Bagian 10: Penutup – Apakah Pemimpin Seperti Zulkarnain Masih Mungkin Ada di Zaman Sekarang?
• Refleksi atas 5 karakter kepemimpinan dan toleransi beragama
Kita telah menempuh perjalanan panjang bersama Zulkarnain. Dari konspirasi kelahirannya yang nyaris mati, pertarungan bocah bangsawan yang menguak identitasnya, kudeta tanpa dendam terhadap kakeknya, hingga bentangan wilayah 5 juta km² yang ia raih tanpa perang. Kita telah menyaksikan bagaimana ia membangun tembok bagi Yakjuj Majuj tanpa meminta imbalan, membebaskan bangsa Yahudi dari penindasan tanpa pembantaian, dan—yang paling revolusioner—menulis undang-undang toleransi beragama pertama dalam sejarah manusia, 3.000 tahun sebelum istilah “HAM” dikenal.
Lima karakter kepemimpinannya — akomodasi hak individu, ketepatan janji, anti-kasta, pemimpin di barisan terdepan, dan pembagian kekayaan secara dermawan — bukan sekadar teori. Ia membuktikan semuanya dalam tindakan nyata. Ia dicintai sekaligus ditakuti, seperti yang kemudian diabadikan Machiavelli dalam The Prince. Ia menginspirasi Alexander Agung, Napoleon, para presiden AS, dan filsuf-filsuf politik lintas zaman. Lalu muncul satu pertanyaan: di era modern yang penuh janji kosong, polarisasi, dan krisis kepercayaan, masih mungkinkah pemimpin seperti Zulkarnain hadir kembali?
• Tantangan dunia modern: populisme, polarisasi, dan janji-janji kosong
Dunia saat ini sedang sakit. Bukan karena virus atau perang besar, melainkan karena krisis kepercayaan.
Edelman Trust Barometer 2026, survei tahunan terhadap 33.938 responden di 28 negara, melaporkan temuan yang mengkhawatirkan: 70% orang di seluruh dunia tidak mau mempercayai siapa pun yang berbeda dari diri mereka sendiri. Yang lebih mengerikan, 61% warga global merasa pemerintah dan bisnis justru mempersulit hidup mereka dan hanya melayani kepentingan sempit, sementara hanya 36% yang percaya bahwa generasi mendatang akan hidup lebih baik.
Ironisnya, meskipun 68% responden merasa sengaja dibohongi oleh para pemimpin bisnis, dan kepercayaan terhadap pemimpin nasional turun 16 poin dalam satu tahun, praktik politik modern justru semakin menjamur dengan populisme. Para pemimpin pandai membuat janji manis di masa kampanye — harga pokok akan turun, korupsi akan diberantas, kesejahteraan akan merata — tetapi setelah terpilih, janji-janji itu menguap seperti asap.
Di negara-negara demokrasi seperti Amerika Serikat, survei Pew Research menemukan bahwa hanya 17% warga Amerika yang percaya pada pemerintah federal pada akhir 2025, dengan kepercayaan sedikit lebih tinggi di tingkat lokal. Bahkan kepercayaan pada sistem demokrasi sedang terkikis — 62% warga AS merasa tidak puas dengan cara demokrasi bekerja, dan di tujuh negara, sekitar setengah populasi atau lebih percaya bahwa sistem politik memerlukan perubahan signifikan.
Lebih dalam lagi, polarisasi politik global sedang meningkat secara signifikan sejak 2005. Metrik V-Dem 2026 menunjukkan bahwa masyarakat kini terbelah menjadi kubu-kubu yang saling bermusuhan, di mana perbedaan politik merusak hubungan sosial dan menghalangi interaksi lintas ideologi. Singkatnya: kita tidak hanya kehilangan kepercayaan pada pemimpin kita — kita juga kehilangan kepercayaan pada satu sama lain.
• Zulkarnain bukti bahwa kekuasaan tanpa kekejaman, penaklukan tanpa penjajahan, adalah mungkin
Di tengah semua kegelapan ini, Zulkarnain hadir sebagai cermin yang menusuk sekaligus obor yang menerangi. Ia membuktikan bahwa kekuasaan tidak harus identik dengan kekejaman. Penaklukan tidak harus diikuti oleh penjajahan. Kemenangan tidak harus dirayakan dengan air mata musuh.
Coba bayangkan: di zamannya, para pemimpin lain membantai ribuan orang ketika menaklukkan sebuah kota. Rumah-rumah dibakar, perempuan diperkosa, anak-anak dijadikan budak. Itulah “standar” perang saat itu. Tetapi Zulkarnain memilih berbeda. Ia berdiplomasi lebih dulu. Ia menawarkan kerja sama. Ketika perang tak terhindarkan, ia — hanya sekali perang di tepi Efrat — menghancurkan Babilonia tanpa membantai warga sipil. Ia membebaskan bangsa Yahudi tanpa memaksa mereka menjadi pengikut agamanya. Bahkan ketika membangun tembok Yakjuj Majuj, ia menolak mengambil harta rakyatnya.
Zulkarnain mengajarkan bahwa kekuatan sejati tidak memerlukan pamer kekerasan. Justru, kekuatan sejati ditunjukkan dengan menahan diri untuk tidak menghancurkan. Sebuah pelajaran yang sangat relevan bagi dunia modern yang dilanda perang saudara, konflik antaragama, dan ketimpangan ekstrem. Jika Zulkarnain mampu melakukan semua itu dengan teknologi dan pengetahuan yang terbatas 3.000 tahun lalu, mengapa kita — dengan segala kemajuan peradaban — seringkali gagal meneladaninya?
• Pesan untuk para pemimpin masa kini
Maka, buku ini saya tutup dengan sepuluh pesan untuk para pemimpin masa kini, yang diilhami dari kehidupan dan kepemimpinan Zulkarnain:
Pertama, jadilah pemimpin yang melayani, bukan yang dilayani. Zulkarnain selalu berada di barisan terdepan — dalam perang, dalam krisis, dalam kerja pembangunan. Ia pernah mengangkat batu besi bersama para pekerja dan tidur di tenda darurat. Pemimpin masa kini yang seringkali bersembunyi di balik tembok istana, mewah dengan mobil dinas, dan liburan ke luar negeri dengan biaya rakyat — sedang membangun jarak yang berbahaya dengan rakyatnya.
Kedua, jangan pernah berjanji sesuatu yang tidak bisa kau tepati. Zulkarnain mengatakan: lebih baik diam daripada berjanji palsu. Karena kepercayaan publik adalah modal paling berharga seorang pemimpin. Sekali hilang, tidak akan kembali. Saya teringat seorang filsuf modern, Vaclav Havel, mantan presiden Cekoslowakia, yang pernah berkata: “Kepemimpinan sejati bukanlah tentang status atau kekuasaan, tetapi tentang tanggung jawab dan integritas.” Zulkarnain sudah membuktikan itu jauh sebelumnya.
Ketiga, hapus kasta dan kesenjangan. Zulkarnain dengan tegas mengatakan bahwa kasta hanya ada di garis komando militer. Di luar itu, pemimpin harus sejajar dengan rakyat. Para pemimpin yang memakai atribut kemewahan berlebihan, rumah megah, dan gaya hidup yang kontras dengan rakyatnya — sebenarnya sedang membangun bom waktu politik. Rakyat mungkin diam sekarang, tetapi kebencian itu akan meledak suatu hari.
Keempat, bagilah kekayaan, jangan menimbunnya. Zulkarnain memberikan seluruh kelebihan hartanya kepada yang membutuhkan. Ia bahkan melarang pejabatnya memiliki rumah melebihi ukuran yang ditentukan. Bandingkan dengan para pemimpin di dunia modern yang korupsi triliunan rupiah, menyembunyikan uang di luar negeri, dan melimpahkan kekayaan kepada anak-cucunya. Tidak ada pemimpin yang abadi. Yang abadi adalah hati yang dermawan.
Kelima, berikan hak individu kepada setiap warga negara. Zulkarnain percaya bahwa rakyat akan setia jika kebutuhannya terpenuhi. Ia membuka petisi kerajaan, memastikan pengadilan independen, dan melindungi hak-hak sipil. Para pemimpin modern yang otoriter, membungkam kritik, memenjarakan lawan politik, dan menghalalkan segala cara untuk mempertahankan kekuasaan — kelak akan digulingkan oleh rakyatnya sendiri, baik melalui pemilu atau revolusi.
Keenam, toleransi adalah fondasi perdamaian. Zulkarnain mengundangkan kebebasan beragama sebagai hukum negara. Ia berkata, “Aku beribadah dengan caraku sendiri, aku tidak akan mengganggu cara orang lain menyembah Tuhannya.” Di dunia yang penuh konflik bernuansa agama, pesan ini lebih relevan dari sebelumnya.
Ketujuh, perang adalah pilihan terakhir. Zulkarnain mampu menaklukkan wilayah seluas 5 juta km² tanpa perang besar. Ia menggunakan diplomasi, kompromi, dan pernikahan politik. Para pemimpin modern yang terlalu cepat mengangkat senjata, yang mengorbankan nyawa rakyatnya hanya untuk ego atau ambisi, sedang melupakan esensi kepemimpinan: melindungi rakyat, bukan mengorbankannya.
Kedelapan, kekuasaan tanpa balas dendam. Zulkarnain menggulingkan kakeknya yang pernah berusaha membunuhnya, tetapi ia tidak menghabisi nyawa sang kakek. Ia justru memberikan istana mewah dan kebebasan hingga akhir hayat. Para pemimpin modern yang menjadikan lawan politiknya sebagai musuh yang harus dihancurkan, keluarga yang diasingkan, dan aset yang disita — sedang menabur benih kebencian yang suatu hari akan tumbuh menjadi pohon pemberontakan.
Kesembilan, bangun warisan, bukan sekadar popularitas. Zulkarnain tidak mendirikan patung-patung dirinya di setiap kota. Ia tidak menyuruh para sejarawan menulis kisahnya dengan narasi heroik yang berlebihan. Namun 3.000 tahun kemudian, namanya masih dikenang dan dipelajari. Para pemimpin modern yang sibuk membangun pencitraan, menghapus rekam jejak buruk, dan memperindah wajah di setiap spanduk — sedang membangun istana di atas pasir. Warisan sejati adalah ide-ide, nilai-nilai, dan teladan, bukan sekadar nama di gedung-gedung megah.
Kesepuluh dan terakhir, jadilah pemimpin yang dirindukan, bukan pemimpin yang ditakuti karena terpaksa. Zulkarnain dicintai dan ditakuti sekaligus, karena ia adil sekaligus kuat. Para pemimpin masa kini sering hanya memilih salah satu: ada yang lemah tetapi berusaha dicintai dengan bagi-bagi sembako; ada pula yang kejam agar ditakuti, tetapi dibenci. Zulkarnain membuktikan bahwa keduanya bisa digabungkan jika seorang pemimpin memiliki integritas, keteladanan, dan konsistensi.
Kata Penutup dari Penulis
Sejarah tidak pernah mengulang dirinya secara persis. Zulkarnain bukanlah nabi atau dewa — ia adalah manusia biasa yang memilih untuk menjadi luar biasa. Ia bukan tanpa cela; tidak ada catatan yang sempurna. Tetapi jejaknya dalam peradaban manusia — toleransi beragama, HAM, demokrasi, etika kepemimpinan — begitu dalam sehingga kita terus belajar darinya hingga hari ini.
Apakah pemimpin seperti Zulkarnain masih mungkin ada di zaman sekarang?
Jawabannya: mungkin. jika — kita, rakyat, berhenti memilih pemimpin berdasarkan popularitas, janji manis, dan pencitraan, serta mulai menuntut pemimpin yang memiliki integritas, keteladanan, dan konsistensi. jika — kita, para calon pemimpin, berani belajar dari sejarah dan meneladani nilai-nilai luhur yang sudah terbukti keampuhannya selama ribuan tahun. jika — kita semua, dalam kapasitas kita masing-masing, menjadi versi kecil dari Zulkarnain di lingkungan kita sendiri: jujur, adil, tidak sombong, dan peduli pada sesama.
Kita mungkin tidak akan pernah memiliki Zulkarnain yang kedua. Tapi setiap kita — sebagai orang tua, guru, manajer, pejabat, atau sekadar warga biasa — bisa menjadi Zulkarnain bagi orang-orang di sekitar kita. Memimpin dengan hati, menaklukkan dengan kebaikan, dan meninggalkan dunia sedikit lebih baik daripada saat kita menemukannya.
Sebab pada akhirnya, penaklukan terbesar bukanlah tanah, melainkan hati. Dan Zulkarnain telah menunjukkan jalannya — 3.000 tahun lalu — untuk kita ikuti.
Terima kasih telah menyimak perjalanan ini. Semoga kita semua layak menjadi pewaris moral dari Zulkarnain, Sang Penakluk Hati.
Daftar Pustaka
Sumber Primer dan Naskah Klasik
Al-Qur’an al-Karim, Surat Al-Kahfi (18): 83-101.
Alkitab Perjanjian Lama, Kitab Ezra & Kitab Daniel.
Soeratno, Siti Chamamah. Hikayat Iskandar Zulkarnain: Suntingan Teks. Jakarta: Balai Pustaka, 1991.
Hussain, Khalid (ed.). Hikayat Iskandar Zulkarnain. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1967 / 1986.
Xenophon. Cyropaedia: The Education of Cyrus (terjemahan bahasa Inggris oleh Walter Miller). Cambridge: Harvard University Press, 1914.
Arrianus. The Anabasis of Alexander (terjemahan bahasa Inggris oleh E. J. Chinnock). London: Hodder and Stoughton, 1884.
Rawlinson, George (ed.). The Histories of Herodotus. New York: D. Appleton and Company, 1875.
Sumber Sekunder Buku
Netton, Ian Richard. A Popular Dictionary of Islam. London: Routledge, 2006.
Stoneman, Richard. Alexander the Great: A Life in Legend. New Haven: Yale University Press, 2008.
Van Donzel, Emeri J., dan Andrea Schmidt. Gog and Magog in Early Eastern Christian and Islamic Sources. Leiden: Brill, 2010.
Cook, David. Contemporary Muslim Apocalyptic Literature. Syracuse: Syracuse University Press, 2005.
Forbes, Steve & Prevas, John. Power Ambition Glory: The Stunning Parallels Between Great Leaders of the Ancient World and Today—and the Lessons You Can Learn. New York: Crown Business, 2009.
Machiavelli, Niccolò. The Prince (terjemahan bahasa Inggris oleh Harvey C. Mansfield). Chicago: University of Chicago Press, 1998.
Bietenholz, Peter G. Historia and Fabula: Myths and Legends in Historical Thought from Antiquity to the Modern Age. Leiden: Brill, 1994.
Arberry, Arthur J. The Koran Interpreted. London: Oxford University Press, 1964.
Sumber Modern & Survei
Edelman Trust Barometer. 2026 Edelman Trust Barometer Global Report. Edelman, 2026.
Edelman Trust Barometer. 2025 Edelman Trust Barometer Global Report. Edelman, 2025.
Deloitte. 2026 Global Human Capital Trends: Decisions That Echo. Deloitte Insights, 2026.
Pew Research Center. Americans’ Feelings About the Federal Government. Pew Research Center, Desember 2025.
Pew Research Center. *Public Trust in Government: 1958-2025*. Pew Research Center, Januari 2026.
V-Dem Institute. *Varieties of Democracy (V-Dem) Dataset Version 14*. University of Gothenburg, 2026.
Coppedge, Michael, et al. *V-Dem Codebook v14*. Gothenburg: V-Dem Institute, 2026.
Morning Consult. Global Political Polarization Rankings. Morning Consult Pro, Maret 2026.
Our World in Data. Political Polarization Score. Our World in Data / V-Dem, 2026.
Maplecroft. Civil Unrest Index 2026. Maplecroft, Desember 2025.
Artikel dan Jurnal
BBC Indonesia. Artefak Babilonia Dipamerkan di AS. BBC, 28 November 2012.
RRI. Era Baru, Koresh Agung Masuki Kota Metropolitan Babel. RRI.co.id, 29 Oktober 2025.
IDN Times. Sejarah 10 Desember Sebagai Hari Hak Asasi Manusia Sedunia. IDN Times, 10 Desember 2021.
Holak, K. Where Have All the CEO Idols Gone?. Korn Ferry, April 2026.
Vitasek, Kate. Why Business Leaders Must Become Trust Brokers. Forbes, 27 Februari 2026.
Wheatley, Mike. Why today’s political unrest is about more than politics. UPI.com, 27 April 2026.
Sumber Laman Web (diakses dari file pengguna / Guru Gembul Channel)
Guru Gembul Channel. *Eps 864: Kehidupan Raja Zulkarnain yang Tidak Disebutkan di Dalam Al-Qur’an dan Alkitab*. YouTube / Transkrip, diakses pada 2026.

Komentar
Posting Komentar