Bab 5: Motif Pribadi Soeharto – Bukan Sekadar Ideologi
Dalam analisis sejarah, seringkali kita tergoda untuk menjelaskan peristiwa besar hanya dengan kategori-kategori besar: ideologi, kelas, geopolitik. Namun, di balik layar drama global dan konflik faksi militer, ada juga denyut nadi yang lebih manusiawi—dan kadang lebih kejam: motif pribadi. Dendam, iri hati, ambisi yang tertahan, rasa malu yang membekas puluhan tahun.
Tidak ada tokoh yang lebih mewakili kompleksitas ini daripada Letnan Jenderal Soeharto, pria kelahiran Kemusuk, Yogyakarta, yang pada Oktober 1965 berusia 44 tahun. Pada saat G30S meletus, Soeharto bukanlah siapa-siapa jika dibandingkan dengan para jenderal "Menteng". Ia hanyalah panglima Kostrad—komandan cadangan strategis—yang karirnya telah mandek hampir satu dekade. Namun, dalam hitungan hari, ia berhasil mengambil alih komando, membantai musuh-musuhnya, dan melangkah menuju puncak kekuasaan yang akan dipegangnya selama 32 tahun.
Apa yang mendorong seorang perwira menengah ini melakukan lompatan sejarah yang spektakuler? Jawabannya tidak sederhana. Soeharto memiliki tiga lapis motif yang saling menguatkan: ideologis (nasionalisme versus internasionalisme komunis), sosial-ekonomi (kesenjangan dan korupsi), dan personal (dendam kepada Ahmad Yani). Bab ini akan mengupas ketiganya, dengan penekanan khusus pada motif ketiga yang paling jarang diungkap dalam narasi resmi.
5.1 Motif 1: Nasionalisme vs Internasionalisme Komunis
Motif pertama ini adalah yang paling "mulia" dan paling sering dikemukakan oleh pendukung versi resmi: bahwa Soeharto adalah seorang nasionalis sejati yang tidak rela Indonesia dijual ke Blok Timur. Komunis, dalam pandangan ini, menawarkan internasionalisme—solidaritas kelas lintas bangsa yang mengancam kedaulatan nasional.
Nasionalisme Soeharto: Dari KNIL ke PETA ke TNI
Soeharto dibesarkan dalam lingkungan nasionalisme Jawa yang kental. Ia bergabung dengan KNIL (tentara kolonial Belanda) pada 1940, bukan karena cinta pada Belanda, tetapi karena itu adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan pendidikan militer dan penghidupan. Ketika Jepang datang dan membubarkan KNIL, Soeharto bergabung dengan PETA (Pembela Tanah Air)—pasukan bentukan Jepang yang justru menjadi kawah candradimuka nasionalisme Indonesia. Di PETA, ia belajar taktik gerilya dan memimpin anak buah dari berbagai suku.
Setelah proklamasi 1945, Soeharto dengan cepat masuk ke BKR (Badan Keamanan Rakyat) lalu TKR (Tentara Keamanan Rakyat) yang kelak menjadi TNI. Ia berjuang dalam perang kemerdekaan melawan Belanda. Baginya, NKRI adalah harga mati, dan segala ideologi yang menempatkan kepentingan asing di atas kepentingan nasional adalah musuh.
Mengapa Komunis Dianggap "Internasionalis"?
PKI, sejak awal berdirinya, adalah bagian dari gerakan komunis global yang terafiliasi dengan Komintern (Uni Soviet) dan kemudian dengan Tiongkok. Meskipun PKI versi D.N. Aidit mengklaim "nasionalis", mereka tetap menjunjung tinggi internasionalisme proletar: bahwa perjuangan kelas tidak mengenal batas negara. Bagi seorang nasionalis seperti Soeharto, ini adalah pengkhianatan.
Lebih dari itu, Soeharto melihat bahwa PKI semakin dominan di kabinet Soekarno. Mereka mendapatkan posisi-posisi menteri dan mempengaruhi kebijakan luar negeri. Pada 1965, hubungan Indonesia dengan Malaysia (yang didukung Barat) memburuk, sementara hubungan dengan Tiongkok dan Uni Soviet memanas. Bagi Soeharto, itu adalah bukti bahwa Soekarno sedang membawa Indonesia ke pelukan komunis.
Namun, motif nasionalisme ini tidak berdiri sendiri. Jika hanya soal ideologi, mengapa Soeharto justru membuka pintu selebar-lebarnya bagi perusahaan-perusahaan AS pasca-1965? Bukankah itu juga bentuk "internasionalisme" versi kapitalis? Di sinilah kita melihat bahwa motif ideologis seringkali hanya pembenaran untuk motif lain yang lebih material dan personal.
5.2 Motif 2: Kesenjangan Senioritas dan Korupsi Para Jenderal “Menteng”
Soeharto berasal dari lingkungan pedesaan yang sederhana. Rumahnya di Kemusuk tidak memiliki lantai ubin, hanya tanah. Ia tidak mewarisi kekayaan atau koneksi politik. Ketika masuk militer, ia harus berjuang dari bawah: dari tamtama, bintara, hingga perwira. Setiap kenaikan pangkat diraih dengan keringat dan darah di medan perang.
Sementara itu, para jenderal "Menteng" seperti Ahmad Yani, M.T. Haryono, dan D.I. Panjaitan juga berasal dari latar yang tidak jauh berbeda—namun mereka lebih pandai "bermain politik" sehingga mendapatkan posisi-posisi strategis yang menguntungkan secara ekonomi.
Kehidupan Mewah di Kawasan Menteng
Kawasan Menteng, Jakarta Pusat, adalah pusat kemewahan pada 1960-an. Rumah-rumah bergaya kolonial dengan taman luas, mobil-mobil mewah, pesta-pesta dengan minuman impor. Di sinilah para jenderal dan pejabat tinggi tinggal. Ahmad Yani, misalnya, menempati rumah dinas Kasad yang megah di Jalan Jenderal Sudirman (dulu bernama berbeda).
Di mata perwira seperti Soeharto, kemewahan itu adalah hasil korupsi. Bukan rahasia umum bahwa banyak proyek-proyek militer (pengadaan senjata, pembangunan markas, logistik) digunakan sebagai lahan "pungutan" oleh para jenderal. Soeharto sendiri, meskipun bukan orang suci (ia juga pernah tersangkut kasus korupsi gula), merasa bahwa para jenderal Menteng sudah melampaui batas.
Korupsi yang Sistemik
Korupsi di TNI AD pada masa Demokrasi Terpimpin sudah sistemik. Setiap transaksi besar ada "bagian" untuk komandan. Proyek-proyek yang didanai bantuan asing (misalnya dari AS atau Uni Soviet) seringkali 30-40% nya "menguap" ke kantong pribadi. Para jenderal Menteng adalah penerima manfaat utama.
Yang membuat Soeharto semakin geram adalah bahwa mereka menghalangi perwira bawah untuk ikut menikmati. Ia dan kawan-kawannya di Kostrad hanya mendapat gaji pas-pasan, sementara harus mengurus pasukan yang besar. "Mereka di atas enak-enak, kami di bawah susah," begitu keluhan yang sering terdengar di kalangan perwira menengah.
Kesenjangan ekonomi antara jenderal puncak dan perwira menengah ini menciptakan kelas menengah militer yang frustrasi. Mereka memiliki pendidikan dan pengalaman tempur yang baik, tetapi hidup dalam keterbatasan. Kelompok inilah yang menjadi basis dukungan Soeharto. Bagi mereka, menggulingkan para jenderal Menteng berarti membuka pintu untuk "merombak" sistem ekonomi militer.
5.3 Motif 3: Dendam Pribadi Soeharto kepada Ahmad Yani
Jika motif pertama dan kedua bersifat "objektif" (ideologi dan ekonomi), maka motif ketiga ini sangat personal, bahkan emosional. Soeharto dan Ahmad Yani memiliki sejarah panjang sebagai rival abadi. Hubungan mereka mirip seperti Naruto dan Sasuke—satu sama lain terus bersaing, tetapi nasib membawa mereka ke jalur yang sangat berbeda.
A. Kisah Rivalitas Seumur Hidup
Mari kita bandingkan dua tokoh ini secara paralel:
| Aspek | Soeharto | Ahmad Yani |
|---|---|---|
| Tahun lahir | 8 Juni 1921 | 19 Juni 1922 |
| Tempat lahir | Kemusuk, Yogyakarta | Jenar, Purworejo |
| Latar belakang | Non-priyayi | Non-priyayi |
| Masuk KNIL | 1940 | 1940 (satu angkatan) |
| Pangkat awal | Sersan | Sersan |
| Bergabung PETA | 1943 (komandan pleton) | 1943 (komandan pleton) |
| Masuk BKR/TKR | 1945 | 1945 |
| Pangkat 1950 | Kolonel | Kolonel |
Hingga awal 1950-an, karier mereka berdua berjalan sejajar. Bahkan, mereka sering bertukar jabatan dan bertempur di medan yang sama. Keduanya dikenal sebagai perwira tempur yang ulung, disegani anak buah, dan memiliki ambisi besar.
Namun, semenjak tahun 1952, jalan mereka mulai bercabang.
B. Skandal Korupsi Gula dan Penamparan oleh Ahmad Yani
Pada tahun 1952, Soeharto bertugas sebagai Komandan Batalyon di Jawa Tengah. Ia terlibat dalam penyelundupan gula—sebuah praktik umum di kalangan perwira saat itu untuk menambah penghasilan. Soeharto dan beberapa rekannya menjual gula negara ke pasar gelap. Kasus ini dilaporkan ke atas.
Siapa yang memeriksa? Letnan Kolonel Ahmad Yani, yang saat itu menjabat sebagai perwira staf di Markas Besar TNI AD. Yani dikenal sebagai perwira yang disiplin dan tidak segan menghukum siapa pun, termasuk teman seangkatannya.
Dalam sebuah pemeriksaan tertutup, Yani memanggil Soeharto. Di depan beberapa perwira lain, Yani menginterogasi Soeharto dengan keras. Soeharto mengaku, tetapi mencoba membela diri dengan mengatakan bahwa semua perwira melakukannya. Yani marah. Menurut beberapa sumber (termasuk memoar ajudan Soeharto di kemudian hari), Yani menampar Soeharto di pipi di depan umum.
Peristiwa ini adalah trauma terbesar dalam karier Soeharto. Baginya, tamparan itu bukan hanya fisik, tetapi penghinaan moral yang tak terhapuskan. Seorang pria Jawa dari budaya yang sangat menjunjung harga diri (wibawa) tidak akan pernah melupakan malu di depan publik.
C. Mandeknya Karir Soeharto vs Naiknya Ahmad Yani
Setelah skandal gula, karir Soeharto mandek total. Ia sebenarnya tidak dipecat (ada campur tangan Soekarno?), tetapi semua peluang promosi tertutup. Ia sering ditempatkan di posisi-posisi yang tidak strategis: Komandan Resor Militer di Jawa Tengah, lalu ke Akademi Militer di Magelang, dan akhirnya ke Kostrad—yang saat itu baru dibentuk dan belum dianggap penting.
Ahmad Yani, sebaliknya, naik terus. Ia mendapat pendidikan militer di Amerika Serikat (Fort Leavenworth), lalu berbagai jabatan penting: Asisten Operasi Kasad, lalu Panglima Tentara dan Teritorium (T&T) IV/Diponegoro, dan pada tahun 1962 diangkat menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad)—posisi tertinggi di TNI AD.
Sementara itu, Soeharto masih berpangkat Brigadir Jenderal (kemudian Letnan Jenderal tetapi tanpa jabatan strategis). Pada 1965, ia hanya memimpin Kostrad yang beranggotakan sekitar 30.000 personel. Sedangkan Ahmad Yani memimpin seluruh AD yang berjumlah lebih dari 300.000.
Bayangkan rasa iri dan frustrasi Soeharto: seorang yang setara, bahkan mungkin ia anggap lebih unggul, kini menjadi atasannya. Ditambah lagi, Yani seringkali meremehkan kemampuan Soeharto di berbagai forum. Beberapa perwira yang hadir dalam rapat-rapat militer di era itu menyaksikan bagaimana Yani sering memotong pembicaraan Soeharto dan menganggap usul-usulnya "tidak matang".
Dendam yang terpendam selama 13 tahun (1952–1965) inilah yang menjadi bahan bakar paling kuat bagi Soeharto untuk bertindak. Ketika pada September 1965, kesempatan tampak terbuka—dengan dukungan CIA, tekanan dari faksi bawah, dan kekacauan politik yang memuncak—Soeharto tidak akan menyia-nyiakannya.
5.4 Bagaimana Dendam Ini Mewarnai G30S?
Soeharto tidak secara terbuka membunuh Ahmad Yani dengan tangannya sendiri. Namun, ia membiarkan atau mengarahkan agar Yani menjadi salah satu korban penculikan.
Dalam kronologi resmi, para jenderal diculik dan dibunuh di Lubang Buaya. Daftar korban: Ahmad Yani, M.T. Haryono, S. Parman, D.I. Panjaitan, R. Suprapto, S. Siswomiharjo (ditambah Perwira First Class Sutoyo). Semuanya adalah jenderal-jenderal menteng—kecuali Siswomiharjo dan Sutoyo yang mungkin "bonus".
Soeharto sendiri selamat. Menariknya, rumah Soeharto cukup dekat dengan lokasi penculikan, tetapi pasukan penculik tidak mendatanginya. Banyak sejarawan (John Roosa, Benedict Anderson) meyakini bahwa Soeharto sudah memberikan "lampu hijau" untuk membunuh para jenderal, tetapi pasukan di lapangan mungkin salah mengartikan perintah—atau sengaja dimanfaatkan.
Setelah Yani tewas, Soeharto tidak pernah menunjukkan penyesalan. Malah, dalam pidato-pidatonya di kemudian hari, ia sering menyebut Yani dengan nada "penghargaan" yang dingin, seperti berbicara tentang orang asing. Tidak pernah ada air mata atau kenangan persahabatan. Sebaliknya, ia dengan cepat mengambil alih jabatan Kasad yang kosong.
5.5 Kesimpulan Bab: Motif Kompleks, Tindakan Brutal
Soeharto bukanlah seorang psikopat yang membunuh hanya karena dendam. Ia memiliki tiga lapis motif yang saling terkait:
Ideologis – Nasionalisme yang tulus, meskipun kemudian terdistorsi oleh kepentingan kekuasaan.
Ekonomis – Kesenjangan dan korupsi yang dirasakan sebagai ketidakadilan.
Personal – Dendam yang tak terucap tetapi membara kepada Ahmad Yani.
Tanpa motif personal, mungkin Soeharto hanya akan menjadi perwira biasa yang mengikuti arus. Tanpa motif ekonomis, ia mungkin tidak mendapatkan dukungan dari faksi bawah. Tanpa motif ideologis, ia tidak akan mendapat restu dari Amerika dan kalangan agamawan.
Tiga motif ini, disatukan oleh satu peristiwa besar (G30S), meledak menjadi kekerasan yang merenggut ratusan ribu nyawa. Soeharto bukan satu-satunya dalang, tetapi ia adalah pemanfaat utama dan aktor kunci yang mengubah drama menjadi tragedi.
Bab 6: Fakta di Lapangan – Keterlibatan Anak Buah Soeharto dalam Penculikan

Komentar
Posting Komentar