Bab 5 Berubahnya Pengasingan Menjadi Sekolah Kehidupan
Menjadi Kepercayaan Karaeng Gowa
Tidak banyak pemuda buangan yang berhasil menembus tembok istana asing. Apalagi mencapai posisi sebagai kepercayaan seorang Karaeng – bangsawan tertinggi di Gowa. Namun Imanyambungi melakukannya bukan dengan tipu daya, melainkan dengan kesetiaan dan kecerdasan.
Sejak tiba di Gowa, ia ditempatkan di bawah pengawasan seorang Karaeng yang dikenal cerdik dan keras, bernama Karaeng Tunijallo’ ri Tallo (atau dalam beberapa sumber disebut sebagai pejabat istana yang berpengaruh). Awalnya, ia hanya menjadi penjaga gudang senjata dan pembantu awak kapal. Tapi suatu peristiwa mengubah segalanya.
Suatu malam, terjadi percobaan penyusupan ke gudang mesiu istana. Para penjaga panik. Tapi Imanyambungi, yang saat itu sedang bertugas, tidak kehilangan akal. Dengan diam-diam, ia membunyikan lonceng peringatan dan memadamkan api yang sudah mulai menjalar. Ia tidak menangkap pencurinya – karena ia sendiri masih anak-anak – tetapi ia berhasil menyelamatkan gudang senjata dari ledakan.
Karaeng yang menjadi atasannya terkesan. Bukan karena keberanian fisik Imanyambungi, tetapi karena kemampuannya tetap tenang di saat orang lain panik.
“Anak Mandar ini,” kata sang Karaeng kepada pejabat istana lainnya, “memiliki akal lebih dari prajurit dewasa. Jadikan dia muridku.”
Sejak saat itu, Imanyambungi mulai sering dipanggil ke ruang pribadi sang Karaeng. Ia diajari membaca lontarak (naskah lontar), memahami peta pelayaran, dan menghafal garis keturunan bangsawan-bangsawan penting di Sulawesi Selatan.
Tapi pelajaran paling berharga yang ia peroleh adalah tentang membaca karakter manusia. Sang Karaeng sering berkata:
“Sebelum kau percaya seseorang, lihatlah bagaimana ia memperlakukan orang yang lebih lemah darinya. Di situlah terletak kebenaran hatinya.”
Imanyambungi juga belajar tentang diplomasi terselubung. Dalam setiap pertemuan antar kerajaan, ia diminta hadir sebagai juru catat diam-diam. Tugasnya bukan berbicara, tetapi mengamati. Siapa yang gelisah? Siapa yang terlalu banyak janji? Siapa yang diam tapi matanya bergerak cepat?
Dari situlah ia mulai memahami bahwa kekuasaan sering dibangun di atas meja perundingan, bukan di medan perang. Ini adalah pelajaran yang kelak akan ia gunakan untuk menyatukan Mandar tanpa harus menumpahkan banyak darah.
Keterlibatan dalam Ekspedisi Laut dan Perdagangan Antarpulau
Gowa bukan hanya kerajaan perang. Gowa adalah pusat perdagangan maritim yang menghubungkan Nusantara bagian barat dan timur. Untuk memahami sepenuhnya bagaimana kekuasaan dibangun, Imanyambungi harus ikut ke laut – bukan sebagai prajurit, tetapi sebagai awak kapal dagang.
Karaeng Tunijallo’ memasukkannya ke dalam kru sebuah palari – perahu cepat Gowa yang biasa mengangkut rempah, kain, dan senjata. Tugas Imanyambungi sederhana: mencatat barang, membantu bongkar muat, dan belajar dari para nakhoda.
Namun ia tidak hanya diam. Di sela-sela tugas, ia mengamati bagaimana perdagangan dilakukan. Ia belajar tentang nilai tukar: berapa banyak sarung Mandar seharga dengan satu pikul cengkeh dari Maluku. Ia belajar tentang musim angin: kapan waktu terbaik berlayar ke timur dan kapan harus kembali ke barat.
“Angin barat mulai bertiup pada Oktober,” seorang nakhoda tua mengajarinya. “Itu saatnya kita berlayar ke timur, ke Maluku. Saat angin timur datang pada April, kita kembali ke barat, ke Jawa dan Sumatera. Laut mengajarkan disiplin, Nak. Kau tidak bisa melawan musim. Kau hanya bisa menyesuaikan diri.”
Imanyambungi ikut dalam ekspedisi ke Banjarmasin, Surabaya, bahkan hingga ke Bima di Nusa Tenggara. Di setiap pelabuhan, ia melihat sendiri bagaimana sistem patron-klien bekerja: pedagang kaya melindungi pedagang kecil, dan sebagai imbalannya, mereka mendapat prioritas barang dan informasi.
Ia juga melihat bagaimana bajak laut beroperasi di perairan yang tidak dijaga. Suatu kali, perahunya hampir diserang oleh gerombolan perompak asal Sulu. Hanya karena nakhoda sigap membawa kapal ke perairan dangkal yang tidak bisa dimasuki perahu besar, mereka selamat.
Dari pengalaman ini, Imanyambungi belajar bahwa keamanan laut adalah fondasi perdagangan. Tanpa itu, tidak ada kekayaan yang bisa bertahan.
Ketika kapalnya singgah di Makassar (pusat Gowa), ia sering turun di pasar dan mendengarkan percakapan para saudagar. Di situlah ia mendengar nama-nama kerajaan di Mandar disebut-sebut: Balanipa, Sendana, Majene, Pamboang. Namun yang membuatnya sedih adalah bahwa kerajaan-kerajaan itu disebut sebagai negeri yang terpecah-pecah dan mudah dieksploitasi oleh pedagang asing.
“Mereka bisa saling perang hanya karena masalah sepele,” gumam seorang saudagar Jawa. “Sayang sekali. Tanahnya subur, lautnya kaya, tapi tidak ada yang mempersatukan.”
Imanyambungi mendengar itu. Dadanya sesak. Tapi ia tidak marah kepada saudagar itu. Ia marah kepada kenyataan bahwa orang Mandar belum belajar bersatu.
Saat itu juga, tekadnya semakin bulat: ia harus pulang.
Pulang Kembali ke Mandar: Membawa Visi Persatuan
Setelah bertahun-tahun di Gowa, Imanyambungi bukan lagi bocah kurus yang naik perahu dagang dengan hati hancur. Ia telah tumbuh menjadi pemuda tegap, berwawasan luas, dan memiliki jaringan pertemanan yang tersebar di berbagai pelabuhan.
Namun, ia tidak serta-merta memutuskan pulang. Ada dua hal yang harus ia pastikan terlebih dahulu.
Pertama, ia harus mendapatkan restu dari Karaeng Tunijallo’. Bukan karena ia budak atau bawahan, tetapi karena ia menghormati gurunya. Sang Karaeng awalnya ragu melepas Imanyambungi.
“Kau bisa menjadi orang besar di Gowa,” kata sang Karaeng. “Aku bisa mengangkatmu menjadi pejabat istana. Mengapa kau harus kembali ke negeri yang membuangmu?”
Imanyambungi menjawab dengan tenang:
“Karena di sanalah aku berasal. Sebatang pohon tidak akan tumbuh subur jika akarnya dipotong. Aku harus kembali, Karaeng. Bukan untuk membalas dendam. Aku harus menyatukan negeriku.”
Sang Karaeng terdiam lama. Lalu ia berkata:
“Kau berbeda dari yang lain, Imanyambungi. Sebagian besar orang hanya ingin kekuasaan. Tapi kau ingin perbaikan. Pergilah. Tapi ingat, Gowa akan selalu menjadi saudara bagimu. Jika kau butuh bantuan, utuslah perahu ke selatan.”
Kedua, Imanyambungi harus memastikan bahwa vonis pengasingannya telah dicabut. Ia tidak bisa pulang sebagai orang yang masih dianggap bersalah oleh adat. Maka ia mengirim utusan terlebih dahulu ke Napo, kepada ayahnya, Puang di Gandang.
Ayahnya, yang selama ini diam-diam memantau perkembangan Imanyambungi dari jauh, merasa bangga. Ia segera mengumpulkan para Tomakaka dan mengajukan permohonan untuk mencabut paliq.
Awalnya ada penolakan, terutama dari keluarga sepupu yang meninggal. Tapi setelah mendengar tentang perjuangan Imanyambungi di Gowa – bagaimana ia menjadi kepercayaan Karaeng, ikut ekspedisi laut, dan tidak pernah melupakan Mandar – beberapa Tomakaka mulai melunak.
Maka, diputuskanlah: vonis pengasingan dicabut. Imanyambungi boleh pulang.
Perjalanan Pulang yang Penuh Haru
Imanyambungi tidak pulang dengan perahu dagang biasa. Ia meminjam sebuah palari dari Gowa, lengkap dengan layar baru dan beberapa awak yang setia. Ia juga membawa hadiah untuk para Tomakaka: kain sutra, senjata besi, dan beberapa gulung lontarak berisi catatan perjanjian dagang.
Ketika perahunya memasuki perairan Mandar, angin barat bertiup lembut. Ia berdiri di haluan, menyusuri pantai yang sudah lama tidak ia lihat. Dari kejauhan, ia melihat asap dapur di kampung Napo. Ia melihat perahu-perahu nelayan bersandar di dermaga. Dan ia melihat sekumpulan orang berdiri di tepi pantai – ayahnya, ibunya, dan beberapa Tomakaka yang dulu menghukumnya.
Perahu merapat. Imanyambungi turun. Ia tidak berlari. Ia berjalan perlahan, dengan martabat, tetapi matanya basah.
Ibunya, We Apas, tidak bisa menahan tangis. Ia memeluk Imanyambungi erat-erat, seolah takut anaknya akan lenyap lagi.
“Anakku… kau pulang,” bisiknya.
Ayahnya hanya mengangguk. Tapi tangannya menggenggam pundak Imanyambungi dengan erat.
Salah seorang Tomakaka yang dulu ikut memvonisnya, tampak tidak enak hati. Ia mendekat.
“Kami dulu mungkin salah, Imanyambungi. Tapi kami dengar kau telah berubah. Apa yang kau bawa untuk kami?”
Imanyambungi tersenyum. Ia tidak menyimpan dendam.
“Aku tidak membawa pedang untuk menebas kalian. Aku membawa visi untuk menyatukan kita semua. Mandar tidak akan kuat jika terus terpecah. Aku sudah melihat bagaimana kerajaan besar seperti Gowa bersatu di bawah satu komando. Kita bisa melakukan hal yang sama. Tapi tidak dengan paksaan. Dengan kesepakatan.”
Para Tomakaka saling berpandangan. Beberapa mengangguk. Beberapa masih ragu. Tapi satu hal yang pasti: Imanyambungi bukan lagi bocah yang mereka usir. Ia adalah seorang pemimpin yang lahir dari pengasingan – dan ia datang membawa harapan.
Penutup Bab 5: Pulang Bukan Akhir, Melainkan Awal
Perjalanan Imanyambungi pulang ke Mandar bukanlah akhir dari kisah. Itu adalah awal dari babak baru yang lebih menantang. Ia harus menghadapi para Tomakaka yang masih curiga, menyusun strategi untuk menyatukan negeri-negeri yang bertikai, dan membangun sistem pemerintahan yang tidak hanya kuat tetapi juga adil.
Tapi ia tidak sendirian. Di pundaknya, ia membawa pelajaran dari Gowa: tentang perang, diplomasi, perdagangan, dan administrasi. Di dadanya, ia menyimpan api cinta pada tanah kelahirannya. Dan di matanya, terpancar keyakinan bahwa persatuan Mandar bukan impian, melainkan takdir yang harus diwujudkan.
Di bab berikutnya, kita akan menyaksikan bagaimana Imanyambungi – yang kelak bergelar Todilaling – memulai misi terbesarnya: menyatukan Mandar.
Bab 6 Kembalinya Sang Pangeran
awal bacaan TODILALING Kisah Imanyambungi, Pengasingan yang Menjadi Takhta




Komentar
Posting Komentar