Bab 6: Karamah dan Memori Kolektif – Mukjizat Imam Lapeo
6.1. Pendahuluan: Antara Mitos, Sejarah, dan Keyakinan
Apa bedanya antara mukjizat (yang diberikan kepada nabi) dan karamah (yang diberikan kepada wali)? Dalam teologi Islam, mukjizat adalah kejadian luar biasa yang menyertai seorang nabi untuk membuktikan kenabiannya, dan tidak bisa ditiru oleh siapa pun. Sementara karamah adalah kejadian luar biasa yang diberikan Allah kepada hamba-Nya yang saleh (waliyullah) sebagai bentuk kemuliaan (karamah secara bahasa berarti "kemuliaan"), tanpa mengklaim kenabian. Karamah tidak boleh diingkari, tetapi juga tidak boleh dijadikan tolok ukur utama kewalian; yang utama adalah ketaatan pada syariat.
Imam Lapeo, sebagai wali yang diyakini masyarakat Mandar, dikaruniai banyak karamah. Dalam literatur yang terkumpul—mulai dari buku Perjalanan Hidup K.H. Muhammad Thahir (Muhsin, 2010), Jejak Wali Nusantara (Zuhriah, 2013), hingga artikel-artikel ilmiah—disebutkan bahwa terdapat 74 karamah (atau lebih) yang terjadi semasa hidupnya dan bahkan setelah wafatnya. Angka 74 ini mungkin simbolis atau hasil penghimpunan dari berbagai cerita lisan. Namun, yang lebih penting daripada jumlah adalah fungsi sosial dan psikologis dari cerita-cerita tersebut.
Bab ini tidak akan berusaha membuktikan kebenaran empiris setiap karamah; itu adalah urusan ranah keyakinan personal. Sebaliknya, kita akan menggunakan pendekatan mitologi (dalam pengertian Roland Barthes atau Joseph Campbell) untuk memahami: Apa yang diceritakan oleh mitos-mitos ini tentang kegelisahan spiritual dan material masyarakat Mandar? Mengapa kisah-kisah tentang berjalan di atas air, kebal peluru, material bangunan gaib, dan mimpi-mimpi yang menuntun sangat hidup dalam ingatan kolektif hingga kini?
Karamah, dalam perspektif sosiologi pengetahuan, adalah bentuk memori kolektif yang terus dirawat dan diwariskan. Ia menjadi legitimasi bagi status kewalian Imam Lapeo, sekaligus sumber harapan bagi masyarakat yang menghadapi ketidakpastian. Mari kita telusuri dalam kategori-kategori berikut.
6.2. Kategori Karamah: Melampaui Batas-Batas Biasa
Berdasarkan berbagai sumber (Zuhriah, 2013; Muhsin, 2010; Nuhung, 2023; serta wawancara dalam skripsi Hasmirah dan Nurul Shafira), karamah Imam Lapeo dapat dikelompokkan ke dalam empat tema besar, sesuai dengan kebutuhan manusia yang paling mendasar: keselamatan dari alam, perlindungan dari kekerasan, kecukupan ekonomi, dan kepastian di tengah realitas yang tidak pasti.
6.2.1. Mengatasi Alam: Kuasa atas Laut, Tanah, dan Waktu
a. Berdiri di Atas Batu di Tengah Laut
Ini adalah karamah yang paling terkenal dan paling sering diceritakan. Suatu malam, ketika Imam Lapeo masih kecil atau remaja (versi cerita berbeda), ia ikut melaut bersama ayahnya, H. Muhammad, di perairan Teluk Mandar. Tiba-tiba, ia jatuh ke laut. Ayahnya panik, berteriak-teriak, tetapi tidak ada jawaban. Kapal sudah agak jauh karena ombak. Dengan hati sedih, ayahnya mengira putra satu-satunya tenggelam.
Setelah beberapa saat, kapal berbalik. Alangkah terkejutnya ayahnya ketika melihat Imam Lapeo berdiri tegap di tengah laut, tepat di atas sebuah batu besar yang tidak pernah ada sebelumnya. "Pua, dinidae" (Ayah, saya di sini), katanya tenang. Imam Lapeo kemudian ditarik naik ke kapal. Para nelayan yang menyaksikan bersumpah bahwa di lokasi itu, sedalam puluhan meter, tidak mungkin ada batu. Batu itu muncul secara gaib untuk menahan tubuh Imam Lapeo.
Makna simbolis: Laut dalam adalah simbol ketidaktahuan, bahaya, kematian. Dengan berdiri di atas batu, Imam Lapeo menunjukkan bahwa ia memiliki pijakan yang kokoh (ilmu, iman) di tengah samudra kehidupan yang mengancam. Batu yang tiba-tiba muncul melambangkan pertolongan Allah yang datang dari arah tidak terduga.
b. Shalat Jumat di Tiga Tempat Sekaligus
Suatu hari Jumat, tiga orang dari tiga desa yang berbeda—Tappalang, Bambang Loka, dan Mamuju—datang ke Lapeo. Mereka saling bercerita bahwa mereka melihat Imam Lapeo menjadi imam shalat Jumat di desa masing-masing. Padahal, ketiga desa itu terpisah puluhan kilometer, dan waktu shalat Jumat bersamaan. Mustahil bagi manusia biasa untuk berada di tiga tempat sekaligus.
Cerita ini mirip dengan karamah para wali lain di Nusantara (misalnya Sunan Kalijaga yang bisa hadir di banyak tempat). Dalam sufisme, ini disebut tayyi al-makan (melipat tempat), kemampuan yang diberikan Allah kepada wali-Nya. Bagi masyarakat, cerita ini menegaskan bahwa Imam Lapeo tidak terbatas oleh ruang dan waktu—ia adalah wali yang hadir di mana pun dibutuhkan.
c. Menangkap Ikan Tanpa Kail
Dalam sebuah perjalanan laut dari Lapeo ke Mamuju, perbekalan habis. Tidak ada alat pancing. Imam Lapeo lalu melepas tali tanpa kail ke laut, sambil membaca doa. Beberapa saat kemudian, ia menarik tali dan seekor ikan besar menempel di ujungnya. Ikan itu cukup untuk dimakan seluruh awak kapal hingga tiba di tujuan.
Makna simbolis: Karamah ini menunjukkan bahwa Allah memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka kepada kekasih-Nya. Ia juga menjadi pelajaran tentang tawakal: berusaha (melepas tali) sambil berserah diri kepada Tuhan.
6.2.2. Mengatasi Kekerasan: Peluru yang Tidak Melukai
a. Menghadapi Perampok di Jalan Menuju Makkah
Ketika Imam Lapeo pertama kali berangkat haji (sekitar 1886), rombongannya dihadang oleh sekelompok perampok bersenjata api di daerah perbatasan antara Arab dan Turki (atau di Padang? versi berbeda). Para perampok sudah membunuh beberapa pengawal. Imam Lapeo maju ke depan dengan hanya memegang tombak. Perampok itu menembaknya berkali-kali. Namun, peluru-peluru itu seolah-olah menembus bajunya tanpa melukai tubuhnya. Imam Lapeo tetap berdiri. Perampok itu ketakutan dan melarikan diri. Ada versi lain yang menyebutkan bahwa ia berhasil melumpuhkan mereka tanpa membunuh.
b. Menghadapi Tentara Jepang yang Melarang Lantera Masjid
Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), tentara Jepang melarang penduduk menyalakan lampu atau lantera di malam hari karena khawatir akan terlihat oleh pesawat Sekutu. Imam Lapeo menolak larangan itu untuk masjidnya. "Masjid adalah rumah Allah, harus tetap terang untuk shalat Isya dan mengaji," katanya.
Tentara Jepang datang dengan senjata untuk mengintimidasi. Imam Lapeo berdiri di depan pintu masjid, tidak bergeming. Konon, ia berbicara dalam bahasa Jepang yang membuat komandan Jepang terkesan. Yang lebih dahsyat: ada cerita bahwa beberapa tentara Jepang mencoba menodongkan bayonet, tetapi tiba-tiba tangan mereka gemetar dan tidak bisa bergerak. Mereka akhirnya memberi izin kepada Imam Lapeo untuk menyalakan lantera, bahkan membantu pembangunan menara masjid.
Makna simbolis: Karamah melawan kekerasan menunjukkan bahwa kebenaran tidak perlu takut pada kekuatan fisik. Perlawanan Imam Lapeo bersifat pasif-mistis, bukan frontal-berdarah. Ini mengajarkan bahwa dakwah bisa dilakukan juga dengan keteguhan spiritual, bukan dengan senjata. Bagi masyarakat Mandar yang mengalami penderitaan di masa penjajahan, kisah ini menjadi inspirasi bahwa seorang ulama bisa "mengalahkan" penjajah tanpa perang.
6.2.3. Mengatasi Ekonomi: Rezeki dari Arah Tak Terduga
a. Material Bangunan Masjid Muncul Secara Gaib
Masjid Nurut-Taubah yang kita lihat sekarang bukanlah bangunan pertama. Imam Lapeo beberapa kali memperluas dan memperbaiki masjid. Suatu ketika, ia kekurangan bahan material: semen, pasir, kayu. Tidak ada dana. Beliau berdoa. Beberapa hari kemudian, beberapa truk datang ke Lapeo membawa semen, pasir, dan besi. Sopir truk mengaku diupah oleh seorang kakek berjubah putih dan bersorban, yang tidak lain adalah Imam Lapeo sendiri — meskipun Imam Lapeo tidak pernah meninggalkan Lapeo pada waktu itu. Karamah membayangkan diri di tempat lain untuk memesan material.
b. Membayar Utang dengan Emas yang Tiba-Tiba Ada
Imam Lapeo sering berhutang untuk membeli beras bagi santri dan fakir miskin. Suatu hari, seorang kreditor dari Majene datang menagih. Imam Lapeo tidak punya uang. Ia lalu mengajak putranya, Muhsin Thahir, untuk berjalan kaki ke Majene. Di tengah jalan, mereka singgah di sebuah masjid. Ketika keluar, seorang lelaki asing menghampiri dan memberikan bungkusan. Di dalam bungkusan itu terdapat emas batangan. Cukup untuk melunasi semua utangnya.
Makna simbolis: Karamah ekonomi menunjukkan bahwa orang yang dermawan (seperti Imam Lapeo) tidak akan dibiarkan oleh Allah kelaparan. Rezeki datang dari "pintu yang tidak diduga". Ini menjadi penghiburan bagi masyarakat miskin atau yang terlilit utang—mereka terinspirasi untuk tetap dermawan meskipun serba kekurangan.
c. Karamah Kotak Amal (Massulakka) yang Tak Pernah Kosong
Meskipun bukan karamah ajaib dalam arti supranatural, namun para peziarah dan pengurus masjid bersaksi bahwa kotak amal di Masjid Nurut-Taubah selalu berisi, bahkan ketika sepi peziarah. Mereka meyakini bahwa Imam Lapeo, meskipun telah wafat, tetap "menjaga" sumber sedekah ini. Secara rasional, mungkin ada peziarah yang datang di luar jam ramai. Namun, keyakinan bahwa kotak amal "berkah" membuat orang lebih termotivasi untuk menyumbang—sebuah kepercayaan yang menggerakkan ekonomi sungguhan.
6.2.4. Mengatasi Realitas: Komunikasi dengan Dunia Gaib
a. Berbicara dengan Orang Mati
Seorang saksi bernama I Tani dari Paccini menceritakan bahwa ketika menemani Imam Lapeo berjalan melewati sebuah pemakaman, Imam Lapeo tiba-tiba berhenti dan berbicara dengan suara pelan menghadap ke arah kuburan. Setelah itu, ia menjelaskan bahwa ada tiga penghuni kubur yang ia tanyai keadaannya. Dua di antaranya dalam keadaan tersiksa dan meminta didoakan. Satu orang dalam keadaan tenang. Imam Lapeo kemudian berdoa untuk mereka.
Cerita ini menegaskan keyakinan bahwa alam barzakh (kubur) bukanlah tempat yang terputus dari dunia. Wali bisa berkomunikasi dengan mereka yang sudah mati karena izin Allah. Bagi masyarakat yang memiliki kerinduan pada keluarga yang telah meninggal, karamah ini memberikan harapan bahwa orang-orang tercinta tidak benar-benar hilang, dan doa dari orang saleh bisa meringankan siksa kubur.
b. Muncul dalam Mimpi Menuntun Peziarah
Ini adalah jenis karamah yang paling sering dialami oleh peziarah masa kini. Banyak orang yang mengaku bahwa mereka tidak pernah tahu tentang Imam Lapeo, lalu bermimpi didatangi seorang kakek berjubah putih yang menyuruh mereka pergi ke Lapeo. Setelah mereka datang ke makam atau masjid, mereka melihat foto Imam Lapeo dan terkejut: "Oh, inilah orang yang datang dalam mimpiku!"
Dalam penelitian Nurul Shafira, dua dari tujuh informan mengaku mengalami mimpi seperti ini sebelum pertama kali berziarah. Mereka yang tadinya ragu atau tidak tahu, setelah bermimpi menjadi yakin. Mimpi seperti ini memiliki fungsi evokatif: membangkitkan kesadaran religius dan mendorong tindakan ziarah. Dalam Islam, mimpi yang baik diyakini sebagai bagian dari kenabian yang masih tersisa.
6.3. Analisis: Karamah sebagai Jawaban atas Kegelisahan Kolektif
Setelah memaparkan katalog karamah—tentu tidak semuanya, tetapi yang paling representatif—kita kini bertanya: mengapa masyarakat Mandar (dan Sulawesi pada umumnya) begitu haus akan cerita-cerita seperti ini? Mengapa karamah-karamah tersebut tidak pernah usang, bahkan terus berkembang dengan versi baru?
Para sosiolog agama seperti Emile Durkheim, Mircea Eliade, dan Clifford Geertz telah lama menjelaskan bahwa mitos bukanlah kebohongan, melainkan narasi sakral yang memberikan makna pada pengalaman manusia. Mitos menjawab pertanyaan-pertanyaan eksistensial yang tidak bisa dijawab oleh sains: mengapa ada penderitaan? mengapa doa kadang tidak terkabul? apa yang terjadi setelah mati? Di mana letak keadilan Tuhan?
Dalam konteks masyarakat Mandar abad ke-19 hingga pertengahan ke-20, kehidupan penuh dengan ketidakpastian: bencana alam, gagal panen, wabah penyakit, tekanan penjajahan, dan konflik antarkerajaan. Karamah Imam Lapeo datang sebagai terang dalam kegelapan:
| Kegelisahan | Karamah yang Menjawab | Pesan |
|---|---|---|
| Takut tenggelam, gagal panen, musibah alam | Berdiri di atas batu di laut; menangkap ikan tanpa kail | Alam tidak buta; ada kekuatan yang melindungi orang saleh |
| Takut kekerasan penjajah, preman, perampok | Peluru tidak melukai; tentara Jepang gemetar | Kebenaran lebih kuat dari senjata; ulama bisa menjadi benteng |
| Miskin, terlilit utang, tidak bisa membangun masjid | Material muncul gaib; emas tiba-tiba ada | Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya yang dermawan kelaparan |
| Kehilangan orang tua, tidak tahu nasib mereka di alam kubur | Berbicara dengan mayit; tahu kondisi mereka | Kematian bukan akhir; doa kita berguna bagi yang telah tiada |
| Bingung mencari petunjuk hidup, ragu-ragu | Muncul dalam mimpi; menuntun ke Lapeo | Wali tetap peduli pada umatnya, bahkan setelah wafat |
Dengan kata lain, karamah adalah "terapi spiritual" yang meredakan kecemasan kolektif. Ketika seseorang mendengar cerita bahwa Imam Lapeo selamat dari tenggelam, ia menjadi lebih tenang saat melaut—meskipun secara rasional tetap ada risiko. Ketika seorang peziarah yang sakit mendengar bahwa ada orang yang sembuh setelah berdoa di makam, ia memperoleh harapan (dan harapan itu sendiri memiliki kekuatan penyembuhan psikosomatis).
6.4. Dari Mitos ke Etos: Karamah sebagai Dorongan Moral
Karamah bukan sekadar tontonan ajaib. Dalam masyarakat Mandar yang religius, karamah memiliki fungsi edukatif dan motivatif. Setiap cerita karamah menyelipkan pesan moral yang ingin ditanamkan Imam Lapeo. Mari kita bedah:
Karamah di laut → Pesan: Jangan takut menghadapi bahaya selama kita bersama Allah.
Karamah kebal peluru → Pesan: Keteguhan iman lebih kuat dari kekerasan fisik. Jangan tunduk pada penjajah.
Karamah material bangunan → Pesan: Bangunlah rumah Allah, niscaya Allah akan memudahkan jalannya. Jangan pelit untuk agama.
Karamah emas untuk bayar utang → Pesan: Hutang harus dibayar. Jangan lari dari kewajiban. Allah akan menolong orang yang jujur.
Karamah berbicara dengan mayit → Pesan: Jangan lupa mendoakan orang tua dan leluhur. Ada kehidupan setelah kematian.
Karamah mimpi menuntun → Pesan: Allah tidak pernah membiarkan hamba-Nyang sesat. Akan selalu ada petunjuk.
Dengan demikian, karamah tidak membuat masyarakat malas berusaha dan hanya bergantung pada "kekuatan gaib". Sebaliknya, karamah memperkuat etos kerja, kejujuran, ketekunan beribadah, dan solidaritas sosial. Masyarakat terinspirasi untuk meneladani Imam Lapeo: rajin menuntut ilmu, dermawan, sabar, dan berani membela kebenaran.
6.5. Tantangan Rasionalisasi dan Masa Depan Karamah
Di era modern yang semakin rasional dan ilmiah, cerita-cerita karamah menghadapi tantangan serius. Generasi milenial yang terpapar pendidikan sains cenderung skeptis terhadap hal-hal supranatural. Bagi mereka, "berdiri di atas batu di laut" mungkin hanya legenda yang dibesar-besarkan, atau bisa dijelaskan secara geologis (misalnya batu karang yang tidak terlihat saat air pasang).
Namun, penelitian menunjukkan bahwa skeptisisme tidak serta-merta menghilangkan daya tarik karamah. Banyak anak muda yang tetap berziarah, meskipun dengan sikap yang lebih kritis. Mereka mungkin tidak percaya bahwa Imam Lapeo bisa terbang atau menghilang, tetapi mereka tetap menghormatinya sebagai tokoh sejarah yang berjasa. Bagi mereka, karamah adalah alegori—cerita simbolis yang mengandung nilai moral, bukan fakta harfiah.
Generasi keturunan Imam Lapeo dan pengurus masjid juga mulai menyesuaikan narasi. Mereka lebih menekankan aspek keteladanan (kedermawanan, kesederhanaan, kecerdasan) daripada aspek mukjizat. Mereka tidak mengingkari karamah, tetapi juga tidak menjadikannya komoditas utama. Dengan cara ini, warisan Imam Lapeo tetap relevan tanpa harus bertentangan dengan akal sehat.
6.6. Penutup Bab: Karamah sebagai Cermin Jiwa Kolektif
Karamah Imam Lapeo—baik yang 74 maupun yang lebih—sejatinya adalah cermin dari kebutuhan dan kegelisahan masyarakat Mandar pada zamannya. Nelayan yang takut tenggelam, petani yang takut gagal panen, saudagar yang takut bangkrut, rakyat yang takut penjajah, semua menemukan figur harapan dalam diri Imam Lapeo. Ia bukan sekadar ulama; ia adalah mitos hidup yang memberi keberanian untuk terus melangkah.
Dalam perspektif psikologi Carl Jung, karamah adalah arketipe (pola dasar) "orang bijak yang memiliki kekuatan supranatural"—sosok yang hadir dalam hampir semua budaya: pada masyarakat Jawa ada Wali Songo, pada masyarakat Eropa ada para santo, pada masyarakat Timur Tengah ada para auliya. Kehadiran figur ini menjawab kebutuhan primordial manusia akan transendensi: bahwa ada realitas di balik realitas, bahwa yang kasat mata bukanlah yang terakhir, dan bahwa kebaikan pada akhirnya akan menang.
Kita mungkin tidak perlu mempercayai setiap detail karamah secara literal. Tetapi kita bisa memahami dan menghargai bahwa bagi masyarakat yang meyakininya, karamah adalah sumber penghiburan, inspirasi, dan kohesi sosial. Dan di situlah letak kekuatan abadi Imam Lapeo: ia tetap "hidup" dalam cerita, dan cerita-cerita itu terus membentuk karakter serta spiritualitas masyarakat Mandar hingga kini.
Pada bab selanjutnya (Bagian IV), kita akan melihat bagaimana nilai-nilai tasawuf Imam Lapeo—yang seringkali terlupakan di balik gemerlap karamah—justru menjadi warisan paling penting bagi generasi milenial. Karena pada akhirnya, mukjizat yang paling besar adalah akhlak mulia dan keteguhan di jalan Allah—bukan berjalan di atas air.
Catatan: Bab 6 ini telah menyajikan katalog karamah dalam empat kategori, dilengkapi analisis sosiologis dan psikologis tentang fungsi mitos dalam masyarakat. Data merujuk pada kumpulan cerita dari Zuhriah (2013), Muhsin (2010), Nuhung (2023), serta wawancara-wawancara dalam skripsi Hasmirah (2019) dan Nurul Shafira (2021). Jumlah 74+ karamah tidak semuanya dicantumkan karena keterbatasan ruang, namun contoh-contoh yang dipilih paling representatif. Bab ini siap dilanjutkan ke Bab 7 tentang nilai-nilai tasawuf untuk generasi milenial.

Komentar
Posting Komentar