Bab 4: Operasi-Operasi Rahasia - Studi Kasus

 



Setelah puluhan tahun menyimpan rahasia, beberapa operasi intelijen paling spektakuler dalam sejarah Indonesia akhirnya tersingkap. Bukan karena kelalaian, bukan karena pengkhianatan, tetapi karena waktu—dan karena para pelakunya sendiri akhirnya memilih untuk berbicara. Bab ini akan mengupas tiga operasi besar yang melibatkan hubungan siluman Indonesia dengan Israel: pembelian pesawat tempur Skyhawk, pembajakan pesawat Garuda 206, dan kunjungan rahasia Perdana Menteri Israel ke rumah Presiden Soeharto.

4.1 Operasi Alfa (1979) - Pembelian Pesawat Skyhawk dari Israel

Latar Belakang Kebutuhan Pesawat Tempur

Tahun 1979. Perang Dingin mencapai puncaknya. Di Asia Tenggara, Vietnam yang komunis telah menginvasi Kamboja dan menggulingkan rezim Khmer Merah. Kekhawatiran akan efek domino—seperti yang terjadi di Indochina—mulai menghantui para pemimpin ASEAN, termasuk Soeharto.

Indonesia saat itu membutuhkan pesawat tempur modern. Armada utama TNI AU masih didominasi oleh pesawat-pesawat tua peninggalan era Soekarno: MiG-17, MiG-19, MiG-21 buatan Uni Soviet yang semakin sulit suku cadangnya karena hubungan dingin dengan Blok Timur. Pesawat-pesawat buatan Barat seperti F-5E Tiger II memang sudah mulai didatangkan, namun jumlahnya terbatas dan tidak cukup untuk memodernisasi skuadron secara signifikan.

Soeharto menginginkan pesawat pengebom ringan yang mampu melakukan serangan darat dengan presisi tinggi. Pilihan idealnya adalah A-4 Skyhawk—pesawat buatan Douglas Aircraft Company (Amerika Serikat) yang terkenal tangguh, lincah, dan telah digunakan oleh puluhan angkatan udara di dunia. Namun ada masalah besar: pada masa itu, pemerintahan Presiden Jimmy Carter sedang getol menerapkan kebijakan hak asasi manusia dalam hubungan luar negeri. Indonesia, yang saat itu dikecam dunia internasional karena invasi ke Timor Timur, tidak masuk dalam daftar prioritas penerima bantuan militer AS. Carter enggan menjual Skyhawk ke Indonesia, atau setidaknya tidak dalam jumlah yang diinginkan Soeharto.

Sementara itu, di belahan dunia lain, Israel sedang mengalami masalah sebaliknya. Setelah Perang Yom Kippur 1973 dan perjanjian damai dengan Mesir yang mulai dirintis (Camp David 1978), Israel mulai mengurangi kekuatan militernya di beberapa sektor. Mereka memiliki 32 unit Skyhawk bekas yang ingin segera dijual untuk membiayai pengadaan pesawat generasi baru seperti F-15 dan F-16. Namun pasar senjata internasional terbatas. Negara-negara Arab tidak akan pernah membeli dari Israel. Negara-negara Eropa kebanyakan sudah memiliki pesawat sendiri. Dan AS—walau bersahabat—tidak selalu bisa menjadi pembeli karena alasan anggaran.

Maka terjadilah perfect match antara kebutuhan Indonesia dan kelebihan persediaan Israel. Hanya satu masalah: hubungan diplomatik Indonesia-Israel tidak ada. Secara resmi, Indonesia adalah negara pro-Palestina yang paling vokal di Asia Tenggara. Untuk membeli pesawat dari Israel secara terbuka sama dengan bunuh diri politik.

Solusinya? Operasi intelijen paling rumit yang pernah dilakukan Indonesia pada abad ke-20. Nama sandinya: Operasi Alfa (walaupun ada sumber yang menyebut nama lain, namun berbagai literatur sepakat menggunakan istilah ini).

Modus Operasi: Pura-pura Beli dari AS, Latih Pilot ke AS, Lalu Dialihkan ke Israel

Berikut adalah bagaimana Operasi Alfa dijalankan—sebuah skenario yang jika dibuat film, akan terasa terlalu rumit untuk dipercaya.

Tahap 1 - Pengumuman Palsu. Pemerintah Indonesia menggelar konferensi pers besar-besaran. Dengan percaya diri, Menteri Pertahanan dan Panglima ABRI mengumumkan bahwa Indonesia akan membeli 32 unit pesawat A-4 Skyhawk dari Amerika Serikat. Semua media memberitakannya. Tidak ada yang curiga. Kenapa harus curiga? Bukankah Indonesia dan AS bersahabat? Bukankah Skyhawk memang buatan AS?

Tahap 2 - Persiapan Pilots. TNI AU mulai menyeleksi 10 pilot terbaiknya. Mereka diberitahu bahwa akan dikirim ke Amerika Serikat untuk menjalani pelatihan konversi (transition training) dari pesawat yang selama ini mereka terbangkan ke Skyhawk. Mereka dipersiapkan secara mental, diberi paspor resmi, dan tiket pesawat ke AS.

Tahap 3 - Keberangkatan. Para pilot dan sejumlah perwira TNI—total sekitar 27 perwira dan 90 prajurit menurut beberapa sumber—berangkat dari Jakarta menuju San Diego, California, tempat markas besar Douglas Aircraft. Mereka disambut oleh perwira angkatan laut AS yang bertugas sebagai penghubung. Semua berjalan sesuai rencana. Atau begitulah yang mereka pikir.

Tahap 4 - Belokan Tak Terduga. Setelah beberapa hari di AS, para pilot dibilangi bahwa jadwal pelatihan berubah. Mereka akan dipindahkan ke pangkalan udara lain. Dipindahkan lagi. Bolak-balik. Mereka dibawa ke satu negara, lalu ke negara lain. Rute perjalanan sengaja dibuat berbelit-belit untuk mengelabui—bukan hanya publik Indonesia, tetapi juga pilotnya sendiri. Mereka tidak tahu kemana tujuan akhirnya.

Tahap 5 - Penyergapan Palsu. Di suatu titik persinggahan di Timur Tengah—ada yang menyebut di suatu negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel—para pilot dan perwira TNI itu "ditangkap" secara pura-pura oleh orang-orang berseragam yang tidak mereka kenal. Mereka dipisahkan, diinterogasi dengan keras, dan dibawa ke dalam ruangan tanpa jendela. Suasana tegang. Beberapa di antaranya panik. Mereka benar-benar mengira telah jatuh ke tangan musuh atau sedang menjadi korban operasi sandera.

Tahap 6 - Pengakuan. Pintu ruangan terbuka. Masuk seorang pria dengan wajah tenang namun berwibawa. Letnan Jenderal LB Murdani—Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) ABRI pada masa itu, salah satu tokoh paling ditakuti di kalangan intelijen Asia Tenggara. Murdani tersenyum tipis dan berkata, "Selamat datang di operasi rahasia. Kalian tidak ada di Amerika Serikat. Kalian ada di Israel. Mulai hari ini, kalian akan belajar selama beberapa bulan di sini untuk menerbangkan pesawat-pesawat ini. Setelah selesai, kalian akan kembali ke AS untuk pemanis. Ini rahasia negara. Jangan ada yang bocor."

Para pilot itu tertegun. Mereka baru sadar: seluruh perjalanan berliku dari AS ke Timur Tengah, "penangkapan" dan interogasi, semuanya adalah sandiwara yang dirancang untuk menjaga kerahasiaan. Bahkan paspor mereka, yang tadinya dianggap resmi, ternyata adalah paspor palsu—atau setidaknya telah dimanipulasi sedemikian rupa sehingga tidak meninggalkan jejak perjalanan ke Israel.

Keterlibatan LB Murdani

Tidak ada tokoh intelijen Indonesia yang lebih kontroversial sekaligus lebih dihormati selain Letnan Jenderal (Purn.) LB Murdani (1932-2004). Ia adalah Kepala BAIS (Badan Intelijen Strategis) dari tahun 1974 hingga 1983, kemudian menjadi Panglima ABRI (1983-1988) dan Menteri Pertahanan (1988-1993). Namun kekuatan sejatinya bukan pada jabatan, melainkan pada jaringan yang ia bangun di seluruh dunia.

Murdani dikenal sebagai "penguasa bayangan" di belakang Soeharto. Ia memiliki kontak langsung dengan Mossad, CIA, MI6, bahkan dengan intel-intel dari negara-negara yang tidak punya hubungan diplomatik dengan Indonesia. Beberapa sumber menyebut bahwa Murdani melakukan perjalanan rahasia ke Israel pada tahun 1978—setahun sebelum Operasi Alfa—untuk merundingkan detail pembelian pesawat.

Apa hubungan Murdani dengan Israel? Tidak ada yang tahu pasti. Namun yang jelas, ia adalah seorang pragmatis sejati. Baginya, ideologi tidak penting. Yang penting adalah apa yang menguntungkan Indonesia—dan jika Israel bersedia membantu, mengapa tidak? Sikap itulah yang membuatnya bersedia menjadi "dalang" di balik layar Operasi Alfa, mengatur gerakan pasukan, pilot, pesawat, dan diplomasi siluman yang melibatkan setidaknya lima negara: Indonesia, Israel, Amerika Serikat, Singapura, dan Jerman Barat.

Murdani juga yang memerintahkan pembuatan bukti-bukti foto palsu di AS. Seperti akan kita bahas nanti, setiap pilot yang selesai latihan di Israel akan dikirim kembali ke San Diego untuk berfoto dengan latar belakang ikon-ikon Amerika: Patung Liberty, Disneyland, pantai California, atau sekadar selfie di dalam pesawat dengan seragam TNI AU. Foto-foto itu kemudian dipajang di rumah masing-masing pilot dan ditunjukkan kepada atasan mereka sebagai bukti bahwa mereka benar-benar berlatih di AS. Bahkan keluarga mereka tidak tahu yang sebenarnya.

Pengakuan Marsekal Muda Joko Purwoko dalam Buku "Menari di Angkasa"

Selama puluhan tahun, Operasi Alfa hanya menjadi legenda urban di kalangan pilot TNI AU. Sebuah cerita yang terlalu liar untuk diyakini, namun terlalu detail untuk diabaikan. Baru pada tahun 2008, Majalah Tempo menerbitkan sebuah laporan investigasi berjudul "Misi Rahasia ke Negeri Yahudi" yang mengungkap pembelian Skyhawk dari Israel. Laporan itu didasarkan pada wawancara dengan sejumlah sumber, termasuk mantan Menteri Koordinator Politik dan Keamanan, Laksamana (Purn.) Soedomo, yang mengakui bahwa Indonesia pernah "menitipkan pilot untuk berlatih di Israel".

Namun konfirmasi paling gamblang datang dari Marsekal Muda TNI (Purn.) Joko Purwoko, salah satu dari 10 pilot yang ikut dalam Operasi Alfa. Dalam bukunya yang berjudul "Menari di Angkasa", Joko Purwoko dengan jujur menuliskan pengalamannya: mulai dari keberangkatan ke AS dengan paspor biasa, dibawa berkeliling Eropa dan Timur Tengah, ditangkap pura-pura, hingga akhirnya dipertemukan dengan LB Murdani yang membuka rahasia.

Joko Purwoko menulis bahwa di Israel, mereka dilatih oleh instruktur-instruktur terbaik Angkatan Udara Israel (IAF). Pelatihannya ekstrem: menerbangkan pesawat di malam gelap tanpa lampu landasan, manuver gravitasi tinggi yang membuat beberapa pilot muntah, taktik serangan darat dengan akurasi tingkat tinggi, dan—yang paling berkesan—bagaimana cara "menghilang" dari radar musuh. Semua itu diajarkan dengan disiplin besi khas Israel.

Setelah beberapa bulan di Israel, mereka memang dikirim kembali ke AS. Di sanalah mereka menghabiskan waktu untuk selfie dan membeli oleh-oleh, sebelum akhirnya pulang ke Indonesia dengan segudang cerita palsu yang harus mereka pertahankan seumur hidup. Bahkan ketika ditanya oleh komandan mereka sendiri, "Kamu dari mana, Purwoko?" Maka jawabannya dengan mantap, "Dari Amerika Serikat, Pak." Sambil menunjukkan foto-foto bukti.

Satu hal yang menarik: Joko Purwoko menulis buku itu bukan untuk sensasi, tetapi karena ia merasa generasi muda pilot TNI AU perlu tahu bahwa profesionalisme mereka saat ini dibangun di atas fondasi yang—secara politis—sangat tabu. Ia juga ingin mengakui utang budi kepada instruktur Israel yang mengajarinya ilmu yang menyelamatkan nyawanya berkali-kali dalam tugas. Namun ia juga sadar, pengakuan itu bisa membuatnya dituduh sebagai "pengkhianat pro-Israel". Maka tidak mengherankan jika buku "Menari di Angkasa" tidak laku keras di toko buku, dan sebagian besar perpustakaan militer menyimpannya di rak paling belakang.

Pembuatan Bukti Foto di AS untuk Menutupi Fakta

Salah satu sisi paling jenaka—sekaligus paling menyedihkan—dari Operasi Alfa adalah upaya luar biasa yang dilakukan untuk membuat rekayasa bukti.

Setelah selesai training di Israel, para pilot diterbangkan kembali ke Amerika Serikat. Mereka diberi amplop tebal berisi uang saku yang sangat besar (untuk standar tahun 1979), disediakan kamera film (belum ada digital), dan diberi kebebasan untuk berkeliling selama beberapa minggu. Tugas mereka sederhana: foto-foto sebanyak mungkin di tempat-tempat ikonik Amerika. Jangan sampai ada satu foto pun yang menunjukkan bahwa mereka pernah berada di Timur Tengah.

Maka jadilah para pilot TNI AU itu berpose di depan Gedung Putih, di samping tulisan Hollywood, di tepian Pantai Santa Monica, di dalam pesawat Skyhawk yang—ironisnya—masih berlogo Angkatan Udara AS (bukan Israel). Ada yang selfie dengan polisi AS, ada yang foto sambil makan hamburger besar. Semua tampak sangat American. Tidak ada yang aneh.

Ketika mereka pulang ke Indonesia, para komandan skuadron—yang mungkin sudah tahu rahasianya tetapi pura-pura tidak tahu—bertanya, "Kamu dari mana?" "Amerika, Pak." "Bukti?" Mereka menumpuk foto-foto itu di meja. Sang komandan mengamati satu per satu, lalu mengangguk puas. "Oh, jadi kamu memang di Amerika. Aku dengar ada isu kamu dikirim ke Israel. Ternyata cuma gosip." Para pilot itu hanya tersenyum canggung.

Lucunya, seluruh akting ini sebenarnya tidak terlalu diperlukan. Karena pada saat itu, militer Indonesia adalah organisasi yang sangat tertutup. Jika atasan langsung para pilot itu diperintahkan untuk diam, mereka pasti diam. Namun LB Murdani dan Soeharto ingin lapisan keamanan ekstra. Jika suatu hari ada jurnalis atau intel asing yang berhasil menginterogasi pilot, mereka akan menunjuk foto-foto di AS. Dan jika intel itu semakin mendesak, mereka bisa berkata, "Lihat, foto ini bukti saya di AS. Mana bukti saya di Israel?" Sebuah trik psikologis klasik: bebankan pembuktian pada penuduh.

Hingga hari ini, belum ada satu pun pilot peserta Operasi Alfa yang secara resmi dihukum atau diinterogasi oleh negaranya sendiri. Karena memang, mereka hanya menjalankan perintah. Dan perintah itu berasal dari puncak tertinggi kekuasaan.

4.2 Operasi Pembebasan Sandera Garuda 206 (1981)

Sejarah intelijen Indonesia tidak hanya berisi cerita keberhasilan siluman. Ada juga kegagalan yang tragis—dan dari kegagalan itulah kita belajar paling banyak. Salah satu episode paling kelam dalam dunia anti-teror Indonesia adalah pembajakan pesawat Garuda Indonesia Penerbangan GA-206 pada 28 Maret 1981.

Kronologi Pembajakan di Bandung (Cicendo)

Sebelum pesawat dibajak, ada rangkaian peristiwa yang jarang diketahui publik. Pada 11 Maret 1981, sekelompok pria bersenjata menyerang markas polisi di Cicendo, Bandung—tidak jauh dari rumah saya, sebagaimana penulis buku ini ingat dari cerita tetangga. Mereka merampas sejumlah senjata api, amunisi, dan kemudian melarikan diri ke tempat persembunyian. Tidak ada korban jiwa dalam serangan itu, tetapi polisi dibuat kelabakan. Siapa pelakunya? Polisi awalnya menduga preman biasa, namun akhirnya terungkap bahwa mereka adalah anggota kelompok Darul Imron—sebuah sel teroris yang mengatasnamakan agama Islam, salah satu yang pertama di Indonesia.

Kelompok Darul Imron tidak berhenti di situ. Senjata rampasan dari Cicendo akan mereka gunakan untuk aksi yang jauh lebih spektakuler.

Pada pagi hari 28 Maret 1981, pesawat Garuda DC-9 dengan nomor penerbangan GA-206 lepas landas dari Bandara Polonia, Medan, menuju Bandara Kemayoran, Jakarta. Di dalam pesawat terdapat sekitar 50 penumpang dan awak. Tidak ada yang mencurigai lima penumpang laki-laki yang duduk di kursi ekonomi—hingga pesawat berada di ketinggian jelajah.

Kelima orang itu kemudian berdiri, mengeluarkan senjata api dan pisau yang berhasil mereka selundupkan (keamanan bandara saat itu masih sangat longgar). Berteriak "Allahu Akbar!", mereka mengambil alih kokpit, memaksa pilot mengubah haluan. Tujuan awal mereka adalah Sri Lanka, namun bahan bakar pesawat tidak cukup. Maka pesawat dialihkan ke Bandara Don Mueang, Bangkok, Thailand, tempat pesawat mendarat sekitar pukul 14.00 waktu setempat.

Para Pembajak dari Darul Imron

Kelompok Darul Imron bukanlah organisasi besar seperti Jemaah Islamiyah atau ISIS yang kita kenal sekarang. Mereka adalah sel kecil yang terinspirasi oleh revolusi Iran (1979) dan gerakan-gerakan ekstremis global saat itu. Pemimpinnya adalah Imron (nama samaran) bersama dengan empat rekannya: antara lain Abdul Gani, Syarifudin, Rasyid, dan satu orang lagi yang namanya tidak pernah terungkap secara utuh. Mereka semua masih berusia muda, sekitar 20-30 tahun, kebanyakan lulusan pesantren di Jawa Barat yang kemudian terpapar ideologi radikal.

Tuntutan mereka tergolong ambisius:

  1. Membebaskan 80 orang tahanan yang mereka klaim sebagai "saudara seperjuangan" dari penjara di Indonesia.

  2. Memberikan uang tebusan sebesar 1,5 juta dolar AS.

  3. Menyediakan pesawat lain untuk membawa mereka ke negara yang tidak disebutkan.

  4. Menerbitkan pernyataan resmi tentang perjuangan mereka di media internasional.

Jika tuntutan tidak dipenuhi, mereka akan mulai mengeksekusi sandera satu per setengah jam.

Pemerintah Indonesia di bawah Presiden Soeharto, dengan Menteri Koordinator Keamanan dan Pertahanan saat itu Jenderal M. Jusuf, langsung membentuk tim krisis. Namun ada masalah besar: para pembajak tidak bersedia bernegosiasi dengan perwakilan Indonesia di Bangkok. Mereka hanya mau bernegosiasi dengan duta besar Amerika Serikat (yang tidak masuk akal) atau perwakilan PBB. Ini menunjukkan bahwa mereka mungkin memiliki simpati atau koneksi dengan jaringan internasional, meskipun tidak begitu jelas.

Operasi Penyergapan di Thailand

Thailand, sebagai negara tuan rumah, bersikap kooperatif. Perdana Menteri Thailand saat itu, Prem Tinsulanonda, mengizinkan pasukan khusus Indonesia—Kopassandha (cikal bakal Kopassus)—untuk masuk ke negaranya dan memimpin operasi pembebasan. Thailand bahkan menyediakan pasukan komando sendiri dan peralatan taktis.

Operasi diberi nama sandi Operasi Seroja (meski ada sumber yang menyebut nama lain). Rencananya sederhana: lakukan serangan mendadak ke pesawat yang terkepung di landasan Don Mueang. Namun pesawat DC-9 memiliki pintu yang sempit, dan jendela-jendela yang terlalu kecil untuk dimasuki dari luar. Sementara itu, para pembajak selalu berjaga di setiap pintu, membuat gerakan membuka pintu dari luar pasti akan ketahuan.

Setelah beberapa hari negosiasi yang alot, pada 31 Maret 1981 sekitar pukul 03.00 dini hari waktu Bangkok, komandan lapangan mengambil keputusan: serbu.

Pesawat berada dalam kegelapan. Beberapa sandera telah dilepaskan sebelumnya atas alasan kesehatan, namun masih ada puluhan orang di dalam. Pasukan komando Indonesia dan Thailand bergerak dalam diam. Sebuah pintu darurat di bagian belakang pesawat berhasil dibuka secara perlahan, tanpa suara. Tiga komando pertama masuk. Mereka membidik para pembajak yang sebagian tertidur, sebagian lagi berjaga dengan mata mengantuk.

Tembakan pertama meletus sekitar pukul 03.15. Para pembajak yang masih hidup segera membalas. Pertempuran jarak dekat terjadi di dalam lorong pesawat yang sempit. Para sandera panik, berteriak, merunduk di bawah kursi. Pilot pesawat, Kapten Herman Rante, terkena tembakan di bagian dada saat berusaha melindungi kopilot. Ia tewas di tempat—satu-satunya awak pesawat yang menjadi korban jiwa dalam baku tembak.

Korban: Pilot dan Tentara Ahmad

Selain Kapten Herman Rante, ada satu korban lain dari pihak Indonesia: Prajurit Ahmad (nama lengkap tidak disebut dalam sumber terbuka). Ahmad adalah anggota tim Kopassandha yang bertugas masuk melalui pintu belakang. Namun pintu darurat pesawat DC-9 tidak terbuka dengan cepat—mekanismenya sedikit berkarat atau membutuhkan waktu yang tidak dimiliki dalam situasi genting. Sementara Ahmad berusaha membuka pintu sambil membawa senjata, seorang pembajak yang masih hidup sempat melepaskan tembakan ke arahnya. Ahmad terkena di bagian perut.

Tim medis langsung mengevakuasi Ahmad ke rumah sakit militer Bangkok, namun lukanya parah. Setelah operasi darurat, ia menghembuskan napas terakhir pada 1 April 1981. Ia dianugerahi Bintang Sakti dan kenaikan pangkat anumerta.

Di pihak pembajak, kelimanya tewas semua. Ada yang tewas di tempat, ada yang kemudian meninggal karena luka-luka. Tidak ada satu pun pembajak yang ditangkap hidup-hidup, meskipun secara teknis mungkin saja. Namun dalam operasi semacam itu, prioritas utama adalah keselamatan sandera—dan alhamdulillah, semua sandera yang masih hidup (sekitar 40-an orang) berhasil selamat.

Pelajaran: Kegagalan Koordinasi Intelijen (Bakin vs Bais)

Setelah operasi selesai dan tim membawa pulang jenazah kedua pahlawan, pemerintah pusat memerintahkan evaluasi menyeluruh. Pertanyaannya sederhana: Mengapa kelompok teroris sekecil ini bisa bergerak bebas, menyerang markas polisi, merampas senjata, lalu membajak pesawat, tanpa terdeteksi sama sekali oleh intelijen?

Jawabannya mencekik: Kegagalan koordinasi antara Bakin (Badan Koordinasi Intelijen Negara) dan Bais (Badan Intelijen Strategis TNI).

Pada masa itu, Bakin dan Bais hidup dalam rivalitas abadi. Bakin, di bawah kendali presiden, merasa memiliki mandat untuk semua urusan intelijen di dalam negeri. Bais, di bawah panglima TNI, merasa memiliki mandat untuk intelijen militer serta keamanan instalasi strategis, termasuk bandara-bandara. Keduanya tidak saling percaya. Mereka saling curiga bahwa satu sama lain telah disusupi oleh ideologi lawan—atau lebih parah, oleh agen asing.

Akibatnya, tidak ada sharing intelligence yang efektif. Bakin mungkin memiliki informasi bahwa ada sel-sel radikal di Bandung, tetapi mereka tidak memberitahu Bais. Bais mungkin memiliki informasi tentang perampokan senjata dari markas polisi, tetapi tidak segera di-cross-check dengan data Bakin. Setiap lembaga menyimpan informasinya sendiri, seolah-olah itu adalah harta karun yang tidak boleh dibagi.

Ketika pesawat GA-206 terbang dari Medan, seharusnya ada sistem profiling penumpang. Namun prosedur itu nyaris tidak ada. Jika pun ada, setengah hati. Para teroris bisa naik dengan mudah karena nama mereka tidak masuk dalam daftar "pantauan" yang terintegrasi. Bakin punya daftar sendiri. Bais punya daftar sendiri. Polisi punya daftar sendiri. Daftar-daftar itu tidak pernah digabung.

Setelah tragedi Garuda 206, barulah muncul kesadaran bahwa inflasi intel tidak hanya merugikan dari sisi pemborosan anggaran, tetapi juga merusak efektivitas. Terlalu banyak mata-mata dengan ego masing-masing, terlalu sedikit fokus pada ancaman nyata. Soeharto akhirnya mengeluarkan instruksi untuk memperkuat koordinasi lintas lembaga. Namun rivalitas kultural antara BIN dan intelijen TNI tidak pernah benar-benar hilang—dan hingga hari ini, masih menjadi masalah kronis dalam sistem keamanan nasional.

Yang lebih ironis: beberapa minggu setelah operasi, muncul kabar bahwa instruktur dari Israel kembali dipanggil untuk memberikan pelatihan anti-teror tambahan. Karena—seperti kata seorang perwira anonim—"walaupun kita dilatih Mossad, kita tetap kacau karena kita saling bermusuhan. Maka kita perlu pelatihan lagi dari Mossad untuk memperbaiki kekacauan yang disebabkan oleh pelatihan Mossad sebelumnya." Lingkaran setan yang absurd, namun nyata.

4.3 Kunjungan Rahasia Perdana Menteri Israel ke Indonesia (1993)

Jika Operasi Alfa adalah kolaborasi di tingkat teknis-komando, maka kunjungan Perdana Menteri Israel ke Jakarta pada 1993 adalah kolaborasi di tingkat kepala pemerintahan. Ini adalah fakta yang paling sulit dipercaya bagi mereka yang selama ini menganggap hubungan Indonesia-Israel hanyalah "bisikan".

Yitzhak Rabin Datang ke Rumah Soeharto di Jalan Cendana

Tanggal 16 Oktober 1993. Waktu itu, dunia sedang diliputi euforia proses perdamaian Israel-Palestina yang dirintis melalui Persetujuan Oslo (ditandatangani September 1993). Yitzhak Rabin, Perdana Menteri Israel yang baru saja memenangkan Nobel Perdamaian bersama Yasser Arafat dan Shimon Peres, sedang melakukan lawatan ke sejumlah negara Asia. Secara resmi, ia berada di China untuk kunjungan kenegaraan. Namun setelah selesai di Beijing, rombongan Rabin tidak langsung pulang ke Tel Aviv.

Pesawat kepresidenan Israel mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta—dengan mode sangat rahasia. Tidak ada konvoi besar, tidak ada upacara penyambutan. Hanya beberapa mobil hitam dengan kaca film gelap yang menjemput Rabin dan rombongan terbatasnya. Mereka dibawa langsung ke kediaman pribadi Presiden Soeharto di Jalan Cendana Nomor 8, Menteng, Jakarta Pusat.

Rumah di Jalan Cendana adalah tempat yang sangat dijaga. Hanya orang-orang tertentu yang diizinkan masuk. Di sanalah, di ruang tamu pribadi Soeharto, terjadi pertemuan yang tidak pernah tercatat dalam buku sejarah resmi Indonesia: Presiden Soeharto dan PM Yitzhak Rabin duduk berhadapan, didampingi penerjemah dan beberapa ajudan, selama sekitar satu setengah jam.

Bagaimana mungkin Perdana Menteri Israel bisa masuk ke Indonesia, negara yang secara resmi tidak mengakui keberadaannya? Jawabannya, seperti biasa, adalah lewat jalur intelijen. Tiket pesawat, izin pendaratan, dan pengamanan diatur oleh orang-orang yang sama yang mengatur Operasi Alfa: LB Murdani dan jaringannya. Tidak ada menteri luar negeri yang terlibat. Tidak ada protokol kementerian. Semuanya off the record.

Agenda Pertemuan 1,5 Jam: Intelijen dan Militer

Apa yang dibicarakan Soeharto dan Rabin dalam pertemuan satu setengah jam itu? Tidak ada risalah resmi, karena secara hukum pertemuan itu tidak pernah terjadi. Namun berdasarkan wawancara dengan sejumlah sumber yang "tahu" (dan tidak mau disebut namanya), setidaknya ada tiga agenda utama:

Pertama, peningkatan pelatihan intelijen. Rabin, yang sebelumnya adalah Kepala Staf Israel Defense Forces (IDF) dan juga pernah menjabat sebagai Duta Besar Israel untuk AS, mengerti betul pentingnya membina hubungan dengan negara-negara Asia Tenggara. Ia menawarkan peningkatan kualitas pelatihan—tidak hanya untuk Bakin/Bais, tetapi juga untuk unit-unit khusus TNI yang mulai sering terlibat operasi kontra-teror. Soeharto menerima tawaran itu dengan catatan: tetap dirahasiakan.

Kedua, transfer teknologi militer. Pada era 1990-an, Indonesia mulai mengembangkan industri pertahanan dalam negeri (PT PINDAD, PT DI, dll). Israel memiliki teknologi mutakhir di bidang persenjataan ringan, drone, dan sistem radar. Ada kemungkinan bahwa dalam pertemuan itu dibahas kerja sama teknis, termasuk lisensi produksi senjata tertentu di Indonesia. Beberapa sumber menyebut bahwa senapan serbu Tavor buatan IWI (Israel Weapon Industries) sempat masuk dalam daftar, meskipun akhirnya tidak jadi diproduksi massal di Indonesia.

Ketiga, koordinasi intelijen regional. Pada 1993, dunia sedang berubah. Uni Soviet telah runtuh. Amerika menjadi satu-satunya adidaya. Namun ancaman baru muncul: terorisme global yang terhubung lintas negara. Israel memiliki pengalaman luar biasa dalam menghadapi terorisme Palestina, sementara Indonesia mulai menghadapi sel-sel radikal domestik (pasca Garuda 206, dan kemudian bom Bali 2002 yang saat itu masih sembilan tahun lagi). Rabin dan Soeharto kemungkinan membahas skema pertukaran informasi tentang jaringan teroris yang bergerak di Asia Tenggara dan Timur Tengah.

Setelah pertemuan selesai, Rabin kembali ke pesawatnya dan terbang langsung ke Israel. Keesokan harinya, media Israel memberitakan bahwa "PM Rabin telah melakukan kunjungan rahasia ke Indonesia", namun berita itu cepat tenggelam karena minggu itu juga ada perkembangan besar dalam proses perdamaian dengan Palestina. Media Indonesia, yang saat itu masih sangat terkontrol, tidak ada yang memberitakan—atau diperintahkan untuk tidak memberitakan.

Ironisnya, Rabin meninggal dunia dua tahun kemudian (1995) ditembak oleh ekstremis Yahudi yang menentang proses perdamaian. Soeharto mengirimkan surat belasungkawa—melalui saluran tidak resmi, tentu saja. Dan hubungan rahasia itu terus berlanjut di bawah kepemimpinan Presiden Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, dan seterusnya, hingga hari ini—dengan tingkat kerahasiaan yang semakin canggih.


*Tiga operasi di atas—pembelian Skyhawk, pembajakan Garuda 206, dan kunjungan Rabin—hanyalah sebagian kecil dari gunung es hubungan Indonesia-Israel. Di bab berikutnya, kita akan mengupas bagaimana hubungan ini mempengaruhi dualisme kebijakan luar negeri Indonesia: pro-Palestina di depan publik, pro-Israel di belakang layar. Dan kita akan bertanya: sampai kapan negara ini bisa terus bermain dua wajah?*

Bersambung ke Bab 5: Dualisme dan Persaingan Internal Intelijen

Bab 5: Dualisme dan Persaingan Internal Intelijen

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAMUJU MISTIK: 10 KISAH GAIB YANG MENGGENTARKAN MAMUJU

PEMERINTAH DAERAH DI ERA EFISIENSI

BAB 11: KERANGKA HUKUM DAN KEBIJAKAN PENDUKUNG