Bab 8: Warisan yang Hidup – Relevansi untuk Generasi Milenial
8.1. Pendahuluan: Antara Keraguan dan Keterpanggilan
Apakah seorang ulama kelahiran tahun 1838, yang hidup di tengah keterbatasan transportasi dan komunikasi, masih memiliki relevansi bagi generasi milenial yang lahir di era internet, media sosial, dan kecerdasan buatan? Pertanyaan ini wajar muncul. Milenial—dan juga Gen Z—hidup dalam realitas yang sangat berbeda: dunia serba cepat, informasi melimpah, otoritas tradisional tergerus, dan agama sering direduksi menjadi sekadar label identitas.
Namun, data di lapangan menunjukkan hal yang menarik: kunjungan ke makam Imam Lapeo tidak pernah sepi, bahkan cenderung meningkat setiap tahun. Peziarah bukan hanya dari kalangan tua; anak-anak muda, mahasiswa, dan pekerja profesional juga terlihat di antara mereka. Media sosial, yang seharusnya menjadi pesaing utama ritual konvensional, justru ikut menyebarkan popularitas Imam Lapeo. Video-video pendek tentang Masjid Nurut-Taubah, unggahan foto peziarah dengan latar makam, hingga cerita-cerita karamah yang dibagikan di WhatsApp dan TikTok, semua menjadi konten viral yang memperkenalkan Imam Lapeo kepada generasi yang belum pernah melihatnya secara langsung.
Bab ini akan mengkaji secara kritis fenomena tersebut. Apakah ini sekadar nostalgia yang dangkal, atau ada kebutuhan spiritual yang mendalam yang tidak bisa dipenuhi oleh modernitas? Apa peran institusi-institusi seperti masjid, pesantren, dan keluarga keturunan dalam menjaga warisan ini? Dan pada akhirnya, apa masa depan tradisi passiara dan ajaran Imam Lapeo di tengah arus globalisasi dan homogenisasi budaya?
8.2. Apakah Imam Lapeo Masih Relevan? Bukti dari Lapangan
8.2.1. Kunjungan yang Terus Berlangsung dan Meningkat
Berdasarkan data yang dihimpun dari Dinas Pariwisata Kabupaten Polewali Mandar dan laporan pengurus Masjid Nurut-Taubah, jumlah pengunjung (peziarah dan wisatawan religius) ke kompleks Imam Lapeo mengalami peningkatan signifikan dalam satu dekade terakhir. Sebelum pandemi COVID-19, rata-rata kunjungan mencapai 500-700 orang per minggu, dengan puncaknya pada bulan-bulan tertentu seperti Ramadan, Syawal (setelah Idul Fitri), dan Maulid Nabi. Setelah pandemi mereda, jumlah kunjungan kembali melonjak, bahkan melebihi angka sebelumnya—sebuah fenomena yang disebut oleh beberapa pengamat sebagai "spiritual tourism boom".
Yang menarik adalah komposisi usia peziarah. Pengamatan lapangan yang terdokumentasi dalam penelitian Nirmawala dkk. (2021) dan Nurul Shafira (2021) menunjukkan bahwa sekitar 30-40% peziarah adalah mereka yang berusia 20-35 tahun. Mereka datang dalam kelompok kecil (teman kampus, komunitas hobi) atau bersama keluarga. Tidak sedikit pula yang datang sendiri, dengan alasan "ingin mencari ketenangan" atau "penasaran setelah melihat postingan teman di Instagram".
Putri Amelia (24 tahun, mahasiswa), dalam sebuah wawancara, mengatakan: "Awalnya saya hanya ikut-ikutan teman. Tapi setelah sampai di sana, saya merasakan sesuatu yang berbeda. Suasananya tenang, adem, tidak seperti di kota. Saya jadi betah. Sekarang saya sudah tiga kali ke Lapeo."
Andi Irfan (29 tahun, karyawan swasta di Makassar) berkata: "Saya dengar cerita Imam Lapeo dari nenek saya. Tapi baru tertarik setelah lihat video di TikTok. Saya lalu datang sendiri. Di makam, saya menangis tanpa tahu kenapa. Saya merasa ada beban yang lepas."
Testimoni seperti ini tidak bisa dianggap sekadar "suara minoritas". Ia menunjukkan bahwa daya tarik Imam Lapeo melampaui usia dan latar belakang pendidikan.
8.2.2. Budaya Napak Tilas: Perjalanan Spiritual ala Milenial
Dalam tradisi Jawa, ada istilah napak tilas—menelusuri jejak sejarah untuk mengambil hikmah. Di Mandar, fenomena serupa terjadi, tetapi dengan kemasan yang lebih "milenial". Kelompok-kelompok muda sering mengadakan road trip ke Lapeo sebagai bagian dari healing atau self-discovery. Mereka tidak hanya datang, tetapi juga menginap di penginapan sederhana, berinteraksi dengan warga, dan mengikuti kegiatan keagamaan di masjid.
Bagi mereka, napak tilas ke Lapeo adalah bentuk wisata religi yang menyatukan liburan, belajar sejarah, dan pencarian makna hidup. Mereka membaca buku-buku tentang Imam Lapeo (yang kini sudah lebih mudah diakses), mencatat cerita dari sesepuh, dan berfoto di setiap sudut bersejarah. Foto-foto itu kemudian diunggah ke media sosial dengan caption berisi kutipan nasihat atau refleksi pribadi.
Fenomena ini menunjukkan bahwa generasi milenial tidak sepenuhnya alergi terhadap tradisi. Mereka hanya menginginkan tradisi yang disajikan dengan cara yang lebih engaging, visual, dan personal. Imam Lapeo, dengan kisah-kisah dramatis dan visual yang kuat (masjid dengan menara, makam yang terawat, rumah panggung kuno), menyediakan semua itu.
8.2.3. Media Sosial sebagai "Dai" Baru
Peran media sosial dalam menyebarkan popularitas Imam Lapeo tidak bisa diabaikan. Akun-akun Instagram dan Facebook seperti @imamlapeo_center, * @kisahwali_nusantara*, dan berbagai komunitas pencinta sejarah Islam di Sulawesi secara rutin mengunggah konten tentang Imam Lapeo. Bentuknya beragam: kutipan nasihat, infografis biografi, video pendek karamah, hingga siaran langsung dari Masjid Nurut-Taubah saat acara-acara tertentu.
TikTok, yang dianggap sebagai platform paling "remaja", juga tidak ketinggalan. Kreator konten lokal membuat video dengan narasi dramatis tentang kesaktian Imam Lapeo, dibalut musik latar yang emosional. Meskipun kadang ada penyederhanaan atau bahkan sensasionalisasi, dampaknya tetap positif: nama Imam Lapeo menjadi dikenal oleh jutaan orang yang mungkin tidak akan pernah membaca buku sejarah.
Yang menarik, para pengelola konten ini tidak hanya dari kalangan tua. Banyak anak muda Mandar yang merasa bangga dengan warisan budayanya, lalu secara sukarela membuat konten pengenalan. Mereka menggunakan tagar seperti #ImamLapeo, #WisataReligiSulbar, #WaliNusantara. Algoritma media sosial kemudian memperluas jangkauan. Dengan cara ini, tradisi lisan berubah menjadi tradisi digital.
8.2.4. Apakah Ada Pergeseran Makna?
Tentu saja, digitalisasi tidak datang tanpa risiko. Beberapa pengamat mengkhawatirkan bahwa cerita-cerita karamah yang disederhanakan menjadi konten 30 detik bisa kehilangan kedalaman pesan moralnya. Peziarah yang datang karena "viral" mungkin hanya mencari sensasi, bukan ketulusan spiritual. Ada juga potensi komersialisasi berlebihan: warung, parkir, cindera mata, yang jika tidak dikelola dengan baik bisa mengubah Lapeo menjadi "taman hiburan religi" yang hambar.
Namun, sejauh ini pengurus masjid dan keluarga keturunan Imam Lapeo masih menjaga keseimbangan. Mereka menyadari pentingnya media sosial, tetapi tetap mengingatkan bahwa inti dari ziarah adalah doa dan keteladanan, bukan foto atau konten. Mereka mendorong para peziarah muda untuk ikut pengajian, bukan sekadar selfie.
8.3. Tantangan Modernisasi: Mengapa Mencari Spiritualitas "Lama"?
Jika modernitas menawarkan kenyamanan, kemudahan, dan rasionalitas, mengapa masih ada yang mencari spiritualitas "lama" seperti ziarah kubur, tawassul, dan jimat? Para sosiolog agama memberikan beberapa penjelasan:
1. Krisis Makna di Tengah Kelimpahan Materi
Modernitas berhasil memenuhi kebutuhan material manusia, tetapi meninggalkan kekosongan makna. Orang memiliki rumah mewah, mobil bagus, liburan ke luar negeri, tetapi tetap merasa hampa. Mereka bertanya: "Untuk apa semua ini?" Spiritualitas tradisional, dengan ritual yang membumi dan komunitas yang hangat, menjadi penawar rasa hampa tersebut. Ziarah ke makam wali mengingatkan bahwa hidup tidak hanya tentang akumulasi, tetapi juga tentang hubungan dengan yang transenden.
2. Kerinduan pada Otoritas yang Bijak
Di era media sosial, semua orang bisa berbicara dan mengklaim kebenaran. Otoritas menjadi cair, mudah diragukan. Akibatnya, banyak orang merindukan figur otoritas yang bijak, konsisten, dan sudah teruji sejarah. Imam Lapeo adalah figur semacam itu. Ia tidak pernah terlibat skandal, tidak pernah kontroversial, dan ajarannya terbukti membawa kedamaian. Generasi milenial yang lelah dengan "guru agama instan" di YouTube akhirnya mencari ke sumber yang lebih "autentik" seperti makam wali.
3. Healing Spiritual dari Beban Hidup
Stres, tekanan kerja, hubungan sosial yang rumit, dan ketidakpastian masa depan membuat milenial rentan terhadap "burnout". Meditasi modern (mindfulness, yoga) harganya mahal dan terasa asing. Ziarah ke Lapeo, dengan biaya murah, suasana pedesaan yang tenang, dan ritual yang familiar, memberikan efek terapeutik. Menangis di makam, berdoa bersama, berbagi cerita dengan Annangguru, semua itu melepaskan beban psikis.
4. Pelarian dari Anonimitas Kota Besar
Di kota besar, seseorang hanyalah nomor antrean. Di Lapeo, peziarah disapa dengan ramah, diajak bicara, ditawari minum. Jalinan antar manusia yang hangat, yang hilang di perkotaan, ditemukan kembali di desa yang masih kental dengan gotong royong. Imam Lapeo, meski telah wafat, secara simbolis menjadi perekat komunitas yang melampaui jarak.
Dengan kata lain, modernisasi tidak serta-merta menghilangkan kebutuhan spiritual; ia hanya mengubah bentuk dan cara pemenuhannya. Dan dalam hal ini, warisan Imam Lapeo mampu beradaptasi.
8.4. Peran Institusi Kontemporer dalam Melestarikan Warisan
Agar warisan Imam Lapeo tidak redup ditelan zaman, dibutuhkan institusi-institusi yang terus menggerakkannya. Berikut tiga pilar utama yang hingga kini masih berperan:
8.4.1. Masjid Nurut-Taubah: Pusat Kegiatan yang Tak Pernah Tidur
Masjid bukan hanya monumen. Setiap hari, lima kali waktu shalat, masjid ini hidup dengan suara adzan dan jamaah. Setiap malam Jumat, ada pengajian rutin yang dihadiri warga sekitar dan peziarah. Setiap bulan Ramadan, masjid menjadi pusat tadarus, buka puasa bersama, dan shalat tarawih yang meriah.
Pengurus masjid (takmir) yang terdiri dari generasi muda dan tua bekerja sama merawat bangunan, mengelola dana, dan melayani peziarah. Mereka juga mulai menggunakan media sosial untuk menginformasikan jadwal kegiatan dan menggalang dana. Dengan cara ini, masjid tetap relevan sebagai ruang publik sekaligus ruang spiritual.
8.4.2. Pesantren dan Madrasah: Kaderisasi Nilai
Meskipun Pesantren Addiniyah al-Islamiyah sudah berganti nama menjadi Madrasah Tsanawiyah (MTs) Darud Da'wa Wal Irsyad, lembaga pendidikan ini masih eksis. Para santri tidak hanya belajar membaca Al-Qur'an dan kitab kuning, tetapi juga sejarah dan nilai-nilai Imam Lapeo. Mereka diajak berziarah ke makam, diajarkan biografi, dan ditanamkan karakter seperti yang telah diuraikan di Bab 7.
Keberadaan pesantren menjamin bahwa ada kader yang secara sadar melanjutkan tradisi, bukan hanya karena kebiasaan turun-temurun, tetapi karena pemahaman yang mendalam. Para lulusan pesantren kemudian menjadi guru, ustadz, atau tokoh masyarakat yang menyebarkan "virus" kebaikan Imam Lapeo ke mana pun mereka pergi.
8.4.3. Keluarga Keturunan (Annangguru): Otoritas yang Hidup
Peran Annangguru tidak bisa digantikan oleh museum atau buku sejarah. Mereka adalah penghubung emosional antara peziarah dengan Imam Lapeo. Meskipun usia mereka semakin lanjut (Hj. Muhsanah dan Hj. Marhumah, putri-putri Imam Lapeo, telah wafat dalam beberapa tahun terakhir, namun digantikan oleh cucu-cicit), tradisi menerima tamu, mendoakan, dan memberi nasihat tetap berlanjut.
Kehadiran Annangguru memberikan efek "keaslian" yang tidak bisa ditiru. Peziarah merasa lebih "sampai" ketika didoakan langsung oleh keturunan wali, daripada hanya berdoa sendiri di makam. Ini bukan masalah logika, tetapi emosi dan keyakinan.
Namun, tantangan ke depan adalah regenerasi. Apakah generasi ketujuh, kedelapan, dan seterusnya akan tetap memiliki komitmen yang sama? Apakah mereka akan tinggal di Boyang Kayyang dan melayani peziarah tanpa pamrih? Di sinilah pentingnya penanaman nilai sejak kecil, serta dukungan ekonomi sehingga mereka tidak perlu meninggalkan peran tradisional demi bekerja di kota.
8.5. Penutup: Wali sebagai Kehadiran Abadi
Rekap: Imam Lapeo, Sintesis Multidimensi
Perjalanan panjang buku ini telah membawa kita menyusuri berbagai dimensi K.H. Muhammad Thahir, Imam Lapeo. Kita melihatnya sebagai:
Ulama berilmu luas: dengan rihlah intelektual hingga ke Istanbul dan Makkah, berguru pada puluhan syekh, menguasai fikih, tauhid, tasawuf, dan strategi dakwah.
Ahli strategi dakwah jenius: yang menggunakan tiga pilar (pernikahan, pendidikan, tasawuf) secara sinergis, serta berhasil menjadi mediator budaya dengan mentransformasi tradisi lokal seperti Sayyang Patuddu dan sabung ayam.
Sufi yang mengakar: mengajarkan sabar, zuhud, taubat, dan ikhlas tidak hanya sebagai teori, tetapi sebagai praktik hidup yang membumi.
Wali yang disakralkan: dengan 74 lebih karamah yang menjadi memori kolektif masyarakat, sekaligus pusat ziarah yang tak pernah sepi.
Tidak banyak tokoh dalam sejarah Nusantara yang mampu merangkum keempat peran ini secara seimbang. Imam Lapeo adalah salah satu langka.
Argumen Akhir: Kesucian sebagai Hubungan Dinamis
Kesimpulan paling penting dari buku ini adalah bahwa kesucian Imam Lapeo bukanlah fakta sejarah yang statis. Ia tidak hanya "suci" karena di masa lalu ada karamah. Ia suci karena terus-menerus dihidupkan oleh masyarakat yang membutuhkannya. Setiap peziarah yang datang, setiap doa yang dipanjatkan, setiap karamah yang diceritakan ulang, setiap nilai yang diajarkan kembali—semua itu adalah ritual pembaruan kesakralan.
Dalam bahasa sosiolog Peter Berger, masyarakat adalah "pabrik makna" yang terus-menerus membangun dan membongkar realitas. Imam Lapeo adalah salah satu simbol yang paling kokoh dalam pabrik makna masyarakat Mandar. Ia hadir sebagai perantara yang bijaksana, adil, dan suci di tengah ketidakpastian hidup.
Ketika seorang mahasiswa menangis di makamnya karena takut tidak lulus ujian, ia hadir. Ketika seorang nelayan membaca doa agar selamat dari badai, ia hadir. Ketika seorang ibu meratapi anaknya yang sakit, ia hadir. Bukan secara fisik, tetapi secara spiritual—dalam harapan, dalam keyakinan, dalam zikir yang diajarkannya.
Masa Depan Tradisi di Sulawesi dan Sekitarnya
Masa depan tradisi Imam Lapeo bergantung pada dua faktor: internal (kemampuan keluarga keturunan dan pengurus masjid menjaga otentisitas) dan eksternal (toleransi masyarakat modern terhadap praktik-praktik yang dianggap "tradisional").
Secara internal, tantangan regenerasi adalah yang paling krusial. Anak-anak muda keturunan Imam Lapeo perlu didorong untuk mempelajari sejarah, menguasai pendidikan agama, dan memiliki kesadaran untuk melanjutkan peran. Mereka juga perlu dibekali dengan pengetahuan manajemen modern, agar pengelolaan ziarah tidak kacau dan korupsi tidak terjadi.
Secara eksternal, serangan dari kelompok puritan yang melarang tawassul dan ziarah kubur harus dihadapi dengan argumentasi yang santun dan ilmiah. Imam Lapeo sendiri mengajarkan metode bijaksana dalam berdakwah, bukan kekerasan atau pengkafiran. Para pembela tradisi ini perlu mencontoh etika beliau: tetap menghormati perbedaan, tidak memaksakan kehendak, dan menunjukkan bahwa praktik ziarah mereka tidak bertentangan dengan tauhid jika dipahami dengan benar.
Di sisi lain, pemerintah daerah dan pusat perlu melihat potensi ekonomi kreatif dari wisata religi Imam Lapeo. Pengelolaan yang profesional, promosi yang cerdas, dan pemberdayaan masyarakat sekitar akan membuat tradisi ini tidak hanya lestari secara spiritual, tetapi juga memberikan kesejahteraan. Ini adalah contoh sempurna dari ekonomi berbasis budaya dan agama yang tidak merusak esensi spiritualnya.
Penutup Akhir: Imam Lapeo, Lentera yang Tak Pernah Padam
Seorang wali tidak diukur dari seberapa lama ia hidup, tetapi dari seberapa lama ia dikenang. Imam Lapeo telah wafat pada 1952—lebih dari tujuh puluh tahun yang lalu. Namun, namanya masih disebut dalam setiap doa yang dipanjatkan di makamnya. Cahaya masjidnya masih menerangi malam Lapeo. Nilai-nilainya masih diajarkan di pesantren. Karamah-karamahnya masih menjadi buah bibir.
Di tengah arus modernisasi yang menderas, lentera Imam Lapeo tetap menyala. Ia tidak akan padam selama masih ada yang haus akan kedamaian, selama masih ada yang butuh pegangan di tengah badai, selama masih ada yang percaya bahwa kebaikan dan kesucian itu nyata.
Buku ini adalah penghormatan kecil untuk lentera itu. Semoga ia terus menerangi jalan kita, generasi sekarang dan yang akan datang, menuju kehidupan yang lebih bermakna, lebih dekat dengan Allah, dan lebih bermanfaat bagi sesama. Barakallahu fih.
Penutup: Wali sebagai Kehadiran Abadi
*(Telah diintegrasikan dalam bab 8.5 di atas sebagai sub-bab tersendiri)*
Daftar Pustaka
Buku dan Monograf
Bodi, Idham Khali. (2010). Kamus Besar Bahasa Mandar-Indonesia. Solo: Zada Haniva Publishing.
Latif, Muhlis. (2017). Sakralitas Imam Lapeo: Perilaku dan Simbol Sakral Masyarakat Mandar. Yogyakarta: Arti Bumi Intaran.
Muhsin, Syarifuddin. (2010). Perjalanan Hidup K.H. Muhammad Thahir "Imam Lapeo" dan Pembangunan Masjid Nuruttaubah Lapeo. Polewali Mandar: Nuruttaubah Lapeo.
Naim, Muhammad Yusuf. (2007). Imam Lapeo. (2nd ed.). Makassar: Pustaka Refleksi.
Ruslan, Muhammad. (2007). Ulama Sulawesi Selatan: Biografi, Pendidikan, dan Dakwah. Makassar: Komisi Informasi dan Komunikasi MUI Sulawesi Selatan.
Thalib Banru, Th. I., & Ridwan, Muhammad. (2012). Naska Sejarah Mandar. Polewali Mandar: Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika.
Yasil, Suradi. (2002). Ensiklopedia Sejarah dan Kebudayaan Islam. Makassar: Forum Studi dan Dokumentasi Sejarah dan Kebudayaan Mandar.
Zuhriah. (2013). Jejak-Jejak Wali Nusantara: Kisah Kewalian Imam Lapeo di Masyarakat Mandar. Yogyakarta: Pustaka Ilmu.
Skripsi dan Tesis
Erwin Awaluddin. (2017). Imam Lapeo Bagi Masyarakat Mandar di Kecamatan Campalagian Kabupaten Polewali Mandar. Skripsi. Makassar: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Hasanuddin.
Hasmirah. (2019). Konstribusi Historis K.H. Muhammad Tahir Imam Lapeo dalam Masyarakat di Mandar. Skripsi. Parepare: Fakultas Tarbiyah, IAIN Parepare.
Nurhaedah. (2001). K.H. Muhammad Tahir Imam Lapeo: Biografi dan Jasa-Jasanya dalam Pengembangan Islam di Kabupaten Polmas. Skripsi. Makassar: Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Alauddin.
Nurul Shafira. (2021). Pemaknaan Tokoh Agama Imam Lapeo (Studi Fenomenologi 7 Informan Peziarah Imam Lapeo yang Berdomisili di Kota Parepare). Skripsi. Makassar: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Hasanuddin.
Rosdiana. (1995). K.H. Muhammad Tahir dan Peranannya dalam Mengembangkan Islam di Mandar Abad ke XIX. Skripsi. Ujung Pandang: Fakultas Adab, IAIN Alauddin.
Ruhiyat. (2013). Kontribusi K.H. Muhammad Tahir dalam Pengembangan Islam di Mandar. Skripsi. Makassar: Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Alauddin.
Jurnal Ilmiah
Darwis, D., Alhidayat, W., Putri, H., Sirajuddin, S. A., & Fitriani, F. (2022). Urgensi Ajaran Islam K.H. Muhammad Tahir pada Generasi Milineal. AL-MUTSLA, 4(2), 125-132.
Jadid, A. (2018). Dakwah Tasawuf Imam Lapeo. Jurnal UIN Alauddin Makassar (volume tidak disebutkan).
Kawu, A. S. (2011). Sejarah Masuknya Islam di Majene. History of the Entry of Islam in Majene, 17(9), 151-162.
Musyarif, M., Ahdar, A., & Multazam, M. (2020). Acculturation of Islamic Culture and Sayyang Pattu'du at Desa Lero, District Suppa, Regency Pinrang. Jurnal Diskursus Islam, 8(1), 49-57.
Nirmawala, Hamsah, & Ghulam, R. A. (2021). Penelusuran Tokoh Imam Lapeo: Sebuah Kajian Wisata Religi. Jurnal e-Bussiness Institut Teknologi dan Bisnis Muhammadiyah Polewali Mandar, 1(1), 23-32.
Nuhung, M. A. (2023). KH. Muhammad Thahir Imam Lapeo: Cleric and Fighter. Journal of Education Yala Rajabhat University, 2(1), 56-64.
Nurhidayah, N., Bahri, B., & Asmunandar, A. (2023). Peran K.H. Muhammad Thahir dalam Mengembangkan Islam di Polewali Mandar, 1875-1952. Attoriolong, 21(2), 73-84.
Ruhiyat, R. (2015). Imam Lapeo sebagai Pelopor Pembaharuan Islam di Mandar. Riblah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan, 3(1), 115-127.
Wawancara (dokumentasi skripsi)
Ardiansyah, M. (2018). Peserta pengajian K.H. Muhammad Tahir. Wawancara oleh Hasmirah. Campalagian, 13 Oktober.
Hadi, H. (2024). Imam Masjid Nurut-Taubah Desa Lapeo. Wawancara oleh W. Hidayat. Campalagian, 16 Juli.
Muhajir. (2018). Penganut Tarekat Qadariyah. Wawancara oleh peneliti Darwis dkk. Campalagian, 29 Januari.
Nuramilang, S. (2024). Cicit Imam Lapeo. Wawancara oleh W. Hidayat. Campalagian, 26 Juli.
Zuhriah. (2024). Cicit Imam Lapeo. Wawancara oleh W. Hidayat. Campalagian, 3 Agustus.
Sumber Online
Kadir, I. (2018). Gurutta Anreguru dan Panrita. Diakses dari http://www.blogspot.com/2013/02/gurutta-anreguru-panrita.html pada 28 November 2018.
Mujadid. (2021). AGH Muhammad Thahir Lapeo, Sang Pembaru di Mandar. Diakses dari https://www.lontar.id pada 15 Februari 2019.
Dokumen Resmi
Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar. (2015). Data Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Sulawesi Barat.
Al-Qur'an dan Terjemah
Departemen Agama RI. (2010). Al-Qur'an dan Terjemahnya (Al-Hikmah). Bandung: Diponegoro.
Penutup Buku
Demikianlah buku "Imam Lapeo: Perjalanan Suci Seorang Wali Mandar" ini kami selesaikan. Semoga menjadi amal jariyah dan menambah khazanah keilmuan tentang ulama Nusantara. Kritik dan saran membangun sangat diharapkan untuk perbaikan di masa mendatang. Wallahu a'lam bish-shawab.
bacaan selanjutnya MAMUJU MISTIK: 10 KISAH GAIB YANG MENGGENTARKAN MAMUJU

Komentar
Posting Komentar