Bab 10 Hukum, Perdagangan, dan Kedamaian

 



Kemenangan di medan perang hanyalah setengah dari perjuangan. Setengah lainnya adalah menciptakan tatanan yang membuat rakyat merasa aman, pedagang merasa untung, dan musuh merasa lebih baik menjadi kawan. Todilaling memahami bahwa perdamaian tidak bisa dijaga hanya dengan tombak. Ia membutuhkan hukum yang adil, pelabuhan yang teratur, dan ikatan persaudaraan lintas wilayah.


Penataan Sawannar (Syahbandar) untuk Mengatur Pelabuhan

Pelabuhan adalah urat nadi Kerajaan Balanipa. Dari sanalah kapal-kapal datang membawa berita, barang, dan pengaruh. Tapi pelabuhan yang tidak dikelola dengan baik bisa menjadi sumber kekacauan: pencurian, penipuan, bahkan penyelundupan senjata untuk memberontak.

Todilaling belajar dari pengalamannya di Gowa bahwa kerajaan besar selalu memiliki seorang pejabat yang bertugas mengatur lalu lintas pelabuhan. Di Gowa pejabat itu disebut Sawannar – sebuah kata yang berasal dari bahasa Persia shahbandar, yang kemudian menyebar ke seluruh Nusantara melalui para pedagang Gujarat dan Melayu.

Imanyambungi mengangkat sawannar pertama di Balanipa. Tugasnya tidak ringan:

  1. Mencatat setiap kapal yang masuk dan keluar – Nama kapal, asal daerah, jenis muatan, jumlah awak, dan tujuan berikutnya harus dicatat dalam lontarak khusus. Ini berguna untuk statistik perdagangan sekaligus untuk keamanan.

  2. Memungut pajak pelabuhan – Tidak sembarang pungutan. Todilaling menetapkan tarif tetap: dua persen dari nilai barang untuk pedagang asing, satu persen untuk pedagang Mandar, dan nol persen untuk kapal yang hanya singgah tanpa berdagang. Kebijakan ini membuat Balanipa dikenal sebagai pelabuhan yang ramah.

  3. Menengahi sengketa dagang – Jika terjadi perselisihan antara pedagang asing dan penduduk lokal, sawannar bertindak sebagai hakim. Jika tidak bisa diselesaikan, perkara dibawa ke istana.

  4. Menjaga keamanan pelabuhan – Sawannar memiliki pasukan kecil yang bertugas meronda di dermaga pada malam hari. Pencuri yang tertangkap akan dihukum kerja paksa membersihkan pelabuhan – bukan hukuman mati, kecuali jika terbukti membunuh.

Todilaling secara pribadi memilih sawannar pertama. Pilihannya jatuh pada seorang pedagang tua yang pernah membantunya saat ia masih menjadi awak kapal di Gowa. Laki-laki itu bukan bangsawan, tetapi jujur dan tegas.

“Aku tidak butuh orang yang pandai berbicara,” kata Todilaling. “Aku butuh orang yang pandai melihat. Pelabuhan adalah tempat di mana kebohongan dan kejujuran bercampur. Sawannarku harus bisa membedakan mana yang mana.”

Pelabuhan Tangga-Tangga pun tumbuh pesat. Pedagang dari Banjarmasin, Surabaya, Makassar, bahkan dari Malaka mulai menjadikannya tempat singgah rutin. Sarung tenun Mandar, rotan, madu, dan ikan asin menjadi komoditas unggulan. Sebaliknya, porselen dari Cina, kain dari Gujarat, dan rempah dari Maluku masuk ke Mandar melalui pelabuhan ini.

Kemakmuran pelabuhan berdampak ke seluruh negeri. Petani bisa menjual hasil bumi dengan harga lebih baik. Nelayan bisa menukar ikannya dengan beras dari Jawa. Pengrajin tenun kebanjiran pesanan.

Todilaling tidak pernah memungut pajak berlebihan. Ia tahu bahwa kemakmuran rakyat adalah sumber pendapatan jangka panjang yang jauh lebih berkelanjutan daripada pajak tinggi yang membuat pedagang lari.

“Sungai yang dialiri terus akan tetap mengalir. Sungai yang dibendung terlalu keras akan meluap dan merusak. Begitu pula pajak,” katanya.


Kerjasama dengan Pitu Babana Binanga dan Pitu Ulunna Salu

Mandar tidak hanya terdiri dari Balanipa. Wilayah pesisir dan pedalaman Mandar terbagi ke dalam dua wilayah besar yang sejak lama memiliki ikatan historis dan budaya: Pitu Babana Binanga (Tujuh Muara Sungai) dan Pitu Ulunna Salu (Tujuh Hulu Sungai).

Pitu Babana Binanga adalah konfederasi kerajaan-kerajaan pesisir: Balanipa, Sendana, Banggae (Majene), Pamboang, Tappalang, Mamuju, dan Binuang. Mereka hidup dari laut, perdagangan, dan tambak.

Pitu Ulunna Salu adalah wilayah pedalaman yang meliputi lembah-lembah dan pegunungan, seperti Mamasa, Tabang, Mambi, dan sekitarnya. Penduduknya lebih banyak bergantung pada pertanian, perburuan, dan hasil hutan. Secara etnis, mereka berkerabat dekat dengan orang Toraja.

Sebelum Todilaling, hubungan antara kedua wilayah ini tidak selalu harmonis. Kerajaan-kerajaan pesisir kadang memandang penduduk pedalaman sebagai "orang gunung" yang terbelakang. Sebaliknya, penduduk pedalaman menganggap orang pesisir sebagai pedagang licik yang selalu ingin mengeksploitasi mereka.

Todilaling melihat bahwa persatuan Mandar tidak akan lengkap tanpa merangkul kedua wilayah ini. Ia tidak bisa memaksakan kehendak dengan perang ke pegunungan – medannya terlalu berat, dan biayanya terlalu mahal. Ia memilih pendekatan lain: perdagangan dan perjanjian.

Ia mengirim utusan ke Pitu Ulunna Salu, membawa kain sutra, garam, dan besi – barang-barang yang langka di pedalaman. Sebagai imbalannya, ia meminta hasil hutan seperti rotan, damar, dan madu.

“Kita tidak perlu saling menaklukkan,” pesannya kepada para utusan. “Katakan kepada para Tomakaka di Ulunna Salu bahwa laut dan gunung bisa bersahabat. Kita butuh hasil hutan mereka. Mereka butuh hasil laut kita. Ini bukan perdagangan biasa. Ini adalah ikatan persaudaraan.”

Tawaran itu disambut baik. Lambat laun, hubungan dagang yang intensif melahirkan rasa saling membutuhkan. Para Tomakaka pedalaman mulai mengakui pengaruh Balanipa, bukan karena takut, tetapi karena mereka diuntungkan.

Untuk mengikat hubungan lebih erat, Todilaling memprakarsai perjanjian adat antara Pitu Babana Binanga dan Pitu Ulunna Salu. Isi perjanjian itu antara lain:

  • Setiap negeri di Pitu Ulunna Salu berhak mengirim wakilnya ke istana Balanipa untuk bermusyawarah.

  • Hasil hutan dari pedalaman akan mendapatkan prioritas di pelabuhan Tangga-Tangga, dengan tarif pajak yang lebih rendah.

  • Jika ada serangan dari luar Mandar, kedua wilayah wajib bahu-membahu mempertahankan tanah air.

  • Perkawinan antar bangsawan pesisir dan pedalaman didorong untuk mempererat tali keluarga.

Salah satu pasal yang paling menarik adalah tentang penyelesaian sengketa. Jika terjadi konflik antara warga pesisir dan pedalaman, tidak boleh diselesaikan dengan perang. Kedua belah pihak harus membawa perkara ke sidang adat bersama yang dihadiri wakil dari Pitu Babana Binanga dan Pitu Ulunna Salu.

Kerjasama ini tidak hanya memperkuat persatuan Mandar, tetapi juga menciptakan kedamaian yang langka di zamannya. Untuk pertama kalinya, wilayah yang membentang dari pantai hingga pegunungan merasa menjadi satu kesatuan.


Peran dalam Konfederasi Mandar (Perjanjian Luyo)

Puncak dari upaya Todilaling untuk menyatukan Mandar adalah Perjanjian Luyo, yang dalam sejarah dikenal sebagai Allamungan Batu di Luyo (Persatuan Batu di Luyo). Luyo adalah nama sebuah tempat di wilayah Balanipa, di mana para pemimpin dari seluruh Mandar berkumpul untuk mengadakan ikatan suci.

Perjanjian ini terjadi pada pertengahan abad ke-16 (sejarawan berbeda pendapat tentang tahun pastinya, tetapi umumnya sepakat bahwa Todilaling adalah tokoh kunci di baliknya). Konfederasi ini meliputi:

  • Tujuh kerajaan di pesisir (Pitu Babana Binanga)

  • Tujuh wilayah di pedalaman (Pitu Ulunna Salu)

  • Beberapa wilayah lain yang kemudian bergabung, seperti daerah-daerah di sekitar Mamuju utara.

Isi Perjanjian Luyo sangat luar biasa untuk zamannya. Beberapa pasal yang paling penting adalah:

1. Persatuan yang tak terpisahkan.
Dinyatakan dalam bahasa puitis Mandar:
“Tannipasa’ tanniatonang, ma’allonang mesa malatte samballa, siluang sambu-sambu sirondong langi’ tangi’.”
(Tak berpetak tak berpembatas, bersatu tikar bertikar selembar, sebulu tubuh selangit-langit.)

Artinya, mereka yang telah bersumpah dalam Perjanjian Luyo tidak bisa lagi memisahkan diri. Mereka adalah satu tubuh, satu tikar, satu langit.

2. Saling membantu dalam perang dan damai.
Jika salah satu anggota konfederasi diserang, yang lain wajib mengirim pasukan. Sebaliknya, jika ada anggota yang menyerang anggota lain, seluruh konfederasi akan bersatu melawannya. Ini adalah mekanisme yang cerdas untuk mencegah perang saudara.

3. Pembagian peran.
Dalam sebuah pasal yang terkenal, disebutkan:
“Pitu Ulunna Salu memata di sawa, Pitu Babana Binanga memata di mangiwang.”
(Pitu Ulunna Salu menjaga ular (musuh dari darat), Pitu Babana Binanga menjaga hiu (musuh dari laut).)

Artinya, wilayah pedalaman bertanggung jawab mengamankan perbatasan darat dari serangan luar yang datang dari arah timur atau utara. Wilayah pesisir bertanggung jawab mengamankan laut dari bajak laut dan invasi asing.

4. Kesetaraan di hadapan adat.
Tidak ada satu pun kerajaan yang lebih tinggi dari yang lain. Setiap kerajaan memiliki otonomi untuk mengatur urusan dalam negerinya sendiri, tetapi untuk urusan bersama, mereka bermusyawarah di Luyo.

5. Sumpah suci.
Perjanjian ini diikat dengan sumpah yang sangat berat, mengerikan menurut kepercayaan tradisional:
“Barangsiapa melanggar, ia akan dikutuk. Jika memijak tanah, tanah akan runtuh. Berpegangan di dahan, dahan akan patah. Jika berakar, akar akan putus. Jika punya anak, anaknya hanya punya kepala tanpa kaki, atau kaki tanpa kepala.”

Sumpah ini sengaja dibuat mengerikan untuk memastikan tidak ada yang berani mengingkarinya.

Todilaling tidak memaksakan Balanipa sebagai pemimpin tunggal konfederasi. Ia memilih posisi sebagai primus inter pares – yang pertama di antara yang sederajat. Balanipa menjadi tempat pertemuan para pemimpin, tetapi tidak memerintah yang lain.

“Lebih baik menjadi saudara yang disegani daripada menjadi tuan yang ditakuti,” katanya.


Dampak Konfederasi: Mandar yang Berdaulat

Perjanjian Luyo mengubah Mandar dari kumpulan negeri-negeri yang rapuh menjadi satu kekuatan politik yang disegani di Sulawesi Selatan. Ketika Kerajaan Gowa di selatan mulai memperluas pengaruhnya ke utara, mereka tidak bisa begitu saja menaklukkan Mandar karena konfederasi ini memiliki ikatan yang kuat dan armada yang tangguh.

Beberapa tahun setelah perjanjian, terjadi percobaan invasi oleh sebuah kerajaan kecil dari utara. Serangan itu dapat dipukul mundur karena armada dari Pitu Babana Binanga dan pasukan darat dari Pitu Ulunna Salu bekerja sama dengan koordinasi yang baik.

Kabar tentang kekuatan Konfederasi Mandar menyebar hingga ke Gowa. Para pejabat istana Gowa mulai berpikir ulang untuk menyerang ke utara. Mereka lebih memilih menjalin hubungan dagang yang saling menguntungkan.

Todilaling tidak pernah bermimpi menjadikan Mandar sebagai kerajaan besar yang menaklukkan wilayah lain. Cita-citanya sederhana: Mandar yang merdeka, bersatu, dan sejahtera.

Perjanjian Luyo adalah instrumen untuk mencapai cita-cita itu. Dan ia berhasil.


Warisan Konfederasi untuk Masa Depan

Setelah Todilaling mangkat, Konfederasi Mandar tetap bertahan selama beberapa generasi. Meskipun kadang ada gesekan antar anggota, mekanisme musyawarah di Luyo selalu berhasil meredakan ketegangan.

Ketika Belanda datang berabad-abad kemudian, mereka merasa kesulitan menguasai Mandar karena rakyatnya memiliki ikatan persaudaraan yang kuat. Perjanjian Luyo menjadi benteng budaya yang tidak bisa ditembus oleh senjata kolonial saja.

Hingga hari ini, semangat Perjanjian Luyo masih hidup dalam ungkapan-ungkapan tradisional Mandar:

“Sisara’ pai mata malotong anna mata mapute, anna sisara’ Pitu Ulunna Salu Pitu Babana Binanga.”
(Nanti berpisah mata hitam dengan mata putih, barulah Pitu Ulunna Salu dan Pitu Babana Binanga berpisah.)

Artinya, selama mata manusia masih bisa membedakan hitam dan putih – selama dunia masih berputar – persatuan Mandar tidak boleh diingkari.

Itulah warisan terbesar Todilaling: ia tidak hanya menyatukan wilayah, tetapi juga menanamkan kesadaran kolektif bahwa persatuan adalah harga mati, dan perdamaian adalah fondasi bagi segala kemakmuran.


Penutup Bab 10: Ketika Pelabuhan Berbicara

Di pelabuhan Tangga-Tangga, pada suatu senja, Todilaling berdiri di ujung dermaga. Kapal-kapal mulai berlabuh. Para pedagang dari berbagai negeri turun dengan muatan mereka. Anak-anak berlarian di antara karung-karung beras dan peti-peti kain.

Seorang saudagar tua dari Malaka mendekatinya.

“Tuanku, aku sudah berdagang ke banyak negeri. Tapi belum pernah aku melihat pelabuhan yang dikelola seadil ini. Tidak ada pungutan liar. Tidak ada premanisme. Bagaimana tuanku melakukannya?”

Todilaling tersenyum.

“Aku hanya memberi mereka aturan yang jelas, dan hukuman yang adil. Tapi yang lebih penting, aku memberi mereka alasan untuk mencintai pekerjaan mereka. Seorang sawannar yang bangga dengan pelabuhannya tidak akan membiarkannya rusak. Seorang pedagang yang dihormati tidak akan mengkhianati kepercayaan.”

Saudagar itu mengangguk. Ia mencium tangan Todilaling – sebuah penghormatan yang biasanya hanya diberikan kepada raja-raja besar.

“Semoga Tuhan melindungi Mandar,” katanya.

Todilaling memandang ke arah laut. Mentari mulai terbenam, mewarnai Selat Makassar dengan jingga keemasan.

“Amin,” bisiknya.

Bab 11 Pesan Terakhir Sebelum Mangkat


awal bacaan TODILALING Kisah Imanyambungi, Pengasingan yang Menjadi Takhta


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAMUJU MISTIK: 10 KISAH GAIB YANG MENGGENTARKAN MAMUJU

PEMERINTAH DAERAH DI ERA EFISIENSI

BAB 11: KERANGKA HUKUM DAN KEBIJAKAN PENDUKUNG