Bab 9: Penentuan Pendapatan Nasional
Penentuan pendapatan nasional merupakan inti dari analisis makroekonomi jangka pendek. Teori ini menjelaskan bagaimana tingkat output agregat (pendapatan nasional) ditentukan oleh interaksi antara pengeluaran agregat (aggregate expenditure) dan output. Model dasar yang digunakan adalah model pengeluaran agregat (AE) yang dikembangkan oleh John Maynard Keynes dalam karyanya The General Theory of Employment, Interest, and Money (1936). Bab ini akan membahas model penentuan pendapatan nasional untuk perekonomian dua sektor (rumah tangga dan perusahaan), tiga sektor (ditambah pemerintah), empat sektor (ditambah perdagangan internasional), serta konsep angka pengganda (multiplier) (Mankiw, 2021).
9.1 Model Sederhana Dua Sektor
Model dua sektor adalah model paling sederhana yang hanya melibatkan rumah tangga dan perusahaan. Dalam model ini, tidak ada pemerintah dan tidak ada perdagangan internasional (perekonomian tertutup tanpa campur tangan pemerintah). Pengeluaran agregat (AE) hanya terdiri dari konsumsi rumah tangga (C) dan investasi perusahaan (I). Dalam kondisi keseimbangan, pendapatan nasional (Y) sama dengan pengeluaran agregat (Case, Fair, & Oster, 2014).
a. Fungsi Konsumsi dan Tabungan
Keynes berpendapat bahwa konsumsi rumah tangga merupakan fungsi dari pendapatan disposabel (dalam model dua sektor, pendapatan disposabel = pendapatan nasional, karena tidak ada pajak). Fungsi konsumsi linier dinyatakan sebagai:
C = a + bY
di mana:
C = konsumsi
a = konsumsi otonom (konsumsi saat pendapatan nol, dibiayai dari tabungan atau utang)
b = Marginal Propensity to Consume (MPC), yaitu tambahan konsumsi akibat tambahan pendapatan (0 < b < 1)
Y = pendapatan nasional (Samuelson & Nordhaus, 2010).
Tabungan (S) adalah sisa pendapatan yang tidak dikonsumsi: S = Y – C. Dengan mensubstitusi fungsi konsumsi, diperoleh: S = –a + (1 – b)Y. Koefisien (1 – b) disebut Marginal Propensity to Save (MPS), dengan MPS = 1 – MPC.
b. Investasi
Dalam model sederhana ini, investasi (I) diasumsikan otonom (tidak tergantung pada pendapatan), sehingga ditulis sebagai I = I₀ (konstan). Asumsi ini didasarkan pada pandangan Keynes bahwa investasi ditentukan oleh ekspektasi keuntungan jangka panjang (animal spirits) dan suku bunga, bukan oleh pendapatan saat ini (Lipsey & Chrystal, 2015).
c. Keseimbangan Pendapatan Nasional Dua Sektor
Keseimbangan terjadi ketika output yang diproduksi (Y) sama dengan pengeluaran agregat yang direncanakan (AE = C + I). Secara matematis:
Y = C + I
atau dengan mensubstitusi C = a + bY:
Y = a + bY + I
Y – bY = a + I
Y(1 – b) = a + I
Y = (a + I) / (1 – b) (Mankiw, 2021).
Keseimbangan juga dapat dicari melalui pendekatan injeksi-kebocoran (injection-leakage approach). Dalam keseimbangan, investasi (injeksi) sama dengan tabungan (kebocoran): I = S.
d. Contoh Numerik
Misalkan a = 100, b = 0,8, I = 200. Maka MPC = 0,8, MPS = 0,2. Keseimbangan: Y = (100 + 200) / (1 – 0,8) = 300 / 0,2 = 1.500. Pada Y=1.500, C = 100 + 0,8×1.500 = 100 + 1.200 = 1.300, S = 1.500 – 1.300 = 200 (sama dengan I).
9.2 Model Tiga Sektor (Dengan Pemerintah)
Model tiga sektor memasukkan pemerintah sebagai pelaku ekonomi. Pemerintah memungut pajak (T) dan melakukan belanja barang/jasa (G) serta transfer payment (Tr). Untuk penyederhanaan, biasanya transfer dimasukkan ke dalam pajak neto (T = pajak – transfer). Dalam model ini, pendapatan disposabel adalah Yd = Y – T (pajak lump-sum) atau Yd = Y – tY (pajak proporsional). Paling umum digunakan pajak lump-sum untuk memudahkan analisis (Case, Fair, & Oster, 2014).
a. Fungsi Konsumsi dengan Pajak
Dengan pajak lump-sum T, fungsi konsumsi menjadi: C = a + b(Y – T). Investasi tetap I = I₀, belanja pemerintah G = G₀. Pengeluaran agregat: AE = C + I + G = a + b(Y – T) + I + G.
b. Keseimbangan Tiga Sektor
Keseimbangan terjadi ketika Y = AE:
Y = a + b(Y – T) + I + G
Y = a + bY – bT + I + G
Y – bY = a – bT + I + G
Y(1 – b) = a – bT + I + G
Y = (a – bT + I + G) / (1 – b) (Mankiw, 2021).
Pendekatan injeksi-kebocoran: dalam keseimbangan, injeksi (I + G) sama dengan kebocoran (S + T). Jadi S + T = I + G.
c. Pengaruh Kebijakan Fiskal
Kenaikan belanja pemerintah (G) akan meningkatkan pendapatan nasional sebesar ΔY = [1/(1 – b)] × ΔG.
Penurunan pajak (T) akan meningkatkan pendapatan nasional sebesar ΔY = [b/(1 – b)] × (–ΔT) karena ΔT negatif. Efeknya lebih kecil daripada perubahan G karena multiplier pajak lebih kecil (b < 1). Inilah dasar kebijakan fiskal ekspansif (Lipsey & Chrystal, 2015).
d. Contoh Numerik
Data: a = 100, b = 0,8, I = 200, G = 300, T = 250. Maka Y = (100 – 0,8×250 + 200 + 300) / (0,2) = (100 – 200 + 200 + 300) / 0,2 = (400) / 0,2 = 2.000. C = 100 + 0,8×(2.000 – 250) = 100 + 0,8×1.750 = 100 + 1.400 = 1.500. S = Y – C – T = 2.000 – 1.500 – 250 = 250. Injeksi (I+G) = 200+300=500, kebocoran (S+T)=250+250=500.
9.3 Model Empat Sektor (Dengan Perdagangan Internasional)
Model empat sektor menambahkan masyarakat luar negeri melalui kegiatan ekspor (X) dan impor (M). Perekonomian menjadi terbuka. Impor tergantung pada pendapatan nasional (semakin tinggi Y, semakin besar impor), sedangkan ekspor bersifat otonom (ditentukan oleh permintaan luar negeri). Fungsi impor: M = mY atau M = M₀ + mY, dengan m adalah Marginal Propensity to Import (MPM), yaitu tambahan impor akibat tambahan pendapatan (0 < m < 1). Ekspor (X) diasumsikan otonom (Case, Fair, & Oster, 2014).
a. Pengeluaran Agregat Empat Sektor
AE = C + I + G + (X – M). Dengan fungsi konsumsi C = a + b(Y – T), investasi I = I₀, belanja pemerintah G = G₀, pajak T = T₀ (lump-sum), ekspor X = X₀, impor M = mY. Maka:
AE = a + b(Y – T) + I + G + X – mY
AE = a – bT + I + G + X + (b – m)Y
b. Keseimbangan Empat Sektor
Keseimbangan Y = AE:
Y = a – bT + I + G + X + (b – m)Y
Y – (b – m)Y = a – bT + I + G + X
Y[1 – (b – m)] = a – bT + I + G + X
Y = [a – bT + I + G + X] / [1 – b + m] (Mankiw, 2021).
Perhatikan bahwa penyebut (1 – b + m) lebih besar daripada (1 – b) dalam model tertutup. Akibatnya, multiplier dalam ekonomi terbuka lebih kecil daripada ekonomi tertutup, karena sebagian peningkatan pendapatan “bocor” ke impor (tidak menciptakan permintaan domestik).
Pendekatan injeksi-kebocoran: I + G + X = S + T + M (injeksi = investasi + belanja pemerintah + ekspor; kebocoran = tabungan + pajak + impor).
c. Contoh Numerik
Misalkan a = 100, b = 0,8, T = 250, I = 200, G = 300, X = 150, m = 0,1. Maka:
Y = (100 – 0,8×250 + 200 + 300 + 150) / (1 – 0,8 + 0,1) = (100 – 200 + 200 + 300 + 150) / (0,3) = (550) / 0,3 = 1.833,33. Bandingkan dengan model tiga sektor (tanpa X-M) pada contoh sebelumnya (Y=2.000). Ekspor neto (X – M) = 150 – 0,1×1.833,33 = 150 – 183,33 = –33,33 (defisit perdagangan) (Lipsey & Chrystal, 2015).
9.4 Angka Pengganda (Multiplier) Investasi dan Pengeluaran Pemerintah
Angka pengganda (multiplier) adalah konsep yang menunjukkan bahwa perubahan dalam pengeluaran otonom (investasi, belanja pemerintah, ekspor) menyebabkan perubahan pendapatan nasional yang lebih besar daripada perubahan awal. Efek ini terjadi karena pengeluaran seseorang menjadi pendapatan orang lain, yang kemudian dibelanjakan lagi, dan seterusnya (Samuelson & Nordhaus, 2010).
a. Multiplier Investasi dalam Model Dua Sektor
Dari rumus keseimbangan Y = (a + I)/(1 – b), maka k = ΔY/ΔI = 1/(1 – b) = 1/MPS. Jika MPC = 0,8, maka k = 1/(0,2) = 5. Artinya, kenaikan investasi sebesar 1 rupiah akan meningkatkan pendapatan nasional sebesar 5 rupiah (Mankiw, 2021).
b. Multiplier Pengeluaran Pemerintah (Model Tiga Sektor)
Dalam model tiga sektor dengan pajak lump-sum, multiplier belanja pemerintah sama dengan multiplier investasi: k_G = ΔY/ΔG = 1/(1 – b). Karena itu, kenaikan G sebesar ΔG akan meningkatkan Y sebesar ΔY = (1/(1 – b)) × ΔG.
c. Multiplier Pajak (Model Tiga Sektor)
Multiplier pajak (untuk pajak lump-sum) bernilai negatif dan lebih kecil dari multiplier G: k_T = ΔY/ΔT = –b/(1 – b). Misal b=0,8, maka k_T = –0,8/0,2 = –4. Penurunan pajak (ΔT negatif) akan meningkatkan Y, tetapi efeknya lebih kecil daripada kenaikan G yang sama besar (Case, Fair, & Oster, 2014).
d. Multiplier Transfer Payment
Transfer payment (Tr) seperti subsidi atau bansos memiliki multiplier yang sama dengan multiplier pajak tetapi positif: k_Tr = b/(1 – b). Karena transfer meningkatkan pendapatan disposabel, efeknya sama dengan penurunan pajak.
e. Multiplier dalam Ekonomi Terbuka (Empat Sektor)
Dengan adanya impor yang tergantung pendapatan, multiplier menjadi: k = 1 / (1 – b + m). Karena penyebut lebih besar, multiplier lebih kecil. Jika b=0,8 dan m=0,1, maka k = 1/(1 – 0,8 + 0,1) = 1/0,3 ≈ 3,33 (lebih kecil dari 5). Multiplier ekspor sama dengan multiplier investasi dalam model terbuka (Lipsey & Chrystal, 2015).
f. Multiplier dalam Kondisi Pajak Proporsional
Jika pajak bersifat proporsional (T = tY, dengan t adalah tarif pajak), maka fungsi konsumsi menjadi C = a + b(1 – t)Y. Multiplier menjadi: k = 1 / [1 – b(1 – t)]. Pajak proporsional berfungsi sebagai automatic stabilizer karena mengurangi besarnya multiplier, sehingga fluktuasi ekonomi lebih stabil (Mankiw, 2021).
g. Ilustrasi Proses Multiplier
Misalkan investasi naik Rp 100, MPC = 0,8. Putaran 1: ΔY = 100, ΔC = 80. Putaran 2: ΔY = 80, ΔC = 64. Putaran 3: ΔY = 64, ΔC = 51,2, dan seterusnya. Total ΔY = 100 + 80 + 64 + 51,2 + … = 100 × (1 + 0,8 + 0,8² + 0,8³ + …) = 100 × [1/(1 – 0,8)] = 100 × 5 = 500 (Samuelson & Nordhaus, 2010).
h. Keterbatasan Konsep Multiplier
Multiplier hanya bekerja jika terdapat kapasitas menganggur (underemployment equilibrium). Jika perekonomian sudah berada pada kesempatan kerja penuh, kenaikan pengeluaran agregat hanya akan menyebabkan inflasi, bukan peningkatan output riil (Case, Fair, & Oster, 2014).
Bab 10: Uang, Bank, dan Kebijakan Moneter
awal bacaan ILMU EKONOMI
Daftar Pustaka Bab 9
Case, K. E., Fair, R. C., & Oster, S. M. (2014). Principles of Economics (11th ed.). Pearson.
Keynes, J. M. (1936). The General Theory of Employment, Interest and Money. Macmillan.
Lipsey, R. G., & Chrystal, K. A. (2015). Economics (13th ed.). Oxford University Press.
Mankiw, N. G. (2021). Principles of Economics (9th ed.). Cengage Learning.
Samuelson, P. A., & Nordhaus, W. D. (2010). Economics (19th ed.). McGraw-Hill.

Komentar
Posting Komentar