Bab 3 Wilson F. – Pebisnis Stres yang Hampir Bangkrut
Bagian 2
Freeport Bangkit di Tengah Krisis
Bab 3 Wilson F. – Pebisnis Stres yang Hampir Bangkrut
Freeport Sulfur di Kuba Gagal karena Revolusi
Tahun 1950-an. Amerika Serikat sedang berada di puncak kejayaan ekonominya. Perang Dunia II telah usai, dan industri AS melesat seperti roket. Salah satu perusahaan yang ikut menikmati euforia itu adalah Freeport Sulfur Company – sebuah perusahaan pertambangan yang fokus pada belerang (sulfur), bahan baku penting untuk pupuk dan bahan peledak.
Pimpinan Freeport Sulfur saat itu adalah seorang pria bernama Wilson F. (nama lengkap: Wilson McBurney Freeman, tetapi dalam buku ini kita panggil Wilson F. saja untuk kemudahan). Ia bukan sekadar pengusaha biasa. Wilson F. adalah lulusan geologi dari MIT, seorang ilmuwan sekaligus pebisnis yang cerdas, agresif, dan sedikit nekat. Ia membawa Freeport Sulfur berekspansi ke berbagai negara, termasuk ke Pulau Kuba yang saat itu masih menjadi surga investasi AS.
Di Kuba, Freeport mengoperasikan tambang belerang besar-besaran di wilayah Moa Bay. Semua berjalan mulus. Keuntungan mengalir. Wilson F. tersenyum lebar. Hingga Fidel Castro naik ke panggung sejarah.
Pada 1 Januari 1959, gerilyawan Castro menggulingkan diktator Fulgencio Batista, yang merupakan sekutu setia AS. Castro segera memulai nasionalisasi besar-besaran. Semua perusahaan asing, terutama milik Amerika, dirampas tanpa kompensasi yang layak. Freeport Sulfur kehilangan seluruh investasinya di Kuba. Pabrik-pabrik disita. Tanah-tanah diambil. Wilson F. menyaksikan kerajaannya runtuh dalam hitungan bulan.
Dia stres. Bukan stres biasa. Stres berat hingga sulit tidur, rambutnya semakin memutih, dan tim manajemennya mulai resah. Freeport Sulfur terancam bangkrut. Pendapatan utama hilang. Saham Freeport jatuh bebas di bursa saham New York. Para pemegang saham mulai berbisik-bisik untuk mengganti direksi.
Wilson F. tahu dia harus menemukan sesuatu yang besar. Sesuatu yang sangat besar. Bukan sekadar perbaikan kecil, tapi sebuah keajaiban yang bisa menyelamatkan perusahaannya dari jurang kebangkrutan.
Mencari Peruntungan ke Perpustakaan Berdebu
Di tengah keputusasaan, Wilson F. melakukan apa yang biasa dilakukan oleh ilmuwan sejati: Kembali ke data. Dia menyadari bahwa selama ini Freeport Sulfur hanya fokus pada belerang. Padahal dunia pertambangan jauh lebih luas. Emas, tembaga, uranium, nikel – semua bisa menjadi emas jika ditemukan dengan jumlah yang tepat.
Dia memerintahkan timnya untuk menggali kembali laporan-laporan ekspedisi lama, dokumen-dokumen usang, catatan-catatan geologis yang terlupakan. Mereka mengirim staf ke perpustakaan-perpustakaan di Eropa dan Amerika, membolak-balik arsip yang sudah bertahun-tahun tidak disentuh. Debu beterbangan. Halaman-halaman menguning. Jamur di sudut-sudut buku.
Dan di sinilah "kebetulan" pertama terjadi.
Seorang staf Freeport yang bertugas di perpustakaan Geologische Dienst di Belanda menemukan sebuah laporan tipis berbahasa Belanda dengan judul membosankan: "Het Ertsberg van Nederlandsch Nieuw-Guinea" (Gunung Bijih dari Papua Belanda). Penulisnya: Jan Jacques Dozy. Tahun terbit: 1937.
Awalnya staf itu hampir melewatkannya. Tapi judul "Ertsberg" terdengar aneh. Dia mengambil laporan itu dari rak, meniup debunya, dan mulai membaca.
Dua menit kemudian, dia berteriak.
Menemukan Catatan Dozy: Emas Nongol ke Permukaan
Laporan Dozy ternyata berisi sesuatu yang gila. Benar-benar gila.
Dozy menulis bahwa di Papua Belanda (sekarang Papua, Indonesia), ada sebuah gunung yang seluruh permukaannya dipenuhi bijih tembaga dan emas. Mineral-mineral itu tidak perlu digali. Mereka nongol ke permukaan bumi. Puluhan meter ke atas. Tinggal dipungut seperti mengambil kerikil di halaman rumah.
Lebih detail lagi: Dozy telah melakukan pengukuran awal dan memperkirakan bahwa cadangan tembaga di Ertsberg mencapai empat puluh persen dari total massa batuan – angka yang luar biasa tinggi. Untuk perbandingan, tambang tembaga biasa dianggap layak jika kadarnya 2-3%. Empat puluh persen adalah angka yang belum pernah didengar dalam sejarah pertambangan modern.
Dan yang membuat Wilson F. gemetar bukan hanya tembaga. Dozy juga menyebutkan kandungan emas yang signifikan, meski dia belum sempat mengukurnya secara presisi. Tapi fakta bahwa emas dan tembaga muncul bersama di permukaan tanah sudah cukup untuk membuat siapa pun yang mengerti geologi langsung pingsan.
Ketika Wilson F. menerima fotokopi laporan itu di mejanya di New York, dia membaca sekali, dua kali, tiga kali. Lalu dia berdiri. Diam sejenak. Dan kemudian dia berkata kepada asistennya dengan suara bergetar:
"Ini bukan tambang. Ini tambang emas. Maaf, ini bukan tambang. Ini adalah* sungai emas *yang mengalir di atas tanah."
Wilson F. tahu bahwa inilah kesempatan terakhirnya. Freeport Sulfur harus segera bertindak sebelum perusahaan lain menemukan laporan yang sama. Dia langsung memerintahkan ekspedisi pendahuluan ke Papua. Tanpa menunggu persetujuan penuh pemegang saham. Tanpa kepastian dana. Tanpa jaminan keamanan.
Dia mengambil risiko besar. Karena jika laporan Dozy itu bohong, Freeport akan benar-benar mati. Jika benar, maka Freeport bukan hanya akan selamat – tapi akan menjadi raksasa pertambangan nomor satu dunia.
Pada tahun 1960, Wilson F. sendiri naik pesawat menuju Papua. Bukan dengan helikopter mewah, tapi dengan pesawat kecil seadanya. Dia turun di dataran rendah yang panas dan lembab. Dia melihat hutan lebat. Dia mendengar suara burung cenderawasih yang asing baginya. Dia tidak tahu bahwa di balik pepohonan itu, ada suku Amung yang masih mengingat firasat buruk tahun 1936.
Tapi Wilson F. tidak peduli dengan firasat. Dia hanya peduli dengan bijih.
Dia mendaki. Sama seperti Dozy 24 tahun sebelumnya. Dan ketika dia mencapai Ertsberg, mengangkat palu, memecahkan batu, dan melihat keemasan di ujung jarinya – Wilson F. menangis.
Bukan karena haru. Bukan karena estetika alam. Tapi karena dia tahu: Freeport akan selamat. Dan dia akan menjadi sangat kaya.
Yang tidak dia ketahui adalah bahwa perjalanan ke Papua itu akan membawanya bergulat dengan salah satu presiden paling keras kepala di Asia: Soekarno. Dan perjuangan itu akan melibatkan CIA, kematian misterius, dan konspirasi yang mengubah sejarah Indonesia selamanya.
Bersambung ke Bab 4: Ekspedisi Wilson ke Papua – Antara Optimisme dan Realita Gunung
Bab 4 Ekspedisi Wilson ke Papua – Antara Optimisme dan Realita Gunung

Komentar
Posting Komentar