BAB 3 Keraguan Seorang Presiden yang Tak Diunggulkan

 



Dunia Meremehkan, Tapi Habibie Tersenyum


"Orang Pintar yang Angkuh Akhirnya Melakukan Tindakan Bodoh"

Kalimat itu tidak diucapkan oleh musuh politik Habibie. Kalimat itu keluar dari mulut Lee Kuan Yew, Perdana Menteri Singapura yang disegani sebagai arsitek ekonomi macan asia. Dan targetnya? Bukan Soeharto, bukan Amien Rais, melainkan BJ Habibie—presiden baru Indonesia yang belum genap sebulan duduk di kursi panas.

Dalam sebuah wawancara dengan majalah asing pada pertengahan 1998, Lee berkata dengan tegas: "Naiknya Habibie bisa menghancurkan rupiah."

Kutipan itu langsung menyebar seperti api. Media Indonesia memuatnya di halaman depan. Para ekonom asing mengangguk-angguk setuju. Investor asing yang tadinya masih ragu-ragu semakin yakin untuk menarik modalnya. Dunia sepertinya bersepakat: Habibie adalah presiden yang salah di waktu yang salah.

Tapi Lee Kuan Yew tidak tahu satu hal: Habibie terbiasa dianggap remeh. Sejak kecil, sejak kuliah di Jerman, sejak berkarir di MBB, ia selalu berada di posisi underdog. Dan setiap kali diremehkan, ia membuktikan sebaliknya. Kali ini pun tidak akan berbeda.


1. "Habibie Akan Menghancurkan Rupiah": Kutukan dari Singapura

Mengapa Lee Kuan Yew begitu yakin Habibie akan gagal? Jawabannya sederhana: Habibie bukanlah tipikal pemimpin yang Lee kenal.

Lee terbiasa dengan teknokrat ekonomi seperti Widjojo Nitisastro atau Ali Wardhana—orang-orang yang lulusan ekonomi Berkeley, paham IMF, dan berbicara dalam bahasa fiscal discipline. Sementara Habibie adalah insinyur pesawat terbang. Sepanjang karirnya, Habibie lebih akrab dengan rumus fisika, grafik tegangan material, dan desain sayap pesawat, daripada kurva Philips atau neraca pembayaran.

Bagi Lee, menyerahkan ekonomi Indonesia yang sedang sekarat kepada seorang aeronautical engineer adalah sebuah kegilaan. "Dia tidak pernah mengelola keuangan negara," kata seorang menteri Singapura yang diwawancarai diam-diam. "Dia hanya tahu membuat pesawat."

Namun, kutukan Lee itu justru menjadi bahan bakar bagi Habibie. Dalam sebuah pertemuan tertutup dengan staf kepresidenan, Habibie berkata dengan logat Jerman yang khas:

"Biarkan mereka meremehkan. Saya tidak butuh gelar ekonomi dari Harvard. Saya butuh keberanian dan logika. Krisis ini adalah pesawat yang rusak. Dan saya tahu cara memperbaikinya."

Stafnya terdiam. Sebagian masih ragu. Tapi ada juga yang mulai percaya—karena nada bicara Habibie bukan sekadar omong kosong. Ia berbicara seperti seorang insinyur yang sudah menghitung setiap kemungkinan.


2. Keluarga Cendana: "Kamu Tidak Pantas Jadi Presiden"

Jika dunia internasional meragukan Habibie, tekanan yang lebih pedih justru datang dari dalam negeri—tepatnya dari lingkaran terdekat Soeharto, yang dikenal dengan istilah "Keluarga Cendana".

Setelah Soeharto mundur pada 21 Mei 1998, banyak pihak—termasuk anak-anak Soeharto—yang merasa bahwa Habibie hanyalah "pelatih sementara" yang tidak berhak meneruskan kekuasaan. Mereka menginginkan figur lain, bahkan ada yang secara terbuka melobi agar Trisno Sutanto (menantu Soeharto) atau tokoh militer tertentu menggantikan Habibie.

Namun secara konstitusional, berdasarkan Pasal 8 UUD 1945, wakil presidenlah yang berhak menggantikan presiden yang berhalangan tetap. Tidak ada pilihan lain. Habibie adalah presiden yang sah.

Tapi keluarga Cendana tidak terima. Mereka menyebarkan isu bahwa Habibie "tidak memiliki kapasitas", "hanya penjilat Soeharto", dan "tidak akan mampu mengatasi krisis". Bahkan ada cerita yang beredar di kalangan elite bahwa Ibu Tien Soeharto—istri almarhum—pernah berkata dengan sinis: "Habibie itu cuma tukang buat pesawat. Apa urusannya dengan uang negara?"

Habibie mendengar semua itu. Tapi ia memilih diam. Dalam memoarnya "Detik-Detik yang Menentukan", ia menulis:

"Saya tidak dendam. Saya hanya ingin membuktikan bahwa saya bisa. Bukan untuk mereka. Untuk rakyat."

Sikapnya yang tidak membalas dendam ini menunjukkan kedewasaan yang jarang dimiliki politisi. Namun, di balik ketenangan itu, ada luka. Karena Habibie sebenarnya memiliki hubungan emosional yang dalam dengan Soeharto—sosok yang menutup mata ayahnya saat meninggal dunia, dan yang memanggilnya pulang dari Jerman untuk mengabdi pada bangsa. Tapi keluarga Cendana melupakannya.


3. Faksi Militer dan Oposisi: Panggung yang Tidak Dirancangnya

Selain keluarga Cendana, Habibie juga harus berhadapan dengan dua kekuatan besar yang sama-sama tidak mengakuinya:

a) Faksi Militer yang Terpecah

Di tubuh ABRI (saat itu belum terpisah menjadi TNI dan Polri), ada dua kubu besar:

  • Kubu Wiranto: Panglima ABRI yang setia pada konstitusi. Ia menerima Habibie sebagai presiden sah, meski dengan berat hati.

  • Kubu Prabowo Subianto: Menantu Soeharto yang saat itu menjabat Pangkostrad. Prabowo dan pendukungnya merasa bahwa Habibie adalah "boneka" yang tidak berhak memimpin. Bahkan, beberapa hari setelah Habibie dilantik, beredar kabar bahwa pasukan Kostrad bergerak menuju Istana dan rumah Habibie di Kuningan. Ada dugaan upaya kudeta.

Habibie mendapat laporan itu dari Wiranto. Dalam buku "Detik-Detik yang Menentukan", ia menceritakan bagaimana ia tetap tenang meski tahu pasukan bersenjata mungkin sedang bergerak ke arahnya. Ia memerintahkan Wiranto: "Sebelum matahari terbenam, kembalikan semua pasukan ke markasnya masing-masing."

Prabowo kemudian dipindahtugaskan ke Sekolah Staf dan Komando (Sesko) di Bandung—sebuah bentuk pencopotan halus. Tapi ketika Prabowo datang ke Istana untuk memprotes, Habibie tetap menerimanya dengan hormat. "Saya tahu keluarga Sumitro (ayah Prabowo) adalah keluarga intelektual yang saya idolakan sejak SMA," tulis Habibie. "Saya tidak mau menghina mereka."

Sikap Habibie yang tidak balas dendam bahkan terhadap orang yang diduga ingin menggulingkannya membuat Wiranto terkesan. "Beliau negarawan sejati," kata Wiranto dalam sebuah wawancara kemudian.

b) Oposisi Reformasi: "Habibie Harus Segera Pergi"

Di luar militer, para aktivis reformasi dan tokoh oposisi seperti Amien Rais, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dan Megawati Soekarnoputri juga tidak mengakui pemerintahan Habibie. Bagi mereka, Habibie adalah bagian dari Orde Baru yang harus dibersihkan.

  • Amien Rais dengan lantang menuntut Habibie mundur dan menyerahkan kekuasaan kepada presiden baru hasil pemilu.

  • Gus Dur menyebut pemerintahan Habibie tidak memiliki legitimasi karena MPR tidak bersidang.

  • Megawati dan PDI Perjuangan menolak berkoordinasi dengan Istana.

Puncaknya, pada November 1998, puluhan ribu mahasiswa menolak sidang istimewa MPR karena tidak mengakui Habibie. Demonstrasi berujung pada tragedi Semanggi I, di mana 15 mahasiswa tewas tertembak.

Habibie menangis mendengar kabar itu. Ia segera memerintahkan agar tidak ada lagi tembakan ke arah mahasiswa. "Saya tidak ingin darah mahasiswa jatuh karena saya," katanya.

Namun, meski tidak diakui, Habibie tidak lari dari tanggung jawab. Ia tetap menjalankan roda pemerintahan, bahkan mengambil langkah-langkah reformasi yang justru tidak pernah berani diambil Soeharto selama 32 tahun: kebebasan pers, pembebasan tahanan politik, pemilu multipartai, dan referendum Timor Timur.

Ironisnya, orang yang paling tidak diinginkan oleh kaum reformis itulah yang justru memberikan reformasi paling fundamental.


4. Tekanan IMF: "Kami Butuh Anda, Tapi Jangan Mendikte Kami"

Satu lagi musuh besar yang harus dihadapi Habibie: IMF (Dana Moneter Internasional).

Sejak krisis 1997, Indonesia terpaksa meminta bantuan IMF dengan total pinjaman mencapai $43 miliar—salah satu paket penyelamatan terbesar dalam sejarah IMF. Tapi bantuan itu datang dengan syarat yang sangat berat, yang dikenal sebagai letter of intent (LoI). Isinya antara lain:

  • Menutup 16 bank (yang kemudian menyebabkan kepanikan dan bank rush).

  • Menaikkan suku bunga setinggi-tingginya.

  • Menghapus subsidi BBM dan listrik.

  • Mengurangi belanja pemerintah secara drastis.

Ketika Habibie menjadi presiden, tim IMF datang ke Jakarta dengan sikap arogansi khas lembaga keuangan global. Mereka mengira Habibie akan tunduk seperti Soeharto.

Mereka salah besar.

Dalam pertemuan pertama dengan Direktur Pelaksana IMF saat itu, Michel Camdessus, Habibie dengan tegas menyatakan:

"Kami butuh bantuan Anda. Tapi jangan mendikte kami. Indonesia adalah negara berdaulat. Saya yang memutuskan kebijakan, bukan Anda."

Camdessus terkejut. Tidak ada pemimpin Asia yang berani bicara seperti itu kepada IMF. Tapi Habibie tidak gentar. Ia mempertahankan subsidi BBM dan listrik—sesuatu yang sangat ditentang IMF—dengan alasan melindungi daya beli rakyat miskin.

"Bapak-bapak IMF mungkin pintar ekonomi," kata Habibie dalam rapat kabinet, "tapi mereka tidak pernah hidup di gubuk tanpa listrik. Saya tahu rakyat saya butuh harga murah. Subsidi tetap berjalan."

Keputusan itu berani, bahkan nekad. Tapi hasilnya? Daya beli masyarakat terjaga, inflasi bisa dikendalikan, dan kemiskinan tidak melonjak lebih parah. IMF akhirnya mengakui bahwa kebijakan Habibie justru lebih efektif daripada resep standar mereka.


5. Tapi Habibie Tidak Pernah Dendam

Di tengah semua keraguan, hinaan, dan tekanan, ada satu hal yang membuat Habibie berbeda: ia tidak pernah menyimpan dendam.

Ketika ditanya dalam acara Kick Andy (2006) apakah ia pendendam dengan lawan-lawan politiknya, Habibie tertawa kecil lalu menjawab:

"Kalau orang kritik saya, dia maki-maki saya, dia punya pendapat. Jangan langsung saya pukul. Saya harus buktikan, bukan dengan omongan, tapi dengan kerja keras."

Ia juga menceritakan bagaimana ia tetap menghormati keluarga Cendana meski mereka merendahkannya. Bahkan terhadap Prabowo—yang diduga ingin menggulingkannya—Habibie tetap menerima kunjungannya dengan tangan terbuka.

"Saya tidak merasa dihina. Saya presiden. Saya yang menentukan."

Sikap itulah yang kemudian membuat banyak orang berubah pikiran. Bahkan Lee Kuan Yew, beberapa tahun kemudian, secara pribadi mengakui bahwa penilaiannya tentang Habibie mungkin terlalu keras. "Saya salah,"* kata seorang diplomat Singapura yang pernah mendengar pengakuan Lee.


Penutup Bab 3: Panggung yang Tidak Dirancang, Tapi Dijalani dengan Sempurna

Habibie tidak pernah bercita-cita menjadi presiden. Ia ingin membuat pesawat terbang. Tapi sejarah berkata lain.

Ketika panggung itu dipaksakan kepadanya—oleh krisis, oleh keraguan, oleh cemoohan—ia tidak lari. Ia justru berdiri lebih tegak. Ia membuktikan bahwa kejeniusan bukan tentang gelar, bukan tentang latar belakang, tetapi tentang keberanian mengambil keputusan di saat genting, dengan hati nurani sebagai kompas.

Kini, dunia mulai bertanya: mampukah seorang insinyur yang diremehkan ini benar-benar menyelamatkan rupiah? Jawabannya akan terungkap di bab-bab berikutnya. Karena apa yang dilakukan Habibie setelah menerima semua keraguan itu—strategi ekonominya yang unik, perang melawan IMF, reformasi perbankan yang radikal—akan mengubah sejarah.

Bersambung ke Bab 4: "Pendekatan Unik Sang Insinyur – Analogi Pesawat Terbang untuk Ekonomi"
(Mengapa Habibie melihat krisis sebagai pesawat yang kehilangan daya angkat, dan bagaimana ia menerbangkannya kembali)

BAB 4 Analogi Pesawat Terbang untuk Ekonomi


awal bacaan KEJENIUSAN PRESIDEN BJ HABIBIE MENSTABILKAN RUPIAH DALAM 17 BULAN PADA TAHUN 1998

Komentar