Konspirasi Emas Freeport: Keterlibatan CIA & Soeharto di Balik Freeport
PRAKATA
Mengapa Buku Ini Perlu Dibaca?
Di sebuah pegunungan di ujung timur Nusantara, terbentang tambang emas dan tembaga terbesar di dunia. Nilainya triliunan dolar. Isinya cukup untuk melunasi utang seluruh negara miskin di Afrika sekaligus. Namun, di atas gunung yang sama, ada anak-anak Papua yang mati kelaparan. Ada sungai-sungai yang berubah menjadi lumpur beracun. Ada suku-suku yang diusir dari tanah nenek moyang mereka dengan todongan senjata.
Inilah paradoks Freeport.
Buku ini tidak ditulis untuk sekadar mengulang berita. Buku ini lahir dari sebuah kegelisahan: bagaimana bisa tambang sebesar itu justru membuat rakyat di sekitarnya semakin tersingkir dan menderita? Dan lebih dari itu, mengapa semua “kebetulan” dalam sejarah Freeport – mulai dari kematian Presiden John F. Kennedy hingga jatuhnya Presiden Soekarno – terasa terlalu rapi untuk disebut sekadar kebetulan?
Selama puluhan tahun, masyarakat Indonesia hanya diberi narasi tunggal: Freeport adalah investasi asing yang menguntungkan, dan orang-orang Papua yang menolaknya adalah separatis. Narasi itu nyaman karena sederhana. Tapi kenyataan di lapangan jauh lebih gelap.
Buku ini akan mengajak Anda menyelami dokumen-dokumen yang terlupakan, kesaksian warga yang diusir dari kampung halamannya, serta kronologi yang tidak pernah diajarkan di sekolah. Dari catatan ekspedisi Jan Jacques Dozy tahun 1936 yang berdebu di perpustakaan Belanda, hingga kontrak janggal yang ditandatangani Soeharto hanya satu bulan setelah ia menjabat. Dari bisikan-bisikan CIA di balik kudeta berdarah 1965, hingga operasi militer Freeport yang disebut lebih kuat dari TNI sendiri.
Apakah kematian JFK dan jatuhnya Soekarno benar-benar kebetulan?
Ataukah ada tangan-tangan tak terlihat yang merancang semuanya demi mengamankan tambang emas terbesar di dunia? Buku ini tidak akan memberikan jawaban mudah. Tapi ia akan memberikan cukup banyak bukti untuk membuat Anda bertanya: Siapa sebenarnya yang menguasai Indonesia?
Sumber buku ini berasal dari berbagai dokumen sejarah: laporan geologi Dozy, kontrak Freeport versi 1967 yang dideklasifikasi, memoar pejabat Orde Baru, kesaksian warga Papua yang terekam oleh lembaga HAM internasional, serta analisis para sejarawan independen. Metode penulisan yang digunakan adalah kronologi investigatif – yaitu merangkai fakta-fakta yang tercecer dalam waktu dan ruang, lalu menyambungkannya seperti potongan puzzle. Ketika semua potongan disatukan, wajah konspirasi mulai tampak.
Buku ini tidak ditulis untuk membenci Amerika, atau membenci Soeharto, atau membenci siapa pun. Ia ditulis untuk mengungkap kebenaran – karena tanpa kebenaran, rakyat Papua akan terus menjadi korban, dan kita semua ikut menanggung dosa sejarah yang dibiarkan membusuk.
Selamat membaca. Dan bersiaplah untuk tidak nyaman.
Penyusun
farid asyhadi
BAGIAN 1
Awal Mula – Surga yang Hilang di Pegunungan Papua
Sebelum ada Freeport, sebelum ada tembaga dan emas, sebelum ada tentara asing dan kontrak jahat, Papua adalah surga yang hidup dalam harmoni. Bukan surga dalam pengertian agama mana pun – tapi surga dalam pengertian yang lebih sederhana dan lebih dalam: tempat di mana manusia tidak perlu takut kepada sesamanya, dan alam tidak perlu takut kepada manusia.
Bab pertama ini akan mengajak Anda memasuki dunia yang sudah lenyap. Dunia di mana waktu tidak diukur dengan jam, melainkan dengan rasa lapar. Dunia di mana gunung disebut ibu dan sungai disebut air susunya. Dunia di mana firasat buruk tahun 1936 menjadi awal dari segalanya.
Bab 1
Kehidupan Harmonis Suku Amung dan Kamoro
Gunung sebagai Ibu, Sungai sebagai Air Susu
Bagi suku Amung yang mendiami lereng Pegunungan Jayawijaya, dan suku Kamoro yang hidup di pesisir selatan Papua, alam bukanlah “sumber daya”. Alam adalah keluarga.
Ketika seorang anak Amung bertanya, “Dari mana kami berasal?”, orang tuanya tidak akan menjawab dengan mitos penciptaan yang rumit. Mereka akan menunjuk ke Gunung Ertsberg – gunung yang kelak akan dikenal sebagai tambang Freeport. “Di sanalah ibu kami,” kata mereka. “Dia melindungi kami sejak zaman nenek moyang.”
Dan sungai-sungai yang mengalir dari gunung itu? Itulah air susu sang ibu. Air yang memberi minum, air yang memberi ikan, air yang menjadi jalur perjalanan antar kampung. Setiap tetesnya dihormati. Tidak ada istilah “pencemaran” dalam bahasa Amung, karena tidak ada orang Amung yang berani meludahi air susu ibunya sendiri.
Coba bayangkan. Di dunia modern, kita membangun bendungan, kita mengalihkan aliran sungai, kita membuang limbah ke laut, dan kita menyebutnya “pembangunan”. Bagi suku Amung, tindakan sekecil membuang batu ke sungai pun dianggap sebagai penghinaan terhadap ibu mereka. Bukan karena mereka primitif. Justru karena mereka lebih beradab dalam hal menjaga keseimbangan.
Ritme Hidup Tanpa Jam dan Jadwal – Berburu, Meramu, Hidup Selaras Alam
Orang-orang modern terbiasa dengan bunyi alarm pukul 6 pagi, dengan jadwal rapat, dengan target kerja, dengan cicilan rumah, dengan rasa bersalah jika tidak “produktif”. Suku Amung dan Kamoro tidak mengenal semua itu.
Hidup mereka tidak dikuasai oleh waktu, melainkan oleh kebutuhan. Ketika perut lapar, beberapa lelaki akan masuk hutan untuk berburu babi hutan atau burung cenderawasih. Ketika seseorang sakit, perempuan-perempuan tua akan mencari dedaunan dan akar-akaran di sekitar kampung – resep obat yang diwariskan turun-temurun lebih dari seratus generasi. Ketika musim buah tiba, mereka akan memanjat pohon dan makan sampai kenyang. Tidak ada yang menimbun. Tidak ada yang menjual. Alam memberi, dan mereka menerima dengan rasa syukur yang tidak perlu diucapkan dengan doa panjang – cukup dengan cara tidak mengambil lebih dari yang dibutuhkan.
Inilah yang oleh orang-orang modern disebut primitif. Tapi coba renungkan: siapa yang lebih primitif? Orang yang hidup tanpa limbah industri, tanpa perang, tanpa keserakahan? Atau orang yang membangun pabrik, mencemari sungai, menggusur penduduk asli – lalu menyebut dirinya “beradab”?
Para antropolog yang sempat meneliti suku Amung sebelum Freeport masuk mencatat satu fakta menakjubkan: Tidak ada konsep “kelaparan” dalam bahasa Amung. Bukan karena tidak pernah kekurangan makanan – tapi karena alam di sekitar mereka selalu cukup. Pohon sagu bisa dipanen kapan saja. Ubi-ubian tumbuh liar. Sungai menyediakan udang dan ikan. Hutan menyediakan daging dan madu. Mereka tidak perlu menimbun makanan untuk musim paceklik, karena di pegunungan Papua tidak ada musim paceklik.
Coba bandingkan dengan kita, penduduk kota. Kita punya uang, punya kartu kredit, punya supermarket – tapi banyak dari kita hanya berjarak tiga minggu dari kebangkrutan total jika kehilangan pekerjaan. Siapakah yang sebenarnya lemah?
Firasat Buruk Tahun 1936
Namun, pada suatu waktu di bulan September 1936, keheningan surga itu mulai terusik.
Suku Amung sedang menjalankan ritus tahunan di lereng Gunung Ertsberg. Tiba-tiba, beberapa orang yang sedang berburu melihat bayangan asing di antara pohon-pohon pinus. Mereka mengira itu adalah roh hutan – karena tidak ada manusia yang berwajah seperti itu: kulit pucat seperti mayat, rambut pirang seperti serat kayu mati, pakaian yang menutupi seluruh tubuh dari ujung kepala sampai ujung kaki, bahkan di siang hari yang panas.
Orang-orang Amung belum pernah melihat kulit putih sebelumnya. Belum pernah melihat sepatu boot, jaket tebal, helm, atau kacamata hitam. Bagi mereka, makhluk-makhluk ini adalah iblis – atau mungkin alien – yang jatuh dari langit.
Yang lebih aneh lagi: makhluk-makhluk ini tidak berburu. Tidak mengambil umbi-umbian. Tidak membangun tempat tinggal. Mereka hanya bolak-balik masuk hutan, naik ke puncak gunung, lalu turun lagi. Kadang mereka membawa batu-batu aneh dan menciumnya. Kadang mereka mencatat sesuatu di atas kertas putih.
“Mereka datang dari negeri antah-berantah,” cerita seorang tetua Amung yang kemudian diwawancarai bertahun-tahun setelahnya. “Mereka tidak makan daging kami, tidak minum air kami. Mereka hanya melihat-lihat. Tapi hati saya tidak tenang. Rasanya seperti… ibu kami sedang diintai oleh pencuri.”
Firasat itu tidak keliru. Makhluk pucat itu bernama Jan Jacques Dozy, seorang geolog Belanda yang dikirim oleh perusahaan pertambangan Belanda untuk menyelidiki kekayaan mineral di Papua. Dozy tidak datang untuk berburu atau meramu. Dia datang untuk menghitung. Dia menghitung berapa banyak emas, berapa banyak tembaga, berapa banyak perak yang tertidur di perut Gunung Ertsberg – gunung yang oleh suku Amung disebut sebagai ibu mereka.
Dan Dozy menemukan sesuatu yang bahkan tidak pernah dia bayangkan: deposit tembaga-emas terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah manusia. Angkanya begitu besar sehingga dia menulis dalam laporannya: “Di sini, bijih tembaga dan emas menonjol keluar dari permukaan tanah. Tidak perlu menggali. Cukup memungutnya.”
Untunglah, pada waktu itu, laporan Dozy nyaris tidak dibaca siapa pun. Eropa sedang dilanda perang terbesar sepanjang masa, Perang Dunia II. Tidak ada investor yang peduli dengan batu berharga di Papua yang jauh di seberang lautan. Laporan itu disimpan di sebuah perpustakaan di Belanda, menjadi lapuk dimakan debu dan jamur, dan selama hampir tiga puluh tahun tidak ada yang menyentuhnya.
Selama tiga puluh tahun itu, suku Amung dan Kamoro masih hidup dalam ketenangan. Mereka tidak pernah tahu bahwa seorang asing telah menuliskan “harga” pada ibu mereka. Mereka tidak pernah tahu bahwa dunia luar sedang mengincar air susu yang mereka jaga.
Firasat buruk tahun 1936 tidak terbukti saat itu juga. Tapi seperti petir yang menyambar dari langit yang masih cerah, malapetaka itu hanya menunggu waktu.
Dan waktu itu datang, ketika seorang pebisnis di Amerika Serikat sedang hampir bangkrut, ketika seorang presiden muda ditembak mati di Dallas, dan ketika seorang jenderal ambisius mengambil alih kekuasaan di Jakarta.
(Bersambung ke Bab 2: Kedatangan Orang Pucat Berambut Pirang)
Bab 2 Kedatangan Orang Pucat Berambut Pirang
Sumber tulisan:

Komentar
Posting Komentar