Bab 3: Pelatihan dan Pendidikan Intelijen ala Israel

 



3.1 Metode Pelatihan: Membuntuti, Mencari Informasi, Melacak Komunis

Bayangkan Anda seorang agen pemula di sebuah hotel mewah. Instruktur Anda—seorang pria asing dengan wajah datar tanpa ekspresi—menunjuk ke lobi. Di sana, di kursi maroon dekat kolam renang, duduk seorang asing yang tidak Anda kenal. "Anda punya waktu 15 menit," kata instruktur itu dingin. "Cari tahu siapa dia. Buat dia setuju bertemu lagi dengan Anda di lobi ini jam tujuh malam."

Itu bukanlah adegan dari film latihan CIA di Langley, Virginia. Itu adalah sesi pelatihan nyata seorang agen Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin)—cikal bakal BIN kita sekarang—yang dilatih langsung oleh perwira Mossad di Indonesia.

Tes sederhana namun brutal. Dalam seperempat jam, sang agen harus menyusun narasi, memperkenalkan diri, membangun kepercayaan, dan meyakinkan target—yang sama sekali tidak dikenal—untuk menunggunya berjam-jam kemudian. Jika target benar-benar hadir pada jam yang dijanjikan, sang agen lulus. Jika tidak, dia gagal. Tidak ada kesempatan kedua. Dalam dunia intelijen, kesalahan pertama sering kali adalah kesalahan terakhir.

Apa yang diajarkan Mossad kepada intelijen Indonesia pada awal Orde Baru bukanlah sekadar teori konspirasi atau doktrin-doktrin tebal yang membosankan. Pelatihan itu bersifat sangat praktis, intensif, dan mengutamakan improvisasi. Para instruktur Israel tidak datang dengan power point atau modul setebal kamus. Mereka datang dengan pengalaman pertempuran nyata—pengalaman memburu mantan perwira Nazi yang bersembunyi di Argentina, pengalaman menyusup ke jantung Damaskus dan Kairo, pengalaman yang tidak bisa dipelajari dari buku mana pun.

Metode pelatihan yang diberikan berlapis-lapis:

Pertama, teknik membuntuti (surveillance). Bagaimana cara mengikuti target tanpa pernah terdeteksi? Di jalan yang ramai? Di gang yang sepi? Di mal yang penuh cermin dan pantulan? Para agen Indonesia diajarkan untuk membaca ritme langkah, memanfaatkan kerumunan sebagai perisai, dan menggunakan umpan-umpan palsu untuk mengelabui target jika mereka curiga sedang diikuti.

Kedua, teknik mencari informasi (intelligence gathering). Bagaimana cara merekrut agen dari dalam sel musuh? Bagaimana cara mendekati seseorang tanpa membuatnya curiga? Bagaimana cara membujuknya untuk membocorkan rahasia—tanpa dia sadar bahwa dia sedang dibocorkan? Pelatihan ini menekankan pada kemampuan membangun hubungan manusia, karena Mossad tahu bahwa di balik setiap dokumen rahasia, ada seseorang yang memegang kuncinya.

Ketiga, dan yang paling krusial pada zamannya: teknik melacak komunis. Di awal Orde Baru, ketakutan terbesar Soeharto adalah kebangkitan PKI. Namun gerakan komunis tidak lagi beroperasi secara terbuka. Mereka menyusup ke dalam serikat buruh, organisasi tani, lembaga swadaya masyarakat, bahkan partai-partai politik yang saat itu masih dalam proses pembentukan. Untuk melacak mereka, diperlukan metode yang sama seperti melacak teroris: analisis jejaring, penyadapan komunikasi, infiltrasi agen ke dalam sel-sel bawah tanah, dan—yang paling sulit—membedakan antara simpatisan biasa dengan kader inti yang benar-benar berbahaya.

Tentu saja, PKI bukanlah Hizbullah atau Hamas. Tapi prinsipnya sama: organisasi bawah tanah yang terdesentralisasi, sel-sel yang tidak saling kenal, komandan yang tidak pernah bertemu langsung dengan anggotanya. Mossad telah menghadapi pola serupa dalam menghadapi faksi-faksi Palestina yang tersebar di Lebanon, Suriah, dan Yordania. Pengetahuan mereka tentang how to hunt in the dark itulah yang paling dibutuhkan Indonesia.

Para siswa yang dilatih Mossad tidak hanya berasal dari Bakin. Satuan Khusus Intelijen (Satsus Intel), unit elit di bawah Kopkamtib yang dibentuk khusus untuk memburu sisa-sisa PKI, juga menjadi peserta utama. Mereka dilatih di berbagai lokasi—ada yang di Cipayung, ada yang di lokasi-lokasi rahasia yang hingga kini tidak pernah diungkap ke publik.

Dalam buku Intel: Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia, Ken Conboy mencatat bahwa sejak tahun 1969, Bakin menerima bantuan periodik dari Mossad. Bantuan itu tidak hanya berupa pelatihan di Indonesia, tetapi juga dalam bentuk pengiriman agen-agen Indonesia ke Israel untuk belajar langsung di negeri yang tak diakui itu.

3.2 Karakter Anthony Tingle: Sangar, Intimidatif, Jarang Bicara

Di antara semua instruktur asing yang pernah menginjakkan kaki di Indonesia untuk urusan intelijen, tidak ada sosok yang lebih misterius dan lebih melegenda daripada Anthony Tingle.

Namanya terdengar sangat Inggris. Paspornya pun mengaku ia warga negara Inggris. Pada November 1970, ia datang ke Indonesia dan memberikan pelatihan taktik pengumpulan informasi selama empat minggu kepada Satsus Intel. Tapi itu semua hanyalah topeng.

Ken Conboy, yang mewawancarai puluhan mantan perwira intelijen Indonesia untuk bukunya, mengungkap fakta yang selama ini tersimpan rapi: "Jika paspornya diabaikan, Tingle sebenarnya seorang brigadir Israel berusia 50 tahun dan bekerja untuk badan intelijen Israel, Mossad."

Bayangkan sosoknya. Usia 50 tahun pada masa itu berarti ia lahir sekitar tahun 1920, kemungkinan besar di Eropa Timur sebelum akhirnya berimigrasi ke Palestina dan bergabung dengan gerakan bawah tanah Zionis. Wajahnya tidak akan pernah Anda temukan di Google Images—bukan karena Google tidak bisa, tetapi karena memang tidak ada foto dirinya yang diedarkan ke publik. Mossad sangat paham bahwa seorang agen yang fotonya tersebar adalah agen yang mati.

Orang-orang yang pernah berinteraksi dengannya menggambarkan Anthony Tingle sebagai sosok yang sangat sangar. Hampir tidak pernah tersenyum. Jarang sekali berbicara. Tatapannya tajam menusuk, seolah sedang membedah setiap lawan bicaranya dari dalam ke luar. Mukanya datar, tidak menunjukkan emosi apapun, seperti topeng plester yang tidak pernah retak—bahkan ketika tertawa pun mungkin wajahnya tetap sama.

Mengapa Mossad mengirim tipe orang seperti ini? Bukankah seorang agen rahasia seharusnya luwes, ramah, dan mudah bergaul agar tidak mencurigakan? Justru sebaliknya. Anthony Tingle bukanlah agen lapangan yang sedang menyamar di pasar. Dia adalah instruktur. Tugasnya bukan untuk tidak mencurigakan, tetapi untuk mengintimidasi—untuk membuat para siswa intelijen Indonesia sadar bahwa mereka sedang berhadapan dengan seorang profesional sejati, bukan sekadar pensiunan kolonel yang mau memberi kuliah tambahan.

Dalam dunia militer dan intelijen, karakter seperti ini justru efektif. Keheningannya membuat orang lain gugup. Ekspresi wajahnya yang datar membuat lawan bicaranya tidak bisa membaca pikirannya. Dan kedisiplinannya yang tanpa kompromi menciptakan rasa hormat—atau setidaknya rasa takut—yang membuat para siswa lebih serius dalam belajar.

Yang menarik, meskipun Tingle adalah perwira Mossad, keberangkatannya ke Indonesia kemungkinan difasilitasi oleh seseorang yang sangat dekat dengan Soeharto: Kolonel Nichlany Soedarjo (atau Niklani Sudarjo, sebagaimana disebut dalam berbagai sumber). Nichlany-lah yang memaksa untuk belajar di bawah Israel, karena ia memahami kapabilitas mereka dalam dunia intelijen, kendati Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel saat itu. Dalam sebuah pernyataan yang dikutip oleh Ken Conboy, Nichlany berkata dengan tegas: "Kita akan mendatangkan instruktur dari Israel karena mereka yang terbaik di dunia."

Kata-kata itu menggambarkan dengan jelas posisi Indonesia pada masa itu: pragmatis hingga ke sumsum. Tidak ada ruang untuk idealisme ketika menyangkut keamanan negara. Dan Anthony Tingle adalah bukti nyata bahwa Israel, meskipu tidak pernah mengakui Indonesia secara resmi, bersedia mengirimkan orang terbaiknya untuk membantu.

Setelah masa tugasnya di Indonesia, jejak Anthony Tingle lenyap. Seperti yang pantas bagi seorang agen Mossad sejati, ia kembali ke dalam bayang-bayang, mungkin pensiun di sebuah kibbutz di utara Tel Aviv, atau mungkin menghabiskan sisa hidupnya di bawah pengawalan ketat, membawa serta rahasia-rahasia tentang Indonesia yang tidak akan pernah ia ceritakan kepada siapa pun.

3.3 Dampak Pelatihan terhadap Kinerja Intelijen Indonesia

Pertanyaan yang tidak bisa dihindari: Apakah pelatihan Mossad itu efektif?

Jawabannya: ya dan tidak.

Ya, dalam jangka pendek, pelatihan itu secara signifikan meningkatkan profesionalitas intelijen Indonesia. Agen-agen yang dilatih Mossad menjadi lebih cekatan dalam membuntuti, lebih terampil dalam merekrut sumber informasi, dan lebih sistematis dalam menganalisis data. Sengaja saya katakan "lebih sistematis" karena sebelum kedatangan para instruktur asing, cara kerja intelijen Indonesia cenderung brutal dan kacau—tidak ada prosedur baku, tidak ada rantai komando yang jelas, dan terlalu banyak mengandalkan kekerasan fisik untuk mendapatkan informasi. Mossad mengajarkan bahwa informasi yang didapat dengan paksa biasanya adalah informasi yang salah. Tekanan psikologis, pendekatan halus, dan kesabaran jauh lebih efektif daripada interogasi dengan pukulan atau setrum.

Salah satu indikator keberhasilan yang paling konkret adalah pemanfaatan lulusan pelatihan Mossad untuk penempatan di luar negeri. Ken Conboy mencatat bahwa setelah pelatihan gelombang tahun 1983—di mana seorang pakar Israel mengajarkan teknik intelijen kepada lima pejabat junior badan intel Indonesia yang sudah dipilih—Bakin segera menggunakan para agen "didikan Israel" ini. Salah seorang lulusan ditugasi membuka pos di Mesir menjelang akhir tahun 1983. Yang lain dikirim ke Arab Saudi.

Bayangkan ironinya. Seorang agen Indonesia yang dilatih oleh Mossad—musuh nomor satu dunia Arab pada masa itu—ditempatkan di jantung dunia Arab, di Mesir dan Arab Saudi, untuk menjalankan operasi intelijen. Apakah para agen ini sadar bahwa keterampilan mereka berasal dari musuh negara tempat mereka bertugas? Apakah mereka khawatir identitas asli pelatihan mereka akan terbongkar? Jawabannya adalah rahasia yang hanya mereka dan segelintir petinggi Bakin yang tahu.

Selain pelatihan sumber daya manusia, hubungan dengan Israel juga membuka pintu bagi transfer teknologi dan peralatan militer. Pada periode yang sama, TNI mulai menggunakan senapan buatan Israel seperti Uzi dan Galil Galatz. Pasukan Kostrad, yang memiliki penembak runduk (sniper), memakai senapan penembak runduk Galil Galatz buatan Israeli Weapon Industries. Dalam pelatihan kontra-teroris yang diadakan Amerika untuk Indonesia, siswa Indonesia juga diajarkan teknik menembak Uzi.

Namun, untuk menutupi fakta bahwa TNI menggunakan senjata buatan Israel, CIA membantu Bakin menyamarkan asal-usul senjata tersebut. Ken Conboy mencatat: "CIA menghubungkan BAKIN dengan si pedagang senjata asal Philadelphia yang memasok Uzi yang diminta—dengan senang hati menempelinya dengan merek pengganti." Sehingga di atas kertas, senjata itu terlihat bukan buatan Israel. Tipu daya kecil yang mencerminkan tipu daya besar dalam hubungan bilateral kedua negara.

Namun, di balik keberhasilan-keberhasilan teknis itu, ada kegagalan sistemik yang justru diperparah oleh adanya pelatihan asing.

Pertama, pelatihan Mossad tidak serta-merta menyelesaikan masalah koordinasi antar-lembaga intelijen di Indonesia. Bakin (di bawah presiden) dan intelijen militer (di bawah panglima TNI) tetap bermusuhan. Mereka saling memata-matai, saling tidak percaya, dan lebih sibuk dengan rivalitas internal daripada menghadapi musuh bersama. Ironisnya, para agen yang dilatih oleh instruktur yang sama—Mossad—justru menjadi lawan satu sama lain di dalam negeri.

Kedua, ketergantungan pada pelatihan Israel menciptakan blind spot yang berbahaya. Indonesia menjadi terlalu percaya bahwa metode Mossad adalah satu-satunya metode yang benar. Akibatnya, ketika terjadi peristiwa yang tidak sesuai dengan skenario latihan—misalnya pembajakan pesawat Garuda 206 tahun 1981 yang akan kita bahas di bab terpisah—aparat intelijen Indonesia terbukti gagal mendeteksi ancaman lebih awal. Mereka terlalu sibuk saling memata-matai, sehingga gerombolan teroris bisa bergerak bebas, menyerang markas polisi di Bandung, mengambil persenjataan, dan kemudian membajak pesawat.

Ketiga, dan ini yang paling tidak terduga: pelatihan Mosad justru menjadi bumerang ketika Indonesia menghadapi musuh-musuh yang juga menggunakan metode serupa. Di era perang melawan terorisme pasca-bom Bali 2002, jaringan teroris dalam negeri—yang banyak anggotanya adalah mantan kombatan Afganistan—telah mempelajari teknik-teknik kontra-intelijen dari berbagai sumber, termasuk dari doktrin-doktrin yang bocor dari negara-negara yang juga dilatih oleh Mossad. Dengan kata lain, tidak ada jaminan bahwa "murid" tidak akan kalah melawan "murid lain".

Kendati demikian, para perwira senior TNI dan intelijen yang merasakan langsung manfaat pelatihan Mossad tetap bersikeras bahwa hubungan itu diperlukan. Dari sudut pandang mereka, Indonesia tidak punya pilihan lain. Negara-negara Barat sibuk dengan urusan mereka sendiri. Dunia Arab tidak memiliki teknologi intelijen modern. Dan Israel bersedia membantu—dengan harga yang pantas dan tanpa syarat politik yang mengikat. Dari kacamata realis, itulah tawaran terbaik yang bisa diterima Indonesia pada masa itu.

3.4 Konfirmasi dari Buku "Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia" Karya Ken Conboy

Tidak mungkin kita membahas hubungan intelijen Indonesia-Israel tanpa merujuk pada karya monumental seorang penulis sejarah militer dan intelijen asal Amerika Serikat: Ken Conboy.

Conboy bukanlah jurnalis sensasi yang mengarang cerita untuk menjual buku. Ia adalah peneliti serius yang menghabiskan waktu bertahun-tahun di Indonesia, mewawancarai puluhan mantan perwira intelijen, mengakses arsip-arsip terbatas, dan menyusun narasi yang—meskipun tentu saja tidak luput dari kekurangan—menjadi rujukan utama bagi siapa pun yang ingin memahami dunia intelijen Indonesia dari dalam.

Bukunya yang paling terkenal, Intel: Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia (terbit pertama kali dalam bahasa Inggris dengan judul Intel: Uncovering the World of Indonesian Intelligence), adalah buku pertama yang memaparkan secara menyeluruh sejarah intelijen Indonesia berikut kegiatannya; sejak awal kemerdekaan hingga masa kini. Disusun berdasarkan wawancara langsung dengan para pejabat intelijen, serta dilengkapi berkas-berkas arsip yang diperoleh langsung dari sumber-sumbernya, buku ini menjadi semacam peta jalan bagi mereka yang berani menjelajahi lorong-lorong gelap sejarah intelijen tanah air.

Apa yang membuat buku Conboy begitu penting adalah kredibilitasnya. Conboy tidak menulis sebagai orang Indonesia yang mungkin memiliki beban politik atau trauma sejarah. Ia menulis sebagai orang luar—namun bukan orang luar yang asing. Ia tinggal di Jakarta, bekerja di perusahaan konsultan keamanan, dan memiliki akses ke kalangan intelijen yang tidak dimiliki oleh jurnalis lokal sekalipun. Sebagai lulusan Georgetown University School of Foreign Services, ia juga memiliki perspektif global yang membuat analisisnya tidak terjebak dalam nasionalisme sempit.

Dalam bukunya, Conboy mengungkap beberapa fakta yang sebelumnya hanya menjadi bisik-bisik di kalangan terbatas:

  1. Kedatangan Anthony Tingle yang sebenarnya adalah perwira Mossad berusia 50 tahun, bukan warga Inggris biasa. Fakta ini sendiri sudah cukup mengguncang narasi resmi bahwa Indonesia tidak pernah berhubungan dengan Israel.

  2. Bantuan periodik Mossad kepada Bakin sejak tahun 1969. Conboy menuliskan dengan jelas bahwa CIA-lah yang menghubungkan Bakin dengan pedagang senjata yang memasok Uzi buatan Israel, lengkap dengan rebranding untuk menyamarkan asal-usulnya.

  3. Eksistensi Satsus Intel dan keterlibatan instruktur asing—dari Amerika, Inggris, dan Israel—dalam pelatihan unit khusus ini. Ini membuktikan bahwa Indonesia tidak hanya bergantung pada satu negara, tetapi secara pragmatis mengambil yang terbaik dari semua pihak, termasuk dari musuh ideologis sekalipun.

  4. Peran Kolonel Nichlany Soedarjo sebagai arsitek utama hubungan intelijen Indonesia-Israel. Conboy menggambarkan Nichlany sebagai sosok yang sangat dihormati di kalangan intelijen, namun juga sangat kontroversial karena keterbukaannya dalam menjalin kerja sama dengan Mossad.

  5. Pelatihan lanjutan di Israel pada tahun 1983, di mana lima pejabat junior Bakin dikirim ke Israel untuk pelatihan enam minggu tentang cara menangani agen—sebuah indikasi bahwa hubungan itu tidak hanya satu arah, tetapi bersifat timbal balik dan berkelanjutan.

Menariknya, meskipun Conboy membongkar rahasia-rahasia besar ini, ia tidak melakukannya dengan nada menghakimi. Ia tidak menyebut hubungan Indonesia-Israel sebagai "pengkhianatan" atau "kesalahan sejarah". Sebaliknya, ia menyajikan fakta-fakta apa adanya, dengan nada yang hampir netral dan objektif, sebagai bagian dari realitas intelijen yang tidak selalu sejalan dengan retorika politik.

Buku Conboy juga mengungkap bahwa pelatihan Mossad tidak hanya berhenti pada era Soeharto. Ada indikasi—meskipun tidak disertai bukti yang sangat kuat—bahwa hubungan itu berlanjut hingga era reformasi, mungkin dengan modus yang berbeda, mungkin dengan melibatkan perantara-perantara baru, namun substansinya tetap sama: Indonesia membutuhkan Israel untuk melawan ancaman-ancaman yang tidak bisa dilawan dengan kekuatan konvensional.

Tentu saja, tidak semua orang percaya pada Conboy. Pihak-pihak yang berkepentingan untuk menutupi hubungan Indonesia-Israel—baik di dalam negeri maupun di luar negeri—sering menyebut bukunya sebagai "spekulasi" atau "propaganda asing". Namun satu hal yang tidak bisa dibantah: Conboy melakukan riset primer. Ia mewawancarai orang-orang yang benar-benar ada, yang benar-benar terlibat, yang benar-benar tahu. Dan para narasumber itu—dengan segala risiko yang mereka tanggung—bersedia berbicara kepadanya.

Mereka berbicara, mungkin, karena mereka lelah menyimpan rahasia. Atau mungkin karena mereka sadar bahwa sejarah tidak boleh hanya ditulis oleh pemenang, tetapi juga oleh mereka yang bertempur di lorong-lorong gelap. Atau mungkin juga karena—seperti yang kita dengar di awal buku ini—di Indonesia, terlalu banyak intel, dan terlalu banyak rahasia, sehingga pada akhirnya semua rahasia akan bocor.

Buku Conboy adalah salah satu kebocoran yang paling berharga.


Apa yang telah kita pelajari di bab ini hanyalah puncak gunung es. Di balik pelatihan intelijen yang intensif, ada operasi-operasi yang jauh lebih berani: pembelian pesawat tempur dari Israel dengan modus operasi yang melibatkan setidaknya enam negara, misi rahasia para pilot Indonesia yang belajar menerbangkan Skyhawk di gurun Negev, hingga kunjungan Perdana Menteri Israel ke rumah Soeharto di Jalan Cendana. Semua itu akan kita buka di bab-bab berikutnya—satu per satu, lapis demi lapis, rahasia demi rahasia.

*Bersambung ke Bab 4: Operasi-Operasi Rahasia - Studi Kasus*

Bab 4: Operasi-Operasi Rahasia - Studi Kasus

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAMUJU MISTIK: 10 KISAH GAIB YANG MENGGENTARKAN MAMUJU

PEMERINTAH DAERAH DI ERA EFISIENSI

BAB 11: KERANGKA HUKUM DAN KEBIJAKAN PENDUKUNG