Bab 2 Kedatangan Orang Pucat Berambut Pirang
Siapakah Jan Jacques Dozy?
Jan Jacques Dozy bukanlah nama yang dikenal dalam buku pelajaran sejarah Indonesia. Ia bukan jenderal, bukan presiden, bukan pahlawan. Ia hanyalah seorang geolog kelahiran Belanda tahun 1908 – seorang ilmuwan kutu buku yang lebih nyaman bergelut dengan peta dan bebatuan daripada dengan politik atau perang. Namun, ironisnya, namanya akan tercatat sebagai orang pertama yang menemukan gunung emas terbesar di dunia, sekaligus biang kesengsaraan bagi suku-suku asli Papua.
Dozy tumbuh di Rotterdam, Belanda, pada masa ketika imperium kolonial Belanda masih menguasai sebagian besar Nusantara. Ia belajar geologi di Universitas Leiden, dan kemudian bergabung dengan perusahaan pertambangan Belanda, Nederlandsche Nieuw-Guinea Petroleum Maatschappij (NNGPM). Perusahaan ini sebenarnya lebih fokus pada eksplorasi minyak bumi, tetapi Dozy punya minat khusus pada mineral-logam mulia.
Pada tahun 1936, ketika usianya menginjak 28 tahun, Dozy mendapat tugas yang terdengar mustahil: menjelajahi Pegunungan Jayawijaya di Papua tengah – wilayah yang belum pernah dipetakan dengan baik, ditutupi hutan lebat dan tebing terjal, serta dihuni oleh suku-suku yang belum pernah berhubungan dengan dunia luar. Tidak ada peta, tidak ada helikopter, tidak ada GPS. Hanya kompas, tenda, dan sejumlah kecil tenaga pembantu lokal.
Orang Belanda menyebut Papua sebagai “het laatste onbekende gebied” – wilayah terakhir yang tidak dikenal. Dan Dozy adalah salah satu dari sedikit orang yang nekat memasukinya.
Ekspedisi ke Puncak Jaya dan Penemuan “Gunung Emas”
Ekspedisi Dozy bukanlah perjalanan yang nyaman. Mereka berjalan kaki berminggu-minggu melewati rawa, sungai deras, dan lereng curam. Uap panas dan serangga menjadi teman setiap hari. Di malam hari, suhu di pegunungan bisa turun mendekati titik beku – bahkan di daerah tropis sekalipun.
Namun, Dozy bukan tipe orang yang mudah menyerah. Dia terus mendaki, terus mengambil sampel batuan, terus mencatat setiap detail geologis. Dan pada suatu hari di bulan September 1936, ketika ekspedisinya mencapai ketinggian sekitar 3.500 meter di atas permukaan laut, dia melihat sesuatu yang aneh.
Sebuah gunung kecil menjulang di hadapannya, dengan warna yang berbeda dari gunung-gunung di sekitarnya. Batuan di sana bukan hitam atau hijau, melainkan keabu-abuan dengan kilau kemerahan yang aneh. Dozy mengambil palu geologinya dan memecahkan sebagian batuan itu.
Dia tercengang.
Spesimen yang dipegangnya berat sekali. Jauh lebih berat dari batu biasa. Dia memeriksa dengan kaca pembesar – butiran-butiran kecil berwarna kekuningan tampak menyelingi bebatuan itu. Bukan perunggu, bukan pirit. Itu adalah emas. Dan di sekitarnya, terkandung pula tembaga dalam konsentrasi yang luar biasa tinggi.
Dozy sadar bahwa ia sedang berdiri di atas harta karun paling bernilai di muka bumi. Dia kemudian memberi nama gunung itu Ertsberg – dari bahasa Belanda “erts” yang berarti bijih, dan “berg” yang berarti gunung. Dengan kata lain: Gunung Bijih.
Dalam laporan teknisnya, Dozy menulis dengan nada hati-hati namun sulit menyembunyikan kegembiraannya:
“Di Ertsberg, bijih tembaga (dan juga emas) tersingkap secara alami di permukaan tanah. Tidak diperlukan penggalian dalam. Mineral-mineral ini dapat dipungut langsung. Volume yang terlihat secara visual menunjukkan deposit yang sangat besar – mungkin salah satu yang terbesar di dunia.”
Apa yang Dozy temukan bukanlah cadangan biasa. Para ahli geologi modern kemudian menghitung bahwa Ertsberg dan sekitarnya mengandung sekitar 30 juta ton cadangan tembaga dan lebih dari 2.000 ton emas. Dengan harga saat ini, nilainya lebih dari 1 triliun dolar. Itu cukup untuk menjadikan Papua sebagai salah satu wilayah terkaya di planet Bumi.
Namun, Dozy tidak tahu bahwa di balik gunung itu, ada suku Amung yang menyebutnya sebagai “ibu” mereka. Dia juga tidak tahu – atau mungkin tidak peduli – bahwa tanah itu bukanlah tanah kosong milik siapa pun. Tanah itu memiliki pemilik: suku-suku yang telah hidup di sana ribuan tahun sebelum Belanda atau Indonesia atau Freeport lahir.
Bagi Dozy, Ertsberg hanyalah objek ilmiah yang menarik. Bagi suku Amung, Ertsberg adalah jantung kehidupan mereka. Perbedaan perspektif inilah yang kelak menjadi bencana.
Laporan yang Terabaikan karena Perang Dunia II
Setelah kembali ke Belanda, Dozy menulis laporan lengkap tentang ekspedisinya. Dia menamainya “Het Ertsberg van Nederlandsch Nieuw-Guinea” (Gunung Bijih dari Papua Belanda). Laporan itu dipresentasikan di hadapan akademisi dan pejabat pertambangan pada tahun 1937.
Apa reaksi mereka?
Nol besar. Tidak ada yang peduli.
Mengapa? Karena pada tahun 1937, Eropa sedang gelisah. Adolf Hitler telah membangun mesin perang Jerman. Italia di bawah Mussolini menginvasi Etiopia. Spanyol berkecamuk dalam perang saudara. Di Asia, Jepang mulai merangsek ke Tiongkok.
Dua tahun setelah laporan Dozy diterbitkan, Perang Dunia II meletus. Belanda sendiri diduduki Nazi Jerman pada tahun 1940. Semua sumber daya dialihkan untuk perang. Tidak ada perusahaan yang mau bermimpi tentang tambang emas di Papua yang jauh di sana. Buku dan laporan Dozy disimpan di rak perpustakaan Geologische Dienst (Dinas Geologi) di Bandung, lalu pindah ke Belanda, dan akhirnya terlupakan di ruang bawah tanah yang lembap.
Dozy sendiri tetap hidup sebagai ilmuwan biasa. Dia meninggal pada usia 97 tahun pada tahun 2005 – cukup lama untuk menyaksikan gunung yang ia temukan itu dikeruk habis-habisan oleh Freeport, dan menyaksikan air mata suku Amung yang tidak pernah ia kenal.
Namun, nasib berkata lain. Laporan Dozy yang terlupakan itu suatu hari akan ditemukan kembali oleh seorang pebisnis Amerika yang sedang putus asa. Dan dari situlah babak baru konspirasi dimulai: ketika si pebisnis stres itu membawa kabar gembira ke telinga Freeport Sulfur, perusahaan yang nyaris bangkrut di Kuba, dan ketika CIA mulai membaca catatan itu sebagai peta harta karun.
*Catatan bab ini ditutup dengan nada misteri untuk menghubungkan ke Bab 3: “Freeport Sulfur: Bangkrut di Kuba, Bertahan di Papua”. Dozy telah menemukan gunung emas. Sekarang, orang-orang yang datang berikutnya tidak hanya akan melihat gunung itu – mereka akan membunuhnya.*

Komentar
Posting Komentar