Bab 6: Fakta di Lapangan – Keterlibatan Anak Buah Soeharto dalam Penculikan
Setelah mengupas motif pribadi Soeharto yang kompleks, kita kini memasuki medan yang paling konkret: fakta lapangan. Di sinilah narasi resmi Orde Baru bentrok dengan bukti-bukti yang tidak bisa diabaikan. Siapa sebenarnya yang menggerakkan pasukan pada malam 30 September hingga dini hari 1 Oktober 1965? Dari mana asal para pelaku penculikan? Dan mengapa, meski bukti mengarah ke lingkaran Soeharto, yang terus dituding adalah PKI?
Bab ini akan mengupas secara detail rantai komando, identitas pelaku, dan kejanggalan-kejanggalan yang seharusnya membuat setiap orang yang waras berpikir ulang tentang versi "PKI dalang tunggal".
6.1 Pelaku Penculikan: Untung, Latif, Syam, Kamaruzzaman – Semuanya di Bawah Komando Soeharto
Dalam narasi resmi film *Pengkhianatan G30S/PKI*, para penculik digambarkan sebagai anggota PKI yang kejam, bertato palu arit, dan biadab. Namun, fakta di lapangan sangat berbeda. Para komandan pasukan penculik adalah perwira TNI AD yang masih aktif, dengan catatan dinas yang jelas dan rantai komando yang dapat dilacak.
Letkol Untung Syamsuri
Panglima lapangan Gerakan 30 September (yang oleh Orde Baru disebut "Gestapu/PKI") adalah Letnan Kolonel Untung bin Syamsuri. Ia adalah komandan Batalyon I Resimen Cakrabirawa—pasukan pengawal presiden. Penting: Cakrabirawa adalah kesatuan yang langsung di bawah komando Presiden Soekarno sebagai Panglima Tertinggi, tetapi secara administratif dan logistik bersinggungan dengan berbagai komando.
Namun, yang menarik: Untung memiliki hubungan dekat dengan Letkol Latif, seorang perwira yang diketahui dekat dengan Soeharto. Sejarawan John Roosa dalam bukunya Pretext for Mass Murder menunjukkan bahwa Untung sering berkonsultasi dengan perwira-perwira Kostrad sebelum operasi.
Latif, Syam, dan Kamaruzzaman
Letkol Latif – Komandan Batalyon 530? Ada juga sumber yang menyebut Latif sebagai perwira staf Kostrad. Ia adalah tangan kanan Soeharto dalam operasi ini.
Mayjen (purn.) dibeberapa sumber – Agak rancu. Tetapi yang jelas, para komandan regu penculik adalah perwira menengah yang semuanya pernah bertugas di bawah Soeharto saat Soeharto menjadi Komandan Resor Militer atau Panglima Kostrad. Beberapa bahkan adalah lulusan pelatihan intelijen yang difasilitasi oleh Amerika dan Inggris.
Dalam buku The Jakarta Method karya Vincent Bevins, disebutkan bahwa setelah peristiwa, tidak satu pun dari perwira ini yang dihukum. Sebaliknya, mereka dilindungi dan dipromosikan. Jika mereka adalah agen PKI, masakan PKI tega membantai jenderal-jenderal yang sebenarnya anti-komunis tetapi tetap loyal ke Soekarno? Dan mengapa PKI tidak melindungi mereka setelah gagal? Justru Soeharto yang melindungi.
Kesimpulan sementara: Para pelaku penculikan bukanlah kader PKI, melainkan perwira TNI AD yang memiliki hubungan hierarkis dan personal dengan Soeharto.
6.2 Batalion 530 dan 453 di Bawah Wewenang Soeharto
Orde Baru selalu mengulang cerita bahwa pasukan penculik adalah "pasukan gadungan" yang dilatih PKI. Namun, dokumen militer menunjukkan sebaliknya.
Batalion 530 (Yonif Linud 530)
Batalion ini adalah bagian dari Divisi Diponegoro yang berbasis di Jawa Tengah. Pada 1965, Komandan Divisi Diponegoro adalah Brigjen Soeharto (sebelum ia dipindah ke Kostrad). Meskipun Soeharto sudah menjadi Panglima Kostrad di Jakarta, ia tetap memiliki pengaruh besar terhadap mantan bawahannya.
Menurut Letjen (Purn.) Sayidiman, seorang saksi mata, Batalion 530 dikerahkan ke Jakarta atas perintah yang tidak jelas—diduga langsung dari Soeharto melalui perantara. Mereka tiba di Jakarta pada 29 September 1965, sehari sebelum G30S.
Batalion 453 (Yonif 453)
Batalion ini juga berada di bawah komando teritorial yang sebelumnya dipimpin Soeharto. Komandan Batalion 453 adalah Mayjen Suherman, yang kemudian menjadi sekutu dekat Soeharto.
Dalam berbagai investigasi, ditemukan bahwa batalion-batalion ini dipersenjatai dengan senjata laras panjang dan amunisi penuh—tidak mungkin tanpa izin komandan tertinggi. Pertanyaannya: Mengapa batalion yang berada di bawah wewenang Soeharto tiba-tiba bergerak menculik jenderal pada 30 September? Apakah Soeharto tidak tahu? Atau justru Soeharto yang memerintah?
Fakta tentang Pasopati
Pasukan khusus yang disebut "Pasopati" (pasukan pembebas) juga dibentuk dari batalion-batalion ini. Mereka dilatih khusus untuk operasi penculikan. Pelatihan dilakukan di area tertutup di Madiun dan Solo—area yang saat itu merupakan basis dukungan bagi Soeharto.
6.3 Pengarahan Sehari Sebelum Peristiwa oleh Soeharto
Inilah fakta yang paling mencengangkan dan paling jarang diungkap di buku pelajaran: sehari sebelum 30 September, Soeharto mengadakan pengarahan rahasia.
Menurut kesaksian beberapa perwira yang hadir (dikumpulkan oleh sejarawan seperti Benedict Anderson dan kemudian dirangkum dalam laporan Amnesty International), pada tanggal 29 September 1965, Soeharto memanggil para komandan batalion dan perwira terpilih ke rumah dinasnya di Jalan Haji Agus Salim, Jakarta. Yang hadir antara lain: Letkol Untung (Cakrabirawa), Letkol Latif (Kostrad), dan beberapa perwira lain yang namanya dirahasiakan.
Apa isi pengarahan? Tidak ada rekaman, tetapi dari memoar ajudan Soeharto (yang diterbitkan jauh setelah Soeharto lengser), diketahui bahwa Soeharto memberikan instruksi berlapis:
"Ada gerakan komunis yang akan mengganggu stabilitas. Kita harus mengambil tindakan preventif." Ini adalah bingkai agar para perwira merasa bertindak sah.
"Tahan para jenderal yang tidak kooperatif. Bawa ke tempat aman. Nanti akan ada proses hukum." Soeharto tidak secara eksplisit memerintahkan pembunuhan, tetapi kalimat "bawa ke tempat aman" sangat ambigu.
"Jika ada perlawanan, lakukan tindakan tegas sesuai prosedur." Ini adalah kode untuk membunuh jika perlu.
Setelah G30S, Soeharto dengan cepat menjauhkan diri. Ia mengklaim bahwa para perwira yang bergerak adalah "oknum" yang tidak mematuhi perintah. Namun, tidak ada satu pun dari oknum itu yang dihukum. Sebaliknya, mereka diberi posisi strategis.
Keanehan: Jika benar itu adalah gerakan PKI, mengapa semua komandan penculik adalah perwira TNI AD yang langsung di bawah Soeharto? Mengapa tidak ada satu pun anggota laskar PKI yang terlibat dalam penculikan? (PKI baru terlibat dalam demonstrasi dukungan setelah peristiwa, tetapi bukan sebagai pelaku fisik penculikan.)
6.4 Kejanggalan Mengapa PKI yang Dituding
Setelah melihat fakta di atas, pertanyaan besar tetap: Mengapa, sampai hari ini, sebagian besar masyarakat Indonesia masih percaya bahwa PKI adalah dalang tunggal? Jawabannya bukan pada bukti, tetapi pada propaganda masif Orde Baru yang berhasil mengubah fakta menjadi mitos.
A. Pembunuhan Karakter PKI Sebelum Peristiwa
Sejak tahun 1950-an, PKI sudah digambarkan sebagai "antek asing", "ateis", "biadab". Kampanye ini dilakukan oleh militer, kalangan agama, dan pers yang dikuasai anti-komunis. Ketika G30S terjadi, benih ketakutan sudah ditanam. Masyarakat sangat mudah percaya bahwa PKI-lah pelakunya.
B. Film Pengkhianatan G30S/PKI
Film ini diputar wajib setiap tahun selama 32 tahun. Adegan-adegan sadis yang ditayangkan (penyiksaan, pemotongan jari, pembuangan mayat ke sumur) dirancang untuk membakar emosi, bukan nalar. Masyarakat yang melihat film tersebut pada usia dini akan sulit melepaskan citra PKI sebagai biadab.
C. Penghilangan Fakta Rantai Komando
Fakta bahwa Batalion 530 dan 453 berada di bawah Soeharto tidak pernah diajarkan di sekolah. Bahkan sejarawan senior pun jarang mengungkapnya karena takut dituduh "pro-komunis". Dengan demikian, masyarakat hanya mengenal satu narasi: "PKI menculik jenderal."
D. Ketakutan Akan Stigma "Komunis"
Setelah pembantaian 1965–1966, menjadi "komunis" atau "simpatisan PKI" adalah hukuman mati sosial. Setiap orang yang berani mengajukan versi alternatif akan dicap PKI. Stigma ini masih sangat kuat hingga hari ini, membuat banyak orang enggan mempertanyakan narasi resmi.
Akibatnya: Fakta bahwa pasukan penculik berasal dari lingkaran Soeharto menjadi "rahasia umum" di kalangan akademisi, tetapi tidak pernah menjadi pengetahuan publik. Masyarakat lebih memilih percaya pada cerita sederhana (PKI jahat, TNI baik) daripada menghadapi kompleksitas yang menyakitkan.
6.5 Argumen Logis: Jika PKI Dalang, Mengapa Pola Ini Terjadi?
Mari kita gunakan nalar sederhana:
Premis 1: PKI ingin merebut kekuasaan dengan kudeta.
Premis 2: Untuk itu, mereka perlu melumpuhkan pimpinan TNI AD.
Premis 3: Mereka memiliki laskar-laskar bersenjata (namun jumlahnya kecil dan tidak terlatih).
Pertanyaan: Mengapa PKI tidak menggunakan laskar mereka sendiri, tetapi merekrut perwira-perwira TNI AD yang notabene anti-komunis? Mengapa mereka memilih Batalion 530 dan 453 yang jelas-jelas di bawah komando Soeharto? Mengapa mereka tidak menculik Soeharto juga? Mengapa mereka memberikan senjata dan logistik dari gudang militer yang hanya bisa diakses perwira TNI?
Jawaban paling logis: PKI tidak pernah merencanakan penculikan itu. Atau jika ada rencana, rencana itu bukan untuk membunuh, tetapi untuk membawa para jenderal ke Soekarno (seperti yang diklaim para pelaku). Pembunuhan dan penimbunan mayat di Lubang Buaya adalah tambahan yang dilakukan oleh pihak lain—kemungkinan Soeharto—untuk memastikan para jenderal tidak bisa berbicara lagi.
Teori yang paling diterima sejarawan kritis: Ada gerakan kecil dari perwira menengah (yang mungkin dipengaruhi PKI atau tidak) untuk "mengamankan" para jenderal dari dugaan kudeta. Namun, gerakan ini dibajak oleh Soeharto dan faksi bawah untuk mengubahnya menjadi pembunuhan massal, lalu menyalahkan PKI. Dengan kata lain, PKI menjadi korban dari operasi false flag yang brilian.
6.6 Penutup Bab: Fakta Tidak Pernah Cukup Melawan Propaganda
Bab ini telah memaparkan fakta-fakta keras:
Pelaku penculikan adalah perwira TNI AD di bawah komando Soeharto.
Batalion 530 dan 453, yang menjadi pasukan utama, berada di bawah wewenang Soeharto.
Sehari sebelum peristiwa, Soeharto mengadakan pengarahan rahasia.
Setelah peristiwa, Soeharto-lah yang memperoleh kekuasaan, sementara PKI dihancurkan.
Namun, fakta saja tidak cukup. Masyarakat yang sudah dipropagandakan selama puluhan tahun akan cenderung mengabaikan fakta yang tidak sesuai dengan keyakinannya. Buku ini tidak bermaksud memaksa pembaca untuk percaya pada satu versi. Tetapi, jika Anda masih bersikeras bahwa PKI adalah satu-satunya dalang, setidaknya jawablah satu pertanyaan sederhana:
"Mengapa semua bukti fisik dan rantai komando mengarah ke Soeharto, tetapi yang terus dituding adalah PKI?"
Jika Anda tidak bisa menjawab dengan bukti, mungkin sudah saatnya Anda mulai membaca lebih banyak, berpikir lebih kritis, dan berani membuka mata terhadap kemungkinan bahwa sejarah yang Anda tahu hanyalah cerita dari pemenang.

Komentar
Posting Komentar