IMAM LAPEO: PERJALANAN SUCI SEORANG WALI MANDAR Sejarah, Dakwah, dan Warisan Hidup K.H. Muhammad Thahir



Prakata

"Tidak ada yang benar-benar mati selama masih ada yang mengenang dan meneladani." Pepatah kuno itu terasa sangat hidup ketika kita berbicara tentang K.H. Muhammad Thahir, atau yang lebih dikenal sebagai Imam Lapeo. Lebih dari tujuh dekade sejak wafatnya pada tahun 1952, namanya tidak saja harum di kalangan santri dan ulama, tetapi juga hadir dalam mimpi, doa, dan ritual harian masyarakat Mandar modern.

Buku ini lahir dari kegelisahan akademik sekaligus kekaguman spiritual. Kegelisahan itu sederhana: di tengah arus modernisasi yang mengagungkan rasionalitas, mengapa makam seorang ulama abad ke-19 masih ramai diziarahi? Mengapa anak-anak muda di Parepare, Mamuju, dan Polewali Mandar masih meminta doa kepada keturunan Imam Lapeo? Mengapa Sayyang Patuddu—kuda menari—masih menjadi simbol kebanggaan budaya yang tak terpisahkan dari sosoknya?

Kekaguman itu tumbuh ketika kami menyelami berbagai penelitian—mulai dari skripsi fenomenologi di Universitas Hasanuddin, tesis tentang strategi dakwah, hingga jurnal-jurnal internasional yang mengkaji tasawuf Imam Lapeo. Ternyata, sosok ini bukan sekarga sejarah, melainkan otoritas spiritual yang hidup. Kesuciannya tidak pernah membatu; ia terus menerus dihidupkan kembali melalui ziarah, mitos, dan nilai-nilai pendidikan tasawuf yang diajarkannya.

Buku ini adalah upaya untuk menyajikan potret utuh Imam Lapeo: dari biografi dan silsilahnya, strategi dakwah yang cerdas dan kontekstual, mitos-mitos karamah yang menyertainya, hingga relevansinya bagi generasi milenial masa kini. Kami berharap, pembaca tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga inspirasi—bahwa kearifan lokal dan spiritualitas Islam dapat berjalan beriringan, bahwa seorang nelayan biasa bisa menjadi wali yang disakralkan, dan bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar berlalu; ia terus berbicara kepada kita hari ini.

Akhir kata, buku ini terbuka untuk kritik dan saran. Semoga menjadi bagian kecil dari upaya melestarikan warisan ulama Nusantara yang kaya dan tak ternilai.

Mamuju, Mei 2026

Penyusun


farid asyhadi



Pendahuluan: Mencari Yang Sakral – Mengapa Imam Lapeo Penting Hari Ini?

• Pembuka: Fenomena "Tokoh Suci" di Tengah Dunia Modern

Kita hidup di era yang sangat membanggakan akal. Sains, teknologi, dan logika menjadi kompas utama peradaban. Namun, ironisnya, bioskop Hollywood tetap ramai dengan film hantu, aplikasi ramalan zodiak diunduh jutaan kali, dan makam-makam keramat tak pernah sepi peziarah. Dunia modern tidak serta merta membunuh rasa ingin tahu manusia terhadap hal-hal gaib; ia hanya mengubah bentuk dan medianya.

Di Indonesia, fenomena ini sangat kentara. Dari makam Sunan Gunung Jati di Cirebon hingga makam Syekh Yusuf di Gowa, dari keris pusaka hingga jimat bertuah, masyarakat masih sangat akrab dengan apa yang oleh Emile Durkheim disebut sebagai yang sakral. Sakral bukanlah sifat intrinsik sebuah benda atau tempat, melainkan pemberian makna kolektif. Masyarakatlah yang menyucikan, dan kesucian itu kemudian membentuk perilaku, ritual, dan bangunan sosial.

Sulawesi Barat, terutama wilayah Mandar, memiliki salah satu pusat kesakralan yang paling kuat dan hingga kini terus hidup: Imam Lapeo. Desa Lapeo di Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar, tidak ubahnya sebuah oase spiritual. Di sana, berdiri Masjid Nurut-Taubah dengan menaranya yang khas, sebuah rumah panggung tua (Boyang Kayyang), dan sebuah makam yang setiap harinya dikunjungi puluhan bahkan ratusan peziarah. Mereka datang bukan sekadar untuk rekreasi, tetapi untuk bertemu dengan yang sakral—entah itu berdoa, bernazar, meminta berkah, atau sekadar merasakan ketenangan.

Mengapa tempat ini begitu istimewa? Karena semua jejak itu milik K.H. Muhammad Thahir, seorang ulama sufi yang oleh masyarakat Mandar diyakini sebagai waliyullah (kekasih Allah). Gelarnya, Imam Lapeo, melekat karena ia adalah pendiri sekaligus imam pertama masjid di desa Lapeo. Tapi lebih dari itu, ia adalah seorang Tosalama'—orang yang selamat dan memberi keselamatan.

Buku ini akan mengajak Anda menjelajahi fenomena kesakralan tersebut. Bukan dengan kacamata yang skeptis atau terlalu mudah percaya, melainkan dengan pendekatan fenomenologis: kita akan berusaha memahami bagaimana para peziarah dan masyarakat Mandar memaknai Imam Lapeo, bagaimana pengalaman spiritual mereka, dan bagaimana makna itu diterjemahkan ke dalam tindakan sehari-hari.

• Rumusan Masalah: Abad ke-19, Gema di Abad ke-21

Imam Lapeo lahir sekitar tahun 1838, di masa ketika tanah Mandar masih dikuasai oleh kerajaan-kerajaan lokal dan mulai bersentuhan dengan kolonialisme Belanda. Ia wafat pada 1952, saat Indonesia masih bayi berusia tujuh tahun. Pertanyaannya: mengapa sosok dari abad ke-18/19 ini masih begitu berpengaruh di abad ke-21?

Apakah karena karamah (mukjizat para wali) yang begitu masif diceritakan? Apakah karena strategi dakwahnya yang sangat cerdas, sehingga ajaran dan tradisi yang ia bangun masih berlanjut? Ataukah karena masyarakat Mandar—dan Sulawesi pada umumnya—memang memiliki kerinduan mendalam akan figur pemersatu yang arif dan karismatik?

Buku ini akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan merinci tiga dimensi utama:

  1. Dimensi Historis: Siapa sebenarnya Imam Lapeo? Bagaimana perjalanan hidup dan pendidikannya?

  2. Dimensi Dakwah: Strategi apa yang ia gunakan untuk menyebarkan Islam di tengah masyarakat yang masih kental dengan praktik animisme dan dinamisme?

  3. Dimensi Sakral: Mengapa ia diyakini sebagai wali? Bagaimana mitos dan karamah berperan dalam membentuk kepercayaan publik? Dan bagaimana nilai-nilai tasawufnya masih relevan bagi generasi milenial?

Kesimpulannya, buku ini akan menunjukkan bahwa Imam Lapeo bukanlah sekadar nama dalam buku sejarah, melainkan otoritas spiritual yang hidup. Kesuciannya tidak statis; ia terus dihidupkan ulang oleh komunitasnya melalui ziarah, ritual, penceritaan mitos, dan internalisasi nilai-nilai pendidikan yang ia wariskan.

• Metodologi: Fenomenologi, Sejarah, dan Kualitatif

Buku ini disusun berdasarkan penelitian multi-disiplin. Kami tidak mengandalkan satu sumber atau satu sudut pandang, melainkan menggabungkan beberapa pendekatan:

  1. Pendekatan Sejarah (Historis): Untuk merekonstruksi biografi, silsilah, dan konteks zaman Imam Lapeo, kami merujuk pada naskah-naskah lontara, literatur ulama setempat, dan penelitian terdahulu seperti skripsi Hasmirah (2019) dan tesis dari UIN Alauddin Makassar. Kami juga menelusuri rekam jejak gurunya hingga ke Timur Tengah.

  2. Pendekatan Fenomenologi: Untuk memahami pengalaman subjektif para peziarah, kami mengandalkan penelitian lapangan dari skripsi Nurul Shafira (2021) yang mewawancarai tujuh informan kunci di Kota Parepare. Pendekatan ini membantu kami melihat bagaimana Imam Lapeo dimaknai dalam kesadaran individu dan kolektif.

  3. Pendekatan Kualitatif (Etnografi-Sosiologis): Kami juga menggali data dari jurnal-jurnal yang mengamati langsung tradisi ziarah, seperti penelitian tentang Massulakka (sedekah ke kotak amal) dan dampak sosial-ekonomi wisata religi Imam Lapeo. Pendekatan ini memberikan gambaran tentang bagaimana praktik keagamaan beririsan dengan ekonomi, budaya, dan relasi sosial.

Dengan triangulasi sumber (wawancara, dokumen, observasi), buku ini berusaha menyajikan analisis yang seimbang: tidak terjebak pada mistisisme berlebihan, juga tidak kering oleh rasionalisme yang mengabaikan realitas sosial.

• Tesis Utama Buku

Imam Lapeo adalah simbol otoritas spiritual yang hidup. Kesuciannya tidak pernah membeku; ia terus diperbaharui melalui tiga mekanisme utama: (1) ziarah dan ritual di makam, masjid, dan rumahnya; (2) penceritaan kembali mitos-mitos karamah yang mengukuhkan status wali-nya; dan (3) internalisasi nilai-nilai pendidikan tasawuf (sabar, zuhud, ikhlas, taubat) yang terus diajarkan di pesantren dan majelis taklim hingga generasi milenial.

Dengan kata lain, Imam Lapeo tidak hanya penting karena apa yang ia lakukan di masa lalu, tetapi karena apa yang terus ia berikan di masa kini: keberkahan, keteladanan, dan harapan. Buku ini adalah undangan untuk memahami fenomena kesakralan tersebut dengan cara yang jernih, hormat, dan ilmiah.


Bagian I: Historiografi dan Pembentukan Seorang Wali

Bab 1: Dari Pambusuang ke Lapeo: Biografi Seorang Waliyullah

1.1 Kelahiran, Silsilah, dan Makna Nama

K.H. Muhammad Thahir, atau yang lebih populer dengan sebutan Imam Lapeo, dilahirkan di Pambusuang, sebuah desa pesisir di Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Tahun kelahirannya masih menjadi perdebatan kecil di kalangan sejarawan: sebagian menyebut 1838 M, sebagaimana ditulis dalam buku Perjalanan Hidup K.H. Muhammad Thahir (Muhsin, 2010), sementara sumber lain seperti Nuhung (2023) merujuk pada 1839 M. Perbedaan setahun ini tidak substansial, namun menandakan betapa minimnya catatan tertulis resmi dari masa itu. Yang jelas, beliau lahir di awal abad ke-19, ketika pengaruh kerajaan-kerajaan Mandar (Balanipa, Pamboang, Sendana, dll.) masih kuat dan Islam telah menjadi agama raja-raja sejak abad ke-17.

Nama yang diberikan orang tuanya bukanlah Muhammad Thahir, melainkan Junaihin Namli. Nama ini unik dan tidak umum di telinga Mandar. "Junaihin" kemungkinan berasal dari bahasa Arab Junayd (nama seorang sufi agung, al-Junayd al-Baghdadi), sementara "Namli" berarti "semut" (dari an-naml, surat ke-27 dalam Al-Qur'an). Kombinasi ini mencerminkan harapan orang tuanya: seorang yang lincah, tekun, dan rendah hati bagaikan semut, namun memiliki kedalaman spiritual.

Ayahnya bernama H. Muhammad bin Abdul Karim, seorang nelayan, petani, dan juga guru mengaji. Ibunya bernama Sitti Rajiah (atau Ikaji). Kedua orang tua ini dikenal sebagai keluarga yang taat beragama. Ayahnya adalah seorang hafiz (penghafal Al-Qur'an) pada zamannya, dan kakeknya, Abdul Karim al-Talaihi, dijuluki Kanne Nugo (Kakek yang buta) meskipun buta, ia tetap mengajarkan Al-Qur'an dengan metode khusus. Maka sejak kecil, Junaihin Namli sudah akrab dengan ayat-ayat suci.

Silsilah Imam Lapeo juga menarik jika ditelusuri. Dari garis ayah, ia adalah keturunan dari Guru Ga'de (atau Abdul Al-Adi), seorang penyebar Islam di akhir abad ke-17 yang berasal dari Jawa. Dari garis ibu, ia masih memiliki darah bangsawan (Mara'dia) dari keturunan To Malindo di Lita'na. Ini penting karena status sosial tersebut kemudian membantunya dalam strategi dakwah, terutama melalui jalur pernikahan dengan putri-putri bangsawan.

1.2 Penggantian Nama: Menjadi Muhammad Thahir

Nama Junaihin Namli tidak bertahan lama. Suatu ketika, gurunya, seorang habib besar dari Hadramaut yang menetap di Mandar, yaitu Habib Sayyid Alwi bin Abdullah bin Sahal Jumallullail, memberi nasihat agar nama itu diganti. Menurut tradisi sufi, nama memiliki energi spiritual yang dapat mempengaruhi pemiliknya. Sang habib mengganti namanya menjadi Muhammad Thahir. Muhammad adalah nama nabi terakhir, penuh berkah. Thahir berarti "suci" atau "bersih". Harapannya, anak ini akan menjadi pribadi yang suci lahir batin dan meneladani Rasulullah.

Perubahan nama ini bukan sekadar seremonial. Itu adalah bentuk inisiasi awal bahwa Junaihin Namli—sekarang Muhammad Thahir—diprediksi akan menjadi ulama besar. Di kemudian hari, ia memang membuktikannya.

1.3 Dari Pambusuang ke Lapeo: Mengapa "Imam Lapeo"?

Lantas, mengapa ia lebih dikenal sebagai Imam Lapeo? Jawabannya sederhana: karena beliaulah yang mendirikan Masjid Nurut-Taubah di Desa Lapeo, Kecamatan Campalagian, dan menjadi imam pertama di masjid tersebut. Nama "Lapeo" melekat pada dirinya sebagai penanda asal-usul tempat pengabdian utamanya.

Ini menarik. Meskipun lahir di Pambusuang dan menikah serta belajar di berbagai daerah, pusat gravitasi dakwahnya adalah Lapeo. Di desa inilah ia membangun masjid yang hingga kini menjadi ikon wisata religi. Di samping masjid, ada makamnya. Di depan masjid, ada rumahnya (Boyang Kayyang). Lapeo adalah segitiga sakral yang menjadi episentrum spiritualitas Mandar modern.

1.4 Kehidupan Ganda: Nelayan, Pedagang, dan Kepala Keluarga

Sebelum menjadi ulama besar, Muhammad Thahir juga menjalani kehidupan biasa. Sejak kecil, ia ikut ayahnya melaut. Kisah "jatuh ke laut lalu selamat secara ajaib" yang diceritakan dalam berbagai literatur mungkin berakar dari pengalaman nyata sebagai anak nelayan. Laut teluk Mandar adalah taman bermain sekaligus medan ujian baginya.

Di usia remaja, ia mulai berdagang. Bersama pamannya, H. Bukhari, ia merantau ke Padang, Sumatera Barat, membawa lipa' sa'be (sarung sutra Mandar). Di Padang, selain berdagang, ia menimba ilmu agama. Di sanalah ia juga belajar pencak silat. Sebagai saudagar, ia tidak hanya mengumpulkan harta, tetapi juga jaringan dan pengalaman hidup.

Dalam hal rumah tangga, Muhammad Thahir menikah enam kali sepanjang hidupnya. Daftar istrinya adalah:

  1. Sitti Rugayah (Amna Fatimah), dari Padang, dinikahkan oleh gurunya Habib Alwi. Dari pernikahan ini ia dikaruniai beberapa anak, termasuk KH. Muhsin Thahir dan Hj. Muhsanah Thahir (Annangguru Amma Jarra).

  2. Sitti Khadijah, putri dari tokoh masyarakat setempat. Dari pernikahan ini lahir KH. Najamuddin Thahir.

  3. Sitti Halifah (tidak dikaruniai anak).

  4. Sitti Attariyah (tidak dikaruniai anak).

  5. Hj. Hunainiyah (dari Mamuju, keponakan Raja Mamuju). Dikaruniai anak: KH. Abdul Muttalib Thahir, Hj. Asiah Thahir, Dr. Hj. Aminah Thahir.

  6. Syarifah Hamidah (tidak dikaruniai anak).

Pernikahan-pernikahan ini bukan semata-mata karena birahi, melainkan strategi dakwah (sebagaimana akan dibahas di Bab 3). Dengan menikahi putri-putri bangsawan dan keluarga terhormat, ia langsung memiliki akses dan legitimasi di wilayah-wilayah strategis: Padang, Mandar, dan Mamuju.

1.5 Wafat dan Awal Penyakralan

K.H. Muhammad Thahir Imam Lapeo menghembuskan napas terakhir pada hari Selasa, 27 Ramadhan 1362 H bertepatan dengan 17 Juni 1952 M, dalam usia yang sangat panjang: 114 tahun. Wafatnya terjadi di Lapeo, di pangkuan keluarga dan murid-murid terdekat.

Malam sebelum wafatnya, konon suasana begitu tenang, tidak ada angin berembus, pepohonan tampak rukuk. Cahaya terang menyelinap di kegelapan pagi. Wallahu a'lam. Namun, yang pasti, sejak saat itu, makam di halaman Masjid Nurut-Taubah tidak pernah sepi. Peziarah datang tidak hanya dari Mandar, tetapi dari berbagai penjuru Sulawesi, Kalimantan, bahkan Indonesia Timur.

Proses penyakralan berlangsung secara alami dan bertahap. Awalnya, orang datang sekadar mendoakan. Lalu, ada yang merasakan karamah (mendapatkan apa yang diinginkan setelah berdoa di makam). Cerita-cerita ajaib bermunculan: ada yang sembuh dari sakit, ada yang mendapat jodoh, rezeki lancar, masalah selesai. Mulailah tradisi nadzar (janji akan bersedekah atau memotong hewan jika hajat terkabul). Makam yang tadinya biasa, berubah menjadi pusat spiritual. Kehadiran dua orang putrinya yang masih hidup—Hj. Muhsanah (Annangguru Amma Jarra) dan Hj. Marhumah (Annangguru Kuma)—sebagai pewaris doa dan keberkahan, memperkuat tradisi ziarah ini.

Sejak itulah, Imam Lapeo tidak lagi sekadar ulama sejarah. Ia menjadi wali yang hidup: namanya disebut dalam doa, rumahnya dikunjungi, makamnya digenangi air mata, dan masjidnya tidak pernah sunyi dari suara takbir dan tahmid.


Bab 2: Rihlah Intelektual: Seorang Santri Abad ke-19 yang Berkelana

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAMUJU MISTIK: 10 KISAH GAIB YANG MENGGENTARKAN MAMUJU

PEMERINTAH DAERAH DI ERA EFISIENSI

BAB 11: KERANGKA HUKUM DAN KEBIJAKAN PENDUKUNG