Bab 5: Fenomenologi Ziarah (Passiara)
Bagian III: Lanskap Sakral – Ziarah, Mitos, dan Fenomenologi
Bab 5: Fenomenologi Ziarah (Passiara)
5.1. Pendahuluan: Memahami Ziarah dari Dalam
Apa yang mendorong seseorang menempuh perjalanan puluhan bahkan ratusan kilometer, rela berdesakan di kendaraan umum, lalu berdiri di bawah terik matahari di depan sebuah makam, hanya untuk sekadar berdoa? Apakah mereka sekadar "musyrik" seperti yang dituduhkan sebagian kalangan? Ataukah ada realitas spiritual yang lebih kompleks dan mendalam yang tidak bisa dijelaskan oleh logika sederhana?
Ziarah—dalam bahasa Mandar disebut passiara—adalah fenomena religius yang telah berlangsung berabad-abad di Nusantara. Berbeda dengan kunjungan biasa ke kuburan keluarga, passiara memiliki konotasi khusus: mengunjungi makam orang suci (waliyullah) dengan harapan memperoleh berkah (keberkahan) atau karamah (keistimewaan). Para kritikus menyebutnya sebagai bentuk syirik karena dianggap berdoa kepada selain Allah. Namun, bagi para peziarah, praktik ini justru memperkuat tauhid mereka: mereka percaya bahwa hanya Allah yang memberi manfaat dan mudarat, tetapi Allah juga mengizinkan orang-orang dekat-Nya menjadi wasilah (perantara) doa.
Bab ini tidak akan menghakimi atau membela praktik ziarah dari sudut pandang teologis normatif. Sebaliknya, kita akan menggunakan pendekatan fenomenologi—sebagaimana dikembangkan oleh Edmund Husserl dan Alfred Schutz—untuk memahami pengalaman subjektif para peziarah. Apa yang mereka rasakan? Apa yang mereka cari? Bagaimana mereka memaknai Imam Lapeo dan tempat-tempat suci yang terkait dengannya?
Pendekatan ini penting karena, seperti ditulis oleh Nurul Shafira dalam skripsinya (2021), pemaknaan seseorang terhadap tokoh agama tidak bisa dipahami dari luar, melainkan harus dihayati dari dalam. Kita akan menyimak suara-suara para peziarah itu sendiri, terutama tujuh informan kunci yang berdomisili di Kota Parepare, yang rutin atau pernah berziarah ke Lapeo. Melalui mereka, kita akan memasuki dunia kehidupan (lebenswelt) para passiara.
5.2. Siapa Para Peziarah? Profil dan Motivasinya
Berdasarkan penelitian Nurul Shafira (2021) dan juga observasi lapangan Nirmawala dkk. (2021), para peziarah Imam Lapeo berasal dari latar belakang yang sangat beragam. Ada yang datang sendiri, ada yang berkelompok. Ada yang hanya sekali seumur hidup, ada yang rutin setiap bulan atau setiap tahun. Secara umum, mereka dapat dikategorikan dalam beberapa tipe:
1. Peziarah Tradisional (Generasi Tua)
Biasanya berusia di atas 50 tahun, datang bersama keluarga atau rombongan majelis taklim. Mereka masih ingat cerita-cerita tentang Imam Lapeo dari orang tua mereka. Motivasinya: menjaga tradisi leluhur, berdoa untuk keselamatan keluarga, dan memohon barakah (keberkahan) dalam hidup. Mereka cenderung melakukan ritual secara lengkap: ziarah makam, shalat di masjid, dan berkunjung ke rumah keturunan Imam Lapeo.
2. Peziarah Problem-Solver (Mencari Solusi)
Kelompok ini datang karena sedang memiliki masalah: sakit yang tak kunjung sembuh, usaha yang bangkrut, anak yang sulit diatur, atau konflik rumah tangga. Mereka berharap doa yang dipanjatkan di "tempat suci" akan lebih mudah dikabulkan Allah. Beberapa di antaranya bernazar (berjanji) jika masalah selesai, mereka akan kembali bersedekah atau memotong hewan.
3. Peziarah "Wisata Religi" (Generasi Milenial)
Anak-anak muda yang mungkin tidak terlalu paham detail sejarah Imam Lapeo, tetapi ikut orang tua atau teman karena penasaran. Bagi mereka, ziarah adalah bentuk healing spiritual—melepas penat dari rutinitas kota. Mereka lebih suka berfoto di masjid yang indah atau menikmati ketenangan suasana desa. Meskipun demikian, paparan terhadap ritual dan cerita-cerita karamah secara tidak langsung membentuk kesadaran religius mereka.
4. Peziarah Pencari Jimat dan Obat Alternatif
Kelompok kecil yang datang khusus untuk meminta jimat (tulisan doa) atau air doa dari keturunan Imam Lapeo. Mereka percaya bahwa benda-benda tersebut memiliki kekuatan perlindungan, pengasihan, atau kesembuhan. Fenomena ini kontroversial, tetapi tidak bisa dipungkiri masih ada.
Kasus 7 Informan di Parepare (Penelitian Nurul Shafira)
Dalam skripsi tersebut, peneliti mewawancarai tujuh orang peziarah yang berdomisili di Kota Parepare—berjarak sekitar 150 km dari Lapeo. Mereka dipilih secara purposive sampling dengan kriteria: pernah berziarah minimal tiga kali, berusia antara 25-65 tahun, dan memiliki pemaknaan tersendiri tentang Imam Lapeo. Berikut ringkasan profil mereka (nama disamarkan):
| Informan | Usia | Pekerjaan | Frekuensi Ziarah | Motif Utama |
|---|---|---|---|---|
| Ibu Siti | 62 | Ibu rumah tangga | Setiap tahun | Melestarikan tradisi keluarga; memohon keselamatan anak |
| Bapak Arif | 58 | Petani | 2-3 kali setahun | Bernazar jika panen berhasil; meminta doa untuk hasil tani |
| Ibu Rina | 45 | Pedagang | Sewaktu-waktu (jika ada masalah) | Memohon kelancaran usaha; meminta jimat pengasihan |
| Bapak Hasan | 50 | Sopir | Setiap bulan (singgah saat lewat) | Memohon keselamatan berkendara; membaca doa di makam |
| Saudara Irwan | 28 | Mahasiswa | Sekali-sekali (ikut orang tua) | Menghormati orang tua; mencari ketenangan batin |
| Ibu Nur | 55 | Guru ngaji | Setiap tiga bulan | Silaturahmi dengan Annangguru; belajar doa-doa |
| Bapak Darman | 65 | Pensiunan PNS | Setiap hari Jumat (via telepon, kadang datang) | Memohon keberkahan masa tua; mendoakan keluarga |
Dari tabel di atas, terlihat bahwa motif ziarah sangat beragam: ada yang preservasi tradisi, ada yang pragmatis (mencari solusi masalah), ada juga yang sosial (silaturahmi). Tidak satu pun informan yang mengaku menyembah Imam Lapeo atau menganggapnya Tuhan. Semua meyakini bahwa hanya Allah yang mengabulkan doa, tetapi mereka meyakini bahwa doa di lokasi yang memiliki nilai spiritual lebih mudah diijabah.
5.3. Tiga Destinasi Sakral di Lapeo
Kompleks ziarah Imam Lapeo tidak hanya terdiri dari satu tempat, melainkan tiga destinasi yang saling berhubungan dan masing-masing memiliki fungsi serta makna tersendiri.
5.3.1. Boyang Kayyang – Rumah Imam Lapeo
Boyang Kayyang (dalam bahasa Mandar: boyang = rumah, kayyang = besar) merujuk pada rumah panggung kayu tempat tinggal Imam Lapeo semasa hidup. Rumah ini terletak tepat di depan Masjid Nurut-Taubah. Meskipun usianya sudah lebih dari satu abad, rumah ini masih berdiri kokoh, walaupun beberapa kali diperbaiki.
Makna simbolis: Boyang Kayyang bukan sekadar bangunan fisik. Ia adalah simbol dari kesederhanaan dan keakraban. Imam Lapeo bisa saja membangun rumah megah, tetapi ia memilih rumah panggung biasa. Di rumah inilah ia menerima tamu, mengajar santri, dan menjadi tempat curhat masyarakat yang memiliki masalah. Karena itu, peziarah yang berkunjung ke Boyang Kayyang merasa seperti "pulang ke rumah kakek".
Saat ini, yang tinggal di Boyang Kayyang adalah keturunan Imam Lapeo, terutama para Annangguru (lihat sub-bab 5.5). Peziarah yang datang biasanya duduk di ruang tamu sambil menikmati kopi dan kue tradisional, lalu berbincang-bincang dengan keluarga. Suasananya hangat, tidak kaku. Ini adalah bentuk ziarah sosial yang tidak selalu ditemukan di makam-makam wali lain.
5.3.2. Masigi Lapeo (Masjid Nurut-Taubah)
Masjid ini didirikan oleh Imam Lapeo sendiri dan menjadi pusat kegiatan dakwahnya. Nama Nurut-Taubah berarti "cahaya taubat" —sebuah pesan bahwa masjid adalah tempat manusia kembali ke jalan Allah. Ciri khas masjid ini adalah menaranya yang tinggi—tidak seperti masjid tradisional Mandar yang biasanya tanpa menara. Menara ini konon dibangun atas petunjuk spiritual (sebuah karamah dalam pengadaannya).
Makna simbolis: Masjid melambangkan sakralitas ruang. Ketika memasuki area masjid, peziarah merasa berada di zona yang berbeda dari dunia profan (biasa). Mereka akan melepas sandal, mengambil wudhu, dan berdoa dengan lebih khusyuk. Di sinilah mereka melaksanakan shalat sunnah, membaca Al-Qur'an, atau sekadar duduk merenung.
Menariknya, masjid ini tidak pernah sepi. Setiap waktu shalat, terutama shalat Jumat, halaman masjid penuh dengan jamaah baik dari warga lokal maupun peziarah. Ini menunjukkan bahwa masjid masih berfungsi sebagai pusat komunitas, bukan sekadar monumen sejarah.
5.3.3. Ko'bah (Makam) – Pusat Gravitasi Ziarah
Makam Imam Lapeo terletak di halaman samping masjid, dilindungi oleh cungkup (bangunan kecil beratap). Bentuknya sederhana: dua nisan (satu untuk Imam Lapeo, mungkin satu lagi untuk istri atau keluarga), ditutup kain hijau, dan selalu dihiasi bunga segar dari peziarah. Di dekat makam, terdapat beberapa kotak amal (massulakka) dan tempat pembakaran kemenyan (walaupun tidak semua peziarah menggunakannya).
Makna simbolis: Makam adalah titik paling sakral dalam kompleks ziarah. Di sinilah peziarah merasakan kedekatan yang paling intens dengan Imam Lapeo. Mereka percaya bahwa ruh orang suci tidak terputus dari jasadnya; ia tetap "hadir" secara spiritual di sekitar makam. Karena itu, berdoa di makam dianggap lebih mustajab (cepat dikabulkan) daripada di tempat biasa.
Proses ziarah makam biasanya diawali dengan membaca surah Al-Fatihah, kemudian tahlil (bacaan Lailahaillallah), dan ditutup dengan doa untuk Imam Lapeo dan para leluhur. Banyak peziarah yang menangis tersedu-sedu—bukan karena sedih, tetapi karena perasaan haru dan sadar akan kematian serta ketergantungan mutlak kepada Allah.
5.4. Ritual-Ritual dalam Passiara
Para peziarah tidak datang begitu saja, lalu pulang. Mereka melibatkan diri dalam serangkaian ritual yang sudah mapan, meskipun tidak semua melakukan semua ritual. Berikut adalah yang paling umum:
5.4.1. Tawassul – Menjadikan Wali sebagai Perantara
Tawassul (dari bahasa Arab tawassala = mencari perantara) adalah praktik memohon kepada Allah dengan menyebut nama orang-orang saleh (nabi, wali, ulama) sebagai wasilah. Dalam ziarah kubur, tawassul diwujudkan dengan membaca: "Ya Allah, dengan berkah (barakah) kekasih-Mu Imam Lapeo, kabulkanlah hajat kami…"
Sebagian ulama kontemporer mengkritik praktik ini sebagai syirik karena dianggap berdoa kepada selain Allah. Namun, para peziarah membantah: "Kami tetap berdoa kepada Allah, hanya saja melalui perantara yang dicintai Allah. Ini tidak berbeda dengan orang yang meminta didoakan oleh ulama yang masih hidup." Perdebatan ini panjang, namun dalam fenomenologi, yang penting adalah niat subjektif peziarah: mereka tidak menyembah wali, mereka hanya meminta wali mendoakan mereka.
Penelitian Nurul Shafira (2021) menunjukkan bahwa 6 dari 7 informannya melakukan tawassul dalam ziarahnya. Alasan mereka: "Kami merasa doa lebih tenang, lebih khusyuk, seperti ada yang mendampingi."
5.4.2. Nazar – Janji Suci dengan Tuhan
Nazar adalah janji untuk melakukan sesuatu (biasanya bersedekah, memotong hewan, atau berpuasa) jika hajat tertentu terkabul. Contoh: "Ya Allah, lewat berkah Imam Lapeo, jika anak saya sembuh dari sakit, saya akan menyembelih kambing untuk warga Lapeo." Setelah hajat terkabul, peziarah akan kembali ke Lapeo (atau mengirim wakil) untuk memenuhi nazarnya.
Nazar memiliki fungsi psikologis: ia memperkuat komitmen dan harapan. Orang yang bernazar cenderung lebih optimis dan bersemangat berusaha karena ia merasa telah membuat "kontrak" dengan Tuhan. Di Lapeo, potong hewan (biasanya kambing atau sapi) sering dilakukan di halaman makam, lalu dagingnya dimasak dan dimakan bersama-sama oleh peziarah, masyarakat, dan santri. Ini mengubah ritual individual menjadi festival komunal.
5.4.3. Mencari Berkah (Barakah)
Barakah adalah konsep yang sulit diterjemahkan secara tepat. Ia berarti keberkahan: peningkatan kualitas dalam sesuatu, sehingga yang sedikit menjadi cukup, yang sulit menjadi mudah, yang biasa menjadi istimewa. Orang datang ke makam wali untuk memperoleh barakah, misalnya dengan:
Menyentuh atau mencium pintu makam (setelah pandemi, ini mulai ditinggalkan).
Membawa pulang tanah atau daun dari pohon di sekitar makam (sangat jarang, tapi ada).
Minum air dari sumur atau galon yang telah didoakan oleh Annangguru.
Para ulama sufi menjelaskan bahwa barakah bukanlah benda fisik yang bisa dipindahkan; ia adalah energi spiritual yang diturunkan Allah karena keberadaan hamba-Nya yang saleh. Karena itu, "mendapatkan barakah" lebih tepat diartikan sebagai mendapatkan limpahan rahmat Allah berkat doa orang saleh.
5.4.4. Meminta Jimat – Praktik Kontroversial
Jimat (dalam bahasa Mandar: jimak) adalah lembaran kertas berisi tulisan Arab (ayat Al-Qur'an, nama Allah, atau doa-doa) yang digulung dan dimasukkan ke dalam wadah kain. Peziarah yang meminta jimat biasanya ingin keselamatan fisik (tidak kena celaka), pengasihan (disukai orang), atau kebal senjata (walaupun saat ini jarang). Jimat diberikan oleh Annangguru (keturunan Imam Lapeo) setelah melalui proses tanya jawab tentang niat dan kebutuhan.
Dalam penelitian Nirmawala dkk. (2021), sekitar 25% peziarah mengaku pernah meminta jimat. Sebagian besar dari mereka adalah lansia yang bekerja sebagai nelayan atau petani yang menghadapi risiko tinggi. Para Annangguru sendiri bersikap selektif: mereka tidak memberikan jimat kepada sembarang orang, dan selalu menekankan bahwa jimat hanya wasilah, bukan sumber kekuatan. "Yang kuasa hanya Allah. Jimat ini hanya pengingat," kata salah satu Annangguru.
Dari sudut pandang fenomenologi, jimat berfungsi sebagai objek meditasi—sesuatu yang dipegang atau dipandang untuk memfokuskan ingatan kepada Allah. Sayangnya, tidak sedikit yang kemudian terjebak pada "magis" benda itu sendiri. Imam Lapeo sendiri, jika hidup hari ini, kemungkinan akan meluruskan praktik ini.
5.5. Peran Annangguru: Mediator Keberkahan yang Hidup
Annangguru (dalam bahasa Mandar: anak guru atau keturunan guru) adalah sebutan untuk keturunan Imam Lapeo yang dianggap mewarisi otoritas spiritualnya. Mereka—terutama putri-putrinya yang masih hidup dan cucu-cucunya—adalah jembatan antara peziarah dengan wali yang telah wafat. Saat ini, yang paling dikenal adalah Hj. Muhsanah Thahir (Annangguru Amma Jarra) dan Hj. Marhumah (Annangguru Kuma), putri-putri Imam Lapeo dari istri pertama. Meskipun sudah sangat sepuh (wawancara tahun 2018-2021 menyebutkan mereka masih hidup dan menerima tamu), peran mereka sangat vital.
Apa yang dilakukan Annangguru bagi peziarah?
Mendoakan peziarah: Ketika peziarah datang ke Boyang Kayyang, Annangguru akan mendengarkan hajat mereka, lalu memanjatkan doa. Doa ini diyakini lebih mustajab karena Annangguru adalah orang yang dekat dengan Imam Lapeo dan memiliki hati yang bersih.
Menulis jimat: Dulu, Annangguru menulis jimat secara manual dengan tinta dan kertas khusus, sesuai nama dan kebutuhan pemohon. Sekarang, karena jumlah peziarah meningkat, jimat sudah dicetak dalam jumlah besar (fotokopi), namun tetap didoakan terlebih dahulu.
Memberi nasihat: Tidak sedikit peziarah yang datang bukan untuk meminta jimat, tetapi untuk konsultasi masalah hidup. Annangguru berfungsi seperti psikolog spiritual, mendengarkan keluhan, memberi solusi berdasarkan ajaran Islam, dan mengingatkan untuk bertawakal.
Mengelola nadzar: Jika peziarah bernazar menyembelih hewan, Annanggurulah yang mengatur pelaksanaannya dan membagikan daging kepada yang berhak.
Melestarikan tradisi: Dengan tetap tinggal di Boyang Kayyang dan membuka pintu bagi siapa saja, Annangguru memastikan bahwa mata air spiritual Imam Lapeo tidak pernah kering.
Mengapa Annangguru diperlukan, sementara peziarah bisa langsung berdoa di makam?
Menurut fenomenologi, kehadiran mediator yang hidup memberikan efek kehadiran (presence) yang tidak bisa digantikan oleh makam yang sunyi. Peziarah bisa bercerita secara langsung, bertatap muka, bersalaman, dan merasakan kehangatan manusiawi. Dalam budaya Mandar yang sangat menghormati kakek-nenek, Annangguru adalah figur "grandmother/grandfather" yang bijak. Tidak heran jika peziarah sering menangis ketika mengutarakan masalahnya di hadapan mereka.
Selain itu, Annangguru juga menjadi penjaga ortodoksi. Jika ada peziarah yang meminta jimat untuk tujuan jahat (misalnya menyakiti orang), Annangguru akan menolak. Mereka juga mengingatkan peziarah agar tidak terlalu bergantung pada jimat, tetapi tetap berusaha dan berdoa.
5.6. Fenomenologi: Memahami Makna dari Dalam
Apa yang dapat kita petik dari deskripsi di atas? Bahwa ziarah bukanlah fenomena hitam-putih yang bisa dengan mudah dikafirkan atau dibenarkan. Bagi para pelakunya, ziarah adalah pengalaman religius total: ia menyentuh aspek kognitif (keyakinan), afektif (emosi), dan konatif (tindakan).
Para peziarah tidak merasa syirik. Mereka bahkan rela berdebat: "Saya shalat lima waktu, saya puasa Ramadan, saya berzakat. Saya tidak menyembah Imam Lapeo. Saya hanya minta didoakan olehnya, sama seperti minta didoakan ustadz." Argumen ini, dalam logika mereka, konsisten.
Para fenomenolog seperti Alfred Schutz dan Peter Berger akan mengatakan bahwa realitas sosial ziarah adalah realitas yang dibangun secara intersubjektif. Masyarakat peziarah memiliki aturan main sendiri, bahasa sendiri, simbol-simbol sendiri. Untuk memahaminya, kita harus memasuki dunia mereka (verstehen), bukan menghakimi dari menara gading teologi normatif.
Tentu, ini tidak berarti bahwa semua praktik ziarah bebas dari kritik. Praktik meminta jimat untuk tujuan mistis, atau keyakinan bahwa tanah makam memiliki kekuatan magis, tentu perlu diluruskan dengan pendekatan yang bijak. Namun, pelurusan itu tidak akan efektif jika dilakukan dengan cara mencaci maki atau mengkafirkan. Imam Lapeo sendiri mengajarkan metode lembut—dialog, pembiasaan, dan keteladanan—bukan penghakiman.
5.7. Warisan Ziarah di Era Modern
Bagaimana masa depan tradisi passiara di tengah gempuran modernitas dan radikalisme agama? Di satu sisi, jumlah peziarah ke Lapeo terus meningkat dari tahun ke tahun (data Dinas Pariwisata Sulbar mencatat peningkatan signifikan). Ini menunjukkan bahwa kebutuhan spiritual masyarakat tidak pernah surut. Orang kota yang stres dengan pekerjaan, mahasiswa yang bingung dengan masa depan, ibu rumah tangga yang lelah dengan rutinitas, semua mencari sakralitas—dan Lapeo menyediakannya.
Di sisi lain, gerakan puritan yang melarang ziarah kubur semakin vokal, terutama di media sosial. Konflik antar kelompok ini berpotensi merusak harmoni. Namun, masyarakat Mandar yang religius sekaligus menghormati leluhur cenderung tidak terpengaruh. Mereka tetap berziarah, tetapi dengan pemahaman yang lebih baik—tidak lagi memohon langsung kepada wali, tetapi menjadikan wali sebagai pengingat untuk lebih dekat kepada Allah.
Penelitian oleh para akademisi (termasuk yang menjadi sumber buku ini) menunjukkan bahwa ziarah tidak menghilangkan shalat dan puasa peziarah. Justru sebaliknya, banyak yang menjadi lebih rajin beribadah setelah ziarah, karena tersentuh oleh atmosfer spiritual. Maka, boleh dikatakan bahwa passiara adalah gerbang menuju keberagamaan yang lebih dalam, bukan pintu menuju kemusyrikan.
5.8. Penutup Bab: Jejak yang Tak Putus
Sejak Imam Lapeo wafat pada 1952, lebih dari tujuh puluh tahun telah berlalu. Namun, makamnya tidak pernah sepi. Rumahnya terus terbuka. Masjidnya terus bergema dengan lantunan ayat suci. Para Annangguru, meski sudah renta, tetap setia menyambut tamu. Tradisi Sayyang Patuddu dan Massulakka masih hidup. Karamah-karamah diceritakan dari generasi ke generasi.
Apa rahasianya? Mungkin karena Imam Lapeo tidak hanya meninggalkan nama, tetapi keberkahan yang terus mengalir. Masyarakat Mandar dan sekitarnya merasakan manfaat nyata dari ziarah: ketenangan hati, solusi masalah, bahkan peningkatan ekonomi lewat wisata religi. Dalam bahasa Durkheim, Imam Lapeo telah menjadi totem yang mempersatukan komunitas moral.
Bab berikutnya akan mengupas mitos dan karamah yang menjadi fondasi kesakralan Imam Lapeo. Namun, sebelum itu, mari kita renungkan: ziarah bukanlah sekadar ritual usang; ia adalah pernyataan eksistensial bahwa manusia tidak hidup oleh logika semata, dan bahwa kematian tidak memutuskan hubungan cinta antara orang yang masih hidup dengan orang-orang saleh yang telah mendahului.
Catatan: Bab 5 telah menjawab semua poin: profil peziarah (berdasar 7 informan), tiga destinasi (Boyang Kayyang, Masigi Lapeo, Ko'bah), ritual (tawassul, nazar, barakah, jimat), dan peran Annangguru. Data diambil dari skripsi Nurul Shafira (2021), artikel Nirmawala dkk. (2021), serta observasi lapangan dari berbagai sumber. Bab ini siap dilanjutkan ke Bab 6 tentang Mitologi dan Karamah.

Komentar
Posting Komentar