Bab 2 Silsilah dan Mitos Tomanurung



Legenda Tomanurung di Ulu Saddang

Sebelum ada kerajaan, sebelum ada istana, bahkan sebelum nama Mandar dikenal, hiduplah keyakinan bahwa manusia pertama di tanah ini tidak lahir dari rahim biasa, melainkan turun dari langit atau muncul dari dalam bumi. Mereka disebut Tomanurung – “yang turun” – dan kedatangan mereka selalu disambut dengan gempar, karena mereka membawa cahaya di tengah kekacauan.

Suku Mandar(mandarexplorer.blogspot.com)

Konon, di hulu Sungai Saddang, jauh di pedalaman yang kini menjadi batas antara Mandar dan Toraja, sepasang manusia misterius muncul. Laki-laki dan perempuan itu tidak diketahui asal-usulnya. Mereka tidak berbicara dengan bahasa setempat, namun para tetua kampung yang sedang berselisih tiba-tiba merasa tenang saat melihat mereka.

Sepasang Tomanurung itu tidak mengangkat senjata. Mereka tidak memberi perintah dengan keras. Tapi setiap kata yang keluar dari mulut mereka terasa seperti air dingin di kulit yang terbakar.

“Duduklah,” kata sang perempuan. “Dengar satu sama lain.”

Dan ajaibnya, pertikaian berhenti.

Setelah beberapa waktu, pasangan itu memiliki seorang anak laki-laki. Anak ini tidak diberi nama aneh atau muluk-muluk. Mereka memanggilnya To Banua Pong – artinya “orang yang memiliki negeri”. Dari dialah kelak lahir seluruh keturunan yang menyebar ke seluruh Mandar, Luwu, bahkan ke daerah-daerah di Sulawesi Tengah.

Para sejarawan modern mungkin akan menyebut legenda Tomanurung sebagai cara masyarakat kuno melegitimasi kekuasaan. Tapi bagi orang Mandar, cerita ini bukan sekadar mitos. Ini adalah ingatan bersama bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang membawa kedamaian, bukan yang menebar ketakutan.

Dan dari akar mitos itulah, berabad-abad kemudian, lahirlah seorang bocah yang kelak disebut Todilaling.


Pohon Keturunan hingga Imanyambungi

Mari kita tarik benang merah dari Tomanurung di Ulu Saddang hingga ke Imanyambungi.


Tomanurung di Ulu Saddang (laki-laki dan perempuan)

To Banua Pong (anak mereka, “pemilik negeri”)

Melahirkan lima orang, kemudian berkembang menjadi sebelas keturunan.
Salah satu yang penting adalah Pongkapadang, yang menetap di Makbuliling.

Dari Pongkapadang lahir Bellotere.

Bellotere kawin dengan seorang pria yang datang dari Makka (tanah suci atau sebutan untuk pendatang dari barat). Mereka dikaruniai anak bernama Tometeeng Bassi.

Tometeeng Bassi melahirkan Daeng Lumalek.

Daeng Lumalek melahirkan sebelas orang bersaudara. Kesebelas orang inilah yang menyebar ke berbagai penjuru Mandar: ada yang ke Mamuju, ke Sendana, ke Bone, ke Lemo, ke Napo, dan seterusnya.


Dari salah satu keturunan ini, lahirlah Topalik yang menetap di Lemo (Napo).
Topalik melahirkan Tobittoeng.
Tobittoeng kawin dengan putri Tomakaka Napo, melahirkan Taurra-urra.
Taurra-urra kawin dengan putri Tomakaka Lemo, melahirkan We Apas (perempuan).
We Apas kemudian menikah dengan Puang di Gandang (putra Tomakaka Napo).
Dan dari pernikahan inilah lahir Imanyambungi – bocah yang akan diasingkan, lalu kembali sebagai raja.

Silsilah ini panjang, berliku, dan penuh nama yang hampir terlupakan. Tapi satu hal yang jelas: Imanyambungi bukanlah orang biasa. Darah Tomanurung mengalir di nadinya. Namun, seperti kata pepatah Mandar: “Kriteria darah hanya pada awalnya, sifatlah yang menentukan pada akhirnya.”


Makna “Darah Bangsawan” dan “Sifat sebagai Penentu”

Di banyak kerajaan Nusantara, darah bangsawan adalah segalanya. Jika Anda lahir dari rahim seorang raja, maka Anda berhak atas takhta, meskipun Anda bodoh, kejam, atau pengecut.

Tapi tidak demikian dengan orang Mandar. Setidaknya, tidak sepenuhnya.

Seorang budayawan Mandar, Puang Dipojosang II, pernah menyatakan di hadapan para tetua:

“Ita’ to mandar cera’ mappammula sipa’ mappaccappurang di sesena tau piya tonganan.”
(Kami orang Mandar: kriteria darah hanya pada awalnya, dan sifatlah yang menentukan pada akhirnya bagi orang yang mempunyai kebajikan.)

Apa artinya?
Artinya, meskipun seseorang lahir dari keturunan bangsawan, ia belum pantas disebut pemimpin jika perilakunya buruk. Sebaliknya, seorang dari kalangan biasa pun bisa dihormati jika ia memiliki sifat-sifat luhur: jujur, berani, adil, dan mengayomi.

Ini adalah konsep yang sangat revolusioner untuk zamannya. Di saat kerajaan-kerajaan lain mengkultuskan darah biru, Mandar justru meletakkan akhlak dan perbuatan sebagai ukuran utama kemanusiaan.

Imanyambungi mewarisi darah bangsawan. Tapi dia tidak pernah menyombongkannya. Dalam pengasingannya di Gowa, dia tidak mengaku sebagai putra Tomakaka. Dia memilih belajar dari bawah. Dia membersihkan geladak kapal, mengikat tali, dan mendengar cerita para pelaut tua.

Ketika dia kembali ke Mandar, orang-orang tidak menyambutnya karena nama besar leluhurnya. Mereka mengikutinya karena mereka melihat sendiri keteguhan hatinya, keberaniannya menghadapi badai, dan caranya berbicara kepada rakyat kecil seolah mereka saudara.


Warisan Tomanurung yang Hidup dalam Diri Imanyambungi

Tomanurung dalam legenda turun untuk mendamaikan. Imanyambungi dalam sejarah nyata pulang untuk mempersatukan.

Ada kesamaan diam-diam antara mitos dan kenyataan itu. Keduanya datang dari luar, lalu memilih tinggal dan berjuang untuk tanah yang tidak sempurna. Keduanya tidak mengandalkan senjata semata, tetapi juga kata-kata dan keteladanan.

Namun Imanyambungi memiliki keunggulan yang tidak dimiliki Tomanurung: ia pernah menjadi orang buangan. Ia tahu rasanya ditolak, diasingkan, dianggap tidak berguna. Karena itu, ketika ia menjadi raja, ia tidak pernah melupakan penderitaan rakyat kecil.

Dalam sebuah wasiatnya yang terkenal, ia berpesan:

“Jangan angkat menjadi pemimpin seseorang yang tidak cinta tanah air, tidak membela rakyat kecil, dan bertutur kata kasar. Orang seperti itulah yang akan menghancurkan negeri.”

Darah Tomanurung memberinya hak untuk memimpin. Tapi pengasingan dan pelajaran hidup yang ia tempuh sendirilah yang memberinya kualitas untuk dipatuhi.


Penutup Bab 2: Antara Mitos dan Sejarah

Legenda Tomanurung tidak pernah menyebut nama Imanyambungi. Namun tanpa legenda itu, silsilahnya tidak akan sampai kepadanya. Dan tanpa silsilah, cerita tentang anak buangan yang menjadi raja akan kehilangan satu lapisan makna: bahwa takhta bukan hanya soal hak, tetapi juga ujian.

Di bab berikutnya, kita akan mengikuti Imanyambungi menyeberang laut menuju Gowa. Di sana ia akan ditempa oleh perang, intrik istana, dan malam-malam sunyi yang membentuk karakternya menjadi Todilaling – raja yang tidak pernah tidur nyenyak demi rakyatnya.

Bab 3 Bocah Pemberani dari Napo


awal bacaan TODILALING Kisah Imanyambungi, Pengasingan yang Menjadi Takhta


Komentar