Bab 7 | “Majemuju” Menjadi “Mamuju”
7.1 Pedagang Bali dan Kata Ma-jemuju (banyak buah matang)
Proklamasi
persatuan Kurri-Kurri dan Langga Monar telah usai. Namun satu hal penting masih
belum final: apa
nama resmi kerajaan baru ini?
Selama berabad-abad, wilayah pesisir disebut Kurri-Kurri, sementara pedalaman
dikenal sebagai Langga Monar atau Padang. Tidak ada istilah tunggal yang
merujuk pada keseluruhan wilayah dari pantai hingga perbukitan. Mattolabali
menginginkan nama yang netral—tidak condong ke pesisir atau
pedalaman—tetapi sekaligus memiliki makna filosofis yang mendalam. Ia
memerintahkan para tetua untuk bermusyawarah. Beberapa usulan muncul: ada yang
mengusulkan "Tana Ombak" (tanah ombak) karena pelabuhan Simboro yang
terkenal. Ada pula yang mengusulkan "Lino" (dunia) karena kerajaan
ini menghubungkan banyak bangsa. Namun tidak ada kesepakatan.
Pada
saat yang sama, Pelabuhan Simboro sedang ramai dikunjungi oleh pedagang-pedagang dari Bali. Kapal-kapal mereka datang membawa
garam, kain, dan hasil kerajinan, lalu pulang membawa rotan, damar, dan mutiara
dari Mamuju. Para pedagang Bali ini sudah lama singgah di Simboro, bahkan sejak
masa Raja Tarapati. Mereka terkenal cerdik dalam berniaga dan memiliki kosakata
khas dalam bahasa mereka. Hubungan antara Mamuju dan Bali ternyata sudah
berlangsung lama—bahkan sebelum Kerajaan Mamuju berdiri. Beberapa lontarak
menyebut adanya perkawinan antara bangsawan Mamuju dan putri Raja Badung (Bali)
pada masa lalu, yang kelak melahirkan pusaka keris Manurung yang masih dirawat hingga kini.
Pertemuan
di dermaga yang mengubah sejarah
Suatu
sore, Mattolabali sedang berjalan-jalan di dermaga Simboro bersama dua orang
tetua. Mereka masih memikirkan nama kerajaan. Di dermaga, mereka berpapasan
dengan seorang pedagang Bali tua bernama Pedanda Ketut.
Pedanda Ketut sudah puluhan tahun bolak-balik ke Simboro; ia bahkan bisa
berbahasa lokal meskipun dengan logat khas. Melihat Mattolabali tampak cemas,
Pedanda Ketut bertanya hormat: "Tuanku,
mengapa tampak gelisah? Apakah ada masalah dengan kapal-kapalku?"
Mattolabali
tersenyum. "Bukan,
Paman. Aku sedang memikirkan nama untuk kerajaan baruku yang menyatukan pesisir
dan pedalaman. Aku ingin nama yang indah dan penuh makna."
Pedanda
Ketut menggaruk dagunya yang beruban. Matanya menyapu hamparan pelabuhan:
kapal-kapal bersandar, karung-karung berisi rempah dan damar, tumpukan buah-buahan
dari pedalaman yang baru diangkut—pisang raja, mangga, langsat, dan rambutan
yang ranum. Dalam bahasa Bali, spontan ia berkata: "Dane... di tempat ini tiang liat ma-jemuju. Ada banyak buah yang matang.
Subur."
Ma-jemuju dalam bahasa Bali (dan juga dalam
pengaruh bahasa Jawa Kuno) berarti "banyak buah yang matang" atau "keadaan berbuah lebat". Kata itu digunakan untuk
menggambarkan pohon yang penuh dengan buah siap panen, melambangkan kemakmuran,
kesuburan, dan kelimpahan. Mattolabali menangkap kata itu. Matanya berbinar. "Ma... je... mu... ju,"
ia mengulang perlahan. "Kata
yang indah. Seperti suara ombak yang menyapa pantai."
7.2 Perubahan Pengucapan Lokal: Lahirnya Nama Mamuju
Mattolabali
segera membawa kata itu ke dalam musyawarah para tetua. Mereka mendengar
penjelasan tentang arti ma-jemuju
dari para pedagang Bali yang diundang khusus ke istana. Para tetua dari
Kurri-Kurri dan Langga Monar sama-sama menyukai maknanya: kesuburan—sesuatu yang mencakup hasil laut
(ikan, mutiara, teripang) dan hasil darat (rotan, damar, buah-buahan, rempah).
Tidak ada keberpihakan kepada satu sisi. Nama itu sempurna.
Namun
lidah orang Mamuju (yang saat itu belum disebut Mamuju) tidak terbiasa
mengucapkan "jemuju" dengan konsonan *j* yang bergetar dan rangkaian
suku kata -ju-ju.
Bahasa Mandar kuno cenderung lebih berat dan cenderung menekankan suku kata
pertama. Dalam dialog sehari-hari di pasar, di dermaga, dan di kebun, kata
"Majemuju" mulai diucapkan lebih cepat dan lebih pendek. Proses
perubahan bunyi ini lazim terjadi dalam linguistik, disebut asimilasi dan
elisi: suku kata yang tidak ditekan perlahan menghilang.
Berikut
tahapan perubahannya menurut tradisi lisan:
·
Majemuju (pengucapan Bali asli) → Majemuju (diadopsi oleh para tetua) → Mamuju (pengucapan populer yang lebih
pendek)
Awalan
*Ma-* tetap dipertahankan, sementara je
luluh menjadi *e* pepet yang kemudian hampir tak terdengar, dan muju menjadi inti kata.
Dalam waktu singkat, "Mamuju" sudah menjadi sebutan yang populer di
kalangan rakyat. Para tetua kemudian meresmikannya: Kerajaan baru ini akan bernama Mamuju.
Lontarak
mencatat proses perubahan bunyi itu dengan lugas: "Pedagang Bali berkata 'Majemuju'. Rakyatku
menyebut 'Mamuju'. Maka jadilah Mamuju." Ada juga versi lain
yang menyebutkan bahwa pengaruh bahasa Bugis dan Mandar yang tidak memiliki
fonem je yang
persis menyebabkan penyesuaian alami. Apapun penjelasan teknisnya, yang pasti nama
Mamuju lahir dari perpaduan: kata
asing yang indah disaring melalui lidah lokal, menghasilkan identitas baru yang
unik.
Sejak
saat itu, nama "Mamuju" resmi digunakan dalam semua urusan kerajaan:
dalam surat-menyurat dengan Kesultanan Johor, dalam cap kerajaan, dalam upacara
adat, dan dalam pajak yang dipungut dari rakyat. Sebuah nama yang awalnya hanya
celetukan spontan seorang pedagang tua di dermaga, kini menjadi simbol
kebanggaan seluruh wilayah.
7.3 Filosofi: Kesuburan Laut-Darat, Persatuan yang Berbuah
Mattolabali
tidak hanya memilih nama karena bunyinya yang indah. Ia dan para tetua menggali
makna filosofis Mamuju
dalam tiga lapis, yang kelak diajarkan dari generasi ke generasi. Filosofi ini
menjadi doktrin politik Kerajaan Mamuju selama berabad-abad.
Lapis
pertama: Kesuburan alam sebagai berkah leluhur
Makna
paling harfiah dari ma-jemuju
adalah kesuburan
tanah dan laut.
Wilayah Mamuju sejak dulu dikenal sebagai daerah yang produktif: sawah di
lembah-lembah menghasilkan padi, kebun-kebun di lereng bukit dipenuhi cengkeh
dan pala, lautnya kaya akan ikan, mutiara, dan teripang, hutannya menghasilkan
damar, rotan, dan gaharu. Nama Mamuju adalah pengakuan bahwa alam telah
memberkati wilayah ini dengan kelimpahan. Seorang pemimpin yang bijak harus
menjaga kesuburan itu, bukan mengeksploitasinya secara berlebihan. Dalam setiap
upacara panen, selalu diucapkan doa: "Semoga
Mamuju tetap berbuah, tidak pernah kekeringan, tidak pernah paceklik."
Lapis
kedua: Harmoni laut dan darat, dua sumber kehidupan
Filosofi
kedua adalah persatuan
antara hasil laut dan hasil darat.
Kerajaan Mamuju tidak bisa hanya mengandalkan pelabuhan tanpa pedalaman, juga
tidak bisa bertahan hanya dengan hasil hutan tanpa akses ke pasar
internasional. Laut dan darat adalah dua paru-paru kerajaan. Nama Mamuju yang lahir dari
kata ma-jemuju—yang
menggambarkan pohon berbuah—melambangkan bahwa laut dan darat adalah dua akar
pohon yang sama-sama memberi nutrisi, sehingga pohon itu bisa berbuah lebat.
Mattolabali
sering mengulang dalam pidatonya: "Jangan
pernah memisahkan apa yang telah alam satukan. Laut dan darat adalah saudara.
Pesisir dan pedalaman adalah satu. Ingatlah nama kita: Mamuju. Berbuah karena
bersatu." Filosofi ini kemudian diwujudkan dalam kebijakan
konkret: setiap kali kerajaan memungut pajak dari hasil laut, sebagiannya
dialokasikan untuk pembangunan irigasi di pedalaman. Sebaliknya, keuntungan
dari hasil hutan digunakan untuk memperbaiki dermaga dan armada kapal. Dalam
setiap upacara adat Mamuju, selalu ada sesaji yang berasal dari laut (garam,
ikan kering) dan dari darat (beras, buah-buahan). Ini adalah pengamalan
filosofi Mamuju.
Lapis
ketiga: Persatuan itu sendiri yang menghasilkan buah
Filosofi
ketiga adalah yang paling abstrak namun paling penting: persatuan itu sendiri menghasilkan buah. Kurri-Kurri dan Langga Monar
tadinya adalah dua entitas yang terpisah. Ketika Mattolabali menyatukannya,
lahirlah entitas baru yang lebih besar, lebih kuat, lebih makmur daripada
jumlah kedua bagian sebelumnya. Itulah "buah" dari persatuan. Dengan
kata lain, nama Mamuju tidak hanya menggambarkan kondisi geografis, tetapi juga
program politik: kerajaan ini akan terus
"berbuah" selama warganya bersatu.
Dalam
konteks ini, Mattolabali mengajarkan bahwa konflik antara pesisir dan pedalaman
adalah sia-sia. Seperti pohon yang tidak perlu bertengkar antara akar dan
dahannya—keduanya sama-sama penting. Para bangsawan yang dulu ingin memisahkan
diri akhirnya memahami bahwa nama Mamuju adalah pengingat setiap hari: kita tidak bisa dipisahkan.
Setiap kali ada upaya pemisahan di kemudian hari, para tetua akan mengingatkan:
"Lihatlah nama kita.
Apakah pohon yang berbuah lebat akan memotong cabangnya sendiri?"
Mamuju
dalam ingatan kolektif hingga kini
Filosofi
tiga lapis ini tidak hanya tinggal dalam lontarak. Ia masih hidup dalam ritual
adat Massossor Manurung yang setiap dua tahun sekali mencuci
pusaka kerajaan. Doa-doa yang dipanjatkan selalu menyebut kata "Mamuju"
sebagai simbol harapan agar tanah ini tetap subur, masyarakatnya bersatu, dan
tidak pernah kekurangan. Raja Mamuju ke-17, Bau Akram Dai, dalam pidato pelantikannya pada
2021, mengulang filosofi yang sama: "Sema
manginung uai randanna to Mamuju, maka ia to Mamuju" (Siapa
pun yang minum air di tanah Mamuju, maka ia adalah bagian dari Mamuju). Kalimat
ini mengandung inti filosofi Mamuju:
inklusivitas, penerimaan, dan keyakinan bahwa persatuan adalah sumber kekuatan.
Lontarak
menutup kisah tentang pemberian nama ini dengan kalimat puitis:
"Majemuju
dari lidah Bali, Mamuju dari lidah kita. Buah ranum di dahan tinggi, Laut dan
darat dalam satu cerita. Mattolabali sang pemersatu, Menancapkan nama di atas
batu. Bukan batu yang kita pahat, Tapi hati yang takkan rapuh."
Penutup Bab 7: Nama "Mamuju" bukan sekadar label geografis. Ia adalah metafora hidup tentang bagaimana persatuan melahirkan kemakmuran. Dari celetukan spontan seorang pedagang Bali di dermaga Simboro, Mattolabali menangkap sebuah kata yang kemudian diolah, disesuaikan, dan diresmikan menjadi identitas seluruh kerajaan. Hingga berabad-abad kemudian, setiap kali orang menyebut "Mamuju", mereka sebenarnya sedang mengucapkan doa: semoga tanah ini terus berbuah, semoga rakyatnya terus bersatu.

Komentar
Posting Komentar