BAB III: MASA KECIL DAN REMAJA – DARI KAREPU MENJADI DEPU
A. Lahirnya Andi Mania – Jumat Berkah di Bulan Agustus 1907
Pada suatu Jumat pagi di bulan Agustus tahun 1907, Istana Kerajaan Balanipa di Tinambung dilanda kegembiraan. Seorang bayi perempuan lahir dari rahim Samaturu, istri ketiga Arayang Laju Kanna Doro. Tangisnya nyaring, menggema di antara dinding-dinding kayu istana yang berukir.
Arayang Laju Kanna Doro yang saat itu sedang berada di kebun, segera berlari pulang begitu mendengar kabar. Ia adalah ayah yang sangat menyayangi anak-anaknya, tetapi kelahiran bayi kali ini terasa istimewa. Bukan karena bayi itu putri semata wayang dari istri yang paling ia cintai – meskipun itu juga benar. Lebih dari itu, seorang ahli nujum istana pernah meramalkan bahwa ia akan dikaruniai seorang putri yang kelak akan menjadi pemimpin besar.
“Namainya Andi Mania,” kata Laju Kanna Doro sambil menggendong bayinya. “Semoga ia menjadi penerus yang membawa kejayaan bagi Balanipa.”
Bayi itu lahir dengan selaput tipis menutupi sebagian wajahnya – dalam kepercayaan masyarakat Mandar, itu pertanda bahwa anak tersebut akan memiliki keberanian luar biasa dan dilindungi oleh leluhur.
Di Istana Tinambung, suasana syukuran berlangsung selama tujuh hari tujuh malam. Para bangsawan dari seluruh Mandar datang membawa hadiah. Ada yang membawa kain sutra, ada yang membawa perhiasan emas, ada pula yang membawa senjata pusaka sebagai simbol bahwa bayi perempuan ini kelak akan menjadi pejuang.
Namun, takdir berkata lain. Tidak ada yang menduga bahwa bayi mungil dengan mata bulat itu akan tumbuh menjadi sosok yang sangat berbeda dari perempuan bangsawan pada umumnya. Ia tidak suka berdiam diri di istana. Ia tidak suka bersolek. Ia tidak suka dipingit. Sebaliknya, ia lebih suka berlari di padang rumput, memanjat pohon kelapa, dan bergulat dengan anak laki-laki.
Ayahnya tersenyum melihat kenakalan putrinya. Ibunya kadang geleng-geleng kepala. Saudara-saudaranya sering menggodanya.
Tapi Andi Mania tidak peduli. Ia adalah dirinya sendiri.
Dan dunia suatu hari nanti akan tahu bahwa gadis kecil ini akan mengguncang Mandar.
B. Makna "Karepu" yang Melekat Menjadi "Depu" – Ketika Julukan Menjadi Kekuatan
Andi Mania tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan saudara. Dari ibu kandungnya (Samaturu), ia memiliki empat orang kakak laki-laki dan menjadi satu-satunya anak perempuan. Namun dari ayahnya, ia memiliki total dua belas orang saudara, karena Laju Kanna Doro menikah dengan beberapa istri.
Di antara semua saudara perempuannya – baik yang seibu maupun tidak – Andi Mania bukanlah yang tercantik.
Ini bukan sekadar omongan kosong. Dalam tradisi bangsawan Mandar, kecantikan seorang putri diukur dari kulit yang putih bersih, rambut panjang hitam terurai, tubuh yang langsing, dan gerak-gerik yang lemah gemulai. Andi Mania tidak memiliki itu semua. Kulitnya sawo matang karena sering berjemur di sawah. Rambutnya tebal tetapi sering kusut karena ia jarang menyisir. Tubuhnya lebih kekar daripada kebanyakan gadis seusianya. Dan gerak-geriknya? Jangan ditanya. Ia berlari seperti anak laki-laki, duduk dengan kaki terbuka, dan berbicara dengan suara lantang.
Kakak-kakak perempuannya sering berbisik-bisik di sudut istana. “Lihat Andi Mania, tidak cantik sama sekali,” kata salah satu dari mereka.
“Iya, berbeda sekali dengan kita,” sahut yang lain.
Awalnya, Andi Mania hanya diam mendengar. Namun lama-kelamaan, ia terbiasa. Keluarganya memanggilnya dengan sebutan Karepu – sebuah kata dalam bahasa Mandar yang berarti "tidak cantik" atau "biasa saja".
Alih-alih tersinggung, Andi Mania justru menerima panggilan itu dengan lapang dada. Ia bahkan menganggapnya sebagai ciri khas. “Ya, aku memang tidak cantik,” katanya suatu hari kepada ibunya. “Tapi aku tidak butuh kecantikan untuk menjadi berguna.”
Nama Karepu kemudian disingkat menjadi Depu. Seiring waktu, panggilan itu melekat erat. Bahkan setelah ia dewasa dan menjadi tokoh penting, orang-orang tetap memanggilnya Depu. Ketika ia pulang dari naik haji, namanya berubah menjadi Hajja Andi Depu. Dan ketika ia diberi gelar kehormatan oleh rakyat, ia menjadi Ibu Agung H.A. Depu.
Dari sebuah ejekan, lahir sebuah identitas. Dari sebuah kekurangan, lahir sebuah kekuatan.
Inilah pelajaran pertama dari Ibu Agung: jangan biarkan label negatif orang lain mendefinisikan dirimu. Jadikanlah itu sebagai cambuk untuk membuktikan bahwa nilaimu tidak diukur dari penampilan fisik, tetapi dari perbuatan dan keteguhan hati.
Dalam budaya Mandar, ada pepatah: “Tau malolo ni’a’ mandarangi, tau mara’dia ni’a’ pammulangngi.” – Orang kecil diukur dari ketekunannya, orang besar diukur dari kemurahan hatinya. Andi Mania – Depu – membuktikan bahwa kecantikan sejati bukan terletak pada rupa, tetapi pada jiwa yang tidak kenal menyerah.
C. Masa Kecil Tomboy – Memanjat, Menunggang Kuda, dan Manette
Jika Anda membayangkan seorang putri kerajaan yang dikurung di dalam istana, disuapi oleh dayang-dayang, dan hanya belajar tata krama serta menari, maka lupakan bayangan itu. Andi Mania adalah kebalikannya.
Sejak usia lima tahun, ia sudah bisa memanjat pohon kelapa setinggi sepuluh meter. Ia melakukannya bukan karena terpaksa, tetapi karena senang. Ia suka tantangan. “Kalau pohonnya tinggi, lebih seru,” katanya sambil tertawa.
Para dayang istana sering pusing menghadapi kenakalan putri bungsu ini. Mereka disuruh mengejar Andi Mania yang berlarian di kebun, tetapi selalu gagal karena Andi Mania lebih lincah seperti kera.
Kegemarannya yang lain adalah menunggang kuda. Di Mandar, kuda bukan hanya alat transportasi, tetapi juga simbol kejantanan. Biasanya hanya laki-laki bangsawan yang berani menunggang kuda liar. Namun Andi Mania, sejak usia tujuh tahun, sudah bisa mengendalikan kuda-kuda paling bandel milik ayahnya.
Suatu ketika, seorang tamu dari kerajaan tetangga datang berkunjung. Ia melihat seorang gadis kecil melompat ke punggung kuda yang sedang meronta-ronta. Tamu itu terkejut setengah mati. *“Itu putri raja?” tanyanya dengan mata melotot.
Laju Kanna Doro hanya tersenyum. *“Itu anak saya,” katanya singkat, dengan nada setengah bangga setengah pasrah.
Namun di balik sifat tomboy-nya, Andi Mania juga memiliki sisi feminin yang kuat. Ia sangat gemar manette – menenun kain sutra Mandar yang disebut Lipa’ Sa’be. Kain tenun ini sangat halus dan hanya ditenun oleh wanita-wanita bangsawan yang terampil.
Setiap sore, setelah lelah bermain kuda atau memanjat pohon, Andi Mania akan duduk di alat tenunnya. Dengan sabar, ia menyusun benang demi benang, menciptakan motif-motif rumit yang hanya dikuasai oleh penenun berpengalaman.
“Aneh,” kata ibunya suatu hari. “Anak ini kalau di luar seperti laki-laki, tetapi kalau sudah pegang alat tenun, tangannya sangat lembut.”
Mungkin inilah kunci dari keunikan Andi Mania: ia tidak terpaku pada satu peran. Ia bisa menjadi perempuan sekaligus laki-laki dalam satu tubuh. Ia bisa menjadi pemberani sekaligus teliti. Ia bisa menjadi pemimpin sekaligus perajin.
Kombinasi inilah yang kelak membuatnya mampu memimpin kelaskaran, menyusun strategi perang, sekaligus tetap menjaga tradisi dan budaya Mandar.
D. Pendidikan Agama – *Khatam 30 Juz Al-Qur’an di Usia 12 Tahun*
Di tengah kesibukannya bermain dan menenun, Andi Mania tidak pernah melupakan agama. Laju Kanna Doro adalah seorang raja yang sangat taat beribadah. Ia memastikan semua anak-anaknya mendapatkan pendidikan agama yang baik, terutama putri kesayangannya itu.
Setiap pagi, seorang guru mengaji khusus dipanggil ke istana. Guru itu bukan sembarang orang. Ia adalah seorang ulama terkemuka dari kerajaan tetangga yang dihormati karena kealimannya. Tugasnya hanya satu: mengajarkan Al-Qur’an kepada putra-putri Arayang.
Andi Mania awalnya tidak terlalu antusias. Ia lebih suka berlari di luar daripada duduk diam berjam-jam menghafal ayat. Namun sang guru memiliki cara mengajar yang unik. Ia tidak memaksa, tetapi membiarkan Andi Mania belajar sambil bergerak. “Kamu bisa menghafal sambil berjalan-jalan di kebun,” kata guru itu.
Cara itu berhasil. Andi Mania mulai menikmati belajar Al-Qur’an. Ia menghafal dengan cepat. Otaknya ternyata encer. Dalam waktu singkat, ia sudah menguasai beberapa juz.
Pada usia 12 tahun, sebuah berita mengejutkan datang dari istana: Andi Mania telah khatam 30 juz Al-Qur’an.
Ini adalah pencapaian luar biasa, terutama untuk anak seusianya. Bahkan di kalangan bangsawan yang memiliki akses ke pendidikan terbaik, khatam pada usia belasan tahun pun sudah dianggap hebat. Apalagi Andi Mania melakukannya di sela-sela kesibukannya bermain dan menenun.
Ayahnya, Laju Kanna Doro, mengadakan syukuran besar-besaran. Seluruh kerabat dan bangsawan diundang. Andi Mania diminta untuk membacakan beberapa ayat di depan umum. Suaranya merdu, tajwidnya nyaris sempurna.
Sejak saat itu, Andi Mania tidak hanya dikenal sebagai putri tomboy, tetapi juga sebagai hafizah – penghafal Al-Qur’an. Julukan Karepu tetap melekat, namun kini ia dipanggil juga dengan “Anak yang solehah”.
Pendidikan agama yang kuat inilah yang kelak menjadi fondasi perjuangannya. Ketika ia berhadapan dengan berbagai cobaan – siksaan di penjara, ancaman kematian, perpisahan dengan suami – ia selalu kembali kepada Al-Qur’an. Doa-doa yang ia panjatkan tidak pernah putus.
Dalam setiap pidatonya, ia selalu menyelipkan ayat-ayat suci. Ketika ia memimpin pengibaran bendera, ia tidak lupa membaca doa. Ketika ia melangkah ke medan perang, bibirnya tidak berhenti berzikir.
Orang Mandar sering menyebutnya: “Bu Depu itu, mulutnya tidak pernah berhenti mengucap Asma Allah, bahkan ketika tangannya memegang senjata.”
E. Memasuki Masa Remaja – Jiwa Progresif dan Anti Penjajah
Usia 15 tahun adalah masa transisi yang penting bagi seorang gadis bangsawan di Mandar. Pada usia itu, seorang putri biasanya mulai dipingit – dikurung di dalam istana, tidak boleh keluar tanpa pengawasan ketat, dan dipersiapkan untuk menikah.
Andi Mania mengalami semua itu. Namun, peraturan tidak bisa sepenuhnya mengikat jiwa bebasnya.
Meskipun secara resmi ia harus tinggal di dalam istana, Andi Mania sering kabur pada malam hari. Ia memanjat dinding belakang istana – sesuatu yang sangat mudah baginya – lalu berjalan kaki ke rumah-rumah warga. Ia ingin tahu bagaimana kehidupan rakyat biasa.
Di sanalah ia mulai melihat secara langsung penderitaan yang disebabkan oleh penjajah Belanda. Rakyat dipaksa bekerja tanpa upah. Pajak yang harus dibayar sangat tinggi, sampai-sampai banyak petani yang kehilangan sawahnya. Anak-anak kecil bekerja sebagai kuli, bukan bersekolah.
“Kenapa Belanda bisa melakukan ini?” tanyanya kepada seorang petani tua di pinggir sawah.
Petani itu menghela napas. “Karena mereka punya senjata, Nak. Siapa yang berani melawan, akan ditembak.”
“Tapi kalau semua orang melawan, mereka pasti kalah,” kata Andi Mania dengan polosnya.
Petani itu tertawa getir. “Mudah kau bicara. Kau putri raja. Hidupmu nyaman di istana.”
Percakapan itu meresap dalam hati Andi Mania. Ia bukan marah, tetapi ia tersadar bahwa ia memiliki hak istimewa yang tidak dimiliki rakyat biasa. Dan hak istimewa itu, pikirnya, harus digunakan untuk membela mereka, bukan untuk melindungi diri sendiri.
Sejak saat itu, Andi Mania mulai sering "menyusup" ke tengah rakyat. Ia belajar tentang keluhan mereka, tentang mimpi mereka, tentang kemarahan yang tertahan di dada. Diam-diam, ia mulai mengorganisir para pemuda dan pemudi untuk membentuk kelompok diskusi rahasia. Mereka membicarakan tentang kemerdekaan – sebuah kata yang sangat berbahaya untuk diucapkan di depan Belanda.
Ayahnya, Laju Kanna Doro, mengetahui kegiatan putrinya. Ia tidak marah. Ia hanya berkata: “Hati-hati, Nak. Jangan terlalu terang-terangan. Belanda punya banyak mata di mana-mana.”
“Aku tahu, Ayah. Tapi aku tidak bisa diam. Rakyat menderita.”
Laju Kanna Doro menghela napas panjang. Ia tahu bahwa putrinya memiliki api yang sama seperti dirinya – api yang tidak bisa dipadamkan. “Lakukanlah apa yang kau yakini,” katanya akhirnya. “Tapi ingat, apapun yang terjadi, keluarga ini akan selalu melindungimu.”
Perkataan ayahnya itulah yang kemudian menjadi fondasi utama bagi perjuangan Andi Mania di masa depan. Ia tidak sendirian. Ia memiliki keluarga besar yang mendukung. Meskipun kelak ia harus berpisah dengan suaminya karena perbedaan prinsip, ia tetap memiliki ayah, saudara, dan putranya yang setia mendampingi.
Ketika memasuki masa remaja akhir, Andi Mania sudah tidak lagi bisa dibendung. Ia sudah mantap. Ia akan berjuang. Ia akan melawan. Dan ia tidak akan mundur, apapun risikonya.
Dunia belum tahu bahwa gadis tomboy yang dipanggil Karepu ini akan menjadi salah satu pahlawan perempuan terhebat yang pernah dimiliki Indonesia.
Bersambung ke Bab IV: PERNIKAHAN DAN JALAN MENUJU KEPEMIMPINAN
BAB IV: PERNIKAHAN DAN JALAN MENUJU KEPEMIMPINAN
awal bacaan IBU AGUNG ANDI DEPU, PATRIOT PERKASA DARI MANDAR

Komentar
Posting Komentar