Bab 4 Ekspedisi Wilson ke Papua – Antara Optimisme dan Realita Gunung

 


Tantangan Geografis: Hutan Lebat, Puncak Gunung, Tidak Ada Infrastruktur

Wilson F. mungkin seorang ilmuwan dan pebisnis ulung, tetapi tidak ada satu pun buku geologi yang mengajarkannya bagaimana menghadapi hutan hujan tropis terliar di dunia.

Ketika dia dan tim ekspedisinya tiba di pantai selatan Papua pada awal 1960-an, mereka disambut oleh dinding hijau yang tampak tidak bisa ditembus. Pepohonan raksasa dengan akar-akar yang menjulang setinggi manusia. Pakis-pakis berduri. Lintah di setiap dedaunan. Nyamuk pembawa malaria yang beterbangan dalam awan-awan kecil. Udara yang lembap hingga sulit bernapas.

“Ini bukan tambang,” kata salah seorang anggota timnya setengah bercanda. “Ini neraka hijau.”

Tetapi Wilson F. tidak mundur. Dia sudah mempertaruhkan segalanya. Freeport Sulfur tinggal namanya saja jika dia pulang dengan tangan hampa. Maka dia memerintahkan timnya untuk membangun base camp di tepi sungai Aikwa, lalu mulai menyusuri jalur yang pernah dilalui Dozy seperempat abad sebelumnya.

Masalah pertama: Tidak ada jalan. Tidak ada satu pun kilometer jalan beraspal dari pantai menuju Pegunungan Jayawijaya. Yang ada hanya jalur setapak yang kadang-kadang digunakan oleh suku Kamoro dan Amung. Jalur itu terlalu sempit untuk keledai, apalagi untuk truk atau alat berat.

Masalah kedua: Medannya ekstrem. Dari pantai yang hampir setinggi permukaan laut, tim ekspedisi harus mendaki hingga ketinggian 3.500 meter dalam jarak lurus hanya sekitar 100 kilometer. Tapi karena lekukan pegunungan, perjalanan memakan waktu berminggu-minggu. Tebing curam, jurang dalam, sungai deras yang tidak bisa diseberangi tanpa jembatan gantung darurat.

Masalah ketiga: Logistik. Setiap kilogram peralatan – mulai dari tenda, makanan, kompor, hingga palu geologi – harus diangkut dengan tenaga manusia. Tidak ada helikopter yang cukup tangguh pada masa itu untuk terbang ke ketinggian tersebut dengan beban penuh. Wilson F. harus menyewa ratusan pekerja lokal dari suku Kamoro untuk menjadi kuli angkut. Mereka dibayar rendah, tidak diberi asuransi, dan sering jatuh sakit.

Namun, ketika tim akhirnya mencapai Ertsberg, semua rasa sakit itu sirna.

Wilson F. berdiri di atas gunung yang sama yang pernah diinjak Dozy. Dia membawa peralatan modern (untuk ukuran 1960-an): alat pendeteksi radioaktif, peta topografi terbaru, dan tim ahli geologi dari Colorado. Mereka mengambil sampel batuan secara sistematis. Mereka mengebor dangkal untuk mengonfirmasi apa yang dilihat dengan mata telanjang.

Hasilnya melebihi ekspektasi terliar sekalipun.

Bukan hanya kadar tembaga 40% – angka yang belum pernah tercatat di tambang mana pun di dunia. Tapi juga kandungan emas yang sangat tinggi. Setiap ton bijih mengandung sekitar 15-20 gram emas. Itu berarti: hanya dengan mengeruk satu truk kecil, Freeport bisa mendapatkan emas seberat satu batangan emas standar (sekitar 400 ons). Dalam sehari, mereka bisa mengeruk ratusan truk.

Wilson F. menghitung cepat di dalam tendanya malam itu. Angka-angkanya mengalir di kepalanya seperti mimpi basah seorang penambang: Lebih dari 30 miliar dolar nilai tambang yang terlihat hanya dari permukaan. Dan itu baru Ertsberg. Belum lagi potensi di gunung-gunung sekitarnya yang belum dieksplorasi.

Dia menulis dalam buku catatannya: “Ini adalah El Dorado yang sesungguhnya. Columbus mencari emas di Amerika, tapi dia menemukan tembaga dan perak. Aku menemukan semuanya di satu gunung.”

Keyakinan: Biaya Luar Biasa akan Lunas Kurang dari 3 Tahun

Setelah rasa euforia mereda, Wilson F. menghadapi pertanyaan paling praktis: Berapa biaya untuk memulai tambang ini? Dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan investasi?

Dia mengumpulkan tim insinyur sipil, ekonom pertambangan, dan ahli logistik untuk menyusun angka-angka awal. Hasilnya sungguh menakutkan sekaligus menggoda.

Biaya yang dibutuhkan:

  • Membangun jalan dari pantai ke Ertsberg sepanjang sekitar 120 kilometer melalui hutan dan pegunungan → sekitar 100 juta dolar (nilai tahun 1960-an; setara dengan hampir 1 miliar dolar saat ini).

  • Membangun pelabuhan laut dalam di dekat muara sungai untuk mengirim hasil tambang → 50 juta dolar.

  • Membangun perkampungan pekerja, rumah sakit, sekolah, dan fasilitas dasar lainnya → 30 juta dolar.

  • Membeli alat berat, truk, ekskavator, mesin penghancur batu, dan pabrik pengolahan awal → 150 juta dolar.

  • Membangun pembangkit listrik tenaga diesel dan saluran transmisi → 40 juta dolar.

  • Biaya eksplorasi lebih lanjut, gaji pekerja, logistik, dan cadangan darurat → 50 juta dolar.

Total: sekitar 420 juta dolar AS. Angka yang sangat besar di awal 1960-an. (Sebagai perbandingan, seluruh anggaran NASA untuk program Apollo tahun 1961 hanya sekitar 500 juta dolar.)

Namun, Wilson F. tidak gentar. Karena dia juga menghitung potensi pendapatan:

  • Produksi tahunan awal: sekitar 2 juta ton bijih (meningkat secara bertahap hingga 10 juta ton per tahun).

  • Rata-rata kadar tembaga: 40% → 800.000 ton tembaga murni per tahun.

  • Harga tembaga saat itu: sekitar 3.000 dolar per ton → pendapatan tembaga saja 2,4 miliar dolar per tahun.

  • Emas: 20 gram/ton → 40 ton emas per tahun (sekitar 1,3 juta ons).

  • Harga emas saat itu: 35 dolar per ons (masih terkait standar emas Bretton Woods) → pendapatan emas sekitar 45 juta dolar per tahun.

  • Total pendapatan kotor tahun pertama: hampir 2,5 miliar dolar.

Biaya operasional (gaji, bahan bakar, pemeliharaan, transportasi, dan berbagai pajak) diperkirakan sekitar 500 juta dolar per tahun. Maka laba bersih per tahun sekitar 2 miliar dolar.

Wilson F. mencoret-coret di kertas. Jika laba bersih 2 miliar dolar per tahun, maka investasi awal 420 juta dolar akan lunas dalam waktu:

420 / 2.000 = 0,21 tahun = sekitar 2,5 bulan.

Dia mengerjap. Memeriksa ulang angka-angkanya. Tidak ada kesalahan. Lalu dia mempertimbangkan faktor kehati-hatian: mungkin target produksi terlalu optimis, mungkin ada kendala teknis, mungkin harga komoditas turun. Maka dia membuat perhitungan pesimistis:

  • Produksi setengah dari target: 1 juta ton bijih per tahun.

  • Harga tembaga turun 30%: 2.100 dolar per ton.

  • Pendapatan tembaga: 1 juta ton x 40% x 2.100 = 840 juta dolar.

  • Emas tetap 40 ton, harga emas mungkin naik tapi dia abaikan dulu.

  • Pendapatan total sekitar 900 juta dolar.

  • Biaya operasional tetap 500 juta dolar (karena infrastruktur tetap berjalan meski produksi turun).

  • Laba bersih: 400 juta dolar per tahun.

Maka waktu balik modal dalam skenario pesimistis: 420 / 400 = 1,05 tahun. Masih kurang dari 2 tahun.

Wilson F. tersenyum lebar. Bahkan dalam skenario terburuk sekalipun, investasi akan kembali dalam waktu kurang dari tiga tahun. Itu adalah angka ajaib yang membuat para pemegang saham Freeport di New York langsung setuju untuk mengucurkan dana.

Ironisnya, optimisme Wilson F. itu tidak memperhitungkan dua faktor yang akan menjadi mimpi buruk di kemudian hari: biaya politik dan biaya kemanusiaan.

Dia tidak memperhitungkan bahwa Soekarno akan menolak Freeport masuk.
Dia tidak memperhitungkan bahwa ia harus merogoh kocek lebih dalam untuk menyuap para jenderal Indonesia.
Dia tidak memperhitungkan bahwa untuk membangun tambang itu, ribuan orang Papua akan diusir, sungai-sungai akan mati, dan gunung yang disebut "ibu" itu akan dikeruk hingga rata dengan tanah.

Tapi itu semua cerita nanti. Pada saat itu, Wilson F. hanya berpikir: “Saya harus menemui Soekarno. Saya harus meyakinkannya. Atau saya harus mencari cara lain.”

Dan "cara lain" itu akan melibatkan CIA.


Bersambung ke Bab 5: Soekarno Tegas: “60% Keuntungan Harus untuk Indonesia”

Bab 5 Soekarno Tegas: “60% Keuntungan Harus untuk Indonesia”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAMUJU MISTIK: 10 KISAH GAIB YANG MENGGENTARKAN MAMUJU

PEMERINTAH DAERAH DI ERA EFISIENSI

BAB 11: KERANGKA HUKUM DAN KEBIJAKAN PENDUKUNG