BAB VI: MENYAMBUT PROKLAMASI DAN KIBARKAN MERAH PUTIH



A. Berita Proklamasi Tiba di Mandar – Dua Hari Setelah Dunia Berubah

Jumat, 17 Agustus 1945. Di Jakarta, Soekarno-Hatta membacakan naskah proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56. Namun di Mandar, belum ada yang tahu. Komunikasi terputus. Jepang yang masih berada di sana tidak serta-merta menyiarkan berita itu. Mereka sedang kalang kabut menghadapi kekalahan.

Baru pada hari Minggu, 19 Agustus 1945 – dua hari penuh setelah proklamasi – berita itu tiba.

Pengirimnya adalah Mr. Myasta Taico, seorang kapten angkatan darat Jepang yang bertugas untuk wilayah Afdelling Mandar. Entah karena kesadaran atau karena tekanan situasi, ia memanggil dua orang yang dianggapnya paling berpengaruh di Mandar: Ibu Agung H.A. Depu dan Riri Amin Daud (salah satu kuasa penuh KRIS MUDA).

Pertemuan itu berlangsung di kantor residen Jepang di Polewali. Suasana tegang. Myasta Taico berbicara dengan bahasa Indonesia yang patah-patah.

"Indonesia... sudah merdeka. Soekarno... Hatta... sudah baca proklamasi. Jepang... kalah. Sekutu... datang."

Ibu Agung menatap mata kapten Jepang itu. Ia mencari-cari kebohongan di balik sorot mata lawan bicaranya. Tidak ada. Ini nyata.

"Kapan?" tanya Riri Amin Daud dengan suara tertahan.

"Tanggal 17 Agustus. Dua hari lalu."

Diam. Kemudian Ibu Agung berdiri. Wajahnya pucat tetapi matanya menyala-nyala. "Terima kasih, Kapten. Ini kabar yang telah kami nanti-nantikan selama bertahun-tahun."

Myasta Taico hanya mengangguk. Ia tahu bahwa mulai saat ini, kekuasaan Jepang di Mandar berakhir. Dan ia juga tahu bahwa perempuan di depannya ini tidak akan tinggal diam.

Begitu keluar dari kantor residen, Ibu Agung langsung berbisik kepada Riri Amin Daud: "Sebarkan berita ini ke seluruh Mandar. Jangan tunggu besok. Lakukan sekarang. Estafet dari kampung ke kampung. Dari mulut ke mulut. Aku tidak mau ada satu orang Mandar pun yang tidak tahu bahwa kita sudah merdeka."

Riri Amin Daud mengangguk cepat. Ia berlari menuju pos komando bawah tanah KRIS MUDA.

Dalam hitungan jam, berita itu menyebar seperti api di musim kemarau. Dari Polewali ke Tinambung. Dari Tinambung ke Majene. Dari Majene ke Mamuju. Dari Mamuju ke pegunungan Ulunna Salu. Para pejuang berbisik-bisik dengan penuh semangat: "Merdeka... kita merdeka..."

Seorang veteran yang masih hidup puluhan tahun kemudian mengenang: "Saat itu aku sedang berada di ladang. Tiba-tiba seorang pemuda berlari sambil berteriak, 'Merdeka! Indonesia merdeka!' Aku pikir dia gila. Tapi kemudian banyak orang lain yang juga berteriak. Lalu aku menangis. Aku tidak tahu kenapa. Aku hanya menangis."

Namun, Ibu Agung sadar bahwa proklamasi hanyalah secarik kertas jika tidak dibela dengan senjata. Belanda pasti akan kembali. Mereka sudah berbisik-bisik di Makassar, menyusun strategi untuk merebut kembali Hindia Timur.

Maka, keesokan harinya, Ibu Agung berkendara ke segala penjuru Mandar. Ia menggunakan bendi (dokar) sederhana, tanpa pengawal istana. Di setiap kampung yang ia lewati, ia turun dan berbicara kepada rakyat.

"Jangan hanya bersorak," katanya. "Kemerdekaan harus diisi dengan perjuangan. Siapkan diri kalian. Belanda akan kembali."

Dan rakyat Mandar mendengarkan.


B. Pengibaran Pertama di Tinambung – Bendera dari Pare-Pare

Pada bulan September 1945, sekitar seminggu setelah proklamasi, para pejuang di Mandar masih belum memiliki bendera Merah Putih. Mereka hanya membayangkan warna-warna itu di kepala mereka. Namun, tindakan lebih penting dari sekadar membayangkan.

Maka, ketika sebuah rombongan dari Pare-Pare tiba di Tinambung dengan membawa sehelai bendera Merah Putih, kegembiraan meledak.

Rombongan itu dipimpin oleh Letnan Satu Lanakka, bersama M. Amin Daeng Situru, Manongko, dan Abd. Samad Hanafi. Mereka datang dengan dua mobil, menyusuri jalan pesisir yang berbatu. Sangat berbahaya. Tapi mereka nekat. Mereka tahu bahwa Mandar adalah basis perlawanan yang penting, dan Ibu Agung adalah pemimpin yang harus segera didukung.

Mereka tiba pada malam hari, sekitar pukul 20.00 WIT. Ibu Agung yang sedang berada di istana segera keluar menyambut.

"Kami membawa bendera, Ibu," kata Letnan Lanakka sambil membuka gulungan kain merah putih.

Ibu Agung meraba kain itu. Tangannya sedikit bergetar. "Ini pertama kalinya aku melihat bendera Republik dengan mataku sendiri," katanya lirih.

Ia kemudian menyerahkan bendera itu kepada putranya, Bau Baso Parenregi Depu (Yendeng). "Kibarkan besok pagi," perintahnya.

Pada tanggal 19 September 1945, pagi-pagi benar, Yendeng bersama beberapa pemuda mengerek bendera itu ke tiang bambu setinggi sembilan meter di halaman Istana Kerajaan Balanipa. Tidak ada lagu Indonesia Raya – karena tidak ada yang hapal syairnya dengan sempurna saat itu. Tidak ada iringan marching band. Hanya ada angin pagi yang bertiup pelan.

Bendera itu berkibar dengan gagahnya.

Rakyat yang melihat dari kejauhan berteriak "Merdeka!" berulang-ulang. Ibu Agung berdiri di serambi istana, matanya basah.

Sesuatu yang monumental telah terjadi. Untuk pertama kalinya, simbol kedaulatan Indonesia berkibar di tanah Mandar.

Namun, Ibu Agung tidak larut dalam kebahagiaan terlalu lama. Ia tahu bahwa Belanda akan bereaksi. Dan reaksi itu tidak akan lama datang.


C. Peristiwa Heroik – Ibu Agung Memeluk Tiang Bendera

"Bendera itu harus diturunkan sebelum pukul dua siang!"

Perintah itu datang dari perwira Belanda yang berdiri di depan dua truk pasukan KNIL. Senapan terpasang di bahu. Senapan mesin mengarah ke arah istana.

Hari itu adalah 28 Oktober 1946. Sudah lebih dari setahun proklamasi. Sudah lebih dari setahun bendera Merah Putih berkibar di Tinambung. Belanda sudah tidak sabar. Mereka tidak bisa mentolerir simbol kedaulatan Indonesia tetap tegak di hadapan mata mereka.

Pasukan Belanda datang dari Makassar, melewati Majene, dan akhirnya tiba di Tinambung. Rencana mereka: turunkan semua bendera Merah Putih di sepanjang rute. Di Majene, mereka berhasil. Di Pamboang, mereka berhasil. Sekarang giliran Tinambung – pusat perlawanan.

Ibu Agung sedang berada di dalam istana, selesai menunaikan shalat Dhuhur. Ia baru saja duduk bersila di atas permadani, membaca doa, ketika seorang abdi setia bernama Cicci Kambu berlari masuk dengan napas tersengal.

"Ibu... Ibu... Tokara Matanna datang!" (Orang Belanda datang!)

Ibu Agung tidak panik. Dengan tenang ia menyelesaikan doanya. Kemudian seorang lagi, Imasa, datang dengan laporan yang sama.

"Ibu, mereka sudah di depan istana. Bersenjata lengkap. Mereka bilang akan menurunkan bendera."

Ibu Agung berdiri. Matanya menyala. "Tidak akan mereka turunkan."

Dalam keadaan sarung yang baru diikatkan di pinggul, mukena yang masih tersampir di bahu, rambut panjang terurai, Ibu Agung berlari menuju halaman depan. Ia tidak peduli dengan penampilannya. Ia hanya fokus pada satu tujuan: melindungi bendera.

Di halaman, para pasukan KRIS MUDA sudah bersiaga. Beberapa memegang bambu runcing. Yang lain memegang senjata rampasan dari Jepang. Namun jumlah mereka tidak sebanding dengan pasukan Belanda yang bersenjata lengkap.

Tanpa ragu, Ibu Agung menerobos barisan anak buahnya dan langsung mendekap tiang bendera erat-erat.

Ia membelakangi pasukan Belanda. Wajahnya menghadap ke arah rakyat yang mulai berdatangan.

Dengan suara yang membelah langit Tinambung, ia berteriak:

"Silumbangappai bakkeu, anna lumbango’o bandera!"

"Nanti kalau tubuhku sudah terkapar bersimbah darah di tanah ini, barulah kau boleh menurunkan bendera!"

Pasukan Belanda terdiam. Perwiranya mengangkat tangan, memberi isyarat untuk tidak menembak... dulu.

Rakyat yang melihat adegan itu mulai bergerak maju. Para wanita dari kampung-kampung sekitar berdatangan. Mereka berdiri di belakang Ibu Agung, membentuk barisan manusia. Tidak bersenjata, hanya berkerudung dan berkain, tetapi mata mereka menyala-nyala.

Tiba-tiba, di sisi kanan Ibu Agung, muncul seorang lelaki tua bungkuk dengan pakaian compang-camping. Ia menggenggam sebilah pedang. Entah dari mana ia datang. Setelah keadaan aman, ia menghilang. Mitos masyarakat setempat mengatakan bahwa ia adalah jelmaan arwah ayah Ibu Agung, Laju Kanna Doro, yang turun melindungi putrinya.

Di sisi kiri Ibu Agung, berdiri tiga pendekar: Guru Pamacca (guru silat), Guru Pakkottau (guru karate), dan seorang pemberani lainnya. Mereka siap bertaruh nyawa.

Suasana tegang selama berjam-jam. Pasukan Belanda tidak berani menarik pelatuk. Perwira mereka sadar bahwa menembak Ibu Agung akan memicu perlawanan massal yang tidak bisa mereka kendalikan.

Akhirnya, dengan penuh kekesalan, perwira Belanda itu memberi perintah mundur.

"Kita akan kembali," katanya sambil menunjuk Ibu Agung. "Dan lain kali, bendera itu akan turun."

Tapi lain kali itu tidak pernah datang. Pasukan Belanda tidak pernah lagi mencoba menurunkan bendera Merah Putih di Tinambung selama Ibu Agung masih hidup.

Setelah pasukan Belanda pergi, Ibu Agung masih bertahan memeluk tiang itu selama hampir satu jam. Tangannya kebas. Kakinya hampir tidak bisa digerakkan.

"Ibu, beliau sudah pergi," bisik Sitti Ruwaedah.

Ibu Agung menggeleng. "Biarkan aku di sini sebentar. Aku ingin merasakan bendera ini. Aku ingin mengingat saat ini selamanya."

Peristiwa itu menjadi legenda. Diceritakan dari generasi ke generasi. Bahwa pernah ada seorang perempuan di Mandar yang lebih memilih mati daripada membiarkan benderanya dihinakan.


D. Pengibaran Besar-besaran – Merah Putih di Seluruh Mandar

Insiden di Tinambung tidak menghentikan semangat pengibaran bendera. Justru sebaliknya: itu memicu gelombang baru. Para pejuang di seluruh Mandar berlomba-lomba mengibarkan Merah Putih di wilayah mereka masing-masing.

Berikut adalah beberapa lokasi pengibaran penting yang tercatat dalam sejarah:

1. Tomadzio (Campalagian) – 21 Oktober 1945

Tepatnya di halaman rumah Mara’dia Tomadzio, seorang pemuda bernama Hamzi Majid mengibarkan bendera yang dijahit oleh saudara perempuannya, A. Lies Madjid. Sayangnya, hari itu juga bendera itu diturunkan oleh Belanda. Namun keesokan harinya, para pejuang yang dipimpin Andi Mappaewa Madjid mengambilnya kembali. Mereka datang dengan bendi yang ditarik kuda bernama Ibosser. Suatu pemandangan yang aneh sekaligus heroik.

2. Banggae (Majene) – 22 Oktober 1945

Pengibaran dilakukan di Rangas, dipimpin oleh Andi Tonra (Mara’dia Banggae), Andi Gatie, Tambaru, Aco Benya, M. Yusuf, dan Adnan. Mereka tidak hanya mengibarkan bendera, tetapi juga menyematkan pita merah putih di dada setiap pejuang sebagai simbol perlawanan.

3. Pamboang – 22 Oktober 1945

Pengibaran dilakukan di Tinambung (ibu kota Kerajaan Pamboang), dihadiri oleh Juhaeni, Hammasa, dan beberapa pejuang lainnya.

4. Sendana – 22 Oktober 1945

Dilakukan di Somba oleh Koni bersama beberapa orang pejuang.

5. Tappalang – 22 Oktober 1945

Dipimpin oleh Abd. Ahad dan para pejuang Tappalang.

6. Binuang – 22 Oktober 1945

Dipimpin oleh Andi Aco.

7. Mamuju – 22 Oktober 1945

Dilakukan di Budong-Budong oleh Andi Pelang.

8. Matangnga (Pitu Ulunna Salu)

Pengibaran dilakukan di rumah Kepala Distrik Je’ne, yang juga adalah pimpinan KRIS MUDA untuk wilayah Ulunna Salu.

Semua pengibaran ini dilakukan secara sederhana. Tidak ada lagu Indonesia Raya. Tidak ada upacara militer. Hanya bendera, tiang, dan tekad bulat.

Namun, tanpa mereka sadari, setiap kali bendera itu berkibar, ia menanamkan sebuah keyakinan: bahwa Merah Putih adalah milik mereka, milik Indonesia, dan tidak ada penjajah yang berhak melarangnya.


E. Pengibaran Kenegaraan Pertama di Tapango – Lagu Indonesia Raya Bergema di Bukit

Dari semua pengibaran yang terjadi di Mandar, ada satu yang paling istimewa. Ia bukan yang pertama, tetapi ia adalah yang paling lengkap dan paling resmi. Ia terjadi pada tanggal 10 Maret 1946 di Buttu Gamba Salurebong, Distrik Tapango.

Mengapa di Tapango? Bukan di Tinambung yang menjadi pusat perjuangan?

Jawabannya: strategi. Pada awal 1946, Tinambung sudah dalam pengawasan ketat Belanda. Setiap gerakan Ibu Agung dipantau. Mengadakan upacara besar di sana akan sangat berisiko. Rakyat bisa menjadi korban.

Maka Ibu Agung memerintahkan H.M. Darasa – Kepala Distrik Tapango merangkap pimpinan KRIS MUDA sektor Tapango – untuk menjadi tuan rumah.

"Laksanakan upacara pengibaran bendera yang lengkap," perintah Ibu Agung. "Dengan lagu Indonesia Raya. Dengan protokol. Aku ingin Belanda tahu bahwa kita mampu mengadakan upacara kenegaraan di wilayah mereka."

H.M. Darasa yang juga bergelar Mara’dia Tapango, menyambut perintah itu dengan antusias. Ia segera menginstruksikan seluruh kepala kampung di wilayah Tapango untuk membawa 40 orang warganya masing-masing. Sebuah pohon pinang (tadzu) ditebang dan didirikan sebagai tiang bendera di sebuah bukit kecil.

Hari pelaksanaan tiba.

Sebuah panggung sederhana dibangun. Para pejuang datang dari berbagai sektor: Tinambung, Campalagian, Majene, Pamboang, Polewali, Binuang. Mereka berbaur dengan rakyat Tapango yang jumlahnya mencapai ribuan.

Ibu Agung tiba dengan bendi (dokar) khusus yang disediakan H.M. Darasa. Ia ditemani putranya, Yendeng, dan wakil pimpinan KRIS MUDA, H. Abdul Malik Pattana Yendeng. Kesehatannya sedang kurang baik saat itu. Pidato yang seharusnya ia sampaikan sendiri, terpaksa dibacakan oleh ajudannya, Sitti Ruwaedah. Tapi semangatnya tidak berkurang sedikitpun.

Berikut susunan upacara yang tercatat:

  • Inspektur Upacara: Ibu Agung H.A. Depu

  • Komandan Upacara: K.H. Arief Lewa (saat itu masih santri muda)

  • Penggerak Bendera: Baso Buraerah Palinrai, Muhammad Izhak Tanawali, Hamid

  • Pemandu Lagu Indonesia Raya: Lenny Yacob Pabundu

  • Pemandu Upacara: Ibrahim

  • Protokol: Sitti Rahasia dan Abdullah

Ketika komandan upacara memberi aba-aba, bendera Merah Putih perlahan naik ke puncak tiang pinang.

Dan untuk pertama kalinya di Mandar, lagu Indonesia Raya berkumandang.

Para pejuang yang hadir terisak. Beberapa tidak dapat menahan air mata. Mereka yang selama bertahun-tahun hanya bisa membayangkan lagu kebangsaan di dalam hati, kini mendengarnya secara nyata di alam terbuka.

Ibu Agung berdiri tegak, tangannya di samping badan, sikap sempurna. Matanya menerawang ke bendera yang berkibar di atas bukit.

Setelah lagu usai, ia berbisik kepada Sitti Ruwaedah: "Sekarang aku bisa mati tenang. Lagu kebangsaan kita sudah dinyanyikan di tanah Mandar."

Upacara selesai dengan tertib. Rakyat bersorak. Tepuk tangan bergemuruh.

Namun, bahaya belum berakhir. Dalam perjalanan pulang, rombongan Ibu Agung dikejar oleh pasukan Belanda yang marah karena merasa dihina. Mereka nyaris tertembak di sungai Mapilli. Ibu Agung terpaksa bersembunyi di semak-semak, digigit nyamuk semalaman, baru bisa diselamatkan keesokan harinya.

Tapi itu tidak penting baginya. Yang penting: bendera sudah berkibar. Lagu kebangsaan sudah dinyanyikan. Dan rakyat Mandar sudah bersatu.

"Biarkan mereka mengejar," katanya kemudian. "Aku sudah melakukan apa yang harus aku lakukan."


Epilog Bab VI:

Hari itu, 10 Maret 1946, menjadi tonggak sejarah. Bukan karena perang besar atau pertempuran dahsyat. Tapi karena untuk pertama kalinya, Indonesia hadir secara utuh di Mandar – dengan benderanya, dengan lagu kebangsaannya, dan dengan semangat rakyatnya.

Dan di balik semua itu, berdiri seorang perempuan bangsawan yang tidak pernah menginginkan ketenaran. Ia hanya ingin bangsanya merdeka.

Bersambung ke Bab VII: KONTAK SENJATA DAN TRAGEDI BERDARAH DI MANDAR

BAB VII: KONTAK SENJATA DAN TRAGEDI BERDARAH DI MANDAR


awal bacaan IBU AGUNG ANDI DEPU, PATRIOT PERKASA DARI MANDAR

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAMUJU MISTIK: 10 KISAH GAIB YANG MENGGENTARKAN MAMUJU

PEMERINTAH DAERAH DI ERA EFISIENSI

BAB 11: KERANGKA HUKUM DAN KEBIJAKAN PENDUKUNG