Bab 6 | Titik Keputusan Bersejarah (sekitar 1540)
Bagian 3:
Penyatuan dan Kelahiran Mamuju
Bab 6 | Titik Keputusan Bersejarah (sekitar 1540)
6.1 Mengapa Kurri-Kurri dan Langga Monar Harus Disatukan?
Setelah
sukses menjalani upacara Macco'bo
dan lulus ujian Pannambang,
Mattolabali semakin mantap. Ia telah diakui sebagai pemersatu oleh para tetua dari
kedua kerajaan. Namun ia sadar bahwa pengakuan pribadi tidak cukup. Selama
Kurri-Kurri dan Langga Monar masih diakui sebagai dua entitas terpisah—meskipun
diperintah oleh satu garis keturunan—akar konflik struktural akan tetap ada.
Mattolabali tidak ingin mewariskan masalah yang sama kepada anak cucunya.
Setidaknya
ada tiga alasan utama yang mendorongnya untuk segera
menyatukan kedua kerajaan:
1.
Efisiensi pemerintahan dan mengakhiri dualisme yang merugikan
Dualisme
pusat (kedaton di Danga, pelabuhan di Simboro) terbukti memperlambat
pengambilan keputusan. Krisis damar dan krisis tenaga kerja yang terjadi
sebelumnya adalah bukti nyata. Koordinasi yang rumit antara wakil raja di
Simboro dan raja di Danga seringkali memakan waktu berminggu-minggu, sementara
kapal asing tidak bisa menunggu. Dalam catatan lontarak disebutkan: "Utusan berlari bolak-balik
seperti kera mencari buah. Namun buahnya seringkali sudah busuk sebelum
sampai." Mattolabali menginginkan satu pusat pemerintahan yang
jelas, di mana keputusan dapat dibuat dengan cepat tanpa kehilangan akurasi.
2.
Menghilangkan potensi pemisahan diri oleh bangsawan
Selama
dua kerajaan masih diakui sebagai entitas terpisah, para bangsawan seperti
Puang Lemo (dari Kurri-Kurri) dan Puang Tandjolo (dari Langga Monar) akan terus
memiliki dasar hukum untuk menuntut pemisahan. Mereka bisa berargumen bahwa
"kerajaan kami adalah warisan leluhur yang berbeda" dan bahwa
penyatuan hanya bersifat personal karena darah Mattolabali, bukan struktural.
Dengan menggabungkan kedua wilayah menjadi satu kerajaan baru, dasar hukum
tuntutan itu lenyap. Mattolabali berkata dalam musyawarah tertutup: "Jangan biarkan nama Kurri-Kurri
dan Langga Monar terus dipertahankan hanya karena sentimentalitas. Lebih baik
kita kubur kedua nama itu dan lahirkan satu nama baru yang tidak bisa
dipecah."
3.
Menghadapi tekanan eksternal dengan kekuatan terpusat
Kesultanan
Gowa di selatan terus mengintai. Kerajaan-kerajaan lain seperti Bone dan
Soppeng juga mulai berekspansi. Bahkan Portugis, meskipun saat ini menjadi
mitra dagang, bisa saja berbalik menjadi ancaman jika Mamuju terlihat lemah.
Mattolabali menyadari bahwa Mamuju butuh kekuatan yang terpusat untuk bisa bersaing dan bertahan. Tidak ada waktu untuk
terus menerus bermusyawarah bolak-balik Danga-Simboro jika tiba-tiba armada
Gowa muncul di perairan. Seperti yang diucapkannya kepada para tetua: "Perahu dengan dua kemudi hanya
cocok untuk danau yang tenang. Lautan terbuka membutuhkan satu kemudi yang
kuat."
Selain
tiga alasan utama di atas, Mattolabali juga memiliki alasan personal yang lebih
dalam. Ia adalah anak dari pernikahan dua dunia. Sepanjang hidupnya, ia telah
merasakan sendiri pahitnya ketegangan antara pesisir dan pedalaman. Ia tidak
ingin anak-anaknya nanti mewarisi beban yang sama. Penyatuan adalah wasiat tidak tertulis dari ayahandanya, Tarapati, yang di
saat-saat terakhirnya berpesan: "Satukanlah,
anakku. Atau kerajaan ini akan hancur." Mattolabali menepati
janji itu, bukan sebagai bentuk ketaatan buta, tetapi karena ia melihat sendiri
bukti bahwa keterpisahan hanya melahirkan kerugian.
6.2 Mattolabali Membacakan Piagam Persatuan di Pertemuan Dua
Sungai
Setelah
berbulan-bulan mematangkan konsep, menyusun piagam, dan melobi para bangsawan
yang masih ragu, Mattolabali menetapkan hari bersejarah itu. Lokasi pengumuman
dipilih dengan makna simbolis yang mendalam: di pertemuan dua sungai—tepat di tempat yang sama di mana ia
menjalani ritual Macco'bo.
Tempat ini melambangkan pertemuan dua aliran yang berbeda menjadi satu aliran
yang lebih besar dan kuat. Bagi masyarakat Mamuju, pertemuan dua sungai adalah
metafora sempurna untuk persatuan.
Hari
itu, sekitar pertengahan tahun 1540 (berdasarkan perhitungan lontarak dan
penelitian Kila, 2019), cuaca cerah. Ratusan orang berkumpul: bangsawan Kurri-Kurri
dengan pakaian kebesaran bernuansa biru laut, dan bangsawan Langga Monar dengan
pakaian bernuansa hijau daun. Para saudagar asing dari Portugis, Johor, dan
Kutai juga diundang sebagai saksi. Raja Tarapati
duduk di singgasana kehormatan yang dihias kain kuning, didampingi oleh Ratu Tomellipa Karoro. Meskipun kesehatannya sudah sangat
rapuh, Tarapati memaksakan diri hadir. Ia tahu ini adalah momen puncak dari
semua perjuangannya.
Mattolabali
berdiri di hadapan semua. Ia mengenakan Sallu
Raja (mahkota) dan lipa
putih yang dililitkan melingkar di pinggang. Di tangan kanannya ia memegang tombak pusaka Kurri-Kurri, di tangan kirinya sebilah keris pusaka Langga Monar. Dengan suara lantang, ia membacakan
piagam persatuan yang isinya telah disepakati oleh
para tetua dari kedua belah pihak.
Berikut
adalah kutipan piagam tersebut sebagaimana tercatat dalam tradisi lisan dan
ditulis ulang dalam lontarak (terjemahan bebas):
*"Kami,
Mattolabali, putra dari Tarapati To Ma'dualemba dan Tomellipa Karoro, dengan
restu kedua orang tua, para tetua Kurri-Kurri, dan para tetua Langga Monar,
menyatakan bahwa mulai hari ini, pada tahun ketika pohon beringin di tanjung
berbuah dua kali (sekitar 1540 M), Kerajaan Kurri-Kurri dan Kerajaan Langga
Monar tidak lagi berdiri sebagai dua entitas yang terpisah.*
Seluruh
wilayah, mulai dari pelabuhan Simboro di pesisir yang disambut kapal-kapal
Portugis dan Johor, hingga ke bukit-bukit Padang di pedalaman yang kaya akan
damar dan rotan, bergabung menjadi satu kerajaan. Satu tanah, satu rakyat, satu
hukum.
Kerajaan
baru ini akan kita beri nama Mamuju,
yang berarti 'banyak buah'. Sebab dari persatuan ini akan lahir buah kemakmuran
bagi seluruh rakyat, baik yang mencari nafkah di laut maupun yang mengolah
tanah di darat.
Gelar
pemimpin tertinggi kerajaan ini adalah Maradika Mamuju, yang dipegang oleh garis keturunan
yang sah. Hukum yang berlaku adalah Marru'dua Gala'gar yang telah diperluas dengan kearifan
lokal pedalaman, menjadi Pitu
Passangang
(Tujuh Perintah).
Setiap
warga, dari nelayan di Simboro hingga peramu damar di Padang, adalah warga
Mamuju yang sama derajatnya. Tidak ada lagi 'orang Kurri-Kurri' atau 'orang
Langga Monar' di hadapan hukum. Kita semua adalah to Mamuju—orang Mamuju.
Piagam
ini ditulis di atas daun lontar pilihan, disaksikan oleh langit, bumi, dan para
leluhur. Barang siapa di kemudian hari berusaha memisahkan apa yang telah
disatukan, maka ia akan terkutuk dan tidak akan pernah mendapatkan
ketenangan."
Ketika
Mattolabali mengucapkan kata "Mamuju" untuk pertama kalinya dalam
pengumuman resmi itu, suasana menjadi sunyi seketika. Angin berhembus pelan.
Daun-daun pohon beringin di tepian sungai berdesir seolah ikut menyaksikan.
Kemudian, para tetua yang paling tua mulai berseru: "Hoe... pakanna... hoeeee!" —
teriakan adat yang menandakan sebuah babak baru dimulai. Rakyat yang hadir pun
ikut bersorak, meskipun tidak semuanya mengerti implikasi politiknya. Yang
mereka tahu, seorang pemimpin muda telah dengan berani mengambil langkah besar
yang belum pernah dilakukan siapa pun sebelumnya.
Raja
Tarapati, dari singgasananya, tersenyum lemah. Matanya berkaca-kaca. Beliau
menoleh ke arah Tomellipa dan berbisik, "Ia
berhasil, Ibu. Ia menyelesaikan apa yang tidak sempat kita lakukan."
Tomellipa hanya mengangguk, air matanya jatuh perlahan. Di antara kerumunan,
Puang Lemo dan Puang Tandjolo berdiri diam. Mereka tidak bersorak, tetapi juga
tidak memprotes. Mungkin mereka menyadari bahwa perlawanan tidak ada gunanya
lagi. Atau mungkin mereka diam-diam kagum pada keberanian keponakan mereka.
6.3 Peran Tarapati sebagai Raja Senior dan Mattolabali
sebagai Putra Mahkota Penuh
Setelah
pengumuman bersejarah itu, penting untuk memahami bahwa peran Tarapati belum sepenuhnya usai. Dalam struktur baru Kerajaan
Mamuju, Tarapati tetap diakui sebagai Maradika
Tua (raja senior) yang memiliki hak veto dalam hal-hal tertentu,
terutama yang berkaitan dengan hubungan luar negeri atau kebijakan darurat.
Namun semua urusan administrasi harian, peradilan, ekonomi, dan pengembangan
wilayah diserahkan sepenuhnya kepada Mattolabali sebagai Putra Mahkota Penuh (Maradika
Muda).
Ini
adalah model transisi
kepemimpinan dua tingkat
yang jarang ditemukan di kerajaan Nusantara abad ke-16. Tarapati tidak mundur
secara tiba-tiba, tetapi secara bertahap melepaskan kendali sambil tetap
menjadi benteng legitimasi.
Bagi rakyat dan bangsawan, kehadiran Tarapati memberikan rasa aman: "Raja lama masih ada, jadi tidak
perlu takut akan kekacauan." Sementara bagi Mattolabali, ia
mendapat ruang untuk berkreasi dan membangun sistem baru tanpa harus langsung
menghadapi beban penuh seorang raja absolut.
Apa
saja wewenang Tarapati sebagai raja senior?
Berdasarkan
kesepakatan antara Mattolabali dan para tetua, wewenang Tarapati meliputi:
1.
Hak
veto untuk urusan hubungan luar negeri – Jika Mattolabali hendak mengikat perjanjian dengan
kerajaan asing yang sangat besar (misalnya Gowa atau Ternate), Tarapati berhak
membatalkan jika dianggap merugikan.
2.
Penasihat
spiritual dan adat
– Sebagai raja yang sudah lanjut dan dihormati, Tarapati menjadi sumber petuah
dan nasihat dalam upacara-upacara adat yang sakral.
3.
Penjaga
pusaka dan tradisi
– Tarapati memegang kunci penyimpanan pusaka-pusaka tertua, termasuk lontarak
silsilah yang tidak boleh dibawa ke mana-mana.
4.
Pengadilan
tingkat tertinggi untuk kasus luar biasa – Jika terjadi perkara yang tidak dapat diputuskan oleh
dewan adat Galaggar Pitu,
kasus tersebut bisa diajukan kepada Tarapati untuk keputusan final.
Apa
wewenang Mattolabali sebagai putra mahkota penuh?
Mattolabali
memegang kendali operasional kerajaan sehari-hari:
1.
Memimpin
musyawarah Sipulung – Ia yang memanggil dan memimpin
pertemuan dewan adat, bukan lagi Tarapati.
2.
Mengelola
keuangan dan perdagangan
– Semua keputusan tentang pajak, harga komoditas, dan hubungan dagang dengan
saudagar asing berada di tangannya.
3.
Menunjuk
dan memberhentikan pejabat distrik (Puang) – Kecuali untuk beberapa posisi adat
yang memerlukan persetujuan Tarapati.
4.
Memimpin
pasukan Suro dan armada Bangkong – Sebagai panglima tertinggi,
Mattolabali berhak menyatakan perang atau mengirim ekspedisi.
5.
Menegakkan
hukum Pitu
Passangang – Ia
bertindak sebagai hakim tertinggi untuk perkara-perkara yang tidak diajukan ke
Tarapati.
Hubungan
harmonis antara dua pusat kekuasaan
Agar
tidak terjadi tumpang tindih, Mattolabali dan Tarapati mengadakan perjanjian
lisan yang kemudian dicatat dalam lontarak. Intinya: "Setiap keputusan penting yang
diambil Mattolabali harus dikomunikasikan terlebih dahulu kepada Tarapati,
bukan untuk meminta izin, tetapi sebagai bentuk penghormatan dan penjagaan
adat. Sebaliknya, Tarapati tidak akan mencampuri keputusan Mattolabali kecuali
benar-benar bertentangan dengan adat atau membahayakan kerajaan."
Lontarak
menggambarkan hubungan ini dengan metafora: "Sebuah
perahu dengan dua layar: layar besar memberi arah, layar kecil mengisi angin.
Keduanya tidak bertabrakan karena masing-masing tahu fungsinya."
Dalam praktiknya, Mattolabali selalu menyempatkan diri setiap pagi untuk
menjenguk ayahandanya di Kedaton Danga sebelum berangkat ke ibu kota baru di
Karema. Mereka berbincang, kadang tentang urusan kerajaan, kadang hanya tentang
angin dan ombak.
Model
transisi ini terbukti berhasil. Tidak ada konflik kuasa antara ayah dan anak.
Ketika Tarapati akhirnya wafat beberapa tahun kemudian (tidak tercatat secara
pasti, tetapi diperkirakan sekitar pertengahan abad ke-16), Mattolabali sudah
benar-benar siap menjadi satu-satunya Maradika Mamuju. Sistem yang sudah
berjalan tidak goyah. Bahkan, para bangsawan yang dulu berniat memisahkan diri
menjadi diam dan mulai menerima kenyataan baru.
Refleksi
sejarah
Titik
keputusan bersejarah Mattolabali ini bukanlah kemenangan militer atau hasil
kudeta. Ia adalah buah
dari pernikahan politik dua dekade sebelumnya, dipadukan dengan keberanian
seorang putra mahkota yang tidak takut mengubah status quo. Kurri-Kurri tidak menaklukkan
Langga Monar, dan sebaliknya. Keduanya melebur menjadi Mamuju karena kesadaran
bersama bahwa persatuan lebih menguntungkan daripada keterpisahan.
Lontarak
Mandar mencatat peristiwa ini dengan kalimat yang singkat namun sarat makna:
"Tarapati
To Ma'dualemba duduk di singgasana tinggi. Mattolabali, putranya, berdiri di
depannya. 'Satukanlah,' kata Tarapati. Maka disatukannya. Dan lahirlah Mamuju,
yang banyak buahnya."
Dengan
persatuan ini, Mattolabali tidak hanya mewarisi takhta, tetapi juga menciptakan takhta baru—sebuah fondasi bagi identitas Mamuju
yang bertahan hingga berabad-abad kemudian.
Penutup
Bab 6:
Keputusan untuk menyatukan Kurri-Kurri dan Langga Monar diambil setelah
mempertimbangkan tiga urgensi: efisiensi, stabilitas internal, dan kekuatan
eksternal. Piagam persatuan yang dibacakan di pertemuan dua sungai bukan hanya
dokumen hukum, tetapi juga sumpah
sakral yang
mengikat seluruh rakyat. Dan peran ganda Tarapati sebagai raja senior serta
Mattolabali sebagai putra mahkota penuh menunjukkan bahwa transisi kepemimpinan
bisa berjalan mulus jika didasari oleh saling percaya dan penghormatan. Bab
berikutnya akan mengisahkan bagaimana nama "Mamuju" lahir dari kata Majemuju dan menjadi
simbol persatuan yang berbuah.

Komentar
Posting Komentar