Bab 3: Melampaui Mimbar: Tiga Pilar Dakwah Imam Lapeo
Bagian II: Arsitek Dakwah – Strategi "Ulama Progresif"
Bab 3: Melampaui Mimbar: Tiga Pilar Dakwah Imam Lapeo
3.1 Pendahuluan: Dakwah yang Tidak Hanya di Atas Mimbar
Ketika membayangkan seorang ulama berdakwah, gambaran yang kerap muncul adalah seseorang yang berdiri di atas mimbar masjid, berkhotbah dengan lantang, dan diikuti oleh jamaah yang duduk rapi. Namun, bagi K.H. Muhammad Thahir—Imam Lapeo—dakwah adalah sesuatu yang jauh lebih luas dan strategis. Ia memahami bahwa menyentuh hati masyarakat Mandar yang masih diliputi praktik-praktik pra-Islam tidak cukup hanya dengan khotbah Jumat. Dibutuhkan pendekatan yang membumi, personal, dan menyasar seluruh sendi kehidupan.
Imam Lapeo adalah arkitek dakwah yang ulung. Ia tidak sekadar menyampaikan pesan, tetapi merancang sistem. Tiga pilar utama yang ia bangun—pernikahan, pendidikan, dan tasawuf—bekerja sinergis seperti kaki tripod: jika satu lemah, yang lain akan rubuh. Ketiga pilar inilah yang membuat dakwahnya tidak hanya diterima pada zamannya, tetapi juga berkelanjutan hingga generasi sekarang.
Bab ini akan mengupas secara mendalam masing-masing pilar, menunjukkan bagaimana Imam Lapeo menggunakan pernikahan sebagai alat politik dan sosial, mendirikan lembaga pendidikan yang lestari, serta berperan sebagai mursyid (pembimbing spiritual) bagi berbagai tarekat. Dengan memahami ketiganya, pembaca akan melihat betapa progresif dan kontekstual strategi dakwah ulama abad ke-19 ini.
3.2. Pilar Pertama: Pernikahan sebagai Alat Politik dan Sosial
3.2.1 Tradisi Pernikahan Strategis dalam Islam Nusantara
Dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara, pernikahan antara ulama atau pedagang Muslim dengan putri bangsawan lokal adalah salah satu strategi paling efektif. Para Wali Songo di Jawa menggunakan metode ini: Sunan Gunung Jati menikahi putri Kerajaan Cirebon, Sunan Kalijaga memiliki hubungan keluarga dengan bangsawan Demak. Pernikahan semacam itu bukanlah "perjodohan biasa", melainkan kontrak sosial-politik yang mengikatkan seorang dai ke dalam struktur kekuasaan lokal.
Imam Lapeo, dengan kecerdasannya, mengadopsi strategi ini di tanah Mandar. Ia menikah enam kali sepanjang hidupnya. Bukan karena nafsu atau keinginan poligami tanpa tujuan, melainkan karena setiap pernikahan adalah gerbang masuk ke wilayah dan jaringan kekuasaan yang berbeda. Mari kita telaah satu per satu.
3.2.2 Enam Pernikahan dan Makna Strategisnya
1. Sitti Rugayah (Amna Fatimah) – dari Padang via Habib Alwi
Pernikahan pertama ini diatur langsung oleh gurunya, Habib Alwi bin Abdullah bin Sahal Jumallullail, saat Imam Lapeo berada di Padang. Nama Rugayah sendiri diubah dari Nagaiyah menjadi Rugayah oleh sang habib. Pernikahan ini bukan sekadar menyatukan dua insan, tetapi merupakan bentuk ikatan baiat spiritual antara murid dan guru. Dengan menikahi wanita yang dinikahkan oleh habib, Imam Lapeo secara simbolis menjadi bagian dari keluarga spiritual besar Habib Alwi. Ini penting karena Habib Alwi memiliki silsilah yang tersambung hingga Rasulullah SAW.
Selain itu, Rugayah berasal dari Padang—pusat perdagangan dan keilmuan Islam. Pernikahan ini memperluas jaringan Imam Lapeo ke dunia Melayu-Indonesia di luar Mandar. Rugayah kemudian melahirkan beberapa anak, termasuk KH. Muhsin Thahir dan Hj. Muhsanah Thahir (yang kelak menjadi Annangguru Amma Jarra)—penerus utama dakwah di Lapeo.
2. Sitti Khadijah – Putri Tokoh Masyarakat Setempat
Pernikahan dengan Sitti Khadijah adalah strategi untuk mengokohkan akar di Mandar sendiri. Khadijah adalah putri dari keluarga terhormat di wilayah Mandar (detail nama ayahnya tidak disebut dalam sumber, tetapi statusnya sebagai "tokoh masyarakat" jelas). Dari pernikahan ini, Imam Lapeo dikaruniai KH. Najamuddin Thahir, yang juga menjadi ulama dan penerus dakwah. Sayangnya, dua anak lainnya meninggal saat kecil. Pernikahan ini memperkuat legitimasi Imam Lapeo di mata masyarakat Mandar bahwa ia bukan "orang luar", melainkan bagian dari mereka.
3. Sitti Halifah dan 4. Sitti Attariyah
Kedua pernikahan ini tercatat tidak dikaruniai anak. Mengapa Imam Lapeo tetap menikah dengan mereka? Ada kemungkinan: pertama, untuk menjalin hubungan baik dengan keluarga kedua wanita tersebut (yang juga kemungkinan berasal dari kalangan terhormat); kedua, untuk memberikan dukungan sosial dan ekonomi—dalam budaya Mandar, menikahi janda atau wanita yang membutuhkan perlindungan adalah tindakan terpuji. Sayangnya, sumber literatur tidak merinci lebih jauh. Namun, tidak adanya keturunan tidak berarti pernikahan ini sia-sia; justru ia menjaga hubungan baik dengan berbagai klan.
5. Hj. Hunainiyah (Sitti Aminah) – Keponakan Raja Mamuju
Ini adalah pernikahan yang paling menguntungkan secara politis. Hunainiyah (dengan gelar Tala Soppeng Kanna Andi Anteng) adalah keponakan dari Mara'dia (raja) Mamuju. Ketika Imam Lapeo melakukan safari dakwah ke Mamuju, ia menyadari bahwa untuk diterima di wilayah Utara Mandar, ia memerlukan restu dari kerajaan setempat. Dengan menikahi putri bangsawan Mamuju, ia langsung mendapatkan akses istimewa: ia boleh berdakwah, mendirikan masjid, dan bahkan diangkat sebagai Mara'dia Syara' (kadi atau hakim) di Tappalang.
Dari pernikahan ini lahir KH. Abdul Muttalib Thahir, Hj. Asiah Thahir, dan Dr. Hj. Aminah Thahir. Keturunannya hingga kini masih tersebar di Mamuju. Ini adalah contoh sempurna bagaimana pernikahan menjadi jembatan dakwah antar kerajaan.
6. Syarifah Hamidah – Wanita dari Mamuju
Pernikahan keenam ini juga terjadi di Mamuju. Syarifah Hamidah kemungkinan besar berasal dari keluarga habib (sayyid) atau bangsawan. Meskipun tidak dikaruniai anak, pernikahan ini semakin memperkuat posisi Imam Lapeo di kalangan elit Mamuju. Dalam budaya Mandar, memiliki hubungan keluarga (pakkawinang) dengan banyak klan adalah aset sosial yang tak ternilai.
3.2.3 Dampak Jangka Panjang Strategi Pernikahan
Apa dampak dari strategi pernikahan ini? Pertama, Imam Lapeo berhasil membangun jaringan kekerabatan yang mencakup Padang, Mandar, dan Mamuju. Setiap kali ia bepergian, ia dapat menginap di rumah keluarga istrinya, dan setiap keluarga itu akan melindungi serta mendukung dakwahnya. Kedua, anak-anak dan keturunannya menjadi dai alami yang melanjutkan dakwah di wilayah-wilayah tersebut. Ketiga, ia mendapat legitimasi dari kalangan bangsawan, sehingga dakwahnya tidak dianggap sebagai ancaman politik, melainkan sebagai mitra.
Para orientalis seperti Snouck Hurgronje mungkin memandang strategi ini sebagai "oportunisme". Namun dari sudut pandang sosiologi Islam Nusantara, ini adalah kearifan lokal: dakwah tidak bisa dilakukan dengan kekerasan atau frontal, tetapi dengan merangkul dan menjadi bagian dari komunitas yang hendak diubah.
3.3. Pilar Kedua: Pendidikan sebagai Lembaga Lestari
3.3.1 Dari Majelis Rumahan ke Pesantren Formal
Jika pernikahan adalah strategi jaringan, maka pendidikan adalah strategi institusi. Imam Lapeo menyadari bahwa dakwah yang hanya mengandalkan karisma personal akan redup setelah ia wafat. Karena itu, ia membangun sistem pendidikan yang terus berjalan bahkan hingga kini.
Pada awalnya, ia mengajar di rumahnya sendiri (Boyang Kayyang) dan di masjid yang ia dirikan. Santri-santri yang datang dari berbagai daerah ditampung di rumahnya, diberi makan, diajari Al-Qur'an, fikih, tauhid, dan tasawuf. Model ini mirip dengan pesantren salaf di Jawa. Seiring bertambahnya santri, ia mendirikan Pesantren Addiniyah al-Islamiyah Ahlusunnah wal Jama'ah pada tahun 1920-an (ada sumber menyebut lebih awal). Nama pesantren ini sangat teologis: Addiniyah (nilai-nilai agama), al-Islamiyah (keislaman), Ahlusunnah wal Jama'ah (paham Sunni yang moderat). Penegasan Aswaja penting karena pada masa itu sudah muncul paham-paham yang dianggap menyimpang.
Pesantren ini tidak hanya mengaji kitab kuning, tetapi juga memberikan pelajaran baca-tulis, bahasa Arab, dan doa-doa harian. Imam Lapeo tidak memungut biaya dari santri. Beliau membiayai pondok dari hasil pertanian, perkebunan, dan sedekah jamaah. Bahkan, suatu ketika ia berhutang kepada pedagang beras untuk memberi makan santri dan masyarakat yang kelaparan. Sifat dermawan ini menjadi bagian dari keteladanan.
3.3.2 Metode Halaqah: Lingkaran Ilmu yang Setara
Metode pengajaran yang digunakan adalah halaqah (dari bahasa Arab halaqah, artinya lingkaran). Dalam halaqah, guru (syaikh) duduk di tengah, sementara murid-murid duduk melingkari. Tidak ada papan tulis, tidak ada bangku dan meja formal. Metode ini menekankan pada kedekatan personal antara guru dan murid, serta memungkinkan terjadinya dialog dan tanya jawab yang intens.
Setiap halaqah biasanya dimulai dengan pembacaan al-Fatihah yang pahalanya dihadiahkan kepada Nabi, para sahabat, dan para wali. Ini menciptakan suasana spiritual yang khusyuk. Materi yang diajarkan berjenjang:
Tingkat pemula: Baca Al-Qur'an, shalat, doa sehari-hari.
Tingkat menengah: Kitab Ta'lim al-Muta'allim (tentang adab menuntut ilmu), Aqidatul Awam (tauhid dasar).
Tingkat lanjut: Tafsir Jalalain, Fikih mazhab Syafi'i, kitab-kitab hadis, dan tasawuf (seperti Ihya' Ulumuddin karya al-Ghazali).
Halaqah tidak hanya dilakukan di pesantren, tetapi juga di rumah-rumah warga yang dijadwalkan secara bergilir. Ini adalah bentuk dakwah bil hal (dakwah dengan tindakan)—ulama datang ke rumah umat, bukan sebaliknya. Tradisi ini masih dijaga di beberapa daerah Mandar hingga sekarang.
3.3.3 Lembaga yang Lestari
Kesaksian dari penelitian Darwis dkk. (2022) menunjukkan bahwa hingga awal abad ke-21, lembaga pendidikan yang didirikan Imam Lapeo—meski sudah berubah nama menjadi Madrasah Tsanawiyah Darud Da'wa Wal Irsyad Lapeo—masih aktif beroperasi. Ada tiga lembaga pendidikan yang masih hidup di kompleks Masjid Nurut-Taubah:
Lembaga Tahfidz (menghafal Al-Qur'an) untuk anak-anak dan remaja.
Majelis Ta'lim untuk ibu-ibu dan bapak-bapak, fokus pada fikih ibadah dan akhlak.
TPQ (Taman Pendidikan Al-Qur'an) untuk anak usia dini.
Ini adalah bukti paling nyata dari keberhasilan pilar pendidikan. Imam Lapeo tidak hanya membangun bangunan fisik, tetapi sistem dan tradisi yang melampaui usianya.
3.4. Pilar Ketiga: Tasawuf – Mursyid Tarekat yang Menyentuh Hati
3.4.1 Mengapa Tasawuf?
Masyarakat Mandar abad ke-19 dan awal ke-20 masih sangat akrab dengan dunia mistik. Mereka percaya pada roh-roh penunggu pohon, batu, sungai, serta melakukan ritual sesajen untuk menolak bala. Jika dakwah menggunakan pendekatan fikih yang keras ("haram", "syirik", "kafir"), masyarakat akan resisten. Imam Lapeo memilih pendekatan tasawuf yang lebih lembut, bertahap, dan menyentuh aspek emosional.
Tasawuf mengajarkan bahwa tujuan hidup adalah mendekatkan diri kepada Allah melalui pembersihan hati (tazkiyatun nafs), bukan hanya melalui ritual lahiriah. Orang Mandar, yang memiliki tradisi tomakaka (pemimpin spiritual tradisional) dan kepercayaan animisme, relatif mudah menerima konsep wali, karamah, dan tawassul. Imam Lapeo memanfaatkan "bahasa budaya" ini dan mengisinya dengan konten tauhid.
3.4.2 Tarekat yang Diajarkan: Syadziliyah, Naqsyabandiyah, Qadiriyah
Imam Lapeo adalah mursyid (pembimbing spiritual) yang memiliki kewenangan (ijazah) untuk mengajarkan lebih dari satu tarekat. Ini tidak biasa karena kebanyakan ulama sufi hanya memegang satu tarekat. Namun, Imam Lapeo mengambil jalan tawassuth (moderat): semua tarekat itu benar, asalkan berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Sunnah. Ia tidak fanatik pada satu tarekat tertentu.
a. Tarekat Syadziliyah
Ini adalah tarekat yang paling kuat pengaruhnya di kalangan Imam Lapeo. Pendirinya adalah Abu al-Hasan al-Syadzili (wafat 1258 M) di Afrika Utara. Ciri khas tarekat ini adalah keseimbangan antara syariat dan hakikat, serta penekanan pada cinta (mahabbah) kepada Allah. Dalam tarekat Syadziliyah, zikir yang diamalkan antara lain Lailahaillallah dan Allah.
Menurut penelitian Hasmirah (2019), ajaran tarekat Syadziliyah yang diajarkan Imam Lapeo meliputi amalan rutin:
Istighfar 100 kali: "Astaghfirullahal 'azhim" untuk membersihkan dosa.
Dzikir "Lailahaillallah" setelah shalat fardhu.
Wirid pagi dan petang seperti Ayat Kursi, al-Ikhlas, al-Falaq, an-Nas.
b. Tarekat Naqsyabandiyah
Tarekat ini berasal dari Asia Tengah dan sangat menekankan zikir sirri (dalam hati) serta hubungan intensif antara murid (salik) dan mursyid. Imam Lapeo mempelajari tarekat ini dari gurunya di Padang dan mungkin juga dari KH. Kholil Bangkalan. Untuk masyarakat Mandar yang suka keramaian, zikir sirri mungkin kurang populer, tetapi ada kalangan tertentu yang mendalaminya.
c. Tarekat Qadiriyah
Pendiri tarekat ini adalah Syekh Abdul Qadir al-Jailani (1077-1166 M) dari Baghdad. Tarekat Qadiriyah terkenal dengan zikir jahar (suara keras) dan pengagungan kepada syekh. Imam Lapeo juga memberikan ijazah untuk tarekat ini. Yang menarik, ia tidak mempertentangkan tarekat yang satu dengan yang lain. Kata salah satu keturunannya, "Imam Lapeo menggunakan semua tarekat tergantung pada kecenderungan orang yang memilih jalan mana. Semuanya benar, asalkan niatnya untuk Allah."
3.4.3 Bagaimana Tasawuf Dipraktikkan dalam Dakwah?
Imam Lapeo tidak mengajarkan tasawuf sebagai teori abstrak, tetapi sebagai pengalaman hidup. Contohnya:
Ia mengajarkan sabar melalui kisah-kisah nyata para sahabat yang menderita karena keyakinan mereka.
Ia mengajarkan zuhud (tidak terikat dunia) dengan cara hidup sederhana: rumah panggung yang tidak megah, pakaian biasa, dan makanan sederhana.
Ia mengajarkan tawakal dengan selalu bersandar kepada Allah dalam setiap kesulitan, termasuk saat kekurangan biaya membangun masjid (yang kemudian terbantu secara "misterius").
Dalam majelis-majelis zikir yang ia pimpin, ia tidak pernah memaksa jamaah untuk mengikuti tarekat tertentu. Ia membiarkan mereka merasakan sendiri ketenangan batin setelah berzikir. Secara perlahan, para jamaah meninggalkan kebiasaan minum tuak, sabung ayam, dan perjudian, karena hati mereka sudah tersentuh.
Pendekatan tasawuf ini juga membuat Islam di Mandar menjadi Islam yang ramah dengan budaya lokal, bukan Islam yang puritan dan anti-tradisi. Upacara maulid Nabi, ziarah kubur, dan tahlilan tetap dipertahankan, tetapi dibersihkan dari unsur-unsur syirik.
3.5. Tiga Pilar yang Saling Menguatkan
Mari kita lihat bagaimana ketiga pilar ini bekerja bersama:
| Pilar | Fungsi Utama | Contoh Konkret | Hasil Jangka Panjang |
|---|---|---|---|
| Pernikahan | Membuka akses politik dan sosial ke berbagai kerajaan/klan | Menikahi keponakan Raja Mamuju | Dakwah diterima tanpa perlawanan; keturunan menyebar sebagai dai |
| Pendidikan | Menciptakan regenerasi ulama dan santri | Mendirikan pesantren dan masjid; metode halaqah | Lembaga pendidikan masih eksis >100 tahun kemudian |
| Tasawuf | Menyentuh hati, membersihkan jiwa, dan mengakomodasi budaya lokal | Mengajarkan zikir dan tarekat; hidup sederhana | Masyarakat meninggalkan praktik musyrik tanpa paksaan |
Tidak ada pilar yang berdiri sendiri. Pernikahan membawa pengaruh dan dana untuk pendidikan. Pendidikan mencetak kader-kader yang kemudian melanjutkan dakwah tasawuf. Tasawuf membuat masyarakat tertarik untuk belajar di pesantren. Ini adalah sistem dakwah terintegrasi yang sangat jarang dimiliki oleh ulama lain pada zamannya.
3.6. Warisan Tiga Pilar di Era Modern
Hingga hari ini, ketiga pilar tersebut masih bisa diraba. Pernikahan strategis menghasilkan ratusan keturunan Imam Lapeo yang tersebar di Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, bahkan Kalimantan. Mereka menggunakan nama Thahir, Thahir, Lapeo, atau Annangguru sebagai identitas. Sebagian dari mereka masih menjadi imam masjid, pengasuh pesantren, atau tokoh masyarakat.
Pendidikan masih berlangsung di kompleks Masjid Nurut-Taubah. Setiap petang, terdengar suara anak-anak mengaji. Para santri dari luar daerah masih mondok di sekitar masjid. Meskipun pesantren formal sudah berubah menjadi madrasah, tradisi halaqah masih dilakukan terutama pada bulan Ramadan.
Tasawuf juga tidak pernah mati. Zikir Lailahaillallah yang diajarkan Imam Lapeo masih diamalkan oleh para keturunan dan jamaahnya. Bahkan, orang-orang dari luar Mandar yang datang berziarah seringkali meminta jimat (tulisan doa) atau air yang sudah didoakan oleh keturunan Imam Lapeo—meskipun praktik ini perlu dijaga agar tidak bergeser menjadi kemusyrikan.
Dengan memahami tiga pilar ini, kita tidak lagi bertanya-tanya mengapa Imam Lapeo begitu fenomenal. Ia bukan sekadar ulama yang pandai berbicara. Ia adalah arsitek sosial yang membaca peta kekuasaan, budaya, dan psikologi masyarakatnya dengan sangat cermat. Ia menggunakan pernikahan untuk masuk, pendidikan untuk melestarikan, dan tasawuf untuk menyentuh. Itulah resep dakwah yang hingga kini masih patut diteladani.
Penutup Bab 3: Dari Strategi ke Substansi
Tiga pilar di atas adalah wasilah (sarana). Namun, substansi dari semua itu adalah ketulusan Imam Lapeo. Ia tidak menikah untuk harta, tidak mendirikan pesantren untuk ketenaran, tidak mengajarkan tasawuf untuk kekuasaan. Semua berangkat dari keikhlasan karena Allah. Maka wajar jika Allah meridhoi dakwahnya, menjadikannya waliyullah yang disegani, dan mewariskan namanya sebagai cahaya yang tak kunjung padam di tanah Mandar.
Catatan: Bab 3 telah dikembangkan sesuai kerangka, mencakup analisis enam pernikahan strategis, pendirian pesantren dan metode halaqah, serta peran mursyid untuk tiga tarekat. Berikutnya dapat dilanjutkan ke Bab 4 tentang "Mediator Budaya – Islam dan Tradisi Lokal" atau bab lain sesuai kebutuhan.

Komentar
Posting Komentar