BAB V: SEMANGAT NASIONALISME DAN LAHIRNYA KRIS MUDA
A. Pengaruh Organisasi Pergerakan di Mandar – Dari Serikat Islam hingga JIBDA
Sebelum detik-detik proklamasi bergema, sebelum bendera Merah Putih berkibar di alun-alun Tinambung, sebelum Ibu Agung memeluk tiang bendera dengan nyawa sebagai taruhannya, ada sebuah proses panjang yang terjadi di Mandar. Proses yang sunyi, bergerak di bawah tanah, di dalam ruang-ruang pertemuan tertutup yang hanya diterangi lampu minyak.
Proses itu bernama: organisasi pergerakan.
Pada awal abad ke-20, angin nasionalisme mulai berembus ke seluruh Hindia Belanda. Organisasi seperti Budi Utomo (1908), Sarekat Islam (1911), dan Muhammadiyah (1912) bermunculan di Jawa. Perlahan, pengaruhnya merambat ke timur, mencapai tanah Mandar.
Di Mandar, kesadaran untuk berorganisasi mulai tumbuh sekitar tahun 1915. Pada tahun itu, berdirilah cabang Serikat Islam di beberapa wilayah. Serikat Islam tidak hanya mengurus masalah agama, tetapi juga ekonomi dan politik. Mereka mengajarkan kepada rakyat Mandar bahwa penjajahan adalah kezaliman, dan umat Islam wajib memerangi kezaliman.
Namun, organisasi yang benar-benar membangkitkan semangat nasionalisme di Mandar adalah Muhammadiyah. Pada tahun 1928, ranting Muhammadiyah didirikan di Tinambung, ibu kota Kerajaan Balanipa. Pengaruhnya luar biasa. Muhammadiyah tidak hanya mengajarkan ibadah, tetapi juga kemandirian, pendidikan modern, dan semangat untuk tidak tunduk pada penjajah.
“Muhammadiyah mengajarkan kami bahwa menjadi Muslim sejati berarti berani melawan ketidakadilan, meskipun musuhnya sekuat apapun,” kenang seorang veteran pejuang Mandar di kemudian hari.
Kemudian, pada tahun 1940, muncullah organisasi yang lebih radikal: JIB (Jong Islamieten Bond) yang kemudian berubah menjadi JIBDA (Jong Islamieten Bond Dames Afdelling) cabang Mandar. JIBDA adalah organisasi kepemudaan Islam yang beranggotakan pemuda dan pemudi. Mereka tidak hanya berdiskusi, tetapi juga melakukan latihan fisik dan kemiliteran secara diam-diam.
Apa yang membuat organisasi-organisasi ini tumbuh subur di Mandar? Jawabannya ada pada satu faktor kunci: kehadiran guru-guru muda dari Makassar.
Pada tahun-tahun itu, beberapa guru lulusan sekolah guru di Makassar dikirim ke Mandar untuk mengajar di Vervolg School (sekolas lanjutan) di Tinambung. Nama-nama seperti H.M. Saleh, Syamsuddin, dan Dunuyaali menjadi motor penggerak. Mereka tidak hanya mengajar membaca dan menulis, tetapi juga menyelipkan semangat kebangsaan dalam setiap pelajaran.
Kemudian datanglah seorang pemuda bernama Abd. Waris. Ia adalah pegawai pemerintah Hindia Belanda yang bertugas di Onder Afdelling Polewali. Namun di balik seragam kantornya, Abd. Waris adalah simpatisan pergerakan. Ia membantu para guru tersebut dengan menyediakan dana, tempat pertemuan, dan perlindungan dari pengawasan Belanda.
Dan di balik semua aktivitas itu, ada seorang perempuan yang menjadi donatur utama – penyokong dana terbesar bagi organisasi-organisasi tersebut. Namanya: H.A. Depu. Saat itu, ia belum bergelar Ibu Agung. Ia masih permaisuri Arayang Andi Baso Pawiseang. Namun ia sudah mulai menunjukkan keberpihakannya yang jelas: pada rakyat, pada perjuangan, pada kemerdekaan.
Setiap kali para aktivis organisasi membutuhkan dana untuk mencetak pamflet, menyewa ruang pertemuan, atau membeli perlengkapan latihan, mereka datang ke istana. Dan Ibu Agung – tanpa banyak bertanya – selalu memberikan apa yang mereka butuhkan.
“Ibu Depu tidak pernah pelit,” kenang Sitti Ruwaedah, ajudan setia Ibu Agung. “Beliau selalu bilang: ‘Ambil saja yang kalian butuhkan. Yang penting perjuangan ini terus berjalan.’”
Organisasi-organisasi ini menjadi taman persemaian bagi para pejuang masa depan. Dari sinilah lahir kader-kader yang nantinya akan bergabung ke dalam Kelasykaran Kris Muda. Dari sinilah semangat perlawanan di Mandar tidak pernah padam – bahkan ketika Belanda merasa sudah menaklukkan segalanya.
B. Pidato Bersejarah Ibu Agung – "Lebih Dahulu Melompat ke Neraka"
Pada suatu hari, menjelang kedatangan tentara Jepang di Mandar (sekitar tahun 1942), diadakan sebuah rapat raksasa di Tinambung. Ribuan rakyat datang dari segala penjuru. Mereka memadati alun-alun di depan istana. Ada yang datang dengan berjalan kaki bermil-mil, ada yang menumpang bendi (dokar), ada pula yang menyewa perahu menyusuri sungai.
Acara itu adalah peringatan Sumpah Pemuda – meskipun dalam situasi yang sangat tidak biasa. Jepang belum sepenuhnya menguasai Mandar. Belanda masih ada, meskipun mulai goyah. Dan di tengah ketidakpastian itu, Ibu Agung H.A. Depu tampil di panggung kehormatan.
Ia tidak memakai pakaian kebesaran kerajaan. Tidak ada mahkota, tidak ada kain sutra berlapis emas. Ia hanya mengenakan baju putih polos dan sarung batik sederhana. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai – tidak di sanggul seperti lazimnya wanita bangsawan.
Suasana hening ketika ia mulai berbicara. Suaranya lantang, membelah ribuan pasang telinga.
“Saudara-saudaraku sekalian,” mulainya dalam bahasa Mandar yang fasih. “Hari ini kita berkumpul untuk mengenang janji para pemuda tiga belas tahun yang lalu. Janji untuk bertumpah darah satu: tanah Indonesia. Janji untuk berbangsa satu: bangsa Indonesia. Janji untuk menjunjung bahasa satu: bahasa Indonesia.”
Kerumunan mulai bergumam setuju.
“Tetapi,” lanjut Ibu Agung, suaranya meninggi. “Apa artinya sumpah jika kita masih diam saja ketika tanah kita diinjak-injak bangsa asing? Apa artinya janji jika kita hanya bertepuk tangan dan bernostalgia, sementara para penjajah masih merajalela?”
Sekali lagi, hening. Kali ini hening yang mencekam.
Ibu Agung menarik napas panjang. Kemudian, dengan suara yang bergetar tetapi penuh keyakinan, ia mengucapkan kalimat yang akan dikenang sepanjang masa:
“Mua’ sawa namardekai tau, anna iyya sawa namebawbwa tama dinaraka, oh… Puang Mala’bi’u buaiyyammi batuammu naraka, anna iyayaupa Puang meondong mendiolo tama dinarakamu.”
Artinya:
“Kalau perjuangan untuk merebut kemerdekaan ini akan membawa kita ke dalam neraka, maka aku mohon, wahai Tuhanku yang Maha Mulia, bukalah pintu neraka itu – karena akulah yang akan lebih dahulu melompat ke dalamnya!”
Terdengar desahan dari kerumunan. Beberapa orang menangis. Yang lain berteriak tak terkendali: “Merdeka! Merdeka! Hidup Ibu Agung!”
Ibu Agung melanjutkan dengan suara yang mulai serak karena emosi: “Saudara-saudaraku, mulai hari ini, jangan lagi panggil aku Daeng. Jangan lagi bersimpuh di depanku. Jangan lagi perlakukan aku sebagai permaisuri yang harus disembah. Kita semua sama di hadapan perjuangan. Panggil aku... Ibu. Cukup Ibu.”
Sekali lagi sorak-sorai menggema. Dan sejak saat itu, panggilan Ibu Agung melekat erat padanya. Bukan karena ia memerintahkan, tetapi karena rakyat sendiri yang mengagungkannya. Ia adalah Ibu yang Agung – ibu dari seluruh pejuang Mandar.
Pidato itu bukan sekadar retorika. Bagi Ibu Agung, itu adalah pernyataan perang. Ia sadar bahwa setelah pidato itu, Belanda akan memburunya. Ia akan masuk dalam daftar incaran musuh. Namun ia tidak peduli. Baginya, mati syahid dalam perjuangan jauh lebih mulia daripada hidup seribu tahun dalam penjajahan.
Setelah acara usai, seorang pemuda mendekatinya. Matanya basah. “Ibu... apakah Ibu benar-benar siap melompat ke neraka?”
Ibu Agung menatap pemuda itu dengan senyum tipis. “Nak, neraka yang paling pedih adalah hidup di bawah penindasan. Aku sudah merasakannya. Dan aku tidak ingin anak cucuku merasakannya. Jadi, biarlah aku yang lebih dulu melompat.”
C. Lahirnya Kelasykaran Kebaktian Rahasia Islam Muda – KRIS MUDA Mandar (21 Agustus 1945)
Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada tanggal 15 Agustus 1945. Dua hari kemudian, Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Kabar itu tiba di Mandar pada tanggal 19 Agustus – disampaikan oleh seorang perwira Jepang yang masih setia kepada janji kemerdekaan.
Ibu Agung yang mendengar kabar itu langsung bangkit dari tempat duduknya. Matanya berbinar. “Ini saatnya,” katanya kepada para pengikut setianya. “Kita tidak boleh hanya menyambut proklamasi dengan ucapan. Kita harus bertindak.”
Namun, bertindak tidak semudah membalikkan telapak tangan. Belanda yang kalah oleh Jepang, kini kembali lagi dengan membonceng pasukan Sekutu. Mereka datang dengan nama NICA (Netherlands Indies Civil Administration), membawa senjata modern, dan bertekad untuk mengambil alih kembali Indonesia – termasuk Mandar.
Untuk menghadapi itu, dibutuhkan sebuah organisasi perjuangan yang terstruktur, disiplin, dan siap bertempur. Organisasi yang tidak hanya beranggotakan pemuda, tetapi juga ulama, bangsawan, dan rakyat biasa. Organisasi yang memiliki komando tunggal dan jaringan yang luas.
Maka pada tanggal 21 Agustus 1945, tepat dua minggu setelah proklamasi, Ibu Agung mengumpulkan para tokoh pejuang di Istana Kerajaan Balanipa. Di ruang utama yang telah disulap menjadi markas, mereka bermusyawarah hingga larut malam.
Hasilnya: lahirlah sebuah kelaskaran (lasykar) yang diberi nama Kebaktian Rahasia Islam Muda Mandar. Namun untuk memudahkan penyebutan dan menjaga kerahasiaan, nama itu disingkat menjadi KRIS MUDA.
Mengapa nama KRIS MUDA?
Kris diambil dari senjata pusaka khas Jawa-Mandar yang melambangkan ketajaman dan keteguhan. Muda berarti pemuda – energi, semangat, dan pengorbanan. Jadi Kris Muda adalah senjata tajam para pemuda yang siap digunakan untuk memotong rantai penjajahan.
Ibu Agung sendiri yang dipilih sebagai Pucuk Pimpinan tertinggi. Tidak ada yang membantah. Bagi mereka, ia adalah panglima yang lahir dari rahim perjuangan itu sendiri.
Setelah pembentukan organisasi selesai, diadakan sebuah upacara pengambilan sumpah yang sangat sakral. Para anggota diminta untuk menorehkan jempol mereka dengan pisau – hanya sedikit darah – lalu membubuhkan cap jempol berdarah di atas secarik kertas putih. Itu disebut Jeppel Cera – sumpah darah.
Mereka bersumpah: setia kepada organisasi, setia kepada bangsa, setia kepada kemerdekaan. Dan jika mengingkari sumpah itu, maka darah merekalah yang akan menjadi tebusannya.
Upacara ini berlangsung di rumah Sitti Ruwaedah – ajudan Ibu Agung – tak jauh dari istana. Suasana hening mencekam. Api semangat membakar dada setiap orang yang hadir.
Selesai upacara, Ibu Agung berdiri di depan barisan yang baru terbentuk. “Kalian sekarang bukan lagi rakyat biasa,” katanya. “Kalian adalah pejuang. Kalian adalah kris – senjata tajam yang akan menusuk jantung penjajah. Jangan pernah kalian tumpulkan senjata itu. Jangan pernah.”
D. Susunan Pimpinan dan Struktur KRIS MUDA – Sebuah Organisasi Militer Modern di Zaman Perang
KRIS MUDA bukanlah gerombolan bersenjata yang bergerak tanpa komando. Ia memiliki struktur yang rapi, hampir seperti militer modern. Ini adalah keistimewaan yang jarang dimiliki oleh kelaskaran lain di daerah-daerah pada masa itu.
Berikut adalah susunan pimpinan KRIS MUDA Mandar:
| Jabatan | Nama |
|---|---|
| Pucuk Pimpinan | Ibu Agung H.A. Depu |
| Wakil Pimpinan | Haji Abd. Malik Pattana Yendeng |
| Kepala Staf | Abd. Rahman Tamma |
| Anggota Staf | Abd. Razak, Lappas Bali, Andi Pelang, Andi Manjarungi, Yusuf Bauti, Andi Gatie, Andi Daud, A. Kating, Abd. Rauf, Rahim Usman, Haji Sattari, Abana Rukka |
| Ajudan Pimpinan / Sekretaris Pribadi | Sitti Ruwaedah |
| Ajudan Wakil Pimpinan | Abd. Rauf |
| Kuasa Penuh | Abd. Rahman Tamma |
| Wakil Kuasa Penuh | Riri Amin Daud |
| Komando Pasukan | Bau Baso Parenregi Depu (putra Ibu Agung) |
| Komandan Pertempuran | Hamma Saleh Puangnga Isu’ding |
| Komandan Pasukan I | Mahmud Saal |
| Komandan Pasukan II | Mahmud Syarif |
| Komandan Pasukan III | Amin Badawi |
Struktur ini menunjukkan bahwa KRIS MUDA memiliki pembagian tugas yang jelas: ada yang bertanggung jawab pada strategi, ada yang pada logistik, ada yang pada pelatihan, dan ada yang pada pelaksanaan pertempuran.
Selain itu, KRIS MUDA juga membagi unsur kekuatan menjadi tiga pilar:
Unsur Pemuda dan Pemudi – dipimpin oleh Abd. Rahman Tamma, Riri Amin Daud, dan Sitti Ruwaedah. Mereka adalah ujung tombak dalam pertempuran dan operasi lapangan.
Unsur Organisasi – dipimpin oleh Yahyadin Puang Lembang dan Haji Abd. Razak. Mereka bertugas mengoordinasikan jaringan, komunikasi, dan logistik antar daerah.
Unsur Agama / Ulama – dipimpin oleh Kiyai Haji Muhammad Tahir dan Kiyai Haji M. Ma’ruf. Mereka adalah penjaga moral dan motivator spiritual. Setiap kali pasukan akan bertempur, para ulama ini memimpin doa bersama.
Apa yang membuat KRIS MUDA begitu efektif? Kuncinya ada pada sentralisasi komando tetapi desentralisasi pelaksanaan. Ibu Agung sebagai Pucuk Pimpinan memegang otoritas tertinggi. Namun di lapangan, setiap komandan sektor diberi kebebasan untuk mengambil keputusan taktis sesuai situasi.
“Ibu Agung tidak pernah mengekang kami,” kenang seorang komandan KRIS MUDA dari daerah Mamuju. “Beliau hanya berpesan: ‘Lakukan apa yang terbaik untuk perjuangan. Jika kalian salah, aku yang bertanggung jawab di hadapan rakyat.’”
Kepercayaan inilah yang membuat para anggota KRIS MUDA sangat loyal. Mereka tidak hanya bertempur untuk kemerdekaan, tetapi juga untuk seorang pemimpin yang mereka cintai.
E. Penyebaran KRIS MUDA ke Seluruh Sulawesi dan Kalimantan – Dari Mandar Menjadi Gerakan Regional
Yang mengejutkan dari KRIS MUDA adalah kecepatan ekspansinya. Dalam waktu kurang dari satu tahun sejak didirikan, organisasi ini telah menyebar ke hampir seluruh Sulawesi – bahkan hingga ke Kalimantan.
Bagaimana mungkin sebuah kelaskaran yang lahir dari kerajaan kecil di Mandar bisa tumbuh begitu cepat?
Jawabannya ada pada jaringan kekerabatan yang sudah dibangun sejak lama (Passitambengan). Para bangsawan Mandar yang tersebar di seluruh Sulawesi – karena pernikahan atau penempatan tugas – menjadi mata rantai penyebaran KRIS MUDA.
Seseorang di Bone yang masih sepupu dengan Ibu Agung akan dengan mudah mengorganisir pemuda di daerahnya. Seseorang di Sinjai yang pernah menetap di Mandar akan dengan sukarela membuka cabang KRIS MUDA di kampungnya.
Berikut adalah daerah-daerah di Sulawesi yang tercatat memiliki cabang KRIS MUDA:
Mandar sendiri (pusat) – dengan sektor-sektor di Balanipa, Tomadzio, Tapango, dan Biring Lembang.
Majene – diorganisir oleh Pa’bicara Kambo, Andi Tonra (Mara’dia Banggae), dan Hj. Sitti Maemunah.
Pamboang – dipimpin oleh Juhaeni dan Hammasa.
Sendana – dipimpin oleh Koni.
Mamuju – dipimpin oleh Andi Pelang.
Binuang – dipimpin oleh Andi Aco.
Matangnga (Pitu Ulunna Salu) – dipimpin oleh Kepala Distrik Je’ne.
Pare-Pare, Pinrang, dan Sidenreng Rappang – terkoneksi melalui jaringan perdagangan dan kekerabatan.
Bone, Sinjai, Maros, Bulukumba, Bantaeng – diorganisir oleh utusan-utusan yang dikirim langsung dari Mandar.
Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara – menyebar melalui para perantau Mandar yang bekerja di sektor perkebunan dan pertambangan.
Yang paling mencengangkan adalah bahwa KRIS MUDA juga memiliki cabang di Kalimantan. Menurut keterangan yang tercatat dalam naskah, seorang utusan pejuang dari Banjarmasin bernama Anwar Hasyim pernah datang ke Mandar untuk belajar tentang organisasi KRIS MUDA. Ia ingin meniru model ini di Kalimantan.
“Kami di Kalimantan mendengar bahwa di Mandar ada seorang perempuan pemimpin perjuangan yang sangat disegani,” kata Anwar Hasyim dalam pertemuannya dengan Ibu Agung. “Kami ingin belajar dari Ibu.”
Ibu Agung tersenyum. “Bukan aku yang disegani, Nak. Yang disegani adalah perjuangan ini.”
Proses penyebaran KRIS MUDA dilakukan secara estafet. Biasanya, seorang utusan dari pusat (Mandar) akan dikirim ke suatu daerah. Di sana, ia akan menghubungi tokoh setempat yang masih memiliki hubungan kekerabatan atau keagamaan dengan Mandar. Tokoh itu kemudian akan mengorganisir pemuda dan membentuk sektor. Sektor itu akan terus berkembang dan melakukan rekrutmen secara mandiri, tetapi tetap berkoordinasi dengan pusat.
Metode ini sangat efektif. Tidak membutuhkan biaya besar, hanya butuh kepercayaan dan jaringan.
Pada puncak kejayaannya, KRIS MUDA diperkirakan memiliki ribuan anggota tersebar di berbagai daerah. Mereka tidak hanya berperang melawan Belanda, tetapi juga melawan gerakan-gerakan separatis yang ingin memecah belah Indonesia setelah kemerdekaan.
Namun, sayangnya, setelah perang usai dan Indonesia benar-benar merdeka, KRIS MUDA perlahan-lahan bubar dengan sendirinya. Anggota-anggotanya kembali ke kampung halaman masing-masing. Ada yang menjadi tentara, ada yang menjadi pegawai negeri, ada pula yang kembali menjadi petani.
Tapi satu hal yang pasti: mereka tidak pernah melupakan Ibu Agung.
Setiap tahun, pada hari-hari tertentu, para veteran KRIS MUDA berkumpul. Mereka bernostalgia, bernyanyi lagu-lagu perjuangan, dan menceritakan kembali kisah-kisah heroik di bawah pimpinan Ibu mereka.
Dan di setiap pertemuan itu, selalu ada yang berbisik, “Dulu, Ibu Agung berani melompat ke neraka untuk kita. Sekarang, giliran kita yang harus melanjutkan perjuangannya.”
Bersambung ke Bab VI: MENYAMBUT PROKLAMASI DAN KIBARKAN MERAH PUTIH
BAB VI: MENYAMBUT PROKLAMASI DAN KIBARKAN MERAH PUTIH
awal bacaan IBU AGUNG ANDI DEPU, PATRIOT PERKASA DARI MANDAR

Komentar
Posting Komentar