Bab 4 Perahu ke Timur – Singgah di Gowa
Pelarian atau Pengasingan? Perdebatan Versi Lontarak
Apakah Imanyambungi benar-benar diasingkan? Atau ia memilih melarikan diri karena takut akan hukuman adat yang lebih berat?
Lontarak-lontarak Mandar tidak seragam dalam menceritakan peristiwa ini. Ada perbedaan halus yang justru menarik untuk ditelusuri.
Versi pertama (Lontarak Pattodioloang) menyebutkan bahwa vonis paliq (pengasingan) dijatuhkan secara resmi oleh sidang adat. Para Tomakaka sepakat bahwa Imanyambungi harus meninggalkan tanah Mandar untuk jangka waktu tidak ditentukan. Keputusan ini dihormati oleh semua pihak, termasuk ayahnya, Puang di Gandang. Dalam versi ini, Imanyambungi diantarkan ke perahu oleh keluarganya dengan kesedihan yang tertahan.
Versi kedua (tradisi lisan dari sebagian masyarakat pesisir) menyebutkan bahwa Imanyambungi sebenarnya melarikan diri di malam hari, sebelum sidang adat menyelesaikan vonis. Ia takut dihukum mati oleh keluarga sepupunya yang dendam. Ia bersembunyi di ruang muatan perahu dagang yang hendak berlayar ke Gowa. Nahkoda baru mengetahuinya setelah kapal berada di tengah laut. Karena tidak mungkin memutarbalikkan kapal, ia pun mengizinkan Imanyambungi ikut.
Manakah yang benar?
Kemungkinan besar, kedua versi ini tidak saling bertentangan. Bisa jadi vonis pengasingan memang dijatuhkan, tetapi karena keluarga sepupunya masih menyimpan dendam, Imanyambungi memilih pergi lebih cepat dari yang dijadwalkan, tanpa upacara adat yang lengkap. Dalam ingatan kolektif masyarakat, kedua elemen ini menyatu menjadi cerita yang hidup.
Yang pasti, kepergiannya bukanlah sukarela. Ia tidak ingin meninggalkan Mandar. Tapi ia juga tidak ingin mati sia-sia.
Di atas perahu yang bergoyang lembut, sambil memandang ke arah pantai Napo yang hilang ditelan kabut senja, Imanyambungi menggumamkan satu kalimat yang kelak akan menjadi legenda:
“Laut ini tidak akan menjadi kuburku. Laut ini akan menjadi jalanku pulang.”
Tiba di Kerajaan Gowa, Diterima di Istana
Perjalanan dari Napo ke Gowa memakan waktu beberapa hari, tergantung angin. Perahu dagang itu singgah di beberapa pelabuhan kecil sebelum akhirnya berlabuh di Muara Sungai Tallo, pintu masuk ke wilayah inti Kerajaan Gowa.
Pada abad ke-16, Gowa adalah kerajaan maritim terkuat di Sulawesi Selatan. Armadanya menguasai Selat Makassar. Pelabuhannya dipadati kapal dari Malaka, Jawa, Maluku, bahkan dari Gujarat dan Cina. Di sinilah pusat perdagangan rempah, senjata, dan kain. Dan di sinilah pula pusat intrik politik yang licin seperti ikan sembilang.
Imanyambungi turun dari perahu dengan pakaian lusuh, kulit terbakar matahari, dan tanpa surat pengantar apa pun. Ia hanyalah seorang bocah buangan yang tidak dikenal. Namun takdir berkata lain.
Saat berjalan di pasar Tallo, ia tanpa sengaja menabrak seorang bangsawan muda. Orang-orang sekitar mengharapkan ia dihukum. Tapi bangsawan itu malah terkesima oleh tatapan mata Imanyambungi.
“Kau bukan pelayan biasa. Siapa namamu?” tanya bangsawan itu.
“Imanyambungi dari Mandar,” jawabnya datar. “Dan aku tidak sengaja menabrakmu. Maafkan aku, Tuan.”
Kata-katanya singkat, tidak merendah berlebihan, tetapi juga tidak sombong. Sikap ini langka. Kebanyakan orang buangan akan sujud memohon ampun. Tapi Imanyambungi berdiri tegak, mengakui kesalahan, dan meminta maaf dengan martabat.
Bangsawan itu tertawa. Ia membawa Imanyambungi ke istana.
Di istana Gowa, Imanyambungi tidak langsung diterima sebagai tamu kehormatan. Ia ditempatkan di lingkungan awak kapal dan prajurit rendahan. Tapi perlahan-lahan, ia mulai diperhatikan.
Seorang Karaeng (gelar bangsawan tinggi Gowa) yang melihat potensinya memintanya menjadi penjaga pribadi. Bukan karena keberanian fisiknya semata, tetapi karena ia cepat belajar. Dalam hitungan bulan, Imanyambungi sudah menguasai bahasa Makassar, memahami protokol istana, dan menunjukkan ketajaman analisis politik yang mengherankan.
“Orang ini tidak akan tinggal lama di istana sebagai bawahan,” bisik seorang pejabat istana kepada yang lain. “Ia akan menjadi sesuatu yang besar. Entah di sini, atau di tempat asalnya.”
Belajar Strategi Perang, Diplomasi, dan Tata Kelola Kerajaan
Di Gowa, Imanyambungi mendapatkan pendidikan yang tidak pernah ia bayangkan. Ia tidak belajar di sekolah formal – karena belum ada – tetapi ia belajar langsung dari praktik kekuasaan.
Pertama, strategi perang.
Gowa saat itu sedang gencar memperluas pengaruh. Armada lautnya sering bertempur melawan bajak laut atau kerajaan-kerajaan kecil yang membangkang. Imanyambungi ikut dalam beberapa ekspedisi. Ia belajar bagaimana membaca arah angin untuk menyerang, kapan harus mundur, dan bagaimana menggunakan perahu kecil untuk mengepung musuh yang lebih besar.
Ia juga belajar tentang senjata: keris, tombak, sumpitan, dan meriam kecil yang baru mulai digunakan. Namun pelajaran terpentingnya bukan tentang cara membunuh, tetapi tentang kapan tidak perlu membunuh.
Dalam suatu pertempuran di lepas pantai Suppa, ia melihat seorang Karaeng Gowa memerintahkan anak buahnya untuk tidak mengejar musuh yang melarikan diri.
“Mengapa kita tidak menghabisi mereka, Karaeng?” tanya Imanyambungi.
“Karena besok mereka bisa menjadi sekutu,” jawab sang Karaeng. “Perang bukan tentang berapa banyak yang kau bunuh. Perang adalah tentang berapa banyak yang kau buat tunduk tanpa pertumpahan darah.”
Imanyambungi menyimpan pelajaran itu dalam hati.
Kedua, diplomasi.
Ia sering diajak menghadiri pertemuan antar bangsawan, di mana perjanjian perdagangan dan aliansi politik dibahas. Ia belajar bagaimana kata-kata bisa menjadi senjata yang lebih tajam dari keris. Ia belajar tentang passobuk – kata dalam bahasa Makassar untuk kompromi politik – dan bagaimana mengalah pada hal kecil agar menang pada hal besar.
Ketiga, tata kelola kerajaan.
Imanyambungi mengamati bagaimana Gowa mengatur administrasi kerajaannya. Ada jenjang birokrasi yang jelas, mulai dari Tumailalang (semacam perdana menteri) hingga Sawannar (pengurus pelabuhan). Pajak dikelola dengan rapi. Istana memiliki catatan tertulis – lontarak – yang menyimpan ingatan tentang perjanjian, silsilah, dan hukum.
“Ini yang kurang di Mandar,” pikirnya. “Kami punya keberanian, tapi tidak punya sistem. Musuh bisa dikalahkan dengan tombak, tapi negeri diatur dengan catatan.”
Dari sinilah benih-benih ide persatuan Mandar mulai tumbuh. Ia tidak ingin Mandar menjadi kerajaan besar seperti Gowa dengan menaklukkan semua orang. Ia ingin menyatukan Mandar dengan sistem yang adil dan administrasi yang kuat.
Tapi ia juga menyadari: ia tidak bisa pulang sekarang. Belum. Masih banyak yang harus dipelajari. Dan yang lebih penting, ia belum mendapatkan pengampunan adat dari tanah Mandar.
Malam-Malam Sunyi di Pelabuhan Tallo
Di sela-sela kesibukannya, Imanyambungi sering menyendiri di pelabuhan Tallo di malam hari. Ia duduk di atas sebuah batu besar, memandang ke arah barat – ke seberang Selat Makassar, ke tempat di mana Mandar berada.
Ia merindukan ibunya. Ia merindukan bau asin Napo. Ia merindukan suara ombak yang dulu menjadi pengantar tidurnya.
Tapi ia juga membenci rasa rindu itu. Ia membencinya karena melemahkan. Setiap kali rasa rindu datang, ia mengingatkan dirinya sendiri:
“Aku bukan di sini untuk merindukan. Aku di sini untuk belajar. Suatu hari, ombak yang sama akan mengantarkanku pulang. Tapi aku harus pulang sebagai pemenang, bukan sebagai pecundang.”
Dan diam-diam, di tengah gemerisik air laut, ia berbisik:
“Ayah, Ibu… tunggulah aku. Aku akan kembali. Negeri ini akan bersatu. Atas namaku. Atas nama Mandar.”
Penutup Bab 4: Pelajaran dari Tanah Seberang
Di Gowa, Imanyambungi tidak hanya belajar tentang perang, diplomasi, dan administrasi. Ia belajar tentang kesabaran. Ia belajar bahwa kekuasaan tidak diraih dalam semalam. Ia belajar bahwa pengasingan bukanlah akhir, tetapi awal dari sebuah perjalanan panjang.
Ia juga belajar bahwa Gowa kuat bukan hanya karena senjata, tetapi karena mereka mampu merangkul perbedaan. Pedagang asing diberi tempat. Bangsawan dari kerajaan lain diterima sebagai sekutu. Ini adalah pelajaran yang kelak akan ia terapkan di Mandar.
Tapi satu hal yang tidak berubah: hatinya tetap milik Mandar. Laut di hadapannya bukanlah tembok pemisah, melainkan jalan yang menghubungkan. Dan suatu hari, ia akan menempuh jalan itu.
Bab 5 Berubahnya Pengasingan Menjadi Sekolah Kehidupan
awal bacaan TODILALING Kisah Imanyambungi, Pengasingan yang Menjadi Takhta




Komentar
Posting Komentar