Bab 11 Pesan Terakhir Sebelum Mangkat
Tidak ada raja yang abadi. Yang abadi hanyalah nama baik dan warisan yang ditinggalkan. Todilaling tahu bahwa ajalnya akan datang, seperti ombak yang pasti menghantam pantai. Tapi ia tidak takut. Yang ia takutkan adalah bahwa sepeninggalnya, persatuan Mandar akan rapuh kembali. Maka di hari-hari terakhirnya, ia memanggil putra-putranya, para Tomakaka, dan seluruh rakyat yang mau mendengar. Bukan untuk memberitahu mereka betapa besar kekuasaannya, tetapi untuk mewariskan pesan yang kelak akan menjadi pegangan bagi generasi Mandar selamanya.
Wasiat kepada Anak Cucu: “Jangan Angkat Pemimpin yang Tidak Cinta Tanah Air”
Hari itu cuaca cerah di Tangga-Tangga. Ombak Selat Makassar bergulung-gulung dengan tenang, seolah laut pun tahu bahwa sesuatu yang penting akan terjadi. Todilaling, yang sudah renta dan jarang meninggalkan istana, tiba-tiba meminta diantar ke pelabuhan. Tubuhnya mungkin lemah, tapi matanya masih menyala dengan api yang sama seperti saat ia masih muda.
Di pelabuhan, ia duduk di atas sebuah batu besar – batu yang sama yang dulu ia gunakan untuk merenung ketika pertama kali membangun Tangga-Tangga. Di sekelilingnya berkumpul putra-putranya, para Tomakaka dari berbagai negeri, panglima armada, sawannar, dan rakyat biasa yang tidak mau ketinggalan.
Imanyambungi tidak berpidato panjang. Suaranya parau, tapi setiap kata terdengar jelas.
“Besok atau lusa, saya akan mangkat. Entah anak saya, cucu saya, atau cicit saya yang kelak duduk di sini sebagai pemimpin. Tapi ingatlah wasiatku ini baik-baik.”
Ia berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam.
“Jangan pernah mengangkat seseorang menjadi pemimpin jika ia tidak cinta tanah air. Jangan angkat jika ia tidak membela rakyat kecil. Dan jangan angkat jika ia bertutur kata kasar.”
Kerumunan itu sunyi. Hanya suara ombak yang terdengar.
“Pemimpin yang tidak cinta tanah air akan menjual negerinya kepada musuh demi keuntungan pribadi. Pemimpin yang tidak membela rakyat kecil akan buta terhadap penderitaan. Dan pemimpin yang kasar lidahnya biasanya juga kasar hatinya. Ia tidak akan mau mendengar nasihat, dan akan menghancurkan negeri dengan kesombongannya.”
Todilaling lalu menoleh kepada putra sulungnya yang duduk di sampingnya.
“Kau, anakku, jangan pernah merasa bahwa takhta ini hakmu. Takhta ini adalah amanah. Jika kelak kau menjadi pemimpin, ingatlah: kau hanyalah nahkoda. Banua kaiyyang – rakyat – adalah pemilik negeri. Jika kau lalai, mereka berhak menggantimu. Aku tidak menginginkan dinasti yang abadi. Aku menginginkan negeri yang abadi.”
Putra sulungnya menunduk, air mata mengalir di pipinya.
Kemudian Imanyambungi berdiri dengan susah payah, dibantu dua orang pengawalnya. Ia menatap satu per satu wajah yang hadir.
“Dan kau, rakyatku,” katanya, suaranya nyaris berbisik tapi menggelegar di hati setiap orang yang mendengar. “Jangan pernah takut untuk mengingatkan pemimpinmu. Jika ia melenceng, tegurlah. Jika ia tidak mau ditegur, usirlah. Karena negeri ini lebih berharga dari satu nyawa, sekalipun nyawa itu nyawaku.”
Seorang perempuan tua dari Napo menangis tersedu-sedu. Ia ingat betul bagaimana dulu Imanyambungi kecil sering bermain di pantai dekat rumahnya.
“Todilaling,” teriaknya, “siapa yang akan melindungi kami setelah engkau pergi?”
Imanyambungi tersenyum lemah. “Kalian akan melindungi satu sama lain. Itulah arti persatuan. Aku tidak abadi. Tapi persatuan kalian, jika kalian jaga, akan abadi.”
Wasiat itu kemudian dicatat oleh para palontarak (ahli tulis) istana. Isinya tidak hanya disampaikan secara lisan, tetapi juga ditulis dalam lontarak agar tidak pernah terlupakan. Beberapa pasal yang paling terkenal antara lain:
Syarat pemimpin: harus cinta tanah air, bela rakyat kecil, dan berkata lembut.
Larangan perang saudara: selesaikan segala sengketa di meja musyawarah.
Kewajiban raja: tidak boleh tidur nyenyak di malam hari sebelum memastikan rakyatnya tidak kelaparan.
Hak rakyat: berhak mengingatkan, bahkan memberhentikan pemimpin yang zalim.
Persatuan Mandar: tidak boleh diingkari, selamanya.
Wasiat ini kelak menjadi konstitusi tidak tertulis Kerajaan Balanipa. Setiap raja yang baru dinobatkan harus mendengar pembacaan wasiat Todilaling di depan dewan adat. Ada yang mengikuti dengan tulus, ada pula yang hanya pura-pura. Tapi kehadirannya sebagai rujukan moral tidak bisa dihapuskan.
Makna Gelar Todilaling: Yang Digelar Setelah Wafat
Banyak orang keliru mengira bahwa Todilaling adalah nama yang disandang Imanyambungi sejak ia naik takhta. Tidak demikian. Ketika ia diangkat sebagai raja pertama Balanipa, gelarnya bukan Todilaling. Gelar itu diberikan setelah ia mangkat.
Dalam tradisi Mandar, seperti halnya dalam banyak budaya Nusantara, seorang tokoh besar sering menerima gelar anumerta (posthumous title) yang merangkum seluruh perjalanan hidupnya. Gelar itu diberikan oleh dewan adat dan rakyat sebagai bentuk penghormatan tertinggi.
Mengapa Todilaling?
Seperti sudah disinggung sebelumnya, todi berarti “yang tidak pernah lengah” atau “yang selalu terjaga”, dan laling berarti “tidur”. Todilaling adalah “seseorang yang tidak pernah tidur nyenyak demi rakyatnya”.
Maknanya: sepanjang hidupnya, Imanyambungi tidak pernah terlena oleh kekuasaan. Ia tidak pernah tidur pulas di istana yang nyaman sementara rakyatnya menderita. Bahkan di malam-malam terakhirnya, ketika sakit sudah menggerogoti tubuhnya, ia masih meminta laporan tentang keadaan pelabuhan, harga beras, dan apakah ada bajak laut yang mengganggu.
Seorang Tomakaka yang hadir saat gelar itu diumumkan berkata:
“Kami tidak memberinya gelar yang megah seperti ‘Maha Raja’ atau ‘Penguasa Langit dan Bumi’. Karena ia tidak pernah menginginkan itu. Kami memberinya gelar yang paling tepat: Todilaling. Karena itulah dia. Raja yang tidak bisa tidur nyenyak demi rakyatnya.”
Ada juga tafsir lain. Dalam bahasa Mandar kuno, todi juga bisa berarti “peniti” atau “pengikat”. Maka Todilaling bisa diartikan sebagai “pengikat tidur” – kiasan untuk seseorang yang membangunkan orang yang terlelap. Secara metaforis, Imanyambungi membangunkan Mandar dari tidur panjang perpecahan. Ia mengikat negeri-negeri yang tercerai-berai menjadi satu kesatuan yang kuat.
Gelar anumerta ini kemudian disematkan pula pada raja-raja Balanipa berikutnya yang berjasa besar, meskipun masing-masing memiliki nama gelar yang berbeda. Tapi nama Todilaling tetap melekat secara khusus pada Imanyambungi, sang pemersatu pertama.
Dalam lontarak, namanya ditulis lengkap: Imanyambungi Todilaling. Dan hingga hari ini, ketika orang Mandar menyebut “Todilaling”, mereka tidak sedang berbicara tentang sebuah gelar kosong. Mereka sedang mengenang seorang manusia yang memilih menjadi hamba rakyat daripada menjadi tuan atas takhta.
Kesinambungan Kepemimpinan hingga Masa Kolonial
Setelah Todilaling mangkat, Kerajaan Balanipa tidak runtuh. Sebaliknya, ia tetap bertahan selama berabad-abad, melalui pasang-surut politik, persaingan dengan kerajaan tetangga, hingga kedatangan bangsa Eropa.
Mengapa bisa bertahan? Jawabannya ada pada sistem yang ditinggalkan Todilaling, bukan sekadar karisma pribadi.
Pertama, lembaga dewan adat yang kuat. Dewan adat tidak mati bersama raja. Mereka tetap bersidang, tetap mengawasi, tetap memberi nasihat. Ketika seorang raja baru diangkat, dewan adat-lah yang memastikan ia memahami wasiat Todilaling.
Kedua, Konfederasi Mandar (Perjanjian Luyo) tetap menjadi payung politik yang mengikat Pitu Babana Binanga dan Pitu Ulunna Salu. Meskipun kadang terjadi ketegangan, tidak ada kerajaan yang berani memisahkan diri secara sepihak karena sumpah leluhur masih dihormati.
Ketiga, prinsip “raja adalah nahkoda, rakyat pemilik negeri” menciptakan keseimbangan kekuasaan. Raja tidak bisa menjadi tiran karena ia diawasi. Rakyat tidak bisa anarkis karena mereka menghormati otoritas yang sah.
Ketika VOC Belanda mulai memasuki Sulawesi Selatan pada abad ke-17, mereka mencoba menerapkan politik divide et impera (pecah belah) untuk menguasai kerajaan-kerajaan. Di Mandar, usaha ini tidak sepenuhnya berhasil. Para Tomakaka dan rakyat memiliki ingatan kolektif tentang persatuan di bawah Todilaling. Mereka tidak mudah diadu domba.
Pada abad ke-19, Belanda akhirnya berhasil menundukkan Balanipa secara militer. Tapi perlawanan terus berlangsung dalam berbagai bentuk. Gerakan Passimandaran (pembela tanah Mandar) muncul sebagai respons terhadap kebijakan kolonial yang merusak adat. Para pemimpin gerakan ini sering mengutip wasiat Todilaling untuk membakar semangat rakyat.
Bahkan setelah kemerdekaan Indonesia, nilai-nilai kepemimpinan Todilaling masih hidup. Provinsi Sulawesi Barat yang lahir pada tahun 2004 mengambil namanya dari tanah yang dulu dipersatukan oleh seorang anak buangan dari Napo. Dan di Kabupaten Polewali Mandar, nama Balanipa tetap menjadi kecamatan yang dihormati sebagai pusat sejarah.
Taman Kenangan di Tepi Pantai
Di Tangga-Tangga, hingga kini masih ada sebuah batu besar yang konon digunakan Todilaling untuk duduk saat ia mewasiatkan pesan terakhirnya. Batu itu tidak megah. Tidak ada ukiran emas atau prasasti marmer. Hanya batu kali biasa yang sudah ditumbuhi lumut.
Tapi setiap tahun, masyarakat Mandar datang ke batu itu. Mereka membersihkan lumutnya, menabur bunga, dan berdoa. Bukan untuk memuja Todilaling sebagai dewa. Mereka hanya ingin mengingat.
Seorang tetua adat dari Balanipa berkata:
“Batu ini tidak suci karena batu itu sendiri. Batu ini suci karena mengingatkan kita pada seorang manusia yang memilih mati untuk negerinya, bukan untuk takhta. Setiap kali kami duduk di sini, kami bertanya pada diri kami: sudahkah kami menjadi nahkoda yang baik untuk perahu bernama Mandar ini?”
Dan di kejauhan, ombak Selat Makassar terus bergulung, membawa bisik-bisik dari masa lalu ke masa kini.
Penutup Bab 11: Sesudah Angin Berhenti
Todilaling mangkat pada suatu malam, di usia yang tidak tercatat dengan pasti dalam lontarak. Ada yang mengatakan ia meninggal dalam tidur – sebuah anugerah bagi orang yang selama hidupnya sulit tidur nyenyak. Ada yang mengatakan ia masih sempat memandang laut sebelum napasnya berhenti.
Yang jelas, ketika kabar kematiannya tersebar, seluruh Mandar berkabung. Bukan dengan pesta besar atau upacara megah – itu tidak pernah dikehendakinya. Mereka berkabung dengan cara yang paling sederhana: semua perahu di pelabuhan menurunkan layarnya setengah tiang. Dan semua dapur di setiap rumah panggung tidak mengepulkan asap selama sehari semalam, sebagai tanda duka.
Jenazahnya dimakamkan di sebuah bukit kecil yang menghadap ke laut. Tidak ada makam megah dengan kubah emas. Hanya batu nisan sederhana yang diukir dengan aksara lontara:
“Imanyambungi Todilaling: Raja yang tidak pernah tidur nyenyak demi rakyatnya. Ia pulang kepada Yang Maha Kuasa, tapi namanya tetap hidup di setiap ombak Mandar.”
Kini, berabad-abad kemudian, anak-anak Mandar masih diajari petuah-petuahnya. Para nelayan masih menyebut namanya dalam doa sebelum melaut. Dan setiap kali ada pemimpin yang lalai, rakyat akan berkata:
“Ah, dia lupa wasiat Todilaling.”
Karena Todilaling tidak pernah benar-benar pergi. Ia masih ada di setiap debur ombak yang mengajarkan keberanian. Di setiap angin barat yang membawa kapal pulang. Dan di setiap hati orang Mandar yang memilih bersatu, meskipun dunia di sekelilingnya terus berpecah.
Bab 12 Jejak Imanyambungi di Era Modern
awal bacaan TODILALING Kisah Imanyambungi, Pengasingan yang Menjadi Takhta

Komentar
Posting Komentar