Bab 3 Bocah Pemberani dari Napo
Bagian 2
Masa Muda – Pengasingan
Sebelum menjadi raja, ia adalah seorang bocah yang kehilangan kampung halaman. Laut menjadi saksi bisu air matanya. Tapi laut juga yang kelak mengembalikannya sebagai pemilik takhta.
Bab 3
Bocah Pemberani dari Napo
Kelahiran dan Masa Kecil Imanyambungi di Napo (Balanipa)
Tidak ada lontarak yang mencatat persis tahun berapa Imanyambungi lahir. Yang pasti, ia dilahirkan di Napo, sebuah kampung nelayan di pesisir Teluk Mandar, yang kelak menjadi pusat Kerajaan Balanipa.
Napo bukanlah kota besar. Rumah-rumah panggung berdiri tidak beraturan di sepanjang pantai. Suara ombak adalah pengantar tidur anak-anak. Dan udara asin adalah napas sehari-hari.
Imanyambungi adalah putra dari We Apas dan Puang di Gandang. Ayahnya adalah Tomakaka Napo, seorang pemimpin yang disegani karena keberaniannya di laut. Ibunya adalah perempuan yang bijak, sering disebut-sebut dalam cerita rakyat sebagai indo’ to makkulle – ibu yang kuat.
Sejak kecil, Imanyambungi sudah menunjukkan sifat yang berbeda dari anak-anak seusianya. Ia tidak suka bermain perang-perangan di pantai. Ia lebih suka duduk di dermaga, menyaksikan perahu-perahu sandeq yang meluncur di atas ombak.
Suatu hari, seorang nakhoda tua dari Gowa bertanya kepadanya:
“Nak, apa yang kau lihat di laut sana?”
Imanyambungi menjawab tanpa ragu:
“Aku melihat jalan. Jalan yang tidak pernah berakhir.”
Nakhoda itu tertawa, tapi kemudian diam. Ia merasa jawaban bocah ini terlalu dalam untuk seusianya.
Di Napo, Imanyambungi juga belajar tentang siri’ – harga diri. Ibunya sering mengajarkan:
“Harga diri lebih berharga dari harta. Jika siri’mu jatuh, maka kau bukan apa-apa.”
Tapi bocah kecil itu juga menyaksikan sisi gelap dari siri’. Ia melihat bagaimana harga diri yang sakit bisa melukai, memecah belah, dan memicu pertikaian antar kampung.
Dari ayahnya, ia belajar tentang laut dan kepemimpinan. Sang ayah berkata:
“Menjadi pemimpin itu seperti menjadi nakhoda. Kau harus tahu kapan harus melawan angin, dan kapan harus berlabuh.”
Imanyambungi menyimpan semua pelajaran itu dalam diam. Tapi api di dadanya terus menyala. Ia ingin membuktikan bahwa suatu hari, ia akan menjadi nakhoda bukan hanya untuk perahu, tetapi untuk seluruh tanah Mandar.
Peristiwa Sabung Ayam yang Mengubah Segalanya
Tidak ada yang tahu persis bagaimana peristiwa itu dimulai. Lontarak hanya menuliskan potongan-potongan kabar yang membingungkan.
Yang jelas, pada suatu sore yang panas, di halaman rumah salah seorang Tomakaka, diadakan sabung ayam – sebuah tontonan yang biasa digemari masyarakat. Para lelaki berkumpul dalam lingkaran. Taruhan kecil dilemparkan. Suara ayam berkokok dan teriakan penonton bercampur menjadi satu.
Imanyambungi yang saat itu berusia belasan tahun, ikut hadir. Di sampingnya, seorang sepupunya yang dikenal sombong dan suka menghina.
“Ayam kalah. Tuannya juga kalah,” ejek sepupunya setelah ayam Imanyambungi tumbang.
Imanyambungi diam. Tapi ejekan itu terus berlanjut, kali menyerang nama baik keluarganya.
“Kau hanya anak buangan sebelum lahir! Nenekmu dari pihak ibu itu bukan darah biru,” cibir sepupunya sambil tertawa.
Dalam budaya Mandar, penghinaan terhadap keturunan adalah tamparan paling keras. Siri’ seseorang diinjak-injak di depan umum.
Apa yang terjadi selanjutnya tidak dicatat dengan jelas. Ada yang mengatakan Imanyambungi mendorong sepupunya hingga jatuh dan kepalanya membentur batu. Ada yang mengatakan ia melemparkan tombak kecil yang biasa dibawa anak laki-laki Mandar. Ada versi lain yang menyebutkan bahwa perkelahian itu terjadi di luar arena sabung ayam, tanpa saksi yang jelas.
Tapi satu hal yang pasti: sepupunya tewas.
Bukan karena niat membunuh. Bisa jadi karena kecelakaan. Tapi di mata adat, kematian adalah kematian. Pelakunya harus dihukum.
Tuduhan Melanggar Adat dan Hukuman Pengasingan (Paliq)
Malam itu juga, kabar kematian sepupu Imanyambungi sampai ke telinga para Tomakaka. Mereka segera mengadakan sidang adat darurat. Tidak ada polisi, tidak ada pengacara. Hanya para tetua yang duduk melingkar, wajah mereka tegang.
Beberapa pihak yang membenci keluarganya melihat ini sebagai kesempatan untuk menjatuhkan Puang di Gandang, ayah Imanyambungi. Tuduhan dilontarkan: “Imanyambungi bukan hanya pembunuh, ia juga melanggar adat dengan tidak melapor diri.”
Padahal, bocah itu sedang dalam keadaan panik. Ia tidak lari karena takut, tetapi karena bingung.
Ayahnnya, Puang di Gandang, seorang Tomakaka yang disegani, berusaha membela. Tapi suaranya tenggelam oleh teriakan massa yang menuntut hukuman mati atau pengasingan.
Hukuman mati tidak lazim di Mandar untuk kasus seperti ini, kecuali jika terbukti niat jahat. Karena itu, para tetua menjatuhkan vonis paliq – pengasingan.
Imanyambungi harus meninggalkan tanah Mandar. Tidak boleh kembali sampai ada keputusan adat yang mencabutnya. Batas waktunya tidak ditentukan. Bisa setahun, bisa selamanya.
Ibunya, We Apas, menangis tersedu-sedu saat mendengar vonis itu. Tapi ia juga perempuan Mandar. Ia tahu bahwa siri’ keluarganya harus ditebus. Pengasingan lebih ringan dari hukuman mati.
“Pergilah, anakku,” bisiknya sambil memeluk Imanyambungi. “Tapi ingat, laut tidak akan pernah mengkhianatimu. Dan suatu hari, pulanglah sebagai pemenang.”
Ayahnya hanya meletakkan tangan di pundak bocah itu. Tidak banyak kata. Tapi genggamannya keras, seperti janji yang tidak diucapkan.
“Jangan pernah lupa dari mana kau berasal, Nak.”
Naik Perahu ke Gowa
Keesokan harinya, sebuah perahu dagang dari Gowa bersiap berlayar dari pelabuhan kecil di Napo. Nakhodanya, lelaki tua yang dulu pernah bertanya kepada Imanyambungi di dermaga, setuju membawa bocah itu sebagai awak kapal.
Tidak ada upacara perpisahan. Tidak ada tombak diayunkan untuk menghormatinya. Imanyambungi naik ke geladak tanpa menoleh ke belakang.
Angin barat mulai bertiup kencang. Layar terkembang. Perahu itu perlahan menjauh dari dermaga.
Imanyambungi berdiri di haluan, matanya terpaku pada garis pantai Napo yang semakin mengecil.
Air matanya jatuh untuk pertama kalinya. Tapi ia segera menyekanya dengan punggung tangan.
Di dalam hatinya, sebuah sumpah lahir:
“Aku akan kembali. Bukan sebagai anak buangan. Tapi sebagai pemilik tanah ini.”
Laut Mandar membisu. Hanya ombak yang menjawab dengan deburannya.
Penutup Bab 3: Awal dari Segalanya
Peristiwa sabung ayam itu tragis. Tapi tanpa tragedi itu, Imanyambungi mungkin hanya akan menjadi Tomakaka kecil di Napo, tidak lebih. Pengasingan memaksanya untuk melihat dunia yang lebih luas. Laut membawanya ke Gowa, tempat ia akan bertemu guru-guru yang tidak pernah ia duga: para prajurit, saudagar, dan bangsawan yang mengajarinya seni perang dan politik.
Di bab selanjutnya, kita akan mengikuti perjalanan Imanyambungi di tanah asing. Bagaimana ia diterima di istana Gowa. Bagaimana ia belajar dari bawah. Dan bagaimana pengasingan yang seharusnya menghancurkannya justru menjadi batu loncatan menuju takhta.
Bab 4 Perahu ke Timur – Singgah di Gowa
awal bacaan TODILALING Kisah Imanyambungi, Pengasingan yang Menjadi Takhta



Komentar
Posting Komentar