BAB IV: PERNIKAHAN DAN JALAN MENUJU KEPEMIMPINAN
A. Dijodohkan dengan Andi Baso Pawiseang (1922) – Ketika Istana Menentukan Takdir
Pada tahun 1922, Andi Mania – yang kini lebih dikenal dengan panggilan Depu – menginjak usia lima belas tahun. Dalam hitungan orang Mandar, usianya sudah pantas untuk menikah. Namun berbeda dengan gadis kebanyakan, Depu tidak pernah membayangkan dirinya menjadi istri seseorang. Pikirannya saat itu penuh dengan rencana-rencana kecil memberontak terhadap ketidakadilan yang dilihatnya di sekitar istana.
Tapi takdir berkata lain.
Suatu malam, setelah jamuan makan malam, Arayang Laju Kanna Doro memanggil putri bungsu kesayangannya ke ruang pribadi. Di ruangan yang hanya diterangi lampu minyak, sang ayah duduk dengan tenang, ditemani ibunda Samaturu. Wajah mereka serius – bahkan cenderung kaku.
“Depu,” panggil Laju Kanna Doro dengan suara lembut namun tegas, “duduklah. Ayah dan ibumu ingin berbicara denganmu.”
Depu duduk di depan mereka, sedikit gelisah. Ia bisa membaca aura keanehan malam itu.
“Kau sudah cukup umur,” lanjut ayahnya. “Sudah waktunya kau menikah.”
Jantung Depu berdegup lebih kencang. “Menikah? Dengan siapa, Ayah?”
“Dengan Andi Baso Pawiseang. Putra dari Pammase Pallabuang. Seorang bangsawan terhormat. Dia sudah kami pilih untukmu.”
Depu terdiam. Andi Baso Pawiseang? Ia hanya pernah mendengar namanya, tetapi belum pernah sekalipun bertemu wajahnya. Orang asing. Ia akan dinikahkan dengan orang asing. Tanpa cinta. Tanpa perkenalan. Tanpa kesempatan untuk mengatakan tidak.
“Ayah... aku belum siap,” bisiknya, berusaha menahan air mata.
Samaturu, ibunya, mengambil alih. “Depu, ini sudah keputusan kami. Juga keputusan keluarga besar. Ini untuk kebaikanmu, untuk kebaikan kerajaan. Andi Baso adalah pemuda baik-baik, dari keturunan Jakka Tallunna Balanipa – tiga satria perkasa. Dia akan menjadi suami yang baik.”
Depu tidak bisa membantah. Ia adalah putri bangsawan. Dalam adat Mandar, seorang putri tidak punya hak memilih suami. Orang tuanyalah yang menentukan. Dan ia harus patuh.
“Baiklah, Ayah. Ibu,” katanya lirih, sambil menundukkan kepala. “Aku akan menurut.”
Pernikahan dilangsungkan beberapa pekan kemudian. Upacara adatnya sangat mewah, disebut Mallari Ada’ – pesta kebesaran kerajaan yang hanya digelar untuk pernikahan keluarga inti istana. Seluruh bangsawan dari Pitu Ba’bana Binanga diundang. Hadir pula perwakilan dari kerajaan di Pitu Ulunna Salu.
Andi Baso Pawiseang berdiri di pelaminan dengan pakaian adat serba hitam emas. Wajahnya tampan, posturnya tegap. Ia sudah dewasa, beberapa tahun lebih tua dari Depu. Dari raut mukanya, ia terlihat bahagia. Mengapa tidak? Ia mendapatkan putri raja.
Depu sendiri, di balik riasan dan kain sutra yang melilit tubuhnya, menahan perasaan campur aduk. Bukan cinta yang ia rasakan saat itu. Bukan pula benci. Yang ada hanyalah rasa pasrah – sebuah kesadaran bahwa sebagai seorang putri, ia harus mengikuti jalan yang sudah digariskan.
Saat mereka berdua duduk bersanding, seorang tetua adat membacakan petuah: “Sipamandar, saling menguatkan. Sipakainga, saling mengingatkan. Na iyyamo lita’ mara’dia mara’dia, iyya pole dioloang.”
“Seperti raja dengan kerajaannya, demikian pula suami istri. Saling menjadi benteng satu sama lain.”
Depu hanya bisa mengangguk. Ia tidak tahu bahwa pernikahan ini, yang diawali dengan kepatuhan buta, kelak akan menjadi batu ujian terbesar dalam hidupnya – batu ujian yang memaksanya memilih antara status sebagai istri atau sebagai patriot bangsanya.
B. Kehidupan Rumah Tangga di Istana – Di Antara Tembok Kemewahan dan Kerinduan akan Kebebasan
Tahun-tahun awal pernikahan Depu dan Andi Baso Pawiseang berjalan dengan cukup harmonis. Mereka tinggal di Istana Kerajaan Balanipa – sebuah kompleks yang sederhana menurut standar istana di Jawa, tetapi tetap megah bagi ukuran Mandar. Rumah panggung dengan tiang-tiang kayu ulin, dinding yang dihiasi ukiran khas Mandar, dan halaman luas yang menghadap ke sungai.
Andi Baso Pawiseang adalah suami yang sabar. Ia tidak pernah kasar atau memaksa. Ia membiarkan Depu tetap melakukan kegiatan-kegiatannya: menenun, memanjat pohon (meskipun lebih jarang), dan sesekali keluar istana untuk menemui rakyat.
Namun, perlahan-lahan, Depu mulai merasakan adanya sekat tak terlihat antara dirinya dan suaminya. Bukan tentang cinta – cinta bisa tumbuh seiring waktu. Tetapi tentang cara memandang dunia.
Andi Baso Pawiseang adalah seorang praktisi kekuasaan. Ia memahami bahwa untuk mempertahankan stabilitas, kadang-kadang seseorang harus berkompromi dengan keadaan. Sementara Depu – masih muda, idealis, dan berapi-api – melihat kompromi sebagai pengkhianatan.
Suatu malam, di ruang makan, percakapan mereka meruncing.
“Belanda semakin kuat, Baso,” kata Depu sambil menyuap nasi. “Mereka sekarang mulai campur tangan dalam urusan pengangkatan kepala distrik. Ini tidak baik.”
Andi Baso menghela napas. “Aku tahu, Depu. Tapi apa yang bisa kita lakukan? Mereka punya senjata. Mereka punya pasukan. Sementara kita... hanya punya keberanian yang tidak cukup untuk melawan meriam.”
“Bukankah keberanian lebih berharga dari meriam?” potong Depu tajam.
“Keberanian tanpa strategi hanya akan menciptakan mayat, Depu.”
Perdebatan seperti ini sering terjadi. Tidak ada yang menang. Tidak ada yang mau kalah. Masing-masing berpegang pada keyakinannya.
Di tengah ketegangan itu, kabar baik datang. Depu hamil. Pada tahun 1925, ia melahirkan seorang putra semata wayang yang diberi nama Bau Baso Parenregi Depu, dipanggil Yendeng atau Puang Ngendeng.
Kehadiran Yendeng seperti oase di tengah padang gersang. Depu memfokuskan diri pada pengasuhan anaknya. Untuk sementara, perdebatan politik mereda. Namun di balik senyumnya, ia tetap menyimpan kegelisahan. Belanda semakin merangsek masuk ke urusan internal kerajaan. Para kepala distrik mulai diintervensi. Pajak dinaikkan. Kerja rodi semakin berat.
Depu melihat penderitaan rakyat dengan matanya sendiri. Setiap kali ia berkeliling ke kampung-kampung – dengan alasan menjenguk kerabat – ia menyaksikan para petani kehilangan hasil panen karena pajak yang mencekik. Ia melihat anak-anak kurus kering yang tidak bisa sekolah karena harus membantu orang tua bekerja.
Dari situlah, api perlawanan dalam dirinya mulai menyala kembali – lebih besar dari sebelumnya.
C. Laju Kanna Doro Wafat di Jeddah – *Andi Baso Pawiseang Menjadi Arayang ke-51*
Pada suatu ketika, Arayang Laju Kanna Doro – ayahanda Depu – mengambil keputusan besar. Beliau ingin menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Sebagai seorang Muslim yang taat, ini adalah rukun Islam kelima yang wajib ditunaikan bagi yang mampu. Dan Laju Kanna Doro, dengan kekayaannya, jelas mampu.
Sebelum berangkat, Laju Kanna Doro mengadakan pertemuan dengan lembaga adat Appe’ Banua Kaiyyang. “Aku akan pergi cukup lama,” katanya. “Siapa yang akan memerintah selama ketiadaanku?”
Lembaga adat bermusyawarah. Mereka memutuskan untuk menunjuk Andi Baso Pawiseang sebagai Dipassappeangngi – pejabat sementara. Keputusan ini wajar karena Andi Baso adalah menantu raja, juga seorang bangsawan yang kompeten.
Andi Baso menerima tugas itu dengan hormat. Depu, sebagai istri, mendampinginya. Selama beberapa bulan, mereka menjalankan roda pemerintahan tanpa masalah berarti.
Namun, kabar duka datang dari seberang lautan. Laju Kanna Doro, setelah menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji, jatuh sakit di Jeddah. Kondisinya memburuk dengan cepat. Beberapa hari kemudian, beliau menghembuskan napas terakhir.
Berita itu tiba di Mandar seperti petir di siang bolong. Seluruh kerajaan berduka. Laju Kanna Doro bukan hanya raja, tetapi juga ayah, pemimpin, dan pelindung.
Di Makassar, Gubernur Selebes (yang kala itu masih dijabat oleh orang Belanda) segera memberi instruksi. “Andi Baso Pawiseang harus segera dilantik menjadi Arayang definitif. Kerajaan tidak boleh kosong.”
Lembaga adat Appe’ Banua Kaiyyang pun menggelar sidang darurat. Mereka mengukuhkan Andi Baso Pawiseang sebagai Arayang Balanipa ke-51.
Di satu sisi, ini adalah kenaikan pangkat alami. Namun di sisi lain, ada yang janggal. Sebagian rakyat dan beberapa tetua adat sebenarnya menghendaki Depu – putri kandung Laju Kanna Doro – yang menjadi Arayang. Mereka berargumen bahwa darah raja sejati ada di urat nadi Depu, bukan pada menantu.
Tapi ada dua alasan kuat mengapa Depu tidak dipilih saat itu. Pertama, tradisi. Sejak Kerajaan Balanipa berdiri, belum pernah ada seorang wanita yang menjadi Arayang. Kedua, tekanan Belanda. Gubernur Selebes yang orang Belanda tidak akan pernah menyetujui seorang wanita anti-penjajah seperti Depu untuk memegang tampuk kekuasaan.
Andi Baso Pawiseang pun dinobatkan. Depu, sebagai istri, otomatis menjadi Pa’balianna – permaisuri. Dari luar, semuanya tampak sempurna. Namun di dalam hati Depu, ada gejolak yang tidak bisa ia pendam.
“Kenapa mereka tidak memilihku?” tanyanya pada dirinya sendiri. “Apa karena aku perempuan? Apa karena aku dianggap terlalu keras?”
Jawabannya tidak ia temukan. Tapi ia tahu satu hal: suatu hari nanti, kesempatan itu akan datang. Dan ia akan siap.
D. Desakan Rakyat agar Ibu Agung Menjadi Arayang – “Kami Tidak Mau Pemimpin yang Lemah”
Tahun berganti tahun. Andi Baso Pawiseang memerintah dengan gaya yang halus, diplomatis, dan – menurut sebagian kalangan – terlalu lunak terhadap Belanda.
Ketika Jepang datang dan mengusir Belanda dari Mandar (1942), Andi Baso Pawiseang sempat diangkat menjadi pejabat sementara residen Afdelling Mandar oleh pemerintah Jepang. Ini posisi yang cukup tinggi. Namun setelah Jepang kalah dan Sekutu masuk, Belanda kembali lagi dengan nama NICA. Dan Andi Baso Pawiseang, sekali lagi, memilih untuk bekerja sama.
Bagi rakyat Mandar yang haus akan kemerdekaan, ini adalah pengkhianatan halus.
“Arayang kita terlalu dekat dengan Belanda,” bisik para pejuang di warung-warung kopi.
“Dia tidak berani melawan. Dia lebih suka makan enak di istana sementara rakyatnya menderita,” sahut yang lain.
Suatu hari, sekelompok pemuda pejuang dari Kelasykaran Kris Muda (yang saat itu masih bergerak bawah tanah) datang menghadap Depu. Mereka tidak menyebutnya “Permaisuri” atau “Mara’dia Tobwaine”. Mereka memanggilnya “Ibu” – sebuah panggilan yang membuat Depu tersenyum haru.
“Ibu,” kata pemimpin rombongan, seorang pemuda bernama Riri Amin Daud. “Kami tidak puas dengan kepemimpinan suami Ibu. Beliau terlalu lunak. Beliau tidak berani melawan Belanda. Kami ingin Ibu yang memimpin kami.”
Depu terdiam. Ia tahu desakan ini bukan main-main. Jika ia menerima, itu berarti ia harus berhadapan langsung dengan suaminya. Istana akan terpecah. Rumah tangganya akan hancur.
“Aku mengerti kegelisahan kalian,” jawab Depu dengan hati-hati. “Tapi aku tidak bisa begitu saja merebut kekuasaan dari suamiku. Ada tatanan yang harus dihormati.”
“Tatanan yang membiarkan rakyat menderita, Ibu?” potong pemuda itu dengan tegas.
Desakan terus berdatangan. Bukan hanya dari pemuda, tetapi juga dari para tetua adat yang selama ini diam-diam mendukung Depu. Bahkan beberapa kepala distrik – tiga dari empat belas – menyatakan dukungan terbuka kepada Depu. Mereka adalah Distrik Tapango, Campalagian, dan Biring Lembang.
Akhirnya, Depu mengambil keputusan yang paling berat dalam hidupnya.
E. Pengangkatan Ibu Agung sebagai Arayang Balanipa ke-52 – Mahkota di Atas Perpisahan
Pada bulan Desember 1945, Depu meminta cerai dari Andi Baso Pawiseang.
Bukan karena ada orang ketiga. Bukan karena kekerasan dalam rumah tangga. Bukan pula karena ketidakcocokan yang sepele. Depu menceraikan suaminya karena prinsip perjuangan – sebuah alasan yang mungkin terdengar aneh bagi sebagian orang, tetapi sangat masuk akal bagi seorang patriot sejati.
“Aku tidak bisa terus tinggal di istana yang sama dengan orang yang bersekutu dengan musuh bangsaku,” kata Depu dalam pernyataannya yang disampaikan kepada lembaga adat.
Andi Baso Pawiseang menerima keputusan itu dengan lapang dada – meskipun ada luka yang tertahan. Ia tahu bahwa Depu bukan wanita yang bisa dikendalikan. Ia juga tahu bahwa perjuangan Depu bukanlah perjuangan yang salah.
Setelah perceraian itu, lembaga adat Appe’ Banua Kaiyyang menggelar sidang khusus. Kali ini, tanpa tekanan dari Belanda (karena situasi sedang kacau), mereka dengan suara bulat mengangkat Ibu Agung H.A. Depu sebagai Arayang Balanipa ke-52.
Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah – sejak Kerajaan Balanipa berdiri di abad ke-14 – seorang wanita duduk di singgasana tertinggi.
Proses pelantikannya tidak semeriah pernikahannya dulu. Tidak ada iringan gendang panjang. Tidak ada tarian Pattu’du yang meriah. Yang ada hanya kesederhanaan yang sakral, dihadiri oleh para tetua adat, para pimpinan kelaskaran, dan beberapa kepala distrik yang masih setia.
Saat mahkota simbolis diletakkan di kepalanya, Depu – yang kini bergelar Ibu Agung – tidak menangis. Ia hanya menggenggam erat tangan putranya, Yendeng, yang berdiri di sampingnya.
“Aku tidak menginginkan ini demi kekuasaan,” katanya dengan suara lantang di hadapan para saksi. “Aku menerima ini karena rakyatku membutuhkan pemimpin yang tidak takut mati. Dan aku tidak takut mati.”
Tepuk tangan bergemuruh. Namun di sudut ruangan, beberapa orang menangis. Mereka tahu bahwa hari itu, seorang perempuan telah mengorbankan rumah tangganya sendiri untuk kemerdekaan bangsanya.
Sejak saat itu, Istana Kerajaan Balanipa tidak lagi menjadi simbol feodalisme. Ia menjelma menjadi Markas Besar Perjuangan Rakyat Mandar. Dari sanalah Ibu Agung Andi Depu akan memimpin kelaskaran, mengoordinasikan gerilya, dan membakar semangat juang seluruh Mandar.
Dan suaminya? Andi Baso Pawiseang tetap tinggal di istana bagian lain – bukan sebagai musuh, tetapi sebagai seorang pria yang pernah menjadi bagian dari hidupnya. Mereka jarang bertemu. Namun dalam diam, mereka tetap saling melindungi. Karena di atas segalanya, mereka adalah dua orang Mandar yang sama-sama mencintai tanahnya – hanya dengan cara yang berbeda.
Bersambung ke Bab V: SEMANGAT NASIONALISME DAN LAHIRNYA KRIS MUDA
BAB V: SEMANGAT NASIONALISME DAN LAHIRNYA KRIS MUDA
awal bacaan IBU AGUNG ANDI DEPU, PATRIOT PERKASA DARI MANDAR

Komentar
Posting Komentar