Bab 2: Rihlah Intelektual: Seorang Santri Abad ke-19 yang Berkelana

 



2.1 Pendahuluan: Kehausan Akan Ilmu

Pada abad ke-19, bepergian dari Pambusuang ke berbagai penjuru Nusantara bahkan ke Timur Tengah bukanlah perkara mudah. Perjalanan laut memakan waktu berbulan-bulan, penuh risiko badai, perompak, dan penyakit. Namun, justru di tengah keterbatasan itulah para ulama Nusantara menunjukkan semangat belajar yang luar biasa. Mereka tidak puas hanya dengan ilmu yang diperoleh dari guru-guru lokal. Bagi mereka, rihlah (perjalanan menuntut ilmu) adalah ibadah sekaligus jihad intelektual.

K.H. Muhammad Thahir—yang kelak dikenal sebagai Imam Lapeo—adalah salah satu pengelana ilmu yang paling gigih. Jejak kakinya terbentang dari kampung halamannya di Pambusuang, hingga ke tanah Jawa, Semenanjung Malaya, dan bahkan ke pusat peradaban Islam di Makkah dan Istanbul. Bab ini akan memetakan perjalanan spiritualnya, mengidentifikasi para gurunya yang utama, serta menguraikan bagaimana sintesis antara Syariat dan Hakikat terbentuk dalam dirinya hingga melahirkan corak tasawuf yang unik.


2.2. Awal Mula: Belajar di Lingkungan Keluarga dan Mandar

Sebagaimana lazimnya tradisi pesantren awal di Nusantara, pendidikan pertama Imam Lapeo dimulai dari keluarga. Ayahnya, H. Muhammad bin Abdul Karim, adalah seorang guru mengaji dan nelayan. Dari ayahnya, ia belajar membaca Al-Qur'an dan dasar-dasar fikih. Kakeknya, Abdul Karim al-Talaihi atau Kanne Nugo (Kakek buta), meskipun tunanetra, adalah seorang hafiz yang mengajarkan metode menghafal yang kuat. Dalam suasana religius inilah Junaihin Namli kecil menghabiskan masa kanak-kanaknya.

Setelah menguasai Al-Qur'an, ia berguru kepada Guru Langgo di Pambusuang untuk mendalami bahasa Arab, terutama ilmu Nahwu dan Sharaf. Bahasa Arab adalah kunci memahami kitab-kitab klasik, dan Imam Lapeo menyadari pentingnya penguasaan alat ini sejak dini.

Usia remaja, ia pindah ke Pulau Salemo di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Pada masa itu, Salemo adalah pusat pendidikan agama yang terkenal, banyak melahirkan ulama besar Nusantara. Di pulau inilah ia pertama kali bersentuhan dengan tasawuf secara sistematis. Para guru di Salemo mengajarinya akhlak dan dasar-dasar tarekat. Sayangnya, nama-nama spesifik guru di Salemo tidak tercatat dalam literatur yang ada, namun diketahui bahwa tradisi keilmuan di Salemo sangat kuat bercorak sufi, terutama paham Ahlussunnah wal Jama'ah.


2.3. Merantau ke Tanah Jawa dan Sumatera

2.3.1 Padang, Sumatera Barat (Usia 18-21 tahun)

Kesempatan berdagang bersama pamannya, H. Bukhari, membawa Imam Lapeo ke Padang. Di sana, ia tidak hanya berjualan sarung sutra Mandar, tetapi juga mondok di surau-surau terkemuka. Para ulama Padang saat itu sangat berpengaruh dalam penyebaran tarekat Naqsyabandiyah dan Syattariyah. Imam Lapeo berguru kepada Syekh-syekh di Padang (nama-nama spesifik tidak disebut dalam sumber), dan di samping ilmu agama, ia juga mempelajari pencak silat—bekal yang kelak berguna saat menghadapi penjajah.

2.3.2 Pulau Jawa: Surabaya, Bangkalan, dan Sunan Ampel (Usia 24-31 tahun)

Dari Padang, ia melanjutkan perjalanan ke Pulau Jawa. Pertama, ia singgah di Masjid Banteng di Surabaya. Imam besar masjid tersebut kemudian mengarahkannya untuk menemui Sunan Ampel (masih dalam jaringan keturunan Wali Songo). Di kompleks Sunan Ampel, ia belajar tentang fikih dan tauhid.

Namun, guru yang paling berpengaruh di Jawa adalah Syaikhuna KH. Kholil Bangkalan (1820-1925), seorang ulama karismatik asal Madura yang menjadi rujukan banyak kiai Nusantara, termasuk pendiri NU, KH. Hasyim Asy'ari. Dari Syaikhona Kholil, Imam Lapeo mendalami tasawuf dan memperoleh ijazah (lisensi) untuk mengajarkan tarekat. Hubungan murid-guru ini sangat kuat; beberapa sumber menyebutkan bahwa KH. Kholil Bangkalan memberikan doa khusus agar muridnya dari Mandar ini sukses dalam dakwah. Konon, KH. Kholil juga memberi isyarat bahwa Imam Lapeo akan menjadi waliyullah.

Imam Lapeo tinggal di Jawa sekitar 7 tahun (ada sumber menyebut 7 tahun, ada yang menyebut beberapa tahun saja). Selama itu, ia tidak hanya belajar di bangku formal, tetapi juga mengamati langsung cara para wali Jawa mensinergikan Islam dengan budaya lokal—sebuah pelajaran berharga yang kelak ia terapkan di Mandar.


2.4. Singgah di Singapura dan Malaka

Dalam perjalanan pulang dari Jawa menuju Mandar, atau mungkin saat menuju Makkah, Imam Lapeo singgah di dua pusat perdagangan dan keilmuan Melayu: Singapura dan Malaka. Pada abad ke-19, Singapura di bawah kolonial Inggris telah menjadi kota kosmopolitan dengan beragam etnis, termasuk komunitas Arab dan India Muslim. Di sana, Imam Lapeo bertemu dengan ulama-ulama dari Hadramaut dan India. Ia mempelajari kitab-kitab fikih dan tasawuf yang beredar di pasaran.

Di Malaka, yang merupakan bekas kesultanan Melaka, ia menambah wawasan tentang sejarah Islam di Nusantara dan strategi dakwah di wilayah pesisir. Meskipun tidak banyak catatan detail tentang guru-guru spesifik di kedua kota ini, keberadaan Imam Lapeo di sana menunjukkan betapa luas jangkauan perjalanan intelektualnya. Ia tidak hanya berguru pada satu tradisi, tetapi terbuka pada berbagai mazhab dan pendekatan.


2.5. Puncak Rihlah: Makkah dan Istanbul (1886 dan seterusnya)

2.5.1 Di Makkah: Berguru pada Para Syekh Haramain

Pada tahun 1886, ketika berusia sekitar 48 tahun, Imam Lapeo untuk pertama kalinya menunaikan ibadah haji. Namun, ibadah haji baginya bukan sekadar ritual tahunan, melainkan kesempatan emas untuk memperdalam ilmu di tanah suci. Di Makkah, ia tinggal beberapa tahun lamanya dan mengikuti halaqah (lingkaran belajar) di Masjidil Haram.

Guru-gurunya di Makkah antara lain:

  • Syekh Muhammad al-Ibna (atau Muhammad Ibna), seorang ulama besar dari tanah Haram yang ahli dalam fikih dan usuluddin.

  • Syekh Hasan Yamani (atau Syekh Hasan al-Yamani), yang mengajarkan fikih dengan pendekatan perbandingan mazhab.

  • Kemungkinan juga berguru kepada Sayyid Alwi al-Maliki (meskipum lebih terkenal di abad ke-20, kakek dari Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki, namun ada tradisi keilmuan yang diwariskan secara turun-temurun).

Di Makkah, Imam Lapeo juga berinteraksi dengan para jemaah haji dari berbagai penjuru dunia. Ia melihat bagaimana Islam menjadi pemersatu umat lintas bangsa—sebuah visi yang kelak ia bawa pulang ke Mandar yang masih terpecah dalam kerajaan-kerajaan.

2.5.2 Istanbul: "Kanne Tambul"

Dari Makkah, ia melanjutkan perjalanan ke Istanbul, Turki, pusat Kekhalifahan Ottoman saat itu. Ini adalah langkah yang sangat tidak biasa bagi seorang ulama Nusantara abad ke-19. Kebanyakan ulama hanya sampai di Makkah dan Madinah. Namun, Imam Lapeo ingin melihat langsung peradaban Islam yang masih berkuasa dan mungkin ingin bertemu dengan ulama-ulama di sana.

Ia menetap di Istanbul selama beberapa bulan. Di sana, ia mempelajari ilmu-ilmu keislaman dalam tradisi Ottoman, termasuk tasawuf, fikih Hanafi, dan juga kemiliteran. Ia sempat mengunjungi museum dan perpustakaan, serta berdiskusi dengan ulama istana.

Karena kebiasaannya menceritakan pengalamannya di Istanbul kepada anak dan cucunya, ia dijuluki "Kanne Tambul" —dalam bahasa Mandar, Kanne berarti "kakek", dan Tambul adalah sebutan lokal untuk Istanbul (dari kata "Konstantinopel"). Gelar ini melekat dengan penuh hormat, sebagai pengakuan bahwa ia adalah seorang kakek (orang tua yang bijaksana) yang telah menjejakkan kaki di negeri yang jauh dan mulia. Dalam masyarakat Mandar yang sangat menghormati orang yang pernah menunaikan ibadah haji (gelar Haji) apalagi yang pernah ke Turki, "Kanne Tambul" adalah gelar kebanggaan.


2.6. Analisis tentang Guru-guru Utama

Menyusuri jejak guru-guru Imam Lapeo, kita bisa melihat keragaman corak keilmuan yang ia serap:

Nama GuruTempatCorak KeilmuanPengaruh pada Imam Lapeo
Ayahnya, H. MuhammadPambusuangAl-Qur'an, dasar fikihFondasi keagamaan yang kokoh
Kakeknya, Abd. KarimPambusuangHafalan Al-Qur'an, ketekunanMetode menghafal dan kesabaran
Guru LanggoPambusuangBahasa Arab (Nahwu Sharaf)Kemampuan membaca kitab kuning
Para guru di SalemoPulau SalemoAkhlak, tasawuf awalPengenalan dunia sufi
Para ulama PadangPadangTarekat, fikih, silatIntegrasi ilmu agama dan bela diri
Syaikhuna KH. Kholil BangkalanBangkalan, MaduraTasawuf, ijazah tarekatLegitimasi tarekat dan karomah
Syekh Muhammad al-IbnaMakkahFikih perbandinganKedalaman fikih
Syekh Hasan YamaniMakkahFikih mazhab Syafi'iPenguatan mazhab Syafi'i
Sayyid Alwi al-Maliki (dan gurunya)Makkah/Manding (?)Tasawuf 'AlawiyyahSilsilah spiritual (sanad)
Habib Alwi bin Sahal JumallullailMandar/Padang?Tasawuf, doa, inisiasiPenggantian nama, doa khusus

Dua nama yang paling sering disebut dalam literatur sebagai guru spiritual utama adalah Syaikhuna KH. Kholil Bangkalan (untuk aspek tarekat dan karomah) dan Habib Alwi bin Abdullah bin Sahal Jumallullail (untuk aspek silsilah 'Alawiyyah dan doa keberkahan). Habib Alwi-lah yang mengganti nama Junaihin Namli menjadi Muhammad Thahir, dan juga yang menjodohkannya dengan Sitti Rugayah sebagai bentuk ikatan spiritual dan sosial.

Al-Yafii yang disebut dalam beberapa sumber adalah guru di Parepare yang mengajarkan fikih dan tafsir. Nama lengkapnya tidak disebut secara gamblang, namun diduga adalah ayah dari Prof. Dr. H. Ali Yafie (ulama dan tokoh NU terkemuka). Ini menunjukkan bahwa jaringan keilmuan Imam Lapeo juga terhubung dengan ulama-ulama Sulawesi Selatan.


2.7. Sintesis Syariat dan Hakikat: Pandangan Tasawuf yang Unik

Apa yang membuat Imam Lapeo berbeda dari ulama lain yang hanya berfokus pada fikih atau hanya pada tasawuf? Jawabannya: ia berhasil menyintesiskan Syariat dan Hakikat.

Dalam tradisi Islam, Syariat adalah aturan-aturan lahiriah ibadah dan muamalah. Hakikat adalah dimensi batiniah, kedekatan spiritual dengan Tuhan. Sebagian kelompok cenderung tekstualis (kering), sebagian lain cenderung sufistik eksesif (mengabaikan syariat). Imam Lapeo mengambil jalan tengah.

Perjalanan intelektualnya memberinya bekal yang seimbang:

  • Dari KH. Kholil Bangkalan dan para guru tasawuf, ia belajar bahwa hakikat tidak bisa dicapai tanpa syariat. Bahkan, tarekat yang ia amalkan (Syadziliyah, Naqsyabandiyah, dan Qadiriyah) semuanya mewajibkan pemenuhan shalat, puasa, zakat, dan haji sebagai prasyarat.

  • Dari para guru fikih di Makkah dan Padang, ia belajar bahwa syariat tanpa hakikat hanya kulit tanpa isi. Ibadah yang kering, hanya gerakan tanpa penghayatan, tidak akan membawa seseorang dekat kepada Allah.

Dalam praktiknya, Imam Lapeo mengajarkan tarekat tetapi tidak pernah meninggalkan pengajian kitab kuning (fiqh, tauhid, tafsir). Ia mendirikan masjid dan pesantren, bukan hanya surau untuk berzikir. Ia menikahi putri bangsawan sebagai strategi dakwah (aspek muamalah sosial), sambil di malam hari melakukan qiyamul lail dan wirid.

Pandangan tasawufnya bersifat moderat (wasathiyyah). Ia tidak anti-kebudayaan (seperti kaum puritan), tetapi juga tidak menyerap budaya tanpa filter (seperti sinkretisme). Ia mengambil budaya lokal Mandar—seperti Sayyang Patuddu (kuda menari)—dan memberinya makna Islami: sebagai apresiasi untuk anak-anak yang khatam Al-Qur'an, bukan sebagai ritual sesajen.

Kesimpulannya, perjalanan panjang Imam Lapeo dari Pambusuang hingga Istanbul membentuk pribadi ulama yang berwawasan global namun berakar lokal. Ia menguasai khazanah keilmuan Islam klasik dan modern, tetapi tetap setia pada identitas Mandar dan Ahlussunnah wal Jama'ah. Ia adalah sufi yang faqih dan faqih yang sufi. Inilah kunci mengapa ajarannya begitu tahan lama: ia tidak pernah memisahkan antara yang batin dan yang lahir, antara hati dan hukum.


2.8. Penutup Bab: Warisan Rihlah Intelektual

Jejak-jejak perjalanan Imam Lapeo tidak hanya tersimpan dalam ingatan para keturunannya, tetapi juga dalam lembaga-lembaga yang ia dirikan. Masjid Nurut-Taubah, pesantren Addiniyah al-Islamiyah, dan tradisi majelis taklim yang ia rintis adalah bukti nyata bahwa rihlah intelektualnya membuahkan hasil yang membumi.

Generasi milenial Mandar hari ini mungkin tidak perlu berlayar ke Istanbul untuk belajar Islam. Namun, semangat rihlah Imam Lapeo—rasa haus akan ilmu, keberanian melintasi batas, dan keterbukaan pada tradisi yang berbeda—adalah pelajaran abadi. Seorang muslim tidak boleh berhenti belajar, dan ketika ia kembali ke kampung halaman, ia harus membawa manfaat untuk masyarakatnya.


Catatan: Bab 2 ini telah memenuhi semua poin: pemetaan perjalanan, makna gelar Kanne Tambul, analisis tentang guru-guru terutama Al-Yafii dan Sayyid Alwi al-Maliki, serta kesimpulan tentang sintesis Syariat dan Hakikat. Berikutnya dapat dilanjutkan ke Bab 3 (tentang strategi dakwah) atau bab lain sesuai kerangka awal.

Bab 3: Melampaui Mimbar: Tiga Pilar Dakwah Imam Lapeo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAMUJU MISTIK: 10 KISAH GAIB YANG MENGGENTARKAN MAMUJU

PEMERINTAH DAERAH DI ERA EFISIENSI

BAB 11: KERANGKA HUKUM DAN KEBIJAKAN PENDUKUNG