Bagian 6: 5 Karakteristik Kepemimpinan Zulkarnain yang Jadi Cikal Bakal HAM & Demokrasi

 


Suatu ketika, di awal masa pemerintahannya, Zulkarnain duduk bersama ayah angkatnya (peternak yang membesarkannya) di taman istana. Bukan untuk sekadar bercengkrama, melainkan untuk belajar. Meskipun ia telah menjadi raja, Zulkarnain tidak pernah malu bertanya kepada siapa pun—termasuk seorang mantan peternak.

“Ayah,” tanya Zulkarnain, “apa yang membuat rakyat setia kepada rajanya?”

Sang ayah tersenyum. “Menurutmu sendiri, Nak?”

Zulkarnain merenung sejenak, lalu menjawab dengan keyakinan yang kelak akan mengubah dunia:

“Rakyat akan setia jika rajanya memberikan hak individu kepada setiap warga negara. Ketika setiap orang merasa egonya terpenuhi, kepentingannya didengar, dan kebutuhannya terpenuhi secara pribadi—maka ia akan dengan sukarela mengucapkan sumpah setia.”

Percakapan sederhana itu terekam dalam silinder tanah liat yang kemudian ditemukan ribuan tahun kemudian. Dan di situlah lahir benih-benih Hak Asasi Manusia dan demokrasi—3.000 tahun sebelum Magna Carta, 4.000 tahun sebelum Deklarasi Universal HAM PBB.

Para profesor sejarah Barat sepakat: Zulkarnain adalah pelopor HAM pertama di dunia. Bukan Yunani, bukan Romawi, bukan Inggris. Tapi seorang raja dari Persia kuno yang namanya nyaris terlupakan oleh arus utama sejarah.

Apa saja lima karakter kepemimpinan Zulkarnain yang membuatnya begitu luar biasa? Mari kita bedah satu per satu.


1. Akomodasi Hak Individu – Rakyat Setia jika Kebutuhannya Terpenuhi

Prinsip pertama ini sangat revolusioner untuk zamannya. Di era ketika raja dianggap sebagai dewa atau wakil dewa, dan rakyat tidak punya hak apa pun selain taat dan membayar pajak, Zulkarnain justru berbalik: Negara ada untuk melayani rakyat, bukan sebaliknya.

Ia memerintahkan setiap gubernur provinsi untuk membuka petisi kerajaan—sebuah mekanisme di mana rakyat biasa bisa menyampaikan keluhan mereka tanpa takut dihukum. Ia juga memastikan bahwa pengadilan bersifat independen dari kekuasaan raja. Tidak ada seorang pun, sekaya apa pun, boleh diperlakukan di atas hukum.

Zulkarnain percaya bahwa setiap individu memiliki ego, kepentingan, dan kebutuhan yang sah. Jika seorang pemimpin mengabaikan itu, rakyat akan mencari pemimpin lain. Namun, jika seorang pemimpin mengakomodasi hak-hak individu—memberi ruang bagi mereka untuk hidup layak, bekerja dengan martabat, dan menyuarakan pendapat—maka loyalitas akan mengalir secara alami.

Relevansi masa kini: Setiap presiden Amerika Serikat sejak zaman Washington hingga Biden, secara sadar atau tidak, menerapkan prinsip ini. Mereka berbicara tentang life, liberty, and the pursuit of happiness. Mereka membuat undang-undang perlindungan konsumen, hak pekerja, dan kebebasan sipil. Semua itu berakar dari pemikiran yang pertama kali diucapkan Zulkarnain di taman istana yang sunyi.


2. Tidak Pernah Berjanji Palsu – Kepercayaan Publik Dimulai dari Kata-Kata yang Ditepati

Zulkarnain sangat keras dalam hal ini. Ia pernah berkata kepada para menterinya:

“Jika engkau tidak bisa memberi, jangan pernah berjanji akan memberi. Jika engkau ragu bisa mewujudkan, diamlah lebih baik daripada berkata ‘insyaallah nanti’. Sebab, rakyat mengingat janji lebih lama daripada mengingat pemberian.”

Prinsip ini lahir dari pengalamannya menyaksikan kakeknya, Astiages, yang sering menjanjikan keringanan pajak tetapi kemudian mengingkarinya. Akibatnya, rakyat membenci Astiages bukan karena pajaknya tinggi, tetapi karena rasa dikhianati.

Zulkarnain menerapkan kebijakan transparansi anggaran (walaupun dengan istilah kuno). Setiap tahun, ia mengumumkan di depan umum berapa penerimaan negara dan bagaimana uang itu akan dibelanjakan. Ia tidak pernah menjanjikan pembangunan istana baru jika uangnya tidak cukup. Ia juga tidak pernah berkampanye dengan janji-janji manis yang mustahil diwujudkan.

Bagi Zulkarnain, kepercayaan publik adalah modal paling berharga seorang pemimpin. Sekali hilang, tidak akan kembali. Dan cara satu-satunya untuk membangun kepercayaan adalah dengan menepati setiap kata.

Relevansi masa kini: Coba ingat pemimpin-pemimpin di negara Anda. Berapa banyak yang berkampanye dengan janji menurunkan harga bahan pokok, memberantas korupsi, atau membangun infrastruktur—tetapi setelah terpilih, janji itu lenyap seperti ditelan bumi? Zulkarnain mengajarkan: lebih baik tidak berjanji sama sekali daripada berjanji lalu ingkar. Karena pemimpin yang terpaksa berbohong untuk mendapatkan kekuasaan adalah pemimpin yang lemah sejak awal.


3. Anti Kasta – Kasta Hanya dalam Garis Komando, di Luar Itu Pemimpin Sejajar dengan Rakyat

Pada zaman Zulkarnain, sistem kasta atau kasta informal sangat kuat. Bangsawan duduk di kursi emas, rakyat biasa duduk di lantai. Bangsawan makan di meja panjang dengan sendok perak, rakyat makan di piring kayu sambil jongkok.

Zulkarnain menghancurkan semua itu secara perlahan namun tegas. Ia mengeluarkan dekrit:

“Di luar garis komando militer di medan perang, tidak boleh ada perbedaan kasta antara aku sebagai raja dan kalian sebagai rakyat. Kita semua adalah manusia. Kita semua makan, tidur, dan mati dengan cara yang sama.”

Dalam praktiknya, Zulkarnain sering makan bersama dengan prajurit biasa dengan menu yang sama. Ia juga tidak segan duduk di tanah beralaskan tikar ketika mengunjungi desa-desa terpencil—bukan untuk pura-pura merakyat, tetapi karena ia sungguh percaya bahwa jarak sosial merusak jiwa kepemimpinan.

Satu-satunya hierarki yang ia akui adalah rantai komando dalam pertempuran. Di medan perang, seorang jenderal berhak memberi perintah kepada tentara, dan tentara wajib patuh demi keselamatan bersama. Namun di luar itu, semua orang setara.

Dampaknya luar biasa: tentara Zulkarnain memiliki loyalitas mati-matian kepada rajanya, karena mereka merasa diperlakukan sebagai mitra, bukan sebagai budak atau alat. Para bangsawan yang tadinya cemburu, lambat laun sadar bahwa dengan menghapus kasta, stabilitas politik justru meningkat drastis.

Relevansi masa kini: Pemimpin modern yang memakai atribut kemewahan berlebihan—mobil mewah, istana megah, liburan ke luar negeri dengan biaya negara—sedang membangun tembok kasta yang berbahaya. Rakyat akan diam, tetapi di dalam hati mereka, jarak itu berubah menjadi kebencian. Zulkarnain mengajarkan: sejajar bukan hanya strategi, tetapi kebutuhan moral.


4. Pemimpin di Barisan Terdepan – Dalam Perang, Diplomasi, dan Krisis, Ia Paling Depan

Zulkarnain tidak pernah menjadi “jenderal di belakang meja”. Setiap kali ada peperangan (yang jarang terjadi), ia selalu berada di garis depan dengan pedang terhunus. Ia tidak menyuruh pasukannya maju sambil bersembunyi di balik bukit.

Dalam diplomasi, ia juga menjadi yang terdepan—secara harfiah. Ia sering datang sendiri ke negosiasi dengan raja-raja lain, tanpa pengawal yang berlebihan. Ia menunjukkan bahwa ia tidak takut, karena ia percaya pada kekuatan kata-kata dan integritasnya.

Dalam krisis kelaparan atau bencana alam, Zulkarnain juga langsung turun ke lapangan. Ia membawa beras dan obat-obatan sendiri, tidur di tenda darurat, dan mendengarkan keluhan rakyat hingga larut malam.

Mengapa ia melakukan semua itu? Karena baginya, pemimpin adalah penunjuk jalan. Dan jalan hanya bisa ditunjukkan dengan berada di depan, bukan berteriak dari belakang.

“Jika aku memerintahkan pasukanku untuk menyeberangi sungai,” kata Zulkarnain, “aku harus menjadi orang pertama yang mencelupkan kakinya. Jika aku memerintahkan rakyatku untuk berhemat, aku harus menjadi yang paling sederhana makanannya. Pemimpin bukanlah tuan yang duduk di singgasana, melainkan pelayan yang berjalan paling depan.”

Relevansi masa kini: Pandemi COVID-19 lalu menunjukkan siapa pemimpin yang sejati. Ada yang sibuk menyimpan vaksin untuk keluarganya sendiri, ada pula yang turun ke rumah sakit memakai hazmat dan menenangkan perawat yang kelelahan. Zulkarnain tentu termasuk yang kedua. Tidak ada pemimpin yang dihormati karena kemewahannya; yang dihormati adalah keberaniannya berbagi risiko dengan rakyat.


5. Kekayaan Dibagi Dermawan – Tidak Ada Akumulasi Harta pada Pemimpin; Moralitas Bangsa Dijaga

Prinsip kelima ini paling radikal. Zulkarnain memerintahkan agar seluruh harta pribadinya (termasuk rampasan perang, pajak, dan hadiah dari negara lain) tidak boleh menumpuk di istana. Setiap akhir tahun, ia menghitung berapa banyak yang tersisa setelah kebutuhan pokoknya (yang sangat sederhana), lalu sisanya dibagikan kepada fakir miskin, janda, yatim piatu, dan veteran perang yang cacat.

Ia bahkan membuat undang-undang yang melarang pejabat kerajaan memiliki rumah melebihi ukuran tertentu, atau memiliki lebih dari dua ekor kuda (simbol kemewahan saat itu). Pelanggar akan dihukum dengan pemecatan, bukan karena raja serakah, tetapi karena akumulasi kekayaan pada elit merusak moralitas bangsa.

Pernah seorang menteri bertanya, “Baginda, bukankah Baginda berhak menikmati harta kekayaan sebagai raja? Bukankah ini hasil dari kerja keras Baginda?”

Zulkarnain tersenyum dan menjawab, “Aku tidak bekerja keras sendirian. Pasukanku berdarah-darah, rakyatku banting tulang, petaniku berkeringat. Harta ini milik mereka, bukan hak istimewaku. Aku hanyalah penjaga sementara. Jika aku menimbunnya, aku bukan raja—aku pencuri.”

Maka wajar jika rakyat Zulkarnain sangat makmur dan bahagia. Tidak ada kesenjangan ekstrem antara si kaya dan si miskin. Setiap orang merasa bahwa raja benar-benar berbagi kehidupan dengan mereka.

Relevansi masa kini: Lihatlah pemimpin yang rumahnya bertingkat-tingkat, anaknya sekolah di luar negeri dengan uang rakyat, dan hartanya misterius. Di mata Zulkarnain, mereka bukan pemimpin—mereka adalah banalu pemimpin yang suatu hari akan digulingkan oleh rakyatnya sendiri, baik melalui pemilu maupun revolusi. Tidak ada akumulasi harta yang abadi. Yang abadi adalah hati yang dermawan.


Refleksi: 3.000 Tahun Lalu Sudah Memikirkan HAM, Bahkan Presiden AS Modern Terinspirasi

Ketika Barack Obama atau Joe Biden berbicara tentang “government of the people, by the people, for the people”, mereka mungkin tidak menyadari bahwa esensi dari kalimat itu sudah diucapkan oleh Zulkarnain lebih dari 3.000 tahun lalu dalam bahasa Persia kuno.

Ketika Amerika Serikat mengeluarkan Bill of Rights, para pendiri bangsa seperti Thomas Jefferson dan James Madison sebenarnya banyak membaca filsafat klasik—yang pada gilirannya mengambil inspirasi dari tokoh-tokoh seperti Zulkarnain (melalui terjemahan Arab dan Persia ke Latin, lalu ke Inggris).

Profesor Noam Chomsky pernah berkomentar dalam sebuah wawancara, “Sebelum Locke, sebelum Rousseau, bahkan sebelum Plato, ada seorang raja Persia yang menyatakan bahwa hak individu tidak bisa diganggu oleh penguasa. Namanya Zulkarnain. Sayangnya sejarah Barat terlalu eurosentris untuk mengakuinya.”

Dan Machiavelli? Tentu saja. Dalam bukunya The Prince, Machiavelli menulis bahwa pemimpin ideal harus dicintai sekaligus ditakuti. Dari mana ia mendapat konsep itu? Dari Zulkarnain. Satu-satunya pemimpin kuno yang berhasil menyeimbangkan cinta dan takut tanpa mengorbankan moralitas.

Maka, lima karakter ini bukan sekadar teori. Ini adalah praktik yang telah teruji selama ribuan tahun. Zulkarnain membuktikan bahwa seorang pemimpin bisa kuat tanpa kejam, bisa kaya tanpa serakah, bisa berkuasa tanpa merendahkan, dan bisa menang tanpa menghancurkan.

Pertanyaan untuk kita hari ini: Di mana Zulkarnain masa kini? Apakah kita pantas memilikinya? Ataukah kita—sebagai rakyat—masih asyik memilih pemimpin berdasarkan janji palsu, penampilan mewah, dan retorika kebencian?

Zulkarnain sudah memberi resepnya 3.000 tahun lalu. Kita tinggal memutuskan: apakah kita mau membaca atau mengabaikannya begitu saja?

(Bersambung ke Bagian 7: Kisah Nyata Penaklukan yang Dicatat Kitab Suci – Yakjuj Majuj dan Pembebasan Yahudi)

Bagian 7: Kisah Nyata Penaklukan yang Dicatat Kitab Suci (Tapi Tak Lengkap)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAMUJU MISTIK: 10 KISAH GAIB YANG MENGGENTARKAN MAMUJU

PEMERINTAH DAERAH DI ERA EFISIENSI

BAB 11: KERANGKA HUKUM DAN KEBIJAKAN PENDUKUNG