BAB 2 Rupiah Ambrol ke Titik Terendah

 



Ketika Uang Kita Kehilangan Mahkota


"Harga Bensin Naik, Harga Beras Terbang, dan Uang di Dompet Meleleh"

Bayangkan Anda bangun pagi-pagi, lalu membaca koran. Di halaman depan tertera: "Dolar Tembus Rp17.000". Jantung Anda berdetak lebih cepat. Anda langsung menghitung: cicilan motor, uang sekolah anak, belanja mingguan. Semuanya tiba-tiba terasa lebih berat. Ini bukan mimpi. Ini adalah realitas pahit yang dialami setiap orang Indonesia pada pertengahan 1998.

Habibie baru beberapa hari menjadi presiden ketika badai paling dahsyat dalam sejarah keuangan Indonesia menghantam. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat—yang selama dekade 1990-an terjaga dengan manis di kisaran Rp2.000—tiba-tiba melorot seperti elevator putus kabel. Dari Rp2.400 di Juli 1997, jatuh ke Rp16.800 pada Juni 1998. Bahkan sempat menyentuh Rp17.000 di titik terburuknya.

Untuk memahami betapa dahsyatnya kejatuhan ini, mari kita lakukan perjalanan singkat ke masa lalu.


1. Dari Rp2.000 ke Rp17.000: Jatuh Bebas Tanpa Parasut

Di awal tahun 1996, ekonomi Indonesia sedang di puncak kejayaan Orde Baru. Pertumbuhan ekonomi tembus 7-8% per tahun. Investor asing berlomba masuk. Kelas menengah tumbuh subur. Mal-mal megah bermunculan. Dan yang paling membanggakan: rupiah sangat stabil di kisaran Rp2.300–Rp2.500 per dolar AS selama hampir 5 tahun berturut-turut.

Rakyat kecil pun merasa aman. Menabung dalam rupiah tidak perlu khawatir nilai tergerus. Utang luar negeri perusahaan masih terasa ringan karena kurs stabil.

Tapi semua berubah dalam hitungan minggu.

Juli 1997: Thailand melepas kurs bath-nya. Bath ambruk. Spekulan internasional seperti George Soros dan kawan-kawan mengalihkan serangan ke negara tetangga, termasuk Indonesia.

Agustus 1997: Rupiah mulai goyang. Dari Rp2.400 merangkak ke Rp3.000.

November 1997: Tembus Rp4.000.

Januari 1998: Melewati Rp10.000. Masyarakat panik. Bank Indonesia menghabiskan cadangan devisa untuk menstabilkan, tapi sia-sia.

Mei 1998: Soeharto lengser, rupiah di sekitar Rp14.000.

Juni 1998: Puncak neraka. Rp16.800. Bahkan di pasar gelap sempat tembus Rp17.500.

Bayangkan: jika Anda punya utang $1 juta pada 1996 (setara Rp2,3 miliar), pada Juni 1998 utang itu membengkak menjadi Rp16,8 miliar. Tanpa tambahan satu rupiah pun. Itulah yang terjadi pada ribuan perusahaan Indonesia.

Habibie, yang setiap pagi membaca laporan kurs dari BI, hanya bisa menghela napas panjang. Tapi ia tidak menangis. Ia malah memerintahkan stafnya untuk membuat grafik pergerakan rupiah dalam tiga bulan terakhir. "Saya lihat pola," katanya. "Ini bukan spekulasi liar. Ini sudah diatur."


2. Fenomena Bank Rush: Antrean Panjang di Depan Mimpi Buruk

Jatuhnya rupiah bukan hanya masalah nilai tukar. Ia menyulut api di sektor perbankan.

Ceritanya begini: ketika rupiah melemah drastis, masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap bank. Mereka takut uang mereka lenyap—baik karena inflasi yang menggerogoti, atau karena bank itu sendiri kolaps. Maka, satu per satu, nasabah berbondong-bondong mendatangi bank, mengantre sejak subuh, hanya untuk menarik seluruh simpanannya secara tunai.

Fenomena ini disebut bank rush (atau bank run dalam istilah ekonomi). Dan Indonesia mengalaminya dalam skala yang belum pernah terjadi.

  • November 1997: 16 bank ditutup oleh pemerintah atas rekomendasi IMF. Masyarakat semakin panik.

  • Desember 1997 – Maret 1998: Antrean di bank-bank besar seperti Bank Bumi Daya, BDN, Bapindo, bahkan BCA, mencapai panjang hingga 500 meter. Para pensiunan yang ingin mengambil uang pensiun harus rela menginap di depan bank karena takut kehabisan.

  • Mei–Juni 1998: Setelah Soeharto lengser, kepanikan mencapai puncaknya. Dalam sepekan, lebih dari Rp20 triliun ditarik dari sistem perbankan.

Hasilnya? Puluhan bank kolaps. Data dari BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional) yang dibentuk Habibie kemudian mencatat: 38 bank dinyatakan gagal dan ditutup permanen. 7 bank lain diambil alih pemerintah. Total aset bermasalah mencapai lebih dari Rp650 triliun.

Salah satu kisah paling pilu datang dari seorang ibu tua di Surabaya. Ia menabung selama 20 tahun untuk biaya haji. Bank tempatnya menabung—salah satu bank kecil yang tidak sehat—tiba-tiba tutup. Ia menangis di depan kantor bank sambil memegang buku tabungan yang tak bisa dicairkan. Habibie mendengar cerita itu dari ajudannya. Diam-diam ia menyisihkan uang pribadinya untuk membantu sang ibu, meski ia tahu itu hanya setetes di lautan. Namun ia juga memerintahkan timnya untuk segera membentuk program penjaminan simpanan 100%—sebuah kebijakan radikal yang akan dibahas di bab berikutnya.


3. Utang Perusahaan Membengkak 7-8 Kali Lipat: Bom Waktu yang Meledak

Jika masyarakat biasa panik karena tabungannya, para pengusaha dan korporasi mengalami teror psikologis yang jauh lebih buruk.

Mengapa? Karena sejak akhir 1980-an, banyak perusahaan Indonesia—terutama yang bergerak di sektor manufaktur, properti, dan infrastruktur—gemar meminjam dari luar negeri. Bunganya lebih murah, dan selama rupiah stabil, cicilannya terasa ringan.

Tapi ketika rupiah merosot dari Rp2.400 ke Rp16.800, setiap utang dolar membengkak 7 kali lipat. Bayangkan:

  • Utang $10 juta (Rp24 miliar di 1996) → menjadi Rp168 miliar di 1998.

  • Utang $100 juta (Rp240 miliar) → menjadi Rp1,68 triliun.

Banyak perusahaan yang sebenarnya sehat—memiliki pabrik, karyawan, dan pangsa pasar—langsung tersungkur karena beban utang yang tiba-tiba tidak terkendali.

PT Astra Internasional Tbk—raksasa otomotif Indonesia—hampir kolaps. Utangnya dalam dolar melonjak drastis. Ratusan anak perusahaan terancam tutup.

Grupo Salim—pemilik BCA, Indofood, dan puluhan perusahaan lain—terpaksa melepas aset satu per satu. BCA yang merupakan bank swasta terbesar di Indonesia saat itu harus diselamatkan oleh pemerintah melalui BPPN.

Sinar Mas Group—bisnis properti dan kertas—juga limbung. Utangnya yang dalam dolar membuat perusahaan itu seperti berjalan di atas kawat tipis.

Tapi yang paling tragis bukan nasib para konglomerat. Yang paling tragis adalah pekerja. PHK massal terjadi di mana-mana. Perusahaan tutup, pabrik berhenti beroperasi, ribuan buruh pulang dengan tangan hampa.

Data BPS mencatat: jumlah pengangguran terbuka melonjak dari 4,7% di 1996 menjadi 11,2% di 1998. Lebih dari 8 juta orang kehilangan pekerjaan. Dan mereka yang masih bekerja terpaksa menerima potongan gaji hingga 50%—jika pun gaji dibayar tepat waktu.


4. Habibie di Tengah Badai: "Saya Tidak Akan Biarkan Indonesia Bangkrut"

Pada saat rupiah menyentuh titik nadir, tekanan dari luar dan dalam semakin tak tertahankan.

  • Dari luar: IMF mendikte agar Indonesia menaikkan suku bunga setinggi-tingginya, menutup bank bermasalah, dan mengurangi subsidi. Beberapa negara G7 bahkan membicarakan kemungkinan Indonesia default—gagal bayar utang negara.

  • Dari dalam: Banyak tokoh reformasi meminta Habibie mundur karena dianggap tidak mampu. Faksi di militer, terutama yang dekat dengan Prabowo Subianto, mulai bergerak. Ada kabar burung tentang rencana kudeta.

Suatu malam, setelah rapat kabinet yang berlangsung hingga pukul 2 dini hari, Habibie memanggil beberapa menteri ekonominya ke ruang keluarga Istana. Ruangan itu tidak megah. Hanya ada sofa tua dan foto-foto keluarga. Habibie melepas jasnya, duduk di kursi malas, lalu berkata dengan suara lirih tapi tegas:

"Saudara-saudara, saya insinyur. Saya tidak tahu teori ekonomi makro yang rumit. Tapi saya tahu satu hal: pesawat yang akan jatuh tidak bisa diselamatkan dengan menambah kecepatan. Yang harus dilakukan adalah menstabilkan dulu—menghentikan jatuhnya. Lalu perbaiki mesin. Rupiah kita sekarang sedang jatuh. Tugas pertama saya: hentikan jatuhnya. Bukan dengan teriak, bukan dengan pidato, tapi dengan tindakan nyata."

Menteri-menteri itu saling pandang. Sebagian ragu. Seorang di antaranya berbisik, "Dia gila. Bukan zamannya lagi ngomong pesawat."

Tapi Habibie tidak peduli. Kejeniusannya justru terletak pada kemampuannya memisahkan kepanikan dari logika. Seperti saat ia memecahkan masalah retakan pada pesawat Fokker F28 dulu—krisis adalah teka-teki teknis, bukan bencana yang tak terpecahkan.

Malam itu juga, ia memerintahkan tim kecil yang terdiri dari beberapa ekonom muda dan staf teknis BI untuk mulai menyusun rencana stabilisasi darurat. Tidak banyak yang tahu rencana itu. Karena Habibie sadar: jika bocor ke publik, spekulan akan memanfaatkannya.

Apa isi rencana itu? Itulah yang akan kita bongkar di bab-bab selanjutnya.


Kesimpulan Bab 2: Sebuah Titik Nadir, Juga Titik Balik

Ketika rupiah ambrol ke Rp17.000, banyak yang mengatakan Indonesia sudah mati. Negara gagal. Bangsa yang tidak bisa mengelola ekonominya sendiri.

Tapi Habibie melihat dengan mata berbeda. Baginya, krisis adalah uji terbang paling ekstrem dalam karirnya sebagai insinyur sekaligus pemimpin bangsa. "Jika pesawat bisa selamat dari badai terburuk," katanya pada stafnya, "maka pesawat itu akan lebih kuat dari sebelumnya."

Ia tidak salah. Yang terjadi setelahnya—langkah-langkah kontroversial, perang melawan IMF, reformasi perbankan, dan keajaiban rupiah yang kembali menguat—akan menjadi salah satu kisah paling heroik dalam sejarah ekonomi modern Indonesia.

Tapi semua itu harus dimulai dari titik terendah: saat rupiah jatuh, nyaris tanpa harapan.


Bersambung ke Bab 3: "Keraguan Seorang Presiden yang Tak Diunggulkan"
(Mengapa dunia meremehkan Habibie—dan bagaimana ia membalikkan keadaan dengan senyuman)

BAB 3 Keraguan Seorang Presiden yang Tak Diunggulkan


awal bacaan KEJENIUSAN PRESIDEN BJ HABIBIE MENSTABILKAN RUPIAH DALAM 17 BULAN PADA TAHUN 1998

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAMUJU MISTIK: 10 KISAH GAIB YANG MENGGENTARKAN MAMUJU

PEMERINTAH DAERAH DI ERA EFISIENSI

BAB 11: KERANGKA HUKUM DAN KEBIJAKAN PENDUKUNG