Bagian 2: Konspirasi Kelahiran – Mimpi, Pengkhianatan, dan Bayi yang Selamat



• Raja Astiages dan mimpinya yang gentar: akan digulingkan cucu sendiri.

Ribuan tahun yang lalu, di dataran tinggi Persia yang terbentang luas hingga ke ujung Kaukasus, hiduplah seorang raja bernama Astiages. Ia adalah penguasa dari dinasti yang berkuasa sebelum munculnya Kekaisaran Akhaimenia. Wilayahnya membentang dari pegunungan Zagros hingga perbatasan India. Pasukannya terkenal tangguh, istananya mewah, dan pajaknya mengalir deras.

Astíages (wikipedia.org)


Namun, Astiages memiliki satu kelemahan fatal:
ia tidak terlalu pintar. Kekuasaan besar sering membuat seseorang lalai, tetapi kebodohan Astiages bukanlah soal kecerdasan biasa—ia adalah raja yang paranoid sekaligus ceroboh.

Suatu malam, setelah jamuan makan yang sarat anggur dan daging bakar, Astiages terlelap di singgasananya. Dalam tidurnya, ia bermimpi.

“Aku melihat seorang anak laki-laki muncul dari rahim putriku. Anak itu berdiri di hadapanku, dan tiba-tiba ia tumbuh menjadi raksasa. Ia menghunus pedang, lalu menyeretku dari singgasana. Seluruh istana bersorak mendukungnya, sementara aku tergeletak di tanah, tak berdaya.”

Astiages terbangun dengan keringat dingin. Ia langsung memanggil para juru tafsir mimpi istana. Ramalannya bulat: Kekuasaan Astiages akan berakhir di tangan cucunya sendiri—anak laki-laki dari putri kandungnya.

Di sinilah letak kebodohan Astiages. Alih-alih mengasuh cucunya dengan kasih sayang dan mengajarnya menjadi pewaris yang loyal, ia memilih jalan pintas yang biadab: membunuh bayi itu sebelum sempat tumbuh.

Kisah serupa sebenarnya pernah terjadi dalam berbagai mitologi—ingatlah kisah Kronos yang memakan anak-anaknya sendiri dalam mitologi Yunani, atau Raja Herodes yang membantai bayi-bayi di Betlehem. Namun, perbedaan besar pada kisah Astiages adalah: ia tidak sendirian dalam rencana jahat ini. Ia dibantu oleh seorang panglima yang paling dipercayainya, Herpagus.

• Perintah likuidasi bayi dan peran Herpagus, panglima setia yang berubah hati.

Herpagus adalah Komandan Elit Pasukan Kerajaan. Ia telah mengabdi pada Astiages selama puluhan tahun, memenangkan banyak peperangan, dan memiliki karier yang gemilang. Ketika raja memanggilnya pada tengah malam dan berbisik, “Herpagus, putriku sedang mengandung. Jika anak itu lahir laki-laki, kamu harus membunuhnya. Bawa buktinya kepadaku,” Herpagus hanya mengangguk.

General Harpagus, behind Cyrus the Great (18th century tapestry).


Bukan karena ia setuju. Tapi karena ia tahu: menolak perintah raja di Persia kuno sama dengan hukuman mati—dan mungkin lebih kejam.

Herpagus lalu menguntit sang putri yang sedang hamil. Ia menyaksikan dari kejauhan bagaimana sang putri melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat, kuat, dan tangisnya menggema di seluruh kamar. Bayi itu diberi nama Zulkarnain—sebuah nama yang kelak akan menggetarkan dunia, meski saat itu ia hanya seonggok daging kecil yang tidak berdaya.

Dengan perasaan berat, Herpagus membawa bayi itu ke luar kota, ke sebuah bukit terpencil, dengan sebuah belati di tangannya. Namun, ketika ia menatap wajah polos dan tak berdosa itu—matanya yang masih buta cahaya, jemarinya yang mungil menggenggam udara—sesuatu bergetar dalam dirinya.

“Bagaimana mungkin aku membunuh makhluk yang bahkan belum mampu memohon ampun?”

Herpagus, sang panglima perang yang telah menumpahkan darah ribuan musuh, tidak tega. Ia menyadari bahwa pembunuhan terhadap bayi tak berdosa adalah kejahatan yang tidak bisa diampuni oleh dewa mana pun. Maka, ia memutuskan untuk mengkhianati perintah rajanya—sebuah risiko yang nyaris bunuh diri.

Painting by Jean-Charles Nicaise Perrin of king Astyages sending Harpagus to kill young Cyrus (wikipedia.org)

• Pertukaran bayi yang meninggal: intrik istana paling dramatis dalam sejarah Persia.

Herpagus tidak serta-merta melarikan diri dengan bayi itu. Ia sadar bahwa Astiages akan meminta bukti. Karena itu, ia menyuruh anak buahnya berkeliling kota untuk mencari bayi yang baru lahir dalam keadaan meninggal—sayangnya, di era tanpa rumah sakit modern, kejadian itu cukup sering terjadi.

Dalam beberapa jam, mereka menemukan seorang perempuan melahirkan bayi laki-laki yang sudah tidak bernyawa. Herpagus menukar bayi yang meninggal tersebut dengan Zulkarnain yang hidup. Ia menutupi tubuh bayi mati itu dengan pakaian kebesaran dari istana, lalu membawanya ke hadapan Astiages.

“Baginda, misi telah dilaksanakan. Cucu Baginda sudah tiada. Ini buktinya.”

Astiages memeriksa. Ia melihat mayat bayi yang kotor, tetapi dalam cahaya remang istana, ia tidak curiga. Ia justru tersenyum puas.

“Herpagus, kamu memang luar biasa. Mulai sekarang pangkatmu naik. Kamu akan menjadi komandan utama seluruh pasukanku. Gajimu dua kali lipat.”

Herpagus berlutut, mengucap syukur, meski hatinya berdebar. Sementara itu, Zulkarnain yang asli telah diserahkan kepada seorang peternak domba di wilayah selatan Persia, jauh dari jangkauan intelijen istana. Peternak itu diperintahkan untuk merawat anak itu sebagai anak kandungnya sendiri, tanpa tahu bahwa darah biru sedang dibesarkan di tengah kotoran ternak.

• Zulkarnain tumbuh sebagai anak peternak – menyembunyikan darah biru.

Bertahun-tahun berlalu. Zulkarnain kecil tidak pernah tahu bahwa ia adalah cucu seorang raja. Ia tumbuh seperti anak peternak biasa: menggembala kambing, berlari tanpa alas kaki di padang rumput, bergulat dengan anak-anak gembala lain, dan tidur di kandang yang hangat oleh tubuh hewan. Namun, ada sesuatu yang berbeda pada dirinya.

Para tetua desa sering berbisik, “Anak ini tidak seperti yang lain. Pandangannya tajam, ucapannya tegas, dan ia tidak pernah takut pada siapa pun—bahkan pada pemilik tanah sekalipun.”

Zulkarnain kecil menunjukkan bakat kepemimpinan yang muncul begitu saja, seperti air yang menembus celah batu. Ia sering menjadi wasit dalam pertandingan anak-anak, memutuskan siapa yang menang atau kalah dengan adil. Ia juga tidak segan membela teman yang lemah dari perundungan.

Namun, darah biru yang tersembunyi suatu hari akan terbongkar. Dan pemicunya adalah satu kejadian sederhana: pertengkaran dengan anak seorang bangsawan.

(Bersambung ke Bagian 3: Pertarungan Bocah Bangsawan & Terkuaknya Identitas)

Bagian 3: Pertarungan Bocah Bangsawan & Terkuaknya Identitas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAMUJU MISTIK: 10 KISAH GAIB YANG MENGGENTARKAN MAMUJU

PEMERINTAH DAERAH DI ERA EFISIENSI

BAB 11: KERANGKA HUKUM DAN KEBIJAKAN PENDUKUNG