Bagian 7: Kisah Nyata Penaklukan yang Dicatat Kitab Suci (Tapi Tak Lengkap)

 


7.1 Yakjuj Majuj dan Tembok Raksasa di Laut Hitam

Di antara sekian banyak episode dalam kehidupan Zulkarnain, tidak ada yang lebih misterius dan spektakuler selain pertemuannya dengan bangsa asing di ujung barat dunia—tepatnya di wilayah yang oleh Al-Qur’an digambarkan sebagai tempat matahari terbenam di dalam ‘ainu hami’ah (mata air yang berlumpur hitam).

Para sejarawan modern, dengan bantuan geologi dan arkeologi, mengidentifikasi lokasi itu sebagai wilayah Laut Hitam (Black Sea) di utara Anatolia (Turki masa kini). Lumpur hitam di dasar laut itu disebabkan oleh endapan hidrogen sulfida dan mineral tertentu, sebuah fenomena yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Di tepian Laut Hitam inilah Zulkarnain menemukan sebuah masyarakat yang sangat aneh—dan sangat menderita.


• Masyarakat asing dengan bahasa tak dikenal meminta tolong dari teror Yakjuj Majuj (Gog Magog)

Setelah berhasil menyatukan sebagian besar wilayah Persia hingga Asia Kecil, Zulkarnain memutuskan untuk melakukan ekspedisi ke barat laut, melewati pegunungan Kaukasus, menuju daerah yang saat itu belum tersentuh peradaban besar. Rombongannya menyusuri pantai timur Laut Hitam, melewati hutan lebat dan tebing curam.

Di sebuah lembah yang tersembunyi di antara dua gunung, mereka bertemu dengan sekelompok manusia dengan bahasa yang sangat asing—bahkan penerjemah istana yang menguasai belasan bahasa sekalipun tidak bisa memahami satu kata pun. Namun, bahasa tubuh mereka cukup jelas: mereka ketakutan, tangisan, dan sujud di hadapan Zulkarnain.

Setelah berhari-hari berusaha berkomunikasi dengan bantuan gerak tubuh dan gambar di tanah, akhirnya Zulkarnain mengerti apa yang menimpa mereka.

Di balik celah gunung yang sempit itu, hiduplah dua bangsa biadab yang sangat ganas. Dalam kitab suci mereka (dan kemudian diabadikan dalam Al-Qur’an serta Alkitab) bangsa itu disebut Yakjuj dan Majuj—dalam tradisi Yahudi-Kristen dikenal sebagai Gog dan Magog.

Makhluk-makhluk ini bukan manusia biasa dalam pandangan masyarakat setempat. Mereka adalah subspesies (atau bangsa liar) yang memiliki kebiasaan mengerikan: setiap musim semi, mereka keluar dari gua-gua di pegunungan utara, menyerbu desa-desa, membunuh laki-laki, memperkosa perempuan, merampas hasil panen, dan menghancurkan apa pun yang mereka bisa. Tidak ada cara untuk bernegosiasi dengan Yakjuj Majuj, karena mereka tidak mengenal bahasa, tidak mengenal raja, dan tidak mengenal belas kasih.

Para tetua desa itu berkata (dengan isyarat dan beberapa kata yang mulai dipahami penerjemah):

“Wahai raja agung dari selatan, kami telah bertahun-tahun hidup dalam ketakutan. Setiap musim panen, mereka datang seperti belalang. Kami sudah berperang, tapi kalah terus. Kami sudah membangun pagar kayu, tapi mereka bakar. Kami sudah memohon kepada dewa-dewa kami, tapi tidak ada yang menjawab. Tolonglah kami. Kami berikan semua harta kami. Kami berikan takhta kami. Selamatkan rakyat kami.”

Zulkarnain mendengar dengan saksama. Ia menatap mata anak-anak yang kurus dan penuh luka, para perempuan yang gemetar, dan para lelaki dengan tangan terpotong. Hatinya terguncang.


• Tawaran harta dan takhta ditolak – Zulkarnain hanya ingin menolong

Para pemimpin desa itu kemudian membawa Zulkarnain ke sebuah gua yang mereka gunakan sebagai tempat persembunyian harta. Di dalamnya, bertumpuk-tumpuk emas, permata, kain sutra, dan barang-barang berharga yang mereka kumpulkan dari generasi ke generasi. Mereka dengan rendah hati mempersembahkan semuanya:

“Ini semua untukmu, wahai raja. Ambillah. Kami tidak butuh kekayaan. Kami hanya ingin hidup tenang tanpa diteror.”

Para panglima Zulkarnain yang ikut serta dalam ekspedisi itu langsung bersemangat. Mereka berbisik, “Baginda, dengan harta ini kita bisa membiayai perang selama seratus tahun. Terimalah!”

Namun, Zulkarnain menggeleng. Ia berkata dengan suara yang tegas namun lembut:

“Aku tidak datang ke sini untuk menjadi saudagar yang mengambil upah. Aku datang ke sini karena Allah mengujiku dengan melihat penderitaan kalian. Simpan kembali harta kalian. Aku tidak akan mengambil satu keping pun. Yang aku minta hanyalah satu hal: kerja sama kalian saat aku membangun tembok.”

Para tetua desa terisak-isak. Belum pernah dalam hidup mereka melihat seorang raja yang begitu perkasa namun rendah hati, begitu kuat namun tidak serakah. Mereka langsung menyetujui apa pun yang diminta Zulkarnain.


• Pembangunan benteng tertinggi, akses ditutup rapat tanpa imbalan

Zulkarnain kemudian memerintahkan para insinyur istananya untuk mengamati medan. Celah gunung tempat Yakjuj Majuj biasa keluar ternyata strategis: dua tebing yang sangat curam dengan jarak hanya sekitar 200 meter di bagian tersempit. Jika celah itu bisa ditutup dengan tembok yang sangat kuat dan tinggi, maka tidak ada lagi jalur bagi bangsa biadab itu untuk masuk ke lembah pemukiman.

Bahan bangunan tidak mudah. Kayu akan dibakar oleh Yakjuj Majuj. Batu biasa akan dijebol perlahan. Maka Zulkarnain memerintahkan untuk mencampur besi dan tembaga. Besi yang ditempa menjadi balok-balok besar, lalu disusun seperti bata, kemudian dileburkan tembaga cair di sela-selanya sehingga menyatu menjadi satu kesatuan logam yang hampir tidak bisa dihancurkan.

Proses pembangunan memakan waktu bertahun-tahun. Ratusan pekerja desa bahu-membahu. Zulkarnain sendiri tak pernah absen mengawasi, kadang ikut mengangkat batu besi—sesuatu yang membuat para pekerja terkesima. “Raja besar sekalipun mau bekerja keras bersama kami.”

Ketika tembok itu akhirnya rampung, tingginya mencapai puluhan hasta (sekitar 30-50 meter), sangat licin, dan tidak memiliki pegangan. Tidak ada tangga, tidak ada pintu. Dari atas tembok, para penjaga bisa melihat ke lembah Yakjuj Majuj—mereka yang biasanyamerangsek dengan mudah, kini hanya bisa memukul-mukul tembok dengan tinjukan, putus asa, lalu kembali ke gua-gua mereka.

Zulkarnain berkata kepada para pemimpin desa:

“Ini adalah rahmat dari Tuhanku. Tembok ini akan melindungi kalian sampai waktu yang ditentukan oleh-Nya. Jika suatu hari nanti tembok ini runtuh, itu pertanda bahwa kiamat sudah dekat. Jangan lagi kalian takut. Kembalilah ke ladang kalian, besarkan anak-anak kalian, dan beribadah kepada Tuhan kalian masing-masing.”


• Hasilnya: raja menjadi simpatisan dan sumpah setia secara sukarela

Setelah tembok selesai, Zulkarnain bersiap untuk melanjutkan perjalanannya. Namun, raja setempat (yang tadinya sangat ketakutan) malah menghadang di depan kuda Zulkarnain sambil menangis.

“Baginda, aku tidak punya apa-apa lagi untuk kuberikan. Tapi aku dan seluruh rakyatku bersumpah setia kepadamu. Kami akan mengakui kekuasaanmu di atas kami. Bukan karena kami takut, tetapi karena kami melihat bahwa engkaulah pemimpin yang benar-benar adil.”

Zulkarnain turun dari kudanya, memeluk raja itu, dan berkata:

“Aku tidak membutuhkan sumpah setia kalian. Aku sudah dibayar dengan melihat senyum anak-anak kalian yang tidak takut lagi. Cukup itu. Aku tetap mengakui kalian berdaulat atas wilayah kalian sendiri. Yang aku minta hanyalah: jangan pernah menindas sesama manusia, dan jangan pernah menutup pintu bagi musafir yang kehausan.”

Itulah Zulkarnain. Dia membangun tembok raksasa yang dikenang dalam Al-Qur’an dan kitab suci lainnya, tetapi kitab suci tidak menceritakan detail hikmah di baliknya: penolakan terhadap harta, kerja sama sukarela, dan loyalitas yang muncul karena kebaikan, bukan karena paksaan.

Kisah tembok Yakjuj Majuj ini kemudian menjadi salah satu bukti bahwa kekuatan sejati adalah ketika Anda bisa menyelamatkan orang tanpa meminta imbalan. Zulkarnain tidak pernah mengklaim tembok itu sebagai miliknya. Ia mengatakan, “Ini rahmat Tuhanku.” Dan ketika ada yang bertanya, “Baginda, apa yang akan terjadi jika suatu saat bangsa jahat itu berhasil menembus tembok?” Zulkarnain menjawab dengan tenang, “Maka saat itu dunia sudah tidak butuh lagi tembok. Karena keadilan sejati hanya akan tegak di akhirat.”


(Penutup sementara)

Di sinilah salah satu keajaiban Zulkarnain: ia mendapatkan kekuasaan lebih besar bukan dengan merampas, tetapi dengan memberi. Para raja di negeri taklukan tidak kehilangan tahta mereka; sebaliknya, mereka mendapatkan keamanan dan martabat. Maka mereka dengan sukarela menjadi bagian dari kekuasaannya.

Kisah ini juga menjelaskan mengapa gelar “Penakluk Hati” begitu melekat pada Zulkarnain. Ia tidak menaklukkan tanah dengan darah; ia menaklukkan hati dengan kebaikan.


7.2 Penghancuran Babilonia dan Pembebasan Yahudi

Di antara semua pencapaian Zulkarnain, tidak ada yang lebih dramatis dan berdampak luas bagi peradaban dunia selain penghancuran Kekaisaran Babilonia dan pembebasan bangsa Yahudi. Peristiwa ini dicatat baik dalam Alkitab (Perjanjian Lama) maupun dalam artefak arkeologi terkenal, Silinder Koresh. Namun, sebagaimana kisah-kisah lain, detail yang tidak termuat dalam kitab sucilah yang justru memperlihatkan kedahsyatan karakter Zulkarnain.


• Babilonia selama ini memperbudak bangsa Yahudi

Pada masa kejayaannya, Babilonia adalah monster peradaban. Temboknya begitu tebal sehingga dua kereta perang bisa berpapasan di atasnya. Taman Gantungnya menjadi salah satu keajaiban dunia. Namun di balik kemegahan itu, Babilonia menyimpan kegelapan: rajanya lalim, pajaknya menghancurkan, dan kebijakannya kejam.

Bangsa Yahudi—yang telah kehilangan tanah air mereka, Israel dan Yehuda—diboyong ke Babilonia sebagai budak setelah kehancuran Yerusalem (sekitar 586 SM). Mereka dipaksa bekerja keras di proyek-proyek raksasa, dihinakan, dan dilarang menjalankan ibadah secara bebas. Bait Suci (Kuil Sulaiman) yang suci bagi mereka diratakan dengan tanah.

Bayangkan: sebuah bangsa yang percaya pada satu Tuhan, yang memiliki kitab suci dan hukum sendiri, kini hidup di tengah bangsa penyembah berhala, dipaksa menyembah patung-patung dewa Babilonia. Setiap hari adalah penderitaan. Setiap malam adalah doa untuk seorang pembebas.

Namun, Babilonia terlalu kuat. Tidak ada yang berani melawannya—sampai suatu hari, Zulkarnain datang dari timur.


• Satu kali perang di tepi Sungai Efrat – Babilonia runtuh, raja lalim dilengserkan

Zulkarnain sebenarnya tidak ingin berperang dengan Babilonia. Beberapa kali ia mengirim duta dengan pesan: “Hentikan penindasan terhadap bangsa-bangsa taklukan. Beri kebebasan beribadah. Jika tidak, aku akan datang.”

Namun, raja Babilonia—yang namanya tercatat dalam sejarah sebagai Belsyazar atau Nabonidus (tergantung sumber)—terlalu sombong. Ia bahkan menghina duta Zulkarnain, memotong hidung mereka, dan mengirim kembali dengan pesan: “Katakan pada raja Persia kampungan itu bahwa dewa Marduk lebih besar dari semua dewanya.”

Zulkarnain tidak marah. Ia hanya berkata kepada jenderal-jenderalnya, “Mereka sudah memilih jalannya sendiri.”

Maka bergeraklah pasukan Zulkarnain ke barat, menyusuri sungai Efrat. Babilonia yang percaya diri dengan tembok raksasanya dan persediaan makanan untuk 20 tahun, tidak terlalu khawatir. Namun, Zulkarnain tidak mengepung kota itu. Ia tahu kelemahan Babilonia: sungai Efrat yang mengalir di bawah tembok kota.

Pada malam yang strategis, pasukan Zulkarnain mengalihkan aliran sungai ke saluran buatan, sehingga air surut dan dasar sungai menjadi kering. Mereka masuk melalui terowongan sungai yang terbuka—sesuatu yang tidak pernah diduga oleh pasukan Babilonia. Dalam satu malam, bagian dalam kota sudah dikuasai tanpa pertumpahan darah massal.

Pertempuran sesungguhnya hanya terjadi di istana. Namun, tentara Babilonia yang terkejut dan kehilangan semangat, dengan cepat menyerah. Raja Babilonia ditangkap di ruang jamuannya yang mewah, masih dengan gelas anggur di tangan. Ketika ia digiring ke hadapan Zulkarnain, ia bergumam, “Hari ini, dewa Marduk telah meninggalkanku.”

Zulkarnain menjawab, “Tuhan tidak meninggalkan siapa pun. Kaulah yang meninggalkan keadilan.”

Satu perang. Satu malam. Babilonia yang tak tersentuh selama berabad-abad, runtuh.


• Tidak ada pembantaian, tidak ada paksaan ganti agama atau identitas

Sekarang tibalah ujian sesungguhnya bagi Zulkarnain. Di zamannya, adalah praktik umum bagi pemenang perang untuk:

  • Membantai semua laki-laki dewasa di kota yang ditaklukkan.

  • Memperkosa dan memperbudak perempuan serta anak-anak.

  • Menjarah habis seluruh harta, lalu membakar kota.

Zulkarnain melakukan sebaliknya.

Ia mengeluarkan dekrit di hari pertama pendudukan:

“Tidak seorang pun boleh dibunuh kecuali jika ia mengangkat senjata setelah menyerah. Perempuan dan anak-anak dilindungi. Toko-toko, rumah ibadah, dan pasar tetap buka seperti biasa. Harta milik pribadi tidak boleh dirampas.”

Beberapa tentaranya kecewa. Mereka berharap mendapat rampasan perang yang melimpah. Zulkarnain memanggil mereka dan berkata:

“Kalian datang ke sini untuk membebaskan, bukan menjadi perampok. Jika kalian menginginkan kekayaan, pulanglah ke kampung halaman dan berniagalah. Di sini, kalian adalah prajurit keadilan.”

Kebijakan ini membuat seluruh rakyat Babilonia—yang tadinya takut akan pembantaian—lega. Mereka tidak dipaksa mengganti agama menjadi pemujaan Tuhan Cahaya versi Zulkarnain. Mereka tidak dipaksa mengganti bahasa atau nama. Bahkan para pejabat Babilonia yang tidak terlibat kejahatan raja, dipertahankan di pos mereka.

Tidak ada pembantaian. Tidak ada paksaan. Itulah Zulkarnain.


• Orang Yahudi bebas beribadah, kuil dibangun kembali – dicatat dalam Perjanjian Lama (Alkitab) dan Silinder Koresh

Kebijakan yang paling revolusioner adalah terhadap bangsa Yahudi.

Zulkarnain memerintahkan semua budak Yahudi untuk dibebaskan. Mereka diberikan pilihan: tetap tinggal di Babilonia dengan status warga bebas, atau kembali ke tanah leluhur mereka di Yerusalem. Sebagian besar memilih pulang.

Namun, Yerusalem sudah hancur. Bait Suci rata dengan tanah. Zulkarnain tidak hanya mengizinkan mereka membangun kembali, tetapi juga memberikan dana dari kas negara untuk pembangunan ulang Kuil tersebut. Ia bahkan mengembalikan bejana-bejana suci yang dulu dijarah oleh Babilonia.

Ia berkata kepada para pemimpin Yahudi:

“Aku tidak menyembah Tuhan yang kalian sembah. Aku menyembah Tuhan Cahaya, Yang Maha Esa. Tapi aku percaya bahwa setiap manusia berhak menyembah Tuhannya masing-masing, dengan caranya sendiri, tanpa rasa takut. Pergilah, bangunlah rumah Tuhanmu. Dan jadikan itu sebagai tempat yang terbuka bagi siapa pun yang mencari kebenaran.”

Catatan ini termaktub dalam Perjanjian Lama, Kitab Ezra (pasal 1) dan juga dalam Kitab 2 Tawarikh (pasal 36), meskipun di sana nama yang disebut adalah Koresh (Cyrus). Namun, para ahli sejarah dan tradisi lisan Persia sangat meyakini bahwa “Koresh” dalam konteks itu adalah gelar atau nama lain dari Zulkarnain, atau setidaknya tradisi tentang Zulkarnain telah dilekatkan pada Koresh karena kemiripan kebijakan.

Yang lebih penting: Silinder Koresh — sebuah artefak tanah liat yang ditemukan di reruntuhan Babilonia pada tahun 1879 — memuat dekrit yang isinya hampir persis dengan deskripsi di atas:

“Aku mengembalikan dewa-dewa ke tempatnya. Aku membiarkan semua orang beribadah menurut keyakinannya. Aku tidak memaksa siapa pun mengganti agamanya. Aku membebaskan para budak.”

Para sejarawan modern menyebut Silinder Koresh sebagai “Piagam HAM pertama di dunia”. Namun, yang jarang mereka sebutkan adalah bahwa filosofi di balik piagam itu sudah dipraktikkan oleh Zulkarnain — yang hidup berabad-abad sebelumnya.


Pelajaran dari Babilonia:

Penghancuran Babilonia bukanlah kisah tentang kekerasan, melainkan tentang penggunaan kekuatan untuk menegakkan keadilan tanpa menjadi lalim. Zulkarnain menunjukkan bahwa:

  1. Perang bisa dimenangkan dengan kecerdasan, bukan hanya dengan darah.

  2. Musuh yang dikalahkan bisa diperlakukan sebagai manusia, bukan sebagai ternak.

  3. Kebebasan beragama adalah fondasi perdamaian jangka panjang.

Dan yang terpenting: Zulkarnain tidak mengambil keuntungan sedikit pun dari kemenangannya. Ia tidak mencaplok Babilonia menjadi provinsi Persia. Ia menunjuk gubernur lokal dari kalangan Babilonia sendiri, asalkan mereka berjanji untuk memerintah dengan adil. Ia hanya meminta satu hal: tidak boleh ada lagi perbudakan atas nama agama atau suku.

Inilah mengapa sampai hari ini, di kalangan sejarawan alternatif dan pencinta tokoh-tokoh agung, Zulkarnain lebih dihormati daripada Alexander Agung, Caesar, atau bahkan Napoleon. Ia bukan penakluk bumi. Ia adalah penakluk hati.


*(Bersambung ke Bagian 8: Toleransi Beragama yang Mendahului Zamannya – Undang-undang Kebebasan Beribadah 3.000 Tahun Lalu)*

Bagian 8: Toleransi Beragama yang Mendahului Zamannya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAMUJU MISTIK: 10 KISAH GAIB YANG MENGGENTARKAN MAMUJU

PEMERINTAH DAERAH DI ERA EFISIENSI

BAB 11: KERANGKA HUKUM DAN KEBIJAKAN PENDUKUNG