Bab 6: Struktur Pasar

 


Struktur pasar mengacu pada karakteristik organisasi pasar yang mempengaruhi perilaku perusahaan dan hasil kinerja pasar. Struktur pasar menentukan bagaimana perusahaan berkompetisi, menetapkan harga, dan menentukan tingkat output. Berdasarkan jumlah penjual, tingkat diferensiasi produk, hambatan masuk, dan kekuatan pasar, struktur pasar dibedakan menjadi empat tipe utama: persaingan sempurna, monopoli, persaingan monopolistik, dan oligopoli. Bab ini juga membahas diskriminasi harga sebagai strategi penetapan harga oleh perusahaan yang memiliki kekuatan pasar (Pindyck & Rubinfeld, 2018).

6.1 Pasar Persaingan Sempurna: Ciri, Keseimbangan Jangka Pendek dan Panjang

Persaingan sempurna (perfect competition) adalah struktur pasar ideal yang menjadi tolok ukur efisiensi. Meskipun jarang ditemukan dalam kenyataan, model ini penting untuk memahami bagaimana mekanisme pasar bekerja dalam kondisi persaingan penuh (Mankiw, 2021).

a. Ciri-ciri Persaingan Sempurna

  1. Banyak pembeli dan penjual – Masing-masing tidak cukup besar untuk mempengaruhi harga pasar. Mereka adalah price takers (penerima harga).

  2. Produk homogen – Barang yang dijual identik sehingga pembeli tidak membedakan produsen.

  3. Bebas keluar masuk pasar (free entry and exit) – Tidak ada hambatan hukum, teknis, atau finansial yang signifikan.

  4. Informasi sempurna – Semua pelaku pasar mengetahui harga, kualitas, dan teknologi yang tersedia.

  5. Mobilitas sumber daya sempurna – Faktor produksi dapat berpindah tanpa biaya (Nicholson & Snyder, 2012).

b. Keseimbangan Jangka Pendek

Dalam jangka pendek, jumlah perusahaan tetap karena belum ada waktu untuk masuk atau keluar. Perusahaan individu menghadapi kurva permintaan horizontal pada harga pasar (P). Penerimaan marginal (MR) sama dengan harga. Laba maksimum tercapai ketika MR = MC, yaitu pada output di mana P = MC. Dalam jangka pendek, perusahaan bisa memperoleh laba ekonomi positif (jika P > AC), laba nol (jika P = AC), atau rugi (jika P < AC). Jika rugi, perusahaan akan tetap beroperasi selama P > AVC (menutupi biaya variabel), karena masih bisa mengurangi kerugian. Jika P < AVC, perusahaan akan tutup (shut down) dalam jangka pendek (Case, Fair, & Oster, 2014).

c. Keseimbangan Jangka Panjang

Dalam jangka panjang, perusahaan dapat masuk atau keluar pasar. Jika ada laba ekonomi positif, perusahaan baru akan masuk, meningkatkan penawaran pasar, menurunkan harga hingga laba hilang. Jika ada kerugian, perusahaan akan keluar, mengurangi penawaran, menaikkan harga hingga kerugian hilang. Keseimbangan jangka panjang terjadi ketika:

  • P = MC (efisiensi alokatif: harga sama dengan biaya marginal sumber daya).

  • P = AC minimum (efisiensi produktif: perusahaan berproduksi pada skala biaya terendah).

  • Laba ekonomi = 0 (tidak ada insentif masuk atau keluar) (Mankiw, 2021).

Pada kondisi ini, konsumen menikmati harga terendah yang memungkinkan perusahaan tetap bertahan, dan output total masyarakat efisien.

6.2 Monopoli: Sumber Monopoli, Keseimbangan, Dampak

Monopoli adalah struktur pasar dengan satu penjual yang menghadapi seluruh permintaan pasar. Monopoli memiliki kekuatan pasar untuk menetapkan harga di atas biaya marginal (Samuelson & Nordhaus, 2010).

a. Sumber Monopoli

Monopoli dapat timbul karena:

  1. Hambatan masuk yang tinggi, misalnya:

    • Monopoli alamiah: Satu perusahaan dapat memenuhi seluruh permintaan pada biaya yang lebih rendah daripada dua atau lebih perusahaan (skala ekonomis sangat besar, misalnya jaringan pipa air, listrik).

    • Hak eksklusif (paten, hak cipta, lisensi pemerintah) – Misalnya perusahaan farmasi untuk obat tertentu.

    • Kepemilikan sumber daya unik – DeBeers dan berlian (dulu).

    • Keunggulan biaya – Perusahaan besar dapat memproduksi dengan biaya lebih rendah dan mencegah pesaing masuk (Pindyck & Rubinfeld, 2018).

b. Keseimbangan Monopoli

Monopoli menghadapi kurva permintaan pasar yang menurun (D). Penerimaan marginal (MR) juga menurun dan berada di bawah kurva D karena untuk menjual unit tambahan, monopoli harus menurunkan harga untuk semua unit. Laba maksimum tercapai ketika MR = MC. Dari titik itu, monopoli menentukan harga (Pm) pada kurva permintaan. Karena P > MC, monopoli menghasilkan laba ekonomi positif dalam jangka pendek maupun panjang, karena hambatan masuk (Mankiw, 2021).

c. Dampak Monopoli terhadap Kesejahteraan

Dibandingkan dengan persaingan sempurna, monopoli menghasilkan:

  • Output lebih rendah (Qm < Qc).

  • Harga lebih tinggi (Pm > Pc).

  • Kehilangan bobot mati (deadweight loss) – area kerugian surplus konsumen dan produsen yang tidak dinikmati siapa pun.

  • Potensi inefisiensi X (biaya lebih tinggi karena kurang tekanan persaingan) (Case, Fair, & Oster, 2014).

Pemerintah dapat merespon monopoli dengan regulasi harga (menetapkan P = MC, namun menyebabkan kerugian sehingga perlu subsidi), atau dengan menjadikannya milik negara, atau dengan meningkatkan persaingan (antitrust).

6.3 Persaingan Monopolistik

Persaingan monopolistik (monopolistic competition) adalah struktur pasar dengan banyak penjual yang menjual produk terdiferensiasi tetapi tidak identik. Ciri-cirinya:

  • Banyak perusahaan (seperti persaingan sempurna).

  • Diferensiasi produk (nyata atau persepsi) sehingga setiap perusahaan memiliki kurva permintaan menurun (sedikit kekuatan monopoli).

  • Bebas keluar masuk pasar (sehingga laba jangka panjang nol).

  • Persaingan non-harga (iklan, merek, lokasi) (Lipsey & Chrystal, 2015).

a. Keseimbangan Jangka Pendek

Dalam jangka pendek, perusahaan dalam persaingan monopolistik berperilaku seperti monopoli kecil: memproduksi pada MR=MC, menetapkan harga pada kurva permintaan. Bisa memperoleh laba positif atau rugi tergantung posisi biaya.

b. Keseimbangan Jangka Panjang

Laba positif menarik perusahaan baru masuk. Karena produk terdiferensiasi, masuknya perusahaan baru menggeser kurva permintaan masing-masing perusahaan ke kiri (pangsa pasar menurun). Proses ini berlanjut hingga laba nol, yaitu ketika kurva permintaan bersinggungan dengan kurva biaya rata-rata (AC) pada titik di mana MR=MC. Namun, pada keseimbangan jangka panjang, harga (P) lebih tinggi dari MC, dan output tidak pada AC minimum (kelebihan kapasitas). Artinya persaingan monopolistik kurang efisien dibanding persaingan sempurna, tetapi diimbangi dengan variasi produk dan pilihan konsumen (Mankiw, 2021). Contoh: restoran, salon, toko pakaian, aplikasi ojek online.

6.4 Oligopoli (Model Cournot, Kinked Demand Curve, Kartel)

Oligopoli adalah struktur pasar dengan sedikit penjual (biasanya 2–10) yang saling bergantung. Keputusan harga dan output satu perusahaan mempengaruhi laba pesaing. Karena saling ketergantungan, oligopoli dianalisis dengan teori permainan. Berikut tiga model klasik (Pindyck & Rubinfeld, 2018):

a. Model Cournot (1838)

Model duopoli di mana dua perusahaan bersaing dalam kuantitas secara simultan. Setiap perusahaan menganggap output pesaing tetap (Cournot assumption). Masing-masing memilih output yang memaksimalkan laba berdasarkan reaksi pesaing. Hasilnya adalah keseimbangan Cournot: output total lebih besar dari monopoli tetapi lebih kecil dari persaingan sempurna, harga di antara keduanya. Semakin banyak perusahaan, semakin mendekati persaingan sempurna. Model ini menggambarkan kompetisi kuantitas (Nicholson & Snyder, 2012).

b. Model Kurva Permintaan Patah (Kinked Demand Curve)

Model ini dikembangkan oleh Sweezy (1939) untuk menjelaskan stabilitas harga dalam oligopoli. Asumsinya: Jika satu perusahaan menaikkan harga, pesaing tidak akan mengikuti, sehingga perusahaan kehilangan banyak pangsa pasar (permintaan elastis). Jika perusahaan menurunkan harga, pesaing akan meniru, sehingga kenaikan volume hanya sedikit (permintaan inelastis). Akibatnya, kurva permintaan yang dihadapi perusahaan memiliki lekukan (kink) pada harga saat ini, dan kurva MR terputus. Selama kurva MC berada di dalam celah vertikal MR, perusahaan tidak akan mengubah harga meskipun biaya berubah. Ini menjelaskan mengapa harga di oligopoli cenderung kaku (Mankiw, 2021). Kritik: tidak menjelaskan dari mana harga awal (kink) berasal.

c. Kartel (Kolusi)

Kartel adalah bentuk kerjasama antar perusahaan oligopoli untuk menetapkan output dan harga bersama, seperti monopoli. Tujuannya memaksimalkan laba gabungan. Namun, kartel sering tidak stabil karena insentif untuk cheating (meningkatkan output diam-diam) bagi masing-masing anggota, karena keuntungan dari peningkatan output sendiri lebih besar daripada kerugian dari penurunan harga bersama. Kartel yang terkenal adalah OPEC (organisasi negara pengekspor minyak) (Case, Fair, & Oster, 2014). Kartel biasanya ilegal di banyak negara (kecuali diatur pemerintah).

Model lain yang penting adalah duopoli Stackelberg (pemimpin-pengikut) dan model Bertrand (persaingan harga) tetapi tidak diminta. Fokus pada yang disebutkan.

6.5 Diskriminasi Harga

Diskriminasi harga adalah praktik menjual produk yang sama kepada konsumen berbeda dengan harga yang berbeda meskipun biaya produksinya sama. Tujuannya adalah untuk menangkap lebih banyak surplus konsumen dan meningkatkan laba. Diskriminasi harga dapat dilakukan jika perusahaan memiliki kekuatan pasar, dapat mencegah arbitrage (penjualan kembali), dan dapat mengidentifikasi kelompok konsumen yang berbeda (Pindyck & Rubinfeld, 2018).

a. Diskriminasi Harga Derajat Pertama (Sempurna)

Setiap unit barang dijual pada harga maksimum yang bersedia dibayar oleh masing-masing konsumen. Ini menangkap seluruh surplus konsumen. Hampir tidak mungkin dalam praktik, kecuali dalam tawar-menawar (mobil bekas) atau lelang. Hasilnya efisien (tidak ada deadweight loss) tetapi semua surplus diambil produsen (Nicholson & Snyder, 2012).

b. Diskriminasi Harga Derajat Kedua

Harga berbeda berdasarkan jumlah yang dibeli (block pricing). Contoh: diskon pembelian dalam jumlah besar (misal beli 1 Rp 10.000, beli 2 Rp 15.000). Atau tarif listrik bertingkat. Juga dikenal sebagai diskriminasi non-linear.

c. Diskriminasi Harga Derajat Ketiga

Paling umum. Pasar dibagi menjadi kelompok konsumen berdasarkan karakteristik yang dapat diobservasi (usia, lokasi, waktu, profesi) dan setiap kelompok dikenakan harga berbeda. Contoh: diskon pelajar, harga tiket pesawat (bisnis vs ekonomi), harga obat di dalam negeri vs ekspor. Syaratnya: kelompok memiliki elastisitas permintaan berbeda, dan arbitrage dapat dicegah. Kelompok dengan elastisitas lebih rendah (kebutuhan) dikenakan harga lebih tinggi (Mankiw, 2021). Dalam jangka panjang, diskriminasi harga derajat ketiga dapat meningkatkan output total dibanding monopoli tanpa diskriminasi.

Contoh Diskriminasi Harga di Indonesia

  • Harga tiket masuk wisata: turis asing > turis domestik > pelajar.

  • Potongan harga dengan kartu member.

  • Diskon pada waktu sepi (early bird).

Diskriminasi harga sering menimbulkan kontroversi etika, tetapi secara ekonomi dapat meningkatkan efisiensi alokatif dalam kondisi tertentu (Case, Fair, & Oster, 2014).

Bab 7: Kegagalan Pasar dan Peran Pemerintah


awal bacaan ILMU EKONOMI


Daftar Pustaka Bab 6

Case, K. E., Fair, R. C., & Oster, S. M. (2014). Principles of Economics (11th ed.). Pearson.

Lipsey, R. G., & Chrystal, K. A. (2015). Economics (13th ed.). Oxford University Press.

Mankiw, N. G. (2021). Principles of Economics (9th ed.). Cengage Learning.

Nicholson, W., & Snyder, C. (2012). Microeconomic Theory: Basic Principles and Extensions (11th ed.). South-Western Cengage Learning.

Pindyck, R. S., & Rubinfeld, D. L. (2018). Microeconomics (9th ed.). Pearson.

Samuelson, P. A., & Nordhaus, W. D. (2010). Economics (19th ed.). McGraw-Hill.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAMUJU MISTIK: 10 KISAH GAIB YANG MENGGENTARKAN MAMUJU

PEMERINTAH DAERAH DI ERA EFISIENSI

BAB 11: KERANGKA HUKUM DAN KEBIJAKAN PENDUKUNG