MATTOLABALI Penyatu Dua Takhta, Pendiri Mamuju


PRAKATA

 

Mengapa Buku Ini Ditulis?

Setiap tanah memiliki ingatannya sendiri. Di Mamuju, ingatan itu dulu tersimpan rapi dalam lembaran-lembaran daun lontar yang dirangkai menjadi naskah kuno: Lon
tarak Tokaiyang di Padang, Lontarak Tobara, Lontarak Tomakaka, Lontarak Pappituang, Lontarak Punggaba
, dan Lontarak Anak di Sese. Naskah-naskah itu adalah pusaka terpenting Kerajaan Mamuju—mereka mencatat silsilah raja, hukum adat, perjanjian dengan kerajaan tetangga, serta kisah tentang bagaimana dua kerajaan, Kurri-Kurri dan Langga Monar, bersatu menjadi Mamuju. Namun ketika pemberontakan DI/TII melanda Mamuju pada 1957-1958,
bumi Mamuju dibumihanguskan. Dalam kobaran api itu, sebagian besar lontarak musnah. Yang tersisa hanyalah fragmen-fragmen yang disimpan diam-diam oleh beberapa keluarga bangsawan, serta ingatan lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Kehilangan sumber tertulis bukan berarti sejarah Mamuju harus tenggelam. Justru di sinilah tantangan dan panggilan terbesar: merekonstruksi masa lalu dari serpihan-serpihan yang masih ada. Buku ini lahir dari kesadaran bahwa meskipun lontarak-lontarak asli banyak yang hilang, kita masih memiliki tiga pintu masuk menuju kebenaran sejarah: tradisi lisan yang hidup dalam syair keke dan ritual adat, bukti arkeologis seperti patung Buddha bergaya Amarawati di Sikendeng, gerabah kuno di Gattungan, serta pelabuhan Kurri-Kurri yang hingga kini masih dikenal masyarakat Simboro, dan yang tidak kalah penting, metode sejarah yang kritis.

Penulisan buku ini mengikuti empat langkah metode sejarah secara sistematis. Pertama, pengumpulan datasumber tulisan Syahrir Kila menelusuri berbagai pustaka di Makassar, mewawancarai tetua adat di Mamuju, dan mempelajari hasil penelitian arkeologi terbaru. Kedua, kritik sumber—setiap cerita lisan dibandingkan dengan bukti fisik yang ada; setiap klaim dalam lontarak yang selamat diuji konsistensinya. Banyak keterangan yang tidak memiliki pembanding—dalam kondisi seperti itu, saya terpaksa menggunakannya dengan catatan kehati-hatian. Ketiga, interpretasi—merangkai fakta-fakta yang terpisah menjadi satu narasi yang utuh, logis, dan tidak bertentangan dengan konteks zamannya. Keempat, penulisan—menyajikan hasil rekonstruksi dalam bentuk kisah sejarah yang deskriptif-analitis, mudah diakses namun tetap ilmiah.

Mengapa semua kerja detektif ini penting? Karena tanpa rekonstruksi yang jujur, sejarah Mamuju akan dikuasai oleh dua ekstrem: mitos yang mengaburkan fakta atau kekosongan yang melahirkan ketidakpedulian. Selama ini, banyak orang beranggapan bahwa kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan lahir dari tomanurung—makhluk gaib yang turun dari langit. Buku ini menunjukkan bahwa Mamuju berbeda. Ia lahir dari keputusan politik yang sangat manusiawi: pernikahan, mahar (sorong), dan persatuan dua kerajaan oleh seorang pemuda bernama Mattolabali. Ia bukanlah raja pertama yang memerintah—kita akan melihat bahwa takhta Mamuju justru diwariskan kepada keturunan Pammarica dari Balanipa, sementara keturunan Mattolabali memegang tampuk adat sebagai baligau. Fakta ini tidak mengurangi kebesaran Mattolabali; justru membuatnya lebih nyata, lebih heroik dalam cara yang manusiawi.

Buku ini juga ditulis untuk generasi muda Mamuju yang selama ini hanya mengenal ibukota provinsi mereka sebagai tempat administrasi, tanpa mengetahui bahwa di tanah yang sama, pada abad ke-16, pelabuhan Simboro disinggahi kapal-kapal Portugis, Johor, dan Kutai; bahwa di lembah Karama, para arkeolog menemukan gerabah bergaya Vietnam yang berusia 2.000 tahun; bahwa hukum Marru’dua Gala'gar dengan prinsip sipakatau (saling memanusiakan) telah menjadi landasan keadilan laut sejak berabad-abad silam. Sejarah adalah fondasi identitas. Tanpa fondasi itu, sebuah daerah akan mudah goyah diterpa arus perubahan.

Tak lupa, saya menyampaikan terima kasih kepada Syahrir Kila (La Saruji) yang artikel jurnalnya pada 2019 menjadi rujukan utama rekonstruksi ini. Kepada para tetua adat Mamuju yang masih setia menjaga cerita leluhur, kepada tim arkeolog yang terus menggali situs-situs di Simboro dan Kalumpang, serta kepada Pemerintah Kabupaten Mamuju yang mendukung pendokumentasian sejarah lokal. Buku ini adalah persembahan kecil untuk tanah Mamuju—semoga menjadi satu jembatan antara masa lalu yang hampir terlupa dan masa depan yang penuh harapan.

Selamat membaca. Semoga buku ini membuka mata kita bahwa sebuah kerajaan tidak selalu lahir dari langit; kadang ia lahir dari keberanian seorang anak muda yang memilih menyatukan daripada memisahkan.

Mamuju, 8 Mei 2026

Penyusun


farid asyhadi

 

 

 

PENGANTAR

 

Metode Menulis Sejarah Mamuju

Merangkai Fakta dari Lontarak, Tutur, dan Tanah

Setiap kisah sejarah membutuhkan tiga hal: ingatan, bukti, dan keberanian untuk menghubungkan keduanya. Dalam buku ini, ingatan datang dari lontarak—naskah kuno yang ditulis di atas daun lontar, yang meskipun rapuh dimakan usia dan banyak yang musnah dalam tragedi 1957-1958, masih menyisakan aksara-aksara tentang raja-raja Kurri-Kurri dan Langga Monar. Bukti datang dari tanah itu sendiri: arca Buddha bergaya Amarawati yang ditemukan di Sikendeng, pecahan gerabah bercorak Vietnam di lembah Karama, serta keramik dan manik-manik yang berserak di situs Gattungan, Simboro. Dan keberanian adalah milik para peneliti seperti Syahrir Kila (La Saruji) yang pada 2019 berani menggabungkan ketiga sumber ini—lontarak, tradisi lisan, dan arkeologi—untuk merekonstruksi sejarah awal Mamuju yang selama ini nyaris terlupakan.

Tiga Pilar Metode Sejarah

Penulisan buku ini tidak lahir dari imajinasi, tetapi dari kerja detektif historis yang mengikuti empat langkah metodologi: pengumpulan data, kritik sumber, interpretasi, dan penulisan. Berikut adalah tiga pilar sumber yang menjadi fondasi setiap bab di dalamnya.

1. Lontarak: Memori Tertulis yang Rapuh namun Berharga

Lontarak (atau lontaraq) adalah naskah tradisional masyarakat Bugis-Makassar-Mandar yang ditulis di atas daun lontar yang dirangkai. Di wilayah Mamuju dan bekas afdeling Mandar, lontarak-lontarak ini masih disimpan oleh keluarga bangsawan dan pemangku adat, meskipun banyak yang kondisinya memprihatinkan. Beberapa di antaranya telah dikoleksi oleh Museum Mamuju.

Lontarak yang menjadi rujukan utama buku ini antara lain mengisahkan silsilah raja Kurri-Kurri, pernikahan Tarapati dan Tomellipa Karoro, kelahiran Mattolabali, serta penggabungan dua kerajaan menjadi Mamuju. Namun, lontarak memiliki kelemahan: seringkali ditulis berabad-abad setelah peristiwa, dengan sisipan unsur mitologis. Oleh karena itu, ia harus selalu dibandingkan dengan sumber lain. Dalam buku ini, setiap informasi dari lontarak selalu diuji silang dengan tradisi lisan dan temuan arkeologis.

2. Tradisi Lisan: Suara Leluhur yang Tidak Pernah Padam

Di Mamuju, tradisi lisan masih sangat kuat. Cerita tentang Mattolabali tidak hanya ada dalam lontarak, tetapi juga dalam syair keke (puisi epik yang dilantunkan dalam upacara adat), dalam petuah para tetua Galaggar Pitu (dewan adat tujuh), dan dalam ritual tahunan Massossor Manurung yang setiap dua tahun sekali mencuci pusaka kerajaan.

Penelitian Syahrir Kila (2019) sangat bergantung pada wawancara dengan masyarakat Simboro dan para pemangku adat yang masih mengingat nama Kurri-Kurri sebagai "cikal bakal Mamuju". Tradisi lisan memang rentan terhadap perubahan, tetapi ia juga menyimpan memori jangka panjang yang kadang lebih otentik daripada teks tertulis. Dalam buku ini, setiap cerita lisan yang digunakan telah melalui verifikasi silang dengan sumber lain dan dicantumkan nama narasumber serta konteks penuturannya.

3. Arkeologi: Jejak Benda yang Tidak Bisa Berbohong

Tanah Mamuju menyimpan harta karun yang tak ternilai. Beberapa temuan kunci yang menjadi pijakan penulisan buku ini:

·         Arca Buddha yang ditemukan di Sikendeng, Sampaga, bergaya Amarawati (India Selatan, abad ke-3 hingga ke-5 M). Arca perunggu ini membuktikan bahwa kontak maritim antara Mamuju dan Asia Selatan sudah terjadi sejak 1.500 tahun sebelum Mattolabali. Arca ini kini disimpan di Museum Nasional Jakarta, tetapi replikanya dapat dilihat di Museum Mamuju.

·         Situs Gattungan di Simboro Selatan menghasilkan keramik, manik-manik, dan artefak logam yang mengindikasikan perdagangan internasional pada abad-abad awal Masehi. Temuan ini memperkuat tesis bahwa Pelabuhan Kurri-Kurri (Simboro) telah menjadi simpul niaga jauh sebelum Kerajaan Mamuju berdiri.

·         Situs Palemba/Lembah Karama yang diteliti oleh tim arkeologi Universitas Gadjah Mada pada 2023 menemukan pecahan tembikar mengandung logam dan tempayan dari zaman Paleometalik (sekitar 2.000 tahun lalu). Menariknya, gerabah dari situs ini memiliki kemiripan dengan gaya Sahuyn di Vietnam—sebuah bukti koneksi lintas kawasan yang sangat awal.

·         Pelabuhan Kurri-Kurri di Simboro, yang hingga kini masih berfungsi sebagai pelabuhan feri ke Balikpapan, merupakan bukti hidup keberlanjutan lokasi strategis ini. Nama "Kurri-Kurri" sendiri masih dikenal oleh nelayan dan tetua setempat.

Semua ini bukan kebetulan: Mamuju adalah simpul yang telah menghubungkan berbagai peradaban sejak ribuan tahun silam. Dengan menggabungkan lontarak (sebagai narasi), tradisi lisan (sebagai konteks), dan arkeologi (sebagai fakta material), buku ini merekonstruksi sejarah Mamuju dengan tingkat kepercayaan yang jauh lebih tinggi daripada sekadar mengandalkan satu sumber.

Catatan Penting tentang Keterbatasan

Pembaca perlu menyadari bahwa buku ini ditulis di tengah keterbatasan sumber yang parah. Sebagaimana disebutkan dalam Prakata, sebagian besar lontarak asli musnah dalam peristiwa DI/TII 1957-1958. Akibatnya, banyak detail yang tidak dapat dipastikan secara absolut—misalnya tahun pasti kelahiran Mattolabali, nama lengkap semua raja antara Tarapati dan Pammarica, atau lokasi pasti Kedaton Danga. Dalam kasus-kasus seperti ini, buku ini menyebutkan secara terbuka bahwa informasi tersebut adalah "perkiraan berdasarkan tradisi lisan" atau "hipotesis berdasarkan bukti arkeologis tidak langsung".

Tujuan penulisan buku ini bukanlah mengklaim kebenaran mutlak, melainkan menyajikan rekonstruksi terbaik yang dapat dicapai dengan metode ilmiah saat ini. Semoga ke depannya, semakin banyak penelitian arkeologi dan filologi yang dilakukan di Mamuju untuk mengisi kekosongan yang masih ada.

 

Bagian 1: Akar Sebelum Persatuan

 

Bab 1 | Kerajaan Kurri-Kurri: Pelabuhan Internasional Sejak Abad ke-7

 

1.1 Tomaballa Pala Bitti’na: Pendiri Kerajaan Kurri-Kurri

Di pesisir barat Pulau Sulawesi, tempat ombak Selat Makassar membisikkan rahasia kepada karang dan pohon nyiur, berdirilah sebuah kerajaan yang namanya hampir dilupakan angin: Kurri-Kurri. Kata "Kurri-Kurri" dalam lontarak tua berarti "tempat yang selalu berombak". Dan memang, kerajaan ini lahir dari ombak.

Menurut legenda yang tercatat dalam lontarak Mandar, pendiri Kerajaan Kurri-Kurri adalah Tomaballa Pala Bitti’na. Ia diperkirakan mendirikan kerajaan ini pada abad ke-7 Masehi—masa ketika di Jawa Timur berdiri kerajaan Kanjuruhan dan di Sumatera Sriwijaya mulai mengembangkan sayapnya. Tomaballa digambarkan sebagai seorang perantau yang tiba di teluk yang kini dikenal sebagai Simboro dan memutuskan untuk tidak melanjutkan pelayaran. Ia menancapkan pancang di muara sungai, mendirikan perkampungan berbenteng, dan menyebutnya Kurri-Kurri.

Siapa sebenarnya Tomaballa Pala Bitti’na? Naskah lontarak hanya memberinya satu kalimat: "Ia yang pertama menancapkan pancang di muara, yang melihat ombak dan berkata: di sini takhta akan berdiri." Para tetua adat Mamuju meyakini bahwa Tomaballa berasal dari wilayah Camba-Cambaya (sekarang bagian dari Sulawesi Selatan), namun ada juga yang menghubungkannya dengan pelaut-pelaut dari Kutai yang terbawa arus ekspansi perdagangan. Yang pasti, ia bukan sekadar kepala suku; ia adalah pemimpin yang paham peta angin dan bintang. Ia memilih muara sungai yang tenang namun terlindung dari badai—sebuah teluk alami yang kelak menjadi pelabuhan tersibuk di pesisir barat Sulawesi sebelum kejayaan Gowa.

Meskipun tidak banyak yang diketahui tentang masa pemerintahannya, Tomaballa mewariskan dua hal penting: pengetahuan maritim dan tradisi pelabuhan bebas. Ia mengajarkan kepada penerusnya cara membaca tanda-tanda alam—warna langit di pagi hari, arah angin, tinggi rendah ombak, dan seberapa terendam akar pohon beringin di tanjung sebagai penanda pasang-surut. Pengetahuan ini, yang disebut Tette' Passi' (ukuran air), menjadi rahasia dagang yang dijaga mati-matian dan kelak menjadi fondasi kejayaan Kurri-Kurri.

1.2 Simboro: Pelabuhan yang Disambut Portugis, Johor, dan Kutai

Pada puncak kejayaannya, Kurri-Kurri memiliki pelabuhan besar yang dinamakan sama dengan nama kerajaan: Pelabuhan Kurri-Kurri—yang kini dikenal sebagai Simboro. Letaknya sangat strategis: di jalur utara perdagangan rempah, setelah kapal-kapal melewati Kalimantan dan sebelum masuk ke perairan Sulawesi Utara menuju Maluku. Pada abad ke-16, ketika Malaka jatuh ke tangan Portugis (1511), para saudagar mencari pelabuhan alternatif. Simboro menjadi salah satu tujuan utama.

Tiga kekuatan maritim besar tercatat sering bersandar di Simboro:

·         Portugis: Sesuai catatan sejarah, bangsa Portugis menjadikan Pelabuhan Kurri-Kurri sebagai persinggahan utama untuk mengakses komoditas dari kepulauan rempah-rempah di timur, seperti Maluku, sekaligus sebagai pelabuhan transit yang aman di rute menuju Kerajaan Siang (Pangkajene).

·         Kesultanan Johor: Didirikan pada 1528 oleh putra Sultan Mahmud Shah dari Malaka, Johor adalah pesaing utama Portugis. Mereka mengandalkan jaringan pelabuhan yang luas, termasuk Simboro, untuk melanjutkan perdagangan rempah. Hubungan erat antara Johor dan Kurri-Kurri bahkan disebut-sebut dalam naskah lontarak sebagai "persahabatan yang melampaui laut".

·         Kerajaan Kutai: Di Kalimantan Timur, Kutai adalah kerajaan tertua di Indonesia (abad ke-4 M). Hubungan dagang dan perkawinan politik antara Kutai dan Kurri-Kurri berlangsung intensif. Bahkan, Raja Tarapati (cucu Tomaballa) dikabarkan memiliki hubungan darah dengan garis keturunan Mulawarman, maharaja Kutai yang termasyhur.

Selain ketiga bangsa tersebut, kapal-kapal dari Gujarat, Tiongkok (Dinasti Ming akhir), Buton, Banggai, dan Ternate juga rutin singgah. Komoditas yang diperdagangkan sangat beragam: rotan untuk tali kapal, damar untuk melapisi kayu, madu dan gaharu untuk wewangian, mutiara, teripang, serta cangkang penyu—yang sangat diminati di pasar Eropa dan Tiongkok.

Pelabuhan Simboro juga menjadi pusat informasi. Para saudagar yang datang dari Malaka membawa kabar tentang politik di Semenanjung; dari Jawa membawa berita tentang perang saudara di Demak; dari Tiongkok membawa informasi tentang harga sutra. Raja Kurri-Kurri memerintahkan agar semua informasi ini dicatat, menjadikan kerajaan ini sebagai salah satu yang paling update tentang situasi global pada zamannya.

1.3 Hukum Maritim Marru’dua Gala’gar: Tiga Pilar Keadilan (Sipakatau, Sipakainge’, Sipatokkong)

Sebuah pelabuhan besar membutuhkan aturan. Di sinilah Kurri-Kurri menunjukkan kecanggihan tata kelolanya. Raja-raja Kurri-Kurri menyusun hukum maritim bernama Marru’dua Gala’gar—secara harfiah "dua sisi mata tombak". Maksudnya, hukum ini memiliki dua sisi: melindungi pedagang asing sekaligus memberdayakan warga pribumi. Hukum ini tidak diciptakan dalam sehari; ia adalah akumulasi kebijaksanaan para pelaut, saudagar, dan tetua Kurri-Kurri sejak masa Tomaballa Pala Bitti’na (abad ke-7). Pada masa Raja Tarapati (abad ke-16), hukum ini sudah mencapai bentuk finalnya, terdiri dari tiga pilar utama:

1. Sipakatau – Saling Memanusiakan

"Sipakatau mangga unti, unti mangga sipakatau." (Kita memanusikan orang lain karena orang lain akan memanusikan kita.)

Prinsip pertama adalah jaminan keselamatan jiwa dan harta. Setiap kapal yang merapat di Simboro wajib melapor ke Benteng Pasar (kantor pelabuhan) dan menyerahkan sekeping kain putih sebagai tanda hormat kepada raja. Bukan pajak yang berat—hanya simbol bahwa mereka mengakui otoritas hukum Kurri-Kurri.

Sebagai balasannya, kerajaan memberikan janji suci: barang dagangan akan aman. Jika ada pencurian atau perompakan di perairan Simboro, kerajaan wajib mencari pelakunya dan mengganti kerugian korban tiga kali lipat. Jika kerajaan gagal melindungi, maka raja sendiri yang harus membayar ganti rugi dari kas kerajaan. Sistem ini menciptakan rasa percaya yang langka pada zamannya. Sebuah catatan lontarak menyebutkan bahwa ketika seorang saudagar Gujarat kehilangan 30 peti lada di dermaga, Raja Tarapati tidak hanya menghukum petugas yang lalai, tetapi juga memerintahkan kas kerajaan membayar 90 peti lada sebagai ganti rugi. Berita ini tersiar hingga ke Malaka dan menjadikan Simboro sebagai pelabuhan yang paling dicari para pedagang.

2. Sipakainge' – Saling Mengingatkan

"Sipakainge' riasang, riasang sipakainge'." (Kita mengingatkan satu sama lain, karena kita semua akan mati.)

Prinsip kedua adalah larangan perbudakan di seluruh wilayah Kerajaan Kurri-Kurri. Pada abad ke-16, perbudakan adalah praktik umum di hampir semua pelabuhan Nusantara. Namun Kurri-Kurri mengambil sikap berani: tidak ada seorang pun yang boleh diperbudak di daratan maupun perairan yang dikuasai kerajaan.

Hukum ini berlaku tidak hanya bagi penduduk asli, tetapi juga bagi budak yang dibawa oleh kapal asing. Jika seorang saudagar Portugis membawa budak, mereka boleh tetap berada di kapal, tetapi tidak boleh dibawa ke darat. Begitu menginjak daratan Simboro, budak itu secara otomatis menjadi manusia merdeka. Tidak heran jika kemudian banyak budak yang melarikan diri ke Kurri-Kurri, menjadikan kerajaan ini sebagai surga kecil bagi mereka yang terpinggirkan. Sanksi bagi pelanggar sangat berat: pengusiran ke pulau tak berpenghuni (Pulau Karampuang di selatan Mamuju). Hanya dua orang yang tercatat pernah dihukum selama 150 tahun berlakunya hukum ini.

3. Sipatokkong – Saling Menegakkan Keadilan

"Sipatokkong lima-lima, teteng sipatokkong." (Kita saling menegakkan keadilan, karena keadilan adalah tiangnya.)

Prinsip ketiga adalah yang paling revolusioner: hakim pelabuhan dipilih oleh para saudagar, bukan diangkat oleh raja. Setiap tahun, saat musim barat (Oktober–Maret), kapal-kapal yang singgah di Simboro akan berkumpul untuk memilih seorang Hakim Pasar dari antara mereka sendiri. Hakim ini bertugas menyelesaikan sengketa dagang, mengawasi timbangan dan takaran, serta menjatuhkan hukuman bagi pelanggar.

Bayangkan demokrasi ini terjadi pada abad ke-16, jauh sebelum revolusi Perancis atau Amerika! Seorang saudagar Bugis, seorang Tionghoa, seorang Melayu, semua punya suara yang sama. Raja hanya bertindak sebagai pengawas terakhir; ia tidak bisa membatalkan putusan hakim kecuali ada bukti pelanggaran hukum yang jelas. Seorang penjelajah Portugis yang tersesat ke Simboro pada 1525 menulis dalam catatannya yang tersimpan di Lisbon: "Mereka memiliki hakim yang tidak bisa disuap. Seorang Keling (India Selatan) pernah menang melawan pangeran setempat dalam sengketa timbangan. Luar biasa."

Dengan tiga pilar ini, Kurri-Kurri tidak hanya menjadi pelabuhan yang ramai, tetapi juga laboratorium tata kelola maritim yang canggih. Kepercayaan internasional, ekonomi yang stabil, integrasi sosial, dan legitimasi raja adalah buah dari hukum ini.

1.4 Tomentengkudu Gassa dan Jaringan Nusantara

Setelah Tomaballa Pala Bitti’na wafat, Kerajaan Kurri-Kurri diteruskan oleh Tomentengkudu Gassa. Namanya diabadikan dalam salah satu peninggalan paling misterius: Bujung Gassa di Rangas, sebuah batu besar yang konon digunakan sebagai tempat menyimpan pusaka. Di masa pemerintahannyalah Kurri-Kurri mengalami perkembangan pesat yang ditandai dengan diadakannya hubungan bilateral dan multilateral dengan beberapa kerajaan Nusantara.

Tomentengkudu Gassa dikenal sebagai raja yang pertama kali membuka hubungan diplomatik dengan Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur (kerajaan tertua di Indonesia) dan Kesultanan Johor di Semenanjung Malaka. Menurut lontarak, ia mengirim utusan ke Kutai membawa hadiah: sepuluh potong kain tenun khas Mamuju, gading gajah, dan sekarung mutiara. Raja Kutai terkesan dan membalas dengan mengirim seorang putri bangsawan untuk dinikahkan dengan putra mahkota Kurri-Kurri. Dari sinilah benih hubungan darah antara Kutai dan Kurri-Kurri mulai terbentuk—yang kelak mencapai puncaknya pada masa Raja Tarapati, yang digelari Toma’dua Lemba karena keturunan gandanya.

Tomentengkudu Gassa juga memperluas jaringan ke arah timur. Ia mengirim ekspedisi ke Kepulauan Maluku (pusat rempah-rempah), ke Buton, dan ke Banggai. Tujuan utamanya bukan perang, melainkan perjanjian dagang eksklusif. Hasilnya, Kurri-Kurri berhasil mendapatkan hak membeli cengkeh dan pala langsung dari para petani di Maluku, tanpa perantara. Ini membuat harga rempah di pelabuhan Simboro jauh lebih murah dibandingkan di pelabuhan lain.

Di bawah kepemimpinan Tomentengkudu Gassa, Kurri-Kurri juga mulai dikenal dalam peta-peta Eropa. Meskipun tidak ada atlas dari abad ke-11 yang masih utuh, para peneliti modern meyakini bahwa pelabuhan Kurri-Kurri telah menjadi simpul penting dalam jaringan niaga Nusantara abad pertengahan. Bukti arkeologis seperti fragmen porselen Tiongkok dari Dinasti Song (960-1279) yang ditemukan di situs Gattungan, Simboro Selatan, mengonfirmasi bahwa hubungan dengan Tiongkok sudah berlangsung jauh sebelum kedatangan Portugis.

Ketika Tomentengkudu Gassa turun takhta, ia digantikan oleh Tarapati—seorang bangsawan yang mempunyai hubungan darah dengan Kerajaan Kutai (Mulawarman). Tarapati inilah yang kelak akan menjadi raja terakhir Kurri-Kurri sebelum penyatuan dengan Langga Monar. Namun kisah Tarapati, pernikahannya dengan Tomellipa Karoro, serta lahirnya Kerajaan Langga Monar sebagai maskawin, akan kita ikuti dalam bab selanjutnya.

Penutup Bab 1: Kerajaan Kurri-Kurri bukanlah kerajaan kecil yang tidak berarti. Ia adalah kerajaan maritim yang disegani, dengan pelabuhan internasional, hukum yang canggih, dan jaringan diplomatik yang membentang dari Kutai hingga Johor. Warisan inilah yang kelak diwariskan kepada Mattolabali—seorang pemuda yang lahir dari pernikahan antara Kurri-Kurri dan Langga Monar, dan yang akan menyatukan keduanya menjadi Mamuju.

 

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAMUJU MISTIK: 10 KISAH GAIB YANG MENGGENTARKAN MAMUJU

PEMERINTAH DAERAH DI ERA EFISIENSI

BAB 11: KERANGKA HUKUM DAN KEBIJAKAN PENDUKUNG