Bab 8 Balanipa – Takhta Baru di Muara Sungai Mandar

 



Setelah pedang disarungkan dan lawan-lawan tunduk, Imanyambungi menghadapi pertanyaan yang lebih besar: apa arti kemenangan jika tidak diikuti dengan tatanan yang bertahan lama? Ia tidak ingin menjadi raja yang hanya dikenang karena pertempuran. Ia ingin membangun sesuatu yang akan hidup lebih lama dari dirinya. Maka ia memilih untuk memindahkan pusat kekuasaan, mengumpulkan para ahli, dan menerima gelar yang mengubah namanya menjadi legenda.


Pemindahan Pusat Pemerintahan dari Napo ke Tangga-Tangga

Napo adalah kampung halaman Imanyambungi. Di sanalah ia dilahirkan, di sanalah ia bermimpi menjadi nakhoda, dan di sanalah tragedi sabung ayam mengubah hidupnya selamanya. Tapi Napo juga memiliki kelemahan strategis. Pelabuhannya dangkal. Perahu-perahu besar tidak bisa merapat dengan mudah. Lahan di sekitarnya terbatas untuk dikembangkan menjadi pusat pemerintahan yang kompleks.

Imanyambungi mengamati dengan saksama garis pantai Mandar. Ia mencari tempat yang tidak hanya aman dari serangan laut, tetapi juga mudah diakses dari pedalaman. Pilihannya jatuh pada sebuah kawasan di muara Sungai Mandar yang disebut Tangga-Tangga (sekarang termasuk wilayah Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar).

Mengapa Tangga-Tangga?

Pertama, lokasinya di muara sungai memberikan dua keuntungan sekaligus: menjadi pintu masuk dari laut dan gerbang menuju pedalaman. Perahu dagang dari Gowa, Jawa, bahkan dari Malaka bisa berlabuh dengan aman. Sementara itu, hasil hutan dan pertanian dari daerah hulu bisa diangkut melalui sungai.

Kedua, tanah di sekitar Tangga-Tangga lebih luas dan subur dibandingkan Napo. Ini penting untuk mendukung pertumbuhan penduduk serta menyediakan logistik bagi pasukan dan pegawai istana.

Ketiga, secara defensif, muara sungai lebih mudah dijaga. Imanyambungi bisa menempatkan armada kecil di titik-titik strategis untuk mencegah serangan mendadak dari laut. Sementara dari darat, medannya bergelombang sehingga musuh yang datang akan mudah terdeteksi.

Pemindahan pusat pemerintahan bukanlah perkara mudah. Banyak tetua adat di Napo merasa keberatan. Napo memiliki nilai sejarah dan emosional yang mendalam. Beberapa bahkan menuduh Imanyambungi malu dengan kampung halamannya sendiri.

Imanyambungi memanggil mereka dalam suatu pertemuan besar. Ia tidak memerintah, ia menjelaskan.

“Napo adalah ibuku. Aku tidak akan pernah melupakannya. Tapi seekor burung yang sudah dewasa tidak bisa terus tinggal di sarang yang sama. Ia harus terbang mencari ranting yang lebih kuat untuk membangun sarang baru bagi anak-anaknya. Tangga-Tangga akan menjadi sarang baru kita. Napo akan tetap menjadi tempat suci, tempat kita mengenang asal-usul.”

Dengan bijak, ia memerintahkan pembangunan sebuah tanda peringatan di Napo – sebuah batu besar yang diukir dengan silsilah keluarganya. Batu itu menjadi simbol bahwa Napo tidak ditinggalkan, tetapi dihormati sebagai akar peradaban.

Pembangunan di Tangga-Tangga dimulai. Puluhan rumah panggung didirikan. Sebuah pelabuhan sederhana dibangun dengan dermaga dari kayu besi. Jalan setapak menghubungkan pelabuhan ke pusat pemerintahan. Dan di tengah-tengah kompleks istana yang masih sederhana, Imanyambungi menyisakan satu lahan kosong untuk masjid – karena ia sadar bahwa agama Islam (yang mulai masuk ke Mandar pada masa itu atau sedikit sebelumnya) akan menjadi perekat spiritual yang kuat.


Pembentukan Sakka Manarang: Seribu Orang dengan Berbagai Keterampilan

Imanyambungi tidak pernah melupakan pelajaran dari Gowa: kerajaan besar tidak dibangun hanya oleh satu orang atau satu kelompok. Ia membutuhkan sistem, dan sistem membutuhkan orang-orang terampil di setiap bidang.

Dalam lontarak disebutkan bahwa ia membentuk sebuah lembaga yang disebut Sakka Manarang. Secara harfiah, sakka berarti “yang memiliki kemampuan”, dan manarang berarti “mengetahui segala sesuatu”. Jadi Sakka Manarang adalah kumpulan para ahli yang memiliki keahlian khusus, dan jumlah mereka mencapai seribu orang (tau sallessorang).

Siapa saja mereka?

  1. Pembuat perahu (pande paharu) – Tidak kurang dari lima puluh orang pandai kayu yang khusus menangani pembuatan sandeq, palari, dan perahu dagang. Mereka tinggal di sekitar pesisir, dekat dengan galangan kapal.

  2. Pemintal tali (pande talli) – Tali adalah urat nadi perahu. Tanpa tali yang kuat, layar tidak bisa dikembangkan dan perahu tidak bisa berlabuh. Para pemintal tali ini menggunakan serat kayu, rotan, dan sabut kelapa untuk menghasilkan tali yang elastis tapi tidak mudah putus.

  3. Pembuat layar (pande biseang) – Layar perahu Mandar terkenal karena ketahanannya terhadap angin kencang. Para pembuat layar ini kebanyakan perempuan, karena mereka memiliki keahlian menenun yang diwariskan turun-temurun.

  4. Tukang kayu dan pandai besi – Mereka bertanggung jawab membangun rumah-rumah, istana, benteng sederhana, serta membuat senjata seperti keris, tombak, dan parang.

  5. Pandai emas dan perak – Imanyambungi sadar bahwa perhiasan bukan hanya soal estetika, tetapi juga simbol status dan legitimasi. Ia memerintahkan pembuatan mahkota sederhana, gelang, dan kalung untuk para pejabat kerajaan.

  6. Pengukir – Seni ukir khas Mandar mulai berkembang pada masa ini. Motif-motif geometris dan tumbuhan menghiasi dinding istana, perahu, bahkan gagang senjata.

  7. Pasukan khusus – Ada pasukan pemanah, pasukan tombak, pasukan penyumpit beracun, dan pasukan berani mati (pasukan sallessorang) yang bersedia bertempur sampai titik darah penghabisan.

  8. Petugas istana – Pengurus rumah tangga kerajaan, juru masak, pengambil air, pengumpul kayu bakar, dan pelayan-pelayan lainnya.

  9. Sawannar (syahbandar) – Pejabat yang bertugas mengatur lalu lintas pelabuhan, mencatat perahu yang masuk dan keluar, serta memungut pajak yang telah ditetapkan.

Masing-masing kelompok memiliki pemimpin yang bertanggung jawab langsung kepada Imanyambungi. Mereka tidak hanya bekerja, tetapi juga mendidik generasi muda untuk melanjutkan keahlian mereka. Dengan cara ini, Imanyambungi memastikan bahwa kemajuan tidak berhenti ketika ia meninggal kelak.

Pembentukan Sakka Manarang ini adalah langkah revolusioner. Di zamannya, tidak banyak kerajaan di Nusantara yang memiliki sistem keahlian terstruktur seperti ini. Biasanya, para pandai hanya bekerja secara independen, tanpa koordinasi pusat. Imanyambungi mengubah itu. Ia menciptakan birokrasi keterampilan yang menjadi tulang punggung Kerajaan Balanipa.


Pengangkatan sebagai Raja Pertama Balanipa dengan Gelar Todilaling

Setelah Tangga-Tangga berdiri sebagai pusat pemerintahan yang baru, dan Sakka Manarang mulai berfungsi, tiba saatnya bagi para Tomakaka dan tetua adat untuk mengambil keputusan besar: mengangkat Imanyambungi sebagai raja.

Bukan keputusan yang mudah. Beberapa Tomakaka masih ragu untuk melepaskan tradisi bahwa setiap negeri berdiri sendiri. Namun mereka juga melihat bukti nyata: di bawah kepemimpinan Imanyambungi, perdagangan meningkat, bajak laut berkurang, dan konflik antar banua hampir tidak terdengar lagi.

Maka diadakanlah sidang adat besar di Tangga-Tangga. Hadir wakil-wakil dari negeri-negeri yang telah bergabung dalam Appeq Banua Kaiyyang serta utusan dari negeri-negeri yang sebelumnya berseberangan.

Setelah bermusyawarah berhari-hari, tercapai mufakat. Seorang tetua tertua berdiri dan membacakan keputusan:

“Kami, para Tomakaka dan tetua adat dari seluruh negeri di Mandar, dengan ini mengangkat Imanyambungi, putra Puang di Gandang dari Napo, sebagai pemimpin tertinggi atas negeri-negeri yang bersatu di bawah panji Balanipa. Ia akan memerintah dengan adil, melindungi yang lemah, dan menjaga keutuhan tanah Mandar. Gelar yang kami sematkan kepadanya adalah Todilaling.”

Apa arti Todilaling? Dalam bahasa Mandar kuno, todi berarti “yang tidak pernah lengah” atau “yang selalu terjaga”, dan laling berarti “tidur”. Jadi Todilaling adalah “seseorang yang tidak pernah tidur nyenyak demi rakyatnya” – raja yang selalu waspada, tidak terlena oleh kekuasaan, dan senantiasa memikirkan keselamatan negerinya.

Gelar ini sangat tepat untuk Imanyambungi. Dalam pidato pengangkatannya, ia berkata:

“Aku tidak akan pernah melupakan malam-malam di perahu, ketika ombak hampir menenggelamkanku, dan ketika aku hanya punya bintang sebagai petunjuk. Sebagai Todilaling, aku berjanji: mataku akan terus terbuka untuk melihat penderitaan rakyatku, telingaku akan terus mendengar keluhan mereka, dan tanganku tidak akan pernah lelah membela kebenaran.”

Tidak ada upacara megah seperti yang biasa dilakukan di kerajaan-kerajaan Jawa. Tidak ada sesaji berlimpah atau tarian istana yang rumit. Yang ada adalah sumpah di hadapan rakyat dan para Tomakaka, di tepi pantai Tangga-Tangga, dengan ombak Selat Makassar sebagai saksi.

Setelah pengangkatan itu, Imanyambungi – yang kini bergelar Todilaling – mengeluarkan sejumlah kebijakan awal:

  1. Penetapan hukum dasar (ada’ kaiyyang) yang mengatur hubungan antara raja, para Tomakaka, dan rakyat. Raja tidak bisa bertindak sewenang-wenang; ia harus berkonsultasi dengan dewan adat.

  2. Sistem pajak pelabuhan yang adil. Setiap perahu asing yang berlabuh dikenakan pajak ringan, sementara perahu Mandar dibebaskan. Kebijakan ini mendorong pertumbuhan ekonomi.

  3. Larangan perang antar banua tanpa persetujuan raja. Jika terjadi sengketa, harus diselesaikan melalui perundingan di istana.

  4. Pembangunan pos-pos pengawas di sepanjang pantai untuk mendeteksi dini serangan bajak laut atau invasi dari kerajaan lain.

Dengan kebijakan-kebijakan ini, Balanipa mulai dikenal sebagai kerajaan yang tertata, berwibawa, namun tetap demokratis dalam konteks tradisi Mandar.


Antara Gelar dan Kenyataan

Menjadi Todilaling tidak membuat Imanyambungi berubah. Ia tetap tidur di kamar sederhana, tetap makan bersama prajuritnya, dan tetap turun ke pelabuhan untuk menyapa para nakhoda asing. Ketika ada rakyat yang mengadu, ia tidak menyuruh pegawai istana untuk mendengarkan – ia sendiri yang mendatangi mereka.

Dalam sebuah kesempatan, seorang tua dari pegunungan datang ke istana dengan kaki bengkak karena berjalan jauh. Imanyambungi memerintahkan agar lelaki itu diistirahatkan di ruang tamu istana – sebuah kehormatan yang jarang diberikan. Lelaki tua itu menangis.

“Tidak pernah dalam hidupku aku diperlakukan seperti ini oleh seorang raja,” katanya.

Imanyambungi menjawab, “Karena aku bukan raja yang duduk di atas takhta tinggi. Aku hanya nakhoda yang kebetulan diberi kepercayaan memimpin perahu besar bernama Mandar.”


Warisan yang Mulai Terlihat

Kerajaan Balanipa di bawah Todilaling tidak sebesar Gowa atau Bone. Wilayahnya tidak melampaui semenanjung barat Sulawesi. Namun kualitas kepemimpinannya melampaui ukuran geografis. Para pedagang dari jauh lebih memilih berlabuh di Tangga-Tangga karena mereka tahu bahwa di sini, barang mereka aman, dan hukum ditegakkan tanpa pilih kasih.

Imanyambungi – Todilaling – berhasil melakukan apa yang tidak pernah dilakukan oleh siapa pun sebelumnya di Mandar: menyatukan negeri-negeri yang terpecah dalam satu ikatan politik yang dihormati. Dan ia melakukannya bukan dengan memusnahkan perbedaan, tetapi dengan merangkul keragaman ke dalam satu sistem yang adil.

Di bab berikutnya, kita akan melihat bagaimana konsep kepemimpinan Todilaling diwariskan kepada generasi sesudahnya, bagaimana ia mempersiapkan suksesi, dan bagaimana pesan-pesan terakhirnya sebelum mangkat menjadi pedoman bagi raja-raja Mandar berikutnya.

Bab 9 Konsep Kepemimpinan Mandar


awal bacaan TODILALING Kisah Imanyambungi, Pengasingan yang Menjadi Takhta

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAMUJU MISTIK: 10 KISAH GAIB YANG MENGGENTARKAN MAMUJU

PEMERINTAH DAERAH DI ERA EFISIENSI

BAB 11: KERANGKA HUKUM DAN KEBIJAKAN PENDUKUNG