  • Panglima Tertinggi: Ranggong Daeng Romo

  • Kepala Staf: Makkaraeng Daeng Djarum

  • Sekretaris Jenderal: Robert Wolter Monginsidi – seorang pemuda berdarah Minahasa yang kemudian menjadi pahlawan nasional.

LAPRIS bukanlah organisasi yang menggantikan lasykar-lasykar yang sudah ada. Ia lebih merupakan payung koordinasi. Setiap lasykar tetap mempertahankan identitasnya, tetapi semua gerakan militer dikoordinasikan oleh komando pusat LAPRIS.

Bagi Ibu Agung, ini adalah kabar baik. Selama ini, KRIS MUDA sering berjuang sendirian tanpa dukungan dari daerah lain. Kini, mereka memiliki saudara seperjuangan di seluruh Sulawesi.

Setelah konferensi usai, Ibu Agung kembali ke Mandar dengan langkah lebih ringan. “Kita tidak sendiri lagi,” katanya kepada para pengikutnya. “Sekarang, seluruh Sulawesi bangkit.”


B. Ibu Agung sebagai Panglima Sektor Mandar – Memimpin dengan Hati

Dalam struktur LAPRIS, Sulawesi Selatan dibagi menjadi beberapa sektor. Sektor Mandar meliputi wilayah bekas kerajaan-kerajaan di Pitu Ba’bana Binanga dan Pitu Ulunna Salu – kurang lebih setara dengan Provinsi Sulawesi Barat sekarang.

Ibu Agung H.A. Depu ditunjuk sebagai Panglima Sektor Mandar.

Ini bukan sekadar gelar kehormatan. Ini adalah tanggung jawab besar. Ia harus mengoordinasikan tidak hanya KRIS MUDA, tetapi juga lasykar-lasykar lain yang beroperasi di wilayah Mandar, seperti GAPRI 531 dan Lasykar Melati.

GAPRI 531 (Gabungan Pemberontak Rakyat Indonesia, dengan sandi 531) adalah lasykar yang berbasis di Majene dan sekitarnya. Dipimpin oleh Hj. Sitti Maemunah – seorang perempuan juga, yang dijuluki Srikandi dari Banggae. GAPRI 531 memiliki anggota puluhan hingga ratusan orang. Mereka terkenal dengan taktik gerilya di hutan-hutan perbukitan.

Lasykar Melati adalah sayap kewanitaan yang dipimpin oleh Sitti Ruwaedah, ajudan setia Ibu Agung. Mereka bertugas di bidang logistik, kesehatan, komunikasi, dan kadang-kadang juga turun ke medan pertempuran.

Ibu Agung, dengan pangkat Letnan Kolonel (kemudian naik menjadi Kolonel setelah pensiun), memimpin dengan gaya yang khas: tegas tetapi penuh kasih. Ia tidak pernah memerintah dari belakang. Ia selalu berada di dekat pasukannya, berbagi makanan yang sedikit, tidur di tanah yang sama, dan mendoakan mereka setiap malam.

“Ibu Agung tidak hanya menjadi komandan,” kenang seorang anggota GAPRI 531. “Beliau menjadi ibu bagi kami semua. Ketika kami lapar, beliau memberikan jatahnya kepada kami. Ketika kami takut, beliau menguatkan kami dengan doa. Ketika kami gugur, beliau menangis – lalu mengusap air matanya dan kembali memimpin.”

Di bawah komandonya, Sektor Mandar menjadi salah satu sektor paling efektif dalam LAPRIS. Serangan-serangan terhadap pos-pos Belanda terus dilakukan. Jalur logistik musuh sering terputus. Para pejuang KRIS MUDA dan GAPRI 531 bergerak seperti bayangan: muncul tiba-tiba, menyerang, lalu lenyap dalam kabut.

Namun, menjadi panglima juga berarti menjadi sasaran. Belanda meningkatkan upaya penangkapan terhadap Ibu Agung. Mereka mengirim lebih banyak mata-mata, memasang lebih banyak penghadang, dan menawarkan hadiah besar bagi siapa pun yang bisa menangkapnya – hidup atau mati.

Tapi Ibu Agung tidak gentar. “Jika mereka ingin menangkapku, biarkan mereka mencoba,” katanya sambil tersenyum. “Tapi aku tidak akan membuatnya mudah.”


C. Pengiriman Utusan ke Yogyakarta – Mencari Bantuan ke Ibu Kota Republik

Pada pertengahan tahun 1946, Ibu Agung menyadari bahwa persenjataan KRIS MUDA sangat terbatas. Mereka hanya memiliki beberapa senjata rampasan dari Jepang, selebihnya bambu runcing dan parang. Sementara Belanda semakin agresif. Pasukan Westerling akan segera datang.

“Kita butuh bantuan dari pusat,” kata Ibu Agung dalam rapat pimpinan KRIS MUDA. “Kita harus mengirim utusan ke Yogyakarta – ke ibu kota Republik Indonesia. Kita harus memberi tahu mereka situasi di Mandar, dan meminta senjata.”

Rapat memutuskan mengirim dua orang: H. Abdul Malik Pattana Yendeng (Wakil Pimpinan KRIS MUDA) sebagai utusan utama, dan Abd. Rauf sebagai ajudan. Mereka akan berangkat setelah upacara pengibaran bendera di Tomadzio (Campalagian) pada tanggal 8 April 1946.

Namun, sebelum mereka berangkat, musibah datang. Pada upacara itu, Ibu Agung dan sekitar 16 pimpinan KRIS MUDA lainnya ditangkap oleh Belanda. Mereka langsung digiring ke Makassar dan dijebloskan ke penjara Layang.

Untungnya, H. Abdul Malik dan Abd. Rauf tidak tertangkap. Mereka sudah lebih dulu meninggalkan lokasi upacara menuju pelabuhan Parappe.

Dari Parappe, mereka menyewa sebuah perahu kecil (lepa-lepa) menuju Ba’batoa di Lapeo. Di sana, mereka berganti perahu – sebuah lambo milik saudagar dari Camba-camba – untuk menyeberang ke Kalimantan.

Perjalanan itu sangat berbahaya. Laut penuh dengan patroli Belanda. Di Kalimantan, mereka harus bersembunyi selama 40 hari, berganti-ganti perahu, menyamar sebagai nelayan, dan menghindari mata-mata.

Baru pada tanggal 9 Juli 1946, mereka tiba dengan selamat di Jepara, Jawa Tengah. Dari Jepara, mereka melanjutkan perjalanan darat ke Yogyakarta – ibu kota Republik Indonesia saat itu.

Setibanya di Yogyakarta, H. Abdul Malik dan Abd. Rauf segera mencari alamat Dr. G.S.S.J. Ratulangi – Gubernur Sulawesi yang juga berada di pengasingan. Mereka berhasil bertemu.

Ratulangi mendengarkan laporan mereka dengan saksama. Matanya berbinar ketika mendengar bahwa di Mandar ada perlawanan yang terorganisir, dipimpin oleh seorang perempuan bangsawan.

“Sampaikan salamku kepada Ibu Agung,” kata Ratulangi. “Katakan bahwa perjuangan kalian tidak sia-sia. Kemerdekaan akan kita raih.”

Namun, Ratulangi menyarankan mereka untuk mengikuti pendidikan militer terlebih dahulu. “Kembali ke Mandar tanpa bekal ilmu militer tidak akan banyak membantu,” katanya. “Kalian harus belajar strategi perang, taktik gerilya, dan penggunaan senjata.”*

Maka, H. Abdul Malik dan Abd. Rauf dimasukkan ke pendidikan militer di Solo. Mereka mulai pada tanggal 11 Agustus 1946 dan lulus dalam waktu yang relatif singkat.

Setelah lulus, H. Abdul Malik mendapat pangkat Kapten dan ditugaskan ke Cirebon – bergabung dengan para pejuang di daerah XXXI Cirebon. Abd. Rauf mendapat pangkat Letnan Muda dan juga ditugaskan ke Cirebon.

Mereka tidak bisa segera kembali ke Mandar. Namun, mereka tetap berkomunikasi melalui surat-surat rahasia yang dikirim melalui perantau.

Di Cirebon, H. Abdul Malik dan Abd. Rauf terus berjuang. Mereka terlibat dalam beberapa pertempuran melawan Belanda di Jawa Barat. Abd. Rauf bahkan menikah dengan seorang pejuang wanita bernama Roro Suharti – putri Raden Kadio Singohadimulyo, staf perjuangan daerah XXXI Cirebon.

Baru pada akhir tahun 1949, setelah Belanda mengakui kedaulatan, H. Abdul Malik kembali ke Mandar. Abd. Rauf menyusul kemudian, membawa serta istrinya.

Mereka disambut dengan upacara adat oleh Ibu Agung. “Kalian telah membawa nama Mandar di tanah Jawa,” kata Ibu Agung sambil memeluk mereka. “Aku bangga.”


D. Perjuangan di Bawah Tanah – Tipu Muslihat dan Penyamaran

Selama kepemimpinan Ibu Agung, KRIS MUDA tidak hanya bertempur secara terbuka. Mereka juga melakukan perjuangan bawah tanah – gerakan rahasia yang melibatkan spionase, sabotase, dan penyamaran.

Ibu Agung sendiri adalah ahli dalam hal ini. Ia sering menyamar sebagai rakyat biasa untuk keluar masuk wilayah yang dikuasai Belanda.

Suatu ketika, ketika pasukan Belanda sedang memburunya di sekitar Manjopai, Ibu Agung mendapat informasi dari mantan suaminya bahwa posisinya sudah diketahui. Ia segera bersembunyi di bawah lepa-lepa tuppang – perahu sampan yang dibalik. Seluruh pengawalnya berpura-pura menjadi nelayan yang sedang mengeringkan ikan di pantai. Senjata mereka ditanam di pasir, ditutupi dengan tumpukan ikan.

Belanda datang, memeriksa, tetapi tidak menemukan apa-apa. Mereka pergi dengan tangan hampa.

“Ibu Agung saat itu bersembunyi di bawah perahu selama hampir tiga jam,” kenang seorang pengawal. “Panas terik, pasir membakar kulit. Tapi beliau tidak bergerak sedikit pun. Sabar luar biasa.”

Di lain waktu, Ibu Agung menyamar sebagai pengembala kambing. Ia memakai pakaian compang-camping, membawa parang, dan berjalan kaki di hutan. Di tangannya ada ande’ beke (makanan kambing) yang sebenarnya berisi pesan-pesan rahasia untuk para pejuang di kampung lain.

Ketika bertemu patroli Belanda, ia bersikap seperti orang tua yang pikun. “Apa kabar, Tuan?” katanya dengan logat Mandar yang kasar. “Aduh, kambing saya hilang satu. Apakah Tuan melihatnya?”

Para serdadu Belanda tertawa dan mengabaikannya. Mereka tidak pernah menyangka bahwa perempuan tua di depan mereka adalah panglima perang yang paling mereka cari.

Di Talolo, Ibu Agung pernah bersembunyi dengan cara berpura-pura mengambil air di Passauang Pitu (sumur tujuh). Ia membawa mambulle koko – tempat air dari bambu – dan berjalan bolak-balik seolah-olah ia hanyalah seorang wanita biasa yang sedang bekerja. Belanda yang lewat tidak mencurigainya.

Di Tammajarra, Ibu Agung bersembunyi di sebuah goa kecil selama satu minggu penuh. Rakyat setempat secara bergiliran membawakannya makanan. Mereka juga memberi informasi tentang pergerakan Belanda. Goa itu kemudian dikenal sebagai “Goa Perjuangan Ibu Agung” – meskipun kini letaknya agak terlupakan.

Salah satu penyamaran paling berani adalah ketika Ibu Agung menyamar sebagai lelaki. Ia memakai pakaian laki-laki, menutup rambutnya dengan peci, dan membawa parang di pinggang. Dengan penyamaran itu, ia bisa berjalan bebas di pasar-pasar tanpa dicurigai.

“Suaranya agak berat kalau dipaksakan,” kenang seorang kerabat. “Tapi karena banyak lelaki Mandar yang bertubuh kecil dan halus, tidak ada yang curiga.”

Perjuangan bawah tanah ini sangat melelahkan. Ibu Agung sering tidak tidur bermalam-malam. Ia selalu waspada, selalu siaga, selalu siap melarikan diri atau bertempur.

Namun, ia tidak pernah mengeluh.

“Ini adalah harga yang harus dibayar untuk kemerdekaan,” katanya. “Dan aku rela membayarnya, berapa pun mahalnya.”


Epilog Bab VIII:

LAPRIS, GAPRI 531, utusan ke Yogyakarta, perjuangan bawah tanah – semua itu adalah bagian dari mozaik perlawanan yang dipimpin oleh Ibu Agung. Ia bukan hanya seorang panglima, tetapi juga seorang diplomat, spion, dan ibu bagi ribuan pejuang.

Di bab berikutnya, kita akan melihat bagaimana Ibu Agung menghadapi musuh yang lebih berbahaya dari Belanda: musuh dari dalam bangsanya sendiri.


Bersambung ke Bab IX: PENGORBANAN PALING PRIBADI – PERCERAIAN DEMI BANGSA

BAB IX: PENGORBANAN PALING PRIBADI – PERCERAIAN DEMI BANGSA


awal bacaan IBU AGUNG ANDI DEPU, PATRIOT PERKASA DARI MANDAR

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAMUJU MISTIK: 10 KISAH GAIB YANG MENGGENTARKAN MAMUJU

PEMERINTAH DAERAH DI ERA EFISIENSI

BAB 11: KERANGKA HUKUM DAN KEBIJAKAN PENDUKUNG