Bab 5 Soekarno Tegas: “60% Keuntungan Harus untuk Indonesia”
Bagian 3
Rintangan Politik – Soekarno dan Paman Sam
Bab 5 Soekarno Tegas: “60% Keuntungan Harus untuk Indonesia”
Kekhawatiran akan Eksploitasi dan Penipuan
Wilson F. kembali ke Jakarta dengan dada penuh optimisme. Dia membawa laporan tebal tentang cadangan emas dan tembaga di Ertsberg, proposal investasi yang rapi, serta janji-janji manis tentang lapangan pekerjaan dan pembangunan. Di kantornya di Hotel Indonesia (satu-satunya hotel berbintang di Jakarta saat itu), dia menyusun strategi lobi. Dia menyewa pengacara Indonesia, membawa penerjemah, dan bahkan belajar beberapa frasa bahasa Indonesia untuk memukau pejabat.
Namun, dia belum pernah bertemu dengan Soekarno.
Presiden pertama Republik Indonesia itu bukanlah politisi biasa. Soekarno adalah orator ulung, nasionalis sejati, dan seorang yang sangat cerdas – sekaligus sangat curiga terhadap bangsa asing. Baginya, penjajahan Belanda baru saja berakhir. Luka imperialisme masih berdarah. Dan kini, datang orang Amerika dengan setelan jas mahal, membawa peta tambang, dan berkata: “Kami ingin berinvestasi di tanah air Anda.”
Soekarno tersenyum tipis saat Wilson F. menyampaikan presentasinya di Istana Merdeka. Dia mendengarkan dengan sabar – angka-angka produksi, nilai investasi, rencana pembangunan jalan, lapangan kerja bagi rakyat Papua. Ketika Wilson F. selesai, Soekarno bertanya dengan suara rendah namun tajam:
“Tuan Wilson, berapa persen keuntungan yang akan tinggal di Indonesia?”
Wilson F. terkejut. Dia sudah siap menjawab pertanyaan tentang pajak, royalti, dan bagi hasil. Tapi cara Soekarno bertanya begitu langsung dan filosofis: bukan berapa yang kita beri, tapi berapa yang tersisa untuk rakyatku.
Wilson F. menjawab dengan diplomatis: “Tentu kami akan membayar pajak sesuai undang-undang, dan juga royalti yang lazim di negara-negara berkembang, Pak Presiden. Biasanya sekitar 3-5% dari pendapatan kotor.”
Soekarang menghela napas. Dia berdiri, berjalan ke jendela, memandang ke arah Monas yang sedang dibangun. Lalu dia berkata:
“Tuan Wilson, negara ini baru saja merdeka. Kami miskin, kami bodoh menurut standar kalian, dan kami tidak punya teknisi. Kalian datang dengan otak pintar, dengan modal besar, dengan pengalaman dunia. Dan kalian berkata hanya 3% yang tersisa untuk kami? Itu bukan investasi, Tuan. Itu perbudakan modern.”
Wilson F. tidak pernah membaca pidato-pidato Soekarno di masa perjuangan. Jika dia membacanya, dia akan tahu bahwa Bung Karno tidak pernah takut berdiri di depan negara adidaya. Tapi karena dia tidak tahu, dia justru menekan lebih jauh.
“Pak Presiden, tanpa Freeport, emas dan tembaga itu akan tetap di dalam gunung. Tidak ada gunanya bagi siapa pun. Kami yang akan mengeluarkannya, mengubahnya menjadi uang, dan Indonesia akan mendapat pajak dan lapangan kerja.”
Soekarno berbalik. Matanya menyala. Dia kemudian mengucapkan kalimat yang kelak menjadi legenda dalam perundingan investasi asing di Indonesia:
“Saya tidak butuh investasi asing jika hanya mengemis. Saya butuh kemitraan. Dan syarat kemitraan saya sederhana: 60% keuntungan harus untuk Indonesia. 60% dari hasil tembaga, dari hasil emas, dari apa pun yang diambil dari tanah Indonesia. Jika tidak, silakan cari negara lain.”
Wilson F. hampir tersedak. Enam puluh persen? Itu gila. Tidak ada perusahaan tambang di dunia yang menyetujui bagi hasil 60% untuk negara tuan rumah. Bahkan di negara sosialis sekalipun, angka tertinggi biasanya 20-25%. Enam puluh persen berarti membunuh Freeport sebelum lahir.
Tapi Soekarno tidak bercanda.
Idealisme vs Kebutuhan Investasi
Mengapa Soekarno begitu keras? Para ekonom modern mungkin akan mengkritiknya sebagai “tidak realistis” atau “anti-investasi”. Tapi Soekarno memiliki alasan yang sangat logis, dan ironisnya, sangat khas Indonesia: Dia takut rakyatnya ditipu.
Pada awal 1960-an, Indonesia memang sangat kekurangan sumber daya manusia terdidik. Jumlah insinyur hanya beberapa ratus orang. Akuntan yang paham laporan keuangan asing hampir tidak ada. Pengacara yang bisa membaca kontrak berbahasa Inggris dalam 500 halaman juga langka.
Soekarno khawatir bahwa jika Indonesia “dipaksa” bekerja sama dengan perusahaan asing dalam kondisi seperti ini, maka yang akan terjadi adalah:
Eksploitasi sumber daya – Perusahaan asing akan mengambil hasil tambang sebanyak-banyaknya dengan biaya semurah-murahnya, tidak peduli lingkungan atau masyarakat lokal.
Penipuan dalam kontrak – Karena Indonesia tidak punya ahli, perusahaan asing bisa menyelipkan klausul-klausul jahat yang menguntungkan mereka selama puluhan tahun.
Korupsi pejabat – Daripada bernegosiasi dengan jujur, perusahaan asing akan lebih mudah menyuap pejabat Indonesia agar meneken kontrak yang merugikan negara.
Soekarno pernah berkata dalam pidato di depan mahasiswa UI:
“Lebih baik kita miskin tetapi merdeka dan jujur, daripada kaya tetapi dikendalikan oleh asing melalui utang dan kontrak yang tidak kita mengerti. Jangan kira saya bodoh! Saya tahu kalian yang terpelajar nanti bisa dipakai sebagai ‘orang dalam’ asing. Saya tahu pejabat-pejabat bisa disuap dengan mobil mewah. Karena itu, saya tutup pintu dulu. Sampai anak cucu kita cukup pintar, baru kita buka lagi.”
Kata-kata itu visioner. Sangat visioner. Tapi sayang, politik tidak selalu menghargai visioner. Soekarno dianggap terlalu kiri, terlalu anti-Barat, terlalu keras kepala. Dan tekanan dari dalam negeri maupun luar negeri akhirnya menghancurkannya.
Wilson F., yang tidak terbiasa dengan penolakan sekasar itu, pulang ke hotel dengan wajah pucat. Dia melapor ke kantor pusat Freeport di New York. Jawabannya singkat: “Lobi orang-orang di sekitarnya. Atau cari cara lain.”
Penolakan terhadap Freeport
Wilson F. tidak menyerah. Dia mencoba pendekatan lain: menemui menteri-menteri kabinet Soekarno. Dia bertemu dengan Menteri Pertambangan, Menteri Luar Negeri, bahkan Wakil Perdana Menteri. Semua jawabannya sama: “Ikuti arahan Presiden. 60% atau tidak.”
Dia juga mencoba pendekatan “dari bawah” – menawarkan saham kepada pengusaha pribumi, menjanjikan fasilitas mewah jika mereka melobi Soekarno. Tapi rezim Soekarno memang relatif bersih dari korupsi besar-besaran di level tertinggi (setidaknya dibandingkan dengan rezim setelahnya). Tidak ada menteri yang berani membantah Soekarno soal Freeport.
Akhirnya, Wilson F. melakukan langkah putus asa: Dia mengirim surat langsung ke Presiden Amerika Serikat, John F. Kennedy.
Surat itu isinya: “Presiden Kennedy, tolong bantu saya. Presiden Soekarno memblokir investasi AS yang sangat penting. Jika Freeport tidak bisa beroperasi di Indonesia, maka China dan Rusia akan masuk dan mengambil alih. Ini masalah geopolitik, Pak Presiden. Tolong tekan Soekarno.”
Wilson F. berharap Kennedy akan mengirim utusan khusus, memberikan ancaman embargo, atau setidaknya mengurangi bantuan AS ke Indonesia. Tapi yang terjadi justru sebaliknya.
Kennedy, yang saat itu sedang sibuk dengan krisis rudal Kuba dan perlombaan antariksa, mempelajari situasi Indonesia dengan cermat. Kesimpulannya: Melawan Soekarno tidak akan menguntungkan AS. Mengapa?
Pertama, Soekarno memang populer di dalam negeri dan di dunia non-Blok. Menekannya secara terbuka justru akan mendorong Indonesia lebih dekat ke Blok Timur.
Kedua, Soekarno bisa sewaktu-waktu menasionalisasi semua perusahaan AS di Indonesia jika merasa terancam.
Ketiga, AS sedang berusaha mengamankan pengaruh di Asia Tenggara untuk menahan ekspansi komunis. Indonesia adalah kunci. Lebih baik memanjakan Soekarno daripada membuatnya menjadi musuh.
Jadi, Kennedy tidak hanya menolak membantu Freeport. Dia justru mengirim pesan ke Wilson F.: “Urus sendiri. Jangan melibatkan pemerintah AS. Dan jangan ganggu hubungan diplomatik kami dengan Indonesia.”
Wilson F. frustasi. Dia telah menemukan tambang emas terbesar di dunia, tetapi dihalangi oleh seorang presiden Asia yang keras kepala dan presiden AS yang tidak mau repot. Freeport nyaris mati. Lagi.
Tapi kemudian, kebetulan kedua yang sangat mengerikan terjadi.
Kennedy tewas ditembak di Dallas, 22 November 1963.
Kurang dari dua tahun kemudian, Soekarno jatuh.
Dan bangkitlah Soeharto – seorang jenderal yang tidak banyak bertanya, hanya ingin tanda tangan dan komisi.
Apakah semua itu kebetulan?
Atau ada tangan-tangan yang dengan sengaja membuka jalan bagi Freeport?
Mari kita telusuri di bab berikutnya.
Bersambung ke Bab 6: John F. Kennedy yang Memanjakan Soekarno – dan Kematian Misterius yang Mengubah Segalanya

Komentar
Posting Komentar