BAB II: LELUHUR DAN KELUARGA IBU AGUNG ANDI DEPU

 


A. Silsilah dari Imanyambungi hingga Laju Kanna Doro – Darah Biru yang Mengalir di Sungai Mandar

Setiap kisah besar selalu berawal dari akar yang dalam. Demikian pula dengan Ibu Agung Andi Depu. Ia bukan sekadar perempuan pemberani yang lahir begitu saja. Ia adalah pewaris dari ratusan tahun tradisi, pergumulan kekuasaan, dan percikan darah kepahlawanan yang mengalir dari leluhurnya.

Untuk memahami sosoknya, kita harus menyusuri waktu mundur ke abad ke-14, ketika Kerajaan Balanipa pertama kali berdiri.

Cerita dimulai dari seorang tokoh bernama Imanyambungi. Ia adalah pemimpin pertama di wilayah Lepuang Napo, sebuah bukit yang konon katanya dikelilingi kabut mistis. Imanyambungi bukanlah raja dalam pengertian modern. Ia lebih tepat disebut Tomakaka – kepala wilayah yang dihormati karena keberanian dan kebijaksanaannya.

Saking disegani dan dicintai rakyatnya, ketika Imanyambungi meninggal dunia, terjadi sesuatu yang mengerikan sekaligus mengharukan. Konon, sekitar seratus orang pengawal setianya rela mengikuti tuannya ke dalam liang lahat. Mereka memilih mati bersama daripada hidup tanpa pemimpin yang mereka cintai. Jenazah Imanyambungi kemudian dimakamkan di sebuah bukit, dan sejak saat itu ia diberi gelar anumerta: Todilaling – orang yang meninggal dalam kemuliaan.

Imanyambungi memiliki seorang putra bernama Billa Billami. Billa Billamilah yang kemudian mengubah struktur pemerintahan dari sekadar Tomakaka menjadi Mara’dia (raja) yang sesungguhnya. Ia juga yang memprakarsai pemindahan pusat pemerintahan ke wilayah yang disebut Balanipa – gabungan kata Bala (benteng) dan Nipa (sejenis pohon yang tumbuh di rawa). Nama itu melekat hingga kini.

Billa Billami bukan hanya pendiri kerajaan. Ia juga pemersatu. Ia mengundang tujuh kerajaan di muara sungai (Pitu Ba’bana Binanga) dan tujuh kerajaan di hulu sungai (Pitu Ulunna Salu) untuk mengikat janji setia di Tammajarra. Ia kemudian bergelar Tomepayung – orang yang dibesarkan – dan menjadi Arayang (Maharaja) pertama yang memimpin konfederasi. Jabatan ini kemudian diwariskan secara bergilir, tetapi keluarga Billa Billami tetap memegang peran sentral sebagai Ama (ketua).

Dari Billa Billami, silsilah terus berlanjut. Raja berganti raja. Ada yang memerintah puluhan tahun, ada pula yang hanya beberapa bulan karena gugur dalam peperangan. Kerajaan Balanipa tumbuh menjadi kerajaan yang disegani. Namun, seperti semua dinasti, ia juga diwarnai intrik, perebutan kekuasaan, dan kadang-kadang tragedi.

Satu nama yang penting dalam silsilah ini adalah Calla Batu Puteh, yang bergelar Pakkalobang. Gelar itu berarti "pemilik banyak tambak" – bisa diartikan sebagai orang kaya raya. Calla Batu Puteh adalah Arayang Balanipa ke-36. Ia memiliki seorang putra bernama Ikambo yang kemudian bergelar Tomate di Lekopa’dis (orang yang wafat di Lekopa’dis). Ikambo inilah yang menjadi kakek buyut dari Ibu Agung.

Dari Ikambo, garis keturunan berlanjut ke Inalong, yang bergelar Tomate di Tinambung – orang yang wafat di Tinambung. Inalong adalah pria yang sangat dihormati. Ia memiliki tanah perkebunan dan sawah yang luas, warisan dari leluhurnya. Ia menikah beberapa kali.

Istri pertama Inalong bernama Ikaine, seorang wanita keturunan bangsawan Pamboang yang darahnya bercampur dengan darah Jawa dari Raden Suryo Dilogo – seorang penganjur agama Islam pertama di Pamboang yang datang dari Kerajaan Mataram (Pacitan, Jawa Timur). Dari pernikahan ini lahirlah Laju Kanna Doro – ayah kandung Ibu Agung.

Laju Kanna Doro inilah yang kelak menjadi Arayang Balanipa ke-50. Ia lahir pada tahun 1882. Sejak muda, ia sudah menunjukkan bakat kepemimpinan. Ia diangkat menjadi Mara’dia Alu (raja di wilayah Alu) dan merangkap sebagai Mara’dia Batulaya (raja di wilayah pegunungan Batulaya) pada masa pemerintahan Arayang ke-45, 47, dan 49 yang bernama Imandawari bergelar Tomelloli.

Namun, Laju Kanna Doro tidak seperti kebanyakan raja yang sibuk dengan urusan istana. Ia lebih suka bekerja di ladang dan sawah. Ia adalah seorang juragan tanah – mungkin orang terkaya di Mandar pada zamannya. Sawah dan kebunnya tersebar di seluruh wilayah kerajaan, dari tepi pantai hingga lereng bukit.

Tetapi kekayaannya tidak membuatnya sombong. Sebaliknya, ia dikenal sebagai raja yang arief dan bijaksana. Ia sering duduk bersama rakyatnya di pematang sawah, mendengarkan keluhan mereka, lalu mencari solusi dengan kepala dingin. Rakyat mencintainya bukan karena takut, tetapi karena hormat.

Laju Kanna Doro juga memiliki keistimewaan lain yang membuatnya hampir menjadi legenda hidup. Konon, jika kulitnya terluka oleh senjata, luka itu akan pulih kembali seperti sedia kala hanya dengan sekali usapan tangannya – selama luka itu belum terkena debu atau tanah. Karena itu, ia dijuluki Manu’ Bulu siruana Batulaya – ayam jantan dari Batulaya yang tidak terkalahkan.

Namun, takdir berkata lain. Suatu hari, Laju Kanna Doro memutuskan untuk menunaikan rukun Islam yang kelima: naik haji ke Mekkah. Ia berangkat dengan rombongan yang cukup besar. Setelah menyelesaikan semua rukun haji, ketika hendak kembali ke Mandar, ia jatuh sakit di Jeddah. Tak lama kemudian, ia meninggal dunia.

Ia dimakamkan di Jeddah. Rakyat Mandar yang mendengar kabar itu menangis. Mereka kemudian memberi gelar anumerta: Tomottong di Ju’da – orang yang meninggal dan dimakamkan di Jeddah.

Kematian Laju Kanna Doro meninggalkan kekosongan kekuasaan. Siapa yang akan menggantikannya? Putrinya, Andi Mania (yang kelak menjadi Ibu Agung), masih terlalu muda dan – maaf – seorang perempuan. Pada zaman itu, belum pernah ada perempuan yang menjadi Arayang di Balanipa.

Maka, lembaga adat Appe’ Banua Kaiyyang mengangkat menantu Laju Kanna Doro, yaitu Andi Baso Pawiseang, sebagai Arayang ke-51. Suami dari Andi Mania. Seorang pria tampan, santun, dan berasal dari keluarga bangsawan Bugis-Mandar.

Dan di sinilah konflik mulai merambat.


B. Laju Kanna Doro – Ayahanda yang Bijaksana dan Sakti

Sebelum kita melangkah lebih jauh ke konflik antara Ibu Agung dan suaminya, ada baiknya kita berhenti sejenak untuk lebih mengenal sosok Laju Kanna Doro. Karena dari dialah Andi Mania mewarisi keberanian, kecerdasan, dan jiwa kerakyatan.

Laju Kanna Doro adalah anak dari Inalong dan Ikaine. Dari pihak ayah, ia mewarisi sifat kepemimpinan. Dari pihak ibu, ia mewarisi darah pemberani dari leluhur Jawa yang datang ke Mandar untuk menyebarkan Islam.

Masa kecil Laju Kanna Doro diwarnai dengan cerita-cerita perang. Kakeknya, Ikambo, adalah seorang panglima yang ikut bertempur melawan pasukan Bone dan Belanda. Bibinya, Iyuppa, dikenal sebagai wanita sakti yang kebal senjata. Bahkan ibunya sendiri, Ikaine, adalah putri dari Puangnga Ituppa, keturunan Lissi Jawa – seorang putri Pamboang yang ayahnya adalah Raden Suryo Dilogo dari Mataram.

Jadi, darah kepahlawanan benar-benar mengalir kuat dalam diri Laju Kanna Doro.

Ia tumbuh menjadi pemuda yang cerdas dan tekun beribadah. Pendidikan agamanya sangat baik. Ia juga menguasai ilmu bela diri dan strategi perang. Namun, yang paling menarik, ia tidak pernah merasa bahwa menjadi raja berarti harus hidup mewah. Ia lebih memilih hidup sederhana, bekerja seperti rakyat biasa.

Suatu ketika, seorang pejabat Belanda yang baru bertugas di Mandar datang berkunjung ke istana. Ia terkejut melihat sang raja sedang berada di sawah, mencangkul bersama para petani. Pejabat itu kemudian melapor kepada atasan di Makassar bahwa "Raja Balanipa adalah raja yang aneh, ia lebih suka kotor dengan lumpur daripada duduk di singgasana."

Laporan itu tidak salah. Tapi justru itulah yang membuat Laju Kanna Doro sangat dicintai. Rakyatnya tahu bahwa raja mereka tidak hanya memerintah dari jauh, tetapi juga merasakan apa yang mereka rasakan.

Selain bijaksana, Laju Kanna Doro juga dikenal memiliki kesaktian yang membuat musuh ciut nyali. Konon, dalam suatu pertempuran melawan perompak yang merampok kapal dagang di perairan Mandar, Laju Kanna Doro maju sendirian dengan hanya membawa sebilah keris pusaka. Para perompak yang berjumlah puluhan orang itu melarikan diri hanya dengan melihat tatapan matanya. Mereka mengaku melihat api menyala-nyala di sekitar tubuh sang raja.

Apakah itu benar? Entahlah. Tetapi cerita seperti ini bukanlah hal yang aneh dalam tradisi lisan Mandar. Mereka percaya bahwa seorang raja sejati tidak hanya memiliki kekuatan fisik, tetapi juga tuah – semacam energi spiritual yang membuatnya disegani.

Yang lebih penting dari semua cerita sakti itu adalah bahwa Laju Kanna Doro mewariskan sesuatu yang jauh lebih berharga kepada anak-anaknya: keberanian untuk tidak tunduk pada penjajah.

Ia sendiri, meskipun bekerja sama dengan Belanda dalam urusan administrasi (karena terpaksa), tidak pernah sepenuhnya loyal. Ia selalu mencari celah untuk melindungi rakyatnya dari kebijakan-kebijakan Belanda yang memberatkan, seperti kerja rodi dan pajak yang tinggi.

Sikap inilah yang kelak diwarisi oleh putri bungsu kesayangannya, Andi Mania – Ibu Agung Andi Depu.


C. Kekerabatan dan Jalinan Keluarga (Passitambengan) – Ketika Pernikahan Bukan Sekadar Dua Insan

Dalam budaya Mandar, ada istilah khusus untuk menggambarkan jalinan kekerabatan yang rumit: Passitambengan. Kata ini berasal dari akar kata sitambeng yang berarti "terhubung" atau "berangkai". Passitambengan adalah jaringan keluarga yang terbentuk dari perkawinan silang antar kerabat – kadang-kadang antara sepupu, paman dengan keponakan, bahkan antara bibi dengan keponakan.

Jangan terkejut. Di era pra-modern, pernikahan antar kerabat dekat bukanlah hal yang tabu di banyak kebudayaan, termasuk di Mandar. Tujuannya adalah untuk mempertahankan harta, kekuasaan, dan status kebangsawanan dalam lingkaran keluarga inti. Ini semacam strategi agar kekayaan dan tahta tidak jatuh ke tangan orang luar.

Silsilah Ibu Agung Andi Depu adalah contoh sempurna dari Passitambengan.

Coba kita lihat: Ayahnya, Laju Kanna Doro, menikah dengan beberapa wanita. Salah satu istrinya (istri ketiga) bernama Samaturu – yang juga masih kerabatnya sendiri. Samaturu adalah cucu dari Mappatunru, saudara dari Iyuppa (nenek Laju Kanna Doro). Jadi, Laju Kanna Doro menikahi sepupunya sendiri. Dari pernikahan dengan Samaturu inilah lahir H.A. Depu (Ibu Agung) dan keempat saudara laki-lakinya.

Lalu, Ibu Agung sendiri kemudian dinikahkan dengan Andi Baso Pawiseang – yang juga masih kerabatnya. Andi Baso Pawiseang adalah putra dari Pammase Pallabuang, salah satu dari Jakka Tallunna Balanipa (tiga satria perkasa dari Balanipa). Pammase adalah cucu dari Ibaso Boroa (Tokape), Arayang Balanipa ke-46. Ibaso Boroa masih keturunan langsung dari Imanyambungi. Jadi, Andi Baso Pawiseang dan Ibu Agung masih sepupu jauh – tetapi tetap satu rumpun.

Begitu pula dengan pernikahan lainnya. Hampir semua bangsawan di Mandar terhubung satu sama lain melalui benang merah Passitambengan. Ini mengakibatkan bahwa keluarga kerajaan di Mandar sebenarnya adalah satu keluarga besar yang saling terkait. Konflik di antara mereka seringkali bukan sekadar konflik politik, tetapi juga konflik keluarga – yang biasanya lebih berdarah.

Bagi Ibu Agung, Passitambengan ini adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, ia memiliki jaringan keluarga yang luas yang bisa dimobilisasi untuk mendukung perjuangannya. Di sisi lain, ia juga memiliki banyak saudara dan sepupu yang justru berada di kubu lawan – yaitu memilih bekerja sama dengan Belanda.

Dalam perjuangan melawan Belanda nanti, Ibu Agung akan dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa musuhnya bukan hanya orang asing, tetapi juga keluarganya sendiri. Beberapa pamannya, sepupunya, bahkan iparnya, memilih menjadi Balanda memmata malotong – pribumi yang menjadi mata-mata Belanda.

Namun, Ibu Agung tidak gentar. Ia tahu bahwa darah yang mengalir di tubuhnya adalah darah para pemberani. Ia tidak akan mengkhianati leluhurnya hanya karena tawaran kekuasaan atau uang dari Belanda.

Dan di sinilah letak ironi: Passitambengan yang rumit justru memperkuat tekadnya. Ia tidak mau menjadi bagian dari sistem yang membuat bangsanya sengsara.


D. Andi Baso Pawiseang – Suami yang Berbeda Pilihan Perjuangan

Setiap perempuan hebat biasanya memiliki cerita rumit dengan laki-laki di hidupnya. Ibu Agung Andi Depu tidak terkecuali.

Andi Baso Pawiseang adalah suaminya. Ia adalah pria tampan, berpendidikan, dan berasal dari keluarga terpandang. Ayahnya, Pammase Pallabuang, adalah salah satu dari Jakka Tallunna Balanipa – tiga satria yang sangat disegani di Mandar. Ibunya, Andi Kalloaya, adalah bangsawan Bugis dari Palanro.

Andi Baso Pawiseang menikahi Ibu Agung bukan karena cinta, tetapi karena dijodohkan. Saat itu, Ibu Agung masih bernama Sugiranna Andi Sura, berusia 15 tahun. Andi Baso Pawiseang beberapa tahun lebih tua. Mereka tidak pernah bertemu sebelumnya. Namun, seperti kebanyakan perjodohan bangsawan pada masa itu, mereka menerima keputusan orang tua dengan pasrah.

Pada awalnya, rumah tangga mereka berjalan harmonis. Andi Baso Pawiseang adalah suami yang baik. Ia tidak pernah kasar atau semena-mena. Ibu Agung pun berusaha menjadi istri yang patuh. Mereka dikaruniai seorang putra semata wayang, Bau Baso Parenregi Depu (dipanggil Yendeng), yang lahir pada tahun 1925.

Masalah mulai muncul ketika Laju Kanna Doro (ayah Ibu Agung) wafat di Jeddah. Andi Baso Pawiseang diangkat menjadi Arayang Balanipa ke-51 menggantikan mertuanya. Sebagai raja, ia harus berhadapan dengan Belanda yang semakin agresif.

Di sinilah perbedaan prinsip mereka menjadi jelas.

Andi Baso Pawiseang adalah seorang realis. Ia melihat bahwa kekuatan Belanda terlalu besar untuk dilawan. Senjata mereka lebih modern. Pasukan mereka terlatih. Logistik mereka berlimpah. Sementara rakyat Mandar hanya memiliki bambu runcing, beberapa senjata rampasan dari Jepang, dan semangat yang membara.

Karena itu, Andi Baso Pawiseang memilih untuk bekerja sama dengan Belanda – tentu saja dengan tetap berusaha melindungi rakyatnya sebisa mungkin. Ia menerima tawaran Belanda untuk menjadi kepala Swapraja (pemerintahan otonom di bawah Belanda). Ia juga membujuk para kepala distrik di Balanipa untuk mengikuti jejaknya.

Sebelas dari empat belas kepala distrik setuju.

Namun, Ibu Agung memiliki pandangan berbeda. Baginya, bekerja sama dengan Belanda sama saja dengan mengkhianati perjuangan leluhur. Ia ingat betul bagaimana pamannya, Kaco Puang Pattolawali, gugur ditembak Belanda. Ia ingat bagaimana pamannya yang lain, Calo Ammana Wewang, dibuang ke Pulau Belitung. Ia juga ingat bagaimana Belanda mengeksploitasi rakyat dengan kerja rodi dan pajak yang mencekik.

“Lebih baik mati merdeka daripada hidup dijajah,” kata Ibu Agung suatu malam di istana.

“Tapi kau tidak bisa melawan mereka dengan kekuatan yang tidak seimbang,” jawab Andi Baso Pawiseang. “Aku tidak mau rakyatku menjadi korban sia-sia.”

“Jadi kau lebih rela mereka menjadi budak?”

“Aku lebih rela mereka hidup.”

Perdebatan itu terus berulang. Malam demi malam. Minggu demi minggu. Tidak ada titik temu.

Ibu Agung akhirnya mengambil keputusan yang sangat berat. Pada bulan Desember 1945, ia memilih keluar dari istana. Ia meninggalkan suaminya, meninggalkan kemewahan, meninggalkan kehidupan yang nyaman. Ia memilih hidup bersama rakyat, di dalam hutan, di pinggir sungai, di gua-gua kecil – bergerilya melawan Belanda.

Perceraian mereka tidak diumumkan secara besar-besaran. Tidak ada pesta adat, tidak ada upacara perpisahan. Ibu Agung hanya pergi, membawa putranya, Yendeng, beberapa abdi setia, dan sebatang bendera Merah Putih yang ia jahit sendiri.

Ia kemudian menetap di istana tua milik ayahnya, yang sudah tidak terawat. Rumah itu dijadikannya markas perjuangan. Dari sanalah ia memimpin Kelasykaran Kris Muda Mandar.

Apakah Ibu Agung membenci mantan suaminya? Tidak. Justru sebaliknya.

Dalam setiap kesempatan, ia selalu mengatakan bahwa Andi Baso Pawiseang tetap memiliki andil besar dalam perjuangan kemerdekaan. Misalnya, ketika ada pejuang yang tertangkap Belanda, Andi Baso Pawiseang sering turun tangan membebaskan mereka dengan alasan “mereka adalah rakyatku yang tidak tahu apa-apa.” Ia menjadi jaminan bagi para pejuang itu.

Bahkan, beberapa kali Ibu Agung menyelamatkan nyawa mantan suaminya. Ketika ada rencana dari pejuang radikal untuk membunuh Andi Baso Pawiseang karena dianggap pengkhianat, Ibu Agung diam-diam mengirim utusan untuk memberitahu mantan suaminya agar segera bersembunyi.

Para pejuang awalnya marah. Mereka mengira Ibu Agung masih memiliki perasaan kepada Andi Baso Pawiseang. Namun Ibu Agung menjelaskan dengan tenang:

“Bukan karena cinta atau kasihan. Dia masih berguna bagi perjuangan kita. Selama dia menjadi jembatan informasi antara kita dan Belanda, kita akan selalu mendapat kabar lebih dulu.”

Memang benar. Beberapa kali penyelamatan nyawa Ibu Agung dari kejaran Belanda terjadi berkat informasi yang disampaikan Andi Baso Pawiseang secara diam-diam.

Inilah kompleksitas hubungan mereka. Bukan musuh, tetapi juga bukan sekutu. Dua insan yang pernah hidup bersama dalam satu istana, kini berada di dua sisi yang berseberangan – tetapi tetap saling menghormati dan, dalam diam, saling melindungi.

Setelah Indonesia merdeka, Ibu Agung dan Andi Baso Pawiseang tidak pernah lagi bertemu. Mereka hidup terpisah hingga akhir hayat. Namun, ketika Ibu Agung wafat pada tahun 1985, salah satu nama yang paling sering disebut dalam doa-doanya adalah nama mantan suaminya.

Cinta tidak selalu berarti bersama. Kadang-kadang, cinta adalah membiarkan orang yang kita cintai berjalan di jalannya sendiri, sementara kita tetap setia pada prinsip kita.

Itulah pelajaran terbesar dari pernikahan Ibu Agung Andi Depu dengan Andi Baso Pawiseang.


Bersambung ke Bab III: MASA KECIL DAN REMAJA – DARI KAREPU MENJADI DEPU

BAB III: MASA KECIL DAN REMAJA – DARI KAREPU MENJADI DEPU


awal bacaan IBU AGUNG ANDI DEPU, PATRIOT PERKASA DARI MANDAR

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAMUJU MISTIK: 10 KISAH GAIB YANG MENGGENTARKAN MAMUJU

PEMERINTAH DAERAH DI ERA EFISIENSI

BAB 11: KERANGKA HUKUM DAN KEBIJAKAN PENDUKUNG