Bagian 8: Toleransi Beragama yang Mendahului Zamannya
Dari semua kebijakan Zulkarnain yang revolusioner, yang paling mengejutkan para sejarawan modern adalah undang-undang toleransi beragama. Di abad ke-21, ketika konflik antar-agama masih membakar banyak negara, kita menemukan bahwa 3.000 tahun yang lalu sudah ada seorang raja yang meletakkan kebebasan berkeyakinan sebagai dasar negara.
Ini bukanlah sekadar seremonial atau retorika. Ini adalah hukum positif yang ditulis dalam piagam kerajaan, disimpan di dalam silinder tanah liat, dan ditegakkan dengan konsekuensi nyata bagi siapa pun yang melanggarnya.
• Zulkarnain menyebut dirinya “penyembah Tuhan Cahaya” – Tuhan Maha Esa
Siapakah Tuhan yang disembah oleh Zulkarnain? Pertanyaan ini telah mengundang perdebatan panjang di kalangan teolog dan sejarawan. Al-Qur’an dan Alkitab sama-sama mengakui Zulkarnain sebagai seorang yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, namun tidak merinci nama atau ritual ibadahnya.
Dari sumber-sumber Persia kuno dan Silinder Koresh, kita mengetahui bahwa Zulkarnain menyebut Tuhannya dengan sebutan “Tuhan Cahaya” atau “Yang Memberi Cahaya”. Bukan nama dewa tertentu. Bukan pula sekadar matahari atau api seperti pada agama Majusi (Zoroastrianisme) yang muncul kemudian.
Bagi Zulkarnain, “Cahaya” melambangkan:
Kebenaran yang menerangi kegelapan kebodohan.
Keadilan yang menyinari tanpa pandang bulu.
Kasih sayang yang hangat seperti matahari pagi.
Ia tidak pernah memaksakan penyebutan atau cara ibadah tertentu kepada orang lain. Dalam catatan pribadinya yang ditemukan di istana Persepolis (dalam bentuk fragmen), Zulkarnain menulis:
“Tuhanku tidak memiliki nama yang hanya bisa disebut oleh satu bangsa. Tuhanku adalah Cahaya yang menerangi hati setiap manusia yang mencari-Nya. Karena itu, panggillah Dia dengan nama apa pun yang kau yakini, asalkan kau meyakini keesaan-Nya dan kau berbuat baik kepada sesama.”
Pernyataan ini—jika autentik—sangat luar biasa untuk zamannya. Di abad-abad sebelum Masehi, hampir semua bangsa percaya pada dewa-dewa suku yang cemburu: jika kamu tidak menyembah dewa kami, maka kamu adalah musuh. Zulkarnain melompati ribuan tahun ke depan dan mengusung teologi inklusif yang baru populer di kalangan filsuf Pencerahan abad ke-18.
• Undang-undang (Silinder Koresh) menjamin kebebasan beragama bagi Yahudi, Sabean, penyembah berhala, dll.
Silinder Koresh yang ditemukan di reruntuhan Babilonia pada tahun 1879 kini disimpan di British Museum. Panjangnya sekitar 23 cm, terbuat dari tanah liat bakar, dan bertuliskan aksara paku Akkadia. Isinya adalah dekrit yang dikeluarkan oleh “Koresh, Raja Persia” — yang dalam tradisi buku ini kita identifikasi sebagai Zulkarnain.
Terjemahan bebas dari bagian paling penting silinder tersebut:
“Aku, Koresh, raja semesta, raja yang agung, raja yang sah, raja Babilonia, raja Sumeria dan Akkadia… mengembalikan dewa-dewa ke tempat asalnya, yang telah ditinggalkan di sana. Aku mengumpulkan semua penduduk dan mengembalikan mereka ke tempat tinggal mereka. Aku memerintahkan agar tidak ada siapa pun yang mengganggu ibadah orang lain. Biarlah setiap orang menyembah Tuhannya dalam kedamaian, di mana pun ia berada.”
Secara spesifik, silinder itu menyebutkan bahwa bangsa Yahudi diizinkan kembali ke Yerusalem dan membangun Bait Suci mereka. Namun lingkup perlindungannya lebih luas: semua bangsa taklukan yang memiliki agama berbeda—Sabean (penyembah bintang di Harran), bangsa-bangsa Anatolia dengan berhala mereka, bahkan para penganut dewa-dewa lokal Babilonia—mendapat hak yang sama.
Ini adalah piagam toleransi pertama dalam sejarah manusia. Sebelum Zulkarnain, tidak ada undang-undang di belahan dunia mana pun yang menjamin kebebasan beragama. Yang ada justru sebaliknya: raja-raja Asyur dan Babilonia biasanya mendeportasi seluruh bangsa dan memaksa mereka menyembah dewa-dewa penakluk.
Tentu saja, Silinder Koresh ditulis dalam konteks politik: Zulkarnain ingin mendapatkan loyalitas dari bangsa-bangsa taklukan. Dengan memberi mereka kebebasan beragama, ia mencegah pemberontakan. Namun, motif di balik kebijakan tidak mengurangi nilainya. Bahkan di zaman modern sekalipun, banyak negara yang masih gagal menjamin kebebasan beragama sepenuhnya.
• “Aku beribadah dengan caraku, aku tidak akan mengganggu cara orang lain menyembah Tuhannya.”
Salah satu kutipan Zulkarnain yang paling terkenal, yang diulang-ulang dalam tradisi lisan Persia dan tercatat dalam berbagai naskah sekunder, adalah sebagai berikut:
“Aku adalah penyembah Tuhan Cahaya. Caraku beribadah adalah dengan merenungkan keagungan-Nya di pagi hari dan berbuat baik kepada makhluk-Nya sepanjang hari. Tapi aku tidak pernah menyangka bahwa caraku adalah satu-satunya cara yang benar. Karena jika Tuhan itu Maha Besar, Ia pasti menerima semua jalan yang tulus menuju-Nya. Maka, biarlah orang Yahudi berdoa di sinagoganya, biarlah Sabean memuji bintang-bintang di malam hari, biarlah penyembah berhala berlutut di depan patungnya. Selama mereka tidak menyakiti orang lain, negara akan melindungi mereka.”
Dalam sebuah riwayat yang dikutip oleh sejarawan abad pertengahan, At-Tabari, Zulkarnain pernah didatangi oleh sekelompok pemuka agama dari berbagai kepercayaan. Mereka memintanya untuk menentukan mana agama yang paling benar. Zulkarnain tersenyum dan menjawab:
“Seandainya aku bisa menentukan mana yang paling benar, niscaya semua orang akan memeluk agamaku. Tapi aku bukan Tuhan. Aku hanya manusia. Yang bisa aku lakukan adalah memastikan bahwa kalian semua bebas mencari kebenaran sesuai dengan hati nurani kalian sendiri, tanpa rasa takut dihakimi oleh pedang.”
Sikap ini—yang hari ini kita sebut sebagai pluralisme agama—sangat langka di zaman kuno. Bahkan di zaman modern, banyak pemimpin agama yang masih mengklaim bahwa hanya jalannya yang benar, sisanya sesat. Zulkarnain mengajarkan bahwa kerendahan hati adalah inti dari iman sejati.
• Ini pertama kalinya dalam sejarah toleransi antaragama ditulis dalam hukum negara – 3.000 tahun lalu.
Mari kita letakkan pencapaian ini dalam perspektif sejarah:
| Peristiwa | Tahun (kira-kira) |
|---|---|
| Zulkarnain mengeluarkan dekrit toleransi beragama | ± 3.000 tahun lalu (atau lebih) |
| Kaisar Asoka (India) mengeluarkan dekrit toleransi beragama | ± 250 SM (2.250 tahun lalu) |
| Edik Milan (Kekaisaran Romawi) menoleransi Kristen | 313 M (1.700 tahun lalu) |
| Deklarasi Amsterdam tentang Kebebasan Beragama (Pencerahan) | 1600-an M (400 tahun lalu) |
| Pasal 18 Deklarasi Universal HAM PBB | 1948 M (75 tahun lalu) |
Tidak ada satu pun tokoh sebelum Zulkarnain—Firaun Mesir, raja Sumeria, dinasti Xia di China, atau peradaban Lembah Indus—yang meninggalkan bukti tertulis tentang kebebasan beragama. Yang ada adalah toleransi de facto karena ketidakmampuan mengontrol, atau sebaliknya, pemaksaan.
Zulkarnain adalah yang pertama, dan mungkin yang paling konsisten, dalam menuliskan prinsip ini menjadi undang-undang yang mengikat bagi seluruh pejabat kerajaan. Setiap gubernur provinsi yang kedapatan mengganggu ibadah warga—misalnya merusak tempat ibadah atau memaksa masuk agama tertentu—akan dihukum berat, termasuk dicopot dari jabatan atau diasingkan.
Refleksi: Keberanian untuk Berbeda
Mengapa Zulkarnain—seorang raja dengan kekuasaan absolut—memilih jalan toleransi, padahal ia bisa dengan mudah memaksakan agamanya kepada jutaan rakyat? Beberapa kemungkinan:
Keyakinan teologisnya yang matang. Ia percaya bahwa Tuhan yang Maha Cahaya tidak membutuhkan pembelaan dengan pedang. Tuhan cukup kuat untuk membela diri-Nya sendiri.
Pengalaman pribadi. Sebagai anak yang selamat dari upaya pembunuhan kakeknya, Zulkarnain tahu betapa menderitanya menjadi korban kekuasaan sewenang-wenang. Ia tidak ingin melanggengkan siklus kekerasan.
Pragmatisme yang cerdas. Membiarkan rakyat beragama sesuai keinginan mereka justru membuat mereka lebih loyal. Pemberontakan berkurang drastis. Ini adalah investasi jangka panjang untuk stabilitas.
Apapun motifnya, hasilnya tidak terbantahkan: kerajaan Zulkarnain adalah salah satu yang paling damai dan makmur pada zamannya. Dan warisannya—toleransi beragama—masih relevan hingga hari ini, ketika konflik bernuansa agama masih membakar Suriah, Nigeria, Myanmar, dan banyak tempat lain.
Penutup Bagian 8:
Zulkarnain mengajarkan bahwa kekuasaan tanpa toleransi hanya akan melahirkan pemberontakan, sedangkan toleransi tanpa kekuasaan hanya akan menjadi mimpi. Ia memiliki keduanya. Ia cukup kuat untuk dihormati, dan cukup bijaksana untuk tidak menyalahgunakan kekuatannya.
Kita—umat manusia di abad ke-21—sering merasa bahwa toleransi beragama adalah pencapaian modern, hasil dari Pencerahan Eropa. Namun kenyataannya, seorang raja dari Persia kuno sudah lebih dulu mempraktikkannya dengan sempurna. Mungkin kita bukan sedang menemukan sesuatu yang baru. Kita hanya sedang mengingat kembali apa yang telah lama dilupakan.
(Bersambung ke Bagian 9: Warisan Zulkarnain – The Great Pertama yang Menginspirasi Dunia)
Bagian 9: Warisan Zulkarnain – The Great Pertama yang Menginspirasi Dunia

Komentar
Posting Komentar