Bab 12 Jejak Imanyambungi di Era Modern

 


Bagian 5

Penutup

Kisah Todilaling bukanlah cerita usang yang hanya layak menghuni rak-rak lontarak yang berdebu. Ia adalah cermin yang terus menerus merefleksikan tantangan setiap zaman: bagaimana memimpin dengan hati, bagaimana menyatukan yang terpecah, dan bagaimana laut mengajarkan lebih dari sekadar pelayaran. Di era modern ini, ketika dunia berubah begitu cepat, jejak Imanyambungi masih bisa ditemukan – bukan di istana, melainkan dalam budaya politik masyarakat Mandar, dalam semangat bahari yang tak pernah padam, dan dalam hati mereka yang percaya bahwa pengasingan bukanlah akhir dari segalanya.


Bab 12

Jejak Imanyambungi di Era Modern


Pengaruh Nilai-Nilai Todilaling dalam Budaya Politik Mandar Saat Ini

Lebih dari empat abad setelah Todilaling mangkat, nilai-nilai kepemimpinannya masih hidup di tanah Mandar. Tidak dalam bentuk monumen atau museum yang ramai wisatawan. Ia hidup dalam kesadaran kolektif masyarakat, dalam cara mereka menilai pemimpin, dan dalam ungkapan-ungkapan yang masih sering terdengar di warung-warung kopi hingga ruang rapat pemerintah daerah.

Pertama, konsep “Anak kodai mara’dia, banua kaiyyang toilopi” (raja hanyalah nahkoda, rakyat pemilik negeri) masih menjadi kriteria moral bagi masyarakat Mandar dalam menilai pemimpinnya. Ketika seorang bupati atau gubernur terindikasi korupsi, tidak jarang masyarakat berkata: “Ia lupa wasiat Todilaling. Ia pikir ia pemilik negeri, padahal ia hanya nahkoda.”

Ini bukan sekadar retorika. Di beberapa daerah di Sulawesi Barat, gerakan masyarakat untuk mengingatkan pemerintah daerah sering mengutip petuah-petuah Todilaling yang diwariskan secara lisan. Tokoh adat dan tokoh agama kadang bersama-sama mengingatkan pejabat bahwa amanah kekuasaan harus dipertanggungjawabkan kepada rakyat.

Kedua, prinsip bahwa pemimpin harus rendah hati dan dekat dengan rakyat masih menjadi standar tidak tertulis. Pejabat yang suka menyombongkan diri, naik mobil mewah dengan pengawal berlebihan, sering mendapat sindiran halus: “Ia tidak belajar dari Todilaling. Todilaling duduk di batu pelabuhan bersama nelayan.”

Di Pilkada Polewali Mandar dan kabupaten lainnya di Sulawesi Barat, calon-calon pemimpin sering menyebut-nyebut nama Todilaling dalam kampanye mereka. Tentu ada yang tulus, ada pula yang hanya pura-pura. Tapi yang menarik adalah bahwa referensi kepada Todilaling dianggap penting – artinya, nilai-nilainya masih dihormati oleh pemilih.

Ketiga, mekanisme checks and balances antara eksekutif dan dewan adat yang dirintis Todilaling telah berevolusi menjadi hubungan antara pemerintah dan lembaga adat di era modern. Di banyak desa di Mandar, keputusan-keputusan penting tidak hanya melibatkan kepala desa dan perangkatnya, tetapi juga sando (tokoh adat) dan imam (tokoh agama). Ini adalah warisan dari sistem musyawarah yang diajarkan Todilaling.

Tentu, tidak semua nilai itu bertahan utuh. Globalisasi, politik uang, dan pragmatisme telah mengikis sebagian ketulusan. Tapi akarnya masih dalam. Setiap kali ada pemimpin yang lalai, masyarakat Mandar masih memiliki bahasa moral untuk mengkritik. Dan bahasa moral itu, entah disadari atau tidak, berasal dari wasiat Todilaling di tepi pantai Tangga-Tangga.


Pelayaran Niaga Mandar sebagai Warisan Semangat Bahari

Jika kepemimpinan adalah warisan moral Todilaling, maka pelayaran dan perdagangan adalah warisan ekonominya. Semangat bahari yang ia tanamkan – bahwa laut bukan pemisah tetapi penghubung – telah menjadikan orang Mandar sebagai salah satu etnik pelaut terhebat di Nusantara.

Pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, para pelaut Mandar dengan perahu sandeq dan palari menjelajahi hampir seluruh perairan Indonesia. Mereka berlayar ke Singapura, Padang, Banjarmasin, Surabaya, Kupang, hingga Ternate dan Ambon. Jaringan pelayaran niaga Mandar ini tidak hanya membawa barang dagangan, tetapi juga menjembatani budaya.

Dalam setiap pelayarannya, mereka membawa cerita tentang tanah Mandar – tentang Todilaling, tentang persatuan, tentang keberanian. Mereka juga membawa pulang pengaruh dari luar: motif batik, bahasa Melayu, hingga ide-ide baru tentang organisasi.

Setelah kemerdekaan Indonesia, perahu-perahu Mandar tetap berlayar. Meskipun kapal motor dan kapal kontainer modern mulai mendominasi, para pelaut tradisional Mandar tidak punah. Mereka beradaptasi. Banyak yang menjadi nahkoda kapal besar, atau membangun perusahaan pelayaran sendiri.

Hingga kini, di dermaga-dermaga kecil Mamuju, Majene, dan Polewali, masih bisa dilihat perahu sandeq yang sedang dibangun. Para pandai kayu turun-temurun masih menggunakan teknik yang sama seperti yang diajarkan sejak zaman Todilaling. Dan setiap kali perahu baru diluncurkan, masih ada upacara adat mappalette perahu – doa bersama agar perahu selamat di lautan.

Semangat bahari ini juga telah menjadi identitas budaya yang membanggakan. Festival Sandeq diadakan setiap tahun di Sulawesi Barat, menarik wisatawan dari berbagai daerah. Lomba perahu sandeq tidak hanya menjadi ajang adu cepat, tetapi juga perayaan ingatan kolektif bahwa nenek moyang mereka adalah pelaut ulung.

Pemerintah provinsi bahkan menjadikan sandeq sebagai ikon pariwisata Sulawesi Barat. Tapi bagi orang Mandar, sandeq bukan sekadar ikon. Ia adalah perpanjangan tangan Todilaling – sebuah pengingat bahwa laut tidak pernah menjadi penghalang, melainkan jalan menuju kemakmuran.


Refleksi: Dari Pengasingan Menjadi Takhta – Pelajaran tentang Ketangguhan dan Transformasi

Kisah Imanyambungi bukanlah kisah tentang seorang pangeran yang dengan mudah mewarisi takhta. Ia adalah kisah tentang seorang bocah yang diusir, lalu kembali sebagai pemenang. Inilah pelajaran terbesar yang bisa dipetik dari hidupnya.

Pertama, pengasingan bukanlah akhir.
Imanyambungi tidak memilih menjadi buangan. Tapi ketika vonis paliq dijatuhkan, ia tidak larut dalam keputusasaan. Ia menjadikan pengasingan sebagai ruang belajar. Di Gowa, ia mempelajari apa yang tidak bisa ia pelajari di Mandar: tentang administrasi kerajaan, tentang strategi perang modern (untuk zamannya), dan tentang diplomasi.

Bagi kita hari ini, kisah ini mengingatkan bahwa kegagalan dan penolakan – meskipun menyakitkan – bisa menjadi pintu menuju pertumbuhan. Banyak orang sukses yang memulai dari titik terendah. Yang membedakan mereka bukanlah ketiadaan masalah, tetapi cara mereka merespons masalah.

Kedua, kekuasaan harus digunakan untuk melayani, bukan untuk ditakuti.
Todilaling tidak pernah membangun istana megah. Ia tidak meninggalkan harta melimpah. Yang ia tinggalkan adalah sistem dan nilai. Ia membuktikan bahwa seorang pemimpin tidak perlu menjadi tiran untuk disegani. Kesejukan, keadilan, dan keteladanan bisa menjadi senjata yang lebih ampuh.

Di era di mana banyak pemimpin terjebak dalam kultus individu, warisan Todilaling menjadi koreksi yang menyegarkan. Ia mengajarkan bahwa raja hanyalah nahkoda. Rakyat adalah pemilik negeri. Pemimpin yang baik adalah yang tahu diri, mau mendengar, dan tidak pernah melupakan asal-usulnya.

Ketiga, persatuan lebih berharga daripada kemenangan.
Imanyambungi bisa saja membunuh semua Tomakaka yang pernah menentangnya. Tapi ia memilih untuk merangkul mereka. Ia mengundang mantan musuh duduk di satu meja. Ia lebih memilih konfederasi daripada penaklukan absolut.

Ini adalah pelajaran yang sangat relevan bagi Indonesia hari ini. Sebagai bangsa yang majemuk, kita sering dihadapkan pada godaan untuk memenangkan kelompok sendiri dengan mengorbankan yang lain. Tapi Todilaling menunjukkan bahwa kekuatan sejati terletak pada kemampuan merangkul perbedaan dalam satu ikatan yang dihormati bersama.

Keempat, ketangguhan tidak berarti kebal terhadap rasa sakit.
Todilaling adalah pribadi yang tangguh. Ia menghadapi badai, perang, dan intrik politik. Tapi ia juga manusia yang menangis ketika meninggalkan ibunya. Ia merindukan Napo di malam-malam sunyi. Ketangguhannya bukan karena ia tidak merasakan sakit, tetapi karena ia tidak membiarkan rasa sakit melumpuhkannya.

Ini mungkin pelajaran paling manusiawi dari seluruh kisah ini. Bahwa menjadi kuat bukan berarti menutup hati. Sebaliknya, keberanian sejati adalah tetap berbuat baik meskipun hati terluka, tetap memaafkan meskipun pernah dikhianati, dan tetap pulang meskipun pernah diusir.


Dari Imanyambungi ke Kita

Pada akhirnya, kisah Todilaling adalah kisah tentang pilihan. Ia memilih untuk tidak menjadi korban dari pengasingannya. Ia memilih untuk belajar. Ia memilih untuk pulang. Ia memilih untuk memaafkan. Ia memilih untuk melayani.

Kita mungkin tidak akan pernah diasingkan atau diusir dari kampung halaman. Tapi setiap dari kita pernah menghadapi momen ketika hidup terasa tidak adil, ketika kita merasa dibuang, ketika orang lain meragukan kemampuan kita.

Pertanyaannya: akankah kita membiarkan pengalaman itu menghancurkan kita? Atau akankah kita melakukan seperti Imanyambungi – menjadikan pengasingan sebagai sekolah kehidupan, dan kembali sebagai pemenang?

Laut Mandar telah menyaksikan jawabannya. Kini giliran laut kehidupan kita masing-masing.


Epilog

Catatan Sejarah yang Masih Diperdebatkan

Setiap kisah sejarah selalu menyisakan misteri. Demikian pula dengan Todilaling. Tidak semua sejarawan sepakat tentang detail hidupnya. Dua versi utama masih sering dipertentangkan: versi Lontarak Mandar dan versi yang dikaitkan dengan Imam Lapeo (K.H. Muhammad Tahir) serta Sayyid Alwi Jamalullail.

Versi Lontarak Mandar, yang menjadi rujukan utama buku ini, menempatkan Imanyambungi sebagai tokoh pemersatu Mandar pada abad ke-16. Ia adalah putra Puang di Gandang dari Napo, diasingkan ke Gowa, kembali, menundukkan Tomakaka pemberontak, mendirikan Kerajaan Balanipa, dan mangkat dengan gelar Todilaling. Sumber ini berasal dari naskah-naskah kuno seperti Lontarak Pattodioloang, Lontarak Balanipa Mandar, dan memoar kolonial W.J. Leyds (1940).

Versi lain, yang didukung oleh sebagian budayawan Mandar seperti Muhammad Ridwan Alimuddin, berpendapat bahwa tradisi mappatammaq (khatam Al-Qur’an dengan diarak keliling kampung) – yang sering dikaitkan dengan semangat persatuan – justru diperkenalkan oleh Imam Lapeo pada abad ke-19, bukan oleh Imanyambungi. Menurut versi ini, tradisi kuda menari (sayyang pattu’du) yang mengarak anak-anak yang khatam Al-Qur’an adalah modifikasi dari ritual sinkretis pra-Islam yang kemudian “diislamkan” oleh para ulama.

Perdebatan ini sebenarnya tidak perlu dipertentangkan secara tajam. Karena Imanyambungi dan Imam Lapeo hidup di zaman yang berbeda (sekitar tiga abad jaraknya). Mereka adalah dua tokoh besar dengan konteks yang berbeda. Imanyambungi adalah pemersatu politik dan pendiri kerajaan. Imam Lapeo adalah pembaharu keagamaan yang memperkuat identitas Islam Mandar.

Yang mungkin terjadi adalah bahwa nama Todilaling kemudian dilekatkan pada berbagai tradisi luhur sebagai bentuk legitimasi. Ini wajar dalam sejarah lisan. Yang terpenting bukanlah klaim otentisitas mutlak, tetapi bahwa kedua versi sama-sama ingin menegaskan: Mandar memiliki akar sejarah yang kuat, baik dalam kepemimpinan politik maupun dalam keislaman.

Buku ini memilih untuk berpegang pada versi Lontarak, karena secara kronologis lebih koheren untuk kisah Imanyambungi. Namun pembaca dianjurkan untuk membuka diri pada berbagai tafsir. Sejarah selalu bersifat multiversi, dan kekayaannya justru terletak pada perbedaan perspektif.


Ajakan Menggali Kembali Tokoh-Tokoh Lokal sebagai Fondasi Bangsa Maritim

Kisah Todilaling hanyalah satu dari sekian banyak tokoh lokal Nusantara yang selama ini kurang mendapat tempat dalam narasi sejarah nasional. Kita lebih akrab dengan nama-nama seperti Diponegoro, Pattimura, atau Imam Bonjol. Padahal, di setiap daerah, ada tokoh-tokoh seperti Imanyambungi yang tidak kalah penting dalam membangun fondasi kebangsaan.

Mengapa kita perlu menggali kembali tokoh-tokoh lokal?

Pertama, karena mereka adalah bukti bahwa Indonesia tidak dilahirkan dari kekosongan sejarah. Sebelum ada negara-bangsa modern, sudah ada kerajaan-kerajaan, konfederasi, dan sistem pemerintahan yang rumit. Todilaling membuktikan bahwa orang Mandar sudah memiliki konsep demokrasi (musyawarah adat) dan checks and balances sebelum bangsa Eropa mengklaimnya sebagai “pencerahan”.

Kedua, karena mereka memberikan alternatif model kepemimpinan yang berbeda dari narasi heroik yang terlalu kaku. Todilaling tidak mati di medan perang. Ia tidak melawan penjajah secara fisik. Ia adalah pembangun sistem. Ia mengajarkan bahwa kepemimpinan yang baik adalah yang menciptakan perdamaian dan kemakmuran, bukan yang paling banyak mengumpulkan kepala musuh.

Ketiga, karena semangat bahari mereka sangat relevan dengan visi Indonesia sebagai poros maritim dunia. Presiden Joko Widodo pernah mengingatkan bahwa kita sudah terlalu lama memunggungi laut. Todilaling tidak pernah memunggungi laut. Baginya, laut adalah jalan, sumber kehidupan, dan identitas. Menggali kisahnya berarti mengingatkan diri sendiri bahwa Indonesia adalah bangsa bahari, bukan hanya bangsa agraris.

Keempat, karena generasi muda perlu memiliki panutan yang dekat dengan budaya mereka sendiri. Anak-anak Mandar akan lebih mudah membayangkan diri menjadi pemimpin jika mereka tahu bahwa ada Imanyambungi – anak buangan dari Napo – yang berhasil menyatukan negerinya. Tokoh-tokoh lokal seperti ini adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan.

Maka, mari kita gali kembali naskah-naskah lontarak yang masih tersimpan di museum-museum daerah. Mari kita dengarkan cerita para tetua adat sebelum mereka tiada. Mari kita tuliskan biografi para tokoh lokal dengan bahasa yang menarik bagi generasi muda. Dan mari kita ajarkan di sekolah-sekolah bahwa sejarah Indonesia tidak dimulai dari proklamasi, tetapi dari napas panjang para leluhur di setiap sudut kepulauan ini.

Sebagaimana Todilaling tidak melupakan Napo meskipun ia membangun istana di Tangga-Tangga, kita tidak boleh melupakan akar lokal meskipun kita berbangga sebagai bangsa yang bersatu. Karena persatuan sejati bukanlah penyeragaman, tetapi penghormatan terhadap keragaman dalam satu ikatan kebangsaan.


Penutup Epilog: Ombak yang Tak Pernah Berhenti

Di akhir buku ini, saya kembali membayangkan Todilaling di tepi pantai Tangga-Tangga. Rambutnya putih. Langkahnya lambat. Tapi matanya masih sama seperti ketika ia kecil di Napo: penuh rasa ingin tahu, penuh api.

Ia memandang laut. Ombak datang dan pergi. Kapal-kapal berseliweran. Anak-anak bermain di pasir.

Seorang cucu bertanya kepadanya: “Kakek, apa yang kakek lihat di laut sana?”

Sama seperti pertanyaan yang dulu diajukan nakhoda tua Gowa kepadanya puluhan tahun lalu.

Imanyambungi tersenyum. Jawabannya sama:

“Aku melihat jalan. Jalan yang tidak pernah berakhir.”


Tamat.

awal bacaan TODILALING Kisah Imanyambungi, Pengasingan yang Menjadi Takhta

bacaan berikutnya Administrasi, Manajemen, dan Organisasi


Daftar Pustaka

Sumber Lontarak/Naskah

  • Lontarak Akkarungeng Bone. Koleksi Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan.

  • Lontarak Balanipa Mandar. Koleksi Museum Daerah Mandar, Majene.

  • Lontarak Pattapingan Mandar. Koleksi Museum Daerah Mandar, Majene.

  • Lontarak Pattodioloang di Mandar. Koleksi Museum Daerah Mandar, Majene.

Memoar & Dokumen Kolonial

  • Leyds, W. J. (1940). Memori van Overgave, Assistant Resident Mandar. Majene.

  • Turpijn, J. (1933). “De Boegineesche Handelsprauwen”. Economische Weekblad.

  • Anonim. (1912). “Nota van Toelichting Betreffende het Landschap Balangnipa”. TBG (Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde), No. 54. Batavia: Albercht M. Nijhiff.

Buku dan Jurnal Ilmiah

  • Alimuddin, Muhammad Ridwan. (2005). Orang Mandar Orang Laut. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

  • Amir, Muhammad. (2014). *Gerakan Mara’dia Tokape di Mandar 1870-1873*. Makassar: De La Macca.

  • Andaya, Leonard Y. (2004). *Warisan Arung Palakka: Sejarah Sulawesi Selatan Abad ke-17*. Makassar: Ininnawa.

  • Hamid, Abd. Rahman. (2011). Orang Buton: Suku Bangsa Bahari Indonesia. Yogyakarta: Ombak.

  • Mattulada. (1998). Sejarah, Masyarakat, dan Kebudayaan Sulawesi Selatan. Makassar: Hasanuddin University Press.

  • Paeni, Mukhlis, dkk. (1995). Sejarah Kebudayaan Sulawesi. Jakarta: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional.

  • Pelras, Christian. (2006). Manusia Bugis. Jakarta: Forum Jakarta-Paris EFEO.

  • Poelinggomang, Edward L. (2002). Makassar Abad XIX: Studi Tentang Kebijakan Perdagangan Maritim. Jakarta: Gramedia.

  • Poelinggomang, Edward L. (2012). Sejarah Mandar: Masa Kerajaan hingga Sulawesi Barat. Surakarta: Zadahaniva.

  • Rahman, Darmawan Mas’ud. (1988). Puang dan Daeng: Kajian Sistem Nilai Budaya Orang Balanipa Mandar (Disertasi). Makassar: Universitas Hasanuddin.

  • Rahman, Darmawan Mas’ud. (2014). Puang dan Daeng: Kajian Sistem Nilai Budaya Orang Balanipa Mandar. Surakarta: Zadahaniva Publishing.

  • Saharuddin. (1985). Mengenal Pitu Babana Binanga (Mandar) dalam Lintasan Sejarah Pemerintahan Daerah di Sulawesi Selatan. Ujung Pandang: CV. Mallomo Karya.

  • Sulistiyono, Singgih Tri. (2012). “Pasang Surut Jaringan Makassar Hingga Masa Akhir Dominasi Kolonial Belanda”. Dalam Indonesia Dalam Arus Sejarah: Kolonisasi dan Perlawanan Jilid 4. Jakarta: Kemdikbud.

  • Syah, M.T. Azis. (1997). Sejarah Mandar. Ujung Pandang: Yayasan Al Azis.

Artikel Jurnal

  • Amir, Muhammad. (2011). “Konflik Balanipa – Belanda di Mandar 1862-1872”. (Tesis Magister). Makassar: Universitas Hasanuddin.

  • Amir, Muhammad. (2019). “Pelayaran Niaga Mandar pada Paruh Pertama Abad ke-20”. Walasuji, Volume 10, No. 2. Makassar: BPNB Sulawesi Selatan.

  • Kila, Syahrir. (2014). “Hubungan Kerajaan Gowa dengan Kerajaan Balanipa Mandar”. Jurnal Walasuji, Volume 5, Nomor 2. Makassar: BPNB Sulawesi Selatan.

Sumber Online

Lain-lain

  • Daeng Malewa, Nadjamuddin. (1937). De Indonesische Prauwvaart. Surabaya.

  • Poelinggomang, Edward L., dkk. (2005). Sejarah Sulawesi Selatan, Jilid I. Makassar: Balitbangda Propinsi Sulawesi Selatan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAMUJU MISTIK: 10 KISAH GAIB YANG MENGGENTARKAN MAMUJU

PEMERINTAH DAERAH DI ERA EFISIENSI

BAB 11: KERANGKA HUKUM DAN KEBIJAKAN PENDUKUNG