Bagian 3: Pertarungan Bocah Bangsawan & Terkuaknya Identitas
• Konflik Zulkarnain usia 10 tahun dengan anak bangsawan – mentalitas pemimpin sejati.
Zulkarnain kecil tumbuh menjadi bocah yang tegap melebihi usianya. Pada umur 10 tahun, ia sudah setinggi anak remaja. Otot-ototnya terbentuk dari kerja keras menggembala dan membawa beban berat. Namun, yang paling mencolok bukanlah fisiknya, melainkan mentalitasnya.
Suatu hari, di pasar desa, Zulkarnain bertengkar dengan seorang anak bangsawan dari keluarga penguasa lokal. Anak bangsawan itu terbiasa semena-mena: mengambil buah tanpa membayar, mendorong petani yang menghalangi jalannya, dan berkata kasar kepada siapa pun. Kebanyakan orang diam karena takut dengan kekuasaan ayahnya.
Tapi tidak dengan Zulkarnain.
Ketika anak bangsawan itu mencoba merampas domba kesayangan Zulkarnain sambil berteriak, “Hei anak peternak, dombamu akan kujadikan hidangan pestaku!” Zulkarnain tidak mundur. Bahkan sebaliknya, ia melangkah maju, menatap tajam mata anak bangsawan itu, lalu berkata dengan suara datar namun menggetarkan:
“Domba ini milikku. Aku mendapatkannya dari kerja keras, bukan dari warisan ayah yang korup. Jika kau ingin mengambilnya, kau harus mengalahkanku lebih dulu. Tapi peringatan: aku tidak akan berhenti meskipun kau menangis memanggil papa-mu.”
Anak bangsawan itu terkejut—belum pernah ia melihat “anak rendahan” yang begitu berani. Amarahnya memuncak. Mereka pun bergulat. Namun dalam hitungan beberapa gerakan, Zulkarnain dengan mudah menjatuhkan anak bangsawan itu ke tanah dan menempelkan lututnya di dada lawan. Ia tidak memukul lebih lanjut. Ia hanya berbisik:
“Kembalilah ke rumah. Dan katakan pada ayahmu bahwa kekuasaan tidak membuatmu kuat. Yang membuatmu kuat adalah hatimu sendiri.”
Anak bangsawan itu lari tunggang-langgang menangis. Keesokan harianya, ayahnya yang seorang bangsawan kaya raya datang ke desa peternakan dengan membawa pengawal bersenjata.
• Laporan ke Astiages: “Ini bukan anak peternak biasa!”
Sang bangsawan tidak langsung menghajar Zulkarnain. Ia adalah orang cerdik. Setelah melihat sendiri sikap Zulkarnain yang tenang, hormat namun tidak takut, ia justru bergidik. “Anak ini,” pikirnya, “tidak mungkin dari darah peternak biasa. Cara bicaranya, tatapan matanya, keberaniannya… ini darah bangsawan. Mungkin darah biru.”
Ia kemudian mewawancarai penduduk desa. Siapa orang tua Zulkarnain? Kata mereka, ia anak angkat seorang peternak tua, tak jelas asal-usulnya. Semakin ia menyelidiki, semakin jelas bahwa Zulkarnain memiliki ciri-ciri yang mirip dengan keluarga istana: telinga yang mirip dengan pangeran yang sudah tiada, rahang yang sama dengan Raja Astiages muda, dan tanda lahir di lengan kiri—sesuatu yang diyakini hanya dimiliki keturunan raja.
Laporan pun dikirim ke istana: “Di desa peternakan selatan, ada seorang anak laki-laki berusia 10 tahun dengan mentalitas pemimpin sejati. Ia bukan anak biasa. Dugaan kami: ia adalah cucu Baginda yang dulu dikabarkan meninggal.”
Astiages yang mulai pikun dan paranoid, ketika membaca laporan itu, tiba-tiba tersadar. Ia membuka memori lama: mimpi buruknya, perintah pembunuhan, dan Herpagus yang dengan terlalu sigap membawa bukti mayat bayi dulu. “Herpagus… apakah kau mengkhianatiku?”
• Pengakuan cucu dan pesta malam berdarah: Herpagus dihidangkan daging anaknya sendiri.
Astiages tidak bertindak gegabah. Ia memerintahkan agar Zulkarnain dibawa ke istana dengan dalih “ingin melihat anak hebat dari desa”. Begitu bertemu, Astiages langsung yakin: ini cucunya. Wajahnya adalah replika dari putrinya yang meninggal muda—ibu Zulkarnain.
Namun, alih-alih mengaku, Astiages berpura-pura tidak tahu. Ia justru memuji Zulkarnain di depan umum, memberinya hadiah kuda dan pedang kecil, lalu mengirimnya kembali ke desa dengan pengawalan. Tapi di dalam hati, api kemarahan berkobar.
Malam itu, Astiages mengundang Herpagus untuk makan malam berdua. Suasana istana terasa aneh. Para pelayan berbisik, raja tersenyum terlalu lebar, dan hidangan yang disajikan begitu istimewa: daging panggang dengan bumbu langka, buah-buahan dari negeri seberang, dan anggur yang disimpan selama 20 tahun.
Herpagus, yang tidak tahu apa-apa, menikmati hidangan itu dengan lahap. Ia bahkan memuji, “Baginda, daging malam ini luar biasa empuk. Seumur hidup saya belum pernah merasakan daging seenak ini. Daging apakah ini?”
Astiages menjawab dengan senyum sinis, “Nikmati saja. Ini daging istimewa. Daging dari… orang yang paling dekat denganmu.”
Herpagus bingung tetapi terus makan. Setelah ia kenyang dan merasa nyaman, Astiades memberi isyarat. Para pelayan membawa nampan perak yang ditutup kain beludru merah. Ketika kain itu ditarik, Herpagus melihat kepala, tangan, dan kaki dari anak laki-laki—anaknya sendiri.
Mual, muntah, dan teror menyergap Herpagus. Ia jatuh dari kursinya, merangkak sambil berteriak histeris, “Apa yang telah kau lakukan, Baginda? Dia anakku! Anakku yang tidak bersalah!”
Astiages berdiri dengan tenang, menghampiri Herpagus yang terguncang, lalu berkata:
“Ini adalah hukuman karena kau mengkhianatiku. Dulu kau kuberi perintah membunuh bayi cucuku. Ternyata kau selamatkan dia. Kau tukar dengan mayat bayi lain. Lalu kau membohongiku. Sekarang kau tahu rasanya kehilangan anak. Tapi karena jasamu selama ini, aku maafkan hidupmu. Jangan kau ulangi.”
Herpagus hanya bisa menangis dan memohon maaf sambil tersedak. Tidak ada pilihan. Di hadapan raja yang murka, ia adalah prajurit yang kalah.
• Mengapa Astiages akhirnya membiarkan Zulkarnain hidup?
Setelah peristiwa itu, Astiages memanggil Zulkarnain kembali ke istana. Kali ini, ia berhadapan langsung.
Semua pengawal menduga raja akan membunuh bocah itu. Tapi Astiages, dalam keanehannya, justru membiarkan Zulkarnain hidup. Ada tiga alasan:
Kekaguman pada mentalitas cucunya – Astiages telah mendengar sendiri bagaimana Zulkarnain mengalahkan anak bangsawan tanpa melakukan kekerasan berlebihan, bagaimana ia berbicara dengan bijak melebihi usianya. “Anak ini bukan musuhku,” pikir raja. “Ia adalah aset.”
Takut pada ramalan yang bisa menjadi bumerang – Dalam takhayul Persia kuno, membunuh cucu sendiri justru bisa mempercepat kutukan. Biarkan ia hidup, asalkan di bawah pengawasan.
Keinginan untuk memanfaatkan kepemimpinan Zulkarnain – Astiages yang sudah tua dan kerap membuat keputusan buruk, mulai melihat Zulkarnain sebagai calon panglima perang yang tangguh. “Jika ia kupelihara, ia akan menjadi komandan yang hebat, dan kerajaanku akan lebih kuat.”
Maka, Zulkarnain tidak dibunuh. Namun ia juga tidak dikembalikan ke desa. Ia diistana, dilatih ilmu perang, diplomasi, dan pemerintahan—tanpa tahu bahwa suatu hari ia akan bersekongkol dengan Herpagus yang trauma untuk menggulingkan kakeknya sendiri.
Dan ramalan itu akhirnya menjadi kenyataan. Tapi dengan cara yang tidak pernah dibayangkan Astiages: tidak ada pertumpahan darah. Zulkarnain hanya meminta kakeknya turun takhta, lalu memberikannya istana mewah dan kebebasan sampai akhir hayat.
Nah, itulah kualitas Zulkarnain yang sesungguhnya. Kekuasaan tidak membuatnya lupa diri. Dendam diubahnya menjadi pengampunan.
(Bersambung ke Bagian 4: Pemberontakan Tanpa Dendam – Kakek Digulingkan, Bukan Dihabisi)
Bagian 4: Pemberontakan Tanpa Dendam – Kakek Digulingkan, Bukan Dihabisi

Komentar
Posting Komentar