Bab 9: Peran Atase Pertahanan sebagai Intelijen Terbuka
Bagian IV: Pelajaran dan Warisan Operasi
Intelijen
Bab 9: Peran Atase Pertahanan sebagai Intelijen Terbuka
Dari Seragam Tempur ke Jas Diplomatik: Sebuah Perjalanan yang Tak Terduga
Mayor Jenderal TNI Purnawirawan Victor Hasudungan Simatupang tidak pernah membayangkan akan menghabiskan separuh kariernya sebagai seorang intelijen terbuka. Ia memulai karier sebagai prajurit lapangan—komandan peleton, komandan kompi, hingga akhirnya bertugas dalam misi pemeliharaan perdamaian PBB di Kamboja, Kongo, Lebanon, dan Sudan. Di setiap penugasan, ia dikenal sebagai perwira yang tenang, cermat, dan tidak suka menarik perhatian.
Namun takdir berkata lain. Setelah bertahun-tahun di satuan tempur, ia dimutasikan ke dunia intelijen. Awalnya sebagai atase pertahanan di Washington, D.C., kemudian sebagai perwira intelijen di Badan Intelijen Negara (BIN), hingga akhirnya ditugaskan sebagai Atase Pertahanan untuk Afrika Selatan—posisi yang membawanya ke dalam pusaran krisis pembajakan MV Sinar Kudus.
“Jadi dari tadi apa namanya? Setelah disatuan, masuk dunia intelijen itu karena dari background-nya,” kenang Victor dalam wawancara dengan Kompas.com. “Atase pertahanan baru di setelah pulang ditugaskan ke Amerika Serikat, eh ke apa, ke BIN.”
Apa yang membuat Victor berbeda dari kebanyakan perwira TNI lainnya adalah kemampuannya untuk beradaptasi. Dari seorang komandan yang terbiasa memberi perintah, ia berubah menjadi seorang pendengar yang sabar. Dari seorang prajurit yang mengandalkan kekuatan fisik, ia belajar bahwa informasi adalah senjata paling mematikan.
Membuka Jalan di Negeri Paman Sam: Pengalaman Pertama sebagai Intelijen Terbuka
Tugas pertamanya di dunia intelijen bukanlah misi rahasia di negara musuh, melainkan membuka kantor perwakilan BIN pertama di Amerika Serikat. Sebuah tugas yang terdengar diplomatik, tetapi sarat dengan nuansa intelijen.
“Di BIN, saya dideputi satu bagian Amerop, Kasubditnya. Nah, dari itu Pak Marciano perintahkan saya untuk buka pos di Amerika Serikat. Jadi saya yang pertama yang membuka kantor perwakilan di Amerika Serikat,” ujar Victor dengan nada bangga.
Tugasnya saat itu jelas namun kompleks. Pertama, menjalin hubungan intelijen (lis intellig) antara Indonesia dan Amerika Serikat. Kedua, mencari data-data yang dibutuhkan BIN—saat itu isu yang sedang hangat adalah kebangkitan ISIS di Suriah dan Irak.
“Mungkin Indonesia ingin tahu data dari Amerika. Siapa aja sih yang di sana? Saya pengin tahu berapa orang Indonesia yang pergi ke sana secara volunteer, bergabung dengan ISIS,” jelas Victor.
Yang menarik, kantor perwakilan BIN di AS itu tidak pernah dideklarasikan secara terbuka. Secara formal, Victor bertugas sebagai diplomat di bagian penerangan sosial budaya (pensosbud) di Kedutaan Besar Indonesia. Namun semua orang—setidaknya di kalangan intelijen—tahu siapa dia sebenarnya.
“Hanya orang-orang tertentu aja yang tahu. Karena ada surat greeting dari kabinet bahwa saya tugaskan Victor Simatupang untuk list Badan Intelijen Negara Indonesia untuk Amerika,” katanya sambil tersenyum.
Atase Pertahanan: Jubah Diplomatik, Hati Intelijen
Pengalaman di Amerika Serikat itulah yang kemudian membentuk cara Victor memandang peran atase pertahanan. Secara formal, seorang atase pertahanan adalah perwira militer yang ditempatkan di kedutaan besar, bertugas menjalin hubungan bilateral di bidang pertahanan dan militer. Tugasnya mencakup urusan protokoler, kunjungan militer, pertukaran perwira, hingga diplomasi pertahanan.
Namun dalam praktiknya, posisi ini adalah surga bagi intelijen terbuka (open source intelligence). Seorang atase pertahanan memiliki akses legal ke berbagai forum militer internasional, pangkalan militer asing, hingga pejabat tinggi negara lain. Ia bisa bertanya, mengamati, dan mengumpulkan informasi tanpa harus menyembunyikan identitasnya—karena itu adalah bagian dari tugas diplomatiknya.
Perbedaan antara diplomat dan intelijen dalam konteks ini sangat tipis. Seorang diplomat bertugas menjaga hubungan baik antarnegara secara terang-terangan. Seorang intelijen bertugas mengumpulkan informasi secara tersembunyi. Seorang atase pertahanan, jika pandai, bisa melakukan keduanya sekaligus.
“Kalau di inteligen itu, mau siapapun kita kawani untuk kepentingan kita,” kata Victor merangkum filosofinya. “Mungkin dia juga begitu. Jadi kita bertanya-tanya.”
Inilah prinsip yang ia pegang teguh: dalam dunia intelijen, tidak ada musuh abadi, yang ada hanya kepentingan bersama. Victor bisa duduk semeja dengan agen Mossad (intelijen Israel) sekalipun—meskipun Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Israel—karena informasi yang bisa diberikan Mossad sangat berharga.
Dari Intelijen Tertutup ke Intelijen Terbuka: Sebuah Evolusi
Setelah bertugas di Amerika Serikat sebagai “intelijen tertutup” (tidak mendeklarasikan statusnya), Victor kemudian beralih menjadi intelijen terbuka saat menjabat Atase Pertahanan di Afrika Selatan. Perbedaannya? Dalam peran sebagai atase pertahanan, statusnya sebagai perwira intelijen tidak lagi rahasia dalam arti sempit. Namun misinya—yaitu mengumpulkan informasi strategis untuk kepentingan nasional—tetap sama.
“Kalau yang di Amerika tadi, tertutup. Jadi saya tidak declare pekerjaan saya sebagai diplomat. Tapi setelah itu, di Afrika Selatan, tugas saya terbuka karena sebagai atase pertahanan,” jelas Victor.
Meskipun demikian, garis tipis antara diplomat dan intelijen terkadang sengaja dikaburkan. Ketika Victor mendapat perintah dari Bais untuk mengumpulkan informasi tentang MV Sinar Kudus, ia tidak bisa begitu saja mengaku: “Saya intelijen Indonesia, tolong beri data kapal.” Ia harus menggunakan kedok sebagai atase pertahanan yang sedang melakukan “studi keamanan maritim” atau sekadar “kunjungan persahabatan” ke markas angkatan laut Kenya.
“Saya bilang sama Laksamana Kenya, ‘Pak, kami dibajak kapal kami. Bisa kami minta bantuan informasi?’” kenang Victor. Ia membawa batik sebagai cenderamata, mengobrol santai, dan secara perlahan menggali informasi yang ia butuhkan tanpa menimbulkan kecurigaan.
Batik, Kopi, dan Seni Membangun Jejaring Personal
Victor Simatupang tidak pernah membawa senjata dalam misi intelijennya. Yang ia bawa hanyalah beberapa helai batik, sekantong kopi Indonesia, dan buku catatan kecil. Tiga benda sederhana itu, menurutnya, lebih ampuh daripada pistol atau alat sadap tercanggih.
“Batik itu pembuka pintu. Di Afrika, orang sangat menghormati pemberian dari tamu. Saya kasih batik ke kepala staf angkatan laut Kenya. Begitu lihat batik, beliau langsung cerita bahwa dulu pernah sekolah di Seskoal Indonesia,” ujar Victor.
Jejaring personal—itulah senjata paling berharga dalam dunia intelijen. Bukan teknologi, bukan anggaran besar, tetapi hubungan antarmanusia yang dibangun secara tulus—atau setidaknya tampak tulus.
Victor belajar hal ini dari pengalamannya di Washington, D.C. Di sana, ia tinggal di sebuah lingkungan perumahan yang juga dihuni oleh tiga atau empat agen Mossad. Mereka tidak saling curiga; mereka justru menjadi tetangga yang ramah. Suatu malam, Victor bertanya kepada tetangganya dari Mossad:
“Eh kawan, kalau di Suriah itu gimana? Informasi apa pun saya bisa dapat, katanya.”
Jawaban agen Mossad itu membuatnya terkesima: “Setiap informasi apapun saya bisa dapat. Apapun yang ada di Suriah, di Irak, apa kejadian, saya tahu.”
Victor tidak iri. Ia justru belajar: Mossad sangat hebat karena jaringan informan dan teknologi informasi mereka. Tapi ia juga sadar bahwa Indonesia tidak harus menjadi Mossad. Cukup menjadi Victor Simatupang—yang ramah, rendah hati, dan tahu cara bertanya.
Rahasia Membangun Kepercayaan Lintas Negara
Salah satu keterampilan langka yang dimiliki Victor adalah kemampuannya untuk membangun kepercayaan dengan cepat. Dalam hitungan menit, ia bisa membuat lawan bicaranya—yang mungkin adalah perwira intelijen asing—merasa nyaman untuk berbagi informasi.
Apa rahasianya?
Pertama, jangan berpura-pura lebih pintar. Victor selalu mengakui keterbatasannya. Ia berkata terus terang: “Kami buta. Kami tidak tahu posisi kapal. Kami mohon bantuan.” Sikap rendah hati ini justru membuat orang lain ingin membantu.
Kedua, jangan hanya mengambil, berikan juga. Dalam setiap pertemuan, Victor selalu menawarkan sesuatu: data tentang situasi di Asia Tenggara, pengalaman Indonesia dalam misi perdamaian PBB, atau sekadar oleh-oleh khas Indonesia. Ini bukan transaksi; ini adalah investasi relasi.
Ketiga, hargai budaya lokal. Victor belajar bahwa di Afrika, kita tidak bisa langsung bicara bisnis atau intelijen. Kita harus ngobrol dulu, minum kopi, bertanya tentang keluarga, dan baru kemudian menyampaikan maksud. Pendekatan yang sama ia terapkan saat bertemu dengan agen CIA, Inggris, Prancis, atau bahkan Mossad.
Keempat, jaga kerahasiaan sumber. Victor tidak pernah mengungkapkan nama atau identitas kontaknya kepada pihak lain—termasuk kepada atasannya sendiri di Jakarta. Ia hanya melaporkan informasinya, bukan sumbernya. Ini adalah kode etik intelijen yang paling mendasar: jika Anda tidak bisa menjaga rahasia sumber, tidak ada yang akan pernah percaya lagi kepada Anda.
Ketika Jejaring Personal Menentukan Hidup-Mati
Dalam operasi MV Sinar Kudus, jejaring personal Victor menjadi penentu. Ia tidak hanya mengandalkan sumber resmi—seperti Kepala Staf Angkatan Laut Kenya—tetapi juga kontak-kontak informal: seorang sopir taksi di Mombasa yang tahu seluk-beluk pelabuhan, seorang pedagang di perbatasan Kenya-Somalia yang bisa memberi informasi tentang pergerakan perompak, hingga mantan sandera India yang mau berbagi pengalaman pahitnya.
“Saya tanya sama orang India, ‘Bagaimana ini, kalian diperlakukan bagaimana? Di mana kapal kalian disandarkan? Berapa jarak dari pantai?’ Semua saya catat,” kenang Victor.
Informasi dari mantan sandera India itu ternyata sangat berharga. Victor mengetahui bahwa kapal-kapal yang dibajak biasanya disandarkan sekitar 10 mil dari pantai—cukup dekat untuk dipasok dari darat, tetapi cukup jauh untuk menghindari serangan kejutan. Ia juga mengetahui bahwa perompak Somalia memiliki “ekosistem” yang sangat terorganisir: ada negosiator, ada money changer, ada investor, ada kepala suku, dan ada pembagi tebusan.
“Jadi bukan pirate Somalia aja di situ. Ada orang Italia, ada finance-nya. Begitu duit itu dikirim, dicek dulu fake atau enggak, uang palsu atau enggak. Diperiksa. Udah oke, baru dirilis itu kapalnya. Nah, di sini uang ini baru dibagi-bagi. Untuk pemberontak (perompak) berapa, untuk kepala sukunya berapa, untuk logistiknya berapa, untuk negosiatornya berapa, untuk sahamnya itu berapa.”
Informasi ini tidak akan pernah ia dapatkan jika tidak memiliki jejaring personal yang baik. Data intelijen tidak jatuh dari langit; ia harus digali, dibayar, dan dirawat dengan hubungan antarmanusia yang tulus—atau setidaknya tampak tulus.
Warisan untuk Generasi Penerus
Kini, setelah pensiun, Victor sering diundang untuk berbicara di depan perwira muda TNI. Ia selalu menyampaikan satu pesan yang sama: jadilah atase pertahanan yang bukan hanya diplomat, tetapi juga ujung tombak intelijen.
“Kalau kita enggak pintar-pintar menempatkan diri, pintar-pintar cari informasi, satuan kita ke sana mungkin akan tergelap. Enggak ada lampunya. Susah kan?” kata Victor. “Jadi kita penerangan aja di sini. Bantu menerangi jalan. Ke mana yang harus ditempuh.”
Frasa “penerangan jalan” ini menjadi metafora sempurna untuk peran atase pertahanan sebagai intelijen terbuka. Mereka bukanlah pasukan penyerang; mereka adalah lentera di kegelapan, yang menunjukkan arah agar pasukan tempur bisa bergerak dengan tepat.
Victor juga mengingatkan bahwa jejaring personal tidak bisa dibangun dalam semalam. Ia membutuhkan tahunan—bahkan puluhan tahun—untuk membangun kepercayaan. Oleh karena itu, ia mendorong perwira muda TNI untuk tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga pandai bergaul, pandai beradaptasi, dan pandai menjaga rahasia.
“Saya bilang sama anak-anak, di mana pun kita berada, tetap kibarkan merah putih. Jangan takut dengan surutnya jiwa patriotisme kita. Tetap kibarkan merah putih dan imparsial. Kita harus bisa menjaga diri untuk melaksanakan tugas kita dengan baik.”
Refleksi Victor: Dari Intelijen ke Veteran Perdamaian
Ketika ditanya apa yang paling berkesan dari seluruh perjalanan kariernya—baik sebagai atase pertahanan, intelijen, maupun komandan pasukan perdamaian PBB—Victor menjawab dengan sederhana:
“Jadi, kita ini hanya menerangi jalan. Saya merasa itu sudah cukup. Kalau jalan sudah terang, pasukan tinggal melangkah. Dan Alhamdulillah, mereka berhasil.”
Ia tidak pernah mencari ketenaran. Ia tidak pernah meminta medali atau penghargaan. Yang ia lakukan hanyalah tugas—mengumpulkan informasi, membangun jaringan, menerangi jalan. Dan ketika 20 sandera pulang dengan selamat, Victor diam-diam menghela napas lega di ruang kerjanya di Pretoria.
“Saya enggak tahu data saya digunakan atau tidak. Saya enggak ngerti. Yang penting saya kirim. Nanti Bais dan Mabes TNI yang mengolah. Saya cuma menjalankan perintah.”
Itulah jiwa seorang intelijen sejati: bekerja tanpa sorotan, sukses tanpa tepuk tangan. Karena dalam dunia intelijen, pahlawan sejati adalah yang tidak pernah tercatat dalam buku sejarah—hanya terpatri dalam ingatan mereka yang diselamatkan.
Dan Victor Simatupang, dengan segala kerendahan hatinya, adalah salah satu dari mereka.
Penutup Bab: Tiga Pelajaran Penting
Dari refleksi Victor Simatupang, ada tiga pelajaran penting yang bisa dipetik tentang peran atase pertahanan sebagai intelijen terbuka:
Peran ganda (dual role) adalah sebuah keuntungan, bukan kelemahan. Seorang atase pertahanan bisa menjadi diplomat di ruang resmi dan intelijen di ruang belakang. Kemampuan untuk berpindah peran dengan mulus adalah keterampilan yang tak ternilai.
Jejaring personal adalah aset paling berharga. Teknologi canggih sekalipun tidak akan berguna tanpa manusia yang bisa diandalkan. Sebaliknya, dengan jejaring yang baik, informasi paling rahasia pun bisa diperoleh dengan cara yang sederhana—secangkir kopi, selembar batik, atau sekadar obrolan santai.
Kejujuran dan kerendahan hati membuka pintu. Dalam dunia intelijen yang penuh tipu daya, sikap jujur dan rendah hati justru menjadi senjata paling efektif. Orang lebih mudah percaya kepada seseorang yang tidak berpura-pura tahu segalanya.
Victor Simatupang, sang atase pertahanan yang menjadi “pencerah jalan” bagi pembebasan MV Sinar Kudus, telah membuktikan bahwa perang senyap—yang tidak pernah terdengar di media—sering kali adalah perang yang paling menentukan. Dan dalam perang senyap itu, yang menang bukanlah senjata terberat, melainkan koneksi antarmanusia yang paling dalam.
Bab 10: Sinergi Intelijen dan Operasi Militer

Komentar
Posting Komentar