Bab 6 Kembalinya Sang Pangeran

 


Bagian 3

Perjalanan Merebut Takhta

Kembalinya bukanlah akhir dari pengasingan. Ia adalah awal dari pertempuran yang lebih besar: melawan ego, melawan dendam lama, dan melawan kebiasaan berpecah belah. Tapi Imanyambungi tidak datang dengan pedang terhunus. Ia datang dengan visi, sekutu, dan nama yang mulai dihormati.


Bab 6

Kembalinya Sang Pangeran


Sambutan di Napo, Mosso, dan Samasundu

Kepulangan Imanyambungi ke tanah Mandar tidak langsung disambut dengan pesta dan sorak sorai. Ia turun dari perahu di Napo – kampung halamannya – hanya dengan beberapa awak setia dan gulungan lontarak di tangannya. Tidak ada tombak diayunkan untuk menghormatinya. Juga tidak ada gendang perang yang ditabuh.

Tapi kehadirannya sudah cukup menjadi buah bibir di setiap dermaga dan rumah panggung.

“Imanyambungi pulang.”

Kabar itu menyebar cepat. Dari Napo ke Mosso, dari Mosso ke Samasundu, dan seterusnya. Para Tomakaka yang dulu ikut memvonisnya mulai gelisah. Rakyat biasa justru penasaran: seperti apa pemuda yang diasingkan itu sekarang?

Di Mosso, sekelompok tetua adat menerimanya dengan sikap dingin. Beberapa dari mereka masih menyimpan dendam karena kematian sepupu Imanyambungi. Tapi Imanyambungi tidak datang dengan emosi. Ia duduk di hadapan mereka, menceritakan pengalamannya di Gowa, dan dengan rendah hati meminta maaf atas peristiwa masa lalu.

“Aku tidak datang untuk membenarkan kesalahanku,” katanya. “Aku datang untuk meminta kesempatan memperbaiki diri. Dan memperbaiki negeri ini.”

Sikap rendah hati ini meluluhkan hati sebagian tetua. Namun tidak semua. Ada yang tetap membencinya.

Di Samasundu, sambutan lebih hangat. Beberapa Tomakaka di sana telah mendengar tentang reputasinya di Gowa – bahwa ia dipercaya Karaeng, ikut ekspedisi laut, dan tidak pernah mengkhianati tanah kelahirannya. Mereka melihat potensi besar dalam diri pemuda ini.

“Darah Tomanurung mengalir di nadimu,” kata seorang tetua Samasundu. “Tapi kami tidak peduli dengan darah. Kami peduli dengan perbuatan. Apakah kau benar-benar bisa menyatukan kami?”

Imanyambungi menjawab:

“Aku tidak bisa melakukannya sendirian. Tapi jika kalian bersedia bersatu, aku akan menjadi nahkoda yang membawa perahu ini ke pelabuhan yang aman.”


Membangun Aliansi: Appeq Banua Kaiyyang (Empat Negeri Besar)

Imanyambungi sadar bahwa ia tidak bisa menaklukkan semua Tomakaka seorang diri. Ia juga tidak ingin menjadi raja dengan cara membunuh semua lawannya. Ia memilih jalan yang lebih cerdas: membangun aliansi.

Ia mengunjungi satu per satu negeri-negeri besar (banua) yang memiliki pengaruh. Di antaranya adalah Napo (negerinya sendiri), Mosso, Samasundu, dan Todang-todang. Keempat negeri inilah yang kemudian dikenal sebagai Appeq Banua Kaiyyang – empat negeri besar – yang menjadi poros persatuan Mandar.

Bagaimana cara Imanyambungi merangkul mereka?

  1. Di Napo, ia menggunakan ikatan keluarga. Ayahnya, Puang di Gandang, masih menjadi Tomakaka yang disegani. Dengan restu ayahnya, ia memastikan Napo menjadi basis pertamanya.

  2. Di Mosso, ia mengakui kesalahan masa lalu dan menawarkan kompensasi adat. Ia memberikan hadiah berupa senjata besi dan kain sutra dari Gowa – barang-barang yang sangat berharga saat itu. Sebagian keluarga sepupu yang dendam mulai melunak.

  3. Di Samasundu, ia menawarkan kerjasama perdagangan. Ia menghubungkan Samasundu dengan jaringan dagang Gowa yang telah ia kenal. Hasil bumi Mandar seperti rotan, madu, dan sarung tenun mulai laku di pasar Makassar.

  4. Di Todang-todang, ia menawarkan perlindungan bersama. Todang-todang sering diserang oleh bajak laut dari utara. Imanyambungi mengajarkan taktik pertahanan pesisir yang ia pelajari di Gowa. Ia juga menjanjikan bantuan armada jika diperlukan.

Dalam waktu tidak terlalu lama, keempat negeri besar ini sepakat untuk membentuk persekutuan di bawah kepemimpinan Imanyambungi. Namun bukan sebagai raja absolut. Ia lebih suka disebut sebagai pemimpin koordinator – sebuah konsep yang mirip dengan primus inter pares (yang pertama di antara yang sederajat).

Dalam sebuah pertemuan di Napo, para Tomakaka dari keempat negeri itu mengangkat sumpah:

“Kami bersatu di bawah naungan Appeq Banua Kaiyyang. Jika salah satu dari kami diserang, yang lain wajib membantu. Jika salah satu dari kami melanggar kesepakatan, kami akan menghakiminya bersama.”

Imanyambungi tidak duduk di kursi tertinggi dalam pertemuan itu. Ia memilih duduk di tengah, sama rata dengan yang lain. Tapi semua mata tertuju padanya. Ia adalah penggerak di balik persatuan ini.


Menundukkan Tomakaka yang Memberontak (Passokkorang, Lenggo, Lempong, Tande)

Tidak semua Tomakaka senang dengan persatuan yang digagas Imanyambungi. Ada beberapa yang merasa terancam. Mereka khawatir kekuasaan mereka akan berkurang, atau bahwa mereka akan diperintah oleh pemuda yang dulu mereka usir.

Empat Tomakaka yang paling vokal menentang adalah:

  • Passokkorang – dikenal sebagai panglima perang yang kejam. Ia menguasai jalur perdagangan di utara Mandar dan tidak ingin kehilangan pajak ilegalnya.

  • Lenggo – penguasa daerah pegunungan yang sombong. Ia menganggap Imanyambungi tidak lebih dari anak buangan yang beruntung.

  • Lempong – seorang Tomakaka tua yang tidak percaya pada persatuan. Ia lebih suka negerinya independen.

  • Tande – penguasa pesisir yang terkenal licik. Ia sering berganti aliansi sesuai keuntungan.

Keempat Tomakaka ini membentuk koalisi perlawanan. Mereka mengirim utusan ke Imanyambungi dengan pesan yang hampir sama: “Kembalilah ke Gowa. Mandar tidak butuh pemimpin dari luar.”

Imanyambungi tidak marah. Ia justru mengirim balik utusan dengan pesan:

“Aku tidak ingin perang. Tapi jika kalian memaksa, aku tidak akan mundur. Aku hanya ingin Mandar bersatu, bukan untuk kekuasaanku, tetapi untuk anak cucu kita.”

Perundingan dilakukan berkali-kali. Namun tidak membuahkan hasil. Passokkorang bahkan mulai menyerang kapal-kapal dagang yang berafiliasi dengan Appeq Banua Kaiyyang.

Imanyambungi tidak punya pilihan lain. Ia harus bertindak.

Pertempuran melawan Passokkorang

Passokkorang adalah musuh terberat. Armadanya kuat. Pasukannya terlatih. Tapi Imanyambungi memiliki sesuatu yang tidak dimiliki Passokkorang: strategi laut yang ia pelajari di Gowa.

Alih-alih menyerang langsung, Imanyambungi membagi armadanya menjadi tiga kelompok kecil. Kelompok pertama mengecoh dengan berlayar ke utara seolah akan menyerang dari depan. Kelompok kedua menyusup di malam hari melalui sungai kecil yang tidak dijaga. Kelompok ketiga menunggu di selatan untuk memotong jalur mundur.

Pertempuran berlangsung sengit. Tapi dalam hitungan jam, benteng Passokkorang jatuh. Passokkorang sendiri tewas dalam pertempuran. Imanyambungi memerintahkan agar jenazahnya dimakamkan dengan hormat.

Menundukkan Lenggo tanpa pertumpahan darah

Lenggo adalah Tomakaka pegunungan. Armada laut tidak berguna menghadapinya. Tapi Imanyambungi tahu bahwa ekonomi Lenggo bergantung pada hasil hutan yang dijual ke pelabuhan. Ia memerintahkan blokade ekonomi: tidak ada perahu dari Appeq Banua Kaiyyang yang mau membeli rotan dan damar dari wilayah Lenggo.

Setelah beberapa bulan, Lenggo kehabisan uang. Rakyatnya mulai kelaparan. Para bawahannya mendesak Lenggo untuk berdamai. Akhirnya Lenggo menyerah tanpa perlawanan.

Mengisolasi Lempong dan Tande

Lempong dan Tande melihat apa yang terjadi pada Passokkorang dan Lenggo. Mereka tidak mau bernasib sama. Maka, mereka mengirim utusan ke Imanyambungi meminta negosiasi.

Imanyambungi menerima mereka dengan baik. Ia memberikan jaminan bahwa kekuasaan mereka tidak akan dihapus, asalkan mereka tunduk pada kesepakatan Appeq Banua Kaiyyang.

“Aku tidak butuh takhta,” kata Imanyambungi di depan mereka. “Aku butuh Mandar yang damai. Jika kalian bersedia bekerja sama, kalian tetap menjadi Tomakaka di negeri kalian. Hanya saja, kita memiliki satu aturan bersama.”

Lempong dan Tande menerima tawaran itu. Mereka membungkuk hormat – bukan karena takut, tetapi karena mereka melihat ketulusan di mata pemuda ini.


Kemenangan yang Tidak Disertai Dendam

Dengan tunduknya Passokkorang, Lenggo, Lempong, dan Tande, hampir seluruh wilayah Mandar bagian selatan dan tengah berada di bawah pengaruh Appeq Banua Kaiyyang. Imanyambungi tidak menghukum mati para Tomakaka yang memberontak, kecuali yang tewas dalam pertempuran. Ia memilih maaf dan integrasi.

Para pengamat dari kerajaan tetangga heran. Biasanya, seorang penakluk akan membunuh semua lawannya untuk mengamankan takhta. Tapi Imanyambungi melakukan sebaliknya. Ia mengundang mantan musuhnya duduk bersama di satu meja.

“Kita semua orang Mandar,” katanya. “Musuh sejati kita bukan satu sama lain. Musuh sejati kita adalah kemiskinan, kebodohan, dan perpecahan.”


Penutup Bab 6: Menuju Takhta yang Tidak Diwariskan

Imanyambungi belum menyebut dirinya raja. Ia masih menggunakan pengaruh moral dan aliansi untuk memerintah. Tapi semua orang sudah melihat: ia adalah pemimpin yang paling berpengaruh di Mandar.

Kematian sepupunya di arena sabung ayam dulu mungkin tragis. Namun dari tragedi itulah lahir seorang pemersatu. Pengasingan yang seharusnya menghancurkannya justru menjadi sekolah kehidupan. Dan kini, setelah bertahun-tahun, ia kembali bukan sebagai anak buangan, melainkan sebagai pangeran yang direbut kembali oleh tanahnya.

Di bab berikutnya, kita akan melihat bagaimana Imanyambungi secara resmi diangkat sebagai raja pertama Kerajaan Balanipa, dengan gelar Todilaling – dan bagaimana ia merancang sistem pemerintahan yang bertahan lama.

Bab 7 Strategi Perang dan Pelayaran


awal bacaan TODILALING Kisah Imanyambungi, Pengasingan yang Menjadi Takhta


Komentar